Istihalah (Perubahan Wujud dan Sifat) Merubah Status Hukum Benda atau Tidak (Najis/Suci)?

Dalam syariah, sesuatu yang asalnya suci lalu kemudian terkena najis, cara mensucikannya cukup dibersihkan sampai najis yang menempel itu hilang tidak berbekas. Cara menghilangkan itu pun banyak macamnya, bisa dengan disiram air, atau dikeringkan di bawa sinar matahari, atau juga bisa dikerik dan sebagainya. Intinya najis itu hilang.

Itu sesuatu yang memang awalnya suci dan bersih kemudian terkena najis, berbeda dengan sesuatu yang memang aslinya najis. Dia bukan barang suci yang tertempel najis, akan tetapi memang aslinya bendi itu najis, seperti khamr (bagi jumhur ulama 4 madzhab yang memang mengkategorikan Khamr sebagai najis), kulit bangkai hewan, kotoran manusia dan binatang dan lainnya. Apakah bisa disucikan? Tentu bisa.

Untuk mensucikan sesuatu yang aslinya najis, ada 2 caranya;
[1] Disamak,
[2] Istihalah (Perubahan wujud)

[1] Samak

Samak adalah cara untuk mensucikan kulit bangkai hewan. Selain untuk merubah status kulit bangkai tersebut dari najis menjadi suci, samak juga berfungsi untuk menghilangkan bau yang ada pada kulit bangkai dan juga menjadi tahan lama serta bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu, seperti membuat sepatu atau juga jaket.

Lalu bagaimana dengan kulit anjing dan babi, apakah ia juga bisa jadi suci dengan disamak? Ini sudah kami bahasa di sini ( http://goo.gl/1IW4BM ) silahkan merujuk.

[2] Istihalah

Istihalah adalah sebutan dalam bahasa yang berarti perubahan. Dalam beberapa kitab, ulama-ulama fiqih mendefinisikan istihalah dengan makna perubahan wujud suatu benda dari satu bentuk dengan sifatnya kepada bentuk lain dan dengan sifat yang berubah juga.

Seperti anggur yang awalnya benda suci, kemudian berubah (dirubah) menjadi khamr, maka menjadi najis. Atau juga air mani yang dalam madzhab jumhur (selain madzhab Imam Syafi'i) itu dihukumi sebagai najis namun statusnya berubah menjadi suci ketika menjadi janin orokk. Atau juga makanan yang kita makan, kemudian masuk ke mulut dan dihancurkan oleh lambung kemudian keluar, baik lewat mulut (muntah) atau lewat dubur (BAB), maka status makanan tersebut yang awalnya suci menjadi najis karena sudah tidak disebut lagi sebagai makanan. Sifat dan wujudnya berubah.

Istihalah (Tidak) Merubah Status Hukum Benda

Tapi sayangnya, dalam masalah istihalah ini, ulama madzhab-madzhab fiqih tidak pada satu suara. Artinya mereka tidak sepakat bahwa istihalah bisa merrubah suatu hukum benda dari najis ke suci atau sebaliknya. Beberapa kalangan dari mereka tetap memperhatikan asal bendanya, kalau asalnya najis ya tetap saja najis walau telah berubah wujud dan sifat benda tersebut.

Pendapat Pertama: istihalah merubah hukum status benda.

Artinya, denagn itihalah suatu benda yang najis bisa jadi suci, dan benda yang suci bisa jadi najis. Ini adalah pendapat madzhab Imam Abu Hanifah serta madzhab al-Malikiyah. Dan diikuti oleh madzhab al-Zohiriyah juga Imam Ibnu Taimiyah (al-Bahru ar-Raiq: 1/329, asy-Syarh al-Kabir ma'a Hasyiah ad-Dasuqi: 1/51)
 
Argument yang digunakan kelompok ini di antaranya;

Pertama: Allah swt telah menghukumi terhadap sesuatu dengan sebuah hukum (najis/suci) yang Allah sebutkan namanya di dalam al-Qur'an, jika nama dan hakikat sesuatu itu sudah tidak ada, maka hukumnya pun tidak ada juga. Sebagaimana garam bukanlah lagi tulang atau daging, tanah dan abu bukanlah lagi kotoran dan bangkai, khomr bukanlah cuka, manusia bukanlah darah dan seterusnya. (al-Muhalla: 1/128)

Kedua: Permasalahan ini mirip dengan khomr yang berubah sendiri menjadi cuka, maka cuka tersebut dihukumi suci menurut kesepakatan ulama, dan benda-benda lainnya hukumnya seperti itu juga. Selain itu, bisa diqiyaskan juga dengan kulit bangkai yang disamak, maka dia akan menjadi suci. Kalau pada benda-benda ini status hukumnya berubah, lalu kenapa tidak pada yang lain?

Pendapat inilah yang direkomendasi oleh an-Nadwah at-Tibbiyah al-Fiqhiyah ke-8 yang diselenggarakan oleh Organisasi Islam Untuk Ilmu-ilmu Kedokteran di Kuwait pada tanggal 22-24 / 12/ 1415 H, bertepatan dengan tanggal  22-24/5 1995 M. Disebutkan di dalamnya bahwa: "al-Istihalah adalah perubahan satu benda ke benda lain yang berbeda sifatnya, dan merubah status benda najis menjadi suci,  dan merubah yang haram menjadi mubah secara syar'I. Oleh karena itu, diputuskan bahwa gelatin yang merupakan hasil perubahan tulang hewan najis dan kulitnya adalah suci dan boleh dimakan. Begitu juga, sabun hasil perubahan dari lemak babi atau bangkai hewan menjadi suci dengan al-istihalah dan boleh dipakai. Keju yang dibuat dari bangkai binatang yang halal dagingnya, hukumnya menjadi suci dan boleh dimakan.  Adapun salep, cream, dan lipstick yang mengandung lemak babi adalah najis, tidak boleh dipakai kecuali jika terbukti bahwa lemak tersebut sudah berubah menjadi benda lain."

Rekomendasi tersebut dikuatkan dengan keputusan an-Nadwah al-Fiqhiyah yang ke -14 yang diselenggarakan oleh Majma' al- Fiqh al-Islami India di kota Haidar Abad pada tanggal 20-22/6/2004. Walaupun begitu, dikarenakan para pakar masih berbeda pendapat tentang gelatin ini, maka an-Nadwah menganjurkan untuk tidak menggunakan benda-benda yang terbuat dari tulang dan kulit binatang yang diharamkan.

Pendapat Kedua : Al-istahalah tidak bisa merubah sesuatu yang asalnya najis menjadi suci.

Artinya memang sesuatu yang awalnya najis tidak bisa berubah status najisnya dengna istihalah, najis tetap menjadi najis walauupun telah berubah sifat dan wujudnya. Ini adalah pendapat resmi madzhab Imam al-Syafi'i dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad serta pendapat Imam Ya'qub Abu Yusuf dari kalangan al-hanafiyah.

Asy-Syairazi berkata: "Barang najis tidak bisa menjadi suci dengan proses al-istihalah, kecuali kulit bangkai jika disamak dan khomr …..jika kotoran dan pupuk  terbakar dan berubah menjadi abu, tidaklah menjadi suci." (al-Muhadzab : 1/10)

Ibnu Qudamah berkata: "Dhahir (yang tampak –ed) dari al-Madzhab (yaitu madzhab Imam Ahmad) menyatakan bahwa barang najis tidak bisa menjadi suci begitu saja dengan cara al-istihalah. Kecuali, khamr yang berubah sendiri menjadi cuka. Adapun yang lainnya hukumnya tetap najis, seperti benda-benda najis yang terbakar dan menjadi abu, begitu juga babi jika jatuh di tempat pembuatan garam kemudian menjadi garam, dan asap yang berasal dari bahan bakar najis, dan uap beterbangan yang berasal dari air najis, jika berubah menjadi embun pada suatu benda kemudian menetes, maka hukumnya tetap najis. (al- Mughni : 1/ 97)

Kelompok ini hanya melegalkan 2 benda najis yang jadi suci karena berubah (istihalah), yakni;
1.   Kulit bangkai yang disamak (selain kulit najing dan babi)
2.   khamr (najis) yang berubah menjadi cuka (suci), dengan syarat perubahannya secara sendiri tidak ada campur tangan manusia di dalam perubahannya. Kalau ada campur tangan manusia, seperti dicampur cairan atau sejenisnya sehingga berubah menjadi cuka, ia tetap najis.

Akan tetapi madzhab Imam al-Syafi'i punya satu lagi, yaitu darah rusa yang berubah menjadi misik; sejenis minyak wangi.

Argumen

Salah satu yang menjadi argument pendapat ini adalah hadits Anas bin Malik yang direkam oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah ditanya tentang khamr yang dijadikan cuka (maksudnya dengan dicampur sesuatu agar cepat menjadi cuka), kemudian Nabi menjawab: "Tidak Boleh!".

Maksudnya adalah khamr itu pasti akan menjadi cuka jika dibiarkan, hanya saja proses pembiaran itu memakan waktu 2 – 3 hari. Lalu para sahabat bertanya kepada Nabi bagaimana kalau khamr itu dicampur dengan bahan lain sehingga perubahannya menjadi cuka menjadi lebih cepat, jadi tidak perlu nunggu lama. Tapi Nabi saw melarangnya.

Berarti proses membuat khamr jadi cuka adalah terlarang, dan sesuatu yang terlarang tidak memberikan perubahan status hukum itu sendiri. Seperti daging hewan yang halal kalau mati secara disembelih, akan tetapi kalau matinya bukan disembelih berarti statusnya bangkai dan najis, haram dimakan. Padahal hewan yang disembelih dengan yang tidak disembelih itu sama-sama mati statusnya.

[1] Berubah Sendirinya

Nabi membolehkan jika khamr itu berubah dengan sendirinya namun tidak jika ada campur tangan manusia. Artinya mempercepat perubahannya itu diharamkan. Sama seperti seorang anak yang membunuh ayahnya agar cepat dapat warisan, tentu diharamkan dan ia pun diharamkan pula mendapat warisan. Aslinya ia dapat dan memang ahli waris, tapi karena dipercepat bukan pada waktunya, statusnya menjadi haram.

Ini juga sama pada benda-benda lainnya, kalau berubahnya itu sendiri, itu yang menjadi suci. Tapi kalau berubahnya melalui proses tangan manusia, itu tidak bisa membuat statusnya menjadi suci seperti perumpamaan yang ada di atas. Aslinya memang berubah, hanya karena perubahannya itu tidak alami, itu tidak menjadi suci. (Kifayah al-Akhyar 1/74)

[2] Berubah Menjadi Sesuatu Yang Shalah (Baik)

Selain berubah sendiri, istihalah yang merubah status hukum itu jika perubahannya mengarah kepada sesuatu yang baik, seperti darah yang berubah dan bercampur jadi susu juga daging.

Imam Syarwani mengatakan; "apa yang berubah (istihalah) menjadi sesuatu yang baik seperti susu dari makanan, atau seperti sesuatu yang hidup, atau juga seperti telur, itu hukumnya suci." (Hasyiah Syarwani 'ala Tuhfah al-Muhtaj 1/288)
   
Pendapat inilah yang diambil oleh Lembaga Fatwa di Saudi Arabia yang memutuskan haramnya penggunaan gelatin yang terbuat dari binatang yang haram seperti babi atau dari anggota tubuhnya seperti kulit dan tulangnya. Pendapat yang serupa juga diambil oleh al- Majma' al- Fiqh li Rabitah al-'alam al-Islami pada pertemuan yang ke -15 yang diselenggarakan di Mekkah al-Mukaramah pada tanggal 11/7/ 1419.

Wallahu a'lam
 

Kaos Kaki, Apakah Termasuk Khuff?

Kaos kaki yang ada dan banyak dipakai oleh orang-orang zaman sekarang ini adalah kaos kaki yang tidak memenuhi syarat khuf menurut jumhur Ulama (Al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyyah); itu disebabkan karena memang bahannya yang sangat tipis sehingga bisa membuat lekukan kaki dan bahkan ada yang sampai menampakkan warna kulit, artinya transparan.

Sebelumnya mesti diketahui dulu definis ulama tentang khuff itu. Ulama mendefinisikan,, khuf adalah;

الساتر للكعبين فأكثر من جلد ونحوه
"sepatu atau segala jenis alas kaki yang bisa menutupi tapak kaki hingga kedua mata kaki baik terbuat dari kulit maupun benda-benda lainnya."

Ini yang diutarakan oleh dr. wahbah al-Zuhaili dengan mengacu pada definisi masing-masing madzhab yang berujung pada kesepakatan definisi seperti yang disebutkan.

Terkait hukumnya, bahwa orang yang memakai khuf, ketika ingin bersuci (selain mandi janabah), tidak perlu membuka khufnya, akan tetapi ketika ia cukup mengusap khuf-nya tersebut dengan tangannya yang sudah dibasahi sebagaimana ia mengusap kepalanya. Tentu dengan syarat bahwa ia sebelum memakai khuf tersebut, ia dalam keadaan suci dari hadats.

Masa waktunya ialah 1 hari 1 malam untuk muqim, dan 3 hari 3 malam untuk musafir. Artinya ketika ia memakai khuf akan tetapi masanya sudah selesai, maka ketika ingin bersuci (selain mandi janabah), ia harus membuka khuf tersebut dengan bersuci layaknya biasa dengan normal lagi.

Kembali ke masalah kaos kaki. Apakah itu khuf?

Sebagaimana disebutkan, bahwa kaos kaki zaman sekarang tidak termasuk dalam kategori khuf yang dibolehkan untuk diusap saja ketika orang ingin bersuci, karena tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh jumhur ulama, yakni madzhab al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan al-Syafi'iyyah.

Al-Hanafiyah; Bisa untuk Perjalanan Jauh

Madzhab ini mensyaratkan khuff haruslah sesuatu yang bisa dipakai untuk berjalan jauh. Sejatinya ini adalah syarat yang dipakai oleh jumhur ulama, hanya saja jarak perjalanannya berbeda-beda. Dalam madzhab Imam Abu Hanifah, syarat khuff itu harus bisa dipakai untuk berjalan, minimal jarak 1 farsakh yang kalau dikonversi menjadi 5565 meter.

Dan memang benar, tidak ada kaos kaki zaman sekarang yang bisa kuat untuk dipakai berjalan sejauh itu. Kalau dipaksakan, pastinya akan rusak, bolong dan hancur. Jadi kaos kaki bukanlah khuff yang boleh diusap. (radd al-Muhtar 1/269)

Al-Malikiyah; Harus Terbuat dari Kulit

Dalam madzhab ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Dusuqi dalam Hasyiyah­-nya (Hasyiyah al-Dusuqi 'ala al-Syarh al-Kabir 1/141), bahwa yang namanya khuff itu harusnya terbuat dari kulit. Tidak bisa dikatakan khuff kalau tidak terbuat dari kulit (asalkan bukan najis). Karena khuff yang ada pada zaman Nabi itu khuff yang terbuat dari kulit, jadi segala hukum yang terkait dengan khuff itu mengacu kepada khuff yang memang dikenal ketika itu, yaitu yang terbuat dari kulit, tidak yang lain.

Jadi secara otomatis, kaos kaki zaman sekarang tidak bbisa dikatakan sebagai khuff, karena tidak ada kaos kaki yang terbuat dari kulit saat ini, hanya daro bahan-bahan halus.

Al-Syafi'iyyah; Tidak Rembes Air

Khuff yang disyaratkan oleh madzhab ini adalah terbuat dari bahan yang tidak tembus air. Dan ini otomatis menjadi syarat juga yang dikemukakan oleh madzhab al-Malikiyah, karena harus kulit. Dalam salah satu kitab muktamad madzhab ini disebutkan;

"Tidak sah jika khuff itu terbuat dari sesuatu yang bisa tembus air walaupun bahannya kuat dan bisa untuk berjalan jauh; karena yang demikian itu tidak sesuai dengan apa yang disebut khuf dalam hadits-hadits Nabi saw" (Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj 1/252)

Jadi kalau mengacu kepada ini semua, tentu kaos kaki zaman sekarang tidaklah tergolong khuff yang boleh diusap saja ketika bersuci atau berwudhu untuk mengangkat hadats kecil; karena syarat-syarat khuff tidak terpenuhi di kaos kaki ini.

Al-Hanabilah; Kaos Kaki = Khuff (dengan syarat)

Akan tetapi, dalam madzhab al-hanabilah, kaos kaki tergolong dalam khuff yang boleh diusap, dengan syarat;

  1. Menutup hingga mata kaki (bagian wajib wudhu)
  2. Tidak transparan, tebal dan tidak ada bagian kulit yang terlihat
  3. Menempel ketat di kaki dan tidak kendor atau turun sehingga terbuka mata kaki
  4. Asalkan bisa buat berjalan (tidak ada jarak minimal, yang penting bisa)

Ini yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni (1/215), bahwa Imam Ahmad membolehkan mengusap kaos kaki walupun bukan terbuat dari kulit, yang penting tetap menempel di kaki dan tidak kendor atau tidak jatuh ketika dibuat berjalan dan menutupi bagian wajib wudhu. Malah beliau menguatkan, bahwa mengusap kaos kaki itu sudah dilakukan oleh sekurang-kurang 7 atau 8 sahabat masyhur. Artinya ini bukan perkejaan yang mengada-ngada, tapi memang pernah dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw.

Konklusinya;
Kaos kaki yang banyak dipakai sekarang bisa dikategorikan sebagai khuff dan boleh mengusapnya asalkan tidak transparan menurut madzhab al-Hanabilah, akan tetapi tidak untuk madzhab yang lain.

Wallahu a'lam
 

Tidak Tahu tapi Sok Tahu, Yang Tahu tapi Belagu

Masalahnya belakangan ini –saya melihat- menjadi sangat rumit, padahal sejatinya masalah itu adalah masalah yang biasa dan ringan saja. Dalam masalah syariah tentunya, atau lebih tepatnya masalah yang masih dalam perdebatan ulama. Artinya ulama belum sepakat atau memang tidaak sepakat tentang hukum perkara tersebut.

Menjadi rumit karena yang "tidak tahu" justru menjadi paling vocal dan banyak "omong", dan yang "mengerti" pun bersikap sombong. Maksudnya begini, ada masalah yang kata madzhab A hukumnya A, tapi madzhab B punya fatwa B, berbeda dengan madzhab A, dan madzhab C lain lagi fatwanya. Jadi 3 suara di sini.

Orang Yang Tidak Tahu, Tapi Sok Tahu

Orang yang hanya tahu satu pendapat, termasuk orang yang "tidak tahu", adanya perbedaan ini, ia hanya tahu hukum perkara tersebut A –misalnya- karena ia belajar dengan guru yang mengajarkan madzhab A. anehnya, ia hanya tahu satu itu saja tapi ia sangat vocal dan banyak "omong"-nya dan sok tahu. ketika melihat ada yang berbeda, langsung dibantah, dibicarakan sana sini dengan pengetahuan yang minim yang ia milik.

Padahal mestinya sebagai orang yang tidak tahu, yang harus dilakukan pertama kali itu bertanya, "benarkah ada amalan/ibadah seperti itu?". Bukan malah menyalahkan, dan terus-terussan membicarakan orang tersebut. Akhirnya karena sering dibicarakan, menular kepada orang "tidak tahu" lainnya yang punya sifat sama; sama-sama vocal, banyak omong, dan tidak mengerti perbedaan pendapat. Walhasil masalah yang sederhana itu terkesan menjadi sangat rumit sekali.

Orang Yang Tahu, Tapi Belagu

Yang orang "pintar"-nya pun sombong karena pengetahuannya itu. Dia sangat tahu adanya perbedaan yang ada, bukan hanya tahu, bahkan ia hafal dalil dan argument masing-masing madzhab dalam perkara tersebut. Dan karena memang orang yang "mengerti", ia bisa mengambil keputusan, mana pendapat yang menurutnya lebih dekat kepada kebenaran. Tapinya belagu.

Belagu-nya, ia mengikuti pendapat madzjhab B –misalnya- dari 3 pendapat itu, dan ini tidak ada masalah. Tapi –masalahnya- dia malah mengerjakan amalan yang diperdebatkan itu di depan khalayak yang sudah sangat terbiasa dengan pendapat madzhab A. seakan ingin menunjukkan ia tidak mainstream di tengah masyarakat yang belum siap melihat perbedaan.

Mau tidak mau, pastinya ini akan menimbulkan gesekan dengan khalayak yang sudah terbiasa dengan satu pendapat tersebut, apalagi di dalamnya ada orang yang "tidak tahu" yang vocal dan banyak "omong" itu. Walhasil yang dikerjakan oleh si orang "mengerti" itu malah jadi fitnah dan pembiacaraan negative bagi sekitarnya. Karena bagaimanapun, apa yang dikerjakan itu pasti mengundang orang untuk membicarakannya. Sudah maklum, yang berbeda pasti menjadi objek perhatian.

Mengikuti satu pendapat madzhab, walaupun berbeda dengan kebanyakan orang atau masyarakat sekit tidak ada yang salah. Sama sekali tidak salah. Akan tetapi mestinya perlu dilihat juga tingkat kesiapan public terhadap perbedaan itu. Jangan sampai akhirnya malah membuat fitnah bagi sekitar dengan mendeklarasikan perbedaan dalam perkara yang orang setempat sudah terbiasa dan sudah paten dengan pendapat madzhab yang satu.

Keluar dari Perbedaan Itu Utama

Mungkin ia lupa atau tidak tahu bahwa ada kaidah fiqih yang sangat mengambarkan sekali bagaimana ulama fiqih itu benar-benar peduli akan terwujudnya persatuan umat walaupun dalam bingkai perbedaan pendapat.
الخروج من الخلاف أولى وأفضل
"Keluar dari perbedaan adalah lebih utama dan lebih baik"[2]

Ini dijelaskan oleh Imam Taajuddin Al-Subki dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazoir. Ketika membahas ini dalam kitabnya, beliau seperti menasihati bahwa perbedaan dalam masalah fiqih itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, maka kita lah yang harusnya cerdas dalam menyikapi itu.

Dengan tidak menimbulkan sesuatu yang akhirnya malah melahirkan silang pendapat tajam di depan khalayak, yang padahal perkara itu bukanlah perkara yang sampai pada pada level Ijma', itu masalah yang terbukan ijtihad di dalamnya.

Dengan tidak juga menonjolkan itu depan khlayak yang punya pendapat berbeda, dan tetap hidup seirama dengan mereka. Toh tidak ada yang salah mengikuti alur khalayak dalam masalah fiqih, kenapa harus memaksakan satu pendapat yang akhirnya malah jadi boomerang lalu merobohkan persatuan yang sudah ada.

Dan perkara menghindari fitnah serta perpecahan dalam perbedaan pendapat ini sudah diajarkan jauh-jauh hari oleh ulama terdahulu, bahkan para sahabat. berikut beberapa contohnya;

Sahabat Abdullah bin Mas'ud

Sahabat Abdullah bin Mas'ud dengan tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdholnya ialah sholat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang sholatnya sempurna 4 rokaat, beliau mengatakan itu adalah mukholafatul-aula [مخالفة الأولى] (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut sholat sempurna 4 rokaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas'ud ditanya: "kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mnegikutinya sholat 4 rokaat?". Ibn Mas'ud menjawab: [الخلاف شر] "berbeda itu buruk!".[ Fathul-Baari 2/564]

Karena tahu, bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut, Ibnu Mas'ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisih pandangannya sendiri.

Imam Malik bin Anas

Tentu juga kita tahu cerita tentang Imam Malik yang ditawari oleh Khalifah Al-Manshur untuk menjadikan bukunya "Al-Muwatho'" sebagai kitab Negara yang menjadi pegangan hukum bagi rakyatnya. Namun Imam malik menolak langusng tawaran itu:

يا أمير المؤمنين  لا تفعل هذا فإن الناس قد سبقت إليهم أقاويل ، وسمعوا أحاديث ، ورووا  روايات ، وأخذ كل قوم بما سبق إليهم ،
"wahai Amirul-mikminin, jangan lakukan itu! Orang-orang sudah terbiasa dengan pendapat-pendapat yang mereka dengar sebelumnya, mereka telah mendengar hadits-hadits, mereka juga telah melihat periwayatan, dan setiap kaum telah melakukan ibadah sesuai pendapat yang mereka ambil sebelumnya" [Hujjatullah Al-Balighoh 1/307]

Imam Malik tidak memaksakan itu karena khawatir nantinya akan terjadi perpecahan kalau nantinya penduduk dipaksa untuk mengikuti Imam Malik sedangkan mereka telah beribadah sesuai pendapat ulama yang mereka ikuti sebelumnya.

Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi'i

Kita juga tahu secara detail bagaiman Imam Syafi'i meninggalkan qunut subuh ketika menjadi Imam untuk para pengikut Imam Abu Hanifah yang tidak melihat adanya kesunahan qunut dalam sholat subuh, di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah.

Padahal Imam Syafi'i-lah pelopor qunut subuh dan mnejadikannya sunnah muakkad dalam sholat subuh yang jika meninggalkannya, maka sunnah diganti dengan sujud sahwi. Tapi beliau rela meninggalkan itu, karena tahu dimana ia saat itu. [Adab Al-Ikhtilaf fi Al-Islam 117]

Masing-Masing Sadar Diri

Jadi, yang tidak tahu, mestinya sadar diri kalau memang hanya tahu satu hadits jangan berlagak seperti ahli hadits. Kalau hanya tahu satu pendapat, tahan diri untuk tidak berkomentar ketika melihat ada yang berbeda sebelum bertanya.

Yang akhirnya malah membicarakan keburukan orang, padahal yang namanya muslim tidak diperkenankan berbicara kecuali yang baik. Kalau tidak bisa bicara baik, maka diam saja. Begitu perintah Nabi saw.

Jangan akhirnya malah berbicara sesuatu yang tidak dipahami. Firman Allah swt; "Dan janganlah kau bicarakan sesuatu yang kau tidak ketahui ilmunya" (QS. Al-Isra' 36)

Yang paham dan tahu adanya perbedaan pendapat pun sejogjanya bersikap bijak dalam mengamalkan pendapatnya itu. Dan lebih cerdas melihat kondisi khalayak, apakah siap atau tidak.

Karena orang yang "mengerti" itu bukan hanya paham apa yang dikerjakan, tapi ia juga harus paham kapan harus mengerjakan pekerjaannya itu.

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger