Iblis, dari Golongan Jin atau Malaikat?

Apakah Iblis dari golongan jin atau golongan malaikat? Kita akan bahas 2 pendapat berbeda tersebut beserta hujjah (argument) masing-masing.

Imam Al-Rozi mengatakan dalam kitab tafsirnya yang masyhur dengan sebutan At-Tafsir Al-Kabir atau Mafaatiih Al-Ghoib:

Jumhur (kebanyakan) ulama mengatakan bahwa Iblis itu dari golongan Malaikat. Sedangkan para ahli kalam (Muatakalimun) dan sebagian Ahli Ushul (Ushuliyun) mengatakan bahwa Iblis itu dari golongan Jin.

Argumen Jumhur:
Pertama: Allah swt dalam ayatNya Al-Baqoroh ayat 34,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِين

Mengecualikan Iblis dari Malaikat. Dalam kaedah bahasa Arab ini disebut dengan istilah Istitsna. dan Istitsna ini sering sekali disebutkan dalam redaksi-redaksi ayat Al-Qur'an.

Redaksi lafadznya ialah Ibliisa. Lafadz Iblis berharokat akhir Fathah. Ini namanya Ististna Muttasil, dimana mustatsna itu dari golongan Mustatsna minhu.

Dalam redaksi ini, Iblis menjadi Mustatsna dan Malaikat menjadi Mustatsna minhu. Kalau saja iblis itu bukan dari golongan malaikat, pastilah tidak dibaca dengan akhiran fathah. Atau kalau saja iblis itu bukan dari golongan malaikat, tidak akan disebut malaikat di awal surat.

Kedua: Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam. Redaksinya:

"dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para Malaikat: 'bersujudlah kalian kepada Adam'. Kemudian bersujudlah mereka semua kecuali Iblis"

Yang menolak perintah itu iblis, berarti iblis itu dari golongan Malaikat. Karena Allah memerintahkan itu kepada malaikat. Allah memerintahkan itu kepada malaikat. Seandainya Iblis bukan dari golongan malaikat, pastilah perintah itu bukan ditujukan kepada Malaikat.

Lebih dekatnya seperti ini, seseorang berkata: "sang guru menyruruh seluruh anak muridnya untuk masuk ke dalam kelas. Maka masuklah semua muridnya ke dalam kelas kecuali Jaja". Berarti Jaja adalah satu dari murid-murid sang guru.

Argumen Mutakallimun:
Pertama: Iblis itu sudah barang tentu dari golongan Jin. Sesuai apa yang difirmankan oleh Allah swt dalam surat Al-Kahfi ayat 50:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّه
"dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya……"

Namun Imam Al-Rozi mengatakan bahwa dalil ini lemah, karena kata Jin جن itu berasal dari kata Ijtinan  اجتنانyang berarti tertutup atau tidak terlihat.

Itu kenapa Janin disebut janin جنين karena ia tidak terlihat. Surga dalam bahasa Arab disebut Jannah جنة kerana surga itu tertutup oleh pepohonan tebal dan lebat sehingga tidak terlihat siapa yang ada didalamnya. Begitu juga orang gila disebut Junun جنون itu karena otaknya sudah tertutup/hilang.   

Begitu juga malaikat, ia masuk dalam kata jin ini karena ia tidak terlihat oleh mata. Maka ketika malaikat pun masuk dalam kategori jin secara bahasa, mestinya jin dalam ayat diatas tidak hanya diartikan makhluk jin saja. Tetapi malaikatpun masuk dalam kata itu.

Kedua: Iblis itu punya keturunan, sedangkan Malaikat tidak punya keturunan. Jadi Iblit itu dari golongan jin sebagaimana layaknya jin. Ini sejalan dengan Firman Allah swt yang menerangkan tentang sifat Iblis:
"…………Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?............." (QS Al-kahfi 50)

Ketiga: Malaikat adalah  makhluk Allah yang ma'sum (terjaga) sehingga ia tidak bermaksiat kepada Allah. Firman Allah swt:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (QS Al-Tahrim 6)

Sedangkan Iblis itu bermaksiat kepada Allah seperti apa yang telah kita ketahui cerotanya. Jadi sudah jelas bahwa Iblis itu dari golongan Jin.

Keempat:  Iblis adalah makhluk yang terbuat dari api. "Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api ……" (QS Al- A'rof 12).

Sedangkan Malaikat jauh berbeda, ia diciptakan dari cahaya. Dari 'Aisyah ra, Rasul saw bersabda: "malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan Jin diciptakan dari nyala Api tanpa Asap" (HR Muslim No. 5314 bab Fi Ahadits Mutafarriqoh)

Inilah apa yang disebutkan oleh Imam Al-Rozi dalam kitab tafsirnya tentang masalah perbedaan ulama mengenai apakah Iblis itu dari golongan Jin atau Malaikat. Saya sarankan agar anda kembali merujuk kitab tersebut.

Imam Ibnu Katsir

Lebih lanjut tentang Iblis, Imam Ibnu Katsir menuliskan dalam kitab tafsirnya sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Iblis itu adalah sekelompot bala tentara dari golongan malaikat. Yang bernama Al-Harits, dan juga bertugas menjadi penjaga surga.

Diceritakan bahwa Makhluk pertama yang mendiami bumi ialah golongan Jin. Namun keberadaan Jin di bumi hanya mengacaukan bumi, menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah satu sama lain.

Lalu Allah mengirim Pasukan Iblis untuk mengatasi masalah yang ada di bumi itu dan segala kerusakan yang telah terjadi akibat kelakuakn Jin itu. Dan dengan kelebihan yang Allah berikan, Iblis pun berhasil menumpas dan menangani Jin-Jin perusak tersebut lalu membuangnya ke lautan serta ke pegunungan.

Karena keberhasilannya itu, timbullah rasa sombong dan angkuh dalam diri Iblis, sampai-sampai ia berkata: "aku telah melakukan apa yang belum pernah dilakukan oleh yang lain.".

Ibnu Abbas berkata: Allah telah memperlihatkan kesombongan dalam diri Iblis tapi tidak pada malaikat yang ada bersamanya saat itu.

Dan kesombongan itu terus berlanjut pada saat Allah berkata kepada Malaikat tentang penciptaan Adam. Mereka penolak rencana Allah tersebut dan mengatakan: "Apakah kau akan menciptakan makhluk yang akan merusak bumi dan munmpahkan daras.?"  (tafsir ibnu katsir, Jilid 1 halaman 227)

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al-baqoroh 30)


wallahu a'lam
 

Iblis dan Setan, Sama kah?

Setelah membahas tentang setan di posting yang sebelumnya. Kemudian muncul pertanyaan, apakah iblis sama dengan setan? Apakah Iblis itu jin? Atau dari golongan Malaikat?


Pertama: bahwa "setan" yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 46:

"lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula…."


yang mana ia memperdaya Adam serta hawa agar makan buah Khuldi yang telah dilarang Allah swt, "Setan" itu ialah Iblis sebagaimana yang disebutkan oleh para Mufassir.

Dalam sebuah riwayat dari As-Sadiy dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa: setalah Iblis dikeluarkan oleh Allah dari Surga karena menolak bersujud kemudian ia ingin kembali masuk untuk mengganggu Adam as. Namun ia dilarang oleh para penjaga Surga.


Kemudian ia mendatangi seekor ular yang pada saat itu adalah hewan dengan rupa yang indah dan berkaki empat. Masuklah Iblis itu kedalam tubuh ular dengan cara ditelan. Dan kemudian ia bisa masuk ke surga dengan badan ular itu.

Setelah masuk, ia keluar melalui mulut ular itu dan memulai aksinya memperdaya Adam dan Hawa.

Dan karena persekongkolannya itu dengan iblis akhirnya sang ular dihukum dengan dipotong keempat kakinya sehingga ia berjalan dengan perutnya. Dan Allah menjadikannya musuh bagi manusia. (Tafsir Al-Rozi, jilid 2 hal 38)

Hikmah Disebutkannya Setan dan Bukan Iblis

Imam Al-Biqo'i dalam kitabnya Nadzmu Ad-Duror Fi Tanasubi Al-Ayat wa As-suwar menjelaskan, bahwa hikmah disebutkannya setan dalam ayat tersebut dan bukan Iblis ialah karena makna setan itu sendiri sesuai dengan maksud ayat, setan yang berarti jauh dari haq, jauh dari rahmat Allah dan mengajak kepada itu. (sebagaimana telah kita bahas dalam tulisan sebelumnya "Setan Juga Ada Yang Ganteng")

Sedangkan nama Iblis itu berasal dari kata Ablasa yang berarti Putus asa atau terputusnya harapan. Tidak Disebutkannya Iblis Ini merupakan kabar gembira bagi Adam bahwa pintu Taubah terbuka untuknya dan untuk tidak berputus asa. (Nadzmu Ad-Duror, tafsir surat AL-baqoroh ayat 36)

                Kedua: Apakah Iblis dari golongan jin atau golongan malaikat? karena keterbatasan Laman, Kita akan bahas 2 pendapat berbeda tersebut beserta hujjah (argument) masing-masing di artikel selanjutnya.  
untuk membaca artikelnya langsung klik disini
 

Setan Juga Ada Yang Ganteng

Ketika kita mendengar kata setan, yang langsung muncul dibenak kita ialah makhluk yang jelek mukanya, buruk rupanya, dengan rambut yang aut-autan tidak teratur, atau bahkan tidak mempunyai hidung, kaki dan tangannya tidak sesuai dengan badannya. 

Atau lebih singkatnya, yang ada dibenak kita tentang segala bentuk keburukan dan kejelekan itulah setan. Dan kata setan sendiri bukan kata yang asing bagi telingan kita. Kita sering dengar kata ini bahkan sejak kita kecil.

Kadang-kadang orang tua sering menakut-nakuti agar anaknya tidak keluar rumah di waktu magrib, sang orang tua berkata "awas, entar ada setan!". Atau kata-kata dengan makna yang serupa.

Bahkan kalau di Negara kita ini setan sudah bisa masuk tivi. Entah itu dia main film atau main sinetron. Dengan judul yang aneh. Yang jelas sampai saat ini yang ada dibenak kita ialah bahwa setan itu makhluk buruk rupa yang selalu menggangu manusia.

Tapi tahukah anda bahwa pemahaman itu keliru. Ternyata setan bukanlah salah satu jenis makhluk. Setan bukanlah gender makhluk. Akan tetapi setan itu adalah sifat, sama seperti sifat saleh ketika kita membicarakan seseorang: "si Ahmad itu anak saleh".

Setan yang dalam bahasa arab disebut dengan Syaithoon, itu berasal dari kata Syathon (Sya-Tho-Na) yang mempunyai arti 'jauh'. Maksdunya ialah setan itu jauh dari rahmat Allah swt. Jauh dari kebenaran. (Al-Misbah Al-Munir jilid 1 hal 313)

Dan setan ini ialah sifat bagi makhluk Allah swt, yaitu jin dan manusia. Berarti seta nada dari golongan manusia sebagaimana ia juga ada dari golongan jin. Ini diterangkan jelas oleh Allah swt dalam firmannya:

"dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)" (Al-An'am 112)

Jin dan manusia pada hakikatnya adalah sama. Sama-sama makhluk Allah swt, hanya saja berbeda alamnya. Ada jin yang muslim ada juga jin kafir, sebagaimana juga ada manusia muslim dan manusia kafir.

Jadi tidak semua jin itu setan. Ada jin yang saleh, ada juga yang biasa-biasa saja, da nada juga yang sangat saleh dan bahkan mencapai derajat ke-wali-an. Dan yang paling berpaling, paling fasiq, paling kufur itu lah setan dari golongan jin.

Begitu juga ada dari golongan manusia itu setan. Sebagaimana telah diterangkan dalam ayat diatas. Dan bahkan setan dari golongan manusia –sebagaimana keterangan ulama- itu lebih berbahaya daripada setan dari golongan jin.

Kok bisa?
Karena ketika setan dari golongan jin itu mengganggu manusia dan membisikinya untuk berbuat maksiat, manusia pasti merasakan dalam hatinya ketidak tenangan atas pekerjaan hinanya itu. Ada dorongan dalam hatinya untuk segera keluar dari kedaan itu.

Namun jika setannya itu dari golongan manusia datang kepadanya sebagai teman yang (kelihatannya) baik, penyayang dengan pakaian yang indah dan bersih, berbicara kepadanya dengan bahasa yang sama, juga datang dengan wangi yang semerbak.

Maka ketika ia mengajak kita pada suatu kemaksiatan, kita tidak akan merasa sedang berbuat maksiat karena kita percaya bahwa teman kita tidak akan menjerumuskan kita.

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, bahwa ia pernah masuk masjid dan Rasul saw ada disitu. Kemudian Rasul bertanya kepada Abu Dzar: "sudahkah kau sholat?". Lalu ia menjawab: "Belum Ya Rasul".
Kemudian ketika Abu dzar ingin memulai sholatnya, Rasul bertanya lagi: "wahai Abu Dzar, sudahkah kau meminta perlindungan kepada Allah (Ta'awwudz Billah) dari godaan setan jin dan manusia?"

Lalu Abu Dzar menjawab keheranan: "Belum ya Rasul! Apakah ada dari manusia itu setan?" Rasul menjawab: "Ya, Ada! Bahkan ia lebih buruk (bahaya) daripada setan jin". (Tafsir Ibnu Katsir: tafsir surat Al-An'am 112)

Setan dari golongan manusia bisa jadi siapa saja. Bisa juga dia teman kita, keluarga, istri bahkan anak kita. Kapan? Ketika mereka mengajak dan memaksa kita kepada kemunkaran dan membuat kita lalai dari mengingat Allah swt.

Seperti yang banyak kita lihat belakang ini contohnya. Dari mulai golongan bawah sampai golongan pejabat, banyak setan-setan baru bermunculan. Dari mulai yang mencuri puluhan ribu sampai yang korupsi ratusan milyar kemudian membagi-bagikannya kepada kerabat atau temannya.

Allah swt berfirman:
"Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS At-Taghobun 14-15)

Mudah-mudah kita selalu terjaga dari godaan setan, baik itu dari golongan jin dan juga dari golongan manusia itu sendiri yang sangat dekat dengan kita. 

 wallahu A'lam
 

Perpustakaan Terbesar se-Asia Tenggara Ada di Jakarta


Percayakah anda bahwa perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara ada di Jakarta? Ya memang ada. Namun lebih tepatnya ialah Perpustakaan dengan Koleksi buku-buku ber-Bahasa Arab.
Ya perpustakaan dengan koleksi buku ber-bahasa teluk itu ada dijakarta. Tepatnya ada di Buncit Raya Jakarta Selatan, pas depan mall Pejaten Village.
Perpustakaan ini adalah perpustakaan milik kampus LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), yang sebenarnya ialah cabang dari universitas Raja Saud Riyadh (Imam Malik bin Saud University)
Kampus ini memang bukan institusi nasional, melainkan intitusi internasional, terbukti bahwa kampus ini adalah kampus resmi kejanaan Arab saudi. Kurikulum yang diajarkannyapun persis sekali sama dengan kurikulum yang diajarkan di Riyadh sana.
Bukan hanya itu, Dosen-dosennya pun langsung diimport dari Timur tengah; Arab saudi, Syiria, Mesir, Sudan dsb. Tapi bukan berarti mahasiswanya pun orang teluk sana.
Mahasiswa-nya tetap orang Indonesia asli, karena memang kampus ini didirikan sebagai sarana orang non-Arab belajar bahasa Arab dan tentunya Syariah Islam. hanya saja luas kampus ini tidak se-luas nama dan pamornya.
Banyak orang yang tidak tahu tentang perpustakaan ini. Padahal perpustakaan ini sudah berumur lebih dari 20 tahun. Mungkin karena tempatnya yang sering berpindah.
diambil dari salah satu sudut dalam perpus
Tercatat bahwa kampus (beserta perpustakaannya) ini telah berpindah sebanyak 3 kali. Pertama kali kampus ini berdiri di Jl. Salemba Raya. Kemudian pindah lokasi ke Matraman, tepat disamping gedung kementrian Sosial sekarang.
Dan sekarang kampus itu berada di Jl. Buncit Raya No. 5A Jakarta selatan. Saling bertatap muka dengan mall Pejaten Village.
Perpustakaan ini menyediakan ratusan ribu koleksi buku dari berbagai macam disiplin ilmu. Mulai dari sejarah, filsafat, bahasa, social, peradilan, Fiqih, ushul Fiqih, Adab, Hadits, tafsir dan masih banyak yang lainnya.
Dan sudah barang tentu perpustakaan ini juga menyediakan computer dan Listening Library. Ada kaset, cd yang bisa anda lihat (baca:tonton) atau dengarkan disini dengan alat yang sudah disediakan. Tentu isinya pun berbahasa Arab. Dari mulai murottal, ceramah agama, syair-syair Arab dan sebagainya.
Bagi saya ini sangat mengagumkan, walaupun buku-buku berbahsa Arab tidak popular di Negara kita ini dan hanya dikenal dan bisa dipahami oleh kalangan tertentu saja. Dan bahasa Arab pun banyak dari kita yang tidak paham.
Tapi ini menunjukkan bahwa label 'Negara Islam Terbesar Dunia' untuk Negara Indonesia ini masih layak. Bagaimana tidak? Sumber ilmu syariah itu ada di Jakarta Ibu Kota Indonesia.
Bagi anda yang berkepentingan dengan bahasa Arab, atau ingin tahu lebih dalam dengan bahasa dan bangsa Arab, silahkan kunjungi Perpustakaan ini. Perpus ini terbukan untuk umum setiap senin-jumat dari pukul 07.30-17.00.
Namu karena ini kampus syariah dan semua regulasinya itu langsung diadopsi dari negeri Ka'bah sana, hari kunjung dibedakan untuk kaum laki dan kaum perempuan. Yaitu Kaum Laki pada hari senin, rabu, dan Jum'at. Sedangkan kaum perempuan pada hari selasa dan Kamis.
Lokasi : Jl. Buncit Raya no. 5A Jakarta Selatan (tepat didepan Pejaten Village)   
Papan Nama Kampus terlihat jelas dari jalan



 

Terus Turun Temurun

Masuk bulan Februari, situs-situs media yang berbasis Islam, baik itu berupa blog, portal berita, juga grup social network ramai dengan postingan artikel yang melarang ataupun mengecam perayaan hari valentine.
Semua orang pasti sudah tau kalau valentine memang hari raya import. Import dari barat, entah Negara mana yang memulai dalam melestarikan sunnah perayaan ini. Yang pasti ini bukan budaya dan tradisi Indonesia, apalagi Islam.
Bahkan dalam salah satu sumber disebutkan bahwa valentine itu budayanya kaum kristiani dalam rangkan mengenang pendeta mereka yang bernama 'valentine' yang tewas karena mempertahankan cintanya. Begitu kata salah satu sumber yang saya baca.
Begitu ramainya topic ini menjadi bahan perbincangan di kalangan mereka pada bulan ini. Dari mulai pembicaraan tentang hukum merayakannya, asal usul perayaannya, juga budaya buruk yang lahir dari perayaan ini.
Setiap masuk bulan februari, pasti topic ini ramai. Setiap tahunnya dan berulang-ulang seakan-akan topic ini baru dan masih sangat hangat di perbincangkan.
Itu kalau bulan februari, beda lagi ceritanya kalau bulan April. Yang ramai dibicarakan pada bulan April sudah tentu dengan masalah April Mop. Setiap tahun selalu dibicarakan.
Masuk bulan desember, pembicaraan bergeser dan menuju ke arah hukum merayakan dan memeberikan ucapan untuk kaum kristiani dalam perayaan natal. Dan ini juga selalu menjadi topic hangat dan cenderung 'panas' setiap tahunnya. Pasti selalu terulang.
Dan begitu seterusnya. Bulan rabi'ul awwal ramai pembicaraan tentang hukum maulid. Bulan syawal ramainya soal hukum halal-bihalal. Bulan ramadhan juga bukan ramai puasa saja, tapi 'ribu' juga ngomongin hukum perayaan nuzulul qur'an.
Perkara-perkara yang telah disebutkan diatas itu selalu terjadi dan selalu menjadi trending topic. Semua sudah tahu bahwa perkara itu sudah dibahas tuntas di tahun sebelumnya tapi tetap saja kalau belum lewat bulannya, meributkan hal demikian tetap asik.
Rasanya perut ini terus mules kalau belum mengeluarkan pendapat atau unek-unek atau bahkan fatwa soal perayaan-perayaan tersebut.
Kemudian ada yang bertanya: "Kalau sudah dibicarakan dan dibahas sebelumnya, kenapa kita masih ribut saja sekarang?"
Jawabannya (menurut saya) ya itu sudah menjadi sunnah alam yang sepertinya tidak bisa lagi kita pungkiri. Tidak bisa kita menutup mata akan hal ini. Kita mungkin bisa saja cuek acunh tak acuh dengan pembicaraan ini, tapi tetap saja baunya akan kita cium juga.
Tidak mengapa itu terjadi dan selalu terjadi, karena memang harus terjadi. Sejak zaman fathimiyah sampai saat ini, kalau masuk bulan Mulud (Rabi'ul awaal) orang-orang selalu ribut soal hukum maulid.
Perlu disadari bahwa "Kita adalah penghuni rumah yang dulu dihuni oleh orang tua kita. Orang tua kita pun dulu adalah penghuni rumah yang dulu dihuni oleh orang tua mereka, para kakek nenek kita dan seterusnya begitu."
Mewarisi Ilmu
Artinya semua pasti berganti dan punya masanya masing-masing. Masalah yang dulu dibicarakan memang itu menjadi masalah orang-orang zaman itu. Yang sekarang pun demikian, walaupun topiknya sama.
Bukan berarti saling tindih tapi malah memang inilah proses tersalurnya ilmu, yaitu saling mewarisi. Ilmu yang kita dapatkan sekarang adalah warisan para pendahulu kita. Topic yang diangkatpun warisan pendahulu kita.
Karena itu jawaban tentang masalah-masalah tersebut selalu sama dengn jawaban yang telah dilansir terdahulu oleh ulama-ulama pada zamannya. Jadi masing-masing punya masanya, punya zamannya, punya waktunya, punya pasarnya sendiri-sendiri.   
Hanya saja yang perlu dibenahi dan perlu diperhatikan kembali pada saat sekarang ini ialah, etika dan adab dalam berselisih pendapat.
Perselisihan dan perbedaan pendapaat adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi dalam masalah-masalah furu'iyyah seperti itu. Karena memang ulama dan para guru kita terdahulu bukan hanya mewarisi ilmu. Akan tetapi perbedaan selisih pendapat juga menjadi warisan beliau-beliau Rahimahumullahu.
Sayangnya, orang-orang zaman sekarang hanya mengambil fatwa dan sedikit ilmu dari pendahulunya tanpa mengambil pelajaran bagaimana etika dan sikap para pendahulu kita dalam berbeda pendapat dengan yang lainnya.
Baiknya, kita adopsi juga sikap dan etika para pendahulu kita, jangan setengah-setengah. Kita adopsi bagaimana kelapangan dada para ulama hanafi yang mengatakan bahwa qunut subuh itu bid'ah dalam menerima pendapat dari para ulama syafi'I yang mengatakan bahwa qunut itu sunnah.
Bahkan para sahabat di zaman Nabi Muhammad saw pun telah mengajarkan kita toleransi. Ketika dalam suatu perjalanan yang dilakukan oleh para sahabat dan rasul saw di bulan Ramadhan, namun mereka ada yang meneruskan puasanya da nada juga yang membatalkan puasa.
Mereka pun berselisih tentang apakah membatalkan puasa ketika dalam perjalanan itu rukhshoh atau 'azimah. Tapi taka da satu kata ejekan dan cemooh-an yang keluar dari mulut mereka kepada yang lain.
 wallahu A'lam


  



   
 

Dakwah juga Harus Pakai 'Otak' !

Semangat dakwah yang sering kita lihat dan kita rasakan dari para pemuda penggiat dakwa belakangan ini memang sangat menggembirakan. Setidaknya ada titik cerah dan harapan akan menuju yang lebih baik.
Namun disamping itu, segala hal positif itu juga menumbulkan banyak hal-hal negatif. Ya, semangatnya tidak dibarengi dengan ilmu yang mumpuni, semangat dakwahnya melampaui semangatnya menuntut ilmu lebih jauh dan lebih dalam.
Akhirnya, yang mereka hasilkan bukan dakwah yang sejuk dan menyejukkan hati tapi malah dakwah yang membuat "darah tinggi". Dengan seenaknya mereka megatakan ini "haram", ini "bid'ah", ini "sesat", ini "masuk neraka", Cuma ia yang "masuk surga". Padahal ia baru hanya belajar satu dua hadits saja.
Tanpa mengkaji lebih dalam ilmu yang didapat dan tanpa melihat lebih jauh medan yang ia temui, ia berkata sesuka hatinya dan menyangka itulah ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasul saw.
Seorang penggiat dakwah harusnya tahu juga fiqih agar tidak ceroboh dalam dakwahnya. Jangan baru hanya belajar satu hadits kok udah jadi seakan sudah bisa menandingi Imam Muslim.
Pernah diceritakan, bahwa beberapa tahun yang lalu di Mesir. Ada seorang pemuda yang sangat concern sekali dengan masalah keagamaan. Karena merasa sudah mumpuni ilmu dan amalnya keluarlah ia berdakwah. Tapi apa yang dia lakukan?
Ia masuk ke masjid di salah satu daerah tanpa melepas sandalnya. Ia masuk begitu saja dan masih memakai sandal. Kemudian dengan gagah dan sombongnya ia menyangka bahwa hanya ia yang mengerti dan pahamm agama, yang lain awam semua.
Tentu melihat ia masuk ke masjid dengan memakai sandal itu, orang-orang yang berada di dalam masjid geram.
"hai Pemuda! Sudah hilang kah otakmu? Seenaknya masuk masjid tanpa melepas alas kaki!" kata salah seorang Jemaah masjid.
Kemudian dengan bodohnya ia menjawab: "wahai para Jemaah. Tidak kah kalian tahu bahwa sholat dengan memakain sandal itu sunnah. Dan rasul saw sholat selalu dengan mamakai sandal. Jadi kenapa kalian melarang?"
Dengan marahnya, akhirnya para Jemaah memukulinya dengan oukulan yang bertubi-tubi sampai ia terkulai dan tidak berdiri lagi. Yaa jelas, siapa yang tidak marah dengan kalakuan bodoh pemuda ini.
Ia berbicara tanpa tahu situasi dan kondisi. Perkataannya soal bahwa Nabi saw itu sholat memakai sandal ya memang benar, sangat benar sekali. Tidak ada yang mengangkal sunnah ini. Tapi apakah itu cocok diterapkan sekarang?
Dimana semua masjid sudah memakai kerami dan juga marmer untuk lantainya. Dan setiap hari ada petugas yang membersihkan masjid secara rutin. Orang muslim mana yang rela melihat masjidnya dikotori dengan sandal kotor dan najis dari orang bodoh seperti ini.
Hasilnya yaa ia berada di rumah sakit. Dan dari hasil pemeriksaan dokter, tulang-tulangnya itu patah hamper di seluruh tubuhnya. Inilah hasil dari dakwah yang timbul dari hanya semangat namun tidak dibarengi dengan ilmu.
Dan bahkan dakwah tanpa etika dan ilmu itu bukan hanya meremukkan dan mematahkan tulang, akan tetapi bisa melayangkan nyawa juga, alias tewas alias meninggal. Seperti cerita yang sudah sangat sering kita dengar dari hadits Nabi saw.
Diceritakan bahwa ada seorang pendosa yang telah membunuh 99 orang, kamudian ia mendatangi seorang pemuka agama untuk bertaubat. Namun ternyata pemuka agama itu bukannya menerima malah meng-jugde bahwa dosa semacam itu mana mungkin diampuni.
Akhirnya, karena memang tidak diampuni, yaaa genapkan saja jadi seratus orang. Hasilnya tewaslah pemuka agama tersebut karena kebodohannya.
Namun berbeda kondisinya dengan pendakwa yang memang mempunyai ilmu dan memahami kondisi medan. Seperti terusan cerita hadits diatas. Ketika soeang pembunuh 100 orang itu datang kepada pemuka agama yang lain. Ia diterima dengan sangat baik dan mengatakan bahwa tuhannya pasti akan mengampuninya dan pintu taubatnya selalu terbuka untuk siapapun dan kapanpun.
Kemudian ia berpesan agar ia meninggalkan kota tempat ia sering melakukan dosa ke kota dimana orang-orangnya selalu taat beribadah. Belum sampai kota yang dituju, ia meninggal ditengah perjalanan. Dan akhirnya (dalam riwayat hadits) ia masuk surga.
Ia masuk surga tentu karena Allah yang menghendaki itu, tapi melalui ilmu sang da'I yang bijak dalam dakwahnya.  
Jadi teruslah perbanyak mencari ilmu. Jangan tergiur dengan semangat-semangat mentah yang hanya menjatuhkan diri sendiri bahkan menjatuhkan kehormatan agama ini, Karena dibawakan dengan sangat tidak proporsional oleh ia yang tidak proporsional juga ilmunya.  
 

Wasiat Terakhir Nabi saw Kepada Kita untuk "Mereka"

Rasulullah saw dari atas tempat tidurnya ketika sakit menjelang wafatnya, untuk yang terakhir kalinya beliau berwasiat kepada ummatnya kaum muslimin:
"as-sholatu, ash-sholatu, wa maa malakat aimaanukum"
(sholat, sholat, dan hamba sahaya yang kalian miliki)
"as-sholatu, ash-sholatu, wa maa malakat aimaanukum"
"as-sholatu, ash-sholatu, wa maa malakat aimaanukum"

Berkali-kali beliau mengatakan ini di waktu dhuha, bebrapa saat menjelang wafat beliau saw. (baca tulisan sebelumnya "Hari-Hari Terakhir Sang Kekasih saw".

Maksud wasiat beliau saw ialah agar kita sebagai ummat jangan sampai lalai terhadap 2 perkara besar ini; yaitu sholat dan hamba sahaya. Perhatian yang kita berikan kepada hamba sahaya tentu harus sama besarnya dengan perhatian kita kapada sholat.

Dan yang namanya wasiat, itu wajib ditunaikan bagi mereka yang ditinggalkan. Terlebih yang berwasiat itu ialah Rasulullah saw, sumber Syariat Islam setelah Al-Qur'an. Tentu wasiat ini menjadi syariat yang setiap muslim dituntut untuk menunaikannya.

Semua orang tahu apa itu sholat, pentingnya sholat, hukumnya sholat dan juga ancaman bagi yang meninggalkannya. Karena masalah ini sering sekali dibahas berbagai majlis pengajian.

Hamba sahaya?

Hamba sahaya ketika itu ialah manusia dengan starata paling rendah diantara yang lainnya. Dan Rasulullah saw adalah orang yang paling sangat perhatian terhadap kelompot terendah pada masa hidup beliau, yaitu para hamba sahaya ini. Karena itulah beliau saw menyebutkan mereka dalam wasiat terakhirnya berkali-kali.

Hari ini sudah tidak ada lagi hamba sahaya, tetapi hari ini masih ada kelompok manusia denga strata rendah; diantaranya yaitu para "Pegawai Sampah" yang setiap hari berkeliling membersihkan sampah, baik dikompleks maupun di jalan-jalan raya.

Dengan demikian, berbuat baik kepada beliau-beliau ini itu merupakan suatu syariat yang setiap muslim dituntut untuk menunaikannya. Dan sayangnya banyak diantara orang muslim atau sedikit –InsyaAllah- tidak perduli dengan keberadaan meraka.

Padahal berbuat baik dan berlaku Ihsan kepada beliau-beliau ini adalah suatu ibadah yang sudah pasti berpahala. Dan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dengan berbuat Ihsan kepada mereka. Diantaranya:

Pertama: Jika kita berlaku Ihsan dan berbuat bagi kepada beliau berarti kita telah menunaikan apa yang telah Rasul saw wasiatkan kepada kita ummatnya. Dan itu suatu keharusan.

Kedua: berlaku Ihsan dan berbuat bagi kepada beliau akan benyak menimbulkan keberkahan bagi kita dan agama kita. Yaitu kebersihan dan keindahan yang selalu terjaga. Bukankah keindahan dan kebersihan juga diperintah oleh agama kita?

Ketiga: berlaku Ihsan dan berbuat bagi kepada beliau adalah suatu bentuk ketawadhu'an dan kerendahan hati juga jiwa. Karena berlaku Ihsan dan berbuat bagi kepada beliau kita telah melepaskan sorban kebesaran kita yang mungkin saja membuat kita selalu angkat dada tanpa tahu penderitaan orang lain.

Lalu bagaimana kita berlaku Ihsan dan berbuat bagi kepada beliau-beliau ini, agar kita termasuk orang yang dicintai Rasul saw karena telah menjalankan wasiatnya saw.

Setidaknya ada 3 cara untuk kita berlaku baik dan bebuat ihsan kepada beliau-beliau yang dimuliakan oleh Allah ini :

Pertama:
Ihsan kepada mereka, dan ini adalah tingkatan utama yang paling tinggi. Tentu dengan sebaik-baiknya Ihsan yaitu dalam bentuk ikut menolong mereka bekerja, ini yang paling dekat dengan kita. Atau memberikan mereka upah yang layak, menyedeiakan sarapan dan makan siang untuk mereka. Atau juga bisa kita memberika pulsa (beserta telponnya juga) agar mereka bisa menelpon keluarga mereka dikampung.

Kedua:
Jika kita tidak mampu melakukan yang pertama tadi, ada tingkatan yang kedua. Dan tentu ini lebih rendah kedudukan dan pahalanya dibanding yang pertama Yaitu dengan menghargai dan menghormati keberadaan mereka. Dengan apa?
sekeluarga berfoto bareng 'pegawai kebersihan'
bersama anak-anaknya tanpa rasa malu

Dengan kita mengucapkan salam ketika berpapasan dengan beliau-beliau ini dan sudah tentu harus dibarengi dengan senyuman.

Senyuman dan salam kita itu membuat mereka merasa menjadi sangat dihargai dan dibutuhkan. Merasa menjadi sama dengan yang lainnya. Bukankah memberi salam dan tersenyum kepada muslim lainnya itu perintah Nabi saw?

Ketiga:

Kalau yang pertama kita tidak mampu melakukannya dan yang kedua-pun rasanya enggan. Maka yang ketiga ini menjadi harus dan wajib kita lakukan. Dan tentu ini urutan yang paling rendah dalam segi keutamaan dan pahalanya pula.


Yaitu dengan "MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA, JANGAN SEMBARANGAN". Dengan begitu kita telah mempermudah pekerjaan mereka –hafidzohumullahu-.

Wallahu A'lam.
Sisa Sampah Malam Tahun Baru di Monas
Sampah Pantai Ancol setelah Tahun Baru-an
Sampah Koran Sholat Ied-Fithri
di Masjid Al-Azhar Kebayoran
sholat pun bisa menghasilkan sampah

 

Kenapa Sayyidina Ali Diberi Gelar "Karromallahu Wajhahu" ?

Ali bin Abi Tholib adalah termasuk golongan As-sabiqun Al-Awwalun dari kalangan anak-anak, yaitu kelompok yang pertama kali masuk Islam. Beliau dilahirkan 20 tahun sebelum Nabi Muhammad mengemban amanat risalah (Rasul) dari Allah swt.

Sedari kecil Abu Tholib telah menyerahkan Ali kepada Nabi Muhammad untuk dididik. Sampai akhirnya beliau ikut memeluk Islam, yaitu agama yang dibawa oleh Muhammad saw, pendidiknya.

Sampai besarnya, Ali selalu mengikuti Rasul bahkan beliau tidak pernah absen dalam peperangan bersama Rasul saw kecuali satu event, yaitu perak tabuk.
Saking dekatnya dengan Rasul saw, Ali mendapat perintah untuk menggantikan beliau saw guna mengurusi para wanita dan anak-anak di madinah sepeninggal Nabi pergi ke Tabuk untuk berperang. 

Kemudian Ali bertanya-tanya tentang posisi itu kepada Nabi, lalu Nabi saw pun menjawab:
"tidakkah kamu ridho kedudukanmu disisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa Alayh Salam." (Muttafaq Alayh).

Beliau saw menggambarkan bahwa posisi Ali sepeninggalnya ke Tabuk untuk berperang layaknya posisi Nabi Harun yang ditugasi mengurus Bani Israel sepeninggal Nabi Musa yang pergi ke Thur.

Bukan maksud untuk menggantikannya sebagai kholifah setelah setelah kematian beliau saw sebagaimana yang di gemborkan oleh para pengikut kelompok sesat syiah. Akan tetapi posisi Ali ketika itu adalah posisi yang khusus di waktu yang khusus itu saja. Dan Nabi ketika itu masih hidup.

Sebagaimana yang menjadi percontohan Nabi saw untuk Ali dengan Nabi Harun yang menggantikan Nabi Musa untuk memimpin Bani Israel. Bukan berarti setelah Musa, lalu harun menggantikannya, toh Nabi Harun itu wafat sebelum Nabi Musa wafat.

Apa Makna Karromallahu Wajhahu?

Adapun gelar yang diberikan kepada Ali; Karromallu Wajhahu, yang berarti (Semoga) Allah memuliakan wajahnya. Dan gelar ini tidak terdapat pada sahabat yang lain, itu karena beliau belum pernah menyembah berhala sekalipun semasa hidupnya sampai beliau memeluk Islam. Menurut jumhur ulama. 

Dan ada juga beberapa kabar yang menunjukkan bahwa Ali mendapat gelar seperti itu karena beliau belum pernah melihat kemaluannya. Namun pendapat ini kurang kuat.

Siapakah Yang Pertama Kali Menyematkan Gelar Ini?

Dan yang pertama kali menyematkan gelar ini pertama kali ialah: para pengikut kelompok Syiah yang terlalu berlebihan (seperti yang kita tahu) dalam mengagungkan Ali bin Abi Tholib. sampai membuat mereka menjadi Kafir atas kelaukan mereka ini. Namun alasan ini pun belum terbukti kebenarannya secara mutlak.

Bagaimana Pandangan Ulama?

Sheikh As-Sifarini dala kitab Ghidza' Al-Albab mengatakan bahwa gelar ini yang disematkan kepada Ali telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan itu tidak mengapa InsyaAllah. Karena maknanya benar dan tidak menyimpang.

Namun sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirnya; "baiknya gelar itu tidak hanya disematkan kepada Ali bin Abi Tholib saja, akan tetapi hendaknya disamarata-kan untuk seluruh sahabat. Karena ada juga sahabat yang lebih Afdhol dari Ali, yaitu Abu Bakar, Umar, dan juga Ustman Radiyallahu 'anhum."

Imam Ibnu Katsir mengatakan:
 "gelar ini telah masyhur dan menyebar, dan banyak dipakai oleh para penulis kitab dalam kitab-kita mereka. Yaitu menyematkan karromallahu wajhahu pada nama Ali bin Abi Tholib. Walaupun maknanya benar tetapi baiknya gelar ini disamarata-kan untuk para sahabat yang lain.

Ini untuk sebagai penghormatan dan ta'dzim kepada mereka semua. Dan Syaikhoni (Abu Bakar & Umar) dan juga Utsman lebih utama untuk gelar ini disbanding Ali bin Abi Tholib." (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6 hal 478)  

 wallahu A'lam.
 

Hari-Hari Terakhir Sang Kekasih -'Alayh sholatu wassalam-

Sepulangnya Nabi saw dari Haji Wada' tahun kesepuluh hijrah, mulai Nampak tanda-tanda dan isyarat akan dekatnya ajal Nabi saw.

Awal bulan shafar tahun kesebeas hijrah, Nabi saw berziarah ke makam para syuhada' Uhud. Yang kemudian beliau saw mensholati para syuhada Uhud itu dan berdoa untuk  mereka.

Beberapa hari kemudian, Nabi saw medapat perintah untuk berziarah ke Baqi' guna mendoakan para jenazah penghuni Baqi' dan memintakan ampun untuk mereka. Berangkatlah Nabi saw pada malam hari dan ketika itu beliau saw ditemani oleh pembantu beliau yaitu Abu Muwaihibah ra.

Nabi saw berkata kepada Abu Muwaihibah: "Wahai Abu Muwaihibah, tahukah kau bahwa Allah swt telah memberikanku kunci semua isi dunia, kekekalan didamanya juga Allah swt telah memberikanku surga. Kemudian aku diberi pilihan antara itu semua atau bertemu dengan-Nya swt."

Kemudian Abu Muwaihibah berkata kepada Nabi saw: "wahai Rasul, ambillah kunci dunia itu dan kekekalan didalamnya juga surga!."

Nabi Menjawab: "Tidak demikian wahai Abu Muwaihibah. Akan tetapi aku telah memilih untuk bertemu Allah swt!". Kemudian beliau saw berdoa dan memintakan ampun untuk para penghuni Baqi' lalu pergi. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi saw mensholati mereka.

Permulaan Sakit
hari senin tanggal 29 bulan Shofar tahun kesebelas hijrah. Beliau saw menghadiri prosesi pemakaman di Baqi'. Dalam perjalanan pulang dari Baqi' beliau saw merasakan sakit dikepala dan juga badan yang mulai menggigil demam.


Sampai dirumah ia menemui 'Aisyah ra berkata kepadanya: "Ya Nabi. Waa ro'saah, Waa Ro'saah" (wahai Nabi. Kepalaku sakit, kepalaku sakit). Nabi pun menjawab: "Bal Ana Yaa 'Aisyah, waa Ro'saah" (Bahkan aku wahai 'Aisyah. Kepalaku juga sakit).

Sejak hari itu, mulailah sakit Nabi saw bertambah dan bertambah parah.

5 hari sebelum Wafat
Rabu, 7 Rabi'ul Awwal 11 H

Demam Nabi saw semakin parah dan bertambah. Dan ketika itu beliau saw sedang berada dirumah Maimuah ra. Karena itu memang hari giliran Maimunah bersama Rasul saw. Namun Rasul saw semakin merasakan sakitnya itu lalu meminta izin kepada Maimunah dan istri-istri beliau agar ia dirawat dirumah 'Aisyah.

Mendengar permintaannya itu, Ali bin Abi Tholib dan Fadhl Ibnu Abbas menggotong beliau kerumah 'Aisyah ra. Keduanya menggotong Nabi saw dengan kedua pundaknya masing-masing.

Disebutkan bahwa karena parahnya sakit, beliau sudah tidak bisa menapaki jalan lagi. Ketika digotong oleh Ali dan Ibnu Abbas, kedua kaki beliau menyeret tanah karena beliau sudah tidak mampu lagi berjalan.

4 hari sebelum Wafat
Kamis, 8 Rabi'ul Awwal 11 H

Sakit yang dirasakannya semakin bertambah parah. Kemudian beliau saw meminta untuk dibawakan 7 katung air dari 7 sumur yang berbeda dan meminta untuk diguyurkan ke bagian manapun dari tubuhnya.

Kemudian para sahabat menuangkan air yang telah didapatkannya ke tubuh Nabi saw, sampai Nabi saw berkata: "Hasbukum. Hasbukum!" (cukup. Cukup)

Lalu beliau saw memasuki masjid dengan kepala yang dibalut (diperban). Lalu ia berdiri di minbar dan memberikan khutbah kepada para sahabat. Dan inilah majlis terakhir yang dihadiri olehnya alayh sholatu wasalam.

Di hari yang sama inilah, beliau melaksanakan sholat berjamaah terakhirnya bersama para sahabat beliau saw. Dan itu ialah sholat maghrib. Ketika itu Rasul saw menjadi imam walaupun dalam keadaan sakit. Beliau saw membaca surat Al-Mursalat.

Memasuki waktu sholat Isya', demamnya bertambah semakin parah sampai-sampai beliau saw sudah tidak mampu lagi untuk keluar ke masjid. Beliau berkata kepada 'Aisyah: "apakah mereka (sahabat) sholat?" 'Aisyah menjawab: "tidak ya rasul. Mereka sedang menuggumu". Kemudian memerintahkan Abu Bakar mengantikannya menjadi Imam.

Sehari sebelum wafat
Ahad, 11 Robi'ul Awwal 11 H

Rasul saw membebaskan seluruh budaknya. Dan ketika itu beliau saw tidak mempunyai harta lagi selain 6 atau 7 dinar yang kemudian ia sedekahkan semuanya. Dan di hari itu juga, beliau saw menghibahkan seluruh senjatanya kepada kaum muslimin.

Waktu fajar di Hari wafatnya
Senin, 12 Rabi'ul Awwal 11 H

Ketika para kaum muslimin melaksanakan sholat subuh berjamaah yang di pimpin oleh Abu bakar ra sebagai imam. Rasul saw membuka tirai (dalam riwayat lain, pintu) rumah 'Aisyah untuk melihat para sahabat yang sedang sholat subuh.

Seketika Rasul saw tersenyum, dan inilah senyum terakhir Nabi saw yang disaksikan oleh para sahabat beliau saw. Ulama menyebut senyuman ini dengan al-ibtisam al-wada' yaiti senyuman perpisahan.

Melihat Nabi yang membuka tirai/pintu dan melihatnya sedang sholat, Abu bakar beserta para sahabat kaget juga gembira. Karena menyangka bahwa Nabi saw telah pulih dari demamnya.

Abu bakarpun mundur beberapa langkah guna memberikan tempat untuk Nabi saw menjadi imam sholat. Namun beliau saw memberikan isyarat dengan tangannya kepada para sahabat dan juga Abu bakar agar tetap ditempat mereka dan meneruskan sholat.

Kemudian beliau saw masuk kembali kedalam kamar dan menutup tirai. Dan inilah momen terakhir bagi para sahabat melihat kekasihnya tersebut 'alayh sholatu wasalam.

Waktu Dhuha

Masuk waktu dhuha di hari terakhir beliau saw. Nabi saw memanggil anak perempuannya yaitu Fatimah ra.

Fatimahpun masuk ke rumah 'Aisyah. Lalu mendudukannya di pangkuan kanan beliau saw dan mulai membisikinya, seketika Fatimah menangis. Beliau membisikannya lagi, seketika Fatimah tersenyum senang.

Kemudian beliau saw memberikan kabar gembira kepada Fatimah bahwa ia adalah Sayyidah Nisaa' Al-'Alamin (Ratunya seluruh wanita didunia).

Melihat Nabi saw yang sedari tadi menahan rasa sakitnya itu, Fatimah dengan perasaan sedih berkata: "waa karba abaah" betapa menderitanya kau ayah. Rasul saw menjawab: "tidak akan ada penderitaan setelah ini wahai anakku".

('Aisyah bertanya tentang bisikan Nabi saw kepada Fatimah yang membuatnya menangis lalu kemudian membuatnya tertawa. Fatimah menjawab: "pertama beliau membisikiku bahwa beliau akan bertemu tuhannya. Akupun paham dan aku menangis. Kemudian beliau membisikiku lagi bahwa aku-lah orang pertama dari keluarga beliau yang akan menyusulnya, maka akupun tersenyum gembira.")

Di waktu ini pula Nabi saw menyampaikan wasiatnya yang terakhir kepada seluruh kaum muslimin: "as-sholatu, ash-sholatu, wa maa malakat aimaanukum". "sholat, sholat, dan hamba sahaya yang kalian miliki." Dan beliau mengulangi wasiat ini berkali-kali.

"as-sholatu, ash-sholatu, wa maa malakat aimaanukum".
"as-sholatu, ash-sholatu, wa maa malakat aimaanukum".

Detik-detik sebelum wafat (waktu Ihtidhor)


Sakitnya semakin menjadi, inilah waktu sekarat Nabi saw. Beliau saw bersandar di dada 'Aisyah ra.

Saudara laki-laki 'Aisyah, Abdurahman bin Abu Bakar masuk ke rumah 'Aisyah dengan membawa siwak ditangannya. Ketika itu Rasul saw berada di pangkuan 'Aisyah dan sudah tidak bisa lagi bergerak.

Beliau memandangi siwak yang dibawa oleh Ibnu Abu bakar tadi. 'Aisyah pun paham bahwa Nabi saw menginginkan itu, "Kau mau aku ambilkan itu untukmu?" 'Aisyah bertanya kepada Nabi saw, lalu dijawab dengan anggukan kepala oleh Nabi saw yang sudah tidak berdaya lagi.

'Aisyah me-layyin-kan siwak tersebut dan kemudian meggosokkan gigi Nabi saw. (dalam riwayat lain, beliau saw menggosokan siwak itu sendiri).

Wafatnya sang Kekasih 'Alayhi sholatu wa salaam

Setelah bersiwak, Nabi saw mengulurkan tangannya ke bejana di dekatnya yang berisikan air lalu mengusap wajahnya dengan tangan beliau sendiri yang sudah basah dengan air, seraya berkata:

"laa ilaaha illa-Llah, Inna lilmauti la sakaraat". "Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya dalam kematian itu ada kesakitan".


Rasul saw mengangkat tangannya keatas dan menadahkan kepala serta pandangannya ke atas (langit-langit). 'Aisyah melihat mulut beliau saw bergerak dengan lambat dan berkata lirih:

"Bersama orang-orang yang Engkau berikan nikmat dari para Nabi-nabi, para shiddiqin, ­para syuhada', juga orang-orang sholih. Ya Allah ampunilah dosaku, sayangilah aku dan sampaikanlah aku kepada al-rafiiq al-A'la (pendamping tertinggi). Allahumma Al-Rafiiq al-A'la. Allahumma Al-Rafiiq al-A'la. Allahumma Al-Rafiiq al-A'la."

Dan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, beliau wafat pada akhir waktu dhuha, hari senin tanggal 12 rabi'ul Awwal tahun ke-11 Hijrah. Tepat pada umur 63 tahun lebih 4 hari.   
-------------------------------------------------
('Aisyah berkata: "dari salah satu nikmat yang Allah berikan kepadaku ialah bahwa Nabi saw wafat di rumahku, di hari giliranku, di pangkuanku. Dan Allah swt mencampurkan ludahnya dengan ludahku disiwak yang beliau saw pakai".)

Anas bin Malik ra berkata: "tidak ada hari sebagus dan seindah ketika Nabi saw masuk kepada kami (masuk kota madinah). Dan tiada hari seburuk dan sesuram hari ketika beliau saw meninggalkan kami."

Sumber:
  • Ar-Rahiq Al-Makhtum, Bab: Hari-Hari terakhir Nabi saw
  • Khowathir 2, Halaqoh 13 / Ahmad Shughairi
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger