Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia


Tahun 2010 lalu, ada sebuah acara yang sangat menarik dari salah satu stasiun telivisi saudi Arabia, MBC channel. Acaranya bernama “Khowatir” dan dipandu dan juga diproduseri oleh Ahmad Shugairi, seorang aktivis sosial di negeri monarki tersebut. Acara ini hanya tayang pada bulan ramadhan saja selama 30 hari tersebut. Tahun 2010 adalah tahun ke-6 edisi penayangan acara tersebut, jadi di tahun itu judul acaranya “khowathir 6”.

Pada musim ramadhan tahun itulah, Khowathir mengangkat penuh isi buku “1001 Inventions, Muslim Heritage in Our World” (1001 penemuan, warisan Peradaban Muslim untuk Dunia) yang dikarang oleh sebuah tim peneliti Muslim dari Menchaster Inggris yang diketuai oleh DR. Salim T Al-Hasani. Dari judul bukunya saja sudah bikin gemetaran, bagaimana tidak? Isi buku ini benar-benar membuat kita sebagai kaum muslim kaget sekaligus terkagum-kagum.

Ternyata ilmu dan segala penemuan yang awalnya kita mengira itu semua hasil tangan dan pikiran orang Eropa sana, itu keliru, benar-benar kekeliruan yang fatal. Pasalnya orang-orang eropa yang katanya ilmuan itu rupanya Cuma penjiplak, dan pengekor.

Dari kitab ini, kita tahu ternyata bapak segala bidang ilmu dan sains itu adalah ulama-ulama muslim, yang sejak abad ke 6 Masehi telah menciptakan dan mengembangkan segala bidang ilmu dan sains. Sejarah telah mencatat ini, semua ilmuan sejarah sejagad raya ini tidak akan memungkiri bahwa pelopor segala macam ilmu itu ialah bapak-bapak muslim.

Kalau kita menyangka dulu bahwa pencipta/pelpor ilmu penerbangan pertama kali ialah Wright bersaudara, maka itu jelas keliru. Karena jauh sebelum mereka berdua, Ibnu Farnas dari Qurthuba (Cordoba) telah melakukan penerbangan untuk pertama kali.

Kamera yang sekarang banyak terdapat di ponsel dan sejenisnya, ternyata itu diciptakan oleh Ibnu Al-haitsam pada awal abad 11 Masehi di Kairo, Mesir. Meriam perang terbesar sepanjang sejarah dan sampai saat ini tidak ada yang bisa mandinginya ialah meriam Muhammad AL-Fatih ketika menaklukan Konstatinopel. Dan masih banyak lagi contoh-contoh penemuan sains ulama-ulama Islam yang berhasil di jiplak dan di aku-aku oleh “ilmuan” Eropa.   Lebih jelas baca di "Warisan Peradaban Islam untuk Kemajuan Dunia".

Mulai saat itulah, saya “ngiler” dan “ngebet” agar bisa punya buku tersebut. Menariknya, sebelum dijual dan diedarkan bebas, pihak 1001 inventions pasti melakukan pameran selama sepekan terlebih dahulu dinegara yang akan diedarkan buku tersebut. 2010 Ingris dan Turki, 2011 sampai 2012 1001 invention telah mengadakan pameran di Saudi, UEA, dan juga Amerika serikat.

Saya menunggu barangkali ada penerbit dari Indonesia yang mau menterjemahkan dan mengundang pihak 1001 inventions untuk bikin pameran di Indonesia, tapi nyatanya sudah 3 tahun lewat belum juga ada tanda-tanda. Awal 2012 kemarin saya dapat kabar dari teman saya yang di malaysia bahwa buku ini telah masuk malaysia namun masih dalam versi bahas Inggris. Dan pihak 1001 inventions telah resmi melrilis kabar bahwa ia akan mengadakan pameran di Malaysia tahun 2013 besok. Sungguh kerugian yang sangat besar kalau mereka tak datang ke indonesia (hehe)

Tapi akhirnya kerinduan itu terjawab sudah! Di Indonesia book fair, istora senayan yang baru saja selesai ahad kemarin, saya menemukan buku itu. Tapi bukan 1001 inventions. Tajuk dan tema bukunya sama, tapi beda pengarang. Judul bukunya “Sumbangan peradaban Islam pada dunia”, buku ini bukan terjemahan dari 1001 inventions, sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Tapi ini terjemahan dari kitab “Madzaa Qoddamal-Muslimun Lil-Alam. Ishomaatul-Muslimin fil-hadhoroh Al-Insaniyah” yang dikarang oleh Dr. Raghib Al-Sirjani, ilmuan Mesir.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Al-kautsar ini, mirip sekali dengan 1001 inventions tersebut, isi dan topiknya sama, yaitu mengemukakan sejarah gemilang keilmuan ulama muslim yang banyak tidak diketahui oleh orang islam itu sendiri.

Hanya saja bedanya, kalau buku Dr. Raghib ini lebih teoritis, banyak menjelaskan tentang pengetahuan dan perkembangan sejarah sains dan segala bidang ilmu disetiap zaman sejak zaman kenabian sampai akhirnya wacana gemilang masa keemasan itu hilang dan beralih menjadi milik pihak Eropa. Setelah itu barulah beliau mengungkapkan penemuan-penemuan hebat ilmuan Islam, sesuai bidang keahliannya.

Bedanya dengan buku 1001 inventions, buku ini justru langsung to the point, mengungkapkan penemuan-penemuan ilmua muslim serta teori-teorinya.

Setelah baca buku ini, kebanggan sebagai muslim makin melejit. jadi berpikir lagi? Kenapa kemajuan sains serasa jauh dari pihak muslim sekarang ini, padahal dulu kejayaan itu telah ada digenggaman?

 

Kemudahan Melahirkan Kelalaian

Biasanya seseorang yang dalam kondisi terdesak, atau berada dalam posisi sulit, ia akan menjadi pribadi yang sangat kreatif. Bisa melakukan apapun yang lebih baik dibanding mereka yang dalam keadaan normal tanpa desakan.

Seorang mahasiswa tiba-tiba bisa jadi penulis handal yang sangat produktif, amat sangat produktif sekali, bahkan saking produktifnya, ia bisa menulis sebuah buku dalam waktu hanya 120
menit.

Bukan karena ia terbiasa menulis atau mengerti dunia jurnalistik, bukan itu juga. Itu karena ia dalam keadaan terdesak dan harus menjawab essay dalam ujian akhir.

Ia bukan penulis, bukan juga wartawan, apalagi novelis. Kenal jurnalistik pun tidak, jangankan menulis sebuah artikel, menulis cita-cita sebelum tidur pun tidak pernah. tapi dia mampu menulis berlembar-lembar tanpa melihat referensi, dahsyat bukan?. kalau kata teman saya, ini namanya kebakaran otak!

Rupanya memang seseorang manusia, menjadi lebih kreatif dan sangat hebat ketika dalam keadaan sulit. Dan memang biasanya kesulitan itu melahirkan kewaspadaan, dan justru kemudahan bisa melahirkan kelalaian.

Ya mahasiswa yang tinggal dekat dengan kampus biasanya lebih sering terlambat dibanding ia yang tinggal lebih jauh. Karena tahu dan sadar posisinya jauh, dia jadi lebih siaga, berbeda dengan ia yang dekat, semakin dekat dengan kampus, akan semakin santai ia pergi kuliah.

Bagi mahasiswa, perintah mengerjakan makalah dalam waktu 12 hari itu waktu yang terlalu panjang. Karena berapapun hari yang diberikan, ia tidak akan mengerjakan makalah itu kecuali di 2 malam terakhir deadline tersebut. Dan memang seperti itu. hehe.

Labih dari itu, anak yang lahir dari keluarga tidak mampu akan menjadi jauh lebih kreatif dibanding anak dari keluarga mampu. Yang tidak mampu akan berpikir 10 kali bagaimana bisa menghasilkan uang, tentu berbeda dengan anak orang mampu yang segalanya tersedia.

Anak dari keluarga tidak mampu, biasanya punya immune tubuh yang lebih kuat dibanding anak orang mampu. Yang tidak mampu tidak cengeng dengan penyakit, karena tahu sakit itu mahal. Kalau anak mampu biasanya sakit sekecil apapun larinya ke dokter dirumah sakit besar, padahal cuma pusing kurang tidur.

Kemudahan dan kelapangan terkadang memang sering jadi penghalang dan melalaikan.

"2 nikmat yang mana manusia sering terlalaikan olehnya; nikmat sehat, dan nikmat lapang" (HR. Bukhori)
wallahu A'lam
 

Keistimewaan Faroidh

Pertama: Allah swt yang langsung menentukan teknis serta kadar dan jatah Faroidh.

Ketika Allah swt memerintahkan suatu kewajiban untuk ummat Islam ini, Allah swt menurunkan perintahNya dalam Al-quran dengan bentuk perinrah yang umum tanpa memberikan penjelasan teknis untuk menunaikan kewajiban tersebut.

Dan memberikan ruang untuk Nabi-Nya Muhammad saw untuk menjelaskan teknis pelaksanaan kewajiban itu semua. Karena itu kita mendapati semua teknis ibadah itu dari hadits-hadits Nabi saw, dari mulai sholat, zakat, puasa, haji dst. Kita ubek-ubek 7 hari 7 malampun, kita tidak akan menemukan ayat yang menjelaskan teknis sholat, Yang ada di Al-Quran hanya perintah secara umum, yang kemudian dijelaskan melalui RasulNya.

Berbeda dengan ilmu Faroidh. Allah swt memerintahkan dan Dia jugalah yang langsung menentukan faroidh itu sendiri, berapa jatah masing-masing ahli waris, siapa yang dapat dan siapa yang tidak dapat (hijab dan Mahjub). Semua telah gambalnag dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat 11-14 surat An-Nisa' juga ayat terkahir disurat yang sama, ayat 176.

Kedua:
Banyak hadits-hadits Nabi saw dengan jalur yang shohih yang menginformasikan kita untuk mempelajarinya, juga memberikan gambaran betapa spesialnya Ilmu Faroidh ini. Yang paling masyhur ialah bahwa Ilmu Faroidh ini ialah setengah dari keseluruhan Ilmu agama. Juga Ilmu pertama yang akan diangkat ke langit seblm ilmu-ilmu lainya.

"Pelajarilah Ilmu Faroidh dan ajarkanlah, karena sesunggunya ia adalah setengah dari ilmu agama. Dan ia adalah ilmu yang pertama kali diangkat dari Ummatku" (HR. Ibnu Majah)

Diangkat maksudnya, Allah swt mewafatkan Para Ulama yang memahami Ilmu Faroidh ini, sehingga tidak ada Ulama yang paham sampai ummat ini tidak ada yang menjalankan kewajiban Faroidh ini sehingga hilang itu Faroidh dan terjadilah asal bagi sana-sini yang sangat mungkin menimbulka perpecahan antara ahli waris.

Ketiga:
Ilmu Faroidh berkaitan dengan Ilmu-ilmu lainnya.
Disadari atau tidak, Ilmu Faroidh ialah salah satu ilmu fiqih yang selalu menyangkut denga ilmu syariat lainnya.

Ilmu Faroidh berkaitan dengan akidah dan iman. Karena dalam ilmu faroidh, ahli waris yang berbeda agama tidak diperbolehkan mendapat jatah waris. Dan tidak juga saling mewarisi. Jadi harus ngerti juga soal akidah.

Ilmu faroidh juga punya ikatan dengan hal pernikahan. Karena salah satu sebab ia bisa saling mewarisi itu harus ada ikatan pernikahan yang sah secara syariat diantara keduanya. Termasuk masalah perceraian, karena ada tidak semua jenis perceraian itu menjadi penghalang untuk mendapatkan waris. Jadi praktisi Faroidh harus mengerti mana pernikahan yang disahkan oleh syariat dan mana yang tidak.

Ilmu faroidh juga mengurusi bidang Muamalah. Diantara kewajiban yang harus dilakukan sebelum pembagian waris ialah membayarkan hutang si mayyit yang belum sempat terbayar, ini masuk dalam bab muamalah tentang perhutangan.

Keempat: paling sedikit ikhtilafnya
Karena memang semua aturannya sudah dijelaskan secara gamblang dalam Al-quran, itu menjadikan Ilmu Faroidh sebagai Ilmu dalam Bab fiqih yang paling sedikit diantara bab-bab fiqih lainnya.

Dalam satu masalah fiqih di bab tertentu, kita akan mendapati banyak perbedaan pendapat tentang suatu hukum. Dan itu memang karena tidak ditemukan nash yang shorih tentang masalah tersebut, akhirnya para Mujtahid berijtihad dan akhirnya terjadilah ikhtilaf.

Berbeda dangan faroidh, dibanding bab-bab fiqih lain, Faroidhlah yang paling sedikit khilafnya. Walaupun kita tidak bisa mnutup mata bahwa ada juga masalah khilaf dalam Faroidh ini, misalnya masalah hajariyah, himariyah atau juga Umrotain. Tapi jika dipersentasikan, masalah yang diperdebatkan dengan masalah yang disepakati dalam faroidh, tentu lebih banyak yang disepakati!

Kelima: mudah karena hitungannya jelas.
Karena memang semua aturan dan hitungan faroidh itu sudah tertera dalam al-quran da krena memang Allah swt yang langsung menjelaskannya, ini membuat ilmu faroidh menjadi mudah.
Hitungannya jelas: 1/2, 1/3 1/4, 1/6, 1/8, 2/3 dan sisa! Yaa itu saja! Memang terkesan sulit karena (kesannya saja) harus diketahui dulu siapa yang dapat dan siapa yang tidak dapat. Siapa menghijab siapa. Tapi itu pun sudah dijelaskan kok dalam An-Nisa. Yaa tinggal dipelajari aja!

Tapi yang jadi pertanyaan kenapa Faroidh begitu sangat diasingkan???

Wallahu A'lam
 

Popularitas Ilmu Faroidh

Kalau Ilmu fiqih itu dibaratkan seperti sebuah Olahraga yang terdapat didalamnya berbagai macam cabang dan varian Olahraga, maka cabang olahraga itu seperti Bab-bab dalam Ilmu fiqih. Orang menyebut olahraga sepak bola, olahraga bulu tangkis, sama seperti orang menyebut fiqih zakat, fiqih sholat, dan seterusnya.

Kalau peng-ibarat-an ini cocok, saya lebih suka menyebut bahwa Ilmu Faroidh/Mawarits itu layaknya Sepakbola dalam Olahraga. Sepertinya posisi sepakbola dalam kelompok Olahraga itu sama spesialnya dengan Ilmu Faroidh dalam kerangkeng sebuah Ilmu Fiqih.

Setiap 4 tahun sekali, dunia ini berpesta Olahraga dalam sebuah kompetisi bernama "olimpic" (Olmimpiade). Semua olahraga dilombakan dalam ajang ini, tak terkecuali sepakbola yang mempertemukan negara-negara untuk bertarung.

Tapi walaupun sudah ada Olimpic, disetiap 4 tahun pula diadakan yang namanya "World Cup" (piala Dunia), kompetisi khusus untuk cabang sepakbola antar negara sedunia. Bahkan itu diadakan disetiap benua dan negara.

Itu kan menunjukkan bahwa Sepakbola punya tempat khusus dan spesial bagi masyarakata dunia ini. Semua orang menyukainya dan menggemarinya. Walaupun tidak ahli bermain, tapi doyan nonton juga. Jadi komentator lebih jago lagi.

Begitu juga Ilmu Faroidh. Semua Ulama sejak zaman tadwiin (pembukuan) Ilmu fiqih, beliau-beliau memasukan semua jenis Ilmu Fiqih dari mulai bab sholat sampai Bab Jihad dalam satu Kitab Fiqih besar, didalamnya terdapat juga Bab Faroidh. Tapi walaupun sudah ada kitab besar Ilmu fiqih tersebut, para Ulama itu juga tetap menulis kembali Ilmu Faroidh dalam kitab khusus yang tebalnya tidak kalah. Bahkan ada Ulama yang sengaja meninggalkan bab Faroidh, tidak menuliskannya dalam Kitab Fiqih, kemudian beliau menulis kembali kitab Khusus untuk Ilmu faroidh. Spesial sekali.

Di Kampus-kampus syariah di berbagai negara Islam. Materi Fiqih diajarkan dalam sebuah satu mata kuliah, tentu didalamnya diajarkan berbagai macam bab-bab dalam Ilmu fiqih. Tapi walaupun sudah ada materi Fiqih, kampus selalu membuat satu materi khusus tentang Faroidh sebagai satu mata kuliah dan tidak memasukkannya dalam mata kuliah fiqih. Spesial sekali bukan?

Dan memang Ilmu Faroidh ini mempunyai tempat dan kedudukan yang sangat spesial dalam sebuah kajian syariah diantara jajaran cabang Ilmu Fiqih lainnya. Tapi jangan katakan bab fiqih lain itu tidak penting. (No way!).

Tapi sangat disayangkan, popularitas Faroidh tidak sebanding dengan popularitas sepakbola yang mencakup semua golongan. Kaya miskin, tua muda, semua suka sepakbola dan bisa menekuninya. Dari mulai lapangan besar distadion sampai gang sempit yang becek pun kita bisa menemukan sepakbola itu. Faroidh?? Hmm

Sampai titik inilah, faroidh sudah tidak sama lagi dengan sepakbola, akan tetapi persis mirip sepakbola api, yang sama sekali tidak populer. Ya populer cuma untuk sebagian kecil saja, kalao dipersentasikan, peminat sepakbola api itu jumlahnya 0,01 persen dari keseluruhan peminat sepakbola biasa.

Miris sekali melihat farodih jaman sekarang sangat diasingkan. Mungkin kita akan memaklumi kalau orang awam bingung soal faroidh, tapi ini kalangan asatidz yang menjadi rujukan oleh ummat. Mereka dengan status pemuka agama tidak tahu menahu soal faroidh, bagaimana bisa?

Dan kita sudah tidak asing lagi, banyak dikalangan masyarakat yang membagi harta waris dengan asas "sama-sama ridho" tanpe memperhitungan aturan yang telah Allah tetapkan. Alesannya normatif "biar adil", hmm apakah melanggar aturan itu sebuah keadilan? Justru keadilan berada pada jika kita mengikuti ketetapan sang kholiq.

Bahkan yang duduk di jajaran birokrat
pun jahil akan itu, para hakim di pengadilan agama. Hanya bersandar dengan sebuah aturan UU yang sampai sekarang pun masih dipertanyakan ke-syariah-annya.

Padahal ancamannya jelas Allah swt tuliskan tepat setelah Allah swt menerangkan atura waris tersebut di surat An-nisa, ujung ayat 14. Wallahuli-Musta'aan.

Kalau yang menjadi rujukan saja tidak tahu, yaa kepada siapa kita mengadu??? Pada rumput yang bergoyang, kata ebith G Ade.

Wallahu A'lam

 

Ulama Juga Harus Mengerti Sains

Ulama itu kerjanya persis sama dengan doktor, membrikan nasihat bagi mereka yang mengadu kepada mereka berdua. Yang berbeda hanya barang "dagangan" nya saja.

kalau dokter memang bukan ia yang manyembuhkan penyakit, tetapi nasihat dan masukannya benar-benar bermanfaat untuk mengatasi penyakit badan, karena memang semua yang diberikan berdadarkan ilmu dan
eksperimen yang tepat.

Pun demikian, sang Ulama memang bukan pemegang tiket ke surga, akan tetapi beliau-beliau inilah yang ahli dalam menjawab aduan-aduan syariah dari masyarakat, dan nasihat serta wejangannya sangat bermanfaat guna menjadi pegangan.

Karena tugasnya sama, maka proses yang diambil juga sama, tidak jauh berbeda. Ketika seorag dokter didatangi pasien yang mengadu soal salah satu anggota tubuhnya yang sakit. Si dokter tidak ujug-ujug langsung memberikan obat. Tetapi dia periksa dulu, apa penyebab sakitnya, dia diagnosis dulu, dia rongten dulu mungkin, atau dia ukur suhu badannya. 

Setelah semua jalan periksa ditempuh, barulah si dokter tahu apa penyebab sakitnya ini. Karena tahu sebabnya maka si dokter pun mengerti, obat apa yang mesti dikonsumsi guna mengatasi penyakitnya
tersebut.

Kalau ada yang didatangi pasien, kemudian tanpa proses pemeriksaan dia langsung memberi obat dan wejangan, itu bukan dokter namanya, tapi DUKUN!

Nah Ulama yang baik pun akan melakukan hal sama seperti dokter ketika didatangkan suatu masalah atau aduan. Tidak ujug-ujug langsung memberi fatwa ini halal dan fatwa itu haram. Tapi sebagai ulama yang mengerti hukum syariah, ia akan periksa dulu beberapa sisi yang terkait dengan masalah. Apa latar belakangnya, bagaimana kondisi dan situasinya.

Masalah yang terjadi dewasa ini tentu bukanlah masalah yang terjadi dulu di zaman para Ulama masa keemasan yang banyak mereka tulis dikitab-kitab mereka. Jadi mau tidak mau, Ulama dewasa sekarang ini
harus mengerti juga masalah yang berkembang belakangan. Tidak hanya terpaku pada kitab-kitab klasik yang masalahnya cuma itu-itu saja. Tapi bukan berarti itu ditinggalkan, justru itu yang menjadi sandaran atas masalah-masalah yang terjadi dewasa ini.

Masalah jual beli saham, investasi, asuransi dan sejenis tidak pernah disebutkan oleh Ulama-ulama terdahulu. Ulama saat ini tidak bisa asal memfatwakan haram hanya karena praktek ekonomi itu tidak dikenal sebelumnya. Saat itulah si Ulama harus menggadeng para ekonom dan harus belajar dari mereka, apa hakikat sebenarnya praktek transaksi itu semua.

Setelah tau hakikatnya, barulah beliau cocok-kan dengan dalil-dalil syar'I untuk kemudian memberika fatwa tentang hukum tersebut. Lah bagaimana bisa beliau memfatwakan sesuatu yang hakikatnya saja beliau tidak tahu?

Begitupun, Ulama akan kesulitan menentuka hukum apa yang harus diterapkan untuk seorang khuntsa musykil, laki-laki kah dia atau perempuan kah? Dan bagaimana hukum orang yang seperti ini, apakah benar menyalahi kodrat yang telah ditetapkan Allah swt. Lalu siapakah orang yang benar-benar disebut khuntsa,  apakah hanya karena sikapnya yang aneh atau bagaimana?

Tentu sang Ulama harus tahu dan merujuk kepada seorang dokter ahli tentang masalah ini. Kenapa ada manusia yang terlahir dengan 2 jenis kelamin? Kenapa pula ada begini dan begitu? Apa yang menyebabkan banyak laki-laki tapi bergaya seperti perempuan? Apakah harus melakukan operasi kelamin dan sebagainya?

Ulama harus tahu itu sebelum akhirnya memutusakan dan memberikan fatwa ini laki dan ini perempuan, maka wajib ini itu dan haram itu ini. Sama halnya seperti penentuan awal masuk bulan ramadhan atau syawal.
Seorang Ulama tidak bisa hanya berdiam di kamar dengan buku-buku falaknya dan menghitung tanggal. Mau tidak mau beliau harus memohon ilmu astronomi kepada ahlinya tentang perpuataran bulan dan bumi, karena itu yang mendasari pergantian bulan.

Kita tentu masih ingat kan, ada salah seorang Ulama yang memfatwakan tentang perputaran bumi, apakah bumi yang mengitari matahari, atau matahari yang mengitari bumi? Para ahli sains dengan segudang penelitian dan kajian serta gambar real dari luar angkasa mengatakan bahwa bumi lah yang mengitari bumi. Tapi justru sang Ulama Saudi itu berfatwa sebaliknya. Hmm..

Intinya memang Ulama juga harus melek sains! Tidak melulu berkutat pada urusan masjid, dan tempat tahlil. Karena syariah ini ialah kehidupan, karena kehidupan, orang yang mendalami syariah harus mengerti ilmu-ilmu kehidupan. Tak terkecuali! Tidak bisa asal berfatwa, apalagi hanya mengandalkan kata-kata "ini tidak ada di zaman Nabi" ...

Wallahu A'lam
 

Mut'ah Talak (Bag. 2)


BESARAN MUT’AH

Dalam nash-nash syariah, tidak pernah disebutkan berapa besaran atau kisaran yang harus dibayarkan oleh seorang mantan sami kepapa mantan istrinya sebagai mut’ah. Semua tergantung atas kemampuan si suami.

وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ
“Dan hendaklah kalian memberikan mut’ah, bagi yang mempu sesuai kemampuannya, dan bagi yang tidak mampu sesuai kesanggupannya; yaitu pemberian yang baik.” (Al-Baqoroh 236)

Artinya semua bergantung atas kemampuan dan kesanggupan si mantan suami itu sendiri. Namun yang dipermasalahkan ialah ukuran apakah yang dipakai untuk menentukan si orang ini termasuk dalam kategori mampu atau tidak.

Para Ulama beranggapan bahwa ketegori mampu itu tidak dalam satu level yang sama, maksudnya ialah setiap daerah, setiap Negara, setiap kampung punya takaran sendiri, dan punya standarisasi sendiri kapan seseorang disebut mampu dan kapan seseorang itu disebut tidak mampu. Artinya sesuai kondisi daerah masing-masing.

Dan karena ini pula, para Ulama menyerahkan urusan ini semua kepada Hakim setempat. Hakim inilah yang menentukan apakah ia termasuk yang mampu atau bukan. Karena yang paling tahu kondisi daerah setempat ialah si hakim tersebut. Tidak bisa kita menanyakan standarisasi “mampu” untuk orang Indonesia kepada Hakim yang ada di Saudi sana, tentu kondisi dan situasi masyarakatnya jauh berbeda. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Kuwait 36/97)

HUKUM MUT’AH DI INDONESIA

Di Negara kita yang kita cintai ini, hukum yang berhubungan dengan pernikahan dan perceraian itu diatur semua oleh Undang-Undang. Dan UU itu menetapkan bahwa segala urusan pernikahan serta seluruh variannya yang bersangkutan denga nikah itu diatur dan diurusi oleh KUA (Kantor Urusan Agama).

Dan KUA yang mengurusi segala macam permasalahan nikah itu memakai hukum dan Qanun yang tertera dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang mana segala hukum yang tertulis didalam buku saku kecil ini dikeluarkan oleh Kementrian Agama RI. Dan hukum-hukum tersebut telah dirumuskan oleh rapat dan sidang yang dihadiri oleh Ulama-ulama se-Indonesia ini.

Mau tidak mau, kita harus tahu dan mengerti isi hukum yang terdapat dalam buku saku kecil tersebut. Untuk masalah mut’ah ini sendiri sudah tertera pada KHI berbunyi seperti ini:

Mut`ah
Pasal 158
Mut`ah wajib diberikan oleh bekas suami dengan syarat :
a. belum ditetapkan mahar bagi isteri ba`da al dukhul;
b. perceraian itu atas kehendak suami.
Pasal 159
Mut`ah sunnat diberikan oleh bekas suami tanpa syarat tersebut pada pasal 158
Pasal 160
Besarnya mut`ah disesuaikan dengan kepatutan dan kemampuan suami.

Pasal A mirip dengan pendapatnya Mazhab Imam Hanafi, sedangkan pasal B mengadopsi pendapatnya Mazhab Imam Syafi’i. kenapa harus tahu ini? Ya harus tahu, karena hukum yang akan digunakan ketika seorang suami ingin menceraikan istrinya ialah hukum KHI ini, karena semuanya diurus dan dilayani oleh KUA. Kecuali jika kita berpindah kewarganegaraan dan bukan lagi warga Indonesia. Kalau sudah begitu, pendapat Imam manapun yang kita ambil yaa tidak jadi masalah.

Dan kalau nantinya, seorang mantan suami yang seharusnya memberikan mut’ah kepada mantan istrinya, namun ia tidak memberikan mut’ah. Si mantan istri bisa saja melaporkan mantan suaminya tersebut kepada pengadilan. Dan bukan suatu yang mustahil kalau si mantan suami itu akan dikenakan pidana karena melanggar hukum yang telah ditetapkan di KUA tersebut.

Wallahu A’lam.

Ahmad Zarkasih, S.Sy
Rumah Fiqih Indonesia
 

Mut'ah Talak (bag. 1)


Istilah mut’ah dalam masalah perkawinan ternyata tidak Cuma mempunyai satu makna. Yang masyhur itu bermakna nikah mut’ah, yaitu menikah dengan batasan waktu, atau sebutan yang lebih akrab dengan telinga kita ialah “kawin kontrak”. Dan Ulama sejagad raya ini mengharamkan nikah dengan model semacam ini kecuali para ulama syiah.

Tetapi istilah mut’ah sebenarnya juga ada dengan arti yang berbeda, dan itu masih dalam masalah pernikahan juga tapi dalam bab yang berbeda. Kalau nikah mut’ah itu jelas keharamannya, sedangkan mut’ah yang satu ini justru sebaliknya, yaitu wajib hukumnya.

Mut’ah yang dimaksud ialah Mut’ah Talak, dinamakan mut’ah talak, karena ia ada ketika ada talak, kalau tidak ada talak yaaa tidak ada mut’ah. Yang dimaksud dengan mut’ah talak ialah sejumlah harta yang diberikan oleh si bekas suami kepada bekas istri sebagai bekal sepeninggal si suami. Kalau secara bahasa, mut’ah itu sendiri artinya “kesenangan”, yaa memang mut’ah itu sendiri dibayarkan oleh bekas suami sebagai “penggembira” atau “penghibur” bagi si bekas istri yang ditinggal suami karena perceraian.

Tidak ada bahasa atau istilah khusus yang dipakai oleh kebanyakan masyarakat perihal mut’ah ini. Sebagian kampung dangan kampung lainnya berbeda dalam menamakan mut’ah itu sendiri, tetapi yang pasti ialah uang itu dibayarkan setelah terjadi perceraian. Dan dalam pandangan masayarakat yang saya ketahui, seorang suami jika meninggalkan istrinya, cerai maksdunya, itu dinilai sebuah “aib” kalau dia tidak meninggalkan uang mut’ah untuk bekas istrinya.

Jadi nantinya kalau seorang istri yang sudah diceraikan meminta sejumlah harta sebagai mut’ah, itu tidak bisa dikatakan sebagai wanita matre! Yaaa memang begitu aturan syar’i-nya. Senang atau tidak senang harus dituruti.

HUKUM MUT’AH TALAK

Nah kalau berbicara hukum, yaa seperti kebiasaan para Ahli fiqih (fuqoha’) dalam masalah-masalah fiqih yang lain, mereka berbeda pendapat tentang hukum mut’ah itu sendiri. Ada yang mewajibkan, ada juga yang mansunnahkan saja.

Dasar perintah Mut’ah itu sendiri ialah firman Allah swt dalam surat Al-Baqoroh ayat 236:
لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ
“dan tidak ada dosa bagi kalian jika kalian menceraikan istri-istri kalian yang belum kalian sentuh (gauli), atau belum kalian tentukan maharnya. Dan hendaklah kalian memberikan mut’ah, bagi yang mempu sesuai kemampuannya, dan bagi yang tidak mampu sesuai kesanggupannya; yaitu pemberian yang baik. Dan itu merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat baik (muhsin)”

Dan bukan hanya ayat tersebut, setidaknya ada 3 ayat yang menerangkan tentang hukum mut’ah itu sendiri; pertama yaitu ayat 236 Al-Baqoroh (diatas), kedua: ayat 241 Al-baqoroh dan ketiga yaitu ayat 49 Al-Ahzab.

Ulama terbagi dalam 2 kubu besar dalam masalah hukum mut’ah talak ini;

Pertama: Sunnah

Artinya bahwa hukum mut’ah ini sebenarnya tidak wajib dan boleh ditinggalkan. Mampu atau tidak mampu si bekas/mantan suami itu, ia boleh tidak memberikan mut’ah kepada bekas istrinya. Pendapat ini ialah pendapat Mazhab Imam Malik.

Mazhab ini berpendapat atas kesunnahan mut’ah itu berdasarkan ayat yang telah disebutkan diatas tadi. Perintahnya memang jelas, yaitu perintah untuk mut’ah, tetapi diakhir ayat Allah swt menerangkan kalau itu ialah “kewajiban bagi mereka yang berbuat baik”, “Haqqon ‘Ala Al-Muhsinin”. Kata Al-Muhsinin dalam bahasa Arab berarti “ia yang berbuat baik” atau ia yang melakukan tambahan kebaikan.

Mazhab ini, seperti yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqihnya beranggapan dengan ujung ayat tersebut, bahwa mut’ah itu hanya bagi mereka yang ingin berbuat baik saja. Artinya kewajibannya tidak mencakup semua muslim, hanya bagi yang ingin menambah kebaikannya (pahala). (Bidayatul Mujtahid 438)

Kedua: Wajib

Ini pendapat yang dianut oleh kebanyakan Mazhab fiqih; Hanafi, Sayafi’I dan hambali. Namun kewajibannya tidak mutlak. Ya ini wajib bagi beberapa orang yang termasuk dalam kategori yang sudah ditentukan. Artinya kalau ada lelaki yang menceraikan istrinya tetapi dia bukan termasuk dalam kategori orang yang wajib bayar mut’ah (menurut masing-masing mazhab) maka tidak ada kewajiban baginya.

Nah kriteria seseorang yang wajib bayar mut’ah menurut 3 mazhab fiqih diatas juga berbeda-beda.

1.       Mazhab Hanafi
Manurut pendapat mazhab ini, yang wajib bayar mut’ah ialah hanya bagi lelaki yang menceraikan istrinya dan mereka belum bersentuhan (berhubungan) layaknya suami istri. Dan si bekas suami itu juga belum menentukan jumlah maharnya selama pernikahannya itu.

Dalilnya ialah ayat 236 surat Al-baqoroh yang telah disebutkan tadi sebagai dasar hukum mut’ah. Bahwasanya Al-Quran telah menjelaskan kondisi masing-masing lelaki ketika ia menceraikan istri-istri mereka, laki-laki yang menceraikan istrinya dan ia telah menggaulinya, dia harus membayar maharnya secara full.

Yang menceraikan dan sudah menggauli namun belum menentukan maharnya, maka ia wajib bayar maharnya itu sebesar mahar Mitsli (mahar yang sepadan). Yang menceraikan namun belum pernah menggauli akan tetapi ia sudah menentukan maharnya, maka ia wajib bayar setengah dari yang telah ditentukan itu.

Tinggallah si laki yang menceraikan istrinya itu sedang ia belum menggaulinya dan belum juga menentukan maharnya. Maka hukumnya ialah ia wajib membayar mut’ah.

“dan tidak ada dosa bagi kalian jika kalian menceraikan istri-istri kalian yang belum kalian sentuh (gauli), atau belum kalian tentukan maharnya. Dan hendaklah kalian memberikan mut’ah, bagi yang mempu sesuai kemampuannya, dan bagi yang tidak mampu sesuai kesanggupannya; yaitu pemberian yang baik. Dan itu merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat baik (muhsin)”  (Al-Baqoroh 236)
(Al-Bahru Al-Ro’iq 3/157)

2.       Mazhab Syafi’I
Sebenarnya mazhab syafi’I mempunyai dua riwayat pendapat dalam hal ini, pendapat pertama ialah sama seperti apa yang dikatakan oleh mazhab hanafi. Sedang pendapat kedua inilah yang pendapat yang masyhur dan yang banyak dipegang oleh Ulama mazhab ini.

Yaitu Mut’ah ini wajib bagi semua laki-laki yang menceraikan istrinya dan perceraian itu berasal darinya laki-laki (bukan khulu’), kecuali ia yang menceraikan istrinya sedang ia belum menggaulinya namun ia sudah menentukan maharnya. Artinya siapapun laki-laki yang menceraikan istrinya selama ia bukan dalam keadaan yang disebutkan tadi, maka ia wajib membayar mut’ah. Dan pendapat ini, menurut Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid, ialah pendapat yang banyak dipegang jumhur.

Dalil wajibnya ialah perintah yang telah tertera dalam ayat perintah mut’ah itu sendiri. Ayat itu menunjukkan bahwa mut’ah itu wajib secara umum. dan segala perintah dalam nash-nash syariah itu berarti suatu kewajiban, maka jadilah mut’ah ini sebagai kewajiban.

Sedangkan kalimat “kewajiban bagi mereka yang berbuat baik”, “Haqqon ‘Ala Al-Muhsinin” [حقا على المحسنين], pada ayat tersbut yang menurut mazhab Maliki ini adalah kalimat yang merubah hukum wajib menjadi sunnah, tidaklah demikian.

Justru kata “Haqqon” [حقا] itulah yang menjadikan mut’ah ini wajib, dan kata “muhsinin” sebenarnya sama sekali bukanlah merubah kewajiban menjadi sebuah kesunnahan, akan tetapi itu artinya memang orang yang melakukan suatu kewajiban, ialah orang yang berbuat baik. (I’anah Al-Tholibin 3/356)

Kemudian kenapa ini tidak wajib bagi ia yang menceraikan istrinya sedang ia belum menggaulinya akan tetapi sudah menentukan maharnya? Kita lihat kembali ayat yang menjadi dasar hukum mut’ah tersebut! Disitu disebutkan: “jika kalian menceraikan istri-istri kalian yang belum kalian sentuh (gauli), atau belum kalian tentukan maharnya”. Kalau ia belum menggauli, dan belum menentukan maharnya maka baginya mut’ah.

Sedang kalau yang sama-sama belum menggauli istrinya namun sudah menentukan maharnya, hukumnya berbeda. Ia harus membayar maharnya setengah dari yang telah ditentukan, dan mut’ah tidak lagi wajib baginya. Ini berdasarkan firman Allah swt:
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ
“dan jika kalian menceraikan istri-istri kalian sedang kalian belum menggauli mereka, dan kalian telah menentukan mahar untuk mereka, maka atas kalian setengah dari mahar yang telah ditentukan tersebut,..” (Al-Baqoroh 237)  
(Al-Majmu’ 16/387)

3.       Mazhab Hambali
Agak berbeda dengan mazhab-mazhab sebelumnya, mazhab hambali justru mengatakan bahwa dasar hukum mut’ah itu sunnah, sama seperti apa yang dikatakan oleh mazhab Imam maliki dan dalilnya pun sama.

Sedangkan mut’ah ini menjadi wajib hanya bagi mereka yang menceraikan istri-istri mereka tetapi mereka belum menentukan mahar untuk istri-istri mereka tersebut. Karena menurut mazhab Hambali, perempuan yang diceraikan itu terbagi menjadi 2 kelompok. Pertama: kelompok perempuan yang maharnya sudah ditentukan, dan yang kedua ialah kelompok perempuan yang maharnya belum ditentukan.

Bagi yang sudah ditentukan, maka bagi mereka mahar-mahar yang sudah ditentukan itu. Sedang bagi yang belum ditentukan, maka itulah jatah mut’ah bagi mereka. (Kisyaful-Qina’ 5/158)

lanjut ke bag. 2 tentang Besaran Mut'ah dan Hukum Mut'ah Talak di Indonesia [KLIK DI SINI]
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger