Talfiq = Kanibalilasi Mesin

Mengamalkan 2 madzhab yang berbeda, ulama menyebutnya dengan istilah talfiq. yaitu mencampur adukan 2 pendapat yang berbeda lalu kemudian mengamalakannya denagn random atau juga melahirkan pendapat yang baru.

talfiq memang pembahasan yang tidak semua melihat negatif tapi tidak juga semua ulama setuju dengan itu. yang menjadi batasan toeransi para ulama ushul ialah selama seorang muslim itu tidak melahirkan pendapat baru, padahal dia awam. misalnya begini, madzhab A punya pendapat A, dan madzhab B punya pendapat B.


Nah, menjadi terlarang kalau dia malah melahirkan pendapat C padahal statusnya bukanlah seorang mujtahid. toh bahasa arab aja ngga ngerti. yang mesti dilakukan ya tinggal pilih aja, mau ikut A apa ikut B. thats it!


Kita ambil contoh yang lebih merakyat agar mudah dipahami. montir mesin misalnya. baik itu montir motor atau mobil.


Biasanya merek dagang itu mengeluarkan spare part khusu untuk mesin yang dikelarkan oleh merek dagang itu. dan memberikan instruksi kepada para pemilik bengkel agar menggunakan spare part dari merek tersebut untuk mesin yang sama mereknya.


Walaupun sejatinya spare part itu sama dengan spare part merek lain, tapi orang-orang terkadang khawatir kalau memasangkan spare part merek tertentu ke mesin yang bukan merek tersebut. khawatir mesinnya jadi bermasalah. nah, karena khawatir bermasalah, untuk lebih amannya dan lebih selamatnya, dia make spare part untuk motor tau mobilnnya dengan merek yang sama. biar sesuai.


Tapi buat montir, logikanya terbalik, buat mereka bukan merek yang penting tapi memang spare part itu dan fungsinya yang mesti sesuai denagn yang dibutuhkan mesin walaupun bukan merek yang sama. akhirnya mereka melakukan yang namanya "KANIBALISASI MESIN".


Kanibalisasi: campur aduk spare part merek tertentu untuk mesin yang mereknya berbeda. apa jadi masalah? tentu tidak! kenapa? karena mereka, montir itu semuanya orang yang mengerti mesin. dan tentu saja, kanibalisasi mesin yang dilakukannya itu bukan tanpa sebab, bukan asal-asalan, tapi memang mereka melakukannya itu denngan pertimbangan yang matang.

Karena memang yang melakukan kanibalilsasi itu orang yang ngerti, yaitu montir yang memang pakar di bidang mesin. mesin yang dikanibalilasasi juga tidak mendapatkan masalah yang serius, toh itu hasil "ijtihad"-nya orang yang paham mesin.


Nah, begitu kira-kira analoginya. kalau memang ngga paham mesin, jangan sok-sok kanibalisasi mesin, kalau emang ngga mau mesin hancur. tapi kalau memang ngerti mesin, ya boleh-boleh saja lah. yang penting kanibalisasinya bukan didasarkan "barang" yang kemahalan, tapi memang karena pertimbangan teknis yang argumentatif dan ilmiah.

-wallahu a'lam-
 

Syarat Pemimpin Menurut Imam Abu Ya'la (458 H)

Kalau mengacu kepada al-Ahkam al-Sulthaniyah karangan Imam al-Qadhiy Abu Ya'la al-farra' (380-458 H) dari kalangan al-Hanabilah, syarat pemimpin yang layak dan boleh dipilih untuk memipin umat Islam itu:

Pertama: 

Punya kriteria sebagai pemimpin wilayah dalam Islam (ini adalah syarat mutlak); Islam, laki-laki, baligh, merdeka, dan berakal.


Kedua:
 

Punya sifat 'Adalah dalam Islamnya, bukan orang fasiq. 'Adalah dalam syariah itu mereka yang tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak pernah meninggal yang wajib seperti sholat 5 waktu, puasa ramadhan, zakat kalau mampu, haji kalau mampu. Dan tidak melakukan yang makruhat depan umum, dalam madzhab al-Hanafyah.

Ketiga:
 

Orang yang piawai dalam masalah politik, peperangan dan regulasi hukum serta penerapannya.

Keempat: Ilmu,

Dia orang yang masuk dalam kategori mujtahid, untuk urusan ini, mereka bisa wakilkan kepada ulama yang kompeten.


Kelima:
 
Sehat panca indera-nya, khusunya telinga dan mata. Bisa mendengar dengan baik dan mata yang masih awas serta sehat.


Keenam:
 

Tidak cacat fisik yang sekiranya membuat dia terganggu sebagai pemangku jabatan mengurusi umat.

Dari penjelasan Imam Abu Ya'la ini, rasanya 2 kandidat capres dan cawapres yang ada punya kans dan punya hak untuk mendapat pilihan oleh orang2 Islam di Indonesia. Keduanya baik, dan insyaAllah tetap baik jika memang terpilih. Tugas kita doakan saja, siapapun yang memimpin nanti, mudah2an membawa ke arah yang baik untuk negeri. –wallahu a'lam-
 
*ada satu lagi syarat yang disebutkan oleh Imam Abu Ya'la, yaitu pemimpin haruslah ornag dari suku Quraisy. hanya saja syarat ini tidak disepakati oleh ulama*
 

Apa itu Sholat Li Hurmatil-Waqt?

Mungkin beberapa kita pernah dengar sholat "li Hurmatl-Waqt", dan bahkan pernah melakukannya, dan memang sepertinya mayoritas orang Indonesia itu pernah melakukan sholat ini. karena memang istilah sholat li hurmatil-wawt ini hanya ada di kalangan al-Syafi'iyyah, tidak di madzhab yang lain.

Sholat li hurmatil-waqt itu secara bahasa artinya Sholat untuk menghormati datangnya waktu sholat. Ini dilakukan ketika datang waktu sholat, namun seorang muslim tidak memenuhi syarat-syarat sah-nya sholat fardhu. Seperti orang yang tidak punya air untuk bersuci, dan juga tidak ada debu untuk ia bertayammum. Atau juga ia bisa bertayammum/berwudhu, tapi sayangnya sholatnya tidak bisa menghadap kiblat, dan ruku serta sujudnya tidak sempurna, seperti di dalam pesawat.

Ketika ada seorang muslim dalam keadaan seperti ini, (dalam madzhab al-Syafiiyah) ia tetap wajib sholat untuk menghormati waktu dengan keadaan yang ia bisa –walaupun tanpa thaharah, tapi nanti ia wajib juga mengqadah sholatnya itu. Karena itu ini dinamakan sholat li hurmatil-waqt, karena memang kewajiban sholat fardhunya tidak gugur.

Kenapa harus dilakukan dan kenapa tidak gugur kewajibannya?

Iya, mungkin ada yang bertanya seperti itu. Kalau memang tidak bisa wudhu/tayammum, kenapa harus sholat? Kenapa juga harus diqadha kalau memang sudah sholat? Kalau ini hanya di madzhab al-Syafiiyyah, lalu bagaimana dengan madzhab yang lain?

Nah. Ok sekarang kita tarik masalahnya ke sumber perkara. Jadi, Sumbu perbedaan antara madzhab syafiiyah sang empunya sholat lihurmatil-waqt ini dengan madzhab lain itu ialah ada di perkara sholat Faqid al-Thahurain, yaitu sholatnya orang tidak bisa bersuci/thaharah.

Faqid itu artinya tidak punya atau kehilangan, thahurain maksudnya 2 alat suci; air dan tanah. Jadi Faqid Thahurain itu orang yang kehilangan 2 alat bersuci; air dan wudhu.

Sholat Faqid al-Thahurain

Dalam kitab al-Jami' al-Shahih yang lebih dikenal dengan shahih al-Bukhari (7/106), ada hadits yang menceritakan tentang beberapa sahabat yang ditugasi oleh Nabi saw untuk mencari kalung sayyidah 'Aisyah yang hilang. Sejatinya itu kalung sayyidah Asma tapi dipinjam oleh sayyidah 'Aisyah dan hilang.

Setelah lama mencari akhirnya mereka menemukannya, tapi ketika itu waktu sholat hampir habis, dan tidak ada air untuk mereka wudhu (ayat tayammum belum turun ketika itu), akhirnya mereka sholat tanpa thaharah, artinya dalam keadaan tidak suci. Lalu kembali ke Nabi dan melaporkan apa yang mereka lakukan, dan Nabi tidak menyalahkannya.

Nabi tidak menyuruhnya mengulang sholat, dan Nabi juga tidak menyalahkan sholatnya. Setelah peritiwa ini terjadi, turunlah ayat tayammum sebagai pengganti air dalam keadaan tertentu.

Nah, dari hadits ini kemudian ulama fiqih membuat semacam iftirahdii (kemungkinan) dan gambaran-gambaran yang sama dengan perkara hadits tersebut, muncul kemudian beberapa contoh orang yang termasuk dalam kategori Faqid Thahurain.

Tapi bukan Cuma mereka yang tidak bisa berthaharan baik wudhu atau tayammum, bukan hanya itu. Mereka melihat bahwa posisi thaharah dalam sholat itu syarat sah (madzhab Maliki mengatakan itu syarat wajib), maka siapapun muslim yang ketika masuk waktu sholat namun beberapa syarat sah sholat tidak terpenuhi (seperti: menghadap kiblat, menutup aurat, sempurna ruku' dan sujud), ia termasuk faqid thahurain, contohnya:

-      Orang yang terpenjara, dipasung, tidak bisa bergerak, wudhu tak bisa, tayammum apalagi. Sholat pun hanya sebatas geral-geral kecil.
-      Orang yang sakit, yang sekujur tubuhnya dijejali selang infus atau sejenisnya, yang kalau dilepas itu membahayakan keselamatan dirinya.
-      Orang yang di kendaraan seperti pesawat, tidak bisa bersuci. Ada yang bisa tapi tidak punya space yang pas untuk sholat. Tidak bisa menghadap kiblat, tidak juga bisa sempurna ruku dan sujudnya.

Bagaimana Hukum Sholatnya Faqid al-Thahurain?

Lalu bagaimana, apakah orang seperti ini masih tetap wajib sholat atau tidak? kalau ia sholat apakah wajib diulang, apa itu sudah menggugurkan kewajibannya? –seperti biasa- ulama madzhab berbeda pendapat:

Madzhab al-Hanafiyah: Tidak Wajib SHolat tapi Diqadha'

Sejatinya tidak semua ulama Hanafi sepakat, namun pendapat yang masyhur bahwa orang dalam keadaan Faqd-Thahurain tidak wajib sholat tapi wajib diqadha nanti ketika keadaan sudah normal. Sebagian lain mengatakan tetap melakukan sholat sebisanya, dan wajib juga diqadha.

Dalil mereka bahwa syarat sah sholat itu adalah suci (thaharah), kalau tidak ada thaharah ya tidak sah sholatnya, belum gugur kewajibannya. Dan sejatinya yang dikerjakan olehnya ketika itu bukan sholat, karena syaratnya tidak terpenuhi. Karena bukan sholat maka dia tetap wajib qadha nanti setelah keadaan normal, karena memang kewajibannya belum gugur.
(Hasyiyah Ibnu Abdin 1/168)

Madzhab al-Malikiyah: Tidak wajib sholat, dan tidak wajib qadha juga

Berbeda dengan madzhab sebelumnya, justru Imam Malik tidak mewajibkannya sholat dan juga tidak mewajibkannya qadha. Kenapa? Karena thaharah dalam madzhab ini adalah syarat wajib bukan syarat sah. Karena syarat wajib, ketika ini tidak terpenuhi maka kewajibanpun tidak ada. Karena tidak wajib sholat di waktu itu, maka tidak wajib juga mengqadha'-nya. karena qadha itu adalah melaksanakan kewajiban yang tertinggal, toh yang ditinggalkan itu tidak wajib, jadi tidak wajib juga diqadha. Toh dalam hadits itu juga Nabi saw tidak menyuruh para sahabat mengqadah sholatnya.
(Hasyiyah al-Dusuqi 1/162)

Ini salah satu pendapat Imam Malik yang dikritik oleh salah seorang ulamanya, yaitu Imam al-Qarafi, bahwa dia tidak sepakat dengan Imam Malik dalam hal bahwa Thaharah ini syarat wajib. Beliau berpendapat bahwa Thaharah itu syarat sah bukan syarat wajib. (al-Dzkhiroh 1/351)

Madzhab al-Syafi'iyyah: Wajib sholat, dan wajib Qadha.

Dari sini muncul istilah lihurmatil-waqt. Madzhab ini mewajibkan orang faqd-Thahurain untuk tetap sholat denngn keadaan sebisanya "hurmatan lil-Waqt" (guna menghirmati waktu sholat) dan wajib qadha'. Konsekuensinya ialah ketika masuk waktu sholat –bagaimanapun keadaannya- dan ia tidak melaksakannya sampai keluar waktu sholat, ia berdosa.

Kenapa wajib sholat dalam keadaan seperti itu? Lihat hadits di atas, para sahabat melakukan sholat padahal dalam keadaan tidak suci dengan 'Keyakinan' bahwa sholat itu tetap wajib, lalu melapor ke Nabi saw dan Nabi tidak menginkarinya. Kalau seandainya itu terlarang, pastilah Nabi melarang. Dan tidak mungkin para sahabat itu melakukannya kalau tidak berkeyakinan bahwa itu wajib. Artinya Nabi saw tidak menginkari keyakinan mereka akan wajibnya sholat. Jadi sholat tetap wajib dengan sebisanya.

Kenapa tetap wajib qadha? Pertama karena dia sholat dengan tanpa bersuci dan keadaan yang tidak sempurna, jadi kewajibannya tidak gugur. Kedua, karena alasan ini adalah udzur yang jarang sekali terjadi dan tidak terus menerus status. Dalam bahasa ulama al-Syafi'iyyah [لأن هذا عذر نادر غير متصل]
(Mughni al-Muhtaj 1/105, al-Majmu' 1/392)

Sepertinya ulama al-Syafi'iiyah memisahkan keadaan seorang muslim ketika dalam keadaan faqd-thahurain, dan juga keadaannya yang normal. Dia tetap wajib karena memang sahabat melakukannya. Dalam keadaan normal dia tetap wajib sholat karena sholatnya yang sebelumnya itu tidak terhitung sebab syarat sah-nya sholat tidak terpenuhi.

Madzhab al-Hanabilah: Wajib Sholat dan Tidak qadha

Madzhab ini kebalikan dari madzhab al-Syafi'iiyah. Beliau mewajibkan sholat dalam keadaan seperti itu dengan dalil [فاتقوا الله ما إستطعتم] bertaqwalah kepada Allah swt dengan keadaan yang kalian bisa. Ketika masuk waktu sholat, keadaan seperti itu, maka ia wajib sholat seperti itu. Setelah itu dia tidak perlu qadha' lagi, karena kewajibannya telah gugur sebagaimana para sahabat itu yang Nabi saw tidak menyuruhnya mengulangi sholat.
(Kasysyaf al-Qina' 1/171)

-------
Jadi itu kenapa muncul istilah sholat lihurmatil-waqt, karena memang madzhab al-Syafi'iiyah mewajibkan tapi tidak membuat kewajibannya gugur. Mereka menyebut sholat tersebut dengan istilah hurmatan lil-waqt (sebagai penghormatan waktu sholat).

Wallahu a'lam
 

Kalau Hadits Shahih, itu Madzhab Syafi'i?

Beberapa orang –entah sejak kapan- sering sekali mengaku kalau pendapat fiqih yang ia pegang itu ialah pendapatnya madzhab al-Syafi'iiyah tapi nyatanya sama sekali pendapat itu kita tidak temukan itu di buku-buku fiqih madzhab Imam al-Syafi'i, sama sekali tidak ada. Akhirnya malah menyalahi pendapat madzhab.

Jadi kalau ditanya tentang pendapatnya tersebut, ia menjawab dengan lugas: "ini pendapat Imam al-Syafi'i, loch!".

Anehnya, sama sekali ia menyimpulkan pendapatnya tersebut hanya dari sebuah hadits, tanpa melirik bagaimana ushul-fiqh yang berlaku dalam madzhab Imam Muhammad bin Idris ini. ia hanya tahu satu perkataan Imam al-Syafi'i yang masyhur lalu dijadikan sandaran, yaitu:

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي
"kalau haditsnya shahih, maka ini adalah madzhabku!"

Cuma karena perkataan ini, kalau ia mendapati hadits dan itu derajatnya shahih –menurut dia-, dia langsung menghukum hukum fiqih yang ada dalam hadits itu lalu mengatakan itu adalah pendapat madzhab al-Syaf'iyyah, tanpa peduli bahwa pendapatnya itu menyelisih pendapat resmi madzhab. Toh karena memang ia hanya tahu itu saja, tanpa pernah buka kitab-kitab madzhab al-Syafi'iyyah. 

Tentu ini adalah bentuk kekeliruan dalam memahami perkataan Imam al-Syafi'i. pemahaman seperti ini, ujungnya nanti akan berbuah 'penghakiman' terhadap Imam mulia tersebut bahwa beliau 'keliru' dan 'salah'. Wah hebat, bisa menyalahkan Imam! Atau bisa jadi, pengakuannya itu hanya untuk dijadikan 'tamemng', agar pendapatnya itu diterima di khalayak, ia menunggang label madzhab al-Syafi'i.

Contoh Kasus

Contohnya begini, yang paling familiar ialah masalah qunut. Pendapat resmi madzhab al-Syafi'iyyah qunut subuh itu sunnah muakkad dan masuk dalam kategori sunnah Ab'adh dalam sholat yang kalau tertinggal, diganti dengan sujud sahwi sebelum salam.

Ternyata hadits perihal qunut subuh itu setelah diteliti oleh mereka –yang menyalahkan Imam- itu adalah hadits yang dhaif, karena dhaif maka tidak bisa dipakai, bahkan ada yang mengatakan bid'ah. Lalu karena mengacu pada pemahamannya terhadap perkataan Imam al-Syafi'i secara tekstual itu, ia katakan:

"ini madzhab Imam al-Syafi'i, karena Imam al-Syafi'i bilang madzhabnya itu madzhab hadits yang shahih, sedangkan hadits qunut subuh itu dhaif. Jadi qunut subuh tidak ada. Begini madzhab Imam al-Syafi'i!"

Nah, dari perkataan seperti ini, terlihat ada bentuk justifikasi kesalahan, dan indikasi seakan-akan Imam al-Syafi'i keliru memilih hadits dan tidak piawai memilih mana yang shahih dan mana yang dhaif. Seakan-akan ia mengajari Imam al-Syafi'i Bagaimana bisa seorang ahli hadits sekelas Imam al-Syafi'i keliru menilai sebuah hadits?

Ini seperti mengajari nelayan bagaimana caranya memegang jaring ikan, atau seperti mengajari montir bagaimana caranya memegang obeng. Jelas pekerjaan yang sia-sia dan sama sekali tidak menghormati yang diajari, plus tidak tahu diri. Nelayan memang kerjaannya di laut dan memegang jaring, tidak mungkin salah. Montir pun demikian.    

Itu yang pertama, yang kedua yaitu supaya 'dagangannya laku'; menggunakan label madzhab Imam al-Syafi'i saja agar bisa diterima di masyarakat awam.

Pengukuhan bukan Penyerahan

Sepertinya memang ada kesalahan dalam memahami perkataan Imam al-Syafi'i itu. Semua beranggapan bahwa Imam al-Syafi'i menyerahkan (tafwidh) begitu saja madzhabnya kepada khalayak. Tapi justru ini adalah Pengukuhan dan pernyataan final bahwa segala apa yang beliau fatwakan –dan akhirnya menjadi madzhab-, itu semua disandarkan kepada hadits yang menurut beliau shahih, karena memang beliau juga adalah seorang muhaddits (ahli hadits) yang paham mana hadits cacat dan tidak.

Tidak mungkin seorang imam Mujtahid bukan seorang ahli hadits, tidak mungkin! Bagaimana bisa seorang mengistinbath sebuah hukum dan dia tidak tahu sumber (al-Quran dan Hadits) yang baik dan buruk.

Dan juga shahih di sini punya arti bahwa ini shahih (sah) untuk dijadikan dalil fiqih. Karena hadits yang derajatnya shahih, tidak serta merta bisa dijadikan dalil hukum karena, karena bisa jadi itu di-naskh atau ada yang mengkhususkannya (takhshish), atau di-ta'wil. Jadi memang ini adalah bentuk pengukuhan atas segala apa yang difatwakan oleh beliau. Bukan penyerahan.  

Menjadi tidak masuk akal kalau ini berarti tafwidh (penyerahan), bagaimana bisa seorang mujtahid malah menyerahkan madzhabnya kepada khalayak yang belum tentu setara kapasitas keilmuannya dengan beliau. Lalu buat apa beliau cape-cape mengumpulkan hasil ijtihadnya kalau ujung-ujungnya beliau serahkan kepada khalayak?

Dan kalau berarti tafwidh, ini juga punya dampak yang negative. Akhirnya, siapa saja yang menemukan hadits dan –menurutnya- itu shahih, ia langsung mengaku-ngaku kalau itu madzhabnya Imam al-Syafi'i. padahal tidak begitu.

Kalau Haditsnya Shahih, itu Madzhabku!

Jadi memang perkataan Imam al-Syafi'i tidak bisa diartikan secara tekstual begitu saja. Perlu ada pemahaman yang pas sehingga tidak mencederai kapasitas Imam al-Syafi'i sebagai seorang mujtahid mutlak. Dan sebenarnya, kita tidak perlu bersusah payah, karena pernyataan Imam ini sudah dijelaskan oleh salah satu ulama madzhab al-Syafi'iyyah itu sendiri; yaitu Imam al-Nawawi dalam muqadimah kitabnya "al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab" (1/63 - 64).

وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الشافعي ليس معناه ان كل أحد رَأَى حَدِيثًا صَحِيحًا قَالَ هَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَعَمِلَ بِظَاهِرِهِ: وَإِنَّمَا هَذَا فِيمَنْ لَهُ رُتْبَةُ الِاجْتِهَادِ فِي الْمَذْهَبِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ مِنْ صِفَتِهِ أَوْ قَرِيبٍ مِنْهُ: وَشَرْطُهُ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمْ يَقِفْ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ أَوْ لَمْ يَعْلَمْ صِحَّتَهُ: وَهَذَا إنَّمَا يَكُونُ بَعْدَ مُطَالَعَةِ كُتُبِ الشَّافِعِيِّ كُلِّهَا وَنَحْوِهَا مِنْ كُتُبِ أَصْحَابِهِ الْآخِذِينَ عَنْهُ
"dan yang dikatakan oleh Imam al-Syafi'i ini maksudnya bukan berarti bahwa setiap orang yang mendapati hadits shahih lalu berkata 'ini madzhab al-Syafi'i' dan beramal sesuai zahir (teks)nya. bukan seperti itu! Tapi ini berlaku hanya kepada orang yang kapasitasnya sudah mencapai derajat mujtahid dalam madzhab ini dengan ketentuan yang sudah disebutkan sebelmunya, atau mendekati derajat mujtahid itu.

Dan syaratnya, ia harus benar-benar tahu –setelah meneliti- bahwa Imam al-Syafi'i tidak tahu hadits itu atau tidak tahu derajat ke-shahihan hadits tersebut. Dan (kemampuan) ini bisa didapatkan bagi mereka yang sudah membaca semua kitab-kitab Imam al-Syafi'i dan kitab-kitab lain dari murid-muridn sang Imam yang mengambil ilmu dari beliau."

Jadi memang maksud dari perkataan sang Imam tidak bisa diterjemahkan secara tekstual, karena memang maksudnya itu bukan 'menyerahkan' (tafwidh) tapi pengukuhan. Kalau memang mau diterjemahkan secara tekstual begitu, mestilah ia orang yang mumpuni dan sudah mencapai derajat mujtahid madzhab. Kalau mujtahid madzhab tidak bleh kecuali dia yang sudah membaca dan menelaah semua kitab-kitab Imam al-Syafi'i beserta kitab murid-murid mereka yang mengambil fiqih dari sang Imam.

Kenapa begitu sulit syaratnya? Imam Nawawi kemudian menjelaskan lagi kenapa syaratnya sangat ketat:

وَإِنَّمَا اشْتَرَطُوا مَا ذَكَرْنَا لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَرَكَ الْعَمَلَ بِظَاهِرِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ رَآهَا وَعَلِمَهَا لَكِنْ قَامَ الدَّلِيلُ عِنْدَهُ عَلَى طَعْنٍ فِيهَا أَوْ نَسْخِهَا أَوْ تَخْصِيصِهَا أَوْ تَأْوِيلِهَا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
"mereka (ulama al-Syafi'iyyah) mensyaratkan (sulit) seperti itu karena memang Imam al-Syafi'i tidak mengamalkan banyak hadits yang ia dapati dan ia tahu derajat –keshahihannya-, itu karena ada dalil/bukti lain menurut beliau yang mencederai status hadits tersebut, atau –bisa jadi- hadits itu sudah dihapus, atau juga ada dalil lain yang men-takhshish-nya, atau hadits itu maknanya dita'wil (ditafsiri bukan secara tekstua), atau keran sebab lain yang membuat hadits itu tidak bisa diamalkan."

Paraghraf ini menunjukan bahwa memang Imam al-Syafi'i bukan orang sembarang dan punya kapasitas tinggi dalam starata mujtahid, sehingga semua muridnya sangat percaya bahwa sang Imam tidak lalai. Imam al-Syafi'i tidak mungkin asal dalam memnentuka sebuah hukum, dan beliau tidak hanya bersandar hanya dengan satu hadits, akan tetapi beliau kumpulkan hadits yang ada dan beliau teliti barulah keluar sebuah produk hukum.

Imam an-Nawawi mencontohkan bahwa hadits berbukanya orang yang berbekam itu derajatnya shahih, akan tetapi Imam al-Syafi'i tidak berhukum seperti itu, karena hadits itu walaupun shahih tapi sudah di-nask­ (hapus) dengan hadits lain yang mengatakan sebaliknya.

Jadi, ketika ada hadits shahih tapi tidak diamalkan oleh sang Imam, itu bukan karena sang Imam tidak tahu atau tidak paham, tapi justru ada hadits atau dalil lain yang membuat hadits itu tidak bisa diamalkan seperti perkataan Imam an-Nawawi di atas.

Bahkan Imam an-Nawawi meriwayatkan perkataan Imam Ibnu Khuzaimah (w. 331 H) yang dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada hadits Rasulullah saw dalam masalah halal-haram (hukum syariat) yang tertinggal oleh Imam al-Syafi'i dalam kitab-kitabnya.

So. Kita tidak bisa asal mengatakan bahwa "ini madzhab syafi'i karena haditsnya shahih", padahal madzhab al-Syafi'i tidak berkata demikian. Kalau memang mau seperti itu, harus sadar diri dan berkaca:

Mujtahidkah kita? sehingga berani mengklaim madzhab syafi'i hanya dengan hadits –yang menurut kita- itu shahih?

Atau kalau memang bukan mujtahid, sudah berapa kitab madzhab al-Syafi'i yang kita baca? Sebagaimana syarat yang disebutkan oleh ulama madzhab al-Syafi'i.

Kalau memang hanya belajar dari internet dan ngaji sabtu ahad doang, ya jangan menunggangi label madzhab al-Syafi'i seperti itu. Merasa rugikah kita kalau kita ber-tawadhu' saja dan mengatakan:

"hadits ini menurut ulama fulan bin fulan itu derajatnya shahih. Tapi madzhab Imam al-Syafi'i berfatwa sebaliknya. Mungkin hadits menurut Imam al-Syafi'i ini punya cacat yang ulama fulan itu tidak tahu, atau ada dalil lain yang dipakai oleh sang Imam yang membuat hadits tidak bisa diamalkan".

Tanpa perlu mengaku-ngaku "ini madzhab Imam al-Syafi'I, karena hadits ini shahih!", ini sama saja mengajarkan pilot bagaimana caranya memegang navigasi. Kalau memang tidak bisa menerbangkan pesawat, ya duduk saja sebagai penumpang.

Wallahu a'lam.     
 

Sudah Bersyukur kah Kita?

[Ceritanya] Di lampu merah salah satu jalan Ibu Kota

Mobil hitam mulus berhenti karena lampu merah menyala, di dalamnya laki-laki paruh baya dengan pakaian rapi berdasi pula serta rambut yang klimis, tapi dengan muka kosong seperti ada yang dipikirkan.

Sepanjang trotoar yang cukup luas di dampi traffic light itu, berjejer armada-armada becak dengan para pilotnya yang duduk santai menunggu penumpang. Salah satunya duduk dengan gaya santai, menyenderkan kepala di salah satu sisi bangku becak dan manaikkan kakinya di sisi bangku lain, persis gaya boy besar duduk di sofa empuk.

Sambil melihat ke mobil hitam mulus, dalam hati pilot becak berkata: 

"Nikmatnya jadi orang kaya, baju rapih, kendaraan mewah, uang punya. Pasti keluarga senang ya, bisa jalan kemana-mana naik mobil mewah, ngga keujanan, ngga kepanasan. Ngga kaya tukang becak, Cuma gini aja kerjaannya, duit sedikit, keujanan kepanasan, keluarga makan pas-pasan. Enaknya jadi orang kaya"

Dari dalam mobil, lelaki tampan pemilik mobil itu juga melihat ke rententan armada becak, satu yang menarik perhatiannya pilot becak yang membicarakannya dalam hati itu, yang duduk santai bak bos besar.

Dalam hati ia berkata:

"enaknya jadi tukang becak, hidup ngga punya beban, ngga mikirin hutang perusahaan, ngga mikirin gaji karyawan yang tertunggak ngga kaya saya jadi bos yang harus nanggung beban kantor setiap hari, pasti waktu bersama anak istri lebih banyak, jadi harmonis. Saya? Mana ada waktu buat istri dan main bersama anak? Enaknya jadi tukang becak"

Hehe,, keduanya saling menyesali kehidupan..

Lampu hijau menyala, kehidupan pun kembali berjalan seperti biasa. Yang terpenting ialah, hidup bukan siapa kita dan jadi apa? Tapi bagaimana mensyukuri nikmat yang ada, sudah kah?

-wallahu-l-musta'an-
 

Mau Ikut Nabi apa Ikut Ulama?

Sampai saat ini, saya pribadi masih ngga nyambung dan sulit memahami beberapa kawan yang dengan sangat kuat meyakini bahwa tidak madzhab itu sumbu perpecahan umat dengan banyaknya perbedaan pendapat. Dan yang harus dilakukan adalah kembali ke al-Quran dan Sunnah.

Padahal sama sekali tidak ada satu pun ulama madzhab yang mengarang hukum; mereka semua adalah prototype manusia paling waro', shalih dan takut dalam membuat hukum sendiri setelah generasi-generasi terbaik Islam (Masa Sahabat, Tabi'in dan Tabi' al-Tabi'in). dan tidak mungkin mereka semua mengambil hukum seenak hati dan nafsunya saja, tapi justru mereka mengambil itu semua dari al-Quran dan Sunnah, tidak yang lainnya. Dan memang itu yang mereka lakukan.

Sayangnya, yang mengatakan madzhab sebagai sumber perpecahan itu tidak pernah belajar sejarah madzhab dan imam-imamnya. Mungkin terlalu naif buat mereka untuk mempelajari perkataan manusia yang 'tidak makshum' nan mulia itu, atau sudah terlanjur gengsi. Seandainya mereka mempelajarinya dengan dada yang lapang, niscaya mereka cinta kepada sang imam-imam madzhab.

Justru karena mereka buta madzhab dan perbedaan pendapat itulah yang akhirnya membuat mereka menjadi sangat naïf dalam ber-syariah dan tentu rentan perpecahan. Memaksakan orang lain ikut sesuai pendapatnya, dan mencaci serta menjauhi mereka yang berbeda bahkan tidak segan melabeli dengan label buruk.

Jadi sejatinya siapa yang menjadi sumbu perpecahan? Para Imam madzhab dan pengikutnya atau yang memaksakan kehendaknya di-amin-I oleh yang lain tapi tidak bisa?

Kita sudah banyak contohnya dalam hal bahwa ulama madzhablah pelopor persatuan dalam perbedaan pendapat mereka. Imam Malik tidak mau memaksakan pendapatnya yang terangkum dalam kitab al-Muwaththo' untuk jadi regulasi hukum Abbasiyah. Karena itu pasti menjadi masalah di tengah masyarakat yang tidak terbiasa dengan pendapat Malikiyah di Baghdad.

Imam Ibnu Mas'ud juga tidak mencemooh sayyidan Utsman bin Affan, dan justru menjadi makmum sholatnya. Padahal beliau beranggapan qashar bagi musafir sedang sayyidina Utsman tidak.

Tidak pula kita mendengar sejarahnya ada pengikut Imam Laits bin Sa'd yang datang ke Madinah untuk menghina pengikut Imam Malik, dan juga sebaliknya.

Ikut Nabi atau Ikut Ulama?

Ini yang buruk, beberapa kawan jika mendapati orang lain beramal sesuai madzhab, tapi –menurut pemahamannya yang lemah- itu menyelisih hadits Nabi, ia langsung mengumpat:

"Ente mau Ikut Hadits Nabi apa ikut ulama madzhab? Siapa yang pantas diikuti?"

Umpatan seperti ini jelas merendahkan derajat seorang ulama yang punya kapasitas tinggi sebagai orang yang mengerti syariah. Ini seperti menuduh ikan tidak bisa berenang. Apa mereka kira ulama madzhab itu tidak mengerti hadits?

Bagaimana bisa seorang Imam madzhab tidak mengerti hadits? Toh untuk jadi seperti itu (imam madzhab) tidak mungkin kecuali mereka hapal lebih dari ratusan ribu hadits dengan maqshud-nya pula. Karena seorang mujtahid, pastilah ia seorang muhaddits (ahli hadits)

Jelas ini penghinaan yang nyata dari seorang yang bodoh syariah, yang hanya mengaji sabtu-ahad kepada ulama madzhab yang kapasitasnya jauh di atas mereka semua; mengerti ayat Quran beserta madlul-nya, paham hadits beserta manthuq-nya, dan paling mengerti bahasa Arab beserta kaidah-kaidahnya.

Kita memang WAJIB mengikut Nabi, tapi lewat jalur mana kita memahaminya? Apa mampu otak yang lemah ini memahami segitu banyak hadits? Sedang bahasa Arab hanya baru bisa, ana-anta-akhi-ukhti?

Ikut Abu Bakr, Umar, Utsman atau Ikut Nabi?

Ini yang lebih parah! Dalam beberapa masalah, beberapa kawan justru mengumpat sahabat ketika terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengikuti ijtihad Umar dalam suatu masalah (Tarawih 20 rokaat misalnya) yang itu tidak ada riwayat dari Nabi lalu ia katakan dengan pongah:

"Nabi tidak pernah melakukan itu! Mau ikut Umar apa ikut Nabi?"

Dalam masalah adzan Jumat 2 kali yang merupakan Ijtihad sahabat Utsman bin Affan. Karena tidak puas dengan pendapat ini, ia pun mengumpat lagi:

"Nabi tidak pernah melakukan itu! Mau ikut Ustman apa ikut Nabi?"

Seakan-akan bahwa apa yang dilakukan sayyidina Umar dan sayyidina Ustman itu menyelisih sunnah Nabi saw. Dan bukan seakan-akan, pernyataan yang kental dengan denagn umpatan itu jelas memberika arti bahwa sahabat tidak mengikuti Nabi, berbeda dengan Nabi.

Sahabat Tidak Mengikut Nabi?

Bagaimana bisa? Padahal mereka lah orang terdekat dengan Nabi saw, hidup bersama, selalu menemani, menyaksikan wahyu turun, mendengarkan hadits langsung, hidup berdampingan dengan Nabi saw. Tentu mereka paling mengerti maqhashid syariah yang turun dari langit melalui lisan Nabi saw. Lalu ada anak kemarin sore mengatakan: "Mau ikut Nabi apa ikut Umar/Utsman?"

Tentu jelas ini bentuk men-diskredit-kan kapasitas seorang sahabat sebagai 'sahabat' Nabi saw. Men-diskredit-kan sama dengan menghina dan penghinaan kepada para sahabat jelas dosa besar bahkan bisa menjurus ke-kufuran dalam Islam.

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yg jiwaku ditangan-Nya, seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yg telah diinfakkan para sahabatku.' [HR. Muslim]

Nah, jadi siapa yang menghina sahabat sekarang?

Mereka mengisi hari-hari mereka dengan teriakan keras menghujat para penghina sahabat Nabi saw, tapi malah dengan pongah mereka termasuk kelompok yang mereka sendiri hujat, mereka sendiri menghina sahabat. Menghujat penghina sahabat tapi malah menanamkan benih kebencian dan diskreditisasi sahabat dalam hati dengan bangga. Nau'udzu billah.

Abu Bakr dan Umar Menyelisih Nabi saw?

Kita ingat bagaimana pencapaian sayyidna Abu Bakr yang memerangi kaum pembangkat zakat yang Nabi saw tidak melakukan itu ketika masih hidup. Begitu juga wacana beliau tentang pembukuan al-Quran [tadwiin ul Qur'an], Apa kemudian ada sahabat lain menolak ikut berperang lalu mengumpat seperti anak-anak sekarang?

"Mau ikut khalifah Abu Bakr yang tidak makshum atau ikut Nabi?"

Sayangnya kita tidak menemukan ada riwayat seperti ini dalam kitab-kitab ulama syariah dan ulama sejarah. Termasuk juga inisiatif khalifah yang lain. Lalu dari mana mereka punya umpatan itu? Mencontoh siapa mereka kalau sahabat saja tidak melakukan?

Kita tahu bahwa ketika Nabi masih hidup, Nabi menghukumi talak tiga sekaligus dalam satu majlis atau satu kali perkataan itu tidak dihukumi sebagai talak tiga, tapi tetap talak satu. Jadi talak itu harus terpisah agar terhitung lebih dari satu.

 Tapi ketika sayyidina Umar menjabat khalifah, di tahun ke-3 hijrah beliau memfatwakan hal yang berbeda dengan Nabi saw, bahwa talak tiga sekaligus itu terjadi walaupun diucapkan sekali.

Beliau fatwakan seperti itu karena melihat banyak dari para suami ketika itu yang gegabah dan seenaknya dalam mentalak istrinya dengan talak tiga, namun tetap mau kembali setelahnya. Akhirnya beliau hukum sebagai talak tiga sebagai jera bagi para lelaki agar hati-hati.

Dan semua sahabat ketika itu tidak ada yang mengingkari, yang akhirnya fatwa beliau menjadi ijma' Sukuti. Dan tidak ada juga sahabat yang mengumpat:

"Mau ikut Umar yang tidak makshum, atau ikut Nabi saw?"

Sama sekali, tidak ada riwayat umpatan 'alay' seperti ini.

Wallahu a'lam
 

Ulama, Pewaris atau Ahli Waris Nabi

Pertanyaan pertama yang selalu saya tanyakan jika mengajar faraidh dalam pelatihan atau pengajian itu adalah: Apa arti hadits yang masyhur ini: "Al-'Ulama Waratsatul-Anbiya'i" ?

"Ulama Pewaris Para Nabi", atau "Ulama Ahli waris para Nabi"?
Penting untuk membedakan siapa pewaris dan siapa ahli waris. Pewaris itu yang mewariskan, dan ahli waris yang diwarisi.

Dalam kamus bahasa Indonesia (KBBI offline v1.3) disebut bahwa yang disebut pewaris itu adalah pihak yang mewariskan, sedangkan pihak yang meneriwa waris itu disebut waris atau ahli waris. Dan bukan sebaliknya, artinya jika dibalik, maka artinya berbeda.

"Ulama Pewaris para Nabi", apa yang sudah diwariskan oleh para ulama ini kepada Nabi, sehingga mereka disebut pewaris? Memangnya yang hidup duluan itu siapa? Yang ada itu adalah Nabi yang mewariskan ilmu kepada ulama.

Jadi yang benar itu = "Ulama adalah ahli waris para Nabi". Mereka yang mendapatkan warisan ilmu dari para Nabi, dan bukan sebaliknya.

Warostah [
ورثة] itu bentuk plural dari kata waarits [وارث] yang artinya = Ahli waris, si penerima waris.

Sedangkan pewaris, (yang mewarisi) dalam bahasa Arab disebut dengan Muwarrits [
مورث], bentuk plural-nya Muwarritsun [مورثون]

–wallahu a'lam-
 

Mencintai Nabi dengan Dewasa

Bukan Cuma syiah imamiyah atau rafidha, tapi siapapun dia, dari kelompok apapun dia, yang namanya muslim itu diharamkan menghina para sahabat Nabi saw. Jangankan kita, Nabi saw sendiri menegur Kholid bin Walid yang statusnya adalah sahabat beliau saw karena umpatannya kepada Abdurahmann bia Auf. Kalau sahabat saja begitu Nabi murka, apalagi kita yang bukan sahabat.

Tentu kita mesti memaklumi sikap yang diambil oleh kawan-kawan muslim terhadap mereka yang menghina Nabi, baik dari kalangan syiah imamiyah, rafidha, atau non syiah.

Ada yang reaktif langsung, tapi juga ada yang menangguhkannya hingga ia bisa menasehatinya secara privasi, karena bisa jadi hinaannya tersebut didasari karena ketidak tahuannya. Orang yang tidak tahu tentu harus diajarkan dan diberitahu, bukan dicaci dan dipermalukan.

Jadi jangan asal menuduh kalau fulan satu kelompok dengan fulan hanya karena ia diam depan mereka yang –mungkin- menghina Sahabat atau –kelihatannya- tidak lantang menyaurakan anti "Penghina Sahabat". Bisa jadi memang beliau menggunakan cara yang berbeda yang lebih baik –menurutnya- untuk menghadapi para pencaci Nabi saw itu yang kita tidak tahu cara mereka.

Jadi memang mesti benar-benar diteliti, jangan hanya ikut-ikutan mencaci.

Dan juga tidak asal kita katakan bahwa fulan syiah atau sejenisnya hanya karena beliau memuji sayyidina Ali dan meninggikannya atau mengelarinya dengan sebutan karramahullah wajhahu. Atau karena memuji cucu Nabi saw, hasan-Husain. Atau juga menyebut Ummul-mukminin Aisyah tanpa mendahului dengan sayyidah.

Apa yang salah dari seorang muslim yang mencintai Ali dan anak-anaknya; Hasan, Husain? Mereka adalah keluarga Nabi Muhammad saw yang mana wajib bagi orang Muslim mencintai mereka.

Yang namanya cinta keluarga Nabi saw dan menghormatinya itu wajib! Syiah atau bukan, yang namanya muslim tidak sah cintanya kepada Nabi saw kalau kalau mereka tidak cinta dan menghormati keluarga serta anak keturunan Rasulullah saw.

Imam Syafi'i dalam salah satu bait-nya yang memuji keluarga Nabi saw:

يا آلَ بيتِ رسولِ اللهِ حبكمُ ** فَرْضٌ مِنَ اللَّهِ في القُرآنِ أَنْزَلَهُ
يكفيكمُ منْ عظيمِ الفخرِ أتَّكمُ ** مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ لا صَلاةَ لَه
ُ

"wahai keluarga Rasulullah, mencintai kalian #
adalah kewajiban yang Allah turunkan dalam al-Quran.

Cukuplah dari agungnya kedudukan kalian, bahwa #
Tidak sah sholatnya muslim yang tidak bersholawat kepada kalian"

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
 

Istimewanya Bahasa Arab

Salah satu keistimewaan bahasa Arab, bahwa kalimat-kalimat yang ada dalam bahasa Arab, jika hurufnya diputar atau dibalik, itu punya arti berbeda namun tetap dalam dimensi dan konteks yang bersmabungan. Contohnya:

Kalimat gharafa [غرف] yang artinya menciduk, yaitu menciduk air dari bak, atau menciduk sesuatu dari tempatnya. Kalau hurufnya diputar, lalu menjadi Faragha [فرغ] yang artinya adalah kosong. Ya. Bak yang berisi air itu kalau terus diciduk, pasti akan menjadi kosong.

Kita putar lagi hurufnya menjadi Ghafara [غفر] yang artiinya mengampuni, ini bersambungan dengan yang sebelumnya. Allah mengampuni dosa hambanya dengan menciduk [غرف] semua kesalahannya dengan demikian hambaNya tersebut menjadi kosong [فرغ] dari dosa.

Ada lagi kalimat Rabb [رب] yang berarti tuhan. Kita putar hurufnya menjadi Birr [بر] yang berarti berbakti (kpd oran tua). Kedua kalimat punya hubungan yang erat, karena seseorang tidak mungkin bisa dekat dengan Allah, tuhannya [رب], kecuali kalau ia berbakti [بر] kepada orang tua. Semakin jauh dia dengan orang tuanya, semakin jauh pula Allah dengannya.

Ada juga kalimat 'Aaq [عاق] yang berarti durhaka, kepada orang tua tentunyanya. Kalau kita putar kalimatnya menjadi Qaa' [قاع] yang berarti 'lowest part of anything', tempat terendah. Ya jelas hubungannya, orang yang durhaka kepada orang tua, dia berada pada poisi terendah yang hina di mata Allah dan di mata manusia bahkan. Dan orang seperti itu pasti hina.

Ini bukan kampanye untuk mempelejari bahasa Arab, dan mengurangi pentingnya bahasa Ingris. Justru bahsa Ingلris penting sama pentingnya belajar Bahasa Arab. Dan jangan pernah merasa minder kalau tidak bisa bahasa Arab.

Tidak bisa berbahasa bukanlah suatu dosa yang harus disesali dengan sangat. Bahasa Arab memang instrumen primer yang penting untuk memahami syariah. Tapi bukan berarti tidak mengetahuinya itu berdosa, karena muslim tidak dituntut untuk jadi mujtahid semua. Biarkan mereka yang punya kapasitas di dalamnya bergelut dengan dalil.
wallahu a'lam
 

Masjid Tidak Tunduk Pada Hukum Manusia

Karena saking marahnya, Khalifah Abbasiayh Harun Al-Rasyid kalap dan akhirnya mengucapkan kata cerai kepada istrinya, Zubaidah. Tak tangung-tangung, istrinya langsung ditalak tiga sekaligus.

Masalahnya karena Zubaidah dinilai terlalu ikut campur pada masalah pemerintahan. Jadi kisahnya Zubaidah dituduh oleh salah satu orang dekat khalifah yang bahwa ia mengutus Syihab untuk memipin pasukan guna memerangi kelompok Khawarif di Jazirah yang dipimpin oleh Walid bin Al-Tharif.

Alih-alih menghancurkan pasukan Kharij, Shihab sang panglima perang justru ikut bersekongkol dengan Al-Walid sang pemimpin khawarij. Akhirnya khawarij malah makin menjadi-jadi di Jazirah. Karena itu khalifah marah besar kepada Zubaidah.

Dalam keadaan yang marah besar, Harun mentalak ke Zubaidah denag shighat (redaksi): "in bitti al-lailat fi Ardhin tahta wilayati, anti tholiqun Tsalatsan" (Kalau malam ini kamu masih ada di tanah wilayah kekausaanku, kamu tertalak 3 kali)

Tapi kemudian, Harun menyesal karena terlalu gegabah mentalaknya 3 kali, akhirnya dia mengadu kepada Imam Abu Yusuf (sahabat Imam Abu Hanifah) tentang penyesalannya itu dan meninginkan Zubaidah kembali. Tapi bagaimana ia sudah mentalaknya 3 kali dengan ta'liq (ikatan) kalau ia masih berada satu malam di wilayah kekuasaan khalifah. Lalu negeri mana yang tidak dibawah kekusaan khalifah?

Tapi mendengar pengaduan itu, Imam Abu Yusuf denan santai menjawab: "Ya kalau memang begitu talaknya, gampang saja. Keluarkan saja Zubaidah mala mini dari daerah kekuasaan mu wahai khalifah, sehingga talakmu tidak terjadi!".

Harun menjawab: "lalu daerah mana yang bisa ditempuh selama semalam dan itu bukan daerah kekuasaanku. Tidak ada wahai Imam. Makah Madinah pun kekuasaan ku dna itu jaraknya berhari-hari!"

Imam Abu Yusuf: "Ada! Bahkan daerah itu ada di Baghdad, tempat istanamu ini wahai khalifah!".

Harun: "dimana itu!"

Imam Abu Yusuf: "Masjid! Masjid bukanlah kekuasaan khalifah karena masjid punya hukum sendiri. Masjid tidak pernah tunduk pada system manapun, yang berlaku dalam masjid hanya hukum syariah bukan hukum khalifah. 'dan sesungguhnya masjid itu adalah milik Allah' (al-Jin 18). Jadi malam ini kau suruh Zubaidah menginap di masjid sehingga talak tidak terjadi".

Harun tersenyum lebar dan memuji Imam Abu Yusuf; "Allah memberkati kecerdasanmu wahai Imam!"

[versi lainnya bahwa Harun AL-Rasyid mentalak istrinya dengan ta'liq yang berbeda, dan Faqih yang menjadi tempat adunnya ialah Imam Al-Laits bin Sa'ad]
 

Darah Haidh Keluar dan Belum Sholat, Qadha atau Tidak?

Bagi wanita, ketika sudah masuk waktu sholat, lalu beberapa jam setelahnya datang masa haidhnya, otomatis ia tidak bisa lagi mengerjakan sholat pada waktu itu karena memang keadaan yang tidak suci lagi, padahal ia belum sholat. Katakanlah itu sholat zuhur.

Yang jadi pertanyaan apakah zuhur itu menjadi kewajiban yang menggantung, artinya wajib diqadha nanti ketika si wanita suci atau si wanita sudah tidak ada lagi kewwajiban menqadha sholat itu?

Wajib Muwassa'

Perbedaan yang muncul itu adalah antara jumhur ulama dan madzhab Hanafi saja. Sumbunya ada pada masalah kewajiban yang menempel pada seorang muslim untuk jenis wajib muwassa'.

Wajib muwassa' [موسع] itu kewajiban yang waktunya panjang. Kalau kewajiban itu dikerjakan, masih ada sisa waktu yang cukup untuk melakukan kewajiban itu lagi dan lagi. Seperti sholat zuhur, waktunya –misalnya- dari jam 12.00 sampai 15.00, 3 jam. Padahal sholat zuhur bisa dikerjakan hanya dengan beberapa menit. Sholat zuhur sudah dilakukan dan waktunya masih tersisa panjang. Nah itu namanya wajib muwassa'.

Nah perbedaan antara madzhab Hanafi dengan jumhur ulama itu ada pada kapan kewajiban yang waktunya muwassa' itu terbebani kepada muslim. Apakah si seluruh waktunya? Atau hanya di sebagian waktu saja?

[1] Jumhur

Jumhur mengatakan wajib muwassa' itu kewajibannya ada di seluruh waktunya, bukan sebagian waktu. Jadi kita ambil missal waktu zuhur yang dari jam 12.00 sampai 15.00, itu kewajiban zuhur ada di 3 jam itu.

Jadi, bagi wanita jika sudah masuk waktu zuhur, dia sudah punya kewajiban sholat zuhur. Kalau kemudian dia menundannya sampai darah haidhnya keluar, kewajiban zuhur tidak gugur, karena ia sudah terkena kewajiban. Kewjiaban sholatnya Tetap ada dan mesti diqadha ketika nanti sudah suci.

[2] Madzhab Hanafi

Sebenarnya ini bukan pendapat resmi madzhab Hanafi, akan tetapi sebagian ulama Hanafi yang berpendapat seperti ini. yaitu kewajiban yang waktunya muwassa' itu tidak terbebani kepada muslim di awal waktunya, akan tetapi kewajibannya itu ada di akhir waktu.

Jadi –contohnya- waktu zuhur itu dari jam 12.00 sampai 15.00, itu kewajibannya ada di akhir waktunya. Bagaimana kita tahu itu akhir waktu, tinggal dibagi 3 saja menjadi: awal, tengah dan akhir. Jam 12.00 sampai 15.00 itu 3 jam. Berarti jam 12.00 – 13.00 itu awal waktu, 13.00 – 14.00 itu tengah waktu, dan 14.00 – 15.00 itu akhir waktu.

Kalau menurut pendapat ini, maka jika ada wanita haidh dan belum melaksanakan sholat, maka liat dulu di waktu kapan darah haidhnya keluar. Di awal waktu kah? Tengah? Atau akhir? Kalau awal dan tengah, kewajibannya itu belum ada, karena kewajiban baru ada di akhir waktu.

Mungkin ada pertanyaan: terlepas dari wanita haidh atau tidak, lalu bagaimana menurut pendapat ini jika ada muslim yang sholat di awal waktu, apakah sholatnya sah dan gugur kewajibannya?

Jawabannya: Ya, sah sholatnya dan gugur kewajibannya. Bagi pendapat ini, orang muslim yang sholat diawal waktu itu disebut dengan istilah "Nadbun Yasquthu bihi al-Wujub" (kesunahan yang menggugurkan kewajiban). Jadi sholat di awal waktu itu dinilai sebagai kesunahan akan tetapi itu mengugurkan kewajiban.

Memang agak aneh kedengerannya. Ya aneh di kuping kita saja karena kita memang kurang akrab dengan literasi madzhab Hanafi. Tapi bagi kalangan akademisi syariah, ini masalah yang sering dibahas setiap pembahasan masalah ushul fiqh.

[Kembali ke Wanita Haidh]

Tapi yang penulis perhatikan, justru banyak juga wanita yang haidh di tengah waktu sholat dan tidak mengqadha'-nya bukan karena ber-madzhab Hanafi, akan tetapi karena merasa tidak ada qadha bagi sholat yang ditinggalkan. Kalau keyakinannya tidak ada qadha shola, baiknya baca jawaban di sini:

http://zarkasih20.blogspot.com/2013/12/qadha-sholat-ada-ngga-sih.html

Ada lagi yang justru membedakan antara wanita yang menunda sholatnya karena lalai atau sengaja dengan wanita yang menunda sholat karena tidak lalai atau tidak sengaja, kemudian datang darah haidh. Kalau ia tunda sholat kerana sengaja, maka ia wajib qadha. Tapi kalau menundanya karena tidak sengaja, maka ia tidak wajib qadha.

Buat saya alasan ini kurang tepat dan tidak pas. Karena bagaimanapun kewajiban sholat itu ada ketika waktunya sudah masuk. Nah ada yang meninggalkan sengaja atau tidak sengaja, ia tetap terhitung sebagai orang yang meninggalkan sholat dan mesti qadha sholat karena kewajibannya belum dilaksanakan. Baik laki-laki atau wanita, kewajiban sholat tidak gugur hanya karena "Tidak Sengaja".

Wallahu a'lam 
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger