Imam Shalat Duduk, Makmum Harus Bagaimana?

Dalam pembahasan shalatnya orang sakit, ulama membahas juga keabsahannya menjadi Imam shalat bagi yang lain. Tentu bukan sakit yang enteng, akan tetapi sakit yang membuatnya tidak bisa berdiri sedangkan berdiri adalah rukun shalat (bagi yang mampu).

Bagi muslim yang mempu berdiri, tidak ada alasan baginya untuk tidak shalat dalam keadaan berdiri. Namun muncul pertanyaan kemudian, bagaimana jika Imamnya yang tidak bisa berdiri sehingga harus shalat dalam keadaan duduk, Atau bagaimana jika tiba-tiba dalam shalat sang Imam sakit dan harus berubah posisi menjadi duduk.

Apakah ia mengikuti duduk sedangkan ia bisa berdiri? Atau tetap berdiri saja karena memang rukunnya duduk? Dalam hadits shahih yang diriwayatkan shaikhan; Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah yang menjelaskan tetang kewajiban-kewajiban makmum tehadap Imamnya:

إِنَّمَا جُعِلَ اَلْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ, فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا, وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ, … , وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا, وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعِينَ
"Imam itu dijadikan untuk diikuti, jika ia takbir, maka bertakbirlah … jika ia shalat dalam keadaan berdiri, berdirilah dan jika dalam keadaan duduk, maka duduklah kalian semua" (Muttafaq 'alayh)

Secara zahir redaksi hadits, memang jelas dinyatakan bahwa sang makmum tetap mengikuti Imam dalam keadaan duduk. Nyatanya, ulama lintas madzhab tidak menyepakati itu. Setidaknya ada 3 pendapat dari ulama madzhab fiqih terkait Imam duduk ini:

[1] Makmum Mengikuti Imam, Tanpa Alasan

Ini adalah pendapat madzhab Imam Ahmad bin Abdullah bin Hanbal, yang mengambil hukum dari zahir teks hadits. Dan memang begitu sejatinya, bahwa makmum itu tidak punya jalan kecuali mengikuti saja apa yang Imam kerjakan, dan itu perintah Nabi s.a.w..

Namum beliau mengecualikan, jika duduknya Imam terjadi ditengah shalat. Maksudnya Imam memulai shalat dengan berdiri, namun karena sakit beliau merubah posisinya menjadi duduk, makmum tetap harus berdiri. Ini dimabil dari kisahnya shalat para sahabat yang berdiri kemudian Nabi s.a.w. yang dalam keadaan sakit datang dan menjadi Imam dalam keadaan duduk, namun sahabat tetap dalam keadaan berdiri bersama Abu Bakr r.a. yang awalnya menjadi Imam.

[2] Tidak Sah Bermakmum Kepada Imam yang Duduk

Secara tegas, madzhab Imam Malik menyatakan bahwa orang yang tidak bisa berdiri, atau tidak bisa shalat dalam keadaan berdiri tidak bisa menjadi Imam; karena makmum yang berdiri tidak sah shalatnya jika bermakmum kepada orang yang duduk.

Imam Malik bukan tidak tahu hadits konsekuesi Makmum terhadap Imam itu, akan tetapi hadits yang panjang itu, bagian yang shalatnya Imam duduk di­-takhshish oleh hadits mursal riwayat Imam al-Daro Quthniy:

لا يؤمن أحدكم بعدي قاعداً قوماً قياماً
"janganlah salah satu dari kalian menjadi Imam dalam keadaan duduk untuk kaum yang mampu berdiri" (HR. al-daro Quthniy)

Bukan hanya hadits mursal –yang dinilai oleh madzhab lain tidak bisa dijadikan Hujjah- ini saja yang men-takhshsish, dalam Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Imam Ibn Rusyd al-Qurthubiy juga mengatakan bahwa Imam Malik berhujjah dengan 'Amal ahl Madinah perihal Imam shalat yang duduk ini.

Imam Shan'aniy dalam kitabnya SubulusSalam (hal. 396), menambahkan dalilnya madzhab Imam Malik yang menguatkan pendapatnya ini dengan hadits yang diriwayatkan oleh Qadhi Abd. Wahab al-Baghdadi al-Maliki (422 H):

لا تختلفوا على إمامكم ولا تتابعوه في القعود
"janganlah kalian menyelisih Imam, dan jangan ikuti Imam (yang Shalatnya) Duduk".

Namun setelahnya, ulama madzhab Fiqih Zaidiyah ini bahwa hadits Qadhi ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits. Artinya haditsnya tidak jelas sumbernya –menurut beliau-.

[3] Imam Duduk, Makmum Tetap Berdiri

Ini pendapat madzhab-nya Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi'i yang mengatakan bahwa makmum shalatnya tetap sah bermakmum kepada Imam yang duduk, akan tetapi makmum yang bisa berdiri tidak bisa dibenarkan jika shalatnya duduk, walaupun Imamnya duduk. Artinya ia tetap shalat dalam berdiri dan Imam dalam keadaan duduk.

Ini didasarkan atas peristiwa shalat Nabi s.a.w. riwayat Imam al-Bukhari dari istri Nabi; Sayyidah 'Aisyah r.a., yaitu hadits tentang shalatnya Nabi s.a.w. yang sedang dalam keadaan sakit dan menjadi Imam dalam keadaan duduk.

Ketika itu sahabat sudah bermakmum kepada sahabat Abu Bakr r.a. karena memang Nabi s.a.w. sedang sakit di kamar 'Aisyah r.a., namun kemudian Nabi keluar dan masuk masjid langsung menjadi Imam shalat. Abu Bakr r.a. ketika itu berubah status menjadi Muballigh untuk Nabi s.a.w.. Posisinya ketika itu, Nabi s.a.w. duduk dan para sahabat semua berdiri. Kalau seandainya harus duduk, pastilah Nabi s.a.w. memerintahnya mereka untuk duduk semua sebelum shalatnya.

[Imam al-Shan'aniy: "Perintah Duduk Hanya Sebuah Kesunahan"]

Dalam kitab Subulus-Salam (hal. 396), Imam Shan'aniy mengeluarkan pendapatnya, bahwa perintah duduk mengikuti Imam duduk adalah perintah yang tidak berbuah kewajiban atau keharusan. Akan tetapi, setelah menimbang beberapa hadits terkait, ulama madzhab Fiqih Zaidiyah ini menyatakan bahwa perintah duduk itu statusnya mandub, atau sunnah saja, bahasa keren-nya "recommended".

Dalam artian bahwa makmum diberi pilihan untuk mengikuti Imam dalam keadaan duduk –dan itu afdhal- atau tetap dalam keadaan berdiri dan itu tidak membuat shalat jemaahnya rusak.

Akan tetapi di luar itu semua, pembahasan ini adalah pembahasan yang memang sejak awal sudah diperdebatkan, artinya masing-masing kita boleh saja mengikuti pendapat mana yang disukainya. Dan tetap berlapang dada dengan adanya perbedaan.

Tidak dibenarkan salah satu di antara kita untuk memaksa orang lain dalam memilih pendapat yang sama atau lebih jauh lagi, menyalahkan orang lain yang berbeda. Jelas itu tindakan yang sangat tidak dewasa!.

Wallahu a'lam
 

Mana Perkara Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda?

Kalau kita buka literasi-literasi fiqih dari lintas madzhab yang diakui dalam dunia syariah, kita tidak mungkin bisa mengelak bahwa perbedaan pandangan dalam masalah fiqih adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terlepaskan. Dalam satu masalah agama, kita bisa saja menemukan lebih dari 2 pendapat yang pendapat itu tetap diakomodasi oleh para ulama dan tetap dijalan bagi yang mengikutinya.

Namum sayang, ada beberapa saudara-saudara muslim –hampir di seluruh negeri- yang tidak bisa menerima perbedaan itu. Selalu menunjukkan sikap yang ogah dan cendereung menyalahkan mereka yang amalan ibadahnya berbeda dengan apa yang ia amalkan. Menganggap dengan penuh keyakinan bahwa syariah ini adalah satu dan tidak boleh ada perbedaan.

Jelas ini sikap yang keliru dan sama sekali tidak realistis. Memang bisa dikatakan wajar saja kalau ada yang 'marah' ketika melihat perbedaan, mengingat ilmu yang ia tahu bahwa umat Islam itu sumbernya saama; al-Quran dan hadits Nabi s.a.w., lalu kenapa berbeda? Belum sampai kepadanya informasi tentang dalil-dalil syariah sebuah hukum yang punya kandungan bersayap.

Memahami Qath'iy dan Dzanniy

Karena itu, penting untuk dipelajari, dan untuk diketahui –agar tidak ada yang marah-marah lagi jika melihat adanya perbedaan- bahwa dalam syariah ini ada masalah-masalah yang sandarannya dalilnya itu Qath'iy [قطعي] di mana tidak boleh ada di dalamnya perbedaan. Dan ada juga yang dalilnya Dzonniy [ظني] yang mana perbedaan di dalamnya terbuka lebar dan masing-masing kita harus berlapang dada untuk itu.

Jadi bisa dikrucutkan bahwa syariah ini, dalil-dalilnya terdiri dari 2 jenis, yakni; [1] Qath'iy, dan [2] Dzanniy. Dan ini juga lah garis pembatas antara syariah dan fiqih. Syariah itu sudah pasti dalil-dalilnya bersifat Qath'iy, dan fiqih tidak mungkin disebut fiqih kecuali kalau dalilnya itu Dzanniy.

[1] Qath'iy (Pasti)

Qath'iy [قطعي] secara bahasa diartikan sebagai putus atau terpotong, akan tetapi dalam istilah ilmu ushul, qathiy berarti sesuatu yang punya arti pasti serta kandungan hukum di dalamnya tidak bersayap. Masalah agama yang dalilnya bersifat qath'iy, maka tidak ada satu pun dari umat ini yang boleh berbeda. Itu dia kenapa disebut qath'iy (putus/potong); terputus sudah pintu ijtihad dan ta'wil, tidak ada lagi yang harus diusahakan.

Dalam litarsi ushul, ada kaidah yang masyhur yaitu "Laa Ijtihaada ma'a Wujudi al-Nash" [لا اجتهاد مع وجود النص], yang artinya "Tidak ada Ijtihad dalam Nash!". Itu disimpulkan karena memang nash [النص] dalam litarasi ushul adalah bagian dari dalil-dalil yang sifatnya qath'iy, karena itu tidak ada ijtihad pada sesuatu yang sudah ada nash-nya. itu salah satu contoh jenis dalil yang sifatnya qath'iy.

Dalam kitab-kitab ushul juga, ulama membagi qath'iy ini ke dalam 2 jenis; Qath'iy al-Tsubut [قطعي الثبوت], dan Qath'iy al-Dilalah [قطعي الدلالة].

a.   Qath'iy al-Tsubut [قطعي الثبوت]
Tsubut [الثبوت] bisa diartikan sebagai sumber, jadi maksud dari qath'iy al-Tsubut [قطعي الثبوت] adalah dalil yang sifatnya qath'iy dari sisi sumbernya. Lebih mudahnya itu adalah dalil yang sumbernya pasti. Yang masuk dalam jenis ini adalah semua ayat dalam al-Qur'an, dan Hadits-hadits yang sifatnya Mutawatir.

Atau bisa dikatakan juga –sebagaimana disebutkan para ulama ushul- bahwa qath'iy al-Tsubut itu adalah teks syariah yang kita sangat meyakini bahwa itu bersumber dari Allah s.w.t., melihat itu diriwayatkan dengan sanad yang kuat; sanad kuat dalam artian di mana di setiap tingkatan sanad diriwayatkan oleh jumlah yang banyak, sehingga sulit untuk terjadi dusta atau pengurangan serta penambahan matan (redaksi) teks syariah tersebut.

b.   Qath'iy al-Dilalah [قطعي الدلالة]
Al-Dilalah [الدلالة] secara bahasa diartikan sebagai petunjuk, maksudnya qath'iy al-Dilalah [قطعي الدلالة] menurut ulama ushul fiqh adalah dalil syariah yang indikasinya atau petunjuk hukumnya mengarah kepada sesuatu yang pasti dan tidak bersayap, artinya tidak multi tafsir, karena kuatnya indikasi itu dan jelas maknanya.

Itu yang dimaksud dengan al-Nash [النص], yaitu dalil yang mempunyai makna jelas dan tidak bersayap, sehingga hukumnya pun mengarah kepada sesuatu yang meyakinkan karena tidak multi tafsir. Karena itu ada kaidah yang masyhur yaitu "Laa Ijtihaada ma'a Wujudi al-Nash" [لا اجتهاد مع وجود النص], yang artinya "Tidak ada Ijtihad dalam Nash!".

[2] Dzanniy (Duga-Duga)

Dzanniy [ظني] secara bahasa berarti duga-duga, bisa juga dikatakan itu sesuatu yang masih ada keraguan di dalamnya. Dalam literasi Ushul, dzanniy itu kebalikan atau lawan dari qath'iy. Dan Dzanniy inilah yang menjadi ranah fiqih, yang memang semua masalah fiqih itu bersifat dzanniy.

sama seperti qath'iy, Dzanniy juga terbagi menjadi 2, yakni dari segi sumber (al-Tsubut) dan juga dari segi petunjuk hukum yang terkandung di dalamnya (al-Dilalah).

a.   Dzanniy al-Tsubut [ظني الثبوت]
Kalau qath'iy al-Tsubut itu adalah al-Qur'an dan hadits-hadits Mutawatir, maka Dzanniy al-Tsubut itu adalah selain keduanya. Jadi seluruh teks syariah selain ayat al-Quran dan hadits Mutawatir, itu sifatnya dzanniy al-Tsuubut, mengingat bahwa keaslian sumbernya masih terdapat di dalamnya keraguan, mugnkin karena yang meriwayatkannya sedikit, sehingga memungkinkan adanya putusnya sanad dan sejenisnya.

b.   Dzanniy al-Dilalah [ظني الدلالة]
Ini kebalikan dari qath'iy al-Dilalah. Sebagaimana dikatakan para ulama ushul, Dzanniy al-Dilalah adalah ayat atau juga hadits yang kandungan hukumnya tidak pasti, atau mempunyai arti lebih dari satu, bersayap dan multi tafsir. Artinya di dalamnya punya banyak ihtimal (kemungkinan) dalam makna dan indikasi hukumnya. Sehingga dimungkinkan sekali dalam memahaminya digunakan Ta'wil (tafsir ke makna lain), atau juga Takhshish (pengkhususan).

Menakar Perkara Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda

Dari penjelasan yang singkat ini, ketika kita mendapati sebuah masalah syariah, penting sekali untuk mengklasifikasikan masalah-masalah yang muncul itu apakah ia masuk dalam kategori Qath'iy atau Dzanniy; sehingga kita bisa tahu, apakah boleh berbeda di dalamnya? Atau memang itu perkara yang sangat besar peluang untuk berbeda sehingga 'haram' hukumnya untuk kita marah-marah kalau melihat yang beda.

Maka, dalam prakteknya, ulama tidak memperkanankan seseorang –siapapun dia- untuk mengingkari, mengelak, serta menutup mata bahkan menyalahkan orang lain yang berbeda, padahal masalahnya adalah masalah yang bersifat Dzanniy. Karena memang peluang berbeda dalam masalah yang sifatnya Dzanniy itu sangat terbuka lebar, mengingat di dalamnya dibolehkan ijtihad yang sangat mungkin sekali hasil ijtihad masing-masing ulama bisa berbeda.

Dan sebaliknya, kita tidak diperkenan dalam masalah yang sifatnya Qath'iy untuk mengatakan: "madzhabnya Fulan shalat subuh 2 rakaat …", atau: "menurut madzhab Fulan, seorang muslim membayar zakat fitrah!". Tidak bisa dikatakan demikian! Karena itu adalah masalah-masalah yang qath'iy sudah tidak ada lagi istilah madzhab fulan dan fulan, tapi itu sudah masuk ke dalam masalah syariah yang disepakati.

Dari itu semua, menjadi terlihat sekali ketergantungan kita kepada ulama yang memang ahli dan mumpuni dalam bidang syariah ini. karena kita tidak mungkin bisa tahu mana ranah qath'iyyat yang tidak boleh ada perbedaan di dalamnya, dan mana ranah Dzanniyat yang masing-masing kita harus berlapang dada dengan adanya perbedaan dari saudra muslim lainnya.

Kembali ke Ulama Mu'tabar

Karena itu "Kembali ke al-Qur'an dan Sunnah", tidak bisa dipahami dan diaplikasikan secara mentah begitu saja. Mesti diluruskan bahwa kita tidak bisa kembali keapada al-Qur'an dan SUnnah dengan kemampuan yang begitu-begitu saja, yang hanya tahu terjemah dan tidak punya alat utnuk menggali hukum dari ayat dan hasdist, baik dari yang manthuq-nya serta mafhum-nya.

Kalau terus dipaksakan dengan kemampuan yang sangat minim tesebut, akhirnya malah menghasilkan pemahaman yang aneh. Yang justru itu malah menghinakan syariah dan bukan memulaikannya, karena berani menghukumi sesuatu yang sama sekali ia tidak kuasai.

Kita melihat banyak di antara saudara muslim yang ketika menemukan sebuah hadits, lalu dengan pongah dan berani ia menyalahkan orang lain yang mengerjakan amalan –yang menurutnya- menyalahi isi kandungan hadits yang ia tahu. Ia tidak mengerti mana qath'iy dan mana Dzanniy, lebih parah lagi ia tidak mengerti dilalah hadits yang ia tahu artinya –saja- itu. Sayangnya ia hanya tahu satu hadits, tapi berani menyalahkan orang satu kampung. Sedangkan banyak lagi hadits dalam masalah tersebut yang ia tidak ketahui.

Begitu juga dalam ayat al-Qur'an. 100 % semua ayat dalam al-Qur'an itu Qath'iy! Tapi hanya dari segi sumbernya, akan tetapi Dilalah-nya tidak sedikit dari ayat-ayat itu yang Dzanniy. Contoh yang paling simple adalah kata "Quru'" [قروء] dalam surat al-Baqarah ayat 228.

Semua sepakat bahwa syariah ini mewajibkan adanya Iddah bagi wanita yang ditalaq suaminya. Akan tetapi ulama berbeda pendapat tentang hitungannya, mengingat bahwa kata "Quru'" [قروء] itu punya makna bersayap; bisa berarti masa suci, bisa juga masa haidh. Jadi Dilalah-nya Dzanniy, karena itu tidak bisa seorang mujtahid memaksakan ijtihadnya atas makna quru' itu kepada mujtahid lain yang punya ijtihad berbeda. Begitu juga pengikutnya.

Jadi memang benar, bahwa yang terpenting itu bukan "Kembali ke al-Quran dan Sunnah", akan tetapi yang jauh lebih penting dan harus diperhatikan adalah "Bagaimana Kembali ke al-Qur'an dan SUnnah". Apakah jalan yang ditempuh untuk kembali ke al-Qur'an dan sunnah sudah benar sebagaimana pemahaman salaf, atau memang benar-benar kembali ke al-Qur'an dan Sunnah dengan bebas?

Wallahu a'lam
 

Kenapa Niat Shalat Harus Berbarengan Dengan Takbir?

Dalam madzhab Imam al-Syafi'i, niat memang harus di awal dan nyambung dengan rukun selanjutnya. Itu dalam semua ibadah kecuali puasa. Shalat misalnya, datangnya seseorang ke masjid dari rumah tidak bisa dikategorikan sebagai niat dalam madzhab ini, karena niat adalah rukun bukan syarat.

Karena ia rukun, maka posisinya tidak boleh ada jeda antaranya dengan rukun selanjutnya. Dalam shalat, rukun setelah niat adalah takbiratul ihram, maka tidak boleh ada jeda antara niat dan takbiratul ihram. Begitu juga dalam wudhu, rukun pertamanya adalah niat, maka niat tidak boleh berpisah dengan rukun selanjutnya, yaitu membasuh muka. 

Itu yang disebut dengan al-Muwalah, yang berarti bersambungan, yang merupakan syarat sahnua rukun. Maka kalau ada rukun dilaksanakan terpisah dengan rukun lainnya dalam satu ibadah, batal ibadah tersebut. Dan ini -Muwalat dalam rukun- twlah disepakati oleh ulama sejagad raya.

Hanya saja pandangan bahwa niat adalah rukun itu hanya milik madzhab Imam al-Syafi'i, madzhab lain memandang niat itu bukan rukun, melaikan syarat dalam ibadah. Karena itu syarat maka tidak diharuskan adanya muwalat. Karena syarat bukan bagian dari ibadah tersebut, sedangkan rukun itu bagian dari ibadah tersebut.

Karena itu pula, Imam Ibn Taimiyah dari kalangan al-Hanabilah mengatakan bahwa berangkatnya orang ke masjid untuk shalat itu juga terhitung niat. Karenanya, tidak perlu lagi niat ketika memulai takbiratul ihram. Begitu juga dalam wudhu, tidak diharuskan berniat di sebelum membasuh muka, akan tetapi datangnya ia ke temlat wudhu, itu adalah niat.

Jadi itu kenapa madzhab al-Syafi'i mewajibkan niat dibarengi di awal ibadah, karena memang itu rukun ibadah bukan syarat ibadah yang boleh terpisah dari ibadah tersebut. Ini berangkat dari hadits Nabi: "Innama al-A'mal bi an-Niyyat" ( setiap amal itu dengan niat ), niat diharuskan ada dalam setiap amal, berarti itu bagian dari ibadah.

Wallahu a'lam
 

Nabi Tidak Mengerjakan Berarti Itu Haram?

Masif sekali beredar di kalangan masyarakat baik terpelajar atau pun juga tidak (dalam hal ini masalah syariah) terkait kaidah yang menyebutkan bahwa segala sesuatu yang Nabi s.a.w tidak kerjakan itu adalah perkara yang haram. Ini yang masyhur. Maka perlu ada pembahasan terkait ini, apakah memang demikian. Apakah memang benar apa yang ditinggalkan Nabi s.a.w atau Nabi s.a.w tidak mengerjakan itu berarti haram dan terlarang untuk dilakukan? Untuk itu penting untuk dijelaskan terlebih dahulu adalah hakikat 'meninggalkan' itu.

Dalam bahasa Arab, meninggalkan disebut dengan al-Tarku [الترك], yang secara bahasa memang mempunyai arti meninggalkan. Sedangkan al-Tarku [الترك] dalam pembahasan kita berarti "Meninggalkannya Nabi s.a.w suatu pekerjaan tanpa ada keterangan bahwa beliau melarangnya, baik secara lisan atau juga dengan isyarat serta pernyataannya."

Disebutkan "tanpa ada keterangan … " itu dimaksudkan bahwa kalau memang ada keterangan Nabi s.a.w melarangnya baik secara lisan atau pernyataan, maka itu tidak termasuk dalam kategori "meninggalkan", akan tetapi itu adalah "Larangan!", karena ada keterangan Nabi melarangnya.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah semua yang tidak dilakukan Nabi s.a.w itu berbuah haram dan terlarang untuk dikerjakan? Lebih sempit lagi apakah al-Tarku  itu konsekuensinya adalah keharaman? Nyatanya tidak ada ulama uhsul fiqh yang menyatakan bahwa keharaman itu dihasilakn dari sebuah perkara yang ditinggalkan Nabi s.a.w, atau juga dari perkara yang Nabi s.a.w tidak pernah lakukan!

Ketika membahas apa konsekuensi hukum dari al=Tarku (meninggalkannya Nabi sebuah perkara) dalam kitabnya Husnu al-tafahhumi wa al-Darki fi Masalati al-Tarki [حسن التفهم والدرك في مسألة الترك] hal. 11, Sheikh Abdullah al-Shiddiq al-Ghumariy mengutip pernyataan Imam Ibn Hazm bahwa memang meninggalkannya Nabi s.a.w bukan berarti itu dalil keharaman;

وَأَمَّا حَدِيثُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَلَا حُجَّةَ فِيهِ أَصْلًا؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ إلَّا إخْبَارُهُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِمَا عَلِمَ؛ مِنْ أَنَّهُ لَمْ يَرَ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّاهُمَا، وَهُوَ الصَّادِقُ فِي قَوْلِهِ، وَلَيْسَ فِي هَذَا نَهْيٌ عَنْهُمَا، وَلَا كَرَاهَةٌ لَهُمَا؛ [وَمَا] صَامَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - قَطُّ شَهْرًا كَامِلًا غَيْرَ رَمَضَانَ؛ وَلَيْسَ هَذَا بِمُوجِبٍ كَرَاهِيَةَ صَوْمِ [شَهْرٍ كَامِلٍ تَطَوُّعًا]
"sedangkan hadits Ali, itu tidak menjadi dalil apa-apa, kecuali hanya pemberitahuan bahwa ia tidak pernah melihat Nabi melakukan shalat 2 rakaat (ba'da ashar), ia benar dengan perkataannya. Akan tetapi tidak ada dalil larangan sahalat 2 rakaat ba'da ashar, tidak juga dimakruhkan. Dan tidak puasanya Nabi sebulan penuh melainkan Ramadhan bukan dalil makruhnya puasa (sunnah) sebulan penuh di bulan lain" (Ibn Hazm / al-Muhalla; 2/36)

Dalam kutipan ini, kita menyaksikan bahwa Imam Ibnu Hazm sama sekali tidak menjalani kaidah "Yang tidak Nabi Kerjakan, berarti haram!", itu tidak diamalkan oleh beliau. Karena memang al-Tarku itu tidak membuahkan hasil hukum apa-apa. dan sebuah keharaman tidak bisa dihasilkan oleh sesuatu yang ditinggalkan.

 Kenapa Imam Ibnu Hazm?

Penulis mengutip pernyataan Imam Ibn Hazm al-Andalusi ini bukan tanpa alasan, tapi justru guna memperkuat bahwa meninggalkannya Nabi s.a.w sebuah perkara bukan berarti keharaman. Melihat bahwa Imam Ibn Hazm adalah ulama dari kalangan madzhab fiqh al-Dzahiriyah yang terkenal sangat ketat dalam menjalan sunnah-sunnah Nabi s.a.w dan sangat ketat sekali memperhatikan tekstual sebuah ayat dan hadits.

Bahkan madzhab al-Dzohiriyah mengharamkan adanya qiyas dalam ushul mereka. jadi menurut mereka, qiyas tidak bisa dijadikan sebagai dalil hukum, karena qiyas tidak pernah ada dalam al-Quran dan juga hadits Nabi s.a.w. intinya memang sangat tekstualis sekali, sampai-sampai mengharamkan qiyas dan hanya mengamalkan apa yang tertera secara eksplisit saja dalam al-Quran dan hadits.

Imam Ibn Hazm saja yang memang dikenal sangat ketat dan hanya melaksanakan apa yang ada dalam al-Quran dan hadits itu meyakini dengan sangat bahwa yang namanya al-tarku itu tidak membuahkan hukum apa-apa. dan zaman sekarang ini, yang mengatakan bahwa meninggalkannya Nabi s.a.w sebuah perkara berarti itu haram adalah kelompok yang selalu mengaku kepatuhan mereka akan mengikuti al-Quran dan sunnah dengan sangat ketat.

Berikut ini akan dijelaskan beberapa hal yang menguatkan pandangan ulama bahwa yang namanya al-Tarku atau meninggalkannya Nabi s.a.w sebuah perkara tidak berbuah keharaman;  

1] Haram adalah Hukum Taklif

Hukum taklif dalam syariah ada 5; Wajib, sunnah, haram, makruh, mubah. Itu menurut Jumhur ulama, akan tetapi dalam madzhab Imam Abu Hanufah, hukum taklif ada 7; Fardhu, Wajib, Sunnah, Makruh Karahah Tanzih, Makruh Karahah, Haram dan Mubah.

Sama seperti hukum taklif lainnya, Haram pun tidak muncul begitu saja, sesuatu bisa dihukumi haram tentu dengan beberapa bukti dan dalil dari teks-teks syariah yang jelas nyata mengindikasikan larangan. Dan dalam litarasi Ushul fqih, ada beberapa ciri teks syariah yang berbuah hukum haram dalam syariah, yang dalam bahasa ulama Ushul disbeut dengan Shiyagh al-Tahrim [صيغ التحريم]. Di antaranya;

a)  Al-Nahyu [النهي] = Larangan

Salah satu ciri yang membuat sesuatu itu dihukumi haram adalah adanya teks syariah yang melarang atau yang dalam bahasa syariah disebut dengan al-Nahyu [النهي]. Bahkan dalam madzhab Imam Abu Hanifah, sesuatu yang haram itu tidak mungkin muncul kecuali dari teks syariah (nash) yang mengindikasikan larangan dengan syarat ia harus qath'iy (pasti dan tidak multi tafsir) baik tsubut (sumber)-nya atau juga dilalah (indikasi)-nya. Contohnya;

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk." (al-Isra; 32)

عن حذيفة أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "نَهَانَا عَنْ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَالشُّرْبِ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَقَالَ هُنَّ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَهِيَ لَكُمْ فِي الْآخِرَةِ"
Dari Huzaifah, Nabi s.a.w melarang kami (memakai) sutera dan (melarang kami) meminum dari bejana yang terbuat dari emas serta perak. Lalu beliau s.a.w mengatakan; "itu untuk mereka (wanita) di dunia dan untuk kalian (laki-laki) di akhirat". (HR. al-Bukhari)

Dua tek syariah ini mengindikasikan keharaman yang nyata karena kandungan masing-masing nash itu larangan. Jadi hukum berzina haram karena ayat tersebut, dan memakai emas serta sutra haram bagi wanita karena adanya hadits tersebut.

b)  Al-Tahrim [التحريم] = Teks dengan Kalimat Haram

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah." (al-Baqarah; 173)

وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لَمَّا نَزَلَتْ آيَاتُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ عَنْ آخِرِهَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ حُرِّمَتْ التِّجَارَةُ فِي الْخَمْرِ
Dari A'isyah r.a, ketika turun beberapa ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah, Rasul s.a.w keluar dan mengatakan; "telah diharamkan jual beli khamr". (HR al-Bukhari)

Kedua teks syariah di atas menunjukan bahwa bangkai itu haram di makan, dan yang kedua haram menjual serta membeli khamr. Keduanya diharamkan karena ada teks (nash) syariah yang melarangnya tersebut.

c)   Ancaman Melaksanakannya [التوعد على الفعل بالعقاب]

Kemudian, yang juga membuat sesuatu itu haram dilakukan dalam syariah ini adalah sesuatu yang teks-teks syariah mengancam kita untuk melakukannya atau jika dilakukan ada dosa yang akan didapatkan. Misalnya;

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا
"pencuri (laki-laki) dan pencuri (wanita), potonglah tangan-tangan mereka …" (al-Maidah; 38)

Dalam ayat ini, Allah s.w.t mengancam bahwa pencuri itu ganjarannya adalah potong tangan. Karena ada ancaman seperti itu, ini menjadikan pencurian itu sebagai sesuatu yang diharamkan.

Sejatinya shiyagh atau redaksi teks syariah yang menunjukkan sebuah kaharaman bukan hnaya 3 ini saja, banyak juga yang lainnya, akan tetapi 3 contoh di atas sebagai contoh yang paling sering muncul. Intinya bahwa kita tidak akan menemukan dalam literasi ushul para ulama Salaf yang mengatakan sesuatu itu haram karena Nabi s.a.w tidak mengerjakannya. Atau haram karena Nabi s.a.w meninggalkan itu.

Dan al-Tarku bukan al-Nahyu (larangan), bukan juga al-Tahrim (perngharaman), bukan juga Dzamm wa al-Tawa'ud ala al-Fi'li (ancaman melaksanakan). Al-Tarku adalah al-tarku yang tidak menghasilakn hukum apa-apa.

2] Yang Diharamkan adalah Yang Dilarang

Mari kita teliti ayat dan hadits berikut ini;
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"apa yang dikerjakan, ambillah. Dan apa yang dilarang, maka tinggalkanlah" (al-Hasyr; 7)

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"apa yang aku larang, maka tinggalkanlah. Dan apa yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian" (HR. Muslim)

Ayatnya jelas memerintahkan kita orang muslim untuk selalu mengikuti apa yang telah Nabi s.a.w kerjakan, dan meninggalkan apa yang beliau larang. Begitu juga hadits setelahnya, perintah yang jelas sekali untuk umat Islam untuk mengikuti dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi s.a.w. dan meninggalkan dengan sepenuhnya apa yang beliau larang.

Namun perlu diperhatikan, bahwa yang diperintah untuk kita meninggalkannya adalah apa-apa yang dilarang, bukan apa yang ditinggalkan. Jelas melarang berbeda dengan meninggalkan. Dan karena inilah, para ulama ushul tidak ada yang mengatakan sesuatu itu haram dan wajib ditinggalkan hanya karena Nabi s.a.w. meniggalkannya. Yang jelas haram dan wajib ditinggalkan serta dijauhi adalah yang Nabi s.a.w. larang bukan yang beliau tinggalkan (al-Tarku).

3] Meninggalkan itu Banyak Motifnya

Ini yang terpenting dalam perumusan hukum, para ulama ushul tidak menjadikan sebuah hukum dari sesuatu yang mempunyai multi tafsir atau punya banyak kemungkinan yang biasa disebut dengan Ihtimal [احتمال]. Berhukum haruslah disandarkan kepada sesuatu/dalil yang pasti dan punya makna jelas tidak bersayap.

Dan dalam hal meninggalkan (al-Tarku) Nabi s.a.w. sebuah perkara, itu banyak motifnya (akan disebutkan selanjutnya), bisa karena lupa, atau juga karena khawatir menjadi wajib bagi ummatnya, atau juga karena memang –pada zamannya- tidak ada yang membuatnya untuk melakukan itu.

Karena banyak motifnya, banyak kemungkinannya, banyak tafsirnya, al-tarku ini tidak bisa dijadikan dalil. Dan ulama ushul telah menyepakati ini, sehingga mereka memunculkan sebuah kaidah dalam ilmu ushul Fiqh;

إذا تطرق إليه الاحتمال سقط به الاستدلال
"kalau punya banyak kemungkinan (multi tafsir), maka tidak bisa dijadikan dalil."

Dr. Muhammad SUlaiman al-Asyqar, dalam kitabnya yang juga disertasi beliau berjudul Af'al al-Rasul wa Dalalatuha ala al-Ahkam alSyar'iyyah [أفعال الرسول صلى الله عليه وسلم ودلالتها في الأحكام الشرعية], yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa diartikan "Pekerjaan Nabi s.a.w. dan Indikasinya atas Hukum Syariah". Dalam disertasinya ini, beliau menjelaskan secara rinci perihal al-Tarku (meninggalkan) Nabi s.a.w. dalam satu bab khusus di jilid 2 dari halaman 45 sampai halaman 70.

Di dalamnya juga beliau menjelaskan beberapa motif Nabi s.a.w. di antaranya;

a) Meninggalkan Perkara Sunnah Khawatir Menjadi Wajib

Ini yang masyhur sekali di telinga kita, bahwa Nabi s.a.w. meningalkan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat, dan hanya melakukan jamaah tarawih bersama mereka di 3 atau 3 malam pertama saja. Ketika ditanya mengapa Nabi s.a.w. meninggalkannya, beliau menjawab; "Aku khawatir itu menjadi wajib bagi kalian, dan kalian tidak sanggup". (Muttafaq 'alayh)  

b) Meninggalkan Perkara Sunnah Khawatir Dianggap Wajib

Ini hampir sama dengan yang di atas, akan tetapi Dr. al-Asyqar mengatakannya berbeda. Beliau mencontohkan perkara bahwa Nabi s.a.w. selalu melakukan wudhu untuk setiap shalat sebagai sebuah kesunahan. Kemudian pada peristiwa fathu Makkah, beliau hanya melakukan satu kali wudhu untuk shalat seharian penuh itu. Lalu sayyidina Umar menanyakan hal itu kepada Nabi, kemudian Nabi menjawab bahwa beliau melakukannya sengaja.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fath al-Bari (jil. 1 hal. 316) mengutip serta menguatkan pendapat Imam Thahawi yang menafsirkan hadits tersebut, bahwa melakukan wudhu di setiap kali shalat adalah perkara yang sunnah, dan Nabi s.a.w. meninggalkan kebiasaan itu pada hari fathu Makkah agar umat tidak menganggap bahwa berwudhu di setiap kali shalat sebuah kewajiban, serta memberitahukan kepada umat bahwa ini sesuatu yang boleh.

c) Meninggalkan al-Raml dalam Thawaf Khawatir Menyulitkan

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab al-Hajj di masing-masing Kitab Shahih mereka, meriwayatkan hadits dari sahabat Ibnu Abbas r.a bahwa Nabi s.a.w. meninggalkan al-Raml (lari-lari kecil) untuk thawaf di putaran ke-4 sampai seterusnya karena khawatir memberatkan umat.

وَلَمْ يَمْنَعْهُ أَنْ يَأْمُرَهُمْ أَنْ يَرْمُلُوا الْأَشْوَاطَ كُلَّهَا إِلَّا الْإِبْقَاءُ عَلَيْهِمْ
Ibnu Abbas r.a.: "tidak ada yang mencegah Nabi untuk memerintahkan mereka agar raml di semua putaran Thawaf kecuali karena kasih sayangnya kepada umat". (Muttafaq 'alayh)

d) Meninggalkan Sesuatu Khawatir ada Mafsadah Yang Muncul

Nabi s.a.w. pernah meninggalkan sesuatu karena khawatir kalau itu dikerjakan, akan menimbulkan mafsadah/keburukan, atau juga stigma negative dari sekitar. Salah satu contohnya, Nabi s.a.w. membiarkan dan tidak membunuh kaum Munafiq yan sudah jelas kerusakan dan keburukannya kepada ummat. Karena khawatir kalau beliau s.a.w. membunuh, orang-orang Kafir akan membuat opini negative bahwa Nabi s.a.w membunuh sahabatnya sendiri. Dengan kesan negative itu, akhirnya membuat yang lain enggan untuk memeluk Islam.

e) Meninggalkan Shalat Jenazah Yang Berhutang

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh shaikhan (Imam al-Bukhari dan Imam Muslim), Nabi s.a.w. menolak untuk menshalati jenazah yang masih punya hutang dan belu dilunasi. Nabi s.a.w. menolak untuk itu sebagai hukuman bagi mereka yang masih punya tanggungan namun belum juga diselesaikan agar umat yang lain tidak mengulangi hal yang sama.

Akan tetapi, walaupun beliau menolak shalat untuk orang yang punya hutang, beliau s.a.w. tidak melarang umatnya untuk menshalati jenazah yang punya hutang itu. Dan para ulama pun sama sekali tidak ada yang mengharamkan shalat untuk jenazah yang punya putang dengan alasan Nabi s.a.w menolak untuk menshalatinya.

f) Meninggalkan Karena Tidak Biasa

Dalam kitab shahih al-Bukhari dan juga Shahih Imam Muslim, Sahabat Abu Hurairah r.a. pernah meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. pernah ditawari daging panggang, ketika ingin mengambilnya, salah seorang sahabat mengatakan bahwa itu daging dhabb (sejenis kadal), mendengar itu, Nabi s.a.w. tidak jadi mengambilnya.

Ketika ditanya apakah itu haram? Nabi s.a.w. tidak mengatakan demikian, ia hanya tidak biasa saja dengan makanan yang emmang tidak ada di kampungnya itu, namun tidak melarang para sahabat yang lain untuk memakannya.

Itulah beberapa jenis al-tarku (meninggalkan) yang dilakukan oleh Nabi s.a.w., dan sejatinya masih banyak lagi, bahkan banyak sekali perkara-perkara yang memang tidak dilakukan Nabi s.a.w. dalam hidupnya baik berupa ibadah maupun 'Adah (non-ibadah). Artinya memang motif meninggalkan sebuah perkara itu bisa bermacam-macam, karena memang banyak tafsirnya dan motifnya, itu tidak bisa serta merta dijadikan dalil untuk sebuah keharaman.

Kalau Semua Yang Ditinggalkan Menjadi Haram …

Dr. Sulaiman al-Asyqar meneruskan bahwa kalau saja semua yang tidak Nabi s.a.w. kerjakan dihukumi sebagai hukum haram dan tidak boleh dilaksanakan, tentu ini akan menutup pintu ijtihad para ulama. Tidak ada juga kemudian Maslahah al-Mursalah, tidak ada juga qiyas yang banyak dijadikan dalil oleh ulama untuk menghukum perkara-perkara yang memang tidak dilakukan oleh Nabi s.a.w.

Dan menjadi haram juga mengamalkan keumuman [عموم] ayat atau untuk setiap perkaranya, karena alasan Nabi s.a.w. tidak melakukan itu. Padahal ulama sejagad ini sepakat bahwa ayat dan hadits yang sifatnya umum tetap wajib diamalkan kecuali pada perkara yang sudah di-takhshish (dikhususkan).   

Beliau menambahkan, itu juga berarti kita tidak diwajibkan zakat pertanian kecuali apa yang memang sudah Nabi s.a.w. keluarkan zakatnya saja, yaitu' Kurma, Gandum, Jelai, dan Kismis.

إِنَّمَا سَنَّ رَسُولُ اللهِالزَّكَاةَ فيِ الحِنْطَةِ وَالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيْبِ
"Sesungguhnya Rasulullah SAW menetapkan zakat pada gandum, jelai, kurma dan kismis." (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthny)

Karena memang hanya 4 jenis tanaman itu saja yang nyata bahwa Nabi s.a.w. keluarkan zakatnya. Selain jenis yang 4 itu tidak ada zakatnya. Apakah demikian? Nyatanya ulama 4 madzhab tidak mengatakan demikian. Mereka memasukkan segala jenis tanaman lain yang wajib dizakati tidak terbatas 4 jenis itu. Apakah berani kita mengatakan bahwa para ulama 4 madzhab itu melakukan sebuah keharaman? Melakukan sebuah bid'ah dalam agama karena menambah-nambah kewajiban zakat yang sejatinya Nabi s.a.w. tidak mewajibkan itu? Begitukah?

Jangan Asal Mengharamkan

Maka perlu ada pembahasan yang detil dan terperinci perihal al-tarku ini, apakah konsekuensinya dalam syariah. Yang ditetapkan oleh para ulama ushul,  bahwa meninggalkannya Nabi s.a.w. sebuah perkara itu bisa membuahkan hukum haram dengan dalil atau qarinah yang menguatkan keharamannya tersebut. Sedangkan hanya al-tarku saja, itu tidak bisa dijadikan dalil keharaman.

Dalam hal ini ulama sepakat bahwa al-tarku itu sama seperti sukut (diam)-nya Nabi s.a.w., dan diamnya Nabi tidak membuahkan hasil hukum apa-apa kecuali dikuatkan dengan dalil atau qarinah lain yang memang benar-benar mendukung.

Untuk itu baiknya tidak asal menuduh orang lain berbuat haram hanya karena kita tidak tahu bahwa Nabi s.a.w. tidak melakukannya. Periksa dulu betul-betul dan jangan gegabah melempar status negative kepada saudara muslim lainnya yang sama sekali tidak berguna apa-apa kecuali hanya menimbulkan permusuhan belaka.

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger