Penyematan Nama Suami di Belakang Nama Istri, Boleh atau Tidak?

Diakui atau tidak, memang penyematan nama suami dibelakang kebanyakan nama istri itu bukanlah suatu tradisi yang dikenal oleh syariah. Sejak zaman dulu, Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya tidak pernah melakukan itu, mereka tidak pernah menyematkan nama suami-suami mereka dibelekang nama istri-istri mereka.

Pun begitu juga, bahwa istri-istri Nabi Muhammad saw tetap menyematkan nama ayah mereka dibelakang nama mereka, dan bukan nama Nabi. Seperti KHodijah binti Khuwailid, dan bukan Khodijah Muhammad.

Penyematan nama suami dibelakang nama istri ialah budaya barat yang terlanjur menjadi kebiasaan bagi kita ini, dan bahkan hampir diseluruh Negara di belahan dunia memakai cara ini, yaitu menyematkan nama suami atau keluarga suami dibelakang nama istri.

Pada awalnya memang sejak dulu kala, orang-orang semua menamakan dirinya dengan nama nasab. Maksud nama nasab ialah: ia menyematkan nama ayah kandung mereka dibelakang nama mereka dengan pemisah kata "Ibn", atau "Ibnatu" untuk perempuan. Yang kalau di Indonesia dikenal dengan sebutan "Bin", dan "Binti".

Namun tardisi ini lama-kelamaan menghilang. Sekitar abad ke -14 masehi, Orang-orang sudah tidak lagi memakai kata "bin" untuk memisahkannya dengan nama ayahnya. Jadi yang awalnya "Ahmad bin Hamdan", menjadi "Ahmad Hamdan".

Nah kemudian tradisi berubah lagi hanya untuk perempuan, kalau perempuan justru ketika masih perawan, nama ayah yang disematkan dibelakang namanya. Tetapi ketika ia sudah bersuami, nama suami atau keluarga suami lah yang menjadi nama belakangnya dan biasanya ditambah dengan awalan "miss" atau "nyonya".

Awalnya bernama "Maryati", setelah menikah dengan "Andi Setiawan", namanya berubah menjadi "Nyonya Maryati Andi Setiawan" . Atau "Maryati Setiawan". tujuannya sebagai "tanda" bahwa si dia itu istrinya si dia. 

YANG MENGHARAMKAN

1. Bukan Tradisi Islam
 

Nah karena memang penyematan nama suami dibelakang nama istri ini tidak dikenal dalam tradisi syariah, beberapa kalangan Ulama mengharamkan praktek ini. Selain kerana ini memang tidak ada tuntunannya, ini juga nantinya akan menyebabkan kerancuan nasab.

2. Kerancuan Nasab Dalam Syariah
 

Kerancuan nasab, dan kebimbangan ketika ada orang yang membaca atau mengenalinya, "Si Dia itu anaknya siapa?". Karena bagaimanapun kerancuan nasab punya konseksuensi syariah yang cukup detail.

Bagaimanapun nasab punya kedudukan penting dalam syariah. Seperti dalam masalah waris, pernafkahan dan juga perwalian serta status Mahrom.
Dan penyematan nama suami itu menyebabkan banyak kerancuan syariah nantinya. Selain itu juga bahwa ada ayat yang melarang itu, yaitu melarang untuk menyematkan nama selain ayah kandung dibelakang nama seseorang, baik laki atau perempuan.

3. Ada Larangan Dalam Al-Quran:
 

"Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah" (Al-Ahzab; 5)

Dalam ayat ini, (menurut Ulama yang memang mengharamkan menyematkan nama selain bapak dibelakang nama seseorang) terdapat perintah untuk memanggil seseorang dengan nama bapaknya kandung. Dan sekaligus menjadi larangan untuk sebaliknya.

Disamping itu juga, Karena memang menyematkan nama ayah kandung itu yang dianjurkan dalam syariah, selain karena nasab dan juga sebagai indentitas serta kejelasan wali. Nah kalau disematkan kepada nama suami, apa maslahatnya?

YANG MEMBOLEHKAN

Tetapi tidak semua ulama beranggapan sama dengan apa yang disampaikan diatas. Beberapa ulama dalam fatwanya mengatakan bahwa boleh-boleh saja menyematkan nama suami dibelakang nama istri, asalkan itu memang sudah menjadi kebiasaan yang tidak akan menybabkan kerancuan nasab.

Beberapa ulama mengeluarkan fatwa kebolehan ini, seperti Dar Al-Ifta' Al-Mishriyah (Lembaga Fatwa Mesir). Dalam fatwanya no. 152 tanggal 27/10/2008. Tentu dengan beberapa argument yang kuat juga.

1. Ayat Bukan Larangan
 

Ayat yang disebutkan tadi, yaitu surat Al-Ahzab ayat 5 itu memang perintah, tapi harus dilihat dulu latar belakang turunnya (Asbab Nuzul) ayat tersebut. Ayat ini turun sebagai penolakan syariah Islam terhadap apa yang telah terjadi dimasa Jahiliyah.

Banyak orang dimasa itu yang menyematkan nama seseorang dengan nama yang bukan ayah kandungnya. Seperti apa yang disematkan kepada nama Zaid bin Haritsah, salah satu budak Nabi Muhammad saw.
Banyak sahabat yang memanggilnya dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Dan memang itu kebiasaan orang ketika itu, yaitu menyematkan nama Tuan-nya dibelakang nama Budak-nya.

Nah ketika ayat ini turun, semua kebiasaan itu menjadi terlarang. Lalu semua beralih memanggil zaid menjadi Zaid bin Haritsah. Dan juga sekaligus larangan bahwa tidak boleh memanggail nama seseorang dengan bukan nama ayah kandungnya.
(Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Al-Ahzab ayat 5)


2. Yang Dilarang, Menyematkan Nama Selain Ayah Kandung

Yang benar-benar dilarang oleh syariah ialah menyematkan nama selain ayah kandung dengan redaksi peranakan atau redaksi nasab yang sah. Penyematan nama nasab itu dengan kata "bin" atau "binti".

Jadi tidak boleh sama sekali menyematkan nama dengan "bin" atau "binti" kepada selain ayah kandung. Dan larangan ini disepakati oleh ulama sejagad raya ini. Jadi kalau si Ahmad nama ayahnya ialah Hamdan, maka menjadi haram kalau dia menyematkan nama setelah "bin"-nya dengan selain Hamdan.

Karena "bin" atau "binti" ialah kata yang menunjukkan nasab. Kalau melanggar ini maka ini yang membuat kerancuan sangat fatal. kalau tidak makai "bin" atau "binti" yaa menjadi tidak masalah, karena itu bukan menunjukkan nasab. Toh para pendahulu kita dari banyak ulama juga menyematkan di belakang namanya dengan bukan nama ayah kandungnya. 

Seperti Imam Abu Hamid Al-Ghozali, "Al-Ghozali" bukanlah nama ayahnya melainkan nama daerah kelahirannya. Yang haram kalau itu memakai kata pemisah "bin", karena memang itu bukan ayahnya. Ini larangan yang disepakati oleh ulama sejagad raya. Dan kalau menyematkan dibelakang nama dengan bukan "bin", yaa menjadi tidak masalah. 

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa tidak dilarang kalau memanggil seseorang dengan sebutan "anak". Yang dalam bahasa Arab disebut dengan "Bunayya", (anakku)

Ini tidak dilarang jikalau maksudnya untuk sebutan kasih sayang dan bukan penetapan nasab. (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al-Ahzab ayat 5)

Karena Nabi saw juga pernah diririwayatkan dalam sebuah hadits yang shohih riwayat Imam Muslim, bahwa Beliau saw memanggil Anas bin Malik dengan sebutan "Ya Bunayya" (wahai anakku).

3. Sudah Menjadi 'Urf (kebiasaan)

Sudah bukan hal yang tabu lagi dalam waktu belakangan ini bahkan sejak dahuku kala, bahwa banyak istri yang menyematkan nama suaminya dibelakang namanya sendiri. Dan itu kebiasaan banyak negara, bukan cuma Indonesia.

Walaupun memang kita tahu bahwa itu adat Barat, tapi apa yag datang dari barat bukan berarti negatif dan harus ditinggal. Kalau memang tidak melanggar syariah yaa tidak masalah.

Penyematan nama suami atau keluarga suami dibelakang nama istri sudah menjadi kebiasaan yang sepertinya orang tidak lagi aneh. Dan orang ketika membaca nama si wanita itu akan mengerti bahwa dibalakang namanya itu nama suaminya.

Dan penyematan nama suami juga tidak berarti bahwa si suami itu ayahnya si wanita. Dan tidak juga membatalkan statusnya seorag anak dari ayah kandungnya yang asli. Dan semua orang sudah biasa dengan keadaan ini.

Sama sekali tidak ada yang beranggapan bahwa nama dibelakang itu nama ayah kandung. Pasti ketika baca, orang masih akan bertanya "siapa ayahnya?", ini kan bukti bahwa penyematan itu bukan berarti pe-nasab-an. Jadi yaa tidak masalah.

Apalagi kita di Indonesia ini yang hampir semua orang bernama lebih dari satu kata. Susunan kata yang lebih dari satu itu kan tidak berarti bahwa nama kedua itu nama ayahnya. Tapi nama kedua itu masih nama dia sebagai orang yang satu.

Terlebih lagi bahwa kalau di Indonesia itu kita sering memanggil seorang istri dengan nama suaminya, seperti Ibu "Budi". Padahal kita tahu bahwa nama aslinya bukan Budi. Dan itu semua kan tidak berarti bahwa nasabnya berubah. Tanpa dijelaskan semua tahu itu.

Jadi ketika ada suatu kebiasaan ('Urf) yang memang tidak melanggar syariah, justru malah syariah mengakui kebolehan itu. Dalam kaidah fiqih kita mengenal kaidah [العادة محكمة]"Al-'Aadah Muhakkamah" , yaitu suatu kebiasaan kaum selama tidak menabrak dinding syariah, keberadaannya diakui oleh syariah.

Wallahu A'lam
 

Memakai Aksesoris Simbol Agama Lain


Yang pertama harus diketahui lebih dulu ialah, "Apa itu symbol". Kalau kita buka Kamus Bahasa Indonesia, kata "Simbol"berarti lambang. Itu saja. Dan memang symbol tidak punya arti lebih kecuali lambang atau tanda yang menyatakan suatu hal atau yang mengandung maksud tertentu.

Dalam kamus Oxford online, kata "Symbol" mempunyai arti:
"A mark or character used as a conventional representation of an object, function, or process", atau "a thing that represents or stands for something else, especially a material object representingsomething abstrack".

Simpelnya bahwa symbol adalah sesuatu yang merepresentasikan sesuatu yang sulit digambarkan atau diceritakan menjadi terlihat jelas dengan symbol tersebut.

Dalam bahasa Arab, symbol itu [شعار، شعائر] Syiar, Sya'air dalam bentuk plularnya. Artinya sama seperti yang te;ah dijelaskan dalam kamus bahasa Indonesia dan juga Oxford tadi. Yaitu sesuatu yang memberikan tanda untuk sesuatu yang abstrak dan semisalnya.   

Nah ketika kata symbol itu digandengkan dengan "agama", artinya memang tidak jauh seperti yang telah dijelaskan, namun menjadi lebih spesifik. Yaitu tanda atau lambang yang menyatakan dan merepresentasikan sebuah ajaran agama, ideology atau doktirinisasi tertentu.

Yang jelas terlihat ialah seperti lambang "Salib" untuk agama Kristen. Atau juga lambang patung "Budha" untuk agama Budha. Dan beberapa agama lain yang memang mempunyai symbol tertentu.

Sedangkan symbol agama Islam sendiri ialah Ibadah. Jadi sejatinya Islam tidak mempunyai symbol fisik atau benda yang memberikan tanda, akan tetapi symbol agama Islam ialah ibadahnya itu sendiri.

Ketika seseorang beribadah melaksanakan sholat, zakat, puasa, haji dan ibadah-ibadah lainnya, sejatinya ia telah menyatakan kepada dunia sebuah symbol agama. Karena memang agama Islam ialah agama ketaatan kepada Allah swt, maka setiap ibdah dan ketaan kepada Allah swt, itu dikatakan sebagai sibol agama.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qutaiby: "Syiar agama Allah (Islam) ialah segala sesuatu yang menjadi lambang ibadah kepada-Nya" (Al-KAsyfu wa Al-Bayan 4/9)

Sedangkan apa yang selama ini dikenal bahwa symbol agama Islam itu bulan sabit tidaklah benar. Karena sampai saat ini tidak ada dalil baik dari Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan itu.

Hanya memang, pemakain bulan sabit sudah kadung dikenal sebagai symbol agama Islam, karena banyak dipakai dan disematkan dalam lambang-lambang organisasi Islam, walaupun sejatinya tidak.

Hanya memang penggunaan bulan sabit itu pertama kali dikenalkan oleh kerajaan turki Utsmani yang pada waktu itu menyerang Emporium besar Kristen. –wallahu A'lam- 

MEMAKAI AKSESORIS SIMBOL AGAMA LAIN

Sebenarnya sudah banyak artikel yang membahas ini semua, tentang hukum seseorang yang memakai aksesoris agama lain atau juga symbol agama lain. Tentu dalam masalah ini ulama sepakat bahwa perbuatan itu ialah haram, dan tidak ada satu ulama pun yang menentang ini.

Itu jika memang symbol yang dikenakan itu ialah symbol NYATA yang benar-benar menjadi tanda agam tertentu. Seperti "salib" untuk agama Kristen. Tidak ada satupun orang yang tidak tahu kalau itu simbolnya orang Kristen. Dan ketika ada orang memakai symbol salib, semua yang melihat akan tahu tanpa bertanya kalau dia si pemakai itu orang Kristen.

Sama seperti orang yang menyalakan dupa kemudian bertekuk lutut didepan sebuah patung kecil didinding rumahnya. Semuanya pasti akan sadar dan paham bahwa itu orang Konghuchu yang sedang beribadah. Tidak akan mungkin ia ditanya "apa agamanya?", toh dengan pekerjaan itu sudah dapat ditangkap apa agamanya.

Karena memang symbolnya NYATA dan jelas, tidak ada bias lagi, apakah itu symbol agama tau bukan.

Kenapa haram?
Ini termasuk perbuatan tasyabbuh [تشبه], menyerupai orang non-Islam, dan itu sangat dilarang keras oleh syariah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut"

Selain itu juga, bahwa seseorang yang memakai pekaian atau aksesori lambang itu dengan motivasi apapun itu, berarti ia sepakat dan menyetujui apa yang yang telah ditentang oleh syariah ini.

Seperti yang memaki salib, telah jelas dalam al-quran bahwa Nabi Isa sama sekali tidak disalib, maka ketika seseorang memakai itu ada semacam pengakuan terhadap itu, dan itu yang sangat dilarang dalam agama.

KAFIR ATAU TIDAK?

Perbedaannya pada status si pemakai symbol itu, apakah ia menjadi Kafir atau tidak? Ulama terbagi menjasi 2 pendapat:

Yaitu jelas Kafir, sebagaimana dipegang oleh mayoritas ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi'I. kemudian dari kalangan Madzhab Hanbali dan beberapa ulama madzhab Syafi'I mengatakanbahwa perbuatan itu hanya sebuah keharaman sama seperti maksiat lainnya dan tidak sampai membatalkan Iman.

Baca selengkapnya di "TASYABBUH YANG DIBOLEHKAN"

PERNAK-PERNIK SIMBOL

Untuk masalah yang diatas, yaitu symbol NYATA dan memang benar-benar jelas bahwa itu identitas suatu agama tertentu, maka tidak ada ualam satupun didunia ini yang tidak mengharamkannya. Karena jelas penyimpangan dalam memakainnya.

Masalah kemudian muncul ketika seseorang memakai sesuatu yang aslinya memang bukan symbol agam tertentu, akan tetapi terdapat pada sesuatu itu lambang atau symbol agama tertentu. Jadi symbol dalam sesuatu itu tidak menjadi jelas, karena bercampur dengan sesuatu diluar itu semua.

Terlebih lagi bahwa Indonesia ini adalah Negara dengan agama yang majemuk, agama satu dengan agama lainnya bisa saja saling bercampur tanpa batasan (sepertinya). Seperti Borobudur yang ada banyak menjadi gambar kaos kebanyakan orang., atau juga menjadi gantungan kunci atau sejenisnya.

Atau lebih jauh lagi yaitu memakai symbol "palang" yang mirip salib, yang dijadikan tanda kesehatan atau rescue dikebanyakan lembaga kesehatan Indonesia ini.

Kembali lagi ke hakikat sesuatu itu, apakah ia symbol agama atau bukan? Kalau memang ia benar symbol nyata dan jelas merupakan identitas tertentu, maka jelas keharamannya. Niat atau tidak niat sudah pasti itu dilarang, karena simbolnya nyata dan jelas.

BERUBAH HAKIKAT

Akan tetapi jika hakikatnya sudah berubah, yang awalnya symbol agam kemudian karena pergeseran sejarah dan budaya suatu suku tertentu atau karena nilai geografis, sesuatu itu bercampur dengan hal yang non-theologi dan non-ideologi, maka mejadi berbeda hukumnya.

Borobudur contohnya. Awalnya memang symbol agama, tapi berubah menjadi barang budaya Indonesia. Orang yang pergi kesana dikatakan bukan sedang mengunjungi tempat Ibadah, tapi sedang rekreasi.

Orang yang memakai kaos bergambar Borobudur tidak dikatakan sedang memampang gambar tempat ibadah, akan tetapi sedang memamerkan budaya dan tempat rekreasi Indonesia. Pun sama sekali dia tidak niat untuk tasyabbuh, tapi sebagai kebanggaan saja sebagai anak bangsa.

Ketika orang sedang membeli atau membawa gantungan kunci serta hiasan meja Borobudur, kan tidak dikatakan ia sedang membawa tempat Ibadah. Tapi ia sedang membawa gantungan kunci.

Maka –wallahu A'lam-, yang seperti ini tidak dikatakan sebagai Tasyabbuh yang diharamkan. Pun ulama sejak dahulu kala sudah meng-klasifikasikan jenis-jenis tasyabbuh mana yang diharamkan. Dan kapan tasyabbuh menjadi haram dan tidak.

KEBOLEHAN TASYABBUH

Nah salah satu keadaan dimana tasyabbuh itu memang benar diharamkan, yaitu ketika seorang muslim berpakaian atau memakai aksesoris yang memang itu merupakan symbol agam lain dan merupakan identitas di "waktu itu".

Jadi ketika symbol menjadi identitas suatau agama tertentu itu di suatu waktu kemudia, identitas berubah dan sesuatu yang awalnya symbol itu tidak menjadi identitas lagi, maka hilangnya keharaman untuk memakainya.

Cerita Thoyalisah-Nya Orang Yahudi
Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu hajar Al-'Asqolani dalam  kitabnya Fathul-Baari tentang "Thoyaalisah". "Thoyalisah" adalah sejenis penutup kepala yang "sempat" menjadi identitas kaum Yahudi.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, bahwa sahabat Anas bin Malik pernah mendengar Nabi mengatakan: "Thoyalisah adalah penutup kepalanya orang Yahudi". Diriwayatkan pula bahwa Anas bin Malik mencela sahabat yang memakai Thoyalisah.

Karena Atsar inilah, para ulama termasuk Imam Ibnu Qoyyim mengharamkan memakai Thoyalisah karena itu termasuk Tasyabbuh  dengan orang Yahudi, dan itu sangat dilarang oleh syariah. (Zaad Al-Ma'aad 1/142)

Namun Imam Ibnu Hajar membantah keharaman ber-Tasyabbuh dengan orang non-Muslim dengan cerita Thoyalisah, beliau mengatakan:

وإنما يصلح الاستدلال بقصة اليهود في الوقت الذي تكون الطيالسة من شعارهم وقد ارتفع ذلك في هذه الأزمنة فصار داخلا في عموم المباح
"berhujjah dengan cerita Thoyalisah itu menjadi sah dan benar ketika thoyalisah itu masih sebagai symbol dan identitas orang Yahudi. Dan sekarang itu sudah tidak lagi menjadi identitas. Maka thoyalisah masuk kedalam hal-hal umum yang boleh memakainya"  
(Fathul-Baari 10/275)

Jadi memang ketika barang atau sesuatu itu berubah hakikatnya dari yang awalnya adalah ebuah symbol dan identitas menjadi tidak lagi sebagai identitas, maka keharaman untuk ber-tasyabbuh hilang.

Karena memang sebab keharamannya ialah tasyabbuh, yaitu menyerupai. Ketika sesuatu itu sudah tidak lagi menyerupai lagi, maka hilang juga keharamannya. Sebagaimana kandungan dari makna kaidah Ushul Fiqih: [الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما] "Hukum itu bergantung pada Illat-nya (sebab), kalau illat-­nya hilang, maka hilang juga hukumnya."

Wallahu A'lam
 

Tasyabbuh Yang Dibolehkan

Praktek tasyabbuh, yang merupakan menyerupai orang non-Islam dengan memakai pakaian khas mereka atau juga memakai simbol-simbol agama/theology mereka jelas keharamannya.

Tidak ada satu ulama pun yang memandangnya sebagai hal yang boleh-boleh saja. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut"

KAFIR ATAU TIDAK?

Perbedaannya pada status si pemakai symbol itu, apakah ia menjadi Kafir atau tidak? Ulama terbagi menjasi 2 pendapat:

Pertama: Kafir
Ini pendapat yang banyak dipegang oleh jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi'i. Alasannya sesuai dengan apa yang dimaksud oleh hadits nabi Muhammad saw sebelumnya tadi itu, bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum makau dia bagisn dari kaum itu.

Dan symbol-simbol tersebut ialah symbol khas yang menjadi identitas agama tersebut. Jadi tidak akan seseorang memakai dan mengenakan symbol tersebut kecuali memang ia meyakini itu. dan keyakinan yang menyimpang itu yang membuatnya keluar dari Islam.
(Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah 12/6)

Kedua: Haram
Ini pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal beserta pengikutnya dari madzhab Hanbali. Jadi hukumnya sama seperti maksiat pada umumnya, yaitu haram dan berdosa tapi tidak sampai kafir.

Imam Al-Buhuti dari kalangan Hanabilah mengatakan bahwa: "memakai salib di dada atau memakai pakaian khas orang Ahli Dzimmah, itu tidak kafir. Tapi itu diharamkan sama seperti maksiat yang lainnya. Dan hadits yang dimaksud itu bukanlah untuk pengkafiran akan tetapi untuk peringatan saja agar tidak melakukannya.
(Kisyaf Al-Qina' 3/128)

ADA KEBOLEHAN TASYABBUH

Initinya memang tasyabbuh jelas diharamkan. Namun keharamannya itu tidak mutlak begitu saja, para ulama memberikan semacam syarat, ketentuan dan kalsifikasi, tasyabbuh yang memang haram dan tasyabbuh yang bagaimana yang dibolehkan.

1.      Tasyabbuh Dalam Komunitas atau Negara Islam

Tasyabbuh menjadi haram hukumnya bahkan sampai kepada sebuah kekafiran jika itu dilakukan dalam komunitas Islam. Artinya ia melakukan tasyabbuh dinegara Islam yang aman-aman saja sebenarnya.

Berbeda dengan mereka yang hidup minoritas di Negara atau komunitas non-muslim. Atau juga mereka yang sedang dalam peperangan. Mereka dihalalkan ber-tasyabbuh sebagai tipu muslihat dalam perang, dan itu dibolehkan.

Begitu juga mereka yang hidup di negara atau komunitas non-muslim, ia tidak mendapatkan pakaian yang cukup untuk memberikan identitasnya sebagai muslim. Pakaian yang tersedia hanyalah pakaian yang memang biasa dikenakan oleh mereka para non-muslim, bahkan menjadi identitas mereka.

Atau juga karena takut, yang akan mengakibatkan kemudhorotan. Misalnya ia hidup di komunitas non-muslim yang memang radikal. Kalau ada salah seorang dari komunitas itu tertangkap tidak berpakaian seperti mereka maka ia akan dibunuh.

Nah pada kondisi inilah seseorang menjadi boleh untuk ber-tasaybbuh.sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqthidho' Al-Shiroth Al-Mustaqim.  
(Iqthidho' Al-Shiroth Al-Mustaqim 1/177)

2.      Tasyabbuh Dengan Sesuatu Yang Masih Menjadi Identitas Non-Muslim

Salah satu keadaan dimana tasyabbuh itu memang benar diharamkan, yaitu ketika seorang muslim berpakaian atau memakai aksesoris yang memang itu merupakan symbol agama lain dan merupakan identitas khas mereka di "waktu itu".

Jadi ketika symbol itu menjadi identitas suatu agama tertentu itu, dan di suatu waktu kemudian identitas itu berubah, dalam arti sesuatu yang awalnya symbol itu tidak menjadi identitas lagi, maka hilangnya keharaman untuk memakainya.

Cerita Thoyalisah-Nya Orang Yahudi
Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu hajar Al-'Asqolani dalam  kitabnya Fathul-Baari tentang "Thoyaalisah". "Thoyalisah" adalah sejenis penutup kepala yang "sempat" menjadi identitas kaum Yahudi.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, bahwa sahabat Anas bin Malik pernah mendengar Nabi mengatakan: "Thoyalisah adalah penutup kepalanya orang Yahudi". Diriwayatkan pula bahwa Anas bin Malik mencela sahabat yang memakai Thoyalisah.

Karena Atsar inilah, para ulama termasuk Imam Ibnu Qoyyim mengharamkan memakai Thoyalisah karena itu termasuk Tasyabbuh  dengan orang Yahudi, dan itu sangat dilarang oleh syariah. (Zaad Al-Ma'aad 1/142)

Namun Imam Ibnu Hajar membantah keharaman ber-Tasyabbuh dengan orang non-Muslim dengan cerita Thoyalisah, beliau mengatakan:

وإنما يصلح الاستدلال بقصة اليهود في الوقت الذي تكون الطيالسة من شعارهم وقد ارتفع ذلك في هذه الأزمنة فصار داخلا في عموم المباح
"berhujjah dengan cerita Thoyalisah itu menjadi sah dan benar ketika thoyalisah itu masih sebagai symbol dan identitas orang Yahudi. Dan sekarang itu sudah tidak lagi menjadi identitas. Maka thoyalisah masuk kedalam hal-hal umum yang boleh memakainya"  
(Fathul-Baari 10/275)

3.      Tasyabbuh Pada Sesuatu yang Dicela

Para ulama mengkhususkan adanya tasyabbauh yang memang dibolehkan, salah satunya ialah pada bagian ini, yaitu tasyabbuh pada sesuatu yang bermanfaat dan memberikan maslahat untuk ummat.

Dan memang tidak sama sekali diniatkan untuk meniru "buta" kepada mereka, akan tetapi mengambil manfaat yang bisa diambil, dan membuang apa yang memang harus dibuang dan dinilai tercela oleh syariah.

Contohnya seperti dalam hal keilmuan. Diakui atau tidak, zaman sekarang Negara Eropa dan semisalnya telah jauh meninggal beberapa Negara muslim dalam hal kelimuan serta teknologi. Walaupun memang aselinya, keilmuan tersebut berawal dari komunitas Muslim beberapa abad yang lalu kemudian dikembangkan oleh mereka.

Karena kemajuan itulah, beberapa Negara muslim mengutus anak bangsa untuk "meniru" apa yang telah dilakukan oleh non-muslim itu dan mengambil ilmu untuk kemudian dibawa pulang ke negaranya kembali guna memberikan kemaslahatan unutk orang banyak.

Seperti mempelajari teknologi, astronomi, kedokteran bahkan, atau juga ilmu bahasa Asing, dan sejenisnya.

Imam Muhammad bin Ali Al-Hashkafi dari kalangan petinggi madzhab Hanafi yang juga pengarang kitab Al-Dur Al-Mukhtar  mengatakan:

إِنَّ التَّشَبُّهَ ( بِأَهْل الْكِتَابِ ) لاَ يُكْرَهُ فِي كُل شَيْءٍ ، بَل فِي الْمَذْمُومِ وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشَبُّهُ
"tidak selamanya tasyabbuh (menyerupai orang non-muslim) itu negative dan dibenci. Kecuali tasyabbuh pada keburukan dan yang memang diniatkan untuk meniru gaya mereka."
(Al-Dur Al-Mukhtar 1/624)

Jadi memang apa yang datang dari barat (baca: non-muslim) tidak selamanya buruk, dan juga tidak selamanya baik. Hanya saja seorang muslim perlu filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang bisa diambil manfaatnya mana yang tidak ada kemasalahatannya.

Tapi anehnya masih saja ada orang yang dilabeli sebagai "Ulama" tapi selalu saja memandang buta apa yang dihasilkan dari non-muslim dan menghukumi segalanya dengan haram tanpa tahu esensi dan hakikat sesuatu itu.

Padahal kalau ditinjau lebih jauh, aka nada manfaat yang bisa didapat dari barang / sesuatu tersebut jika disikapi dengan baik.

Wallahu A'lam
 

Media "Teroris"

International Confrence on Islam, Civilization, and Peace | 23-24 April 2013 | Hotel Borobudur

Diselenggarakan oleh kementerian (Wazir) Wakaf Yordania, yang lalu menggandeng International Institute of Inter-Faith Studies Amman, Yordan.

Intinya memang seminar ini ditujukan untuk memberikan gambaran Islam yang damai dan cinta kebersamaan. Sekaligus memperbaiki citra Islam yang "terlanjur" dikotori dengan label "Teroris" dan sebagainya.
Hari pertama ada 8 pembicara, 3 dari Indonesia termasuk pak Jusuf Kalla, dan yang lainnya dari Yordan dan Oman.

YANG TERLEWATKAN

Semua orang Islam diamanapun itu, sepakat kok kalau memang Islam itu agama damai yang tidak pernah mengajarkan kekerasan. Semua tidak ada yang meragukan itu.

Bahkan bom-bom bunuh diri yang diledakan, serangan-serang terhadap sipil yang "diduga" itu adalah serangan dari orang Islam radikal, kita semua tidak meyetujui itu. Karena memang itu sebuah kekerasan kepada orang yang tidak berhak mendapatkan kekerasan itu.

Kita semua sepakat Islam mengatur bagaimana seorang muslim melakukan peperangan dalam syariah. Waktunya, tempatnya, syarat-syaratnya dan juga siapa yang boleh dibunuh dan tidak dibunuh dalam perang.
Kita semua sepakat itu. Dan indonesia bukanlah tanah perang (Ardh Al-Harbi). Jadi tidak ada problem.

Tapi! Masalah besar yang kita hadapi sekarang ini ialah "Media". Media yang selama ini melemparkan isu buruk terhadap Islam.
Media yang selama ini selalu memberikan image buruk terhadap Islam. Teroris lah, radikal lah, tidak toleran lah dan masih banyak lagi yang lain. Kita semua sadar itu.

Ketika ada kriminallitas bersenjata dan "diduga" pelakunya ialah orang Islam, media tanpa cek dan ricek lagi langsung meliris berita dengan tagline "Teroris" disetiap beritanya. Padahal itu baru terduga dan belum terbukti.

Tapi anehnya ketika kriminalitas bersenjata yang dilakukan dan memang sudah terbukti itu dilakukan oleh non-muslim, tidak akan ada kata "Teroris" diberitanya.

Seperti yang terjadi di Papua dan daerah timur lainnya. Banyak terjadi penembakan terhadap aparat kepolisian, tapi apa media bilang? Media memberitakan "penduduk sipil bersenjata", bukan "teroris".

Ini kan jelas, Media yang memang belakangnya adalah para orientalis, musuh-musuh Islam, barat, liberal dan sebangsanya itu yang mengatur semua.

Mengatur agar Islam selalu diibaratkan sebagai agama Bar-bar yang doyan kekerasan. Distorsi Media yang memalsukan berita, kemudian menempatkan Islam dipojokan "tertuduh" yang memang harus selalu disalahkan.

Jadi memang masalahnya bukan diakidah kita. Akidah kita aman-aman saja. Bukan juga di pengajaran Islam kita, kita baik-baik saja dengan pengajaran Islam yang kita dapat sejak kecil.

Tapi memang musuh-musuh Islam baik dari luar atau juga dari dalam, yaitu orang-orang Liberal yang Nifaq ini yang selalu membuat keraguan anak-anak Islam dengan berita-berita palsunya.

Ini yang dilewatkan oleh para pembicara itu.

BUAH-NYA SUDAH BISA DIPETIK

Akhirnya, dari semua distorsi media yang terus menerus dengan kontinyu memposisikan Islam sebagai agama pelegal kekerasan yang tidak manusiawi, ini berbuah fatal untuk pemuda Islamnya sendiri.

Mereka yang belum mendapatkan pengajaran Islam dengan pengajaran yang benar dan belum dipalsukan, kemudian terlebih dahulu mereka di-"empanin" dengan berita-berita buruk akan Islam, akhirnya timbul antipati pada diri mereka.

Ujung-ujungnya mereka ogah belajar Islam. Karena dalam otaknya sudah dijejali denga image Islam yang radikal, teroris, intoleran dan sebagainya.
Bukan cuma ogah dan antipati, mereka juga justru nantinya akan jadi orang Islam yang menentang Islam itu sendiri. Dan buah ini semua sudah banyak muncul di negeri kita ini.

Berapa banyak orang yang mengaku Islam tapi antipati kepada syariah Islam sendiri???? Bukan rahasia lagi.

Jadi ada benarnya memang kalau ada yang bilang: "siapa menguasai media, dia menguasai dunia". 

wallahu A'lam
 

Ustadz (Dukun)

cerita sabtu petang kemarin...



Sampai rumah langsung ditodong keponakan. Laptop dan tab langsung dilibas, dibajak buat maen. Duduk istirahat sambil pencet remot. Eh ketemu program bagus...

Sang presenter memakai pakaian koko, layaknya orang muslim yang ingin ke masjid, sangat agamis sekali. Rapi beserta pecinya yang hitam mulus, sepertinya peci mahal, bulu hitamnya mulus indah.

Disampingnya duduk seorang pria paruh baya. Badanya tegap, terlihat sangat sehat sekali, mukanyan pun putih bersih dengan sedikit kumis dan bewok yang tercukur rapi.

Tak kalah dengan presenter, lelaki ini juga berpakaian sangat agamis. Sorbannya 2, satu diikat di kepala, yang satu lagi menjulur di pundak sebelah kanan. Yang hebatnya lagi, tangan terus erat menggenggam kitab tebal dengan cover dari bahan kulit.

Saya tidak salah, pasti ini Ustadz!, pikir saya dalam hati. Dan ini acara ceramah atau kajian agama. Wallpaper yang menjadi Background pun sangat mendukung dengan gambar rak yang berisikan sejumlah deretan kitab.

"Wah hebat nih, malem minggu ada acara kajian agama, seru nih!" pikir saya sambil senyum-senyum sendiri.

Tapi ekpektasi "baik" saya buyar ketika ada suara dari sang penelon dengan nada mengeluh bertanya soal kesehatan kepalanya yang sakit.

"Beuuhh, acara 'tiiiit----sensor----tiiit',,,,"
*langsug pencet remot.
SEMUA BIDANG ADA AHLINYA
Sekarang sudah banyak rumah sakit didirikan, klinik umum atau pun spesialis sudah tersebar hampir diseluruh suduk kota. bahkan klinik yang berlabel 24 jam pun sudah menjamur dimana-mana.Puskesmas sudah bisa diakses dengan mudah dan murah.
Di pusat-pusat kesehatan itu sudah pasti duduk menangani segala masalah kesehatan seorang dokter dan para ahli medis yang sudah melewati pendidikan kesehatan serta kedokteran dengan waktu yang panjang.
mala layaknya lah mereka yang menjadi rujukan kita semua untuk masalah kesehatan. kalau bukan ahli kesehatan, kepada siapa kita merujuk?
syariah sangat tidak menginginkan kita untuk melakukan hal-hal bodoh yang tidak masuk akal. berapa banyak ayat yang terulis dalam al-quran yang mengandung makna perintah untuk kita berfikir.
[أفلا تتفكرون] apakah kalian tidak berfikir, [أفلا تعقلون] apakah kalian tidak menggunakan akal kalian, [افلا تعلمون] apakah kalian tidak mengetahui, [أفلا تشعرون] apakah kalian tidak merasa.
Masih kah seorang muslim yang digelari Allah swt dengan status Ummat terbaik, terus saja mengadahkan tangan kepada dukun-dukun bodoh pembohong itu?

wallahu A'lam
 

Daging Anjing, Halal?

Beberapa hari belakangan, teman-teman Medsoc ramai membicarakan tentang "halal-nya daging anjing menurut Madzhab Maliki dan Zahiri". Awal mulanya (yang saya tahu), salah satu aktivis Liberal melemparkan wacana ini ke public, sehinggga kawan-kawan bertanya, apakah benar begitu?

Karena memang segala sesuatu yang dilemparkan oleh para aktifis Liberal, tidak mesti bisa langsung diterima. Dan memang kebiasaan dan AKIDAH mereka, yaitu merusak "turats" dan mendistorsi ketetapan yang memang sudah disepakati oleh Ulama. Lalu mereka merubah dengan gaya yang elegan, tanpa bukti otentik dari mana mereka menyadur.

SUCI BUKAN BERARTI BOLEH DIMAKAN

Yang perlu diperhatikan dalam membicarakan hewan dalam syariah ialah, membicarakan dari segi apa? [1] dari segi najis dan sucinya; atau [2] dari segi boleh dan tidaknya dimakan. Karena dalam syariah, setiap yang dilarang dimakan, itu berarti najis. Dan yang suci, bukan berarti boleh dimakan.

Simpelnya, kalau mau mengetahui hewan itu suci atau najis, entah bulunya atau air liurnya saja, maka yang harus dibuka dalam Kitab Fiqih itu ya "Bab Thoharoh", yang didalamnya ada Sub Bab "Najasat" yang menerangkan tentang najis-najis baik itu benda atau hewan.

Kalau mau mengetahui hewan ini halal dimakan atau haram dimakan, maka Bab yang harus dibuka dalam kitab fiqih ya "Bab Al-Ath'imah wa Al-Asyribah" [الأطعمة والأشربة], bab yang menerangkan tentang makanan dan minuman. Jadi tidak bisa hanya buka satu bab saja.  

Terkait masalah Anjing, kita harus runut dulu pembahasannya, yang prtama ialah "Apakah Anjing ini suci atau naji?" dan bagaimana pendapat Ulama mengenai hal ini. Yang nantinya kita akan mencapai inti masalah, yaitu benarkah Mazhab Maliki dan Zahiri itu menghalalkan daging anjing?

karena banyak yang menyangkan bahwa kalau itu suci, maka boleh dimakan. justru bukan begitu kaidahnya. Yang benar ialah, kalau itu najis, maka Haram dimakan. Tapi kalau itu suci, bukan berarti boleh dimakan.

Banyak juga disekeliling kita benda-benda suci tapi syriat ini justru melarang kita mengkonsumsinya.  

 ANJING, NAJIS ATAU SUCI?

Dalam hal ini Ulama terbagi menjadi 3 kelompok besar:

Dalam mazhab Al-Hanafiyah[1], yang najis dari anjing hanyalah air liur mulut dan kotorannya saja. Sedangkan tubuh dan bagian lainnya tidak dianggap najis.

Mengapa demikian ?
Sebab dalam hadits tentang najisnya anjing, yang ditetapkan sebagai najis hanya bila anjing itu minum di suatu wadah air. Maka hanya bagian mulut dan air liurnya saja (termasuk kotorannya) yang dianggap najis.

عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ t‏ ‏‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ s قَالَ إِذَا شَرِبَ الكَلْبُ فيِ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا‏-‏متفق عليه ‏‏ ‏
Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahw  Rasulullah SAW bersabda"Bila anjing minum dari wadah air milikmu harus dicuci tujuh kali.(HR. Bukhari dan Muslim).

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُم إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ
Rasulullah SAW bersabda"Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.(HR. Muslim dan Ahmad) 

Dan jenis najisnya ialah najis Mugholladzoh, yaitu najis besar. Kenapa besar? Karena dalam pensucian tempat atau tubuh yang terkena jilatan anjing itu harus dicuci sebanyak 7 kali dengan debu salah satunya. Kalau hanya mensuci asal hilang bekasnnya, itu namanya Najis Mutawasithah (najis sedang)

2. MAZHAB AL-MALIKIYAH
Mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa anjing itu suci secara mutlak. Maksdunya ialah bahwa seluruh tubuhnya itu suci, bulunya juga suci, bahkan keringat dan air liurnya juga suci.[2]

Akan tetapi, tidak semua Ulama Malikiyah berpendapat sama. Ada juga yang mengatakan bahwa badan anjing itu memang tidak najis, tapi yang najis itu hanya air liurnya saja. Bila air liur anjing jatuh masuk ke dalam wadah air, maka wajiblah dicuci tujuh kali sebagai bentuk ritual pensuciannya.[3]

3. MAZHAB AS-SYAFI'IYAH, AL-HANABILAH Dan AL-ZAHIRIYAH[4]
Yang agak berbeda adalah Mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. Kedua mazhab ini sepakat mengatakan bahwa bukan hanya air liurnya saja yang najis, tetapi seluruh tubuh anjing itu hukumnya najis berat, termasuk keringatnya.

Bahkan hewan lain yang kawin dengan anjing pun ikut hukum yang sama pula. Dan untuk mensucikannya harus dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Logika yang digunakan oleh mazhab ini adalah tidak mungkin kita hanya mengatakan bahwa yang najis dari anjing hanya mulut dan air liurnya saja. Sebab sumber air liur itu dari badannya.

Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. Termasuk air yang keluar dari tubuh itu pun secara logika juga najis, baik air kencing, kotoran atau  keringatnya.

Lebih tegas lagi, Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi yang mewakili Mazhab Zahiri dalam Kitabnya AL-Muhall [المحلى] menjelaskan bahwa Najisnya anjing itu disebabkan karena anjing termasuk hewan buas yang punya taring untuk menerkam musuhnya. Dan hewan yang bertaring dilaranbg memakannya. Karena dilarang memakannya maka anjing itu najis.[5]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t عَنْ اَلنَّبِيِّ r قَالَ:كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ اَلسِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ. وَزَادَ:  وَكُلُّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ اَلطَّيْرِ-  رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda"Semua hewan yang punya taring dari hewan buas maka haram hukumnya untuk dimakan". Dan ditambahkan :"Semua yang punya cakar dari unggas"  (HR. Muslim)

Pendapat tentang najisnya seluruh tubuh anjing ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya :

Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Di kala lainya kaum yang lain mengundangnya dan beliau tidak mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tidak mendatangi undangan yang kedua beliau bersabda"Di rumah yang kedua ada anjing sedangkan di rumah yang pertama hanya ada kucing. Dan kucing itu itu tidak najis". (HR. Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny).

DAGING ANJING, HALAL ATAU HARAM?

Untuk masalah daging Anjing, halal atau haram dimakan, penulis akan memaparkan lebih dahulu apa yang menjadi pegangan mayoritas Ulama, beserta dalil yang digunakan.

Kemudian penulis akan meng-akhir-kan pendapat Imam Malik dan Mazhab Zahiri, guna menjawab tuduhan para Liberalis yang dengan pongah mengatakan daging anjing halal dan mencatut nama Ulama besar sekelas Imam Malik dan Imam Abu Daud Al-Zahiri.

JUMHUR
dalam masalah ini mayoritas ulama dari 4 Mazhab ditambah Mazhab Al-Zahiriyah mengharamkan daging anjing. Alasannya memang karena anjing termasuk hewan Sabu' [السبع] yang dalam bahwa Indonesia disebut dengan hewan buas yang bertaring untuk menerkam musuhnya.[6]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t عَنْ اَلنَّبِيِّ r قَالَ:كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ اَلسِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ. وَزَادَ:  وَكُلُّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ اَلطَّيْرِ-  رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda"Semua hewan yang punya taring dari hewan buas maka haram hukumnya untuk dimakan". Dan ditambahkan :"Semua yang punya cakar dari unggas"  (HR. Muslim)

Haditsnya jelas dan memang shorih, bahwa setiap hewan yang bertaring dan buas, artinya taringnya yang dimilikinya itu digunakan untuk menerkam mangsa, maka hewan tersebut digolongkan sebagai hewan yang haram dimakan.

AL-ZAHIRIYAH BERSAMA JUMHUR
Ini yang dituduhkan oleh aktifis Liberal itu, katanya mazhab Al-Zahiriyah menghalalkan daging anjing. Padahal sangat jelas, Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (567 H) dalam kitabnya Al-Muhalla dengan sangat tegas beliau mengatakan bahwa anjing najis dan haram dagingnya.

Kitab Al-Muhalla ialah kitab induk yang menjadi rujukan Qoul-qoul (pendapat-pendapat) mazhab Al-zahiriyah. Karena memang Imam Ibnu Hazm sendiri adalah seorang Zahiri, yang sangat kuat memegang ajaran sang pendiri mazhab, Imam Abu Daud Al-Zahiri (270 H).

Dalil yang digunakan oleh Imam Ibnu hazm dalam pengharaman daging anjing sama seperti dalil yang digunakan oleh Jumhur Ulama sebelumnya. Dalam kitabnya beliau mengatakan:

مَسْأَلَةٌ: وَلاَ يَحِلُّ أَكْلُ الْعَذِرَةِ, وَلاَ الرَّجِيعِ, وَلاَ شَيْءٍ مِنْ أَبْوَالِ الْخُيُولِ, وَلاَ الْقَيْءِ, وَلاَ لُحُومِ النَّاسِ وَلَوْ ذُبِحُوا، وَلاَ أَكْلُ شَيْءٍ يُؤْخَذُ مِنْ الإِنْسَانِ إِلاَّ اللَّبَنَ وَحْدَهُ, وَلاَ شَيْءٍ مِنْ السِّبَاعِ ذَوَاتِ الأَنْيَابِ, وَلاَ أَكْلُ الْكَلْبِ
"masalah: tidak dihalalkan memakan kotoran manusia, kotoran hewan,...................dan diharamkan anjing......"[7] (lihat kalimat yang dimerahkan)

Dan ini juga telah disebutkan di beberapa halaman sebelumnya dan juga halaman yang menjelaskan tentang kenapa anjing najis, seperti yang dijeaskan sebelumnya. Jadi tuduhan itu memang sama sekali tidak berdasar.

MAZHAB MALIKI
Dalam masalah daging anjing memang mazhab Maliki tidak satu suara dengan mayoritas Ulama yang mengharamkan secara tegas daging anjing, akan tetapi bukan berarti Imam Malik beserta Ulama mazhabnya membolehkan secara Mutlak.

Bahkan tidak ada satupun dari Ulama mazhab Maliki dan Imam Malik itu sendiri yang mengatakan bahwa "BOLEH MEMAKAN DAGING ANJING". Kalimat seperti ini TIDAK ADA.

Yang benar dalam mazhab Maliki ialah 2 pendapat:
[1] Makruh (bukan Boleh Mutlak),
[2] Haram.

Kenapa Makruh?
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِير
"katakanlah (wahai Muhammad) aku tidak menemukan dari apa yang telah diwahyukan kepadaku makanan yang diharamkan kecuali itu bangkai, darah yang mengalir banyak, dan juga daging babi" (Al-An'am 145)

Ayatnya tidak mengatakan bahwa daging itu haram, dan memang karena tidak ada kata anjing dalam ayat ini. Namun kemudian ayat ini menurut Ulama Mayoritas dikhususkan dengan hadits:

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda"Semua hewan yang punya taring dari hewan buas maka haram hukumnya untuk dimakan". Dan ditambahkan :"Semua yang punya cakar dari unggas"  (HR. Muslim)

Mayortitas Ulama menganggap bahwa memang tidak ada ayat yang mengharamkan daging anjing. Tetapi anjing diharamkan karena anjing masuk kedalam golongan Sabu' yang terdapat larangannya dalam hadits ini. Dan hadits ini juga merupakan Takhshish (pengkhsusus) bagi ayat diatas.

Akan tetapi Imam Malik memandang berbeda, bahwa hadits ini bukan untuk pengharaman. Jadi yang awalnya anjing itu halal karena tidak ada penjelasannya diayat, kemudian ada hadits tersebut, maka kehalalannya berubah menjadi "Makruh" dan bukan Haram.[8]

HARAM
Pendapat haram inilah yang menjadi pegangan Mayoritas Ulama Maliki. Karena rupanya pendapat "Makruh" itu tidak terlalu kuat menurut Ulama Maliki itu sendiri, dan ini mendapat penegasan diberbagai Kitab Malikiyah.

Imam Al-Showi menjelaskan dalam Kitabnya, Bulgotus-Salik:
روى المدنيون عن مالك تحريم كل ما يعدو من هذه الأشياء كالأسد أو النمر والثعلب والكلب
"para Ahli Madinah (pengikut Imam Malik) meriwayatkan bahwa Imam Malik mengharamkan semua binatang yang menerkam mangsanya seperti singa, macan, srigala dan anjing"[9]

Dalam halaman yang lain beliau mengatakan:
فِي أَكْل لَحْمِ الْكَلْبِ قَوْلاَنِ : الْحُرْمَةُ ، وَالْكَرَاهَةُ ، وَصَحَّحَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ التَّحْرِيمَ ، قَال الْحَطَّابُ وَلَمْ أَرَ فِي الْمَذْهَبِ مَنْ نَقَل إِبَاحَةَ أَكْل الْكِلاَبِ
"dalam pendapat Imam Malik tentang Anjing, ada 2; Makruh dan Haram. Tapi Imam Ibnu Abdil Barr membenarkan yang "Haram". Imam Haththob berkata: Tidak ada satupun dari Ulama maliki yang mengatakan kebolehan daging anjing"[10]

Penjelasan yang sama dijelaskan oleh Imam Al-Dasuqi dalam kitabnya "Hasyiah Al-Dasuqi" jilid 2 halaman 122. Yang memang kitab ini juga rujukan penting dalam mazhab Imam Malik.

ASAL "CATUT"

jadi jelas Mazhab Maliki dan Zahiri sama sekali tidak menghalalkan mutlak daging anjing. ini praktekt "Naql" asal catut nama Ulama dengan tujuan distorsi syariah atau malah ingin menjelek-kan Ulama yang bersangkutan.
 
Praktek asal catut nama Ulama seperti ini memang bukan hal yang biasa terjadi dalam sejarah tradisi keilmuan. terlebih lagi syariah, yang memang banyak pihak seperti kaum LIberal dan para pen-bebek-nya yang selalu saja mencari jalan untuk mengdistorsi pendapat Ulama. 

sebelumnya juga pernah terjadi yaitu pendapat kontroversial tentang "Bolehnya Imam Wanita Untuk Jemaah Pria Dala Sholat". yang melemparkan isu yaaa orang-orang Liberal itu  juga yang memang ingin sekali merusak syariah. 

mereka mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh Imam Muzani dan Imam Thabari, padahal sama sekali tidak ditemukan Imam Muzani mengatakan hal tersebut. apalagi Imam Al-Thobari.

dan sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikan secara Otentik bahwa Imam Muzani dan Imam Thabari mengatakan demikian. di kitab apa? dan siapa yang meriwayatkan?

ini jelas sebuah kebohongan guna merusak syariah dengan memakai tameng nama Ulama besar.
     
Wallahu A'lam



[1] Lihat kitab Fathul Qadir jilid 1 hal. 64, kitab Al-Badai' jilid 1 hal. 63.
[2] Al-Taaj wa Al-Ikliil, jilid 1 hal. 91
[3] Asy-Syarhul Kabir jilid 1 hal. 83 dan As-Syarhus-Shaghir jilid 1 hal. 43.
[4] Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 78, kitab Kasy-syaaf Al-Qanna' jilid 1 hal. 208 dan kitab Al-Mughni jilid 1 hal. 52.
[5] Al-Muhalla Li Ibni Hazm, jilid 1 hal. 111
[6] Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah, jil 35 hal. 132
[7] Al-Muhalla, jil 7 hal 398
[8] Bidayah Al-Mujtahid, jil 1 hal 468
[9] Bulghotu Al-Salik, jilid 2 hal 120
[10] Bulghotu Al-Salik, jilid 2 hal 121
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger