Menulis Untuk Kita, Bukan Untuk Dia

Anda semua kenal dengan situs para penulis lepas, kompasiana(dot)com. Ya situs tempat berkumpulnya para penulis seantero Nusantara ini memang menajdi situs primadona bagi para penulis. Tapi saya punya cerita lain soal kompasiana ini.

"Kompasiana ngga jelas" begitu kata teman saya yang juga seorang kompasioner produktif belakangan ini. Ia mengatakan demikian karena melihat banyaknya keanehan yang ia lihat dalam situs penulis lepas ini.

Keanehan yang ia maksud ialah perlakuan admin kepada tulisan-tiulisan yang masuk kedalam situs ini. Katanya ia tidak mengerti denga sikap admin dalam memilih tulisan mana yang layak jadi headline, atau pun highlight, terlebih juga terekomendasi.

Ia menilai banyak kesalahalan yang dilakukan admin ketika memilih tulisan-tulisan itu. Malah ia menyangka bahwa admin bukan orang-orang yang ahli baca. Banyak tulisan remeh, kurang baik dan ahkan terkesan jelek malah dijadikan headline, highlight, atau juga terekomendasi.

Tapi tulisan yang bagus, dengan tulisan yang baik, cara penyampaian yang tajam, ilmiah, juga disertai data-data yang akurat malah hanya menjadi penghias timeline situs saja, tanpa adanya lirikan dari admin. "apa sih yang dicari admin?" katanya dengan nada mengeluh.

Menurutnya, tulisan itu tidak akan dibaca banyak orang kalau admin tidak memberikan tempat untuk tulisan itu. Kalau hanya ditaruh ditimeline yang hanya lewat saja. Tapi kalau itu ditaruh di highlight atau terekomendasi bahkan headline, tulisan iu menjadi diminati banyak pembaca.

Mendengar keluhanya tersebut, saya juga sempat berpikir sama dengan apa yang dikeluhkan. Memang banyak ketidak sreg-an dengan pihak admin yang bersikap demikian. Tulisan saya juga memang belum banyak dikompasiana, dan saya juga tidak bisa menilai bahwa tulisan itu bagus atau tidak.

Tapi bulan kemarin saya pernah menulis tulisan yang menurut saya sangat remeh sekali dan tidak penting. Isinya hanya cerita kalau saya bertemu salah seorang politisi
democrat direstoran. Dan tulisan yang menurut saya remeh ini malah menjadi Headline ketika keesokkan harinya saya posting di kompasiana.

Dan saya cukup mengerti dengan apa yang dikeluhkan oleh teman saya ini, memang semua orang ingin dan senang jika karyanya (dalam hal ini tulisan) dilihat dan dibaca oleh banyak orang, apalagi sampai digemari.

Tapi buat saya menulis bukan itu tujuannya. Buat saya menulis itu sarana paling mudah untuk mengungkapkan segala apa yang ada dibenak ini agar tidak terus menerus menjadi sampah otak, terpikirkan namun tak tertuang.

Selain itu, menulis juga bisa menjadikan kita orang yang selalu menggunakan otak bukan nafsu dalam segala hal. Karena dengan rajin menulis kita dituntut untuk berikir runut dan terukur. Tidak seperti bicara yang ceplas-ceplos langsung asal keluar dari mulut.

Dan ketika menulis, menurut apa yang saya pelajari, kita hanya mengungkapkan apa yang menurut kita itu suatu kebenaran yang harus disampaikan. Tanpa peduli dinilai atau tidak oleh orang lain, yang penting kita sudah menyampaikan. Dan yang pasti, menulis itu sebuah karya. Dengan menulis berarti kita sudah berkarya.

Kemudian biarkan khalayak menilai tulisan kita itu. Setuju atau tidak pembaca dengan tulisan kita itu suatu yang lumrah. Jadi buat saya, menulis itu ya menulis. Tanpa peduli dibaca atau tidak. Karena sekecil apapun yang kita lakukan, baik dengan tulisan atau juga dengan yang lain, pasti ada yang kita dapatkan. Karena segala sesuatu yang kita dapat itu semua berasal dari kita pribadi.

Dan pikiran tentang tulisan itu harus dibaca banyak orang kemudian dikomentari, menurut saya bukan suatu yang tepat. Itu hanya akan membuat kita menjadi penulis "panggilan". Penulis yang tidak mempunyai sikap. Ya sikapnya diatur oleh komentar atau apa kata orang. Jadi ia selalu berusaha untuk tulisannya itu menjadi primadona dengan mengusung tema dan pemikiran yang lagi banyak digandrungi oleh sekitar.

Tidak mempunyai identitas dan keciri-an. Tidak ada idealism. Akhirnya cape juga menulis hanya untuk di komentari atau di baca oleh banyak orang. Ketika tulisannya itu kurang peminat dan bahkan ditinggalkan, pastinya ia kecewa. Menjadikan "apa kata orang" sebagai tujuan penulisannya.

Buat saya, menulis ya menulis sajalah. Karya kita sekecil apapun pasti ada yang tahu dan ada yang baca. Kalau memang tidak ada sama sekali, pasti tuhan tahu bahwa kita telah berbuat.

wallahu A'lam
 

Menulis Saja Dari Sekarang!

Ketika ditunjuk menjadi pembimbing kelas Maharoh Al-Kitabah (Ketrampilan menulis) untuk para Mahasiswa kampus syariah yang diadakan oleh Rumah Fiqih Indonesia, yang timbul pertama kali dalam benak saya ialah satu pertanyaan klasik, "bagaimana ya caranya bisa menulis dengan baik?"

Mungkin ini juga yang menjadi pertanyaan banyak orang. Ya karena pertanyaannya terlalu umum, maka jawabannya pun tidak mnejadi spesifik dan terkesan "ngambang". Jawabannya bisa macam-macam, "Banyak membaca", "banyak latihan", atau "tiru gaya penulis yang sudah tenar", dan seterusnya.

Tentu jawaban diatas tadi sangat tidak memuaskan si penanya, akan tetapi jawabannya tersebut tidak salah juga. Karena memang ya begitu itu proses menulis. Banyak baca, banyak latihan, kalau masih bingung, ya tiru dan jiplak saja gaya tulisan penulis-penulis yang sudah ada.

Karena memang menulis itu pekerjaan produktif, yaitu pekerjaan yang memang menghasilkan sebuah pikiran. Maka yang menjadi senjata utama sebuah produksi ialah, bahan dan materi yang akan diproduksi. Dan bahan dan materi-materi itu semua tidak bisa didapat kecuali dari banyak membaca.

Jadi amunisi utama seorang penulis itu ialah MEMBACA. Ada sebuah quote yang mengatakan begini: "Seorang Penulis Tidak Terlahir Kecuali Dari Seorang Panggila Baca". Makin banyak membaca, makin banyak perbendaharaan kata yang kita miliki. Lebih dari itu, akan makin banyak pula inspirasi yang masuk kedalam otak.

Dengan banyak membaca, kita pun akhirnya bisa menjadi penulis yang kaya kata dan makna. Tidak miskin kosakata, hanya mengulang-ngulang kata-kata yang sama sejak pragraf awal sampai ending tulisan. Jadi untuk yang satu ini, yaitu banyak membaca. Tidak ada tawar-tawaran lagi.

Sejatinya memang orang yang banyak baca harus juga banyak menulis, karena itu melatihnya menjadi kritis terhadap apa yang dibacanya. Selain itu, menulis apa yang telah dibaca juga menjadi sarana untuk tidak menjadikan otak ini "Tempat Pembuangan" akhir ribuan kata yang kita baca dari buku-buku itu.

Agar tidak menyimpan tumpukan kosakata dalam otak, setelah banyak baca, mulailah banyak latihan. Bagaimana latihannya? Jangan dipikirin bagaimana latihan menulis. Buang jauh-jauh teori pelajaran Bahasa Indonesia dalam otak ketika (latihan) menulis. Terlalu banyak memikirkan teori, yang ada bukan menulis, tapi hanya melahirkan ketakutan akan salah ini salah itu. Kapan menulisnya?

Dan proses yang satu ini harus dipaksa. Ya paksa diri ini untuk menulis. Karena kalau terlalu lama menunggu "mau" menulis, niscaya tulisan itu tidak akan terlihat wujudnya, tertutup dengan tameng "mood". Paksa saja, hasil akhir jangan dipikirkan diawal, namanya juga hasil akhir, ya diakhirkan saja.

Pernah ngga kita berpikir, kenapa ketika ujian kita bisa menulis jawaban esai begitu banyak. Apakah kita pernah menulis sebegitu banyak diluar ujian?, tanpa melihat rujukan. Hebat bukan? Kenapa bisa terjadi? Ya karena kita terpaksa. Terpaksa harus menjawab ujian, karena kalau tidak menjawab yaa tidak ada nilai yang kita dapat.

Nah begitu juga menulis. HARUS PAKSA! Tak usah perduli dengan tulisan yang akan jadi garing-lah, ngga enak dibaca-lah, ngga nyambung-lah, ngga runut-lah, dan ngga-ngga yang lain. Jangan-kan pemula, penulis yang sudah besar pun tidak melulu tulisannya dalam taraf bagus. Kadang tulisannya bagus, kadang juga kurang bagus, kadang tulisannya malah bisa jadi jelek dan jelek sekali.

Karena memang sejatinya, menulis itu kegiatan yang kontinyu dan tidak bisa sekali jadi bagus, kemudian bagus seterusnya. Orang yang menulis pada hakikatnya dia sedang belajar juga, belajar menulis. Karena semakin hari, soseorang itu semakin banyak isnpirasi yang masuk, entah itu dari bacaan, atau kejadian yang ia lihat disekelilingnya.

Inspirasi dan materi yang ia dapat hari ini belum tentu lebih baik dari materi dan inspirasi kemarin. Jadi yaa menulis saja. Toh itu juga menjadi sarana kita belajar.

Kemudian setelah banyak mambaca dan terus latihan, ada hal yang sepertinya penting tapi juga ngga penting-penting amat. Yaa penting ngga penting lah. Yaitu meniru gaya tulisan para penulis yang memang sudah mahir dan tenar.

Kita belajar dari mereka bagaimana cara mereka memulai sebuah artikel, belajar bagaimana mereka membangun sebuah taste (rasa) yang khas dan menjadi identitas dari tulisannya, belajar bagaimana mereka membentuk sebuah gaya yang memang gaya-nya banget, dan belajar bagaimana mereka memberi warna lain sebuah fikroh dan opini.

Lihat bagaimana mereka membungkus sebuah pemikiran menjadi sekumpulan kosakata yang bisa dinikmati tanpa perlu mengeluarkan otot leher untuk memahaminya.

Tapi yang harus diperhatikan ialah, proses meniru gaya tulisan penulis lain itu sebaiknya diakhirkan saja. Kalau kalau ini ditaru diawal proses pembelajaran, akhirnya membuat kita menjadi was-was dan terus menerus melirik karakter tulisan penulis itu, khawatir kalau kita keluar dari jalur mereka. Kan ini menjadi sulit juga.

Ujung-ujungnya sama saja kita dipenjara oelh gaya-gaya mereka karena kita terlalu peduli dan berkeras mau mengikuti, akhirnya kehilangan identitas diri sendiri. Baiknya itu hanya menjadi sebagai pembanding dan buja acuan.

Saya bukan penulis yang sudah banyak membuahkan karya, saya juga bukan penulis yang tulisannya banyak dipampang di media-media, saya hanya penulis kelas lintas Blog, itupun dengan perbendaharaan tulisan yang masih sangat sedikit. Tapi setidaknya, ada hal yang bisa saya bagikan soal pengalaman menulis.

Menulis itu kegiatan yang melatih kita berpikir runut dan tidak acak-acakan. Karena mau tidak mau, orang yang menulis haruslah membuat tulisan itu terlihat rapih dengan men-sinkron-kan antara paragraph ke paragraph lainnya. Berbeda dengan hanya berbicara yang tanpa ada aturan harus runut.

Menulis juga kegiatan memproduksi opini dan pemikiran dengan mengkonversikan bahasa otak menjadi sebuah bahasa yang bisa dipahami oleh khalayak. Keluarkan saja apa yang memang menjadi pemikiran kita kepada khalayak, setelah itu biarkan mereka menilai baik buruknya, suka atau tidak suka.

Jadi tak perlu bingung dan takut. Ketika dikritik, katakan "terimakasih". Ketika dicerca, katakan saja "ya memang itu yang saya ketahui". Kalau terus menuruti ketakutan kata orang, sampai kapan pun tidak akan selesai.

So? Ya menulis saja dari sekarang. Ketika ada sesuatu yang menyelinap dibenak kita dan memang itu harus dikeluarkan, langsung ambil pena, dan buka buku. Atau pencet tombol "on" laptop dan computer kita. Tak usah menunggu lagi.

Karena itu seperti buah segar yang baru saja kita petik. Kalau didiamkan, ia akan basi dan busuk, pasti ngga enak rasanya. Atau kalau tidak busuk, ia akan diambil orang lain dan dinikmatinyalah buah segar milik kita itu.

Jadi yaaa menulis saja dari sekarang!

Wallahu A'lam
 

Pengkhianat Ilmu

Kewajiban utama seorang Tukang POS, pengirim surat atau juga kurir sebuah perusahaan cargo ialah mengirimkan dan menyampaikan apa yang telah dititipkan kepada alamat yang dituju oleh si pengirim. Sampai kapanpun, kewajiban itu tidak akan gugur dan terus menunggangi pundaknya sampai surat atau barang itu mendarat di alamat tujuan.

Jadi, kewajiban seorang kurir bergantung pada surat atau barang yang dibawa tersebut. Sampai atau tidak. Belum gugur kewajibannya kecuali dia sudah menyampaikan barang titipan itu sampai pada tangan penerima.

Begitu juga seorang Ulama atau juga para Mahasiswa Syariah, serta para Tholibul-Ilmi Syar'i. pada hakikatnya mereka semua ialah sama persis dengan seorang kurir atau tukang POS yang sedang mendapatkan titipan anugrah kepahaman dan kecerdasan dalam masalah syariah.

Ilmu dan pemahaman serta kepandaian dalam masalah Syariah yang dimiliki oleh seorang Ulama itu sesungguhnya sebuah titipan yang memang Allah swt mewajibkan kepada mereka untuk menyampaikannya kepada khalayak ummat, karena memang itu tujuan mereka belajar, yaitu agar disampaikan kepada umat.

Jadi wajar saja dan tidak perlu nyinyir kalau ada melihat seorang 'Alim atau Ustadz ketika beliau menyampaikan apa yang sudah ia dapatkan dari kepandaiannya terhadap masalah syariah, walaupun itu berbeda pandangan dengan kita yang menjadi pendengarnya.  Karena memang itu kewajibannya.

Begitu juga seorang Mahasiswa Syariah, atau juga santri dan Tholibul-ilmi yang memfokuskan diri untuk mendalami ilmu Syariah. Entah itu ia masuk menjadi mahasiswa fakultas Syariah, atau juga "memenjarakan" dirinya untuk menekuni dunia ilmu syariah dalam sebuah pesantren.

Kewajiban mereka tidak selesai pada penunututan Ilmu syariah saja. Setelah mereka mendapatkan pemahaman dan kecerdasan syariah itu kewajiban selanjutnya ialah menyampaikan imu tersebut kepada khalayak dengan proporsioanal. Karena memang itu kewajiban seorang yang mempunyai ilmu, yaitu memberitahu siapa yang tidak mengetahuinya.

Dipundak para calon Ulama tersebut, kemaslahatan umat Islam ini dibebankan. Karena mereka yang mengerti ilmunya. Tidak bisa mandate ini diserahkan kepada mereka yang tidak mendalami ilmu tersebut.

Sebenarnya tidak terbatas pada masalah mahasiswa syariah atau bukan. Mahasiswa atau pelajar dalam bidang ilmu lain pun demikian sama berkewajiban untuk menyampaikan apa yang telah ia dapatkan. Tapi penulis lebih concern dengan para mahasiswa syariah, karena bebrapa hal masalah.

Diantara masalah yang banyak terjadi ialah banyak para penggiat atau para pelajar serta mahasiswa yang menekuni bidang syariah ini justru malah berbelok arah ketika mereka sudah mendapatkan anugerah kepahaman syariah tersebut.

Apa yang mereka tekuni sebelumnya jutsru tidak mereka lanjutkan. Bergiat-giat meladeni masalah-masalah hukum-hukum syariah ketika masih menjadi mahasiswa, tapi kemudian justru meninggalknanya begitu saja menjadi dokumentasi lemari. Sangat disayangkan sekali. Apalagi Ummat sangat membutuhkan sekali orang-orang seperti mereka.

Tidak buruk memang seorang menggeluti bidang yang berbeda dengan apa yang ia tekuni sebelumnya. tapi alangkah baiknya jika apa yang sudah diapat itu disyukuri dan disampaikan sebagai sebuah pengguguran kewajiban ata stitipan anugerah yang telah Allah swt berikan.

Terlebih melihat banyak masalah ummat yang sampai hari ini belum terselesaikan. Dari mulai kurangnya SDM yang memang benar-benar mengerti syariah, sampai fenomena muncul-nya ustadz-ustadz yang "Ora Ngudeng" syariah, tapi lantang berbicara syariah bahkan didepan media yang banyak disaksikan khalayak umum yang awam.

Tapi, mereka yang memahami dan memang mengerti syariah hanya bisa jadi penonton. Hanya terdiam ketika ada penyelewangan ilmu dan informasi yang disampaikan oleh para Ustadz-Ustadz "Gadungan", tampang dan popularitas tanpa ilmu yang dan riwayat pendidikan yang jelas.

Hanya bermodalkan ikut pengajian sekali dua kali, tiba-tiba berani memberikan hukum ini hukum itu dengan tanpa melihat litelatur. Ini kan masalah besar yang tidak bisa asal di tonton saja!

Nah. Kewajiban menyampaikan itu akan terus menunggangi pundak para mahasiswa dan santri-santri serta penuntu Ilmu Syariah, sampai masyarakat benar-benar mendapatkan informasi dan pengetahuan yang memang benar-benar valid dan murni syariah, bukan yang lainnya. Bukan-kah kewajiban para mereka yang be-ilmu untuk mencerdaskan masyarakatnya?

Meminjam kalimat guru saya. Ust. Ahmad Sarwat, ini semacam "penghianatan" terhadap ilmu itu sendiri. Anugerah ilmu dan kepahaman syariah yang telah Allah swt berikan, justru diselewengkan dan tidak disampaikan. Mengkhianati ilmu.

Pun demikian, seorang tukan POS atau Kurir pasitilah akan mendapat hukuman dan dinilai tidak disiplin ketika barang atau surat yang dititipkan justru tidak sampai kepada alamat tujuan.

Terlepas dari itu semua, disadari atau tidak. Indonesia dengan titel "Negara Islam terbesar di dunia", itu masih sangat kekurangan SDM-SDM syariah yang memang mempunyai ilmu mumpuni.

Yaa kalau terus begini, tujuan dan agenda besar umat Islam untuk menjadi umat ini benar-benar menjalankan syariah pastilah sulit.

Wallahu A'lam
 

Meluruskan Pemahaman "Masalah Kecil"

Ada beberapa orang yang mengatakan, atau mungkin ini. Perkataan satu orang yang kemudian banyak diikuti dan dikatakan ulang. Kurang lebih Beliau mengatakan seperti ini:

"Umat Islam di negeri ini terlalu mudah dipecahkan dengan hal-hal kecil yang tidak fundamental. Tetepi umat ini. Terlalu sulit bersatu dan bangkit untuk hal-hal besar yang pokok"

Kata-kata ini sangat baik, bagus sekali. Tapi masalah "dipecahkan dengan hal-hal kecil", itu karena memang sebagian saudara kita tidak melihat itu sebagai hal kecil, tapi mereka melihatnya sebagai hal yang penting padahal hakikatnya ialah masalah kecil.

Yang harus dikerjakan akhirnya ialah meluruskan pandangan tersebut. Memberikan pemahaman dan pencerahan bahwa hal tersebut ialah kecil dan tidak layak untuk diperedebatkan apalagi menjadi sumbu perpecahan.

Haruslah ada pihak yang menjadi "pelurus" mindset. Meluruskan pemahaman, mengecilkan yang memang perkara "kecil" dan membesarkan masalah yang memang "besar" dan harus menjadi booster pemersatu umat.

Karena bagaimanapun, mereka yang selalu saja berkutat pada hal-hal kecil itu mereka yang tidak tahu. Mereka menganggap bahwa itu besar padahal tidak.

Masalah-masalah kecil khilafiyah yang sama sekali tidak berbahaya jika berbeda didalamnya seperti: qunut, maulid, tahlil, tawassul, dan msalah-masalah yang sudah menahun.

Sedang pencapaian masalah besar seperti penegakan syariah, mencerdasakn umat tentang syariah, urgensi Al-quran, pemahaman bahaya Riba, dan sebagainya akan menjadi terhambat kalau terus mengabaikan hal-hal kecil itu dan menganggapnya tidak penting.

Maka menjadi sebuah keharusan bagi yang mengetahui untuk memberikan pemahaman yang memadai dan tidak setengah-setengah tentang hal ini.

Bukan hanya mengabaikan dengan alasan "ah, cuma masalah kecil, khilafiyah, ngga penting, ngga usah digubris-lah".,,,

Justru ini yang fatal. Masalah kecil bukan berarti harus diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Kalau terus dibiarkan, masalah kecil akan terus menjadi sumbu perpecahan.

Orang-orang yang selalu saja meributkan hal-hal kecil itu akan terus selalu berdebat dan beroto-otot ria karena memang mereka tidak tahu kalau itu masalah kecil dan memang tidak ada yang memberitahu.

Orang-orang yang tahu tidak memberitahu tapi justru malah menyindir dengan nada sinis, "halah masalah ginian aja ribut!". Makin disindir, justru orang-orang semacam ini makin garang dan terus berdebat.

Dan itu juga yang akhirnya mengahambat pencapaian umat ini akan kepentingan yang lebih besar. Karena belum tercipta persatuan visi diantara umat ini.

Daripada menyindir sinis, sebaiknya kita turun dengan membawa pokok masalah kecil itu tentu dengan informasi dan ilmu yang memadai dan yang pasti ketika menjelaskan, tidak ada subyektifitas dan pemihakan terhadap salah satu golongan.

Jadi memang harus "mengecil-kan yang kecil. Dan membesarkan yang besar".

Bagaimana mungkin kita bisa mencapai pencapain penting yang besar sedangkan dengan yang masalah kecil, kita tidak mau membereskannya.

Kalau masalah yang kecil ini beres. Pastilah menuju pencapaian yang terbesar akan terwujud dengan mudah isyaAllah.

Wallahu A'lam
 

"Perasaan" kok Jadi Hukum?

Masih Soal Perasaan. Fenomena menyedihkan yang terjadi belakangan atau mungkin sudah terjadi sejak beberapa waktu yang lalu dan sampai sekarang.

Yaitu ada beberapa orang yang memang di-ustadz-kan dan di-ulama-kan, artinya mesyarakat memandagnya sebagai Ustadz dan Ulama yang menjadi rujukan masalah syariah oleh para jemaaahnya.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya muncul di layar kaca sebagai seorang da'I dan memberikan ceramah-ceramah agama dengan gaya dan aksen yang khas.

Kita tidak meragukan ke-ilmuan belaiu-beliau dalam masalah syariah dan sejenis. Toh bagaimana bisa mereka tampil sebagai da'I dan di-ustadz-kan oleh banyak orang kecuali memang beliau memang layak untuk itu.

Atau kalaupun tidak mempunyai kafaah syar'iyyah yang cukup, setidaknya beliau tahu mana halal mana haram, mana sunnah mana bidah, mana iman mana syirik, dan kemudian beliau sampaikan kepada jemaah.

Masalah SERIUS terjadi ketika beliau-beliau itu ditanya tentang masalah syariah yang sama sekali ia tidak ketahui jawabannya.

(Karena walapun namanya Ustadz, bisa saja beliau tidak tahu atau lupa sehinggal blank ketika ditanya suatu masalah)

Karena MALU atau memang TAKUT tidak di-ustadz-kan lagi, akhirnya beliau mulai mencari-cari atau dengan kata yang lebih merakyat, beliau mengarang jawaban dengan "perasaan". Nah "perasaan" bermain disini.

Takut dibilang "kurang ilmu", atau malu dengan gelar "ustadz"-nya, beliau mengarang jawaban dengan: "saya rasa,,,,,," atau biasanya dengan kalimat, "saya kira,,,,,,,,,," dan sejenisnya.

Akhirnya syariah ini menjadi tidak punya pegangan, karena bisa diatur denga "saya kira" dan "saya rasa", yang seharusnya diatur dan dikendalikan olah dalil-dalil syariah dari Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Ini musibah "perasaan".

Didasari atau tidak, jawaban "perasaan" dan "perkiraan" ini justru telah merubah hukum yang memang sudah ada ketetapannya dalam syariah. Kenapa tidak dengan lapang dada sang ustadz mengatakan "maaf, saya tidak tahu jawaban masalah ini", itu lebih mudah dan lebih selamat.

Justru dengan terus mengatakan "saya rasa,," ,, "saya kira,,,", langsung atau tidak langsung, beliau telah menjatuhkan dirinya sendiri kedalam kubangan hina yang lebih dalam. Yang lebih parah lagi, beliau telah menghinakan syariah itu sendiri dengan karangan-karangan perasaannya. "Hukum kok make perasaan?" Na'udzu billah.

Dan sebaliknya, dengan mengatakan "tidak tahu" dengan perkara yang memang ia tidak mengetahui ilmunya, belaiu telah menghormat-kan dirinya dan telah meninggikan syariat yang ia pegang karena dengan begitu ia telah mensucikannya dari karangan-karangan hawa nafsu.

Tidak ingat-kah kita bagaimana bangganya Imam Malik menjawab 36 pertanyaan dari 40 pertanyaan yang disampaikan kepadanya dengan kata "tidak tahu". Tanpa malu.

Atau Imam Ibnu Hurmuz, gurunya Imam Malik yang dengan rendah hati meminta maaf kepada muridnya karena tidak berani menjawab karena alesan umur beliau yang sudah menua dan melemahkan otaknya.

Lebih pintarkan kita dari Imam Malik? Atau setara-kan ke-ilmuan kita dengan Imam Ibnu Hurmuz?

Wallahu A'lam
 

Terbentur Perasaan (Syariah Vs Perasaan)

Orang-orang timur seperti Indonesia dan beberapa Negara Asia Tenggara lainnya memang terkenal sebagai penduduk yang jago perasaan. Yang selalu saja mengedepankan perasaan dalam segala hal yang ditemui. Mereka terkenal dengan penduduk yang pintar berperasaan dan merasakan serta memainkan perasaan.

Satu sisi menjadi kelebihan, karena dengan label "Jago Perasaan" itulah Indonesia dikenal sebagai Negara yang punya penduduk ramah. Tapi di lain isi, karekterisitik ini terkadang menjadi blunder, seperti menjadi senjata makan tuan yang sulit dihindari.

Dalam hal syariah contohnya. Perasaan tidak bisa dijadikan dasar argument dalam ber-syariah, karena syariah memang tidak didasarkan atas perasaan, hawa nafsu dan sejenis, melainkan Al-Quran dan Sunnah Nabi saw.

Dalam ber-syariah, kita dituntut untuk menanggalkan perasaan ketimuran kita bagaimanaun rasanya. Karena tetap saja, berpegang dengan perasaan sama saja mengingkari ketentuan syariah yang sudah jelas keharusan kita untuk mengikutinya.

Karena kalau selalu saja mengedepankan perasaan, ya syariah ini menjadi tidak bernilai. Karena semua diukur dengan perasaan, akhirnya syariah ini menjadi syariah "Alay" yang selalau saja tunduk dengan perasaan si pemeluknya.

Satu waktu syariah menjadi A karena dihukumi oleh perasaan si A, tapi di lain waktu syariah dengan hukum dan masalah yang sama menjadi B, karena didasarkan oleh perasaan si B. jadilah syariah ini aturan yang tidak ber-aturan. Semua menjadi fleksibel dan bisa diatur semaunya.

Padahal hakikatnya, perasaan-lah yang harusnya tunduk dibawah kendali syariah. Karena itu patut adanya pem-biasa-an dan adaptasi terhadap syariah. Dengan apa? Ya mempelajarinya dengan tetap mengimani bahwa setiap yang telah ditetapkan oleh syariah itu baik untuk pemeluknya.

Karena dilemma "perasaan" ini juga bukan hanya dirasakan oleh para kaum muslim yang memang tidak mengetahui dan tidak memahami syariah, lalu kemudian semuanya diukur dengan perasaan. Kalau dirasa baik ya dilakukan tapi kalau dirasa buruk ya ditinggalkan.

Tapi justru dilemma ini dialami sangat keras oleh kalangan Asatidz yang memang mengerti hukum syariah, dan berkewajiban menyampaikan kepada umat. Terkadang beliau-beliau terbentur "perasaan" ketika ditanya oleh jemaahnya tentang satu masalah.

Sholat dalam keadaan macet misalnya. Sang Jemaah bertanya dengan nada lirih sambil memasang muka iba, "Stadz, bagaimana ya. Saya kan harus mengejar bus jemputan/kantor yang keluarnya jem-jem macet itu. Tapi saya malah nyampe rumah setalah isya. Lalu bagaimana sholat maghrib saya? Tapi stadz, kalau harus sholat dulu, saya bakal ketinggalan bus dan harus menunggu makin lama, karena bus itu Cuma sekali jalan. Yaa saya harus keluarin duit lebih banyak, karena kan keandaraan umum menuju rumah saya mahal stadz. Bagaimana ya? Apa tidak ada keringanan untuk orang seperti saya?"

Hehe. Kalau terus menuruti perasaan, ya apapun bentuk pekerjaan menjadi sah den legal. Sang ustadz menjadi galau, antara mengatakan itu salah atau tetap mengikuti perasaan iba sang penanya? Mengatakan salah itu akan mengakibatkan kesan yang timbul menjadi sangat keras, dan tidak ber-pri-kemanusia-an melihat kondisi yang memang serba sulit.

Tapi kalau menuruti perasaan dan mencari-cari alasan untuk melegalkan perasaan, ya itu sama saja melegalkan kemaksiatan. Karena bagaimanapun sholat sama sekali tidak bisa ditinggalkan dengan kondisi se-sulit apapun.

"Loh dia dalam keadaan sulit, kan macet?"  apakah karena itu ia dibolehkan meninggalkan sholat SETIAP HARI, karena macet terjadi setiap hari. "tidak ada kah rukhshoh?" rukhshoh itu hanya berlaku ketika keadaan darurat, dan itu insidentil. Kalau rukhshoh terjadi setiap hari, bukan rukhshoh lagi namanya. Tetapi menjadi 'Azimah. Apakah kemaksiatan boleh manjadi 'Azimah.

Apakah "penduduk" bus jemputan kantor itu tidak bisa turun ketika waktu sholat maghrib datang dan sama-sama menunaikan perintah Allah swt. Sama-sama mensyiarkan syariah agama ini? Apa mereka lebih berani meninggalkan kewajiban hanya sekedar memenangkan perasaan yang sama sekali tidak akan pernah bisa menjadi dasar hukum. 

karena kalau terus memakai perasaan, kita tidak akan sampai pada inti masalah, karena perasaan seseorang pasti berbeda. dan masing-masing punya kadar iba yang tidak akan pernah sama. "Taat Syariah" itu inti masalahnya. :)

"bukan-kah kita diperintahkan untuk lunak, ramah dan tidak terlalu keras dalam berdakwah? Seperti yang Rasul saw contohkan?" . ya memang benar, harus berdakwah dengan ramah. Berdakwah tidak dengan menakut-nakuti. Berdakwah dengan senyum.

Tapi menjadi ramah bukan berarti menjadi permisif dengan kemaksiatan. Menjadi ramah tidak berarti melegalkan kemungkaran. Toh dulu juga Rasul saw berdakwah ramah, tapi sekali melihat kemungkaran, sama sekali Rasul saw tidak DIAM.

Wallahu A'lam
 

Kuliner Dalam Tinjauan Syariah (Halal-Haram Makanan)

Ternyata memang urusan perut yang berkutat soal makan dan minum itu bukan hal sepele dalam syariah. Itu juga alesannya kenapa seorang muslim harus memakan makanan yang memang benar-benar halal, dan bukan makanan yang haram.

Syariah menempatkan perkara perut yang terkesan sepele dan hina ini justru dalam derajat yang melebihi kesan kita terhadap perkara itu sendiri. Ada banyak sebab dan hikmah dibalik mengapa syariah begitu menaruh perhatian penting terhadap perkara perut ini.

DOSA PERTAMA MANUSIA
Bagaimana tidak menjadi penting, toh dosa pertama yang dilakukan oleh manusia itu ialah dosa urusan perut, yaitu dosa makan. Dimana ketika itu Nabi Adam 'Alaih Salam melanggar perintah Allah swt untuk menjauhi pohon khuldi, namun kenyataannya justru Nabi Adam jatuh kedalam larangan tersebut, dan itu yang akhirnya membuat Nabi Adam dikeluarkan dari surga.

DOA TERGANTUNG MAKANAN
Selain itu bahwa urusan perut ini juga menjadi urusan batin penghubung antara makhluk dan tuhannya; Allah swt. Pernahkah terfikirkan bahwa kita bisa melakukan segala sesuatu tanpa tunutnan dan hidayah Allah swt? Tentu tidak.

Dan untuk mendapat hidayah tersebut, manusia dituntut untuk berdoa kepada Allah swt. Dan harus diketahui bahwa Allah itu maha baik dan tidak akan menerima kecuali memang yang baik. Nah urusan makanan itu ternyata bisa menjadi penghalang doa kita dikabulkan atau bahkan sampai kepada Allah swt.

Ini bukan cerita takhayyul atau karangan para asatidz bahwa orang yang isi perutnya itu makanan haram doa-nya tidak terkabul. Justru syariah sudah menetakan itu, bahwa manusia dengan paerut yang hanya berisi makanan haram, jauh sekali doa-nya aka dikabulkan.

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman, 'Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukanlah kesalehan'. Dan Allah berfirman, 'Wahai orang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik'. Kemudian Rasulullah SAW menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, "Ya Tuhan, Ya Tuhan." Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? (HR. Bukhari)

MENENTUKAN NASIB DI AKHIRAT
Dan lagi, bahwa makanan juga menentukan kehidupan nanti diakhirat dimana kita akan ditenpatkan oleh Allah swt. Apa yang masuk ke perut ini juga menjadi perhitungan nasib ukhrowi. Bukan hanya sekedar kenyang tapi juga masuk kepada urusan sejalan syariah atau tidak.

Dalam hadits Nabi disebutkan:
أَيُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram, neraka lebih pantas baginya. (HR. Tirmizy)

Jadi memang perkara perut ini bukan perkara sembarang. Selain karena 3 faktor tersebut diatas, tentu masih banyak lagi factor lainnya. Salah satu yang nyata ialah bahwa urusan perut inilah yang biasanya setan masuk menggoda dan mencari "partner in crime" makhluk jelek tersebut.

Banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan aturan apalagi aturan syariah kalau sudah berbicara perut. Segala sesuatu mesti dilakukan, tujuannya yaa untuk perut bir ngga "ngambek" melulu. Bahkan sampa mencuri dan menilep uang Negara pun kembali lagi urusannya ke urusan perut.

STANDARISASI KE-HARAM-AN MAKANAN
Perlu dibedakan bahwa logika makanan dengan logika Ibadah dalam syariah itu jelas berbeda. Dalam beribadah kita semua dilarang melakukan ritual apapun itu kecuali memang ada dalil yang memerintahkan atau ada dalil yang mengakuinya.

Berbeda dengan makanan yang mempunyai logika terbalik dengan makanan, dalam hal makanan syariah memberikan keonggaran dan keluasan. Dalam arti bahwa semua makanan yang ada dimuka bumi itu halal, kecuali makanan-makanan yang memang terdapat larangan untuk mengkonsumsi-nya.

Artinya memang kalau di persentasikan, makanan halal itu jauh lebiH banyak dibanding makanan yang diharamkan. Jumlah makanan yang diharamkan terlalu sedikit jumlahnya. Nah karena itu tidak perlu kita mencari makanan yang halal, karena makanan yang halal itu yaa banyak. Akan tetapi harus diketahui makanan yang haram agar kita bisa menghindari dan mencegahnya masuk kedalam perut kita juga keluarga kita.

Kriteria makanan yang dikonsumsi oleh manusia terbagi 2; [1] makanan Umum (non-Hewani), [2] Makanan Hewani.

[1] Makanan Umum non-Hewani
Singkatnya bahwa kalau dalam keriteria umum, makanan yang haram itu ciri-cirinya ada 3:
1.       Najis
2.      Memabukkan
3.      Mudhorot (menimbulkan bahaya)

3 sifat ini yang harus hilang dari makanan agar menjadi halal. Kalau makanan yang kita konsumsi itu terlepas dari 3 ciri itu, maka ia makanan halal. Ia bukan najis: artinya ia bukan darah, bukan air seni, dan sejenis yang memang itu benda najis.

Ia juga bukan barang yang memabukkan. Ingat ya, patokannya itu memabukkan. Apapun namanya kalau itu makanan memabukkan yaaa haram hukumnya.

Dan ia juga bukanlah makanan yang tidak menimbulkan mudhorot atau bahaya. Ia bukanlah makanan yang kalau dimakan nantinya akan menimbulkan sesuatu yang fatala seperti menilbulkan penyakit atau bahkan membuat sesorang itu mati karena mengkonsumsinya.  

[2] Makanan hewani, Yang berasal dari hewan (daging-nya)
Kriteria haram pada makanan hewani:

Pertama: Eksplisit diharamkan oleh syariah

Makanan yang secara eksplisit dan secara jelas memang diharamkan oleh syariah, seperti:
BABI yang memang banyak dijumpai dalam taks-teks syariah:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ
Diharamkan bagimu  bangkai, darah dan daging babi (QS. Al-Maidah : 3)

Dan juga keledai rumahan/peliharaan:
إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَْهْلِيَّةِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ
Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah melarang kalian memakan daging himar ahli (keledai peliharaan), karena hewan itu najis (kotor). (HR. Bukhari)

kedua: Bangkai
Diharamkan bagimu  bangkai, darah dan daging babi (QS. Al-Maidah : 3)

Jadi segala bangkai hewan –selain ikan dan belalang- itu haram untuk dikonsumsi sebagai makanan. Nah kriteria yang menjadikan hewan itu menjadi bangkai ialah, hewan yang memang mati bukan karena disembelih.

Dia mati karena tercekik, terjatuh, tertabrak atau sejenisanya yang bukan karena disembelih. Maka yang seperti itu menjadi bangkai dan tidak bisa dikonsumsi secara suyariah, karena memang syariah melarang bangkai untuk dimakan.

Ketiga: Hewan Buas
Dalilnya adalah sabda Rasulullah Saw berikut ini.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r نَهَى عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْرِ
Ibnu Abbas radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW melarang memakan hewan yang punya taring dari binatang buas dan yang punya cakar dari unggas. (HR. Muslim)
أَكْل كُل ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ حَرَامٌ
Memakan semua hewan yang buas hukumnya haram (HR. Malik dan Muslim)

Keempat: Hewan Yang diperintahkan untuk membunuhnya

Dari Aisyah radhiyallahuanha, Rasulullah SAW bersabda,"Lima macam hewan yang hendaklah kamu bunuh dalam masjid: Gagak, elang, kalajengking, tikus, dan anjing. (HR. Bukhari Muslim)

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahuanhu berkata, "Nabi SAW memerintahkan untuk membunuh tokek dan menyebutnya fasiq kecil" (HR. Muslim)

Nah. Keenam hewan (Gagak, elang, kalajengking, tikus, dan anjing, tokek) yang diperintahkan untuk kita membunuhnya itu ialah termasuk dalam kategori hewan yang dilarang untuk dikonsumsi.

Kenapa diharamkan?
Perintah untuk membunuh ini berbeda dengan perintah untuk menyembelih. Membunuh sekedar melakukan perbuatan yang membuat hewan itu mati, entah dengan cara dipukuli, dilempar, diikat,  dijebak, diracun, dan beragam cara lain yang dikenal manusia. Intinya dibunuh dan bukan disembelih.

Dan karena hanya dibunuh dan bukan disembelih, maka hewan itu kalau sudah mati menjadi bangkai. Dan bangkai itu adalah hewan itu haram dimakan.

Kelima: Hewan yang dilarang untuk dibunuh

Ada 5 jenis hewan yang syariah ini melarang kita untuk membunuhnya, yaitu; Lebah, semut, Shurod dan juga Hud-Hud. Dan jenis yang terakhir ialah Kodok.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه أَنَّ النَّبِيَّ r نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِ : النَّمْلَةِ وَالنَحْلَةِ وَالهُدْهُد وَالصُّرَدِ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, Rasulullah SAW melarang membunuh empat macam hewan: semut, lebah, hud-hud, dan shurad. (HR. Abu Daud)

سَأَلَ طَبِيْبٌ النَّبِيَّ r عَنْ ضِفْدَعِ يَجْعَلُهَا فيِ دَوَاءٍ فَنَهَاهُ عَنْ قَتْلِهَا
 "Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy, bahwa seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat. Maka Rasulullah SAW melarang membunuhnya." (Ditakharijkan oleh Ahmad, Al-Hakim dan Nasa'i)

yang mungkin masih asing buat kita adalah hudhud dan shurad. Keduanya memang tidak terdapat di negeri kita, sehingga tidak ada terjemahan yang baku atas kedua nama itu. Tetapi yang jelas keduanya termasuk jenis burung.

Kenapa hewan yang kita dilarang membunuhnya menjadi haram kita makan?

Logikanya adalah bahwa hewan yang tidak boleh dibunuh itu berarti mati dengan sendirinya. Dan hewan yang mati dengan sendirinya termasuk bangkai, sebab kalau mau dibilang halal, maka harus disembelih.

Padahal kita dilarang membunuhnya, tentu saja pengertiannya termasuk dilarang juga untuk menyembelihnya. Maka kalau hewan-hewan yang kita dilarang untuk membunuhnya itu jadi haram, salah satu illatnya karena hewan itu menjadi bangkai juga.

Wallahu A'lam
 

Korupsi Bukan Pencurian, Tak Usah Potong Tangan

Kebanyakan orang menganggap kalau korupsi itu ialah prkatek pencurian uang rakyat yang dilakukan oleh para koruptor. Dan karena itu sama-sama praktek pencurian, banyak yang menilai bahwa koruptor sangat layak sekali dipotong tangannya. Karena dalam syariah, hadd (hukuman) orang pencuri ialah dipotong tangannya.

Tentu ini dengan catatan, kalau memang Negara Indonesia tercinta ini mengakui dan memakai hukum Jinayat Syariah Islam, yang memang memberlakukan hadd untuk beberapa jenis pelanggaran. Termasuk hadd Rajam (ditimpuk dengan batu sampai mati) bagi pezina yang telah menikah.

Tetapi sayangnya, Negara dengan mayoritas muslim terbesar didunia ini enggan melirik hukum syariah, padahal didalamnya terdapat keadilan dan kedamaian yang selama ini justru paling sering digembor-gemborkan oleh mereka-mereka yang mengaku akitivis Hak Asasi Manusia, mereka aktivis yang membela HAM tapi sejatinya menginjak-injak HAM itu sendiri.

Kembali ke topik, Koruptor bukan Pencuri! Tetapi jika diteliti lebih jauh, praktek korupsi bukanlah praktek pencurian yang dikenal oleh syariah yang hukumannya ialah potongan tangan.

Pencurian dalam istilah syariah disebut dengan sariqoh [سرقة]. Para Ulama Fiqih mendefinisikan sariqoh itu ialah: "Mengambil suatu barang milik seseorang secara diam-diam".   

Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Kuwait, dijelaskan definisi sariqoh yang hukumannya ialah potong tangan, menurut istilah Fuqoha' (Ulama Fiqih):
أَخْذُ الْعَاقِل الْبَالِغِ نِصَابًا مُحْرَزًا أَوْ مَا قِيمَتُهُ نِصَابٌ مِلْكًا لِلْغَيْرِ لاَ شُبْهَةَ لَهُ فِيهِ عَلَى وَجْهِ الْخُفْيَةِ
 Pengambilan oleh seorang yang berakal dan baligh atas harta yang telah mencapai nishab dan disimpan dengan aman, atau yang senilai dengan nishab, dimana harta itu milik orang lain, yang dilakukan tanpa syubhat, dengan cara tersembunyi.
(Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Kuwait 24/292)

Dari definisi ini saja, korupsi sudah berbeda dengan pencurian yang dikenal dalam syariah. Selain definisi tersebut, pencurian yang membuahkan hukuman potong tangan itu harus terpenuhi juga rukun-rukunnya. Dari mulai [1] si pencuri, [2] barang curian, [3] kadar barang curian, dan [4] sifat pencurian.

Praktek pencurian ialah praktek yang dilakukan terhadap barang atau uang yang tersimpan rapi dalam tempat semsetinya kemudian dicuri, dan pencuriannya pun dilakukan secara diam-diam.

Sedangkan praktrek korupsi, memang ia juga bagian dari pencurian, tapi pencuriannya dilakukan tidak dengan diam-diam. Dan barang atau uang yang dicuri pun tidak diambil dari brangkas yang tertutup rapi, melainkan korupsi itu dilakukan atas uang yang memang dikelola sendiri oleh si koruptor kemudian di korup.

Jadi korupsi dan pencurian jelaslah berbeda. Karena memang berbeda maka hukuman untuk pencurian tidak bisa di berlakukan atas praktek korupsi.

Tapi tenang!...... bukan karena korupsi itu tidak memenuhi syarat untuk mendapat hukuman potong tangan layaknya pencurian, tidak berarti korupsi tidak ada hukumannya. Syariah Islam tidka pernah GAGAP dalam menghadapi pelanggaran-pelanggaran kemanusian papun bentuknya, karena memang syariah ini, salah satu tujuannya [Maqhosid] ialah menjaga harta dan kehormatan umatnya.

Dalam Hukum Jinayat Fiqih Islam, ada yang namanya hukuman Ta'zir [تعزير], yaitu hukuman yang disyariatkan dalam agama atas pelanggaran terhadap Hak-hak Allah swt dan juga Hak-Hak manusia yang yang tidak ada hadd-nya juga kafarat-nya. Dan diserahkan kebijakannya kepada Hakim.

Jadi ta'zir adalah hukuman yang diputuskan oleh seorang hakim. Nah dari pintu inilah sebenarnya kita bisa "membantai" habis penyakit masyarakat tersebut. Karena ta'zir diserahkan sepenuhnya kepada seorang hakim sesuai tinjauannya terhadap pelanggaran tersebut, besar kecilnya, serta bahaya yang ditimbulkan.

Ta'zir banyak bentuknya. Setidaknya ada 5 bentuk hukuman ta'zir yang dikenal oleh syariah; [1] Dieksekusi (hukuman mati), [2] Dicambuk, [3] Dikurung penjaran, [4] Diasingkan / dibuang, [5] Dikenakan dendan materi/uang.

Kelima bentuk ta'zir ini bisa dilakukan tergantung kadar dan besaran pelanggaran yang dilakukan. Yang terpenting dalam sebuah hukuam ialah bagaimana hukuman itu membuat si pelaku menjadi berhenti melakukan pelanggaran serta menjadi pelajaran dan ancaman bagi mereka para calon-calon pelanggar hukum. Yang nantinya kalau ditengakkan, kedamaian dan kesejahteraan akan tercipta. Dan memang itu tujuan syariah.

Pencurian yang membuahkan hukuman potong tangan ialah nishob-(kadar)nya ¼ Dinar (Ulama berbeda pendapat soal nishob pencurian ini), nah korupsi itu besarannya macam-macam, dari yang puluhan juta sampai ratusan juta bahkan milyar dan juga triliyunan. Kalau hukumannya hanya potong tangan, tentu sangat tidak adil sekali. Yang besar korupsinya sama saja hukumannya denang yang kecil.

Tapi dengan memakai hukum ta'zir, yang korupsi kecil akan mendapat hukuman sesuai pelanggaran yang dilakukan. Begitu juga dengan yang besar akan mendapat hukuman yang pastinya lebih besar. Bahkan kalau di Indonesia, praktek korupsi ini sudah layak mendapat hukuman ta'zir Eksekusi, atau hukuman mati. Dan inilah pembunuhan yang terpuji, karena pembunuhan yang akan mencegah pembunuhan setelahnya.

Karena korupsi bukanlah pencurian biasa. Lebih dari itu, korusi ialah pembunuhan. Ia telah membunuh raktay-rakyat miskin yang tidak berobat karena biaya berobat gratis telah dikorup. Ia telah membunuh masa depan anak-anak jalanan, karena biasa skolah gratis pun sudah dikorup. Dan masih banyak lagi pembunuhan-pembunuhan yang dihasilkan dari korupsi.

Korupsi Bukanlah Pencurian, jadi tak perlu potong tangan. langsung dieksekusi saja, langsung hukuman mati saja. karena memang korupsi bukanlah pelanggaran biasa. 
 
NOTE:
catatan ini menjadi tidak berarti akhirnya karena Negara Indonesia tercinta ini sam sekali tidak melirik Fiqih Jinayat untuk mengatasi pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum. Tapi justru terus saja mengekor kepada hukum yang tidak jelas sumbernya, dan parahnya peraturan tersebut tidak memberikan kemaslahatan kepada warganya.

Tapi setidaknya pembaca tahu bagaimana syariah Islam ini benar-benar mengurusi segala hal. Bukan hanya perkara dalam masjid. Tapi justru syariah ini memberikan penjagaan yang optimal akan harta dan kehormatan umatnya, dan itu yang memang menjadi salah satu Maqoshid Al-Syariah.

Wallahu A'lam
 

Cinta Yang Karena "Karena"

Kalau ada orang yang mencintai kekasihnya masih karena "karena"; karena dia ini, karena dia itu, karena cantik, karena tampan, dan karena yang lainnya. Itu bukan cinta namanya, tapi hanya sekedar kagum.

Kalaupun dia mengatakan itu cinta, ya pasti cintanya tak bertahan lama dan kemungkinan besar pasti berkahir. Karena cinta bergantung pada "karena" itu tadi. Ketika "karena"-nya itu hilang maka hilang juga cintanya.

Cinta "karena" tampan, cantik, berwibaya, berharta, berpagkat. Ketika semua yang di-"karena"-kan itu hilang, maka inti cinta pun entah kemana. Karena sudah tidak ada tempat lagi bagi cinta untuk bergantung ketika yang digantungkannya itu sudah tak ada. "Karena" tak ada, cinta pun tak ada.

Sama dengan model cinta "karena" tersebut itu juga teks-teks syariah. Beberapa nash-nash syariah baik dari Al-Quran dan Hadits Nabi saw ada yang mempunyai "karena" untuk hukum yang dihasilkan.

Jadi hukum yang ada dalam nash tersebut bergantung pada "karena"-nya. Dalam bahasa ulama fiqih, "karena" itu disebut dengan istilah "Illat" atau sebab hukum.
Cinta = Hukum, "karena" = Illat (sebab)

Artinya bahwa hukum tersebut keberadaannya bergantung atas "illat" (sebab) tersebut. Kalau "illat" (sebab)-nya tidak ada maka hilang juga hukumnya, sama seperti cinta yang hilang ketika "karena"-nya lenyap.  

Ini yang mendasari kaidah ushul fiqih:
الحكم يدور مع العلة المأثورة وجودا وعدما
 "Al-hukmu Yaduuru Ma'a Al-'Illati Wujudan wa 'Adaman" keberadaan hukum itu berkutat pada keberadaan "illat" (sebab)-nya. Ada "illat" ada hukum, tak ada "illat" tak ada hukum.

"Illat" (sebab) dalam teks syariah ada 2 macam; ada yang [1] Manshushoh (tertulis), dan ada yang [2] Mustanbanthoh (Teristimbat/Ter/Disimpulkan).  

Illat Manshushoh ialah Illat (sebab) yang memang tersebut bersama hukumny dalam satu susunan redaksi teks syariah itu sendiri. Contohnya:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
"Allah swt tidak melihat kepada siapa yang menjulurkan pakaian-nya dengan sombong" (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits ini jelas menerangkan tentang kemurkaan Allah terhadap mereka yang memakain pakaian dengan menjulurkan atau memanjangkannya dengan nada sombong dan sejenisnya. Atau biasa yang dikenal degan istilah "Isbal". Dan hadits semacam ini banyak redaksinya bukan hanya ini saja.

Karena ini kemurkaan, maka hal ini (menjulurkan panjang kain) itu menjadi haram hukumnya. Akan tetapi Ulama menyimpulakn bahwa "ancaman" kemurkaan Allah itu hanya kepada mereka yang melukannay karena "sombong".

Ulama berpendapat bahwa keharamannya itu bergantung kepada illat-nya yaitu "khuyala'" (sombong). Jadi ketika Illat-nya itu hilang maka hilang juga keharamannya.
(Syarhu An-Nawawi Lil-Muslim 14/62)

Sedangkan Illat Mustanbathoh itu ialah Illat yang tidak tersebut dalam nash syariah namun, keberadaannya bisa disimpulkan dari redaksi nash syariah itu. Karena nash syariah-nya sangat menjurus ke arah itu.

Dan mereka yang menyimpulkan pun bukan sembarang orang, akan tetapi para Ulama yang memang mujtahid dan sudah ekspert dalam masalah syariah.

Contohnya: hadit nabi saw:
لَا يَقْضِي الْقَاضِي بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ
"Tidaklah seorang Hakim Memberikan putusan hukum ketika ia sedang dalam keadaan marah" (HR Ibnu Majah)

Dalam hadits terdapat larangan bagi seorang hakim untuk memberikan putusan hakim ketika ia sedang marah. Artinya seorang hakim harus netral baik fisik atau pun psikis dalam memberikan putusan.

Ulama dalah hal ini berpendapat bahwa larangan tersebut bukan karena semata-mata "Marah". Illat larangannya bukan karena marah saja, akan tetapi illat larangannya tersebut ialah karena marah itu bisa menggangu konsentrasi seorang hakim dalam menentukan putusan, dan bukan hanya marah.

Jadi segala sesutau yang Bisa menganggu pikiran Hakim ketika menentukan putusan itu yang mejadi Illat larangannya. Bisa jadi karena lapar, mengantuk dan sebagainya.

Dengan kesimpulan tersebut, maka dilarang bagi hakim untuk menentukan putusan ketika ia sedang dalam keadaan lapar, atau sedang mengantuk karena itu bisa menganggu pikirannya.

Jadi "Al-hukmu Yaduuru Ma'a Al-'Illati Wujudan wa 'Adaman" keberadaan hukum itu berkutat pada keberadaan "illat" (sebab)-nya. Ada "illat" ada hukum, tak ada "illat" tak ada hukum.

Dan.... Jangan pernah Cinta seseorag karena "karena", karena bisa jadi "karena itu hilang. :)

Wallahu A'lam
 

Operasi Pengangkatan Tahi Lalat

Apakah boleh seorang muslim melakukan operasi buang tahi lalat? Adakah dalil-dalil syariah yang melarang itu semua, atau memang boleh-boleh saja. Bukankah Islam menganjurkan ummatnya untuk selalu berpenampilan indah dan elok?
gambar: kompas.com

Tahi lalat (nevus pigmentosus) merupakan tumor jinak pada kulit yang paling umum dijumpai pada manusia. Tumor jinak ini yang khas berwarna gelap, besarnya menetap, meski ada juga yang terus membesar.

Tahi lalat secara umum tidak berbahaya, dan biasanya hanya menimbulkan keluhan kosmetis, meski dapat pula berubah menjadi kanker.

Untuk mengetahui bahaya tidaknya tahi lalat dapat dilakukan pemeriksaan dengan melode ABCD. Sebagaimana yang dijelaskan oleh DR. Tjut Nurul Alam Jacoeb, Sp.KK, yang penulis kutip dari situs Kompas dot kom rubric kesehatan.

* A (Asymmetris). Tahi lalat vang bersifat kanker cenderung mempunyai bentuk tak beraturan. Tahi lalat yang normal bentuknya bulat.

* B (Border). Tahi lalat yang bersifat kanker mempunyai batas atau pinggiran abnormal, yakni tepinya bergerigi dan kadang timbul tonjolan di tengah tahi lalat. Pada tahi lalat normal permukaan tepinya cenderung, rata dan tak ada tonjolan.

* C (Colour). Tahi lalat yang beraneka warna seperti cokelat, merah, putih, biru, dan hitam sering menandai bersifat kanker ketimbang tahi lalat satu warna. "Waspadai jika memiliki tahi lalat dengan warna tidak homogen, bisa jadi itu gejala kanker," katanya.

* D (Diameter). Tahi lalat yang bersifat kanker biasanya memiliki ukuran lebih besar daripada yang jinak. Tahi lalat yang berbahaya ukurannya terus membesar hingga memiliki diameter lebih dari 6 milimeter.

Tahi lalat yang berisiko kanker harus ditangani segera sebelum metastatis atau menyebar ke bagian tubuh lainnya. Satu-satunya cara membuang tahi lalat adalah dengan jalan operasi.

Nah. Terkait operasi penghilangan tahi lalat tadi itu, kita lihat dulu, masuk dalam kategori mana tahi lalat yang ada pada wajah atau bagian tubuh lainnya dari badan kita ini. Apakah ia termasuk dalam kategori yang berpenyakit atau tidak.

Kalau memang itu tergolong dalam tahi lalat yang mempunyai efek penyakit dan bisa menimbulkan bahaya dan cacat berkepanjangan dan lebih fatal. Maka operasi penghilangan dalam masalah ini menjadi boleh dailaksanakan  atau malah menjadi sangat dianjurkan.

Dalam dunia kedokteran ini desebut dengan istilah Operasi Konstruktif. Yaitu operasi yang bertujuan untuk mengobati, memperbaiki, atau mengembalikan fungsi salah satu organ tubuh karena cacat. Entah itu karena bawaan lahir atau cacat yang timbul akibat kecelakaan dan sebagainya.

Dalam pandangan syariah, Operasi Rekonstruksi atau operasi kecantikan pada level dan tujuan yang sama seperti ini hukumnya Boleh-boleh saja, Karena sejatinya operasi semacam ini sama dengan berobat.[1]

Karena walaupun terdapat perubahan bentuk yang itu merupakan merubah ciptaan Allah swt, tapi sejatinya ia bertujuan untuk mengobati, dan itu yang menjadi tujuan utama. Sedangkan perubahan yang "memperelok" organ yang menjadi objek operasi itu datang sebagai sesuatu yang mesti terjadi ketika operasi itu dilakukan, dan bukan menjadi tujuan utamanya. Tujuan utama Rekonstruksi tetaplah sebagai pengobatan, bukan kecantikan.

Cacat yang ada pada salah satu anggota tubuh pasien ialah termasuk dalam kategori "Dhoror" (bahaya), karena jika tidak diobate dengan operasi medis, cacat tersebut akan terus menerus menempel pada tubuh orang tesebut. Dan syariat ini menjaga pemeluknya dari sebuah dhoror (bahaya), maka itu bahaya harus dihilangkan, sebagimana kaidah fiqih yang masyhur.
الضرر يزال
"Bahaya itu harus dihilangkan"
Dan bisa jadi operasi pada level ini menjadi Musrahab hukumnya dan bahkan menjadi wajib, jika memang dengan meninggalkan operasi ini bisa menyebabkan kondisi yang fatal atau juga kematian bagi si pasien.

TETAPI
Kalau tahi lalat itu bukan dalam kondisi atau kategori yang mempunyai turunan penyakit. Dan tujuan operasi penghilangan itu hanya semata untuk mempercantik, maka itu yang dilarang. Karena dalam operasi tersebut pastilah ada perubahan atas ciptaan Allah swt dan itu dilarang dalam syariah.

Dan operasinya itu disebut dengan istilah operasi Esthetic dalam dunia kedokteran. Yaitu operasi terhadap salah satu organ yang bertujuan semata hanya untuk kosmetik atau kecantikan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»
Dari Abdullah bin Mas'ud ra, beliau berkataa: "Allah melaknat yang membuat Tatto dan meminta dibuatkan tattoo, dan juga yang mencukur bulu rambut di wajahnya dan juga yang meminta dicukur bulu rambut wajahnya untuk tujuan memperelok, dan orang yang mengubah ciptaan Allah" (HR. Bukhori)

Ini adalah potongan hadits dari sebuah hadits yang panjang dari sahabat Abdullah bin Mas'ud ra. Intinya bahwa Allah swt dan Rasullullah saw melaknat beberapa golongan dari kaum wanita yang melakukan praktek kecantikan dengan merubah ciptaan Allah swt. Dan itu ialah perkara yang telah diharamkan oleh Allah swt. Dan "Laknat" dalam nash-nash syariah menunjukkan bahwa perkara ini ialah perkara yang termasuk dalam golongan dosa besar. (syarah Nawawi Lil-muslim 14/106)

Kalimat lil-Husni [لِلْحُسْنِ] yang berarti untuk memperelok, atau juga mempercantik dalam hadits tersebut, memberikan isyarat bahwa yang memang benar-benar diharamkan itu ialah apa yang dikerjakan untuk tujuan "memperelok". Sedangkan apa yang dikerjakan untuk tujuan pengobatan dan perbaikan, tidak ada dosa baginya. Imam Ibnu Jarir mengatakan bahwa wanita yang dicela dalam hadits tersebut ialah ia yang melakukan itu semua untuk tujuan "keelokan" atau "kecantikan". Kalau ia mengerjakan itu semua karena memang kebutuhan berobat, maka itu boleh-boleh saja. (Fathul-Baari 10/373)

wallahu A'lam


[1] Al-Mausu'ah Al-Thibbiyah Al-fiqhiyyah, hal. 235. Fiqh Al-Qodhoya Al-Thibbiyah Al-Mu'ashiroh, hal. 531
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger