sholat khusyu' bukan kontemplasi

oleh : Ust. Ahmad Sarwat, Lc
www.ustsarwat.com

Ibarat seorang pengemudi di jalan raya, dikatakan khusyu` kalau dia konsentrasi dalam berkendaraan. Konsentrasi yang dimaksud tentu bukan berarti matanya tertutup atau telinganya disumbat sehingga tidak melihat atau mendengar apapun, agar konsentrasi.

Malah bila dia melakukan hal-hal di atas, besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan di jalan. Sebab apa yang dilakukannya bukan konsentrasi, melainkan menutup diri dari semua petunjuk dan lalu lalang di jalan raya.

Maka seorang yang shalat dengan khusyu`` bukanlah orang yang shalat dengan menutup mata, telinga dan diri dari keadaan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, justru orang yang shalatnya khusyu`` itu adalah orang yang sangat peduli dan sadar atas apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya serta situasi yang ada saat itu.

Rujukan Tentang Khusyu` Dalam Shalatnya
Siapakah orang yang paling khusyu` shalatnya di dunia ini?
 

Syair untuk Indonesia

dalam rangka memperingati dirgahayu Indonesia yang ke 66 dan melihat keadaan yang terjadi pada negeri kita saat ini, penulis inging mengajak para pembaca sekalian sejenak menghayati bait-bait syair yang dikarang oleh H. Rhoma Irama tentang Indonesia inidalam syairnya yang berjudul "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin". sudah lebih dari 20 tahun syair ini dibuat, tapi (mungkin) masih relevan dengan kedaan bangsa saat ini. 

Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin
Hijau merimbuni daratannya
Biru lautan di sekelilingnya
Itulah negeri Indonesia
Negeri yang subur serta kaya raya
 

Nuzulul Qur'an - Malam Lailatul Qodar atau 17 ramadhan ?

Seorang sahabat bertanya, “sebenernya, Al-quran itu turun malem lailatul qodar apa tanggal 17 ramadhon sih? Kan di surat al-qodar, Al-qur’an turun malem lailatul qodar. Terus kata Nabi SAW kan lailatul qodar tuh ada disepuluh akhir bulan ramadhan. Kok orang-orang pada ngadain nuzulul quran tanggal 17 ramadhan?”.

Mungkin soal ini juga yang ada di benak para pembaca sekalian. Berikut ini sedikit penjelasan tentang “nuzulul quran” yang diambil dari beberapa kitab yang menerangkan tentang masalah ini.

**Metode Diturunkannya Al-Qur’an (Kaifiyah Inzal)

1] Al-Qur’an Diturunkan Secara Sekaligus


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“bulan Ramandhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-baqoroh 185)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (Al-Qodr 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
“sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi.” (Ad-dukhon 3)

Dalam 3 ayat di atas, semua menjelaskan tentang turunnya Al-Quran pertama kali, yaitu pada bulan Ramadhan tepatnya malam lailatul qodar; malam kemuliaan. Dan pada surat Ad-Dukhon yang dimaksud malam mubarok ialah malam lailatul qodar pada bulan ramadhan sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama tafsir. (lihat tafsir Al-Alusi)

Dalam kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil-Qur’an karangan Syeikh Badruddin Az-Zarkasyi (W. 794 H), beliau mengatakan bahwa dalam hal ini para Ulama berbeda pendapat ke dalam 3 pendapat yang masyhur.

Dan dari tiga pendapat tersebut, pendapat yang banyak dipegang oleh Jumhur Ulama, yaitu:

Bahwa Al Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qodr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafat beliau.

Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat inilah yang paling mendekati kebenaran, berdasarkan suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya (2/242, No. 2879) dengan sanad yang shohih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma, beliau mengatakan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، ثُمَّ أُنْزِلَ بَعْدَ ذَلِكَ بِعِشْرِينَ سَنَةً
“bahwsanya Al-Quran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qodr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudia ia mambaca ayat,

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا
Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik .” (QS. Al Furqon : 33)

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً
“Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106)

Imam An-Nasa’I (no. 7991) juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَجَعَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يُنْزِلُهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيُرَتِّلُهُ تَرْتِيلًا
 “……dan Al-qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad SAW.”


2] Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsuran

Setelah diturunkan secara lengkap (keseluruhan) dari Lauh Mahfudz ke langit Dunia (Baitul-Izzah), Al-Qur’an turun secara berangsuran selama 23 tahun; 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah (menurut pendapat lain; 20 tahun). Dan turunnya Al-Qur’an secara berangsuran telah dijelaskan dalam firman Alla SWT,

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً
“Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106)

Dan inilah salah satu keistimewaan Al-qur’an, bahwa kitab suci ummat Nabi Muhammad ini turun secara berangsuran setelah sebelumnya diturunkan secara lengkap/sekaligus.

Ini berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan secara sekaligus, yaitu Injil, Taurat dan Zabur, tanpa ada angsurannya. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيل وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS. Al-Furqan : 32-33)

dan ayat pertama yang turun menurut kebanyakan ulama ialah surat Al-Alaq (dan ini adalah pendapat yang kuat), atau biasa kita sebut dengan surat Iqro’ ayat 1-5. Ini berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam BUkhori dan Imam Muslim dalam kitab Shohih keduanya dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha Istri Rasul SAW.

**Kapan Ayat Pertama Turun?

Adapun “kapan” surat Iqro’ itu diturunkan, ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat tentang ini. Ada yang mengatakan bulan Rabiul Awwal, ada juga yang mengatakan bulan Ramadhan, dan ada juga yang mengatakan bulan Rajab.

Namun pendapat yang dipegang jumhur ulama ialah ialah bulan Ramadhan sesuai firman Allah SWT : “bulan Ramandhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-baqoroh 185).

Dan kebanyakan ulama juga sepakat bahwa surat Iqro’ adalah wahyu yang pertama turun, juga sebagai pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi.

Dan ini terjadi pada hari senin, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW pernah ditanya tetang puasa hari senin, kemudian beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
 “itu adalah hari di mana aku dilahirkan, aku diutus menjadi Rasul dan diturunkan kepadaku wahyu.”

Dan status bahwa wahyu pertama itu turun pada hari senin adalah kesepakatn ulama yang tidak ada satu pun dari mereka menyelisih. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir (W. 774 H) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (3/6). Hanya saja para sejarwan berbeda pada senin tanggal berapa wahyu itu turun?

** Ramadhan Tanggal Berapa?

Kemudian Ulama kembali berbeda pendapat tentang tanggal turunnya pada bulan ramadhan. Ada yang mengatakan malam 7 ramadhan, ada juga yang mengatakan malam 17 ramadhan, ada juga yang mengatakan malam 24, juga ada yang mengatakan tanggal 21 ramadhan.

Sheikh Shofiyur-Rohman Al-Mubarokfuri mengatakan dalam kitab Siroh Nabawi karangannya al-Rahiq al-Makhtum :

 “setelah melakukan penelitian yang cukup dalam, mungkin dapat disimpulkan bahwa hari itu ialah hari senin tanggal 21 bulan Ramadhan malam. Yang bertepatan tanggal 10 Agustus 660 M, dan ketika itu umur Rasul SAW tepat 40 Tahun 6 bulan 12 hari hitungan bulan, tepat 39 tahun 3 bulan 12 hari hitungan matahari.

Hari senin pada bulan Ramadhan tahun itu ialah antara 7, 14, 21, 24, 28, dan dari beberapa riwayat yang shohih bahwa malam lailatul qodar itu tidak terjadi kecuali di malam-malam ganjil dari sepuluh akhir bulan Ramadhan.

Jika kita bandingkan firman Allah surat Al-Qodr ayat pertama dengan hadits Abu Qotadah yang menjelaskan bahwa wahyu diturunkan hari senin diatas, dan dengan hitungan tanggalan ilmiyah tentang hari senin pada bulan Ramadhan tahun tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa wahyu pertama turun kepada Rasul SAW itu tanggal 21 Ramadhan malam”.

**Kenapa Malam 17 Ramadhan?

Dan yang menjadi dasar kebanyakan kaum muslim dalam memperingati nuzulul qur’an pada malam tanggal 17 ramadhan, mungkin apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir  dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah (3/6),

وَرَوَى الْوَاقِدِيُّ بِسَنَدِهِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْبَاقِرِ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ ابْتِدَاءُ الْوَحْيِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يوم الِاثْنَيْنِ، لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَقِيلَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْهُ
“Al-Waqidi meriwataykan dari Abu Ja’far Al-Baqir yang mengatakan bahwa: ‘wahyu pertama kali turun pada Rasul SAW pada hari senin 17 Ramadhan malam dan dikatakan juga 24 Ramadhan.’”

Imam Ibnu Katsir –di halaman yang sama- menukil lagi riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa al-quran itu turunnya bukan di tanggal 17 Ramadhan, akan tetapi di tinggal 24 Ramdhan. Dan karena itu beberapa sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa malam lailatul-Qadr itu adanya di malam 24 Ramadhan.

SO..

Kesimpulannya bahwa malam lailatul-Qodr yang disebut sebagai malam turunya Al-qur’an ialah benar, karena itu ialah malam yang al-qur’an turun secara lengkap sekaligus dari Lauh-Mahfuzd ke langit dunia (baitul-Izzah).

Dan Al-qur’an turun secara berangsuran yang didahului dengan surat Al-‘Alaq ayat 1-5 yang juga momentum pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul ialah pada 17 Ramadhan yang sering dirayakan oleh kebanyak ummat Islam di Indonesia.

Walaupun penetapan malam 17 ramadhan sebagai waktu awalnya turun Al-qur’an itu juga masih diperselisihkan oleh kebanyakan Ulama, sebagaimana dijelaskan diatas.

-Wallahu A’lam-

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger