Buku Sistem Keuangan Negara Pertama di Dunia

Ternyata, buku pertama yang menjelaskan seluk beluk system pengaturan keuangan Negara yang belakangan ini menjadi satu disiplin ilmu tersediri dari ilmu ekonomi itu ilmaun muslim yang memulainya. Percaya atau tidak, memang itu yang terjadi.

Sekitar abad ke-8 Masehi atau abad ke-2 Hijriyah, salah satu sulthan dari daulah Abbasiyah, Harun Al-Rasyid sudah memakai buku panduan itu untuk keuangan Negara. Dan terbukti, ekonomi daulah abbasiyah ketika itu menjadi kekuatan penting dari beberapa sector pertahanan Negara yang akhirnya membuat Daulah Abbasiyah itu sendiri bisa bertahan lama.

Nama kitabnya ialah "Al-Kharaaj" [الخراج]. Siapa pengarangannya? Belaiu adalah salahs satu ulama dari kalangan Madzhab Hanafiyah, dan disebut juga sebagai sahabat Imam Abu Hanifah dan hidup bersamanya. Orang sering memanggilnya dengan sebutan Abu Yusuf.

Abu Yusuf, Ya'kub bin Ibrahim Al-Anshari

Nama asli beliau Ya'kub bin Ibrahim bin Habiib Al-Anshari, lahir di Iraq tahun 113 H / 731 M, beliau menghabiskan hidup untuk ilmu di Kufah dan Baghdad yang ketika itu menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah. Wafat tahun 182 H / 798 M di negeri yang sama ketika beliau lahir.

Tinggal dalam keluarga yang menciantai ilmu walaupun dengan keadaan yang sederhana, hingga akhirnya, karena keilmuan yang beliau punya, Harus Al-Rasyid mengangkatnya sebagai Qadhi (Hakim) Baghdad yang mana jaabatan seperti itu bukan lah jabatan biasa dalam hirarki kesultanan.

Orang-orang Eropah mengenalnya sebagai ahli ekonomi Islam, karena memang karya beliau juga dinikmati hingga ke benua biru dan banyak jadi rujukan di beberapa kampus Eropa dalam hal ilmu ekonomi, lebih spesifik lagi system ekonomi negara.

Akan tetapi, selain dikenal sebagai ekonom, para ulama syariah mengenal beliau sebagai ahli fiqih madzhab Hanafi. Bukan hanya itu, selain menjadi murid dan sahabat Imam Abu Hanifah, beliau juga lah orang pertama yang membukukan metodologi pengambilan (Isyimbath) hukum Fiqih menurut madzhab Hanafi, atau biasa yang dikenal dengan ilmu Ushul-Fiqh.

Jadi sejatinya beliaulah yang pertama kali membukukan ilmu Ushul-Fiqh walaupun masih dalam berupa risalah-risalah kecil, sampai akhirnya datang Imam Syafi'i dan mengarang kitab Al-Risalah.  

Kitab Al-Kharaj

Dalam mukadimah kitab ini, beliau mengatakan bahwa lahirnya kitab ini ialah atas dasar inisiati sultah Harus Al-Rasyid yang sangat khawatir dengan banyaknya pengeluaran Negara serta kebingungan bagaimana caranya mengatur pemasukan Negara, agar terjadi keseimbangan.

Dan yang terpenting lagi kata beliau dalam mukadimahnya, yaitu agar tidak ada satupun penduduk Abbasiyah yang merasa terzalimi dengan pengaturan keuangan Negara yang bisa saja keliru. Atas dasar itu semua akhirnya Harusn Al-Rasyid mendatangi Abu Yusuf dan meminta dibuatkan semacam rancangan system tata keuangan Negara. Karena memang Harus Al-Rasyid sebelumnya tahu bahwa Abu Yusuf adalah ahli ekonomi yang namanya sudah banyak dikenal orang ketika itu.

Menariknya, dalam mukadimah juga beliau menjelaskan bahwa sebelum memerintahkan mengarang kitab tersebut, Abu Yusuf pernah berkata kepada Harus Al-Rasyid, bahwa walaupun harun adalah seorang sulthan, akan tetapi bukan berarti Harun bisa berbicara seeanaknya tanpa ilmu. Dengan tegas beliau ketakan pada Sulthan: "serahkan semua urusan pada ahlinya".

Mungkin itu yang membuat Harun Al-Rasyid memanggil Abu Yusuf untuk proyek besar ini.

Dalam buku "min At-Turats al-Iqtishad lil-Muslimin", seorang ekonom Mesir era 80-an, Dr. Rif'at Al-Iwadhy mengatakan bahwa seluruh ekonom sejagad raya sepakat bahwa kitab Al-Kharaaj Abu yusuf ini adalah kitab pertama di dunia yang berbicara soal ekonomi secara umum dan keuangan Negara secara khusus.

Sebelumnya, belum ditemukan ada kitab yang sejenis. Karena memang ketika itu beliau hidup di abad ke-2 Hijriyah / ke-8 Masehi, di zaman yang bisa dibilang adalah zaman keemasan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah peradaban Islam, yaitu di masa Abbasiyah.

Dan di zaman yang sama, Eropa sedang mengalami masa-masa sulit, termasuk dalam hal keilmuan. Mereka sering menyebutnya dengan istilah "The Dark Ages.

Karakteristik Kitab

Selain membahas 2 poin penting dalam sebuah system keuangan Negara, yaitu permalasahan pengaturan pendapatan (seperti pajak, zakat dan sejenisnya) dan pengeluaran (Belanja) Negara, ada satu hal lagi yang dibahas oleh Abu Yusuf dalam kitabnya ini yang memang menjadi ciri khas sebuah system ekonomi nagara Muslim. Yaitu Akhlaqiyat Al-Nidzom Al-Mali (Moral dan Etika dalam Sistem Pengaturan Keuangan).

Poin ketiga inilah yang tidak dimiliki kecuali para ekonom yang dalam dirinya ada ketaqawaan diri kepada Allah swt, begitu ia mengatakan. Karena bagaimanapun –menrut beliau-, sebuah system ekonomi Negara, apapun bentuknya tidak akan berhasil dan sukses jika tidak dibarengi dengan moral dan etika dalam mengaturnya.

Terbukti, kita bisa liat zaman sekarang, berapa banyak Negara yang carut marut keuangannnya karena yang mengatur tidak punya moral dan etika. Bahkan aturan tuhan saja berani dilanggar, kalau sudah berani melanggar aturan tuhan, aturan manusia sudah bukan sesuatu yang layak dihormati lagi baginya.

Di poin ketiga inilah Abu Yusuf menenkankan secara dalam. Karena itu, dalam poin ketiga ini, beliau menjelaskan, siapa yang memang layak mnejadi pengatur keuangan Negara. Beliau membuat kualifikasi khusus untuk siapa yang layak duduk di bangku bendahar Negara, bukan orang sembarang dan juga tidak cukup dengan keilmuan saja, tapi harus dengan moral dan etika.

Wallahu A'lam

Untuk mendowload kitab, klik:
 

Sepatu Kulit Babi, Bolehkah Memakainya?

Dalam proses pembuatannya, tentu kulit babi yang dijadikan bahan untuk membuat sepatu itu tidak bisa langsung dipakai, melainkan setelah proses pembersihan kulit itu sendiri sebelumnya. Karena tidak mungkin kulit yang masih kasar dan kotor itu didesaign sedemikian rupa menjadi sepatu.

Proses pembersihan kulit itu disebut dengan istilah samak dalam bahasa Indonesia, dan disebut dengan istilah [دباغة] "dibaghah" dalam bahasa Arab. Yaitu proses pembersihan kulit hewan dengan menggerusnya dan menghilangkan kotorannya, lemak serta bau busuk. Entah itu dengan proses  manual atau juga dengan mesin.

Jad, sejatinya hukum memakai sepatu yang terbuat dari kulit babi itu kembali kepada permasalahan apakah penyamakan kulit hewan itu membuat kulit itu menjadi suci dan boleh dimanfaatkan? Kalau boleh, apakah kulit babi juga termasuk kulit yang menjadi suci dengan penyamakan atau tidak?

Dalam hal penyamakan kulit hewan, apakah penyamakan itu membuatnya suci atau tidak, ulama berbeda pendapat.

[1] Samak Mensucikan Kulit Hewan, Kecuali Kulit Babi

Ini adalah pendapatnya madzhab Syafi'iyyah dengan madzhab Hanafiyah, bahwa samak itu mensucikan semua kulit hewan, baik yang dagingnya halal dimakan atau tidak, kecuali kulit babi.

Dalil yang mereka gunakan ialah beberapa hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari sahabat Ibnu Abbas:

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ
"Jika kulit itu telah disamak, maka ia telah suci"

Dan juga denngan hadits lain yang juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra:

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ
"Setiap kulit yang disamak, maka ia telah suci" (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Al-Nasa'i)

Hadits-hadits diatas dengan tegas menyatakan bahwa kulit hewan -apapun itu hewannya karena redaksi haditsnya umum- jika telah disamak, maka penyamakannya itu ialah pensuciannya. Jika telah suci, maka boleh untuk dimanfaatkan.

Dikecualikan Kulit Babi dan Kulit Anjing (Al-Syafi'iyyah)

Setelah bersepakat sucinya kulit hewan apapun yang disamak, mereka bersepakat bahwa penyamakan tidak berlaku untuk kulit babi, kalaupun disamak, tetapi tidak bisa mensucikan. Karena mereka berpandangan bahwa babi itu najis bukan karena kotoran atau sejenisnya, tapi babi itu najis karena dia babi.

Jadi memang babi itu 'Ain-nya sendiri najis. Status kenajisannya paten, bukan karena sesuatu yang menempel pada tubuhnya, melainkan karena memang ia najis. Karena memang itu najis baik hidup atau mati, maka apapun bentuk pensuciannya tidak akan membuat hukumnya berubah, Karena ia najis dzatnya.[1]    

Satu hal yang membedakan antara dua madzhab ini bahwa madzhab Syafi'iyyah mengecualikan satu binatang lagi selain babi yang penyamakan kulitnya tidak mensucikan, yaitu anjing.

Sama seperti pengecualian babi, menurut madzhab Syafi'iyyah babi itu kedudukannya sama seperti babi yang najis itu ialah najis besar dan ia najis dzatnya. Jadi status kenajisannya bukan karena apa-apa, melainkan karena ia anjing. Sebagaimana diketahui masyhurnya bahwa dalam madzhab ini, anjing dan babi adalah binatang yang kenajisannya ialah najis besar (Mughalladzoh). [2]

Dalam kitabnya, Imam Al-Syairozi mengatakan bahwa:

وَأَمَّا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيرُ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا فَلا يَطْهُرُ جِلْدُهُمَا بِالدِّبَاغِ لأَنَّ الدِّبَاغَ كَالْحَيَاةِ ثُمَّ الْحَيَاةُ لا تَدْفَعُ النَّجَاسَةَ عَنْ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ فَكَذَلِكَ الدِّبَاغُ
"Anjing dan babi dan apa yang lahir dari keduanya, kulitnya itu tidak bisa suci dengan disamak. Karena samak itu seperti kehidupan (Al-Hayah), anjing dan babi itu hidupnya saja sudah najis. Hidupnya anjing dan babi saja tidak bisa mengangkat kenajisannya, dengan begitu sama juga tidak bisa".[3]

[2] Penyamakan Tidak Mensucikan Kulit Hewan

Ini adalah salah satu pendapatnya madzhab Malikiyah yang masyhur (Imam Malik punya 2 riwayat pendapat), dan juga salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad bin Hanbal[4], bahwa samak itu tidak bisa mensucikan kulit hewan secara mutlak. Apapun hewannya, samak sama sekali tidak bisa membuatnya suci.

Madzhab ini berdalil dengan ayat Quran surat Al-Maidah ayat 3 yang menyatakan secara umum bahwa bangkai itu diharamkan. Dan kulit hewan yang mati itu hukumnya hukum bangkai, ia tidak suci. Karena tidak suci maka tidak bisa digunakan.

Selain ayat, mereka juga berdalil dengan hadits Ibnu 'Ukaim yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Abu daud dalam Sunan keduanya. Sahabat 'Ukaim berkata bahwa Rasul saw mengirim surat sekitar sebulan atau dua bulan yang berisi larangan untuk memanfaatkan kulit walaupun sudah disamak:

أَتَانَا كِتَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَنْتَفِعُوا مِنْ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ
"telah datang kepada kami, pemberitahuan (kitab) dari Nabi saw: janganlan kalian memanfaatkan kulit hewan yang telah disamak"  

Maksud haditsnya jelas bahwa walaupun telah ada informasi yang menunjukkan kulit hewan itu suci setelah disamak, akan tetapi hadits ini datang belakangan dan menghapus hadits-hadits sebelumnya, dengan bukti bahwa ini dikatakan sebelum wafat beliau sekitar sebulan atau 2 bulan.

Adapun hadits-hadits yang membolehkan itu, madzhab ini mengatakan bahwa yang dimaksud suci dalam hadits-hadits itu hanya suci dalam arti bahasa yang bermakna bersih (bukan suci bermakna hukum). Karena itu boleh memanfaatkannya dengan alasan rukhshoh.[5]

Tapi kembali lagi seperti madzhab yang lain bahwa rukhshoh itu juga tidak termasuk kulit babi. Maksudnya, madzhab ini membolehkan kita untuk memanfaatkan kulit hewan yang disamak dengan alasan rukhshoh tapi tidak untuk kulit babi.

Babi tetap pada keharamannya. Karena memang madzhab ini berpendapat bahwa hewan yang haram dagingnya dan tidak bisa disembelih untuk jadi halal, kulitnya juga tidak suci walaupun dengan samak. Dan babi secara Ijma' bahwa hewan ini tidak halal dimakan dan tidak suci walau disembelih.[6]  

[3] Samak Hanya Mensucikan Kulit Hewan Yang Dagingnya Halal Dimakan

Ini adalah salah satu dari 3 pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal yang diriwayatkan oleh para ulama madzhab tersebut. Pendapat pertama telah lewat bahwa sama tidak mensucikan kulit hewan sama sekali. Pendapat kedua ini, yaitu samak hanya mensucikan hewan yang dagingnya halal dimakan.

Dalil madzhab ini ialah hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari sahabat Salamah bin Al-Muhabbiq, mengatakan bahwa:

ذَكَاةُ الأَدِيمِ دِبَاغُهُ
"Penyembelihan kulit itu dengan menyamaknya"

Dalam hadits ini, Nabi saw menyamakan penyamakan dengan penyembelihan, karena hewan menjadi halal dimakan kalau sudah disembelih. Ini mengisyaratkan bahwa penyamakan itu hanya berlaku pada hewan yang boleh disembelih. Dan hewan yang hanya boleh disembelih ialah hewan yang halal dagingnya. Maka sama pun demikian, hanya berlaku pada hewan yang halal dagingnya.

Pendapat ketiga Imam Ahmad ialah: Samak mensucikan kulit hewan yang sewaktu hidupnya ialah hewan yang suci walaupun haram dimakan, seperti keledai.

Dalilnya sama seperti yang digunakan oleh madzhab Syafi'iiyah dan hanafiyah selumnya. Dan kenapa hewan yang najis ketika hidupnya dikecualikan? Beliau beralasan bahwa samak itu hanya mengangkat najis yang terjadi karena sebab matinya hewan tersebut. Adapun yang telah najis sejak hidupnya, maka penyamakan tidak bisa mengangkat status najisnya.[7]

[4] Samak Mensucikan Semua Kulit Hewan Tanpa Kecuali

Ini adalah pendapatnya madzhab Al-Dzohiriyah dan beberapa ulama dari kalangan Malikiyah seperti Syahnun dan juga Abu Yusuf dari kalangan hanafiyah, bahwa samak mensucikan semua kulit hewan termasuk kulit babi.

Dalil yang dipakai oleh madzhab ini sejatinya sama dengan yang digunakan oleh madzhab Syafiiyyah dan Hanafiyah, hanya saja madzb Zohiriyah ini tidak mengecualikan hewan apapun. Karena menurutnya hadits yang ada itu datang dengan redaksi yang umum. Lalu kenapa ada yang dikecualikan?

Termasuk juga berdalil dengan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam shahih-nya dari sahabat Ibnu Abbas, terkait domba yang mati dan menjadi bangkai. Kemudian Rasul saw mengatakan kepada Ibnu Abbas:

هَلا أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ ؟ فَقَالُوا : إِنَّهَا مَيْتَةٌ ، فَقَالَ : إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا
"apakah tidak kalian ambil kulitnya dan kalian manfaatkan, dengan begitu itu lebih mantaaf untuk kalian?" para sahabat berkata: "tapi itu bangkai?" Nabi saw menjawab: "Yang haram itu memakannya".

Dalam hadits jelas bahwa Nabi membedakan hukum daging dan hukum kulit hewan tersebut. Domba itu memang haram dimakan karena ia bangkai, akan tetapi kulitnya punya hukum berbeda yang bisa menjadi suci jika disamak.

Begitu juga babi, menurut madzhab ini. yang diharamkan dari babi ialah makan dagingnya, sedangkan kulitnya bisa disamak. Terlebih lagi bahwa memang madzhab ini tidak memandang babi sebagai hewan yang najis dzatnya.[8]  

Terkait dengan hadits Ibnu 'Ukaim yang menjadi dalil madzhab Malikiyah, dikatakan bahwa hadits ini tidak layak untuk dijadikan dalil, karena memang sanadnya tidak kuat. Artinya hadits ini ada cacatnya.

Karena dalam riwayat lain dikatakan bahwa hadits ini muncul sebelum wafatnya Nabi setahun, ada yang bilang juga 3 hari sebelum. Initinya tidak ada kesepakatan redaksi dalam hadits ini, itu bukti bahwa hadits ini tidak kuat, karena banyak riwayat yang berbeda.

Dan juga disebutkan oleh beberapa ahli hadits bahwa hadits ini diragukan sampai ke Nabi saw, karena Ibnu 'Ukaim pun diragukan apakah dia sahabat atau bukan. Terlebih lagi bahwa dalam hadits ini pun Ibnu 'ukaim tidak langsung mnedengar dari Nabi saw. Ini yang dinamakan dengan hadits mursal.

Dan pendapat ini juga yang banyak diikuti oleh beberapa ulama kontemporer belakangan ini, salah satunya ialah DR. Abdullah Al-Faqih, sebagaimana yang termaktub dalam fatwanya di bank fatwa website islamweb[.]net.  

Sepatu Kulit Babi

Melihat apa yang sudah dipaparkan diatas, kulit babi yang disamak itu suci menurut satu pendapat dan pendapat lain mengatakan samak tidak bisa mensucikannya:

·         Kulit babi Najis: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali (salah satu riwayat)
·         Kulit babi Tidak Najis: Madzhab Al-Zohiriyah

kesimpulannya bahwa mayoritas ulama madzhab fiqih melihat kenajisan kulit babi walaupun telah disamak, hanya madzhab Al-Zohiriyah. Maka jika mengikuti pendapat jumhur, sepatu kulit babi tidak boleh dipakai karena itu najis. Karena najis itu haram dimakan, maka ia haram juga dimanfaatkan, kecuali dalam keadaan darurat.

Akan tetapi jika menganut madzhab Al-Zohiriyah, tidak mengapa memakai sepatu yang terbuat dari kulit babi tidak ada larangan.

Wallahu A'lam  


[1] Hasyiyah Ibnu Abdin 1/136, Al-Majmu' 1/214
[2] Al-Majmu' 1/214
[3] Al-Muhadzdzab 1/27
[4] Bidayah Al-Mujtahid 73, Al-Mughi 1/66
[5] Al-Fawakih Al-Dawani 2/286
[6] Hasyiyah Al-Dusuqi 1/54
[7] Al-Mughi 1/66, Kasysyaful-Qina' 1/54
[8] Al-Muhalla 7/525
 

Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah

Ada kalimat yang masyhur sekali di kalangan para fuqaha' (ahli fiqih), dan hampir semua imam madzhab diriwayatkan pernah mengatakan kalimat ini, yaitu:

رأيي صواب ويحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب
"Pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Dan pendapat selain ku itu salah, tapi bisa jadi benar".

Semua Imam mengklaim bahwa pendapatnya itu ialah yang benar, namun dengan kerendahan hati yang sangat beliau mengatakan bahwa pendapatnya itu benar dengan kemungkinan adanya kesalahan, akan tetapi pendapat yang lain salah denngan kemungkinan adanya kebenaran di dalamnya.

Mungkin ada yang berfikir bahwa ini seperti kesombongan dari seorang ulama tentang ijtihad mereka, padahal sejatinya sama sekali tidak bernilai kesombongan. Justru malah sebaliknya, ini adalah pengakuan yang menunjukkan bahwa seorang faqih itu sangat tawadhu'.

Bagaimana bisa tawadhu', kenapa tidak mereka katakana saja bahwa pendapatnya itu salah? Tapi malah mengklaim benar.

Yang pertama harus dingat itu ialah bahwa yang mengatakan perkataan ini bukanlah seorang ulama yang levelnya masih standar atau masih level tingkat medium. Akan tetapi yang mnegatakan ini adalah ulama yang memang berlevel mujtahid, bahkan mujtahid mutlak.

Dan seorang mujtahid mendapat perintah untuk berijtihad bukan mengikuti dalam masalah hukum ibadah yang ia kerjakan. Bahkan tidak juga diperkanankan untuk mengikuti mujtahid yang lain. Artinya bahwa seorang mujtahid yang mempunyai alat untuk berijtihad, ia harus dan wajib berijtihad dan haruslah memastikan bahwa ijtihadnya ini sudah pada koridor ijtihad yang memang diakui oleh kalangan ulama lain.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya "Raudhoh Al-Nadzir", dalam bab Ijtihad dengan gamblang beliau mnejelaskan bahwa seorang mujtahid tidak diperbolehkan untuk mengikuti fatwa mujtahid lain. Dan beliau dengan tegas bahwa ini adalah sebuah kesepakata (Ittifaq).

Lalu kenapa harus mengatakan pendapatnya yang benar?

Jawabnya karena seorang muslim tidak mungkin melaksanakan ibadah dengan sandaran dalil yang "Salah". Dan yang benar menurut seorang mujtahid ialah apa yang telah ia ijtihadkan, dan itulah kebenaran di mata seorang mujtahid. Dan ijtihadnya menjadi sandaran dalil bagi dirinya dan siapa yang mengikuti, karena menjadi sandaran dalil, tidak mungkin seorang muslim beribadah dengan dalil yang salah. 

Tapi sama sekali seorang mujtahid tidak pernah mengklaim bahwa hasil ijtihadnya ialah kebenaran mutlak yang harus diikuti dan orang lain tidak boleh berbeda, dengan kalimat: [ويحتمل الخطأ] "Bisa Jadi salah"! Disini letak bahwa seorang faqih itu seorang yang tawadhu dan tidak sombong. Sama sekali tidak pernah mengklaim kebenaran hanya padanya.

Karena mereka sadar, bahwa apa yang mereka ijtihadkan tidak mesti sama dengan mujtahid lain yang juga berijtihad yang bisa jadi itu berbeda dengan hasil ijtihadnya. Yang diperintahkan oleh Allah swt kepada para mujtahid ialah berijtihad, dan kemana hasil ijtihad akan mengarahkan mereka, disitulah kebenaran di mata mereka.

Dan kalimat: [رأيي غيري خطأ ويحتمل الصواب] "Pendapat selainku salah tapi bisa jadi benar". Di sinilah poin bahwa seorang faqih atau mujtahid tidak diperkanankan untuk saling hujat dan mengklaim bahwa kebenaran hanya pada dirinya, tidak pada orang lain. 

Seorang ulama A berijtihad dan menghasilkan hukum A, lalu ulama B berijtihad dan menghasilkan hukum B. kedua ulama tersebut terpuji dan mendapat ganjaran pahal dari Allah swt atas ijtihadnya itu. Hukum A itu salah menurut ulama B tapi bisa jadi benar, dan juga sebaliknya, hukum B itu salah menurut ulama A tapi bisa jadi benar juga.

Keduanya telah melakukan kewajiban masing-masing sebagai seorang mujtahid, untuk berijtihad. Adapaun siapa yang ijtihadnya bersepakat dengan kebanaran yang ada pada Allah, itu bukan tuntutan. Yang dituntut itu ialah mereka berijtidah, setelah itu mereka beribadah dengan hasil ijtihadnya sendiri. Dan itu legal dalam syariah karena telahmnedapat legalitas.

Karena masing-masing telah melakukan kewajiban, dan masing-masing diakui ijtihadnya oleh syariah, seorang mujtahid tidak punya celah untuk menghujat atau memaki atau juga mencaci ijtihad ulama lain. Tapi tetap dalam koridor saling menghormati.

Karena itu, kita tidak temukan ada seorang mujtahid atau imam madzhab yang mengklaim madzhabnya yang paling benar sendiri dan tidak juga mereka memaksa orang lain untuk mengikuti madzhabnya. Semua tetap kondusif dan saling menghormati tanpa ada yang menghina satu sama lain.

Wallahu A'lam
 

Ijtihadnya Orang Awam

Aslinya seorang awam itu hanya boleh bertaqlid (mengikuti), tidak berijtihad. Seorang awam tidak akan mampu untuk berijtihad, karena memang syarat ijtihad itu sangat tinggi, dan sulit untuk dicapai. Karena memang tidak bisa berijtihad, maka menjadi Muqallid adalah jalan paling baik untuknya.

Kalau seorang mujtahid berijtihad, dan ijtihadnya itu benar, artinya sesuai dengan kebenaran yang ada pada Allah swt, ia dapat dua pahala. Akan tetapi jika seorang mujtahid dan ijtihadnya tidak sesuai dengan kebenaran yang ada pada Allah swt, ia tetap mendapat pahal ijtihad yang hanya satu.

Tapi seorang muqallid, ijtihadnya benar atau salah tetap tidak ada ganjaran, malah itu akan menimbulkan kesemrawutan keilmuan, karena adanya orang yang tidak mengerti ikut berbicara.

Namun Imam Ibnu Qudamah –Rahimahullah- dalam kitabnya Raudhao An-Nadzir, menjelaskan ada satu masalah yang seorang awam boleh berijtihad, bahkan menjadi wajib berijtihad, hanya pada masalah ini saja, tidak yang lain. Yaitu masalah memilih pendapat mujtahid!

Ini adalah satu-satunya masalah dimana seorang awam wajib berijtihad, yaitu jika ada perbedaan pendapat antara para mujtahid. Dalam masalah ini seorang awam diberi kebebasan berijtihad untuk memilih kepada siapa ia harus ikut.

Bahkan derajatnya bukan boleh, akan tetapi menjadi wajib. Karena ia harus beribadah, dan ibadahnya tidak bisa disandarkan kecuali dengan dasar dalil yang ia telah pilih dari salah seoran mujtahid. Justru ketika ia menolah memilih, ia tidak bisa menjalankan ibadahnya.

Karena memang ijtihadnya hanya memilih, maka tidak ada celah baginya untuk menghina salah seorang mujtahid yang memang menurutnya fatwa beliau tidak sejalan dengan keyakinannya. Ia hanya wajib mengikuti satu tapi bukan berarti harus menghina yang berbeda.

Sama seperti mujtahid yang sama sekali tidak pernah menghina atau merendahkan atau juga menghujat mutahid lain yang berbeda hasil ijtihadnya dengan beliau. Dan itu kita saksikan dari kebiasaan ulama salaf dan para Imam 4 madzhab. Tak sekalipun ada hujatan dan makian terhadap masing-masing mujtahid.

Mereka menjatuhkan dalil yang digunakan oleh kelompok yang berbeda, itu Iya! Tapi tak sekalipun mereka menghina orang yang berdalil dibalik dalil tersebut. Semua aman semua tenang semua saling menghormati dan memahami.

Imam Ahmad pun Tidak Marah

Imam Ibnu Qudamah mengeluarkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal yang pernah ditanya oleh Hasan bin Basyar, salah seorang sahabat dan juga murid Imam Ahmad.

Beliau bertanya kepada Imam Ahmad tentang masalah yang berkaitan dengan talak, lalu Imam Ahmad menjawab,"Kalau itu dilakukan, maka berdosa". Husain bertanya lagi,"Bagaimana bila Aku menanyakan hal ini kepada  ulama lain dan jawaannya berbeda jawaban Anda, seperti ulama di Rushafah (Iraq)?". Dengan tegas Imam Ahmad menjawab: "Ya!"

Sama sekali Imam Ahmad tidak marah dan tidak melarang Husain untuk mengikuti fatwa ulama lain yang berbeda dengan fatwanya. Beliau tidak memaksa Husain mengikutinya dan tidak juga menyalahkan ulama lain yang berfatwa beda dengan beliau -rahimahullah rahmah wasi'ah-.

Kalau mujtahid sekelas Imam Ahmad saja tidak marah bahkan tidak memaksa orang mengikuti beliau dan tidak menghina yang berbeda dengan beliau. Lalu apa alasan kita, yang hanya seorang awam lagi Muqallid berani menghina orang yang berbeda dan memaksakan pendapat kepada yang lain?

Wallahu A'lam
 

Perbedaan Pandangan Ulama Tentang Hukum Mengucapkan "Selamat Natal"

Pertama yang perlu diketahui, bahwa mngucapkan "selamat Natal" itu berbeda dengan merayakan natal bersama itu sendiri. Kalau mengikuti ritual natal, artinya sama-sama mereyakan natal bersama orang-orang nasrani itu yang diharamkan secara multak. Tidak ada yang berkata boleh kecuali beberapa kelompok liberal di negeri ini.

Dan itu juga yang dikeluarkan fatwa haram oleh MUI, dalam fatwa tanggal 7 maret 1981 / 1 Jumadal-ula 1405 H. dan fatwa semacam ini bukan hanya milik MUI, tapi ulama sejagad pun mengharamkan yang namanya ikut natal bersama.

Karena mengikuti ritual agama lain itu berrarti mengakui kebenaran ritual tersebut, jelas ini tidak dibenarkan. Kecuali memang ada pandangan dari kelompok liberal yang membolehkan, mereka membolehkan ikut merayakan natal bersama.

"Selamat Natal"

Nah kemudian, terjadi perbedaan pendapat tentang mengucapkan "Selamat Natal". Dalam bahasa arab ucapan-ucapan semacam itu disebut dengan istilah Tahniah [تهنئة]. Agak sulit memang kita cari padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia tentang Tahniah. Yang ada dan masyhur ya dengan kalimat "Selamat" itu.

Padahal sama sekali kalimat tahniah itu bukan berarti memberikan doa selamat. Ini yang akhirnya membuat rancu. Karena kata selamat dalam kamus bahasa Indonesia, itu berarti sama dengan mendoakan keselamatan. Sedangkan Tahniah dalam bahasa arab bukan berarti doa, itu seperti sapaan biasa kepada seseorang sebagai bentuk sambutan baik.

Seperti "good Mornig" dalam bahasa ingris, tapi jadi "Selamat Pagi" dalam bahasa Indonesia. Padahal kalau diterjemahkan bukan menjadi "Selamat Pagi", akan tetapi maknanya Good=Bagus, dan Morning=Pagi, jadi= Pagi Bagus. Dan kalimat seperti ini tidak berarti doa, melaikan sapaan biasa yang dikenal dalam bahasa ingris sendiri dengan istilah Greeting, bukan Praying (Doa).  

Dalam bahasa Arab pun Tahniah banyak macamnya, kita kenal istilah "Shobahul-Khoir", yang kalau diterjemahkan secara harfiyah sama saja dengan istilah "Good Morning", yaitu pagi yang baik. Karena itu orang muslim boleh memberi sapaan "Shobahul-Khoir" kepada non-muslim, tapi tidak dengan salam "Assalamualaikum", karena itu adalah doa. Dan doa tidak bisa kita ucapakan kepada non-muslim. Walaupun nanti ada perdebatan lagi, bagaimana jika non-muslim itu yang lebih dulu mengucapkan salam "Assalamualaikum"? apakah harus dijawab atau tidak?, itu kita bahasa nanti. Kita selesaikan dulu masalah "Selamat Natal".

Ucapan = Merayakan?

Itu sekilas tentang ucapan selamat atau greeting tadi, initnya memang kalau mengikuti ritual natal dan ber-natal bersama sebagaimana yang diusung oleh kelompok liberal, jelas itu melanggar syariah. Tidak ada ulama yang berkata demikian. Akan tetapi jika itu hanya beripa ucapan, ulama masih memperdebatkan apakah boleh atau tidak. berikut beberapa fatwa ulama tentang Boleh atau Haramnya ucapan "Selamat Natal": 

1. Pendapat Haramnya Ucapan Selamat Natal Bagi Muslim

Haramnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal itu terutama dimotori oleh fatwa para ulama di Saudi Arabia, yaitu fatwa Al-'Allamah Syeikh Al-Utsaimin. Beliau dalam fatwanya menukil pendapat Imam Ibnul Qayyim

1. 1. Fatwa Syeikh Al-'Utsaimin

Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma' Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403), disebutkan bahwa:

Memberi selamat kepada merekahukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah.

Hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid'ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syari'atnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad SAW telah diutus dengannya untuk semua makhluk.

1. 2. Fatwa Ibnul Qayyim

Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata, "Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi'ar-syi'ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi'ar-syi'ar kekufuran yang mereka lakukan.

2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan

Selain pendapat yang tegas mengharamkan di atas, kita juga menemukan fatwa sebagian dari ulama yang cenderung tidak mengharamkan ucapan tahni'ah kepada umat nasrani.

Yang menarik, ternyata yang bersikap seperti ini bukan hanya dari kalangan liberalis atau sekuleris, melainkan dari tokoh sekaliber Dr. Yusuf Al-Qaradawi.

2. 1. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah saat perayaan agama lainnya.

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa': 86)

Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

2.2. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'

Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut.

Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

3.2 Dr. Ali Jumah (Mantan Mufti Dar-Ifta' Mesir)

Dalam video resmi Dar-Ifta' Mesir, beliau secara tegas bahwa mengucapkan Tahniah kepada Nasrani (Masihi) untuk hari raya mereka, termasuk natal yang mereka anggap itu wafatnya Isa 'Alaihisalam, itu dibolehkan.

Dalil yang digunakan oleh beliau mirip dengan apa yang disampaikan oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawi atau juga Sheikh Mustafz Al-Zarqa', dan juga spertinya Prof. DR Quraish Shibah dalam bukunya "Quraish Shihab Menjawab" itu juga mengikuti fatwanya DR. Ali Jumah dalam berargumen.

Untuk lebih detai mengenai fatwa DR. Ali Jumah, di sini:

4.2 Majelis Fatwa dan Riset Eropa

Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

3. Pendapat Pertengahan

Di luar dari perbedaan pendapat dari dua 'kubu' di atas, kita juga menemukan fatwa yang agak dipertengahan, tidak mengharamkan secara mutlak tapi juga tidak membolehkan secara mutlak juga. Sehingga yang dilakukan adalah memilah-milah antara ucapa yang benar-benar haram dan ucapan yang masih bisa ditolelir.

Salah satunya adalah fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said, beliau adalah profesor di bidang Ilmu Tafsir dan Ulumul-Quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

3.1. Tahni'ah yang halal adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

Contohnya ucapan, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda di hari ini." Beliau cenderung membolehkan ucapan seperti ini.

3.2. Tahni'ah yang haram adalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."

Beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

Kesimpulan:

Sebagai awam, ketika melihat para ulama berbeda pandangan, tentu kita harus arif dan bijaksana. Kita tetap wajib menghormati perbedaan pendapat itu, baik kepada pihak yang fatwanya sesuai dengan pendapat kita, atau pun kepada yang berbeda dengan selera kita.

Karena para ulama tidak berbeda pendapat kecuali karena memang tidak didapat dalil yang bersifat sharih dan qath'i. Seandainya ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menyebutkan: 'Alaikum bi tahni'atinnashara wal kuffar', tentu semua ulama akan sepakat.

Namun selama semua itu merupakan ijtihad dan penafsiran dari nash yang bersifat mujmal, maka seandainya benar ijtihad itu, mujtahidnya akan mendapat 2 pahala. Dan seandainya salah, maka hanya dapat 1 pahala.

Semoga kita tidak terjebak dengan suasana su'udzdzhan, semangat saling menyalahkan dengan sesama umat Islam dan membuat kemesraan yang sudah terbentuk menjadi sirna. Amin ya rabbal 'alamin

MUI

Kami di kantor rumah fiqih punya koleksi buku-buku fatwa dari ormas-ormas islam yang ada di Indonesia, termasuk buku himpunan fatwa MUI. Seperti yang dijelaskan diawal, bahwa MUI juga tidak secara tegas mengeluarkan fatwa haramnya mengucapkan selamat Natal.

Akan tetapi MUI mengeluarkan fatwa Haram ikut natal bersama dengan kaum nasrani, sebagaimana tercantum dalam fatwa tanggal 7 Maret 1981 / 1 Juamdal-Ula 1405 H. dan fatwa ini ketika dikeluarkan sangat membuat marah presiden Soeharto yang ketika itu sedang mengusung isu Natal bersama.

Kalau mengucapkannya ya itu tadi, ulama berbeda pendapat. Tapi kalau ikut merayakan Natal bersama, ini yang tidak diperkenankan karena selain ada unsur pembenaran ritual mereka, (kalaupun tidak berniat seperti itu) ada unsur tasyabbuh (menyerupai) orang-orang nasrani

Wallahu a'lam
 

Transfusi / Donor Darah, Boleh Ngga?

Ketika membahas hukum berdonor, ulama selalu mengaitkan pembahasannya dengan hukum berobat dengan darah orang lain yang ditransfusi itu. Jadi hukum mendonor itu sejatinya kembali kepada hukum berobat dengan darah yang ditransfusi itu sendiri.

Karena bagaimanapun, donor tidak akan dilakukan kecuali karena adanya permintaan, dan darah yang didonor itu pasti digunakan untuk mereka yang membutuhkan. Mereka yang membutuhkan donor darah itu pastilah karena sebab ganguan kesehatan, artinya mereka itu orang yang sakit. Jadi apakah boleh berobat dengan darah yang didonor atau hasil transfusi orang lain?

Kalau berobat dengan darah hasil transfusi orang lain itu haram, maka tidak ada alasan untuk menghalalkan donor darah. Akan tetapi sebaliknya, jika berobat dengan darah yang ditransfusi itu boleh, maka boleh pula hukumnya berdonor darah.

Berobat Dengan Tranfusi Darah Orang Lain

Kalau kita buka kitab-kitab fiqih klasik, kita tidak akan mendapati pembahasan transfusi darah ini, karena memang ini praktek yang tidak terjadi di zaman dahulu. Ini adalah praktek yang baru dikenal belakangan sekitar abad ke 19 Masehi seiring perkembangan teknologi kedokteran.

Sama seperti pendahulunya, ulama komtemporer yang membahas masalah ini juga berbeda pendapat satu sama lainnya sebagaimana yang sering terlihat pada ulama-ulama sebelumnya yang memang berselisih pandangan; ada 2 pandangan, [1] Yang melarang dan [2] yang membolehkan.

[1] Yang Mengharamkan

Ulama yang mnegharamkan berobat dengan transfusi darah berdalil dengan ayat yang memang secara tegas mengharamkan darah itu sendiri untuk dimanfaatkan, karena memang itu barang najis. Allah swt berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ.........
"Telah diharamkan bagi kalian bangkai, darah, dan daging babi,......" (Al-Maidah 3)

Ayat-ayat seperti ini yang mengisyaratkan haramnya bangkai, darah dan daging babi banyak ada di dalam Al-Quran. Ayatnya jelas mengharamkan apa yang disebut didalam. Karena diharamkan maka haram pula memanfaatkannya, termasuk untuk konsumsi atau berobat.

Kelompok ini juga berargumen dengan dalil bahwa syariat ini melarang seseorang berobat dengan sesuatu yang memang telah diharamkan oleh Allah swt. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud:

إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
"sesungguhnya Allah telah menurunkan ibat bagi selurut penyakit, maka janganlah berobat dengan yang haram"

Ini menunjukkan bahwa seorang muslim dilarang memanfaatkan sesuatu yang haram untuk berobat, termasuk sesuatu yang najis. Karena memang darah itu najis dan sesuatu yang najis itu adalah barang terlarang untuk dimanfaatkan.

[2] Yang Membolehkan

Kelompok yang membolehkan berobat dengan transfusi darah orang lain juga sama berdalil dengan ayat yang sama yang dipakai sebagai argument bagi kelompok yang melarang. Yaitu ayat 3 surat Al-Maidah:

فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Awalnya yang disebutkan di awal ayat itu memang terlarang, tapi dalam kondisi yang memang terpaksa, apa yang diharamkan itu menjadi boleh. Tak terkecuali darah yang memang awalnya haram karena itu najis. Ia menjadi halal untuk dimanfaatkan karena memang orang sakit membutuhkan itu.

Dan kebutuhan darah bagi orang yang menderita penyakit tertentu bukanlah sesuatu yang diada-adakan, akan tetapi memang itu atas rekomendasi dokter ahli yang bukan sembarang.

Dan ayat semacam ini banyak sekali ada di dalam Al-Quran. Karena ayat ini pula muncul kemudian kaidah Fiqih yang telah disepakati oleh para ahli fiqih sejagad raya, yaitu:

الضرورة تبيح المحظورات
"Sesuatu yang darurat (urgent) membuat yang haram menjadi boleh".

Artinya orang yang membutuhkan darah untuk kesehatan, bahkan ada yang membutuhkannya untuk menyambung hidup, itu sudah pasti dalam keadaan darurat yang sangat membutuhkan, yang kalau dibiarkan akan menyebabkan kematian.

Kemudian ulama yang membolehkan berobat dengan darah yang ditransfusi orang lai juga berargumen dengan hadits yang diriwayat oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka, bahwa Nabi saw berobat dengan Hijamah (bekam).

Mereka mengambil kesimpulan (Wajh Istidlal) dengan dalil ini, kalau saja Nabi saw membolehkan berobat dengan bekam yang mana itu mengeluarkan darah dari tubuh, maka ini sama kebolehannya berobat dengan memasukkan darah ke tubuh, karena sama-sama praktek berobat.

Dan bukan suatu yang diragukan lagi bahwa memasukkan darah ke dalam tubuh seorang yang sedang menderita atau sakit itu jauh lebih manfaat dan lebih bisa mneyelamatkan hidup serta kesehatannya, dan tentu lebih selamat dibanding mudharat atau sakit yang akan dirasa oleh pendonor yang mengeluarkan darahnya.

Dan untuk menguatkan pendapatnya, ulama dalam kelompok ini juga mengambil makna dari perkataan Imam Al-Qurthubi:

من اضطر إلى أكل الميتة والدم ولحم الخنزير فلم يأكل حتى مات دخل النار، إلا أن يعفو اللّه عنه
"siapa yang dalam keadaan terdesak dan terpaksa untuk memakan bangkai, darah atau juga daging babi, akan tetapi ia tidak memakannya sehingga meninggal, orang yang demikian itu masuk neraka, kecuali Allah mengampuninya" (Tafsir Al-Qurthubi 2/232)

Jadi, Ikut Yang Mana?

Setelah memaparkan argument masing-masing kelompok, penulis lebih condong dengan pendapat ulama yang membolehkan. Selain karena dalil-dalil yang digunakan, pendapat ini juga sesuai dengan maqashid syariah, yaitu salah satunya ialah Hifdzu Al-Nafsi (menjaga jiwa).

Dalam hal menjaga keselamatan jiwa, syariah ini membolehkan seorang muslim untuk memanfaatkan sesuatu walaupun itu haram, tentu dengan syarat bahwa tidak ada lagi media yang halal yang bisa menggantikannya.

Ini juga diperkuat dengan penelitian para ahli medis bahwa sampai sekarang tidak ada yang bisa menggantikan posisi darah sebagai obat yang bisa menyelamatkan bagi mereka yang membutuhkan. Justru akan jadi sangat mengkhawatirkan jika tidak dibantu dengan sumbangan darah.

Selain itu juga, bahwa para ahli fiqih sepakat dengan kebolehan memanfaatkan barang najis atau yang haram untuk kepentingan medis/berobat ketika memang tidak ada sesuatu yang halal yang bisa menggantikannya.

Karena memang ini pekerjaan yang menyelematkan jiwa, dan ini mulia, maka praktek donor darah juga menjadi praktek yang mulia, dan tentu terpuji. Sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama dalam fatwa-fatwa mereka tentang mulianya prkatek donor darah ini.

Praktek ini juga sebagai implementasi atas perintah Allah swt untuk mnejaga jiwa, serta melarang setiap perbuatan yang membahayakan jiwa manusia. Karena membiarkan orang yang butuh akan darah dengan tidak mendonorkan darah kepadanya ialah salah satu perbuatan yang dilarang.  Allah swt berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"dan janganlah kalian membunuh jiwa-jiwa kalian, sesungguhnya Allah maha penyanyang kepada kalian" (Al-Nisa29)

Selain itu Allah swt juga memuji mereka yang mau berbuat sesuatu demi kebaikan dan keselamatan orang lain, apalagi jika itu terkait dengan nyawa seseorang. Dan hal yang semacam ini bukan sesuatu yang tabu lagi, bahwa tidak ada agama di bumi ini yang tidak menganjurkan umatnya untuk menolong sesama manusia.

Tidak Membahayakan si Pendonor

Dari penjelasan di atas tadi, bisa diambil kesimpulan bahwa memang tidak ada larangan untuk melakukan donor darah, terlebih lagi bahwa memang permintaan darah di rumah sakit sekarang ini meningkat, karena memang banyaknya yang membtuhkan.

Namun satu yang harus diperhatikan bahwa seorang muslim memang dianjurkan menolong sesame manusia, tapi tidak  jika itu malah membahayakan dirinya sendiri.

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
"dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke kerusakan"

Karena itu, ulama mensyaratkan kebolehan berdonor itu selama tidak membahayakan jiwa si pendonor itu sendiri. Karena bagaimanapun Islam tidak hanya memperhatikan satu sisi. Kesembuhan si orang sakit memang yang menjadi tujuan, tapi bukan malah membuat penyakit baru. Jadi menyelesaikan masalah dengan tidak melhirkan masalah.

Karena itu donor terlarang bagi mereka yang memang tidak dalam kondisi layak untuk mendonorkan darahnya.

Donor Menghramkan Nasab atau Tidak?

Pertanyaan yang timbul kemudian ialah apakah jika seorang mendonorkan darahnya itu menjadikan ia dan yang menerima donor itu sebagai mahramnya? Sebagaiman orang yang menyusui?

Jawabannya tidak! karena darah bukanlah susu. Walaupun dikatakan bahwa susu itu juga berasal dari darah, akan tetapi di sini telah terjadi proses Istihalah (perubahan wujud) yang merubah wujud serta zat darah itu sendiri. Karena wujud dan zatnya berubah, bahkan namanya pun berubah, maka hukumnya pun berbeda. Hukum susu bukanlah hukum darah.  

Kemudian yang mengutakn lagi bahwa darah tidak mengharamkan nasab seperti susu ialah bahwa: [1] Darah itu najis, dan susu itu barang suci, [2] Darah bukan barang konsumsi, tapi susu dikonsumsi.

Lagi, pengharaman nasab itu adalah perkara syar'i, dan perkara syar'i ini tidak bisa berdiri kecuali dengan dasar dalil syariah. Susu punya dsar itu sedangkan darah tidak. kalau darah dianalogikan dengan susu pun itu tidak bisa, karena keduanya berbeda sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Dan Majma' Al-Fiqh Al-Islami (Komite Fiqih Islam) telah mengeluarkan keputusan (Qarar) pada muktamar ke 11 yang diselenggarakan pada bulan rajab tahun 1409 H / Februari 1989, yang menyatakan bahwa darah itu tidak mengharamkan nasab sebagaimana susu.

Wallahu a'lam  

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger