Hukum Muslim Masuk Gereja/Sinagog atau Tempat Ibadah Agama Lain

Masalah yang berkembang belakangan dan sering kali ditanyakan ialah perihal seorang muslim yang masuk sinagog atau gereja atau juga tempat ibadah non-muslim. Apakah dibolehkan atau tidak?

Berada di tengah masyarakat yang heterogen seperti Indonesia ini, mestinya hal seperti ini bukan hal yang tabu lagi, karena memang hal seperti ini pasti terjadi. Ada saja kebutuhan seseornag untuk mengakses tempat ibadah agama lain, entah urusan pekerjaan atau juga yang laiinya.

Dan sejak dulu juga masalah seperti ini sudah dibicarakan oleh para ulama, karena memang umat Islam sejak dulu juga tidak pernah hidup sendirian tanpa ditemani saudara-saudaranya dari kalangan agama yang berbeda. Dan syariah mengatur itu semua.

Perihal hukum seorang muslim yang masuk ke gereja atau sinagog, ulama berbeda pendapat menjadi 3 kelompok pendapat;
[1] Makruh,
[2] Boleh secara mutlak, namun makruh jika melakukan sholat di dalamnya,
[3] Haram jika ada patungnya, dan harus dengan izin

[1] Makruh, 

Ini adalah pendapat madzhab Al-Hanafiyah, mereka berpenadangan bahwa sejatinya memasuki gereja atau sinagog dan tempat ibadah agama lain tidak diharamkan sama sekali.

Hanya saja makruh. Makruh bukan karena tidak boleh masuk, akan tetapi dimakruhkan karena gereja atau sinagog itu tempat berkumpulnya setan [مَجْمَعُ الشَّيَاطِينِ][1].

[2] Boleh secara mutlak, namun makruh jika melakukan sholat di dalamnya

Ini pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama dari madzhab Al-Malikiyah, Al-Syafi'iyyah dan juga Hanabilah, yaitu tidak ada larangan untuk memasuki gereja atau juga tempat ibadah agama lain. Namun makruh hukumnya jika melakukan sholat disitu[2].       

Sebenarnya dalam hal ini, Imam Ahmad bin Hanbal punya 3 riwayat terkait sholat di dalam gereja atau sinagog;
[1] Boleh tidak ada kemakruhan sebagaimana hukum memasukinya,
[2] Makruh melakukan sholat di dalamnya,
[3] dibedakan antara gereja yang ada patungnya atau tidak, kalau ada patungnya maka sholatnya makruh, kalau tidak ada maka boleh-boleh saja.

Kesemua riwayat ini diceritakan oleh Imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Ahkam Ahli Dzimmah, akan tetapi yang menjadi pendapat madzhab Hanbali sebenarnya ialah pendapat boleh masuk dan boleh juga sholat tanpa kemakruhan, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Buhuti dalam Kasysyaful-Qina'.[3]

- Boleh Masuk dan Sholat di Dalamnya

Kelompok yang mengatakan bolehnya masuk gereja atau sinagog dan melakukan sholat di dalamnya berargumen dengan riwayat Imam Abu Daud bahwa Nabi saw pernah masuk Ka'bah yang di dalamnya ketika itu ada patung Ibrahim dan Ismail. Ini sebagaimana direkam oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni. [4]

Dan Nabi pun melakukan sholat di dalam ka'bah yang ketika itu masih ada patungnya. Seandainya kalau itu tidak boleh, pastilah Nabi tidak akan melakukan sholat di dalamnya. Dan pasti beliau saw melarang para sahabat untuk itu, tapi tidak ada larangan.[5]

Imam Ibnu Qudamah juga mengutip cerita bahwa ketika Umar bin Khoththob memasuki negeri Syam dan itu diketahui oleh kaum Nasrani negeri tersebut, mereka berinisiatif untuk menyambut Umar dengan menyajikannya makanan. Namun jamuannya itu disajikan di dalam sinagog mereka.

Lalu Umar menolak hadir dan memrintahkan 'Ali untuk menggantikannya. Datanglah 'Ali ke undangan tersebut lalu masuk ke sonagog dan menyantap hidangan yang disediakan. Kemudian berkata: "aku tidak tahu kenapa Umar menolak datang?".[6]  

Dari cerita di atas jelas bahwa para sahabat tidak pernah berselisih tentang bolehnya memasuki sinagog atau gereja dan tempat ibadah orang non-muslim, karena itu 'Ali bertanya kenapa Umar menolak. Kemudian kalau seandainya itu sebuah keharaman, kenapa Umar menyuruh 'Ali datang, harusnya Umar larang juga 'Ali. Apakah seorang sahabat sekelas Umar tega membiarkan sahabat lainnya jatuh dalam dosa?

Imam Ibnu Qoyyim menambahkan bahwa dulu juga para sahabat melakukan sholat di dalam gereja, ketika melakukan penaklukan beberapa kota untuk mengislamknnya. Kalau sholatnya saja boleh apalagi memasukinya.[7]

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Sayyidina Umar bin Khoththob tidak melakukan sholat di dalam sinagog setelah menaklukan Palestina (Quds), itu bukan berarti pelarangan. Karena tidak sholatnya Umat di dalam gereja sama sekali tidak berarti larangan.

Umar melakukan itu agar nantinya orang muslim setelahnya tidak merubah sinagog itu menjadi masjid yang akhirnya menyulitkan orang Nasrani melakukan ibadah, maka Umar sholat di luar. Dan akhirnya umat Muslim membangun masjid di tempat sholat Umar itu berdampingan dengan Sinagog.

- Makruh Sholat di Dalamnya

Yang mengatakan boleh masuk, tapi makruh sholat di dalamnya beralasan sama seperti yang diutarakan oleh madzhab Al-Hanafiyah, bahwa sinagog, gereja dan tempat ibadah agama lain itu tempat berkumpulnya setan.

Para ulama ini bersepakat atas kemakruhan sholat di pemakaman, maka jauh lebih makruh lagi kalau itu di tempat ibadah agama lain. Walaupun jika ia sholat, tetap sah sholatnya akan tetapi di-makruh-kan saja.

Kemudian yang memakruhkan sholat di dalamnya jika itu ada patungnya, apalgi jika patung-patung itu berhadapn langsung dengan arah sholat. Seakan-akan terkesan bahwa ia sedang bersujud di hadapan patung. Jelas ini tercela.[8]

[3] Haram jika ada patungnya, dan harus dengan izin.

Ini pendapat sebagian ulama madzhab Al-Syafi'iyyah, akan tetapi bukan pendapat resmi madzhab. Ini pendapat salah seorang ulama madzhab tersebut, yaitu Imam 'Izz Al-Din bin Abdis-Salam yang kemudian diikuti oleh sebagiannya.[9]

Beliau mengatakan bahwa seorang muslim dilarang memasuki gereja, sinagog atau juga tempat ibadah umat lain kecuali dengan izin. Berarti jika diizinkan, boleh memasukinya. Dan itu pun kalau tidak ada patungnya, kalau ada maka hukumnya tidak boleh memasukinya.

Alasan beliau kenapa harus dengan izin, karena gereja, sinagog dan tempat ibadah umat lain itu milik mereka sendiri, dan kita selain dari golongannya dilarang mengakses itu kecuali memang diizinkan.

Dan beliau melarang mutlak jika di dalamnya ada ada patung, diidzinkan atau tidak, kalau ada patungnya tetap di larang. Beliau mengatakan bahwa rumah yang ada patungnya saja dilarang untuk dimasuki, apalagi gereja dan sinagog.

Imam Ibnu Hajar Al-Hantami dalam kitabnya Tuhfatul-Muhtaaj, menjelasknan bahwa yang dimaksud patung oleh Imam 'Izz Al-Diin ialah patung yang Mu'adzdzomah [معظمة] "diagungkan". Maksudnya ialah patung yang diagungkan dan disembah. Kalau hanya ada gambar-gambar atau juga patung namun statusnya bukan patung utama yang disembah, maka tempat ibadah itu tidak mengapa untuk di masuki.[10]

Wallahu a'lam


[1] Hasyiyah Ibnu Abdiin 1/380
[2] Hasyiayh Qolyubi wa 'Amirah 3/235, Kasysyaful-Qina' 1/293, Ahkam Ahli Dzimmah 3/1230
[3] Kasysyaful-Qina' 1/293
[4] Al-Mughi li-Ibn Qudamah 7/283
[5] Kasysyaful-Qina' 1/293
[6] Al-Mughi li-Ibn Qudamah 7/283
[7] Ahkam Ahli Dzimmah 3/1231
[8] Ahkam Ahli Dzimmah 3/1232
[9] Mughni Al-Muhtaaj 6/78
[10] Tuhfatul-Muhtaj 9/295
 

"Mana Dalilnya?'

Belakangan muncul –entah sejak kapan- banyak sekali kelompok yang selalu saja meminta dalil atas setiap pendapat yang dikeluarkan oleh seorang ulama fiqih terhadap sebuah hukum fiqih. Mungkin ini karena pengaruh masiv-nya artikel-artikel yang dilabelkan fiqih zaman sekarang, tapi isinya hanya hadits dan ayat, tanpa disertakan dalil.

Seakan menimbulkan kesan bahwa fiqih itu ya begitu. Padahal artikel-artikel semacam itu bukan murni artikel fiqih, "Seem like fiqh but it's not". Karena fiqih itu bukan kumpulan hadits dan ayat, tanpa ada Taujiih-dalil-nya.

Pertanyaan Aneh

Aneh rasanya kalau menanyakan sebuah dalil kepada seorang ahli fiqih, mungkin dalam sebuha forum ilmiah, seperti kelas, kuliah atau semacam diskusi, itu bisa dibenarkan. Akan tetapi dalam forum biasa dimana seorang guru yang menukil pendapat para imam madzhad dari kitab-kitab fiqih mereka. Ini aneh sekali.

Atau juga seorang sheikh yang telah melewati pendidikan syariah yang sangat panjang, dan beliau memang sudah mumpuni, bahkan sangat mumpuni dalam hal ysriah serta fiqih.  

Sama anehnya seperti menanyakan dalil/bukti kepada seorang polisi jalan raya yang memberi petunjuk jalan kepada seorang yang bertanya. Apa layak ia berkata: "Pak, Polisi! Apa buktinya kalau jalan ini akan mengantarkan saya menuju daerah Slipi?", ini aneh!

Bagaimana tidak, seorang polisi jalan raya yang memang kesehariannya bekerja di jalan raya dan sudah barang tentu ia pasti mengetahui arah-arah jalan kemana dari setiap jalanan yang menjadi daerah tugasnya, kemudia ditanya "Apa Buktinya?". Seorang yang berakal sehat pasti tidak akan bertanya itu. Karena dengan otak yang sehat, dia akan sadar bahwa polisi tidak mungkin tidak tahu, bagaiman tidak tahu, toh memang ini pelerjaan beliau.

Sama anehnya ketika seorang pasien datang ke dokter lalu mengadukan penyakit yang menggangu kesehatannya. Setelah diperiksa, sang dokter memberikan resep kepada pasien tersebut untuk mengindari makan ini dan itu, lalu untuk tidak melakukan hal ini dan itu, dan memerintahkan untuk membeli obat A dan B agar penyakitnya bisa sembuh.

Lalu sang pasien bertanya: "Dok, apa buktinya kalau obat A dan B ini bisa menyembuhkan penyakit saya? Adakah bukti riset yang dokter punya tentang ini? Lalu apa buktinya kalau hal ini dan hal itu bisa mempercepat kesembuhan saya? Apa dokter punya bukti otentik atas apa yang dokter katakana itu?". Aneh bukan?!

Seorang yang mempunyai akal sehat sudah pasti tidak akan bertanya seperti itu, dengan sigap dan yakin, ia pasti percaya kemudian mengiyakan apa yang dikatakan dokter. Kenapa? Karean dia yakin bahwa memang dokter itu bertugas untuk itu, untuk mengobati si pasien. Dan sudah barang tentu, si dokter pasti tahu mana obat yang layak untuk pasien penyakit A, atau pasien penyakit B.

Kalau ada yang bertanya seperti itu kepada polisi atau dokter, itu berarti ia sudah tidak percaya lagi dengan polisi dan dokter, kalau sudah tidak percaya kepada dokter dan polisi, lalu untuk apa sejak awal datangi mereka?!?! Tinggalkan saja, dan buat ramuan sendiri! Kalau memang mampun.

"Apa Dalilnya?"

Ya. Menurut penulis, pertanyaan "Apa Dalilnya?" kepada seorang ulama fiqih, atau juga seorang sheikh yang mengajarkan fiqih dan beliau memang mumpuni dalam bidangnya tersebut, seperti menanyakan "Apa buktinya?", kepada dokter untuk sebuah obat, atau kepada polisi untuk petunjuk jalan. Benar-benar aneh.

Bagaimana bisa seorang ulama fiqih yang keilmuannya sudah muktamad dan muktabar, diragukan ilmunya, padahal apa yang keluar dari mulut beliau semua bukanlah pendapat hawa nafsu belaka. Akan tetapi lahir dari sebuah ijtihad yang sangat panjang dan keras. Begitulah seorang ahli fiqih.

Seorang ahli fiqih sadar bahwa pendapatnya akan dipakai dan kemudian diamalkan oleh para muridnya dan siapa yang mendengarkannya. Kesadaran ini membuat mereka sangat berhati-hati, tidak asal memberikan pendapat. Maka yang keluar dari mulut beliau itu adalah hasil ijtihad yang memang hanya orang-orang semisal beliau yang mempu melakukan itu.

Mereka bekerja siang malam, malamnya tak tidur karena harus memikirkan masalah umat, siangnya pun tidak istirahat karena harus berijtihad dan melihat kondisi lingkungan untuk mengeluarkan sebuah hukum. Dengan kerja ijtihad yang keras dan panjang ini, apa masih diragukan?

Kalau kita buka kitab-kitab fiqih klasik, yang banyak ditulis oleh ulama-ulama salaf dari kalangan madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah setra Hanabilah, atau juga Zohiriyah dan Zaidiyah. Kita akan mendapati dalam lembaran-lembaran tersebut qoul (perkataan) para imam dan terkadang banyak sering tidak disertakan dalil.

Apa karena tidak disertakan dalil, lalu kita dengan bodoh menyimpulkan bahwa si Imam tersebut tidak mengikuti Quran dan Sunnah? Tentu bukan seperti itu, kita dengan keyaikan seratus persen bahwa pendapat yang ada dalam kitab-kitab fiqih klasik itu bukan lahir dari hawa nafsu, melainkan hasil ijtihad dan istimbath beliau dari sebuah teks syariah.

Ulama Salaf 4 Madzhab Berdalil

Dan memang begitu ulama-ulama salaf kita. Dalam kitab-kitab Hanafiyah, kita akan banyak mendapati bahwa Imam Abu Hanifah berdalil dengan Qoul(perkataan)-nya Hammad dan 'Alqomah, guru beliau dari kalangan tabi'in tanpa disertakan dalil dari al-Quran serta hadits. Dan tidak jarang bahwa Hammad juga berdalil dengan qoul gurunya, yaitu sahabat Ibnu Mas'ud ra.

Begitu juga ulama-ulama kalangan Hanafiyah yang berdalil dengan qoul Imamnya, Imam Abu Hanifah An-Nu'man tanpa disertai dalil Quran dan Sunnah. Termasuk juga berdalil dengan qoul sahabat beliau, yaitu Abu Yusuf atau Muhammad.

Itu yang akan kita dapati dari kitab-kitab mereka seperti Al-Mabsuth li Sheikh Al-Sarakhsyi, atau Al-Durr Al-Mukhtar serta Radd Al-Muhtar, atau Fathul-Qadir karya Ibnu Al-Hammam. Begitu juga Tuhfatul-Fuqoha' karya Imam Al-Sanarqandi yang kemudian di-Syarah oleh menantunya Imam Al-Kasani dalam Bada'i Al-Shona'i.

Dalam kitab-kitab Malikiyah, kita pasti mendapati ulama dari kalangan madzhab tersebut berdalil hanya dengan qoulnya Imam Malik bin Anas tanpa disertai ayat atau hadits. Seperti Sheikh Al-Dusuqi dalam hasiyah-nya. Lalu ulama setelahnya mengikuti itu, berdalil dengan qoul Imamnya sendiri atas hukum dari sebuah masalah.

Begitu yang kita akan dapati dalam kitab-kitab mereka, seperti Al-Taaj wa Al-Ikliil, atau Al-Mudawwanah yang berisi fatwa-fatwa Imam Malik bin Anas. Hasiyah Al-Dusuqi, begitu juga Hasyiyah Al-Dardiir, dan beberapa kitab lainnya.

Dalam kitab-kitab Syafi'iyyah, pasti kita akan mendapati bahwa ulama kalangan madzhab tersebut berdalil dengan qoulnya Imam Syafi'i saja tanpa ayat dan hadits. Sebut saja Al-Hawi Al-Kabiir karya Imam Al-Mawardi, dan juga kitab-kitab lainnya seperti Al-Muhadzdzab karya Imam Al-Syairozi dan juga kitab syarahnya Al-Majmu' karya Imam Nawawi. Begitu juga Mughni Al-Muhtaj karya sheikh Al-Khatib Al-Syarbini dan juga kitab yang lainnya.  

Kita akan mendapati dalam kitab-kitab tersebut bahwa ulama berdalil dengan qoulnya Imam Syafi'i. bahkan tidak jarang mereka juga berdalil dengan perkataan sahabat yang sekaligus murid Imam Syafi'i, yaitu Imam Al-Muzuni. Begitulah ulama fiqih salaf.

Dalam kitab-kitab Hanabilah, kita akan mendapati mereka berdalil dengan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan tidak jarang Imam Ahmad sendiri berdalil dengan perkataan gurunya, yaitu Imam Syafi'i.

Begitu seterusnya yang akan kita dapati dalam kitab-kitab mereka seperti  
Al-Inshaf karya Imam Al-Mardawi dan juga Kasysyaful-Qina' karya Imam Al-Buhuti. Serta Al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.

Lalu tiba-tiba datang sekelompok orang dengan gagah berkata: "Apa Dalilnya?". Sekelompok orang yang sama sekali tidak tahu bagaimana sebuah ilmu itu diwarisi dan turun menurun.

Kalaupun disediakan dalil untuk mereka, apa mereka bisa mengambil sebuah kesimpulan (Istidlal) hukum dengan metode yang tela disepakati oleh ulama?

Harus Adil Bertanya

Kalau dalam masalah hukum fiqih, kita selalu meminta "Mana dalilnya?", karena khawatir itu pendapat yang tidak berdasar, lalu kenapa tidak kita minta dalil kepada semua ilmu agama ini. Ilmu hadits contohnya.

Kenapa ketika Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim mengatakan bahwa hadits ini shahih, kita langsung menerima begitu saja? Kenapa tidak kita menanyakan apa dalilnya Imam Bukhori dan Imam Muslim mengatakan bahwa hadits ini shahih?

Kenapa dengan yakin sekali kita bisa menerima dan mengatakan shahih semua hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim? Kenapa sisi kritis kita hilang, tidak seperti ketika ulama fiqih mengutarakan pendapatnya?

Bukankah Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim itu juga manusia yang bisa salah dalam menilai sebuah hadits? Kenapa?

Karena kita tidak tahu! Karena memang tidak tahu, kita percaya kepada mereka yang tahu dalam hal itu dan kita terima, Imam Bukhari dan Muslim sudah sangat mumpuni dalam bidang hadits dan tahu bagaimana meniliti sanad sebuah hadits.

Begitu juga ulama fiqih, kalau memang tidak tahu, ya ikuti mereka yang tahu, jangan berlaga seperti orang yang paling mengerti fiqih, sehingga siapa saja ditanya apa dalilnya.

Karena sejatinya, ketika seorang bertanya "apa dalilnya?" kepada ulama, itu berarti kita sudah tidak percaya dengan keilmuannya. Kita sudah memberikan label cacat kepada kapasitasnya sebagai ulama tersebut. Termasuk jika kita bertanya kepada seorang sheikh yang memang sudah mumpuni dalam bidangnya.

Kalau kapasitasnya sebagai ulama sudah cacat di mata kita, tapi kenapa kita masih mengambil ilmu dari beliau? Kalau memang mereka sudah cacat, ya tinggalkan saja. Lalu ber-Istidlal saja sendiri.

Yang jadi pertanyaan: "Apakah kita mampun ber-Istidlal dengan dalil yang ada, sebagaimana ulama-ulama salaf ber­-Istidlal?" Kalau tidak bisa, kenapa harus merepotkan diri sendiri bersusah payah bergaya sok ulama?!

Wallahu A'lam
 

Fiqih Dulu dan Sekarang

Dulu, pertama kali belajar fiqih itu memakai kitab Safinatu-Naja, kitab Fiqih Syafi'i yang bisa dibilang sangat tipis. Memulai belajar dari ustadz di pengajian kampung, belajar sejak umuran SD yang ketika itu sama sekali tidak mengerti apa itu Ikhtilaf dan juga dalil.

Kemudian mulai masuk pesantren, kitab fiqih yang diajarkan pun mulai naik level. Dari mulai kitab Fathul-Qarib Syarhu Matni Al-Ghoyah wa Al-Taqrib, karya Sheikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi. Ini kitab fiqih standarnya pesantren-pesantren di seluruh Indonesia.

Fathul-Qarib beres,masuk jenjang yang lebih elegan, mulailah belajar kitab Fathul-Mu'in karya Sheikh Zainuddin Al-Malyabari. Masih dengan diselingi mempelajari Kifayatul-Akhyar, sambil sesekali menengok kitab lain lain, semisal Fathul-Wahhab, atau juga Nihayatu-Zein karya Imam Al-Nawawi Banten.

Dan kesemuanya itu kitab fiqih madzhab Syafi'i karena memang begitu standar pembelajarn fiqih di Indonesia, harus dimulai dengan madzhab mayoritas penduduk setempat. Dan sepertinya kitab-kitab tersebut di atas memang kitab yang menjadi standar di seluruh lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan fiqih untuk peserta didiknya.

Makin tinggi level pendidikan, makin banyak pula kitab yang dikaji, Mughni Al-Muhtaj, Al-Muhadzdzab dan juga Al-Majmu' karya Imam Al-Nawawi, terus meningkat begitu sampai akhirnya masuk kampus dengan bidang studi yang sama, Fiqih Perbandingan Madzhab [مقارنة المذاهب الفقهية].

Dari dulu belajar kitab-kitab fiqih, yang didapati dalam lembaran-lembaran ilmu itu berupa riwayat-riwayat pendapat (Qoul) imam madzhab tentang hukum masalah, disertai juga beberapa pendapat sahabatnya dan juga muridnya. Dan tentu (biasanya) diakhiri dengan pendapat penulis.

Itu yang kita dapati selama ini dari kitab-kitab salaf tentang hukum fiqih. Bukan tidak ada dalil dari Al-Quran dan Sunnah, tapi ada dan pasti ada. Hanya memang pendapat-pendapat lebih banyak dituliskan disitu, dan juga disertai sudut pandang serta cara seorang ulama fiqih ber-istidlal mengambil kesimpulan sebuah hukum.

Tapi anehnya, justru artikel-artikel yang berlabelkan fiqih zaman sekarang berbeda dengan apa yang dipraktekkan oleh ulama fiqih terdahulu. Yang ada sekarang justru sebaliknya, lebih banyak ayat dan hadits yang dituliskan, hampir setiap baris ada haditsnya.

Dan penulis sering bingun ini artikel fiqih atau artikel hadits, membahas hukum fiqih tapi tidak menyertai pendapat para ulama fiqih dari madzhab masyhur, hanya menguraikan saja hadits-hadits terkait. Malah tidak jarang yang justru membahas derajat hadits dengan menguraikan status fulan bin fulan.

Bukan Hanya Dalil, tapi Bagaimana Ber-istidlal

Sayangnya, dan sangat disayangkan sekali bahwa artikel itu tidak sekalipun mengutip pendapat ulama fiqih dari salah satu madzhab, hanya pendapat pribadi yang entah mengambil dari mana kemudian menuliskan satu dua hadits dan tidak dijelaskan bagaimana Taujiih-Dalilnya. Tiba-tiba mengeluarkan sebuah hukum.

Padahal yang terpenting dalam sfiqih itu ialah bagaimana cara meng-istimbath sebuah hukum dari teks syariah, bukan seberapa banyak teks syariah itu tapi malah bias apa yang dimaksud dan dikandung dalam hadits atau ayat tersebut.

Karena itu tugas utama seorang faqih, yaitu mengambil kesimpulan dari teks-teks syariah yang ada, baik itu al-Quran atau juga hadits Nabi saw. Dan bukan menuliskan hadits sebanyak-banyaknya tanpa tahu bagaimana caranya ber­-istidlal dengan itu semua.

Kalau hanya mengumpulkan hadits dan ayat yang berkaitan, tanpa tahu bagaimana mengetahu kandungan dan makna dibalik hadits atau ayat, semua orang mampu melakukan itu. Tapi yang mempu mengetahui Madlul ayat dan hadits selain Manthuq-nya, itu yang menjadi tugas seorang ahli fiqih, dan tidak semua orang mampu melakukan itu.

Karena memang begitulah ilmu fiqih, sebagimana definisinya yang telah disepakati oleh ulama:
الْعِلْمُ بِالأْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيلِيَّةِ
"Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil (istimbath) dari dalil-dalil secara rinci,"  

Di situ ada poin Al-Muktasab yang diartikan dengan "diambil" atau "di-istimbath". Poin ini memberikan gambaran bahwa orang ahli fiqih haruslah seorang yang cerdas, dan bukan yang hanya memahami dalil dari terjemahan belaka kemudian memberanikan diri untuk berfatwa tanpa mengerti bagaimana caranya beristimbath dan mengambil kesimpulan hukum dari sekian banyak dalil, bukan hanya satu dalil.

Menikah Dengan/Tanpa Wali

ini yang membedakan fiqih dengan lainnya. Sebut saja masalah menikah dengan atau tanpa wali yang menjadi perbedaan antara jumhur (mayoritas) dengan ulama Hanafiyah. Dalilnya satu, tapi Taujiih Dalil­-nya yang berbeda.

Kedua kubu sama-sama berdalil dengan ayat yang sama, yaitu ayat 332 surat Al-Baqarah:
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ
"Dan jika kalian telah mentalak istri-istri kalian, lalu masa telah sampai (selesai) masa ('Iddah)-nya, janganlah kalian halangi mereka untuk menikahi (calo-calon) suami mereka"

Kata jumhur ulama, menikah harus dengan wali karena ayatnya jelas seperti diatas, Allah swt melarang para wali untuk menghalangi para wanita yang dibawah perwalian mereka untuk menikah lagi. Buktinya Allah menggunakan kata larangan dengan bentuk Plural Mudzakkar: [فلا تعضلوا] "jangan kalian halang-halangi". Kalau menikah itu boleh tanpa wali, pastilah larangannya tidak ditujukan dengan redaksi Plural/jama' mudzakkar seperti itu.

Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kalangan Hanafiyah, justru ayat ini adalah bukti bahwa menikah boleh tanpa wali, karena dalam ayat ini Allah swt menisbatkan pernikahan itu sendiri kepada para wanita dengan redaksinya [أن ينكجن] "untuk mereka menikah". Dan redaksi itu dalam bahasa Arab jelas ditujukan kepada wanita, bukan kepada laki-laki yang menjadi walinya.

Siapa Yang Lebih Baik, Kita atau Mereka?

Jadi beginilah fiqih, yaitu bagaimana beristimbath, bukan bagaimana mengumpulkan hadits sebanyak-banyaknya.

Lalu jika kita dapati dalam kitab-kitab fiqih hany pendapat dan pandangan tanpa disertai dalil, itu bukan karena para ulama tidak tahu dalil. Justru mereka jauh lebih paham daripada kita yang membaca.

Mereka mengajarkan kita bahwa memang orang awam hanya mengikuti (Taqliid) saja. Dan hendaknya kita cukup percaya apa yang dikatakan oleh ulama dalam kitab-kitab mereka, karena memang tugas mereka seperti itu. Dan mereka tidak mungkin mengambil sebuah kesimpulan hukum dari hawa nafsunya, karena mereka sadar apa yang mereka tulis akan diikuti dan pasti diminta pertanggungjawabannya oleh Allah swt kelak di akhirat nanti.    

Para ulama sudah barang tentu mengambil kesimpulan dari hadits karena memang mereka mempunyai kemampuan untuk itu. Kita hanya mengikuti selama memang kita bukan golongan mujtahid. Jadi terima saja dan jalani, bukan terus-terusan meminta dalil. Apakah kalau sudah ada dalil kemudia kita mampu ber-Istidlal dari dalil tersebut?

Kalau kita ber-istidlal, yakinkah kita kalau apa yang kita hasilkan dari otak kita terhadap teks syariah itu benar? Yakinkah kita bahwa apa yang dihasilkan oleh pemikiran ulama fiqih terhadap sebuah teks syariah itu tidak jauh lebih baik dari apa yang kita hasilkan?

Wallahu A'lam
 

Mayit Diadzab Karena Tangisan Keluarganya, Benarkah?

Kalau kita membuka kitab hadits (saja), kita akan menemukan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibn Umar ra yang mengatakan bahwa mayit diadzab: 


 الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ
"Mayyit itu diazdab dengan tangisan keluarganya"

Dan status hadits ini ialah hadits shahih, diriwayatkan oleh Syaikhoni (2 Imam Hadits); Imam Al-Bukhori dalam Kitab shahihnya (no. 3681) dan juga Imam Muslim dalam kitab shahihnya pula (no. 1546).

Jadi kalau status hadits ini sudah tidak ada yang meragukan lagi ke-shahih-annya. Bahkan Imam Bukhori tidak menyebutkan hadits ini hanya sekali, hampir lebih dari 2 kali hadits ini terekam oleh beliau. Termasuk Imam Muslim yang menybutkan hadits ini lebih dari 4 kali dalam kitab shahihnya.

Kalau hanya memakai hadits ini satu-satunya, hukumnya sudah jelas, bahwa menangisi mayit itu sebuah keharaman dan berdosa. Karena sesuatu yang menimbulkan adzab itu pasti terlarang syariah. Jadi haram hukumnya menangisi mayit ketika meninggal atau bahwa sudah lama meninggal. Ingat! Itu kalau hanya memakai hadits ini.    

Lalu Apa Dosa Mayit Sehingga Diadzab Hanya Karena Ditangisi?

Ini yang menjadi pertanyaan, apakah benar mayit diazdab hanya karena ditangisi oleh keluarganya yang merasa sedih karena kepergiannya? Bukankah menangis dan tertawa itu hal yang wajar dari seorang manusia yang punya perasaan?

Padahal mayit tidak berbuat apa-apa, lalu kenapa diadzab dengan sesuatu yang tidak pernah ia perbuat?

Kalau demikian adanya, apakah masuk akal jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw menjadi sumber adzab bagi sahabat Utsman bin Madz'un, karena beliau saw menangis ketika mencium jenazah Utsman bin Madz'un ­–Na'udzubillah-.

Bahkan saking derasnya tangisan Nabi saw, air matanya sampai mangalir di pipi beliau dan menetes sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (no. 2750) dari istri beliau, Sayyidah 'Aisyah. Loh kalau begitu Nabi saw berbuat dosa dong? Bagaimana bisa?

Dan kalau memang begitu adanya, bahwa mayit itu diadzab karena tangisan kaluarga. Kalau begitu, apakah masuk akal kalau kita katakana bahwa Nabi juga diadzab di kuburnya –Na'udzubillah-.   

Karena ketika Nabi saw meninggal dunia, Abu Bakr menangis ketika mencium jenazah beliau saw, sebagaimana hadits sayyidah 'Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam shahihnya (no. 1165).

Apa mungkin seperti itu?

Tapi nyatanya dalam fiqih, tidak ada satu madzhab pun dari 4 madzhab fiqih yang masyhur yang mengatakan bahwa menangis atas meninggalnya seseorang bukanlah sesuatu yang diharamkan. Bersuara atau tidak bersuara dalam tangisnya tetaplah tidak diharamkan. (Al-Musu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 8/172)

Karena bagaimanapun, ini bertentangan dengan kaidah umum bahwa orang tidak akan menanggung dosa orang lain. Orang muslim menanggung dosanya sendiri, tidak orang lain, kecuali jika memang ia punya peran atas maksiat yang dilakukan orang lain itu.

Firmah Allah swt:
وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
"Seorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain" (Al-An'am 164) 

Atas dasar ayat ini juga 'Aisyah ra membantah keras bahwa mayit diadzab karena tangisan orang hidup. Bahkan beliau berani bersumpah bahwa Nabi saw tidak pernah mengatakan itu, sebagaimana terekam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim. 

فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَلَمَّا مَاتَ عُمَرُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ فَقَالَتْ يَرْحَمُ اللَّهُ عُمَرَ لَا وَاللَّهِ مَا حَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ الْمُؤْمِنَ بِبُكَاءِ أَحَدٍ وَلَكِنْ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ قَالَ وَقَالَتْ عَائِشَةُ حَسْبُكُمْ الْقُرْآنُ { وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى }

Ibnu Abbas berkata: "ketika Umar bin Khoththob meninggal dunia, aku katakan hadits ini (mayit diadzab karena tangisan keluarganya) kepada 'Aisyah, kemudia ia berkata: 'semoga Allah merahmati Umar. Demi Allah, Rasul saw tidak pernah mengatakan mayit diadzab karena tangisan keluarganya, akan tetapi beliau saw mengatakan: 'seorang Kafir ditambah adzabnya karena tangisan keluarganya', cukuplah bagimu ayat "Seorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain" (Al-An'am 164)'." (HR Muslim no. 1544, HR Al-Bukhari no. 1206)

Orang yang terdekat dengan Nabi saw saja berani bersumpah bahwa beliau tidak pernah mengatakan demikian. Sayyidah 'Aisyah melihat bahwa Rasul saw tidak mungkin mengatakan sesuatu yang menyelisih ayat yang sudah Qoth'iy. Karena itu juga beliau berani bersumpah. 

Terlebih lagi bahwa tangisan dan tertawa adalah sesuatu yang memang Allah anigerahkan untuk manusia, dan itu adalah hal yang wajar. Wajar manusia tertawa bila senang, dan wajar manusia menangis jika ia sedih.

Untuk Orang Kafir

Kalau melihat bantahan yang dijelaskan oleh sayyidah 'Aisyah di atas, kesimpulan yang bisa diambil ialah bahwa yang diadzab oleh Allah swt karena tangisan keluarganya ialah mayitnya orang non-muslim, mayitnya Kafir.
Kemudian ini nuga dikuatkan oleh riwayat Imam Al-Turmudzi dalam kitab sunannya, beliau meriwayatkan perkataan sayyidah 'Aisyah: 

إِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ مَاتَ يَهُودِيًّا إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ وَإِنَّ أَهْلَهُ لَيَبْكُونَ عَلَيْهِ

"sesungguhnya Nabi saw berkata kepada seseorang yang meninggal dalam keadaan yahudi, sesungguhnya mayit orang yahudi ini diazab, dan kemudian menangisi itu" (HR Turmudzi no. 925)

Tidak Menjawab Persoalan

Akan tetapi, perkataan sayyidah 'Aisyah juga tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang selama ini kita gantungkan, bahwa benarkah mayit muslim diadzab karena tangisan keluarganya yang hidup.

Karena bagaimanapun orang yang meninggal dalam keadaan tidak Islam, entah itu ia meninggal dalam keadaan Nasrani, Yahudi atau agama lainnya, sudah pasti diazdab. Dan mereka diadzab bukan karena tangisan keluragnya, tapi mereka semua diadzab karena kekafiran mereka.

Ditangisi atau tidak, orang yang meninggal dalam keadaan kafir, pasti diadzab. Dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan tangisan, ini yang dijelaskan oleh Imam Syafi'i dalam kitabnya Ihktlaaf Al-Hadits [اختلاف الحديث], yang memang berisi penjelasan atas hadits-hadits yang saling berselisih makna dengan hadits atau ayat lain.

Walaupun dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa orang kafir ditambah adzabnya karena tangisan keluarga, akan tetapi maknanya jelas bahwa ia diadzab bukan karena tangisannya, tapi karena kafir-nya itu. Dan tangisannya menambah adzab yang diserita. (Ihktilaaf Al-Hadits 8/648)

Begitu juga Imam Ibnu Qutaibah Al-Dinawari dalam kitabnya Ta'wiil Mukhtalaf Al-Hadits [تأويل مختلف الحديث], beliau juga mengatakan bahwa yang namanya orang kafir sudah jelas, bagaimanapun meninggalnya, apapun yang terjadi setelah ia meninggal, ia akan diadzab, dan itu pasti. Ditangisi atau tidak, yang namanya kafir pasti terkena adzab. (Ta'wiil Mukhtalaf Al-Hadits 362)

Artinya bahwa memang masih belum terjawab, apakah benar seorang mayit diadzab karena tangisan keluarganya yang hidup?

Wasiat Menangis, Kebiasaan Orang Jahiliyah

Nah, itu tadi kalau memang kita hanya kembali ke hadits saja, tidak menoleh kepada para ulama Fiqih, apaka kata mereka semua tentang masalah ini. Dan harus diketahui juga bahwa Ahli Hadits bukanlah Ahli Fiqih.

Masalah hukum, kembalinya ke ulama fiqih bukan ulama hadits, karena masing-masing mempunyai jobdesk yang berbeda. Hadits demikian, tapi ulama fiqih bisa punya pendapat yang berbeda. Karena ulama fiqih tidak berhukum hanya dengan satu hadits atau satu ayat.

Di atas meja seorang faqih berserakan puluhan bahkan ratusan ayat dan hadits ketika beliau memulai memindai sebuah hukum dari teks-teks syariah. Dan bukan hanya bersandar dari satu hadits saja kemudian beliau berfatwa. Bukan seperti itu.

Kalau kita membuka kitab-kitab Fiqih dalam perkara ini, kita akan mendapati bahwa tidak ada satu madzhab pun yang mengatakan bahwa menangis atas kematian seorang kerabat atau salah satu keluarga bukanlah sesuatu yang diharamkan. 

Sedangkan hadits di atas yang secara tekstual mengatakan bahwa mayit diadzab karena tangisan orang yang hidup, itu dikatakan oleh Nabi saw karena melihat bahwa ada kebiasaan orang saat itu yang mewasiatkan kepada keluarga dan kerabatnya untuk menangisinya ketika ia meninggal.

Ini kebiasaan Arab Jahiliyah yang memang suka sekali dengan kebanggaan dan pamer di depan kabilah yang lain bahkan sampai ia meninggal dunia, masih saja ingin dipuja dan dipuji. Karena itu banyak dari mereka yang mewasiatkan untuk ditangisi, agar nantinya orang yang melihat orang yang menangis itu menganggap bahwa si mayit yang ditangisi itu memang orang yang dicintai dan diagungkan, sehingga meninggalnya menjadi sebuah kesedihan yang sangat bagi mereka keluargnya atau kerabatnya.

Jadi mayit yang diadzab karena tangisan keluarganya itu ialah mayit yang memberikan wasiat, mayit yang meminta ditangisi dan kemudian ditangisi. Karena itu ia diadzab dan yang menangisi pun berdosa karena telah berskongkol dalam sebuah kemaksiatan.

Ini yang dijelaskan oleh para Fuqoha' 4 madzhab fiqih yang mayhur dalam kitab-kitab mereka. Seperti Imam Ibnu Nujaim dari Hanafiyah dalam kitabnya Al-Bahru Al-Raaiq [البحر الرائق] (2/207), dan juga Imam Muhammad bin Yusuf Al-'Abdari dari Malikiyah dalam kitabnya Al-Taaj wa Al-Ikliil [التاج والإكليل] (3/78), juga Imam An-Nawawi dari Syafiiyah dalam kitabnya Al-Majmu' [المجموع] (5/308), serta Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dari Hanabilah dalam kitabnya Al-Mughni [المغني] (2/408).

Jadi mayit yang diadzab itu mayit yang ketika hidupnya mewasiatkan untuk ditangisi, sedangkan jika ia tidak mewasiatkan apa-apa ya tidak diadzab. Karena bagaimanapun manusia itu punya perasaan sedih dan memang itu yang Allah swt berikan kepada mereka sebagai tabiatnya, bisa senang bisa sedih.

Wallahu A'lam.
 

Babi, Najis atau Tidak?

Orang Indonesia sangat kental sekali dengan wawasan-wawasa  Fiqih ke-syafiiyah-an, karena memang sejak awal, materi yang didapat dan diajarkan itu ditransfer oleh guru-guru kita yang memang bermadzhab syafi'i. dan memang Islam masuk ke Indonesia, dibawa (kebanyakan) oleh ulama-ulama sufi bermadzhab fiqih syaf'i.

Jadi memang wawasan fiqih syafi'i jauh lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia lebih daripada wawasan fiqih madzhab lain, seperti Hanafi, Maliki atau juga Hanbali. Contohnya: Orang Indonesia kenalnya puasa syawal 6 hari itu sunnah, padahal Maliki dan Hanafi bilang itu Makruh. Ada lagi, kalau adzan Jumat itu dimulai setelah masuk waktu zuhur, padahal buat kalangan Hanbali adzan Jumat boleh saja dimulai sebelum masuk waktu zuhur.

Karena itu juga, orang Indonesia lebih kenal babi itu sebagai najis besar (Mugholladzoh) yang harus dihindari, karena memang sejak awal masuk pengajian ustadz-ustzad selalu menjadikan babi korban "bully", najis besar.

Masalahnya karena babi selalu saja dikelompokan bersama anjing yang memang najis besar, menyentuhnya najis harus bersuci 7 kali dengan debu salah satu cuciannya. Padahal Imam Maliki punya pandangan bahwa anjing dan babi itu suci ketika masih hidup.

Dan kalau kita teliti ternyata yang ada dalilnya itu hanya kenajisan anjing, yang dalam disebutkan bahwa jilatan anjing itu jika terkena bejana atau anggota tubuh maka bagian yang terkena itu dicuci sebanyak 7 kali, salah satunya dicampur dengan debu.

Dan tidak ada dalil kenajisan babi, kalau dalil keharaman makan dagingnya, iya itu ada. Jelas ada! Dan semua madzhab menyepakati itu. Kalau kenajisannya, nanti dulu. Tidak ada dalil yang jelas untuk itu.

Jadi apa dosa babi sehingga disebut-sebut sebagai najis?

Bahkan Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu' (2/658), yang merupakan kitabnya madzhab Syafi'i (walau bukan satu-satunya yang mu'tamad), beliau mengatakan:
وَلَيْسَ لَنَا دَلِيلٌ وَاضِحٌ عَلَى نَجَاسَةِ الْخِنْزِيرِ فِي حَيَاتِه
"Dan kami tidak punya dalil yang jelas atas kenajisan babi ketika hidupnya"  

Sedangkan ayat 145 surat Al-An'am yang mengatakan bahwa babi itu [رجس] Rijs (Najis), itu Muhtamal (ada kemungkinan tafsir lain) berbeda. Karena dalam ayat disebutkan Lahm Al-Khinziir [لحم الخنزير] (Daging Babi).

Ulama memperdebatkan apakah kata [رجس] Rijs (Najis) itu kembali ke Lahm (daging), atau kembali ke Khinziir (babi) itu sendiri. Kalau kembali ke daging, maka yang najis itu dagingnya saja, haram dimakan. Adapun ketika ia masih hidup ya tidak najis. Tapi kalau kembali ke babi itu sendiri, maka konsekuensinya babi itu seluruhnya najis, hidup atau mati.

Karena memang dalil yang digunakan itu ada Ihtimal (ada kemungkinan), maka tidak bisa dijadikan hujjah/dalil. Dan itu sudah menjadi kaidah dalam ilmu ushul bahwa teks syariah yang ada punya kemungkinan-kemungkinan tidak bisa dijadikan dalil. Dalil haruslah dari teks syariah yang tidak multi tafsir.  

Mafhum Al-Muwafaqah

Dalil yang digunakan oleh sebagian ulama syafi'iyah untuk menjadikan babi itu najis ialah [القياس الأولوي] Al-Qiyaas Al-Awlawi, atau yang biasa juga disebut dengan istilah Mafhuum Al-Muwafaqah [مفهوم الموافقة].

Babi tidak ada dalilnya yang mengatakan itu najis, maka karena tidak ada, disandingkan dengan anjing yang ada dalil kenajisannya. Kalau anjing yang seperti itu najis dan najisnya besar, maka jauh lebih najis babi karena ia jauh lebih buruk keadaannya daripada anjing, dan jauh lebih jorok. Anjing sering menjulurkan lidahnya dan mencecerkan liurnya, dan itu jorok sekali, babi jauh lebih jorok daripada itu.

Dan terlebih lagi bahwa babi termasuk hewan yang diperintahkan dibunuh jika memang keberadaannya membahayakan. Itu yang sering kita dapati dari kitab-kitab syafi'iyah.
Maka kalau kita buka kitab-kitab Syafi'iyah, selalu redaksi yang muncul untuk mengatakan najisnya babi ialah: [لأنه أسوأ حالا من الكلب] Liannahu Aswa'u Haalan minal-Kalbi (Karena babi jauh lebih buruk keadaannya daripada anjing).

Dan  [القياس الأولوي] Al-Qiyaas Al-Awlawi, atau yang biasa juga disebut dengan istilah Mafhuum Al-Muwafaqah [مفهوم الموافقة] ini termasuk sumber dalil yang dipegang kuat oleh ulama syafiiyah, walaupun bukan sumber hukum yang muttafaq (disepakati),  sebagaimana ulama-ulama Maliki yang memegang kuat 'Amal Ahli Madinah (pekerjaan penduduk Madinah) sebagai sumber dalil setelah Al-Quran dan Sunnah Mutawatirah.

Wallahu A'lam  
 

Belajar Adab dari Imam Ibnu Rusyd

Orang yang menekuni bidang studi syariah, atau lebih spesifik lagi, ia menekuni bidang fiqih perbandingan madzhab, pastilah ia mengenal kitab Bidayah Al-Mujtahida wa Nihayah Al-Muqtashid [بداية المجتهد ونهاية المقتصد] karangan Imam Imam Ibnu Rusyd Al-Qurthubi Al-Andalusi (595 H).

Bahkan bukan hanya tahu ada kitab itu, akan tetapi ia mempelajarinya dan membukanya lembar per-lembar, halaman per-halaman dan membacanya. Sepertinya itu sebuah hal yang pasti bagi para pelajar atau mahasiswa syariah, khususnya bida studi fiqih perbandingan madzhab.

Karena memang kitab Imam Ibnu Rusyd, walaupun beliau bermadzhab Fiqih Maliki, beliau tidak hanya menyediakan pendapat-pendapatnya sebagai bagian dari punggawa ulama-ulama Malikiyah, akan tetapi beliau uraikan semua pendapar madzhab, dari Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyyah, Zohiriyah, Zaidiyah, dan Hanabilah. Bahwa pendapat-pendapat para madzhab fiqih sahabat serta Tabi'in pun dimuat dalam kitabnya ini, seperti sayyidah 'Aisyah, sahabat Ibn Mas'ud, sahabat Ibnu Umar, sahabat Ibn Abbas. Kalau dari kalangan Tabi'in ada Hammad bin Abi Sulaiman, Ibrahim Al-Nakho'i dan juga Ibnu Abi Laila serta yang lainnya.

Jadi setiap kali beliau memulai penjabaran masalah, beliau juga mengurai pendapat masing-masing madzhab. Kemudian beliau menarik benang merah perbedaan antara madzhab-madzhab tersebut, "Apa sih yang membuat mereka berbeda pendapat?", sehingga orang yang mempelajarinta tahu sumber masalah, kamudian barulah beliau mengurai dalil masing-masing madzhab.

Dan kalau ada orang yang mengaku mempelajari fiqih, dan menekuninya, aneh kalau ia tidak mengenal dan tidak mempelajari kitab ini. Karena bagaimanapun, kitab ini dipelajari dan menjadi muqorror resmi semua fakultas syariah di sejagad raya ini. Apapun negaranya, kalau itu fakultas syariah studi Fiqih, pastilah kitab ini yang dipakai.

Faidah

Dengan kitab ini, sejatinya orang mempelajarinya paham dan mengerti dan mendapat setidaknya 4 faidah:
·         Pendapat masing-masing madzhab
·         Benang merah perbedaan
·         Dan dalil masing-masing madzhab
·         Wijhat Nadzor (sudut pandang) seorang faqih (ahli fiqih) dalam menyimpulkan hukum dari sebuah teks syariah
Dan memang 4 poin ini yang mnejadi bekal utama seorang ahli fiqih, baik mereka yang mau berijtihad atau juga mereka yang sudah dalam taraf mujtahid.

Semua itu yang memang jelas akan didapatkan oleh seorang pembelajar kitab Imam Ibnu Rusyd ini. Tapi ada satu poin lagi yang Imam Ibnu Rusyd ajarkan dalam kitabnya, namun sayang banyak yang tidak menyadari. Dan –Alhamdulillah­- penulis punya guru yang memapu menyadarkan poin itu untuk kami.

Beradab Adabnya Ulama

Yaitu poin Adab yang selalu Imam Ibnu Rusyd gambarkan dalam setiap baris tulisan yang beliau tulis dalam kitabnya; Adab beliau sebagai ulama yang banyak orang mengambil ilmu darinya, dan adab beliau sebagai pembelajar juga penuntut ilmu yang mengambil ilmu dari ulama-ulama yang telah mendahuluinya.

Bidayatul-Mujtahid adalah kitab yang mengurai semua pendapat fiqih dari Imam dan madzhab-madzhab fiqih yang masyhur, tapi sepanjang telaah penulis yang minim ini, penulis tidak pernah mendapati Imam Ibnu Rusyd mendeskreditkan pendapat ulama lain atau madzhab lain yang bersebrangan dengan madzhab beliau; Maliki.   

Tidak pernah sekalipun Imam Ibnu Rusyd menyindir dan mencela pendapat madzhab lain yang itu bersebrangan dengan pendapat beliau. Dengan fair dan bijak beliau urai semua, beliau juga jelaskan kenapa fulan mengambil kesimpulan seperti itu dan beliau tidak menutupi.

Tidak [Pernah] Men-Tarjih

Dan di akhir pembahasan, tak sekalipun beliau melakukan Tarjih (proses pengunggulan) pendapat antar pendapat yang lain. Justru beliau malah membiarkan masalah begitu saja tanpa mengatakan bahwa yang satu lebih benar dari yang satu. Lihat bagaimana adab beliau kepada para ulama. Tak pernah menghina, tak pernah mencela.

Beliau sadar, beliau bukan satu-satunya ulama, beliau sadar besarnya jasa dan usaha ulama yang mendahuluinya dalam upaya mencerdsakan umat. Dan beliau sadar, beginilah fiqih yang tidak lepas dari perbedaan pendapat.

Satu-satunya masalah yang ia tarjih ialah masalah nabidz, yaitu perasan buah atau sejenisnya selain kurma dan anggur, yang kemudian menjadi barang yang memabukkan. Dalam masalah ini, jumhur ulama mengatakan itu tetap haram baik sedikit atau banyak, akan tetapi madzhab Hanafi tidak melihat itu sebagai keharaman kecuali jika itu memabukkan. Di sini Imam Ibnu Rusyd melakukan proses "pembelaan" untuk madzhabnya Malikiyah. Hanya masalah ini saja dari sekian ribu masalah yang ada dalam kitab beliau!

Lihat bagaimana adab seorang ulama besar seperti Imam Ibnu Rusyd, punya ilmu mumpuni akan tetapi tak sekalipun mendeskriditkan ulama lain. Tidak merasa benar, tidak meresa paling mengikuti Nabi saw.

Takut Ghibah

Tak bisa kita pungkiri bahwa dalam masalah fiqih, ada saja pendapat yang memang terkesan nyeleneh dan tidak masuk akal, bahkan tak berdasarkan dalil atau bahkan berdasar hawa nanafsu saja. Akan tetapi Imam Ibnu Rusyd tetap saja menaruh dan menulis pendapat tersebut.   

Tapi lihat bagaimana adabnya Imam Ibnu Rusyd! Setiap kali beliau menuliskan pendapat, beliau sandingkan pendapat itu kepada si empunya pendapat; Syafiiyah kah, Hanafiyah kah atau Zohiriyah kah. Tapi ketika ada pendapat yang nyelenah, beliau menyebutkan itu tapi tidak beliau sandingkan kepada si empunya qoul, beliau hanya mengatakan [قال به قوم] Qoola bihi Qoum (Ini pendapatnya salah satu kaum), atau [ذهبت إليه طائفة] Dzahabat Ilaih Thoifah (ini pendapat salah satu kelompok).

Beliau tidak sandingkan si empunya qoul, karena beliau sadar, ini pendapat yang kurang masuk akal dan agak jauh dari dalil,, kalau disebutkan juga si empunya, baliu takut jatuh pada dosa Ghibah.

Beliau seperti ini, tidak lain karena memang mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Imam-imam Madzhab sebelumnya, yang memang tak sekalipun menghina atau mencela ijtihad ulama lain. Semua saling menghargai dan saling menutupi aib, bukan malah menghamburnya agar diketahui oleh orang lain.

Tapi kita lihat sekarang justru kebalikannya, banyak orang yang mengaku pelajar syariah, tapi justru malah saling menghina dan lempar hujatan. Ketika menuliskan sebuah masalah hukum syariah pun tidak jahu beda. Mereka menganggap bahwa hanya pendapat dia yang benar dan yang lain salah, dan tidak boleh mengikuti selain pendapat dia. Kemudian habis-habisan mneghujat pendapat orang lain dengan menuduhnya sebagai orang yang tidak mengerti sunnah.

Lalu dimana adab seorang penuntut ilmu? Bukankah ulama salaf kita; Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik bin Anas (179 H), Imam Syafi'i bin Idris (204 H), dan juga Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) tidak pernah mengajari menghina dan mencemooh pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya?

Lalu yang biasa menghina dan meresa benar sendiri, belajar dari mana?

Wallahu A'lam  
 

Imam Madzhab Dicela oleh Awam

Berikut beberapa contoh kasus dimana para Imam Madzhab sering sekali dicela dan direndahkan pendapatnya oleh beberapa orang yang memang mereka tidak mengerti sama sekali bagaimana seorang Faqih memindai suatu hukum masalah dari dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah. 

Puasa 6 Hari Syawwal

Penulis masih ingat sekali bagaimana marahnya beberapa orang yang merasa paham syariah karena ada sebagian orang menganggap bahwa puasa 6 hari syawal itu adalah Makruh.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa ini adalah pendapatnya Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki. Tapi kenapa mereka sebegitu marahnya dan habis-habisan mencela orang yang mengeluarkan statmen ini padahal ia hanya mengutip dan mengikuti madzhabnya Imam Malik. Itu saja! Lalu kenapa mereka marah?

Kemarahan mereka bukti bahwa mereka tidak mengerti. Mencela dan menghina pandapat kemakruhan puasa 6 hari syawal dan membicarakannya berhari-hari bukti bahwa mereka sama sekali tidak paham fiqih dan tidak menerima perbedaan itu sendiri.

Iya memang ada hadits yang menerangkan fadhilah itu, bahwa puasa syawwal 6 hari itu punya keutamaan seperti puasa sepanjang masa sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshori. Dan ini menunjukkan kesunnahan:

"barang siapa yang berpuasa ramadhan, kemudian di ikuti dengan 6 hari bulan syawal maka ia seperti puasa satu tahun penuh." (HR. Muslim)

Akan tetapi Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak memandang ini sebagai sebuah kesunahan, tapi malah menjadi sebuah kemakruhan. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bukan tidak tahu ada hadits ini. Dan mereka bukan tidak mengerti kandungan hadits ini, dan mereka pula sama sekali tidak mengingkari hadits ini.

Tapi harus diketahui bahwa hadits ini, jalur periwayatannya adalah Ahadd, yang dalam kaidah mustholah hadits, hadits ini hanya diriwayatkan oleh satu orang di masing-masing tingkatan sanad perawi.

Sedangkan Imam Malik sangat mengedepankan 'Amal Ahli Madinah (Pekerjaan Penduduk Madinah) dibanding hadits yang diriwayatkan oleh satu orang di masing-masing tingkatan sanad.

Kenapa demikian?

'Amal Ahli Madinah adalah sumber dasar syariah yang jauh lebih kuat dari hadits Ahaad, karena hadits Ahaad hanya diriwayatkan oleh seorang saja, sedangkan 'Amal Ahli Madinah memang tidak tertulis, tapi priwayatannya itu bukan dari seorang saja, akan tetapi seluruh penduduk Madinah. Dan penduduk Madinah bukan hanya satu orang.

Kita tahu bahwa memang syariah itu tumbuh pesat setelah hijrahnya Nabi saw dari Mekkah ke Madinah, tentulah banyak yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat ketika itu di Madinah, dan secara akal serta logika penduduk Madinah pasti akan mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat kalau memang itu sebuah ibadah, terlebih jika itu sebuah kewajiban. Dan kebiasaan itu pasti terus turun temurun diikuti oleh anak cucu mereka. Secara langsung bahwa 'Amal Ahli Madinah adalah menjadi sumber dalil yang kuat karena diriwayatkan oleh orang se-madinah.

Jadi mana yang lebih kuat? Hadits Ahaad yang hanya diriwayatkan oleh satu orang atau 'Amal Ahli Madinah yang diriwayatkan oleh orang satu negeri?

Dan masalah puasa syawal yang 6 hari itu tidak pernah dikerjakan oleh penduduk madinah. Setelah ber-ied Al-Fithr, penduduk madinah tidak ada yang sibuk berpuasa.dan Rasul berada di Madinah lebih dari 10 tahun, itu berarti penduduk Madinah sudah melewati bulan syawwal bersama Nabi saw lebih dari 10 kali. Tapi tidak ada dari mereka yang berpuasa.

Dan ini sebuah hal yang kurang dimengerti jika para sahabat melewati lebih dari 10 kali syawal tapi kenapa hanya ada satu sahabat yang meriwayatkan sunnahnya puasa 6 hari syawal.

Ini yang menjadi pegangan madzhab Maliki.

Sholat Tahiyatul Masjid Ketika Khotib Sedang Berkhutbah

Ini juga yang sering menjadi masalah, orang-orang sudah sering kali menganggap bahwa sunnah hukumnya mengerjakan sholat tahiyatul masjid walaupun Imam sedang diatas mimbar berkhutbah.

Ini didasari oleh hadits dari shahih Imam Bukhori dan Imam Muslim yang menceritakan bahwa sahabat Sulaik Al-Ghothofani terlambat datang ke masjid yang ketika itu Nabi sudah berada di atas mimbar berkhutbah, kemudian datang Sulaik yang langsung duduk akan tetapi Nabi menyuruhnya berdiri kembali dan sholat 2 rokaat. (HR. Bukhari no. 930 dan Muslim no. 875)

Ini yang dijadikan dasar oleh Imam Ahmad bin Hanbal (madzhab Hanbali) sebagai dasar kesunnahan tahiyatul-masjid walaupun Imam sedang berkhutbah. Dan ini yang kebanyakan orang tahu, sayangnya Cuma tahu satu pendapat saja. Padahal kaidah aslinya bahwa jika khotib sedang menyampaikan khutbahnya  maka tidak ada yang boleh dikerjakan kecuali diam dan mendengarkan.

Kemudian muncul pendapat dari Imam Malik dan Imam Hanafi yang mengatakan bahwa sholat sunnah ketika khutbah disampaikan adalah makruh hukumnya. Mulailah orang-orang yang tidak mngerti itu mencemooh dan mencela pendapat 2 Imam besar ini, dan menyangkanya tidak mengenal hadits serta tidak mengerti sunnah?!!!

Imam Malik dan Imam Hanafi bukannya tidak mengerti sunnah, tapi justru merekalah yang jauh lebih mengerti sunnah dibanding kita semua. Bagaimana bisa imam yang hidup di zaman keemasan ilmu dicela pendapatnya oleh orang yang hanya baru belajar 2 hari di zaman edan seperti ini?

Imam Malik dan Imam Hanafi melihat bahwa hukum asal seorang yang mendengarkan khutbah adalah diam, baik ia telah atau tidak masuknya ke masjid. Yang terpenting ketika khutbah sedang berlangsung, dia wajib diam dan wajib mendengarkan. Bukan sibuk sendiri dengan yang lainnya termasuk sholat.

Firman Allah swt:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

"dan jika dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah, dan diam" (Al-A'rof 24)
Dan ayat ini turun untuk perintah mendengarkan khutbah jumat dan memang turun ketika itu, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir yang diriwayatkan dari Imam Mujahid. (Tafsir Ibn Katsir 3/538) 

Jadi memang ini perintah yang jelas untuk diam dan mendenarkan khutbah ketika khotib sedang berarad di atas mimbar, karena memang apa ang dibacakan oleh Khotib tidak lain adalah ayat-ayat Quran, termasuk juga dilarang sholat. Karena sholat termasuk praktek yang membuat seseorang tidak bisa mendengarkan khutbah tersebut. Bagaimana bisa ia melakukan sebuah kesunahan dan menabrak sebuah kewajiban. Apakah kesunahan jauh lebih utama dari kewajiban?

Terkait hadits Sulaik Al-Ghothofani ini, harus diperhatikan lebih detail. Khutbah jumat itu disyariatkan setelah hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah. Berarti khutbah jumat ada sejak nabi berada di Madinah sampai wafat beliau, itu sama saja Nabi telah berkhutbah di depan para sahabat untuk sholat jumat lebih dari 500 kali.

Lalu yang 500 lainnya kemana? Kenapa hanya ada satu hadits dan itu pun 
hadits Ahaad,  yang menceritakan untuk itu? Apakah selama 500 lebih khutbah itu hanya Sulaik yang terlambat datang ke masjid? Kenapa tidak ada perintah yang sama kepada sahabat yang lain untuk itu?

Maka Imam Malik dan Imam Abu Hanifah melihat bahwa itu kejadian khusus yang hanya berlaku pada sulaik, dan tidak pada yang lainnya. Hukum khutbah tetap seperti asalnya yaitu wajib bagi makmum untuk diam dan mendengarkan. 

Terlebih lagi bahwa Zohir ayat Quran jauh lebih kuat dibanding hadits Ahaad.

Ingat!

Seorang faqih bukan seperti seorang Ahli hadits, keduanya punya jobdesk yang berbeda. Seorang faqih dalam menentukan sebuah hukum tidak cukup dengan satu ayat atau satu hadits, akan tetapi di atas mejanya telah terdapat ratusan ayat dan hadits yang berkaitan.

Bukan seperti orang-orang yang baru belajar satu hadits dari majlis mingguannya lalu dengan gaya layaknya orang yang sudah mempelajari ribuan hadits, ia menyalahkan ulama yang tidak sesuai dengan kandungan satu-satunya hadits yang ia pelajari.

Seorang faqih tahu dan mengerti bagaimana cara menerapkan dan mengambil kesimpulan sebuah hukum dari sebuah teks syariah. Jadi kalau ada pendapat ulama madzhab yang sekiranya tidak sesuai dengan hadits yang kita pelajari, bukan ulama tersebut yang tidak tahu, tapi ya kita harus sadar bahwa kita masih AWAM

Wallahu A'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger