Niat Puasa Ramadhan Setiap Malam, Haruskah?

Salah stau yang sering ditanyakan ketika masuk bulan Ramadhan ialah, apakah niat puasa Ramadhan itu harus dilakukan setiap malam dan terus berulang sampai akhir Ramadhan? Apakah sah jika niatnya cukup sekali di awal Ramadhan saja?

Ya! Salah satu syarat sah-nya puasa Ramadhan seorang muslim ialah niat berpuasa untuk hari itu sejak terbenam matahari sampai datang waktu fajar (waktu subuh). Dan niat puasa Ramadhan itu juga punya beberapa kriteria sehingga niat itu bisa dikatakan sah.

[Tajdid al-Niyyah / Pembaharuan Niat]

Nah, dari salah satu syarat di antara syarat-syarat niat tersebut ialah Tajdid al-Niyyah [تجديد النية], yaitu memperbaharui niat di setiap malam Ramadhan. Ini adalah pendapat Jumhur ulama dari 4 madzhab fiqih, selain madzhab Imam Malik. Madzhab Imam Daar al-HIjrah ini melihat bahwa tidak perlu adanya pembaharuan niat di setiap malam Ramadhan.

Jumhur Madzhab Fiqih

Jumhur ulama dari kalangan al-Hanafiyah, al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah sepakat bahwa yang namanya niat Ramadhan itu harus di-update di setiap malam Ramadhan. Tidak cukup hanya niat di awal bulan saja, mesti setiap malam.

Mereka mengatakan bahwa puasa di hari-hari Ramadhan adalah ibadah yang independent di setia harinya, tidak punya keterkaitan antara hari-hari tersebut. Karena setiap harinya itu berbeda dengan hari selanjutnya atau sebelumnya, maka wajib di setiap hari ada niat yang dikhususkan utnuk hari itu.

Bukti bahwa masing-masging hari Ramadhan itu tidak punya keterkaitan, bahwa jika pada salah satu hari puasanya batal, maka itu tidak membatalkan puasanya di hari sebelumnya. Begitu juga selbaliknya, sah-nya puasa di hari ini tidak bisa membuat puasa esok hari juga menjadi sah. Jadi memang mereka berdiri sendiri-sendiri.

Tidak seperti shalat yang semua gerakannya adalah satu kesatuan, yang jika salah satunya batal, maka batal shalat tersebut. Terlebih lagi dalam satu bulan itu tidak semua diwajibkan berpuasa, tapi puasa hanya di bagian siangnya saja, malamnya tidak. berarti memang hari-hari wajib puasa Ramadhan itu terputus, bukanlah suatu kesatuan.  
(al-Mabsuth li-Sarakhsi 3/60, al-Majmu' 6/302, Kassyaf al-Qina' 2/315)

Madzhab al-Malikiyah

Madzhba Imam Malik berpendapat berbeda dengan apa yang dikatakan oleh 3 madzhab lainnya. Mereka menganggap bahwa cukup dengn satu niat di awal bulan, puasanya sepanjang bulan Ramadhan itu sah.

Imam Amhmad al-Dardiir mengatakan dalam kitabnya al-Syarh al-Kabir, bahwa puasa Ramadhan ibadah yang punya satu kesatuan, karena kewajiban puasa di dalamnya itu berurutan satu sama lain tidak terpisah, yang mana seseorang tidak bisa memisahkan kewajiban ibadah puasa hari yang satu ke hari yang lain di bulan lain.  
(al-Syarh al-Kabir 1/521)

*************

*** Apakah Redaksi Niat Puasa Yang Banyak Diamalkan oleh Orang-Orang itu ada contohnya?

Redaksi niat yang masyhur:

نويت صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى
"Nawaitu shauma ghadi 'an adaa'I fardhi Ramadhan hadzihi al-sanah lilla ta'ala"

Kalau pertanyaannya apakah redaksi niat itu ada contohnya atau tidak? jawabannya jelas tidak ada contohnya, tidak dari Nabi saw, tidak juga dari sahabat, tidak juga dari kalangan tabi'in dan pengikutnya.

Tapi yang harus diketahui adalah bahwa niat puasa itu punya syarat-syaratnya. dalam al-Mausu'ah al-Fiqhiyah Kuwait (28/21), syarat niat yang disepakati para ulama madzhab itu ada 4;

1.   Jazm [جزم] = Yakin
2.   Ta'yiin [تعيين] = Ditentukan
3.   Tabyiit [تبييت] = Pengukuhan
4.   Tajdid [تجديد] = Diperbaharui

1] Jazm [جزم]

Seorang muslim yang berniat haruslah yakin denga niatnya, tidak gamang. Seperti mengatakan: "kalau besok ngga jadi safar, saya puasa. Kalau jadi saya ngga puasa!". Harus yakinkan diri, puasa atau tidak?

Juga bukan di hari syak (hari setelah tanggal 29 Sya'ban), apakah besok sudah masuk Ramadhan atau tidak. misalnya mengatakan: "kalau besok benar tanggal satu saya puasa, kalau tidak ya ngga puasa!". Harus dipastikan sebelumnya apakah besok benar tanggal 1 atau tidak.

2] Ta'yiin [تعيين]  

Juga dalam niat harus sudah ditentukan puasanya itu puasa apa? apakah ini puasa wajib atau bukan? Lalu kalau wajib, ini wajib apa? apakah Ramadhan atau nadzar, atau qadha? Harus ditentukan dengan jelas.

Karena syarat kedua inilah kemudian muncul redaksi dari ulama untuk memudahkan para orang muslim; [صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ] "puasa esok hari, wajib bulan Ramadhan tahun ini". tidak cukup hanya dengan niat secara mutlak tanpa ditentukan jenisnya.

Kenapa harus ditentukan? Karena puasa adalah ibadah yang berkaitan dengan waktu (hari), maka harus ditentukan waktunya, agar tidak tercampur dengan puasa lain. Layaknya shalat 5 waktu yang harus ditentukan jenis shalatnya ketika niat agar tidak bias dengan shalat yang lain. Ini adalah pendapat al-Malikiyah, al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah.
(al-Majmu' 2/50, al-Mughni 3/109)

Namun bagi kalangan al-Hanafiyah, tidak perlu adanya penentuan puasa dalam niat, cukup dengan niat puasa mutlak saja tanpa ditentukan jenisnya. Karena yang namanya puasa Ramadhan itu tidak mungkin dilakukan di luar Ramadhan, maka ketika ada yang berniat puasa, pastilah itu untuk Ramadhan.

Terlebih lagi bahwa puasa itu ibadah yang mudhoyyaq (waktunya sempit), satu hari itu hanya cukup untuk satu puasa. Jadi mana mungkin ia berniat selain utnuk Ramadhan? (Radd al-Muhtarr 2/378)

3] Tabyiit [تبييت]

Harus dikukuhkan niat tersebut di malam sebelum hari yang ingin dilakukan puasa itu datang, yaitu setelah terbenam matahari sampai menjelang terbit fajar hari itu. Ini didasarkan kepada hadits Nabi saw:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ
"Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sampai terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya" (HR. al-DaaroQuthni)

***Lalu siapa yang menciptakan redkasi tersebut?

Ulama yang menciptakan redaksi tersebut ialah Imam al-Rafi'i al-Quzwaini (w. 623 H) dari kalangan al-Syafi'iyyah. Beliau menuliskan redaksi niat tersebut dalam kitabnya Fathul-'Aziz bi Syarhi al-Wajiz atau biasa yang disebut denagn istilah al-Syarhu al-Kabir li al-Rafi'iy (6/293) sebagai implementasi atas syarat-syarat niat tersebut guna memudahkan bagi para muslim ketika ingin berniat puasa Ramadhan.

Yang kemudian, niat tersebut kembali ditulis ulang oleh Imam al-Nawawi dalam kitabnya Raudhah al-Thalibin yang akhirnya menjadi familiar dan banyak diamalkan kebanyakan muslim.

***Apakah boleh berbeda?

Tentu saja boleh. Boleh kita berniat dengan bahasa Indonesia saja, atau bahasa masing-masign daerah. Yang penting adalah syarat-syarat niat yang 4 itu harus terpenuhi.

Wallahu a'lam
 

Tarawih 4 Rakaat 1 Salam, Bolehkah?

Pada dasarnya memang sholat sunnah di malam hari itu 2 rokaat dengan satu kali salam, bukan 4 rokaat dengan satu salam. Ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasul saw bersabda:

صلاة الليل مثنى مثنى، فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى
"sholat malam itu 2 (rokaat) 2 (rokaat), jika kalian takut akan datangnya subuh, maka sholatlah satu rokaat (witir) sebagai penutup" (Muttafaq 'Alayh)

Salah satu hikmah sholat Tarawih itu dilaksanakan 2 rokaat 2 rokaat, karena sholat tarawih itu sholat malam yang dilakukan secara berjamaah. Akan lebih mudah dan lebih ringan buat para Jemaah setiap 2 rokaat ditutup dengan salam. Karena akan terasa berat kalau harus menunggu 4 rokaat untuk salam.

Untuk masalah sholat tarawih 4 rokaat dengan satu salam sekaligus, ini masalah yang ulama belum sepakat, artinya masih berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang melarang. Tetapi Jumhur (mayoritas) Ulama membolehkan sholat dengan cara yang demikian.  

[Kelompok YANG MEMBOLEHKAN]

Para ulama yang membolehkan berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari 'Aisyah, Istri Nabi saw. Beliau berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي أربعاً فلا تسال عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي أربعاً فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثاً
"Nabi saw sholat 4 (rokaat) dan jangan kau tanyakan bagus dan panjangnya (sholat tersebut), kemudian beliau sholat 4 (rokaat), dan jangan kau tanyakan bagus dan panjangnya, kemudian beliau sholat 3 rokaat (witir)" (Muttafaq 'Alayh)

Hadits ini menunjukkan atas kebolehan sholat malam 4 rokaat dengan satu salam, termasuk tarawih karena tarawih bagian dari sholat malam. Dan hadits 'Aisyah ini jelas tanpa perlu ditafsirkan apa-apa lagi.

Sedangkan hadits Ibnu Umar yang mengatakan bahwa sholat malam itu 2 rokaat 2 rokaat, itu menunjukkan ke-AFDHOLan-nya, bukan untuk kewajiban. Artinya sholat sunnah malam hari itu AFDHOLnya 2 rokaat dengan satu salam tapi boleh dikerjakan dengan 4 rokaat satu salam.

Karena sholat witir Nabi pun bervariasi. Beliau saw –dalam banyak riwayat hadits- pernah sholat witir langsung 3 rokaat dengan satu salam, pernah juga 5 rokaat dan 7 rokaat sekaligus. Kalau sholat sunnah malam itu harus 2 rokaat, pastilah Rasul memisahkan sholat witirnya 2 rokaat kemudian 1 rokaat, tapi tidak demikian, padahal witir juga termasuk sholat malam. Imam Ibnu KHuzaimah dalam Shahihnya (no. 1076) meriwayatkan

عن عائشة :  أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يُوتِرُ بخمس رَكعَات لا يجْلِسُ ولا يُسَلِّم إلا في الأخيرة مِنْهن
Dari 'Aisyah: "Nabi saw pernah sholat malam sebanyak 13 rokaat didalamnya witir dengan 5 rokaat. Dia tidak duduk dalam witir tersebut kecuali dirokaat terakhir, kemudian salam." (diriwayatkan juga oleh Imam al-Syafi'i dalam Musnad-nya Tartib al-Sanadi, Bab 20: Shalat Witir, 1/194)

[Kelompok YANG MELARANG]

Ulama yang tidak membolehkan sholat tarawih dengan 4 rokaat satu salam berdalil dengan hadits Ibnu Umar yang telah diebutkan diatas tadi. Bahwa sholat malam itu 2 rokaat 2 rokaat. Dan juga beberapa hadits yang senada dengan hadits Ibnu Umar itu.

Adapun hadits 'Aisyah yang mengatakan bahwa Nabi saw sholat dengan 4 rokaat 4 rokaat kemudian ditutp dengan 3 rokaat witir, hadits ini menurut mereka ialah hadits yang masih umum. Dan dikhususkan dengan hadits Ibnu Umar tersebut.

Menurut mereka maksud 4 rokaat dalam hadits 'Aisyah tersebut ialah Nabi sholat 2 rokaat satu salam begitu seterusnya, dan ketika sampai pada 4 rokaat beliau beristirahat. Bukan salam ketika setiap 4 rokaat.

--------------------------
Namun pendapat ini juga masih harus didiskusikan lagi. Karena kalau memang demikian kenapa sholat witir Nabi -sebagaimana banyak riwayat- itu beberapa kali dikerjakan dengan 3 rokaat sekali salam, tidak 2 rokaat kemudian salam. Bahkan 5 rokaat satu salam. Padahal sholat witir itu juga sholat malam, sebagaimana dijelaskan diatas tadi.

Wallahu A'lam.
----------------------------
Berikut apa kata ulama 4 mazhab tentang sholat tarawih 4 rokaat dengan satu salam:

Mazhab Hanafi:

لو صلى التَّرَاوِيحَ كُلَّهَا بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ وَقَعَدَ في كل رَكْعَتَيْنِ إن الصَّحِيحَ أَنَّهُ يَجُوزُ عن الْكُلِّ لِأَنَّهُ قد أتى بِجَمِيعِ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ وَشَرَائِطِهَا لِأَنَّ تَجْدِيدَ التَّحْرِيمَةِ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ ليس بِشَرْطٍ عِنْدَنَا هذا إقعد على رَأْسِ الرَّكْعَتَيْنِ قَدْرَ التَّشَهُّدِ فَأَمَّا إذَا لم يَقْعُدْ فَسَدَتْ صَلَاتُهُ عِنْدَ مُحَمَّدٍ وَعِنْدَ أبي حَنِيفَةَ وَأَبِي يُوسُفَ يَجُوزُ
Jika seseorang itu sholat tarawih seluruhnya dengan hanya 1 salam saja, dan duduk tasyahud disetiap 2 rokaat, maka sholatnya itu sah, karena ia telah memenuhi rukun dan syarat-syarat sholatnya. Karena (menurut mazhab hanafi) memperbaharui takbir-Ihrom disetiap 2 rokaat itu bukan syarat sholat, itu dengan catatan bahwa ia duduk di setiap penghujung rokaat kedua untuk bertasyahud. Kalau ia tidak bertasyahud, maka shalatnya tidak sah menurut Muhammad bin al-Hasan, akan tetapi sah menurut Imam Abu Hanifah dan Ya'qub Abu Yusuf. (Bada'i Al-Shona'i 1/289)

Mazhab Maliki:

(وَ) يُسْتَحَبُّ أَنْ (يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ) وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُ السَّلَامِ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ الْأَفْضَلُ لَهُ السَّلَامُ بَعْدَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ
Sholat tarawih disunnahkan untuk dikerjakan 2 rokaat dengan satu salam. Dan makruh hukumnya untuk mengakhirkan salam samapi rokaat ke empat. Yang lebih afdhol itu salam distiap 2 rokaat. (al-Fawakih al-Diwani 1/319)

Mazhab Syafi'i:

فَلَوْ صلى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لم يَصِحَّ لِشَبَهِهَا بِالْفَرْضِ في طَلَبِ الْجَمَاعَةِ
Jika seseorang melaksanakan sholat tarawih dengan 4 rokaat satu salam, sholatnya tidak sah. Karena kalau tarawih dikerjakan dengan 4 rokaat itu menyerupai sholat Fardhu dalam hal kesamaannya untuk dilakukan secara berjamaah. (Raudhoh al-Thalibin 1/334, Nihayatul Muhtaj 2/123, Ansal-Matholib 1/201)

Mazhab Hambali:

Ulama Hambali banyak yang tidak membicarakan masalah ini dalam kitab-kitab mereka. Hanya saja ada sedikit dibicarakan oleh Al-Mardawi dalam kitabnya Al-Inshof:
اعْلَمْ أَنَّ الْأَفْضَلَ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ: أَنْ يَكُونَ مَثْنَى، وَإِنْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ صَحَّ، وَلَوْ جَاوَزَ ثَمَانِيًا لَيْلًا، أَوْ أَرْبَعًا نَهَارًا
Sesungguhnya yang Afdhol dalam melaksanakan sholat sunnah di siang dan malam hari itu 2 rokaat satu salam. Dan kalau lebih dari 2 rokaat itu sah. Dan bahkan sampai 8 rokaat di malam hari dan 4 rokaat di siang hari, dan inilah (pendapat) mazhab (hambali).  (Al-Inshof 2/132) 

wallahu A'lam
 

Kelelawar Halal Dimakan?

Kelelawar memang mempunyai banyak sebutan. Orang-orang di kawasan timur Indonesia menyebutnya paniki, niki atau lawa. Orang Sunda menyebutnya lalay, kalong atau kampret. Orang Jawa Tengah menyebutnya lowo, codot, lawa, atau kampret. Sedangkan suku Dayak malah menyebutnya sebagai hawa, prok, cecadu, kusing atau tayo.

Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan: Kelelawar = binatang menyusui pemakan serangga (keluang kecil) yang terbang untuk mencari makan pada malam hari.

Dalam sebuah situs pengobatan dikatakan keleawar bukan hanya bisa dijadikan sebagai lauk pauk makan sehari-hari, tapi juga bisa digunakan sebagai obat. Salah satu penawar yang dihasilkan oleh keleawar ialah: kitotefin.

Secara teknis, daging penghasil senyawa kitotefin ini berfungsi untuk menstabilkan membran sel mastosit. Asma, yang terjadi lantaran alergi bisa dicegah dengan adanya daging bersenyawa kitotefin itu di dalam tubuh. Sebab daging tersebut merangsang terbentuknya antibodi pada tubuh. Dan apabila antibodi tersebut melekat pada sel mastorit, bisa menyebabkan pecahnya membran. Pecahnya membran bisa membentuk otot-otot polos saluran napas berkontraksi. Hasilnya, saluran napas menyempit hingga terjadi asma.

Lalu apakah daging kelelawar memang halal dikonsumsi menurut syariah? Kita rujuk litarsi fiqih 4 madzhab.

[1] Madzhab al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah

2 madzhab yang imamnya adalah guru (Imam al-Syaf'i) dan muridnya (Imam Ahmad bin Hanbal) ini secara tegas mengharamkan daging kelelawar, yang dalam bahasa Arab disebut dengan Khuffast [خفاش], atau wathwaath [وطواط].

Dalil yang mereka gunakan adalah ayat al-Qur'an dalam surat al-A'raf ayat 157 yang mana Allah swt telah menghalalkan segala yang baik (thayyibat) dan mengharamkan yang buruk dan menjijikan (khabaits). Menurut pandangan keduan madzhab ini, kelelawar adalah hewan yang menjijikan dan kotor.

Kemudian pengharaman keleawar diperkuat lagi dengan beberapa hadits yang menyebutkan bahwa haram memakan hewan yang mempunyai taring serta cakar. jadi keharaman kelelawar itu terjadi karena kelelawar memenuhi 3 kriteria hewan yang diharamkan; ia menjijikan, bertaring, dan punya cakar. (al-Majmu' 9/22, al-Mughni 11/66)

Imam al-Nawawi dalam al-Majmu' (9/19) menambahkan bahwa keharaman kelelawar, selain ia bertaring, menjijikan dan punya cakar, ia juga termasuk dalam golongan hewan yang dilarang untuk dibunuh. Karena terlarang untuk dibunuh, makan diharamkan mengkonsumsinya. Dalam hadits Mauquuf riwayat 'Amr bin Ash disebutkan:

لا تقتلوا الضفادع فإن نقيقها تسبيح ولا تقتلوا الخفاش فإنه لما خرب بيت المقدس قال يا رب سلطني على البحر حتى أغرقهم

"Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Janganlah membunuh kelelawar, karena ketika baitul Maqdis dirobohkan, dia berdoa, 'Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan untuk mengatur lautan, sehingga aku bisa menenggelamkan mereka (orang yang merobohkan baitul maqdis)'."

[2] Madzhab al-Malikiyah dan al-Hanafiyah

Madzhab al-Hanafiyah dan al-Malikiyah mengkategorikan kelelawar sebagai hewan yang makruh untuk dimakan dagingnya, bukan haram. Hanya saja dalam madzhab al-Hanafiyah dan pendapat yang menghalalkan.

Imam Ibnu Abdin, dalam kitabnya Radd al-Muhtarr (6/306) mengatakan:

وَيُكْرَهُ الصُّرَدُ وَالْهُدْهُدُ ، وَفِي الْخُفَّاشِ اخْتِلَافٌ
"dan dimakruhkan memakan al-Shurad dan burung Hud-hud, sedangkan keleawar itu diperdebatkan"

Imam Ahmad al-dardir dari kalangan al-Malikiyah dalam kitabnya al-Syarhu al-Kabir (2/186) mengatakan:

وَالْمَكْرُوهُ : الْوَطْوَاطُ بِفَتْحِ الْوَاوِ وَهُوَ الْخُفَّاشُ جَنَاحُهُ مِنْ لَحْمٍ
"dan yang dimakruhkan ialah (salah satunya) kelelawar [wathwaath], dengan fathah di atas waw, ia adalah khuffasy, dan sayapnya termasuk dagingnya."  

Kemudian beliau menjawab pandangan yang mengatakan bahwa itu haram, sebagai berikut:

وَقِيلَ بِالْحُرْمَةِ فِي الْجَمِيعِ، وَرُدَّ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا} [الأنعام: 145] إلَخْ، وَلَمْ يَرِدْ فِي السُّنَّةِ مَا يَقْتَضِي التَّحْرِيمَ.
"dikatakan bahwa kesemua itu (yang dimakruhkan dalam madzjab al-malikiyah) haram. Kemudian dijawab dengan ayat: "katakanlan wahai Muhammad bahwa aku tidak menemukan apa yang diharamkan dari apa yang diwahyukan … (al-an'am 145)" dan tidak ada hadits yang menunjukkan itu diharamkan".
   
Ushul-fiqh Yang Berbeda

Perbedaan dengan madzhab yang mengharamkan kelelawar ini bersumbu pada metode ushul yang masing-masing madzhab terapkan, perihal sifat dalil antara yang qath'iy (pasti) dan dzonniy.  

Hadits-hadits yang memberikan penjelasan tentang keharaman hewan dengan sifat bertaring atau juga mempunyai cakar, bagi madzhab al-Hanafi itu tidak menunjukkan keharaman. Karena al-Quran tidak menyebutkan itu diharamkankan.

Adapaun hadits-hadits itu semua sifatnya dzonniy dan ayat al-Quran itu qath'iy. Dalil yang qath'iy jauh lebih kuat dari yang dzonniy, maka dari itu, kandungan hukum yang ada pada dalil-dalil dzonniy tidak bisa merubah yang qath'iy. Akhirnya kandungan yang ada dalam hadits-hadits itu hukumna dialihkan menjadi makruh tidak haram.

Wallahu a'lam
 

Ramadhan, Bukan Untuk Khatamkan al-Qur'an

Salah satu semangat yang sangat menggeliat pada bulan Ramadhan ialah semangat meng-khatam­­-kan al-Quran. Dan tidak jarang, bahkan hampir semua umat Islam mengusung target khatam qur'an pada bulan suci ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada sekolompok pemuda atau remaja yang mengadakan perlombaan siapa yang paling banyak khatam-nya, dan menjadi sebuah prestise tinggi jika bisa mengatakan "Alhamdullillah saya sudah khatam 2 kali ramadhan ini".

Tapi semangat mengkhatam-kan al-qur'an di bulan ramadhan hendaknya tidak digeneralisir untuk semua orang. Bagi mereka yang memang sudah mahir dan mengerti hukum-hukum Tajwid (kaidah membaca al-qur'an) dan bisa membacanya dengan benar, ya sah-sah saja buat mereka untuk mengkhatamkan al-qur'an. Karena tidak akan menjadi masalah.

Tapi bagi mereka yang belum mahir membaca al-qur'an atau bahkan tidak mengerti hukum-hukum tajwid (sebenarnya membaca al-quran dengan tajwid itu –sesuai Ijma' Ulama- hukumnya fardhu 'Ain), maka program mengkhatamkan al-quran ini sungguh tidak layak dikerjakan oleh mereka.

Ya, bagaimana bisa? Sepanjang tahun tidak pernah membaca al-Quran, ketika Ramadhan datang, ujug-ujug mau khatam al-Quran. Tentu sudah bisa ditebak bagaimana cara bacanya. Tak berarturan dan tidak karuan. Pasti terburu-buru karena harus kejar target khatam. Sudah tidak penting lagi mana idgha, ikhfa, waqof, mad, qalqalah, saktah dan hukum yang lainnya. Yang penting ialah khatam!

Padahal Allah telah memerintahkan dalam ayat-Nya: "dan Bacalah Al-qur'an dengan perlahan-lahan (tartil)" (Al-Muzzammil 4)

Alih-alih mau men-suci-kan kitab suci dengan mengkhatamkannya, malah membuatnya tidak seperti kitab suci dengan bacaan yang amburadul, tanpa tadabbur, yang tergambar hanya bisa pasang status medsos "saya sudah khatam al-quran, Alhamdulillah".

"loh bukankah baca qur'an itu tetap mendapat pahala walaupun tidak mengerti artinya?"

Ya benar sekali. Siapapun yang membaca al-qur'an pasti mendapat pahala walaupun ia tidak mengerti artinya atau tidak paham kaidahnya, malah mendapat 2 pahala, begitu hadits Nabi menjelaskan.

Tapi itu bagi mereka yang mau terus belajar dan mempelajari kaidah-kaidahnya, bukan untuk kejar target khatam qur'an tanpa mau belajar di sebelum bulan atau sesudah bulan ramadhan seperti kebanyakan yang orang kerjakan belakangan ini. Mereka sepertinya menyepelekan al-qur'an dengan ke-ogah-an mereka untuk belajar.

So, What?

Semangat beribadah di bulan Ramadhan ini harusnya juga di implementasikan dengan melakukan ibadah sesuai kaidah yang telah ditetapkan oleh syariah itu sendiri. Baiknya kita konverasi semangat mengakhatamkan qur'an itu manjadi semangat "BELAJAR TAJWID". Jadi bulan Ramadhan ini sebutan barunya ialah "Bulan Tajwid".

Waktu-waktu yang awalnya telah kita jadwalkan untuk berkhatam (tapi dengan bacaan salah), kita rubah dengan belajar tajwid, entah itu dengan mendatangi kawan yang mengerti guna meminta beliau mengajarkan kita tajwid. Atau mendatangi seorang ustadz/kiyai, atau juga kita mengikuti halaqoh-halaqoh tajwid yang biasa banyak digelar di masjid-masjid sekitar rumah kita masing-masing.

Satu bulan ini kita "khatamkan" ilmu tajwid itu, sehingga nantinya ketika keluar bulan ramadhan ini kita sudah mampu membaca qur'an dengan benar tanpa salah InsyaAllah. Akhirnya bulan ramadhan yang akan datang kita sudah siap dengan segudang target, baik itu meng-khatamkan al-qur'an ataupun yang lainnya.

Akhirnya juga kita bisa tinggalkan kebiasaan buruk kita yang telah lama kita kerjakan, yaitu "masuk ramadhan baca qur'an nya begitu, keluar ramadhan juga tetep ngga berubah, tetep salah. Tiap taon kaya begitu, trus buat apa ada kesempatan belajar di ramadhan?"

Terus Membaca al-Quran

Artikel ini bukan untuk melarang orang bersemangat mambaca dan mengkhatamkan al-Qur'an. Tapi mestinya semangat itu ditenpatkan di tempatnya yang layak dan benar. Semangat membaca al-Quran pada bulan Ramadhan terus dijalankan dan dirutinkan seperti yang sudah biasa dilaksanakan. Mungkin setelah subuh, zuhur, atau tarawih.

Tapi hendaknya bagi yang belum paham tajwid, dia sempatkan salam sehari satu waktu khusus untuk mempelajari tajwid. Entah itu di pagi atau sore atau malamnya setelah sholat tarawih. Jadi, baca Qur'an jalan, belajar tajwid pun jalan.

Tidak perlu takut tidak khatam al-Quran, karena sama sekali tidak ada ulama sejagad raya ini yang mewajibkan khatam Qur'an harus di bulan Ramadhan. Tidak ada juga ulama atau ayat serta hadits yang mencela mereka yang tidak bisa khatam Qur'an di Bulan Ramadhan.

Ramadhan itu kesempatan emas untuk kita menambah intensitas ibadah kita kepada Allah termasuk dengan membaca dan mempelajari Al-qur'an. Bukan kejar-kejaran target siapa yang paling banyak khatamnya. Buat apa khatam berkali-kali tapi tidak mau belajar dan tidak mau sadar kalau bacaan kita tidak benar?

Jadi pertanyaan yang harus keluar dari mulut kita ketika bertemu saudara dan kawan ialah bukan "berapa kali sudah khatam?" tapi "sudah berapa hukum tajwid yang sudah dipelajari?".

Khatam Qu'an Gampang, Tidak Perlu Nunggu Ramadhan

Urusan mengkhatamkan qur'an itu buat saya urusan yang paling gampang diantara ibadah-ibadah yang lain. Jadi jangan takut ngga bisa mengkhatamkan qur'an, karena mengkhatamkan qur'an itu gampang, sebentar dan bisa kapan saja, ngga perlu nunggu ramadhan untuk bisa khatam.

Percayakah anda bahwa dalam satu hari saja, saya atau kita semua itu bisa mengkhatamkan al-qur'an sebanyak 70 kali bahkan seratus kali. Lah wong ngga butuh waktu lama kok, Cuma sekitar 3 sampai 5 menit kita bisa mengkhatamkan al-qur'an.

Nabi Muhammad saw bersabda:
"Barang siapa yang membaca 'qul huwallahu ahad' (surat al-ikhlas) sekali berarti ia telah membaca sepertiga al-qur'an" (HR Tirmidzi)

Dengan begitu, kalau kita membaca surat Al-Ikhlas itu sebanyak 3 kali berarti kita telah mengkhatamkan al-qur'an. Mudah bukan? Jadi tidak perlu nunggu-nunggu ramadhan untuk kita bisa khatam qur'an.

Ramadhan itu kesempatan emas untuk kita menambah intensitas ibadah kita kepada Allah termasuk dengan membaca dan mempelajari Al-qur'an. Bukan kejar-kejaran target siapa yang paling banyak khatamnya. Buat apa khatam berkali-kali tapi tidak mau belajar dan tidak mau sadar kalau bacaan kita tidak benar?

Jadi pertanyaan yang harus keluar dari mulut kita ketika bertemu saudara dan kawan ialah bukan "berapa kali sudah khatam?" tapi "sudah berapa hukum tajwid yang sudah dipelajari?".

Wallahu A'lam
 

Ramadhan Bukan Bulan Zakat

Banyak orang muslim yang –masih- menganggap bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan dimana mereka wajib bayar zakat harta mereka. Jadi kalau sudah masuk bulan Ramadhan, mereka sudah menghitung-hitung berapa jumlah yang harus dibayarkan, baik itu emas, peternakan atau juga barang dagang.

Semangatnya juga menular ke pengurus-pengurus masjid serta lembaga-lembaga Amil zakat. Kalau sudah masuk hari-hari menjelang bulan Ramadhan, ramai-ramai masjid buka Outlet pembayaran zakat, tidak membedakan zakat fitrah kah atau zakat yang lainnya. Semua dibayarkan ke satu outlet yang sama, dan si Amil memasukkannya ke dalam kotak yang sama.

Lucunya lagi, setelah Ramadhan selesai, pihak DKM masji mengadakan acara 'Pembubaran' panitia zakat, yang biasanya diisi dengan acara jalan-jalan. Jelas ini kekeliruan, menganggap bahwa zakat itu hanya dibayarkan di bulan Ramadhan saja, bahkan menyamakannya dengan zakat fitrah yang sudah nyata itu berbeda.

Padahal zakat harta; seperti emas, peternekan, barang dagang itu tidak terikat dengan Ramadhan. Zakar harta itu terikat dengan harta itu sendiri, yaitu nishab, dan waktu wajibnya yaitu ketika sudah melewati haul (setahun). Tak peduli apakah itu Ramadhan atau tidak.

Ketika harta itu sudah melewati batas nishab, saat itu harta sudah berada pada posisi menunggu haul-nya. ketika sudah mlewati masa haul, maka ketika itu juga wajib bayar zakat. Ramadhan atau bukan Ramadhan, yang namanya zakat harta wajib dikeluarkan ketika sudah terpenuhi syaratnya tersebut, tanpa harus menunggu bulan Ramadhan.

Yang paling 'menggelikan' adalah ketika petinggi lembaga-lembaga Amil zakat justru memberikan target 'angka' kepada para amil-nya untuk pencapaian pengumpulan zakat di bulan Ramadhan. Menjadikan zakat seakan komoditi sehingga bisa seenaknya diberikan angka pencapaian. Sudah pakem zakat dilanggar, memberikan target nominal pula. Ini jelas bentuk penyimpangan.

Zakat tidak bisa dipaksakan harus dibayar di bulan Ramadhan! Satu-satunya zakat yang wajib dibayarkan di bulan Ramadhan itu hanya zakat fitrah. Sedangkan zakat harta lainnya itu dibayarkan tanpa terikat oleh waktu, yaitu ketika sudah sampai nishab dan lewat haul-nya, disitu wajib zakat. Bukan Ramadhan!

Ketika harus membayar di bulan Ramadhan, bisa jadi zakat itu sudah wajib jauh sebelumnya. Karena sudah wajib, mestinya segera dibayarkan. Ulama 4 madzhab semua sepakat bahwa zakat yang sudah terpenuhi syaratnya harus segera dibayarkan, karena penundaan zakat berarti itu menahan harta orang lain dalam harta kita.

Karena memang sejatinya ketika harta sudah wajib dikeluarkan, statusnya sudah berubah bukan lagi milik kita, akan tetapi itu milik 8 golongan mustahiq zakat. Menunda zakat sama saja menunda orang lain untuk mendapatkan haknya, jelas ini pelanggaran.

Harus Ada Penyuluhan

Ini yang menjadi Pe-Er besar, mestinya seorang amil bukan hanya seorang yang ahli lobi dalam mencari zakat, mestinya ia juga seorang yang paham betul dengan fiqih zakat ­itu sendiri. Sehingga operasi-nya untuk mencari muzakki bukan hanya sekedar mencapai target, tapi juga harus membawa missi mencerdaskan para muslimin tentang syariah zakat itu sendiri. Dan memang begitu tugas seorang amil sejak zaman Nabi saw.

Memanfaat Ramadhan sebagai momen untuk mengajak orang beribadah termasuk bayar zakat memang tidak keliru. Tapi apa mau terus-terusan para muzakki itu dibiarkan dalam 'ketidaktahuannya' untuk kepentingan lembaga? Mestinya ada penyuluhan, kapan seorang itu wajib bayar zakat dan berapa jumlah harta yang dibayarkan.

wallahu a'lam
 

Sikap Muslim Ketika Mendapat Sebuah Berita

Ketika mendapat sebuah kabar penting, sejatinya seorang muslim itu sudah punya patron yang jelas, dan itu termaktub dalam kitab suci mereka. Dalam ayat 6 surat al-Hujurat:

أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

 Ayatnya sudah jelas bunyi dan maknanya, bahwa ketika seorang muslim itu mendapat suatu berita dan itu penting, wajib baginya untuk verifikasi kebenaran berita tersebut. Jangan asal share tanpa mau tahu kebenaran berita tersebut. Jangan hanya berpikir bahwa berita itu mendukung ideologinya, seperti mencari justifikasi kebenaran.

Kalau memang itu bersangkutan dengan seseorang, yang harus dilakukan ialah Klarifikasi kepada pihak yang menajdi objek berita tersebut. Jangan hanya mendengar "katanya-katanya" saja. Apalagi jika berita itu datang dari pihak yang memang dikenal sebagai musuhnya, yang sudah pasti punya tendensi menjatuhkan.

itu kalau beritanya dibawa oleh orang Fasiq. Kalau bukan?

Ya. Pembawa berita pun menjadi ukuran boleh tidaknya berita itu diterima, apakah dia fasiq atau tidak. karena kalau fasiq, bisa saja beritanya dilebihkan atau bahkan dikurangi sesuai kepentingan si fasiq itu sendiri.

Maka dalam penerimaan hadits, ulama hadits sepakat tidak menerima hadits yang di dalamnya ada perawi "Majhul", atau tidak diketahui. Karena bisa jadi ia adalah seorang yang fasiq. Terlebih lagi ini didasari bahwa memang hadits itu kabara penting yang menjadi sandaran dalil dan petunjuk bagi orang muslim dalam kesehariannya yang berkaitan dengan halal dan haramnya suatu perkara.

Iya. Menjadi kewajiban memang bagi seorang muslim untuk mem-verifikasi kebenaran berita yang datang. Terlebih lagi zaman sekarang yang semua orang bisa dengan bebasnya men-share berita tanpa ada filter, semua bergantung kepada kehati-hatian kita sebagai muslim. Mau ikut-ikutan menuduh tannpa ada klarifikasi terlebih dahulu, mau mencederai kehormatan saudara muslim, atau ikut caci maki seperti berita yang dibawa, ikut mencela, ikut menyebarkan fitnah? Tinggal pilih yang mana.

Tapi, yang bawa berita itu seorang ustadz, loch?!?!

Masalahnya bukan ustadz atau non-ustadz. Justru ketika berita itu menyangkut harga diri dan kehormatan saudara muslim, entah itu tuduhan kafir atau menyimpang dari syariah atau juga tuduhan melakukan dosa besar. Harusnya kita yang mendengar, mesti bisa menahan diri untuk tidak ikut membicarakan keburukan saudara muslim itu.

Justru dengan menyebarkan berita fitnah dan tuduhan tanpa ada verifikasi dan klarifikasi, itu yang mencedera status ke-ustadz-an beliau. Ibarata kasarnya begini: "ustadz kok ngomongin orang yang jelek-jelek?" bagitu.

Kalau dalam hal berbicara, muslim sudah punya patron yang memang sudah digaruskan oleh rasulullah saw:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia harus berkata baik atau diam" (HR, al-Bukhari)

Ini patron bicaranya orang muslim. Kalau tidak bisa berbicara baik ya diam saja. Jadi sebelum bicara baik lisan atau pun tulisan, sebaiknya difikirkan asas masalahat dan manfaatnya. Apakah lisan atau tulisan ini baik, bermanfaat dan membawa maslahat? Atau malah membawa keburukan dan mengundang orang lain untuk saling fitnah dan tuduh-menuduh sesama saudara muslim?

Ketika terdengar berita yang menyangkut kehormatan saudara muslim, diam itu adalah jalan terbaik. Berbicara dan ikut menyebarkan, justru itu petaka. Dengan berbicara –benar atau tidaknya berita tersebut- kita telah berdosa. Karena kita berghibah kalau berita itu benar, dan kita telah melakukan fitnah kalau itu salah.

Bukankah orang muslim itu adalah yang menjaga saudara muslim lainnya dari lisan dan tangannya? Sabda beliau shallahu 'alaihi wassallam:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"orang muslim itu ialah yang menjaga muslim lainnya dari lisan dan tangannya" (Muttafaq 'alaih)

Kalau sudah terlanjur menyebarkan. Bagaimana?

Ya. Berusaha menarik kembali apa yang sudah disebarkan. Mungkin sulit dan memangsangat sulit, mengingat kabar tersebut mungkin sudah lama sekali disebarkan, dan tidak ingat lagi, bahkan juga lupa, sudah berapa kali men-share berita tersebut, karena bukan hanya di aku pribadi saja, tapi di akun orang lain bahkan grup juga.

Ya harus dilakukan adalah meminta maaf di tempat yang mana  orang banyak melihat itu. Dena memberikan verifikasi bahwa kabar yang dulu sempat disebarkan itu adalah kabar bohong atau kabar fitnah yang tidak jelas verifikasinya serta berlum ada klarifikasi.

Setelah itu, harus menahan diri dan mencukupkan hati untuk tidak lagi menyebarkan berita penting yang menyangkut kehormatan saudara muslim kecuali setelah verifikasi dan klarifikasi kepada yang bersangkutan. Bulatkan dalam hati untuk tidak lagi mengundang orang lain ikut memfitnah karena sebab berita yang kita sebarkan. insyaAllah semua clear.

Wallahul-musta'an
 

Haram Dimakan, Haram Juga Diperjualbelikan?

Ya. Default-nya bahwa yang haram dimakan dagingnya itu haram juga harganya atau jual belinya, dan ada teks hadits yang secara eksplisit mengatakan demikian. Tapi ulama membolehkan jual beli hewan-hewan yang diharamkan makan dagingnya itu dengan syarat bahwa itu ada manfaatnya dan memang manusia membutuhkan.

Maqshad Ibadah dan Maqshad Muamalah

Yang harus diingat, bahwa ulama punya penjabaran, yaitu tentang maqshad (tujuan) muamalah dan maqshad (tujuan) ibadah dalam syariah itu beda. Ibadah itu tujuannya untuk meraup pahala dan menghindar dari dosa, karena memang -kebanyakan- ibadah itu sifatnya ritual dan ta'abbudiy (non-logic). Tapi tujuan muamalah -yang di dalamnya jual beli- itu untuk maslahat manusia dan melayani kebutuhan masyarakat. terlebih lagi kebutuhan yang kalau itu tidak terpenuhi malah akan menghambat hidupnya orang banyak.

Karena itu dalam muamalah, ada excuse -sedikit banyaknya- yang diberikan ulama selama memang tujuannya itu tidak 'ngasal' atau dibuat-buat. Karena itu ulama membolehkannya istishlaahan (untuk maslahat).

Bahkan ulama memberikan rukhshah atau keringanan untuk bolehnya jual beli anjing -yang jelas-jelas haram dagingnya dan ada ancaman dosa dalam memeliharanya- dengan tujuan menjaga rumah atau kebuh serta sawah atau juga ladang.

Kotoran Hewan

Perlu dibedakan, bahwa ulama syafiiyah menghukumi semua kotoran hewan itu najis baik yang boleh dagingnya dimakan atau dilarang untuk dimakan.

Berbeda dengan ulama hanabilah yang memisahkan antara hewan yang boleh dimakan dan yang terlarang dimakan. Kalau itu hewan yang boleh dimakan, berarti kotorannya tidak najis, akan tetapi kalau hewan itu haram dimakan, kotorannya menjadi najis.

Untuk jual belinya, kembali ke pembahasan di atas, bahwa ulama memberikan keringanan untuk kebolehan menjual kotoran hewan -walaupun najis- untuk maslahat, seperti kotoran untuk pupuk yang kemudian diolah. Aslinya terlarang, tapi karena kebutuhan itu dibolehkan.

-wallahu a;lam-
 

Jual Beli Kucing, Haram kah?

Beberapa kawan bingung ketika mendapati sebuah kenyataan bahwa para sahabat Nabi Muhammad saw banyak yang mencintai kucing, bahkan sahabat Nabi saw yang banyak meriwayatkan hadits digelari bapaknya kucing, [Abu Hurairah] karena sering sekali dikelilingi kucing. Padahal naman aslinya Abdul-Rahman bin Shokhr al-Dausi (57 H).

Pun ada riwayat shahih dari Nabi saw bahwa beliau memasukkan kucing dalam kategori hewan yang suci, dan mengatakan bahwa ia adalah hewan yang sering ada di sekeliling kita. Tapi di sisi lain ditemukan juga bahwa ada hadits yang melarang untuk menjual kucing itu sendiri.

Lalu bagaimana sebenarnya hukum jual beli kucing? Kalau benar haram, kenapa boleh dipelihara? Kalau memang haram karena alasan haram makan dagingnya, keledai [himar ahliy] juga diharamkan makan dagingnya, tapi jual belinya dibolehkan?

Ulama 4 Madzhab

Ulama 4 madzhab (al-hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyyah, al-Hanabilah) sepakat atas kebolehan jual-beli kucing. Dibolehkan karena memang kucing adalah hewan yang suci bukan najis, karena suci maka tidak ada larangan untuk memperjual belikannya.

Pernyataan ini tertulis dalam kitab-kitab mereka, seperti Bada'i al-Shana'i 5/142 (al-Hanafiyah) karangan Imam al-Kasani (587 H), Hasyiyah al-Dusuqi 3/11 (al-Malikiyah) karangan Imam al-Dusuqi (1230 H), al-Majmu' 9/230 (al-Syafi'iyyah) karangan Imam an-Nawawi (676 H), al-Mughni 4/193 (al-Hanabilah) karangan Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisy (620 H).

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kucing itu hewan suci, karena suci maka bisa dimanfaatkan. Dan dalam prkatek jual-beli kucing, tidak ada syarat jual-beli yang cacat, semuanya terpenuhi. Sah jual belinya sebagaimana juga sah jual beli kuda atau juga baghl/Himar Ahliy (keledai).

Setelah sebelumnya beliau mengutip pernyataan Imam Ibnu al-Mundzir yang mengatakan bahwa mmemelihar kucing itu dibolehkan secara Ijma' ulama. Jadi jual belinya pun menjadi tidak terlarang.
(al-Majmu' 9/230)

Pendapat Menyendiri (Madzhab al-Zohiriyah)

Pendapat berbeda dikeluarkan oleh madzhabnya Imam Daud Abu Sulaiman al-Zohiri, bahwa jual-beli kucing itu hukumny haram. Ini dijelaskan oleh ulamanya sendiri, yaitu Imam Ibn Hazm (456 H) dalam kitabnya al-Muhalla (9/13). Tapi hukumnya bisa menjadi wajib jika memang kucing itu dibutuhkan untuk 'menakut-nakuti tikus'. Dalam kitabnya:

وَلاَ يَحِلُّ بَيْعُ الْهِرِّ فَمَنْ اُضْطُرَّ إلَيْهِ لأَذَى الْفَأْرِ فَوَاجِبٌ
"tidak dihalalkan jual beli kucing, (tapi) barang siapa yang terdesak karena gangguan tikus (di rumahnya) maka hukumnya menjadi wajib".  

artinya memang madzhab ini juga tidak mengharamkan secara mutlak, kondisi tertentu di mana jual beli kucing dibolehkan, bahkan diwajibkan. 
Alasan madzhab ini mengharamkan jual beli kucing, karena memang ada hadits yang melarangnya. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Zubair pernah bertanya kepada sahabt Jabir bin Abdullah:

سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ فَقَال : زَجَرَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
“aku bertanya kepada Jabi bin Abdullah tentang jual beli sinnaur (kucing liar) dan anjing. Lalu beliau menjawab: Nabi shallallhu a’alaih wa sallam melarang itu” (H.R Muslim No. 2933)

Menurut Imam Ibnu Hazm, kata "Jazar"[جزر] dalam bahasa itu punya arti jauh lebih berat dibandingkan kata "Nahyu" [نهى] yang berarti melarang.

Imam Nawawi Menjawab Hadits

Ketika menjelaskan pendapat madzhabnya tentang kebolehan jual-beli kucing, Imam Nawawi juga memaparkan pendapat yang melarang beserta dalil dari hadits yang dipakainya. Beliau menjawab bahwa haditsnya memang shahih tapi maksudnya bukan larangan secara mutlak.

Dalam kitabnya (al-Majmu' 9/230) beliau menyanggah dalil ini dengan argumen berikut:

جَوَابُ أَبِي العباس بن العاص وَأَبِي سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيِّ وَالْقَفَّالِ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ الْمُرَادَ الهرة الوحشية فلا يصح بيعها لِعَدَمِ الِانْتِفَاعِ بِهَا
" jawaban Abu al-Abbas bin al-'Ash dan juga Abu Sulaiman al-Khaththabiy serta al-Qaffal dan yang lainnya (terhadap hadits larangan itu) bahwa yang dimaksud [sinnaur] di situ adalah kucing liar/hutan [al-wahsyi]. Terlarang jual belinya karena tidak ada manfaat."

Jadi memang yang dilarang itu bukan kucing [الهرة], akan tetapi kucing liar atau hutan yang disebut dengan istilah Sinnaur [سنور]. Ya kerena memang sinnaur pun terlarang untuk memakannya karena masuk dalam kategori hewan bertaring yang menyerang manusia. Dalam madzhab al-Syafi'iyyah juga yang terlarang itu jika kucing liar, kalau kucing peliharaan itu tidak terlarang jual belinya.

Toh kalau pun terlarang, Nabi pastinya mengatakan dengan istilah al-Hirrah juga, tidak dengan Sinnaur. Pembedaan istilah ini juga menunjukkan bahwa kucing tidak satu jenis, dan perbedaan jenis, beda juga hukumnya. Karena memang secara bahasa Sinnaur dan Hirrah punya makna beda; Liar dan tidak liar, buas dan tidak buas.

Wallahu a'lam.   
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger