Muhammad Al-Fatih 1453

Konstantinopel (Istambul) yang terkenal mempunyai tembok pertahan terkuat dan sulit ditembus selama lebih dari 11 Abad setelah berdirinya kota itu dibawah kekaisaran Byzantium akhirnya roboh juga dan bisa ditaklukkan tepat pada tanggal 29 Mei 1453 M ditangan pemuda berusia 21 tahun.

Ya dia adalah Sultan Mehmed Khan bin Murod, sang penakluk konstantinopel. Orang Turki memanggilnya dengan sebutan Fatih Sultan Mehmed, atau The Grand Turk Mehmet sebagaimana Eropa menjulukinya. Dan Islam mengenalnya dengan nama Muhammad Al-Fatih.


Ialah pemimpin pasukan Islam yang jauh sebelum kelahirannya didunia ini, Rasul Muhammad saw telah memberikan kabar gembira tentang adanya nanti pemimpin super tangguh lagi sholeh yang akan menaklukkan Konstatinopel bersama pasukan yang juga pasukan terbaik dalam sejarah Islam.

Dalam buku ini, Felix Siauw dengan sangat detail menggambarkan bagaimana panasnya dataran KOnstatinopel dan dinginnya Selat Boshporus pada saat itu yang dikepung selama 54 hari oleh pasukan Mehmed.

Dengan pemilihan kata yang sangat cerdas dan susunan kalimat yang apik, Felix berhasil membawa para pembaca bukunya ini kembali ke tahun 1453 dan seakan-akan berada di tengah-tengah pasukan Yeniseri dibawah komando Fatih Sultan Mehmed yang sangat berhasrat besar mewujudkan bisyaroh Rasul Muhammad saw sebagai pemimpn dan pasukan terbaik Islam.

Bukan hanya itu, buku ini juga menurut saya telah berhasil mentransfer semangat dan daya juang yang terus tumbuh dan sulit runtuh kedalam jiwa pembacanya. "See Beyond the Eyes can see". Melihat lebih daripada apa yang bisa dilihat oleh mata. Itulah sikap mental pemimpin yang sangat ditnjolkan oleh Sultan Mehmed dalam buku ini.  

Buku ini bukan hanya sekedar memberikan kita gambaran sejarah runtuhnya kekuasaan Byzantium tapi lebih dari itu, buku ini telah mengispirasi bagaimana seharusny seorang pemimpin itu mesti bersikap, baik kepada Tuhannya, Pasukannya, Mentrinya dan juga warganya sekalian.

Sejarah mencatat bahwa Sultan Mehmed lah satu-satunya pemimpin Islam yang ketika waftanya tahu 1481, seluruh Kristen Eropa merayakan dengan pesta semalaman suntuk. Karena buat mereka Mehmed adalah mimpi bahkan buat Eropa semua.

Jhon Freely, seorang sejarawan Eropa menuliskan bagaimana ketakutan Eropa akan serangan yang dilayangkan oleh Sultan Mehmed sebelum akhirnya Maut menjemput sang Sultan:
"sendainya ia hidup 2 tahun lagi, pastilah sudah tidak ada lagi Eropa dengan Kristennya".

Saya rasa buku ini layak dibaca oleh semua orang Muslim, khususnya para pemudanya. Keteladanan dan keperkasaan sang Sultan sebagai seorang penakluk dan juga hamba Allah yang taat mesri dijadikan sebagai sumber inspirasi membangkitkan lagi semangat ke-Islaman para pemuda. 
 

Penemu Kamera Pertama di Dunia itu Ilmuan Islam

Anda semua tentu tahu apa itu kamera atau bahkan mempunyainya. Alat jepret yang mengambil bayangan dan menyimpannya ini sudah bukan barang assign lagi bagi kebanyakan kita sekarang.

Kalau dulu alat ini masih berbentuk analog, yaitu kamera dengan roll film menjadi media penyimpanannya dan yang analog ini dulu sering disebut dengan kata 'Tustel'. Makin majunya teknologi fae analog telah terputus (walaupun masih ada yang memakai) dan sekarang berganti dengan digital.
Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak foto atau obyek yang kita ambil dan abadikan dengan alat ini. Dan semua sudah meresakan betapa manfaatnya alat kecil ini.

Tapi pernahkah terpikir oleh kita, siapa orang pertama yang menciptakan mesin jepret ini? Kalau pertanyaan ini dilayangkan, mungkin yang terbayang oleh kita ialah bahwa kamera ini diciptakan oleh ilmuan amerika, atau juga ilmuan Inggris, Ilmuan jepang, atau ilmuan-ilmuan dari Negara Eropa yang lain.

Tapi tahukah anda bahwa Kamera pertama kali diciptakan itu oleh ilmuan Iraq yang juga seorang Muslim; beliau adalah Abu 'Ali Al-Hasan bin Al-Haytham. Ilmuan kebanyakan menyebut dengan Ibnu Al-Haytham atau Ibnu haytham atau juga Al-Hazen.

Beliau lahir di Basra, Iraq pada tahun 965 M. keahliannya pada ilmu membawa ke Mesir untuk terus mencari dan menuntut ilmu dan akhirnya singgah di Al-Azhar. Beliau juga dikenal sebagai Polymath, yaitu istilah yang diberikan kepada mereka yang menguasai berbagai bidang ilmu.

Sejarah mencatat bahwa Al-Hazen adalah ilmuan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, dinataranya ialah falak, Matematika, geometri, pengobatan, Fisika dan juga filsafat. Serta disiplin ilmu optic yang membuatnya menciptakan kamera.

Prestasi bukan hanya sebagai pencipta kamera saja. Tapi masih banyak karya-karya beliau baik berupa buku-buku atau juga barang yang banyak memberikan inspirasi bagi para ilmuan setelahnya.
Ilmuan yang digelari sebagai "First Scientist" menciptakan penemuannya yang sangat fenomenal ini pada tahun 1020 M di Al-Azhar Mesir. Dan 19 tahun setelah penemuannya itu beliau meninggal dunia di kota yang sama, Mesir pada tahu 1039 M.

Dan kata kamera atau camera juga diilhami dari penemuan Al-hazen tersebut, karena beliau sendiri yang memberikan nama untuk alat ciptaannya itu dengan kata "Qumroh". Berasal dari kata "Qomar" dalam bahasa Arab yang berarti Bulan.

Dan memang karyanya ini terinspirasi oleh bulan itu sendiri. Qumroh pertama itu ialah sebuah kamar kecil yang semua sudutnya tertutup rapat tak ada cahaya sekali, hanya ada lubang kecil didepannya. Dan dengan lubang itu cahaya akan masuk kemudian menyimpan bayangan yang terbaya masuk oleh cahaya kedalam qumroh yang didalamnya sudah disediakna media untuk menyimpan bayangan tersebut.
Jadi ibarat bulan, yang ia bersinar ditengah kegelapan. Pun demikian qumroh yang gelap kemudian ada cahaya kecil yang masuk kedalamnya dan menyimpan obyek yang terbawa oleh cahaya tersebut.

Al-hazen menurut uang 10 Dinar
Iraq 1982
Banyak karya-karya dari Al-Hazen ini yang memberikan inspirasi dan modal dasar bagi para ilmuan setelahnya. Salah satunya yang paling masyhur ialah kitabnya yang bernama "Al-Manazhir", Orang-orang barat menyebutnya dengan "The Optics".

The Optics yang menyimpan banyak teori-teori ilmu tentang cahaya dan lensa juga penglihatan ini banyak dipakai di Universitas-Universitas Eropa dan bahkan menjadi materi wajib di banyak kampus di negeri Eropa.
Ini juga menjadi sanggahan bagi mereka yang selalu menyangka bahwa Islam adalah agama yang mundur dan terbelakang, tidak mendukung ilmu dan sains. Tapi sejarah mengatakan sebaliknya.

Sejarah telah menjadi saksi bahwa Islam adalah agama yang mendukung penuh majunya ilu dan teknologi. Tercatat banyak ilmuan-ilmuan yang muncul dari kalangan Muslim di berbagai bidang Ilmu. AL-Hazen hanya salah satunya.

Siapa selain Al-hazen? Anda akan kaget dan terkejut jika mengethauinya, rujuklah Buku "1001 Inventions: Discover Muslim Heritage In Our World"

 

Maulid atau Parede Sambutan?

Semalam (malam Kamis) kami, warga diundang oleh pengurus Rukun Tetangga (RT) yang juga merangkap menjadi pengurus Musholla setempat untuk menghadiri acar Maulid yang mereka selenggarakan.
Memang ini sebuah kebiasaan tiap tahun. Tapi saya tidak tahu apakah panitian kelupaan atan memang ketinggalan, tanggal maulid kan sudah lewat jauh.

Sejak sore hari jalan mulai ditutup, yang akhirnya membuat alur lalu lintas dialihkan ke gang-gang kecil (kebiasaan orang Indonesia; Potong-potong jalan). Panggung disiapkan, mayoritas warga (yang pada waktu itu ada dirumah) turun kejalan dimana perayaan Maulid akan digelar.

Undangan menyebutkan bahwa acara akan dimulia Ba'da Isya. tapi saya sendiri datang ke tempat acara sekitar pukul 21.00. agak lewat dikit tapi saya tidak salah toh itu juga masih dalam waktu ba'da Isya. Dan itu sengaja saya lakukan, berharap ketika datang saya langsung masuk ke acara intinya, yaitu ceramah sang ustazd. Jadi tidak perlu ikut pembukaan atau sejenisnya.

Dan saya juga hapal betul kebiasaan kebanyakan orang sini yang setiap bikin acara pasti waktunya "molor" dari waktu yang memang sudah mereka tentukan sendiri.
Benar saja, ketika saya datang, acara baru dibuka dengan pembacaan Barzanji yang diiringi oleh music rebana hadroh. Selesai hadroh saya pikir panitia akan langsung masuk keacara inti, yaitu siraman rohani dari sang ustazd, karena memang waktunya sudah agak malam; 21.15.

Harapan saya pupus, karena setelah tim hadroh turun sang MC meminta ketua panitia untuk memberikan sambutan sebagai pembuka acara juga. Waktu sudah menujukkan pukul 21.37 ketika ketua panitia turun dari panggung.

Dan harapan saya untuk segera naiknya sang ustazd kembali pupus karena setelah si ketua panitia, sekarang giliran tokoh Masyarakat yang memberika sambutan. Ya Allah….. kapan acara inti dimulai?
Sang tokoh masyarakat seperti memberikan ceramah bukan sambutan, karena beliau makan waktu cukup lama hingga selesai ketika jam menujukkan pukul 21.57. semua hadirin gusar, ada yang menguap karena mengantuk, ada juga bosen nunggu kapan sang ustazd naik panggung, padahal beliau ada disamping meja Panitia.

Ada juga yang melihat ke arah tidak tentu, kedepan, belakang, kiri dan kanan. Rupanya dia sudah tidak betah duduk ditengah-tengah para pendengar sambutan bertele-tele. Gelisah karena ia harus istirahat mengingat ia harus kembali kerja esok harinya, padahal ia sudah lelah seharian kerja tadi.

"kapan ustadznya nih? Dari tadi ni Maulid isinya sambutan mulu" kata salah seorang teman.

Rupanya panitia tidak juga mengerti situsi aundiens, berharap sang ustazd naik panggung eh panitia malah mempersilahkan sang Lurah untuk naik memberikan sambutan. Hadirin semakin gusar, beberapa dari mereka sudah meninggalkan tempat acara.

Yang parahnya lagi sang lurah memberikan sambutan bukan untuk acara Maulid ini, tapi malah membicarakan Pilkada yang akan digelar Juli nanti. Entah apa maksudnya. Yang paling menyakitkan lagi, setelah memberikan sambutan sang Lurah berawak Gendut itu langsung pulang meninggalkan tempat acara padahal sang ustazd belum naik. Alasannya "Ada urusan!". Jadi memang dia kesitu hanya untuk nyari simpati saja biar dibilang pemimpin yang cinta agama.  

Akhirnya setelah 3 sambutan yang tidak perlu (menurut saya) sang ustazd pun naik, dan itupun diselingi dulu dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Jadi tepat pukul 21.13 sang ustazd naik panggung.
Begitulah acara Maulid pinggiran Jakarta. Banyak waktu terlewatkan percuma hanya untuk sambutan-sambutan yang Cuma sebagai sarana "gagah-gagah-an" dari para tokoh. Semalam disini hanya 3 sambutan, mungkin kalau ditempat lain bisa lebih dari itu.

Waktu sambutan lebih banyak daripada waktu inti ceramahnya (acara selesai pukul 23.00). yang saya ketahui begitulah model acara Maulid atau acara-acara terbuka yang mengundang warga di sekitar pinggira-pnggiran Jakarta.

Sarana yang harus jadi tempat belajar dan menimba ilmu bagi para warganya, harus rela dipangkas jatahnya dan disisihkan untuk sambutan-sambuat basa-basi yang tidak penting. Akhirya warga pun tidak ter-cerdas-kan.

Jadi acara semalam saya lebih suka menyebutnya dengan "Parade Sambutan".

Namun agar tulisan ini tidak hanya berisi keluhan saya sebagai warga yang "dibodohi" lewat acara public itu, saya ingin mengutip sedikit kata snag ustazd ketika beliau membuka ceramahnya semalam.
Beliau dengan santai bertanya kepada hadirin: "Pak… Bu….. Mao masuk Surga? Mao?......... emang situ pantes???"

Salam parade sambutan.
 

Meluruskan Perspektif Keliru Tentang Uang

Setelah mendengar motivasi pagi bersama Mas Jamil Az-Zaini di Sindo Radio pagi tadi, saya terinspirasi untuk menulis artikel ini. Yaitu tentang perspektif negative dari kebanyakan orang tentang uang yang keliru.

Ya kebanyakan dari kita menilai bahwa uang itu ialah sumber kehancuran, menjauhkan diri dari tuhan, menjadikan diri ini budak yang digerakkan oleh uang itu sendiri. Semua tantang uang, pandangan yang muncul itu selalu negative.

Dan itu sebenarnya keliru. Uang tetaplah uang yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang sangat posotif bagi kehidupan setiap manusia.
Karena perspektif dan pandangan buruk kepada uang yang benar-benar keliru ini bisa menjadikan kita orang yang anti kepada kekayaan. Selalu melihat negative kepada orang mempunyai banyak uang dan sebagainya.

Padahal agama kita pun tidak pernah melarang untuk kita menjadi kaya. Bahkan ajarannya yang mulia ini selalu memotifasi penganutnya untuk bisa selalau dan berusaha menjadi orang ber-duit agar ibadah lebih optimal.

Pandangan keliru yang biasa kita dengar ialah: Uang itu Sumber Kriminal/Kejahatan
Ini benar-benar pandangan yang keliru menurut saya. Kenapa selalu uang yang disalahkan. Akhirnya secara tidak langsung kita menilai bahwa orang yang banyak uang banyak kriminalnya. Dan itu keliru.
Justru malah sebaliknya. Kejahatan yang terjadi selama ini, perampokan, kebohongan, pembunuhan dan jenis criminal lainnya itu terjadi karena kekurangan uang.

Karena kalau si pelaku itu mempunyai uang banyak tidak akan terjadi hal-hal demikian. Dna justru yang mempunyai uang banyak itu yang banyak ibadahnya, banyak sedekahnya, banyak menyumbangnya. Berbeda dengan yang kurang uang.

Walaupun kita tidak bisa menutup mata bahwa ada sejumlah kecil orang yang mempunyai banyak uang tapi ia malah mnginfakkan untuk kegiatan crime.

Selanjutnya ialah: Uang memperbudak pemiliknya.
Ini juga perspektif yang keliru, saya tidak bilang ini salah, hanya keliru saja. Kebanyakan orang yang konservatif menilai banyak banyak uang itu hanya akan memperbudak pemiliknya menjadi hamba uang. Namun yang terkadi malah sebaliknya.

Justru yang kurang uang lah yang diperbudak oleh uang itu sendiri. Lihat berapa banyak orang yang mati-matian kerja di tempat dan posisi yan sama sekali mereka tidak sukai hanya untuk mendapatkan uang dan berharap bisa jadi kaya.

Kerja ini, kerja itu, semua itu karena uang. Dan itu dilakukan oleh orang yang punya sedikit uang. Tapi kalau kita lihat orang yang banyak uangnnya, orang kaya. Mereka tidak akan melakukan hal yang tidak mereka sukai.

Orang-orang kaya hanya melakukan hal yang sesuai dengan passionnya, Kerja penuh semangat, mempunya visi yang tajam. Itulah sebab yang menjadikan mereka kaya.

Mereka bekerja untuk memajukan Indonesia, mereka berjuang agar bisa bermanfaat untuk orang banyak. Mereka menghasilkan sesuatu untuk memberi pada khalayak bukan menerima. Itu orang yang banyak duitnya.

Banyak contoh nyata yang telah kita lihat, baik mereka yang sudah wafat dan menjadi legend atau mereka yang masih hidup dan selalu memberikan motivasi-motivasinya kepada kita.

Pandangan keliru selanjutnya ialah: Uang membuat pemiliknya jauh dari Tuhan.
Kalau pandangan seperti ini ya semua bisa menilai sendiri. Justru yang banyak uang itu yang paling banyak ibadahnya (menurut saya).

Dengan uangnya yang banyak itu, ia bisa meng-haji-kan orang tua beserta keluarga yang lainnya. Bahkan ia bisa menghajikan pula karyawan-karyawannya.

Banyak uang yang ia keluarkan untuk menyumbang pembangunan sekolah, masjid, pesantren, jembatan. Belum lagi zakatnya yang bisa memperdayakan orang miskin sekitr tempat tinggalnnya. Bahkan memberika beasiswa untuk para pelajar didalam dan luar negeri. Kurang ibadah apa lagi orang seperti ini.

(hanya memang kita juga harus membuka mata, ada juga beberapa orang yang melenceng dari kaidah orang kaya sejati ini. Seperti orang kaya gila,,hehe)

Justru yang sedikit uangnya lah yang jauh dari tuhannya. Karena kekurangan uang dan keimana yang kurang juga akhirnya ia bisa melakukan hal-hal yang dilarang syar'i.

Kurang uang akhrinya ia mencuri. Tidak ada uang untuk anak-keluarga akhirnya ia menipu. Kurang uang untuk hidup akhirnya ia bisa jadi bunuh diri. Dan akhirnya, akhirnya , akhirnya yang lain.

Jadi uang bisa membantu hidup kita menjadi lebih baik, dan juga menjadi orang yang lebih bermanfaat untuk orang banyak. Dan sudah tentu –insyaAllah- lebih dekat dengan Allah swt karena uang itu kita gunakan untuk ibadah.

Wallahu A'lam
 

Jl. Surabaya

Karena pekerjaan yang berkaitan dengan buku-buku (kerja di penerbit), mengharuskan saya untuk selalu mondar-mandir ke Perpustakaan Nasional untuk mendaftarkan buku-buku yang kami terbitkan guna terdaftar dan mendapat nomor ISBN.

Untuk pulang ke kantor dari perpusnas, saya harus melewati Jl. Surabaya yang berada di daerah menteng. Karena jalan itu yang terdekat menurut saya.

Tentu bukan suatu yang asing lagi nama itu di telinga pembaca semua. Di jalan itu bertebaran banyak barang-barang antic yang tentunya sudah pasti mahal yang sangat memanjakan mata siapa saja yang melintas dijalan tersebut.

Mulai dari barang yang terkecil seperti patung-patung mini, kaset-kaset jadul, piringan hitam, sampai barang-baran besar seperti lampion atau sejenisnya.

Dan bukan hanya barang antic saja yang didagangkan disana. Barang-barang bermerek internasional pun ada menjadi barang dagangan. Mulai dari tas cantik (buat kaum wanita), pukulan golf (maaf, saya tidak tau namanya) Dan masih banyak lagi. Saya pun tidak tahu berapa rata-rata harga barang disana. Karena memang saya tidak pernah menawar apalgi niat membelinya.

Rekan saya yang bukan orang asli Jakarta. Ketika kami melewati Jl. Surabaya saya mengatakan kepadanya sekaligus mengenalkan bahwa ini namanya Jl. Surabaya tempat barang-barang antic dijual.

"mahal?" tanyanya.

"o ya udah pasti" jawab saya dengan sigap.

"kenapa namanya jalan Surabaya ya?" ia Tanya kembali.

"wah kalo itu, ane kaga tau, Pak Tom!" Dia hanya begumam.

Di hari berikutnya  ketika kami kembali melewati jalan Surabaya tersebut, tentu saya tidak akan mengenalkannya lagi tentang jalan ini. Lalu ia bergumam lama sambil melihat orang-orang yang sedang menawar barang-barang antic tersebut.

"kenapa, Pak Tom?" Tanya saya.

"hmmm. Saya heran sama orang Jakarta"

"heran kenapa?"

"iya. Kok suka ya mereka membeli BARANG-BARANG MAHAL YANG TAK BERGUNA kayak gini?"

Saya hanya bergumam tak bisa menjawab.
 

Niat Bermaksiat Tidak Dihitung Sebagai Dosa, Benarkah Demikian?

"Barang siapa hendak melakukan kebaikan dan dia tidak jadi melakukannya, Allah telah mencatat di sisinNya satu kebaikan yang sempurna. Bila ia hendak melakukan kebaikan dan benar-benar melakukannya, Allah mencatat di sisiNya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipat ganda banyaknya.

Jika ia hendak melakukan kejelekan dan tidak jadi melakukannya, Allah mencatat di sisiNya sebagai satu kebaikan, dan kalau ia hendak melakuakn kejelekan kemudian benar-benar melakukannya, maka Allah hanya mencatat di sisiNya satu kejelekan." (Hadits)

Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab shohihnya ini sering kita dengar dari para asatids kita, naik itu dikelas ataupun lewat ceramah-ceramahnya di masjid dan pengajian.

Makna hadits ini jelas dan semua orang bisa memahaminya bahwa Allah sangat baik kepada hambanya. Sehingga amal kebaikan hambanya walaupun hanya sebatas niat, Allah mengganjarnya dengan pahal dan jika itu terlaksana pahala bertambah menjadi sepuluh.

Dan yang yang sangat menguntungkan menjadi ummat Nabi Muhammad saw ialah bahwa keburukan tidak akan dihitung sebagai dosa selama itu belum terlaksana, masih dalam takaran niat saja. Bahkan kalau meninggalkannya malah dapat pahala juga.

Namun, kening kita akan berkerut jika kita mendengar hadits Nabi berikut ini yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Dari Ahnaf Bin Qois, Rasul saw bersabda:
إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ
"jika 2 orang muslim bertemu dengan membawa pedang (untuk saling membunuh), maka yang membunuh dan yang dibunuh tempatnya dineraka."

Loh bagaimana bisa orang yang dibunuh juga masuk neraka, padahal ia belum melakukan apa yang ia niatkan. Padahal dalam hadits disebutkan bahwa orang berniat keburukan tapi belum diniatkan maka tidak ada dosa.

Imam Ibnu katsir punya jawabannya. Dalam kitab tafirnya yang masyhur, sang Imam mengatakan:

"sesungguhnya orang yang meninggalkan keburukan yang sudah ia niatkan itu ada 3 macam. Pertama: orang yang berniat akan keburukan lalu meninggalkannya karena Allah swt artinya ia tersadar dan mengingat Allah, atau karena takut akan siksaannya. Maka orang ini mendapat pahala satu kebaikan atas itu.

Kedua: orang yang meninggalkan keburukan yang sudah ia niatkan karena lupa. Mungkin karena sudah terlalu lama ia niatkan sehingga ia lupa akan niat buruknya itu dan akhirnya tidak melaksanakan. Orang seperti ini tidak mendapat apa-apa. Tidak ada dosa juga tidak ada pahala; karena ia tidak melakukan kebaikan juga tidak keburukan.

Ketiga: orang yang meninggalkan keburukan karena sudah tidak mampu lagi untuk mencapai tujuan buruknya itu setelah berusaha keras mewujudkannya. Dan ia sudah melakukan upaya-upaya untuk itu.

Orang seperti ini sama kedudukannya seperti orang yang telah melakukan keburukan. Karena jalan menuju keburukannya itu juga keburukan.

Dan inilah yang dimaksud dalam hadits Nabi saw:
"jika 2 orang muslim bertemu dengan membawa pedang (untuk saling membunuh), maka yang membunuh dan yang dibunuh tempatnya dineraka." Sahabat bertanya: "wahai Rasul! Itu (neraka) untuk yang membunuh, kenapa yang dibunuh juga?" Rasul saw menjawab: "karena ia jug ate;ah berusaha untuk membunuh saudaranya". (Muttafaq 'Alayh)

 Wallahu A'lam
 

Sholat Jum'at Sebelum Masuk Waktu Zuhur?

Jum'atan hari ini sedikit berbeda dengan jumatan sebelumnya. Atau lebih tepatnya sangat berbeda dengan sekali dengan jumatan sebelumnya atau jumatan di tempat-tempat lain.

Saya dan kawan-kawan memang selalu sholat jumat bersama orang-orang teluk alias orang Arab saudi. Ya terang saja, toh lembaga ini punya kerajaan Saudi.

Jumatannya sama seperti yang lain hanya saja azannya satu kali. Namun azan satu kalipun ini sudah menjadi barang yang biasa, bukan asing lagi bagi para kaum muslim Indonesia, Jakarta khususnya.

Namun jumatan kali ini benar-benar berbeda. Kenapa? Karena selesainya, jam masih menunjukkan pukul 12.13. bukan karena khutbah yang singkat atau sholat yang cepet. Lalu kenapa?

Pasalnya sholat jumat kali ini dimulai pukul 11.43 wib (sholat jumat dimulai dengan naiknya khotib ke mimbar kamudian sang muazdin mengumandangkan azan)

Berarti sholat jumatnya dilakukan sebelum masuk waktu sholat zuhur dong? Padahal kan sholat jumat mulainya pas masuk sholat zuhur. Jadi sah atau tidak?

Mungkin itu pertanyaan yang muncul setelah anda membaca ini. Soal itu juga yang ditanyakan kepada saya dari teman saya yang heran kok khotib naik mimbar sebelum masuk waktu. "Dia lupa bawa jam kali?" katanya bertanya kepada saya.

Kemudian saya jawab dengan nada ringan: "yaa ngga apa-apa. Sholat jumatnya sah kok"

"Loh kok bisa? Kan belum masuk waktu sholat zuhur?"

"Ya sangat bisa sekali. Dan sholat jumatnya sah, sangat sah sekali"

Karena memang orang-orang Arab ini dalam maslah fiqih mereka bermadzhab Hambali. Dan dalam mazhab Imam Ahmad ini, sholat jumat boleh dilakukan sebelum waktu zawal atau waktu dimana tergelincirnya matahari, yaitu waktu zuhur.

Dan dari 4 mazhab fiqih, dalam masalah waktu sholat jumat ini semua mengatakan bahwa sholat jumat itu dilaksanakan setelah zawal hanya mazhab Imam Ahmad bin Hambal saja yang membolehkan sholat jumat sebelum waktu zawal.

Ini menjadi aneh karena kita (Indonesia) mayoritas bermazhab syafi'i. dan mazhab kita ini melarang untuk melaksanakan sholat jumat sebelum waktu zuhur. Karena waktu sholat jumat ialah waktu sholat zuhur.

Lalu apa dalil mazhab Imam Ahmad bin Hambal atas bolehnya sholat jumat sebelum zawal?

Dalam kitab "Nailul Author" karangan Imam Al-syaukani, dijelaskan beberapa dalil yang memang menunjukkan bahwa boleh melaksanakan sholat jumat sebelum waktu zawal.

Disebutkan bahwa sahabat Anas Bin Malik ra mengatakan: "Kami pernah melaksanakan Sholat Jumat bersama Nabi saw kemudian kami pulang dan Qoilulah (Tidur siang)" ­(HR Ahmad dan Bukhori)

Dari Sahl bin Sa'd ra, ia berkata: "kami tidak qoilulah dan tidak makan siang kecuali setelah sholat jumat. Dan itu kami lakukan pada masa Nabi Muhammad saw (ketika ada Nabi)" (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadits ini tergambar bahwa Nabi saw pernah sholat jumat seblum waktu zawal. Buktinya ialah bahwa Qoilulah dalam budaya orang Arab pada masa itu ialah Tidur siang yang dilakukan sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari). Dan tidak dinamakan qoilulah jika tidur setelah waktu zawal 9tergelincirnya matahari) atau waktu zuhur.

Dan juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh dan Ibnul Abbas bahwa Nabi saw pernah sholat jumat bersama para sahabat dan setelah sholat jumat beliau saw keluar untuk beristirahat (Qoilulah)

Seandainya sholat jumat beserta khutbahnya itu dilaksanakan setelah zawal, tentulah tidak ada waktu untuk beliau saw dan para sahabat untuk beristirahat.

Kemudian juga diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Saidan ra, ia berkata: "Aku pernah sholat bersama Abu Bakar (dimasa Kholifah Abu Bakar), khutbah dan sholatnya (selesai) sebelum tengah hari. Aku juga pernah sholat jumat bersama Umar, Khutbah dan sholatnya (selesai) ketika tengah hari.

Dan aku juga pernah sholat jumat bersama Utsman, khutbah dan sholatnya (selesai) ketika tergelincirnya matahari. Dan tidak ada satupun yang mencela dan mengingkarinya." (HR Ad-Daar Al-Quthni)

Ini bukti bahwa 2 kholifah pernah melakukan sholat jumat sebelum waktu zawal. Dan hadits ini dan hadits diatas menjadi dasar bagi mazhab Imam Ahmad bin hambal atas boleh sholat jumat sebelum waktu zawal.

Tentu masih banyak lagi dalil mazhab ini atas pendapatnya tersebut, namun tidak bisa penulis sebutkan semuanya, karena keterbatasan tempat.

Untuk lebih jelasnya silahkan buka kitab-kitab fiqih mazhab hambali.
Wallahu A'lam
  
 

Mahasiswa Mencederai Ke"Maha"siswaannya Sendiri

mahasiswa (calon ulama / calon ilmuan) zaman sekarang sudah jauh melenceng dari jalur ke-mahasiswa-an mereka sendiri. Mahasiswa yang berarti siswa agung itu seharusnya sejalur dengan identitas mereka yang berlabel mahasiswa.

Mahasiswa yang seharusnya menuntut, mencari ilmu dan melakukan peelitian ilmiah tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Padahal banyak masalah masyrakat sekarang ini belum terjawab. Dan itu semua adalah PR nya mahasiswa.

Mestinya kan mahasiswa itu sibuk meneliti dan terus mencari, tentu sesuai bidang disiplin ilmu yang digeluti. Kesehatan kah, pertanian kah, keuangan kah bahkan syariah kah itu.

Tapi yang terjadi sekarang ialah mereka malah sibuk dan berbondong-bondong menjadi penonton di acara-acara tivi yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan keilmuan yang mereka geluti di kampus mereka masing-masing.

Pencet hape sana sini yang tidak penting. Berlama-lama depan internet hanya untuk menghambur-hamburkan waktu. Dan masih banyak lagi hal-hal tidak penting yang lain.  

Apa hubungannya acara "tukul" yang hanya berisi omongan-omongan nonsense dari para artis itu dengan disiplin ilmu yang mereka perdalam?

Tentu ini menjatuhkan citra kampus itu sendiri. Menonton lawakan dengan almamater kampus yang justru malah merusak citra ke mahasiswaan mereka.

Calon ilmuan bukan disitu tempatnya. Akhirnya ya banyak masalah yang ada di masyarakat ini bahkan bangsa ini yang belum terjawab atau malah tidak terjawab karena begitu prilaku (oknum-oknum) mahasiswanya.

Tentu tidak semua mahasiswa seperti itu. Masih banyak mahasiswa yang sibuk dengan penelitian mereka, masih bergelut dengan buku-buku mereka, masih berkutat di perpustakaan—perpustakaan.

Dan banyak juga mahasiswa yang masih suka kesana kemari mengikuti diskusi-diskusi ilmiah, terus menempel dosen mereka guna mendapatkan hal baru dalam masalah keilmuan. Dan mereka lah yang benar-benar jadi harapan bangsa.

Tapi prilaku sebagian mahasiswa yang dengan bangga memamerkan almamaternya dalam acara remeh seperti itu benar-benar menjatuhkan martabat mahasiswa itu sendiri yang terkesan intelek, berpengetahuan, dan tentu berwawasan luas.

Bukankah mereka bisa melepas almamaternya ketika berada ditempat becek seperti itu?agar tidak terkesan bahwa mahasiswanya seperti itu!

Lalu mau dibawa kemana bangsa ini? toh harapan cerah masadepan bangsa kita memang terpatri di hati dan pundak mereka.

Mau dibawa kemana Indonesia ini dengan mahasiswa yang hanya doyan guyon tapi tak berilmu?
Ayo kita kembali menjadi mahasiswa sejati!
 

Mewahnya Ke-Ilmuan Syariah

Dalam literatur kajian kitab-kitab ilmu syariah, Fiqih khususnya, ada sebuah istilah yang dikenal oleh kalangan ulama syariah dengan sebutan At-Tarof Al-'Ilmy.

Yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia berarti "kemewahan keilmuan". Atau bisa juga berarti "kelebihan keilmuan", keilmuan yang berlebihan dan melampaui batas.

Karena dalam kamus, kata ­tarof itu mempunyai dua arti; 
[1] Mewah, kemewahan. 
[2] Berlebih-lebihan melampaui batas kebutuhan. 
Kedua arti mempunyai kedekatan makna tapi berbeda konotasi saja.

Munculnya istilah tersebut seiring dengan munculnya berbagai macam disiplin-disiplin ilmu yang dibukukan. Dan khususnya istilah ini makin berkembang dengan berkembangannya kitab-kitab fiqih yang dikarang oleh ulama-ulama pada zamannya.

Ketika seorang ulama menulis sebuah kitab, sang murid yang berguru kepada ulama tersebut tidak membiarkan kitab-kitab itu menjadi sebuah bacaan untuk dirinya pribadi saja. Tapi mereka melanjutkannya  dengan menulis sebuah buku berupa syarah (penjelasan) dari kitab gurunya tersebut.

Kemudian ketika kitab itu tersebar, ada juga ulama lain yang membuat syarah (penjelasan)-nya lagi dengan gaya yang berbeda. Datang lagi ulama lain yang membuatnya menjadi ihktishor (ringkasan). Kemudian datang lagi ulama yang membuat hasyiyat-nya (komentar) dalam sebuah kitab khusus.

Dan begitu seterusnya. Sehingga kita bisa mendapatkan sebuah kitab yang mempunyai banyak syarah hingga berjilid-jilid. Akhirnya dari sebuah kitab itu bisa menghasilkan ratusan kitab lain yang berupa eksplorasi ulama atas kitab tersebut. Entah itu berupa syarah, haysiyah, tahdzib (ringkasan) atau juga ikhtishor.

Nah inilah yang dinamakan dengan At-Tarof Al-'Ilmy 'kemewahan ke-Ilmuan'. Ilmu sangat menjadi mewah dan berlebih pada masa itu. Sehingga semua permasalahan masyarakat akan syariat dan fiqih khususnya telah terjawab semua. Bahkan melebihi kebutuhan masyarakat ketika itu. Maka itulah ini disebut dengan At-tarof Al-'Ilmi.

Contoh ini sangat jelas kita lihat pada silsilah kitab-kitab Fiqih Madzhab As-Syafi'iyyah. sebut saja Minhaj At-Tholibin karangan Imam Nawawi. Berapa banyak ulama syafi'I lainnya yang membuat syarah dari kitab tersebut, contohnya:  
- Al-Khotib Asy-Syarbini dengan Mughni Al-Muhtaj,  
- Imam Al-Romli dengan Nihayah Al-Muhtaj
- Imam Ibnu hajar Al-Haitami dengan Tuhfatul-Muhtaj, 
 Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang paling dekat dengan kita ialah Matan Abi Syuja' atau yang biasa kita kenal dengan Matan Taqrib (entah mana yang lebih masyhur dari 2 nama tersebut). Matan yang sederhana ini bisa membuahkan kitab setebal 
- Kifayatul Akhyar
- Fathul Qorib
- Al-Iqna', dan masih banyak lagi yang lain.
Silsilah Kitab-Kitab Fiqih Mazhab Imam Al-Syafi'i
Dan Fathul Qorib pun menghasilkan hasyiyah yang banyak sekali. Diantaranya:
- Al-Baijuri, 
- Al-'Azizi, 
- Al-Barmali, 
- Al-Qulyubi.

Pada abad-abad tersebutlah masa emas keilmuan syariah. Dimana kita tidak akan menemukan suatu masalah syariah kecuali masalah tersebut telah ada jawabannya di kitab-kitab mereka.

Lalu pertanyaannya ialah: kenapa At-Tarof Al-'Ilmi itu ada tapi tidak ada zaman sekarang?

Dosen saya seorang doktor bidang ilmu bahasa Arab dan kaidahnya, pernah menjawab soal ini namun dengan nada bergurau. Beliau mengatakan:

"ulama zaman dulu ngga punya kerjaan, ya begitu itu kerjaannya. Mensyarah kitab, meng-ikhtishornya, mentahdzib lagi. Tahdzib itu di syarah lagi. Soalnya ulama waktu itu ngga punya tivi!"

bagaimana dengan anda wahai para calon ulama dan calon ilmuan?
 

Siapakah Yang Hatinya Terpaut Pada Masjid?

Dalam hadits shohih dari Nabi saw yang diriwayatkan oleh syaikhoni; Imam Bukhori dan Imam Muslim, disebutkan bahwa ada 7 golongan manusia yang nantinya di hari akhir akan mendapatkan perlindungan Allah swt dimana tiada lag perlindungan ketika itu selain perlindangan-Nya.

Salah satu dari 7 golongn itu ialah "orang yang hatinya terpaut pada masjid". Ialah yang mempunyai hati yang selalu terikat kepada masjid. Kedekatan batinnya kepada masjid sangat erat dan sulir dipisahkan.

Namun siapakah yang dimaksud dengan "hati yang terpaut pada masjid" dalam hadits ini? Apakah ia seorang merbot masjid, yang bukan saja hatinya bahkan badannya pun selalu terikat pada masjid sehingga hari-harinya hanya dihabiskan dalam masjid.

Atau ia seorang ustadz yang sudah pasti selalu beranjak ke masjid guna mengajar. Atau ia seorang hartawan yang kaya raya yang selalu menginfakkan uangnya untuk membangun masjid.

Atau siapa?

Imam Nawawi menerangkan dalam kitabnya syarhun-nawawi lil-muslim tentang sabda Nabi: “seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid” : yaitu orang yang sangat cinta masjid dan selalu sholat berjamaah di dalamnya, bukan siapa-siapa yang hanya sering duduk atau berdiam di masjid.

Itulah jawabannya. Yaitu orang yang selalu berusaha untuk bisa sholat berjamaah dimasjid. Siapapun itu, dimanapun ia berada, jika azan memanggil ia langsung bergegas ke masjid guna melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Dalam pengertian lain ialah bahwa seseorang yang selalu rutin/rajin melaksanakan sholat berjamaah di masjid ialah termasuk dar golongan orang yang mendapat naungan Allah swt di hari akhir kelak.

Jadi tidak mesti ia itu ustadz, merbot, atau hartawan, santri atau juga kiyai. Siapapun yang selalu berusaha menjaga sholat berjamaahnya di masjid, ia telah mendaftarkan dirinya untuk mendapat naungan Allah swt dihari akhir nanti.

Lalu kalau sholat berjamaahnya tidak dimasjid, bagaimana?
Tentu ia bukan termasuk dari 7 golongan tersebut. Iya, ia mendapatkan fadhilah sholat berjemaah itu namun tidak termasuk golongan hati yang terpaut pada masjid yang dimaksud. Karena begitu redaksi haditsnya.

Syeikh Badruddin Al-‘Ainiy ketika menjelaskan tentang hadits diatas dalam kitabnya ‘umdatul-qori’, beliau menambahkan :

"dalam hadits ini terdapat keutamaan bagi siapa yang sering mendatangi masjid guna sholat berjamaah karena masjid adalah rumah Allah, dan rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, dan siapa saja yang bertamu maka berhak untuk mendapat kehormatan dan pemuliaan dari sang tuan rumah. Lalu bagaimana jika yang menjadi tuan rumah itu Dia yang maha mulia?."

Wallahu A'lam
 

Basyar Al-Assad Memang 'Asad' (Singa)


Pergolakan politik yang terjadi di Suria sekarang ini, benar-benar telah menjadikan negeri belahan Mesir itu layaknya hutan. Hanya yang kuatlah yang bisa survive. Hanya mereka yang berkuasalah yang bisa melakukan segalanya.

Bagi anda yang sering mendengar atau membaca berita internasional, mungkin ketika mendengar kata Suria pasti anda sudah bisa menebak bahwa berita itu isinya ialah aksi Brutal pasukan Basyar Al-Assad.

Entah sudah berapa ratus warga sipil tak berdosa yang telah menjadi korban ketamakan seorang Al-Assad. Entah berapa himbauan dan desakan yang ditujukan kepadanya namun Ia tetap pada posisinya; tak mau turun.

Tapi memang begitulah seorang Al-Assad. Bukan untuk membela dictator tersebut, namun saya ingin melihat dari sudut yang sedikit berbeda tentang Presiden Suria ini. Dari namanya.

Dalam bahasa Arab Al-Asad atau Asad itu berarti Singa; Lion. Jadi kalau diterjemahkan secara harfiyah, Basyar Al-Assad berarti 'Basyar Sang Singa'. Walaupun dalam tulisan latin namanya ditulis dengan double 'S'. tapi ketika itu ditulis dengan bahasa Arab tetap itu terbaca sebagai Al-Asad.

Jadi wajar saja kalau referendum PBB pun masih ditantang oleh Basyar, toh tak ada yang ditakuti oleh sang singa. Sifat-sifat singa memang benar-benar telah mengalir dalam jiwa manusia (hewan) berusia 46 tahun ini.

Singa dikenal sebagai hewan buas yang mengauasai hutan, dan memang ia raja hutan. Kuat, tak mau mengalah. Ia belum berhenti berlari sampai buruannya itu bisa diterkam. Siapapun yang berusaha menggesernya dari posisi sang raja hutan, pasti dilawannya.

Ya begitu juga seorang Basyar. Berani, tak mau kalah,siapapun dilawannya. Bahkan Komite Liga Arab yang sudah jelas keterkaitan nasab dan agama dengannya tetap tak digubris segala himbauan mereka. Al-Asad tetap sang singa.

Dalam litelatur sastra Arab, para penyair sejak masanya Amr Al-Qois pada zaman Jahiliyah (sebelum masuk Islam) sampai masanya Al-'Umairy sekarang ini, kata Al-Asad tetap menjadi andalan dan layaknya kata wajib yang digunakan dalam syair-syair mereka.

Mereka memakai kata ini untuk menggambar bahwa objek yang dibicarakan ialah seorang yang berani gagah perkasa. Penyokong dan pengayom pasukan. Penakluk unggul musuh. Umar bin Khottob, Kholid bin Walid, thoriq bin Ziyad, Sholahudin Al-Ayyubi adalah orang-orang dengan label Al-Asad sejati dimata para penyair waktu itu.

Dan kita juga tau ada istilah Lion of Desert yang disematkan pada pahawan Libia; Umar Mukhtar. Begitulah orang-orang Arab dalam menggambarkan objek dengan istilah-istilah yang membuat dada membusung bangga. Dan msih banyak lagi contoh-contoh Lion yang lain.

Tapi sayang lelaki Suria ini bersemat Al-Asad namun dalam konotasi yang negatif. Negatif sekali. Sang Singa buas ini telah merajai 'Hutan' Suria dan membantai semua yang menentangnya.
Jadi musuh dunia saat ini ialah bukan hanya sang presiden biasa, namun seorang (seekor) Singa yang sudah pasti siapapun tidak akan mampu menaklukannya kalau hanya memakai ketapel untuk kelinci.

Rapat-rapat dan musyawaroh-musyawaroh saja tidak cukup untuk menghentikan terjangan sang singa. Bahkan fatwa ulama pun tidak bisa membuat sang singa merubah tempat duduknya.

Kita butuh mereka yang berpengalaman berburu singa untuk menaklukan sang singa.  

Basyar Al-Assad memang Asad!



 

Resep Mujarab Jadi Orang Pinter


guru saya yang hanya seorang guru kampung namun khidmatnya pada msyarakat sangat layak di tiru pernah mengatakan: “Jar! Ilmu itu kaya kopi”.
“loh! Kaya kopi gimana stadz?”. “iye bener kaya kopi! Ente tau kan kopi yang udah jadi digelas tuh gimana?”

“tau stadz” saya menjawab cepat.
“ni resep kalo mao pinter biarpun udah lama kaga sekolah lagi”.
“gimana tuh stadz?” Tanya saya heran.
“iye, ilmu itu kaya kopi. Coba liat kopi tuh di gelas. Kalo diaduk tu kopi ampasnya pasti naek ke atas! Tapi kalo kaga diaduk kan diem aja dibawah”. Jelasnya.

“o iye stadz. Itu juga saya tau! Lah hubungannya ama ilmu gimana?”
“yah. Lu sekolah tinggi-tinggi kaga ngerti itu. Ilmu itu kaya kopi digelas ntu tadi. Kalo diaduk tu kopi pasti naek keatas.

Nah gitu juga ilmu. Tu ilmu yang udah kita punya kaga bakal kita inget kalo kaga diaduk ama kita. Aduknya gimana? Yaaa kita ngajarin ilmu yang udah kita dapet itu proses naduk kopi.
Itu kenapa ustadz-ustazd tu pada pinter. Soalnye dia belajar trus dia langsung ngajar lagi ke murid-muridnya. Kerna sering ngakar tu ustazd jadi pinter.
Bukan gara-gara tu ustadz jenius! Gitu.. paham lu” terangnya sangat perinci.
kemudian beliau mendikte saya sebuah kaedah dalam bahasa Arab (bhs Arab ‘plesetan’)
العلم كالكوفي إذا أدك أنك وإذا لم يدك لو ينك
“Al-ilmu kal-kufi idza udika Unika wa idza lam yudak lam yunak”
“ilmu itu bagaikan kopi, kalau diaduk pasti akan naik ke permukaan gelas, tapi kalau tidak diaduk tetap didasar gelas tidak naik.”

Saya hanya mengangguk-ngangukkan kepala saja merasa tersadarkan. Kenapa analogi yang sederhana itu tidak pernah terbesit dalam pikiran saya?
Ya begitulah, terus belajar dan terus mengajar itu bagian dari melekatkan ilmu yang sudah didapat agar tetap terpelihara.

Yang lebih untung lagi bahwa dengan cara ini kita menjadi orang yang banyak
pahalanya. Bagaimana tidak? Toh satu huruf yang kita ajarkan kepada saydara muslim kita itu diganjar sepuluh pahala oleh Allah swt sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.

intinya ialah kita harus membuahi pohon yang sudah kita tanam. pepatah Arab mengatakan:
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
“ilmu yang tidak di amalkan, bagai pohon yang tak ada buahnya”

wallahu A'lam.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger