Melakukan Perbuatan Syirik Karena Tidak Tahu

"ada bbrp hal yg mengganjal dlm hati sy kadang2 mmbuat resah mungkin krn sy bodoh dlm hal ilmu agama. apakah hukumnya org yg melakukan berbuat syirik tp mrk tdk sadar ato tdk tahu kalo itu prbuatan dosa bsr yg bs mengeluarkan mrk dr islam, apakah mrk mndpt toleransi krn mrk melakukannya krn kebodohan? Apakah mrk lansung dicap musyik ato kafir? Apakah parameternya mendapatkan hujah itu? Trimaksih"




Seorang yang mengucapkan 2 kalimat syahadat, yaitu meyakini dan mengimani bahwa tiada tuhan yang wajib disembah selain Allah swt, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah swt yang wajib diimani, maka ia telah resmi menjadi seorang muslim.

Dan status keislamannya tidak akan lepas sampai ia melakukan hal-hal yang memang membatalkan keimanannya. Seperti menyembah kepada selain Allah swt, yaitu mengimani sesuatu yang bisa memberikan menfaat dan mendatangkan musibah. Ini jelas kesyirikannya.

Seperti orang yang mendatangi dukun atau apalah itu namanya, dan meminta kepada dukun tersebut untuk diberikan sesuatu atau agar keinginannya tercapai dengan mudah, yang seperti ini jelas kesyirikan. Karena bagaimanapun, ia telah menghilangkan Allah dalam hatinya dan beralih mengimani serang makhluk yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa.

Akan tetapi jika ia melakukan sesuatu yang sejatinya itu syirik dengan kebodohan, artinya ia melakukan hal tersebut karena memang tidak tahu, maka –wallahu A'lam- ia tidak dikenakan hukum syirik tersebut sampai ia mengatahui bahwa pekerjaannya itu syirik. Ketidaktahuannya menghalanginya terkena hukum.

Dan tentu dengan kebodohan yang dimaafkan. Artinya memang ketidak-tahuannya itu ketidaktahuan yang dibolehkan secara syara', bukan ketidak tahuan yang disengaja atau asal tidak tahu.

Salah satu bukti bahwa ketidak tahuan itu menghalanginya untuk terkena hukum Syirik atau juga hukum syariat yang lainnya, ialah:

Pertama: kisah Dzatu Anwath.  

Hadits yang diriwayat oleh Imam Turmudzi dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi ini menceritakan tentang para sahabat yang sebagian besar baru masuk Islam dan belum banyak mendapat pengakaran.

Mereka berangkat bersama Rasul saw menuju Hunanin ketika itu. dan diwaktu itu, kaum msuyrik mempunyai pohon dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dipohon itu dengan keyakinan bahwa ada keberkahan dan ada keberuntungan jika senjata-senjata mereka ditgantungkan di pohon itu. pohon itu dinamakan "Dzatu Anwath".

Ketika rombongan Nabi Muhammad saw melewati pohon itu, para sahabat yang memang baru masuk Islam ini berkata kepada Nabi: "wahai Nabi. Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath, sebagaimana mereka (musyrik) mempunyai Dzatu Anwath".

Mendengat perkataan itu, Rasul dengan nada tinggi seperti marah menjawab: "Allahu Akbar! Inilah kebiasan (syirik) itu! demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, kalian telah mengatakan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa: 

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
 

'jadikanlah kami sesembahan sebagaimana mereka (penyembah berhala) mempunyai sesembahan. Musa berkata: sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh' (Al-A'rof 138)

Kalian benar-benar mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian. (HR. Turmudzi)

Dalam peristiwa ini, Rasul saw yang bearada ditengah-tengah mereka dan melihat langsung justru tidak memberikan status Syirik atau Kafir dan memang tidak mengkafirkan para sahabat. Padahal apa yang dilakukan sahabat itu benar-benar sebuah kesyirikan yang merupakan tradisi orang-orang musyrik terdahulu.

Akan tetapi Nabi justru memberikannya nasehat dan memberikannay ilmu bahwa itu sebuah kesyirikan yang tentu haram dilakukan oleh seseorang yang berstatus sebagai muslim. Karena memang Nabi sangat mengetahui, mereka begitu karena tidak tahu. Dan kebodohannya itu dimaklumi karena memang mereka baru masuk Islam.

Kedua: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar." (Al-Nahl 106)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt memberikan kelonggaran bagi mereka yang "terpaksa" atau "dipaksa" untuk mengucapkan atau melakukan hal-hal yang membatalkan iman walaupun dia tahu itu sebuah kemusyrikan yang membatalkan iman.

Tapi dia harus melakukannya karena memang terpaksa atau dipaksa dengan jiwa yang diancam kalau tidak melakukannya. Kalau dia melakukan dan hatinya tetap berian kepada Allah swt, ia tidak termasuk dalam golongan kafir. Dan dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa ini adalah Ittifaq (kesepakatan) Ulama. (Tafsir Ibnu Katsir 4/606)

Kalau yang tahu bahwa itu perbuatan syirik lalu melakukan karena terpaksa itu dibolehkan, apalagi yang memang benar-benat tidak tahu. Toh sejak dahulu kala Nabi Muhammad saw telah memberitahukan bahwa tidak ada hukum bagi mereka yang tidak tahu, lupa dan yang dipaksa. 

إِنَّ اَللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي اَلْخَطَأَ , وَالنِّسْيَانَ , وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

"Allah swt mengampuni bagi umatku atas perbuatnnya karena Tidak tahu, Lupa, dan yang terpaksa." (HR Ibnu Majah)


Ketiga:Ijma' sahabat Nabi saw terhadap orang-orang yang melanggar syariat atau mengerjakan perbuatan syirik karena tidak tahu. Mereka mengatakn bahwa tidak ada dosa apalgi penyematan status Kafir/Syirik kepada mereka sebelum mereka mendapat pengetahuan tentang itu.

Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu taimiyyah dalam Majmu' Fatawa-nya. Beliau menjelaskan bahwa ketika itu juga sahabat tidak langsung meng-kafir-kan Qudamah bin Madz'un dan para pengikutnya yang telah terlampau jauh dalam hal Ta'wil. Dan mereka (sahabat) kemudian memberikannya ilmu pengetahuan tentang apa yang dilakukan bahwa itu sebuah kesalahan. (Majmu Fatawa 7/610)

Kebodohan Yang Dimaafkan

Masalahnya kembali keada ketidaktahu itu sendiri. Karena ada ketidaktahuan yang dibolehkan dalam syariat, artinya memang ketidak tahuan itu sangat wajar terjadi. Dan ada juga ketidak tahuan yang tidak wajar terjadi.

Ketidak tahuan yang sangat tidak wajar ialah, ketidak tahuan akan kewajiban dasar Islam yang 5, walaupun hanya secara global. Ini suatu yang tidak masuk akal kalau seorang muslim tidak tahu bahwa sholat itu wajib, puasa wajib, dan juga zakat wajib.

Secara garis besar, rukun Islam yang 5 itu ialah sesuatu yang pasti diketahui oleh seorang muslim tanpa harus belajar, dalam istilah syara' disebut dengan "yu'lam Bi Al-dhoruroh". Jadi jika ada yang tidak tahu bahwa sholat itu wajib. Ini sungguh mustahil.

Dimaafkan 

Tapi ketidaktahuan itu menjadi dimaafkan ketika memang seseorang itu baru masuk Islam yang hanya tahu kewajiban Cuma sholat saja, puasa dan zakatnya belum ada yang ngajarin. Atau dia tahu bahwa zakat itu wajib tapi secara tafshil (terperinci) dia tidak tahu bahwa didalamnya ada kewajiban zakat harta, zakat peternakan dan yang lainnya, dia hanya tahu zakat fitrah saja misalnya.

Kemudian juga dimaafkan jika memang ketidak tahuannya dikarenakan keterbelakangan budaya, atau juga belum sampai informasi syariah yang masuk.

Ini tidak bisa kita pungkiri bahwa memang banyak saudara Muslim kita yang belum tersentuh pendidikan didaerah-daerah terpencil. Banyak dari mereka yang masih menyembah pohon, tapi mengaku dia Islam. Ada juga yang masih rajin datang ke dukun, padahal Islam. Ada juga yang masih buat sesajen ini itu dan meyakini sesajennya itu bisa mendatangkan manfaat, padahal dia juga muslim.

Apakah yang mereka ini kita katakana Musyrik semua satu kampong. Tidak bisa begitu juga kan? Karena memang tidak ada pengajaran dan pendidikan yang masuk ke daerah terpencil itu. selama tidak ada relawan syariah yang menjelaskan itu semua, mereka terbebas dari status syirik.

Kecuali memang ia benar-benar mengetahui bahwa itu syirik tapi tetap melakukan. Seperti yang terjadi didaerah perkotaan yang masih saja datang kepada orang (yang dikatakan) pintar yang bisa mengobati penyakit dengan media batu atau juga air. Ini jelas kemusyrikan. Kalau dia mengerti itu, maka jelas ia harus bertobat kembali pada jalan lurus.

Kewajiban Muslim

Karena itu sudah tidak ada keraguan lagi bahwa kewajiban seorang muslim itu ya mempelajari ajaran agamanya, Syariah. Agar nantinya tidak terus menerus jatuh kedalam pernbuatan yang diharamkan oleh syariah apalagi sampai pada sebuah kesyirikan yang membatalkan imannya.

Kalau imannya sudah batal berarti lepaslah ikatan Islam. Maka statusnya tidak Islam lagi, karena sudah tidak Islam berarti ia Kafir, dan kafir tempatnya tidak lain tidak bukan melainkan di neraka. Naudzu billah.

Dan kita tidak dituntut untuk menjadi seorang ulama ketika mempelajari syariah. Kita hanya perlu tahu mana halal dan haram. Mana batasan-batasannya, dan mana kelonggarannya. Tidak perlu terperinci sampai pada akar masalah.

Kita hanya cukup tahu bahwa ini haram tanpa harus tahu dalilnya, setelah tahu ya kita tinggalkan. Karena pendalaman dalil dan sebagainya itu tugas ulama. Kita yang awwam cukup tahu secaga global saja. Dan memang itu kewajibannya.

wallahu a'lam
Share this article :
 

+ komentar + 3 komentar

8 Januari 2016 14.06

1000% bermnfaat untuk sya...

5 Agustus 2016 22.28

Barusan baca ciri sifat orang lahir bulan Desember Agustus saya lupa itu ngambil dari perbintangan full

8 Agustus 2016 05.40

Pak saya mau bertanya dulu teman saya pernah bilang ke saya kalo mau dapet ikan di waduk desa saya itu harus diminta pak ikannya misalkan begini
"Jadi kalo saya dapat ikannya saya akan berikan ke kakek saya " di niatkan seperti itu pak
Terus saya juga ikut mencoba pak
Saat saya mancing dengan teman saya saya niatkan dalam hati
"Kalo saya dapat ikan ini bakalan saya kasih ke ibu saya " dengan harapan dapat ikan pak tapi ternyata akhirnya pun tidak dapat
Apakah ini termasuk perbuatan syirik pak
Kalo ini memang syirik dulu saya tidak tahu kalo ini syirik apakah saya berdosa pak?

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger