Satu Nyawa Terselamatkan Karena Layangan

Senin, 25/06 2012
Sekitar pukul 16.20 WIB

Sehari setelah penggusuran, kampung "Vietnam" yang letaknya
berdampingan dengan tanah TPU (Tempat Pemakaman Umum) Tegal Alur
Jakarta Barat, masih menyisakan kayu, kayu sisa rumah serta
batang-batang pohon bekas penanggah dinding rumah-rumah kayu warga
"Vietnam". Serta sedikit kepulan asap sisa "tabunan" sampah yang
dinyalakan oleh pihak Pemda yang mengelola penggusuran tersebut.

Sudah hampir lebih dari 13 tahun sejak tahun 99-an, rumah-rumah kayu
serta gubuk-gubuk kardus itu mendiami tanah milik Pemda ini sebelum
akhirnya sang empunya otoritas datang dengan kendaraan alat berat guna
mennggulung perumahan non-permanent mereka. Berkali-kali digusur, tapi
warga tak ber-KTP yang kebanyakan berprofesi sebagai pemulung
(pemungut sampah) ini datng lagi datang lagi.

Orang-orang sekitar menyebutnya "kampong Vietnam". Karena memang
gambaran yang ada disitu mirip dengan Vietnam zaman dulu yang terkenal
kotor (entah mereka tahu darimana kalau Vietnam tempo dulu itu kotor).
Kumuh, kotor, semua rumah terbuat dari bilik bamboo dan kardus, taka
da yang permanen dari tembok, lokasinya berdekatan dengan pemakaman.

Anak-anak ingusan yang masih bau kencur asyik berkeliaran di luasnya
padang rumput dkat pemakaman. Tanpa alas kaki, mereka terus saja
mengadahkan kepala mereka ke langit memperhatikan layangang yang
sedang bertanding. Pemukiman yang baru saja digusur semakin memperluas
gerak-gerik mereka berjelajah ria.

Berkali-kali juga rombongan kambing beserta induknya yang ditemani san
pengambala mondar-mandir diarea Vietnam ini setelah mancari makan
rumput dipamakaman. Kadang beberapa rombongan ada juga yang
berseliweran tanpa si empunya.

Tiba-tiba, "brushshsh!" anak kambing kecil yang belum genap berumur 6
bulan terjebak masuk dalam lubang yang siatasnya masih banyak kayu dan
dedaunan seakan mengelabui. Sang indukpun kagut dan terus "mengaung"
(embe-embe) tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Oh ternyata lubang
itu sumur, sumur kecil berdiameter kurang dari 1 meter bekas pemukiman
Vietnam yang masih belum ditimbun.

Si induk makin keras "ngaungan"-nya. Si anak yang tercebur berusaha
naik, tapi kaki kecilnya tidak kuat menahan tubuhnya yang terus
terperosot kedalam sumur. Melihat ada yang aneh, para "komplotan"
cilik "layangers" mendekati lalu mendapati si anak kambing tinggal
kepala saja yang terlihat di dasar sumur yang berjarak lebih dari 1
meter dari tanah.

Tanpa ambil banyak pikiran, para komplotan itu memasukan batang-batang
pohon disekitar sumur guna bisa menjadi pijakan si anak kambing bisa
naik keatas tanah. Tapi beberapa batang pohon yang juga kecil itu
tidak membantu. Si ang anak kambing terus saja "meraung" lemah meminta
pertolongan. Sang induk hanya terdiam disampig sumur mempersilahkan
siapa saja yang datang membantu.

"Ada apaan, Tong!?" dari kejauhan, seorang laki tua (45th) pekerja
bangunan berdiri diatas bangunannya yang sedang digarap. Ia keheranan
dengan apa yang sedang dikerumini oleh para komplotan cilik.

"Anak kambing kecebur, Bang!" teriak salah satu anggota komplotan cilik.

"tolongin, tolongin, kasian tuh!" balas si tukang.

"kecebur sumur bang, dalem…!" jawab sang ketua komplotan.

Si tukang melihat kebawah bangunan, mancari posisi kenek-nya (asisten
kerja) yang juga adalah anak kandungnya (23th).

"tong, samperin tuh anak kambing! Kasian. Tuh bawa gala (bamboo) ama
talinya sekalian!" kata si tukang kepada anaknya dengan serius sambil
memberi instruksi.

Langsung saja si asisten tukang itu bergegas dan berlari ke TKP.
Ternyata ia mendapati si anak kambing tinggal kepala saja yang
terlihat. Kemudian ia buat iakatan simpul menyerupai lingkaran dan
dieratkan di ujung gala bamboo yang ia bawa dari proyek bangunannya
sesuai instruksi sang ayah.

Ia berusaha memasukan kepala si anak kambing itu kedalam simpul
diujung bambunya. Tanpa kesulitan akhirnya dapat juga kepala kambing,
langsung diangkatnya anak kambing mungil itu ke daratan. Huh usaha
penyelamatan nyawa yang mengesankan. Hehe

Si anak yang terselamatkan langsung mendekati induknya yang sedari
tadi sepertinya pasrah dengan keadaan. Siinduk kemudian "mengaung"
kearah sang asisten tukang seakan memberi isyarat untuk
berterimakasih.

Tak ingin ada korban kedua dan ketiga baik dari manusi dan hewan yang
masuk kedalam sumur, sang penyelamat beserta komplotan cilik
"layangers" mengubur dan menimbun sumur kecil tak terpakai itu dengan
dedaunan dan batang-batang pohon yang ada disekitar.

"kalo ngga ada yang maen layangan, ngga ada yang tau kalo tu kambing
kecebur, bisa mati tragis!" kata si asisten tukang dalam hati.

Hmm… layangan.. ternyata bisa menyelamatkan nyawa. Tentu dengan izin Allah SWT.
 

Di Aceh, Pertandingan Liga Indonesia Dihentikan Karena Azan


Kemarin sore (22/06), baru nyampe rumah langsung duduk depan tivi. Utak Atik tombol remote control, Tanpa sengaja saya mendapati pertandingan Liga Indonesia (entah IPL atau ISL) antara PSAP Sigli Aceh melawan Persib Bandung. Menit ke-5 Skor sudah 1-0 ketika itu untuk kemenangan PSAP Sigli. 

Tapi pertandingan menjadi agak tidak wajar. Baru berjalan kira-kita 15 menit, tak ada Hujan, tak ada badai, tak ada pula lemparan bom petasan, tiba-tiba wasit memberhentikan permainan dan memberika isyarat kepada seluruh pemain untuk meninggalkan lapangan.

Dan yang bikin saya lebih heran lagi, para pemain itu nurut dan pergi mengosongkan lapangan tanpa ada pertanyaan apapun, atau protes. Ada apa ini?

Tiba-tiba terdengar suara azan dari tivi. Oh akhirnya saya tahu, para pemain memberhentikan permainan karena mngehormati azan yang sedang berkumandang. Waw! Dahsyat! Salut buat Aceh. Entah itu aturan Pemda atau memang itu budaya yang tak tertulis bagi para penduduk kota Serambi Mekkah tersebut, dimana semua kegiatan diberhentikan ketika azan sedang berkumandang. Pemandangan yang hampir tidak pernah saya lihat se-umur hidup saya.

Ditengah majunya era globalisasi dan hujaman keras budaya asing yang ingin merenggut nyawa budaya local Indonesia dari para pemudanya, Aceh tetap berdiri sebagai kota yang benar-benar menjungjung tinggi nilai spiritual dan Riligi. Dengan kerendahan dan kearifan local, penduduk dan Aceh berhasil menjaga nilai luhur kota yang disebut sebagai Serambinya Kota suci Mekkah.

Pantas beberapa waktu yang lalu, ramai berita tentang salah satu Putri Indonesia dari NAD Aceh, Qori Sandioriva yang ditentang oleh warga Aceh termasuk para petinggi kota tersebut karena ia harus melepas Jilbabnya untuk mengikuti kontes kecantikan tersebut. Apalagi ketika ia diketahui ingin terus melaju ke kontes Internasional.

Ya wajar saja warga Aceh kurang setuju, toh Qori telah mendobrak kebiasaan perempuan Aceh yang terkenal tertutup rapih dengan balutan JIlbab di kepala. Tapi apapun itu, entah siapa yang benar dan siapa yang salah, Aceh tetap jadi Kota yang tidak salah diberi sebutan Serambi Mekkah.

Seandainya semua kota di Indonesia Seperti Aceh.
 

Berdzikir Ketika Imam Sedang Khutbah Jumat



ketika khutbah Jum’at sedang berlangsung, ada beberapa orang dari Jemaah yang hadir itu kedapatan sedang asyik dengan dzikirnya sendiri. Saking asyiknya hinggga ia menutup mata dan sedikit menggelengkan kepala. Pemandangan yang menurut saya kurang baik, dan tidak semsetinya terjadi ketika khutbah sedang berlangsung.

Kita berpikir sejenak tentang hal ini. Sesuatu itu akan disebut baik dan bernilai baik pula apabila dikerjakan pada waktu dan tempat yang tepat. Sesuatu yang pada dasarnya baik akan menjadi tidak baik jika dilaksanakan pada waktu dan tempat yang salah. Dan hal semacam ini banyak terjadi dalam perkara-perkara syariah.

Contohnya:
Sholat dengan bacaan yang fasih dan dengan surat yang panjang itu baik, bahkan sangat beaik sekali. Selain akan menambah kekhusuyu’an bagi pelaku sholatnya, itu juga akan menambah pahala yang banyak. Karena banyak ayat yang dibaca, tentu banyak pahala yang diperoleh.

Tetapi membaca surat Al’Qur’an yang panjang dalam sholat itu bisa menjadi tidak baik, bahkan sangat tidak baik sekali ketika dilaksanakan dalam sholat berjamaah. Menjadi baik jika itu dilaksanakan sendiri, tapi menjadi tidak baik jika dilaksanakan dalam sholat berjamaah.

Karena didalam Jemaah mungkin ada orang tua lanjut usia, ada orang sakit, ada orang yang mempunyai hajat. Membaca surat panjang dalam sholat Jemaah itu menjadi beban untuk mereka yang akhirnya membuat mereka enggan untuk sholat berjamaah. Dan ini membuat si Imam menjadikan dirinya sendiri fitnah bagi para Jemaah yang lain. Dan Rasul telah menjelaskan ini.

“Barang siapa yang menjadi Imam sholat, maka hendaklah ia meringankan sholatnya. Karena dibelakangnya ada orang yang sakit (lemah), orang tua, dan orang mempunyai hajat” (HR Bukhori dan Muslim)

Contoh lainnya ialah puasa. Puasa adalah ibadah yang baik dan mempunyai banyak faedah bagi sipelakunya. Sangat baik nilainya, tapi puasa menjadi tidak baik jika dikerjakan dalam Safar (Perjalanan) yang akan membuatnya lemah, bahkan menggangu kesehatannya menjadi lebih fatal. Karena itu orang yang sedang dalam perjalanan diberikan keringanan untuk tidak berpuasa.

“Bukanlah suatu kebaikan untuk melaksanakan puasa dalam perjalanan (safar)” (HR Bukhori)

Contoh lainnya ialah; memberika ceramah/pengajaran agama. Memberikan ceramah agama adalah termasuk dalam jajaran ibadah-ibadah yang tinggi dan besar pahalanya. Namun ini menjadi tidak baik, dan bahkan tidak memberika maslahat jika disampaikan didepan orang yang miskin lagi lapar.

Karena orang yang miskin lagi lapar itu tidak membutuhkan ceramah. Yang mereka butuhkan ialah makan. Seandainya sang penceramah itu memberikan makan terlebih dahulu sebelum memberikan ceramah, niscaya orang yang lapar tadi menjadi penyimak yang baik baik penceramah. Dan ceramahnya menjadi baik serta bernilai.

Begitu juga berdzikir ketika khutbah Jumat berlangsung. Dzikir pada dasarnya ialah ibadah yang sangat agung, dan mempunyai nilai tinggi disisi Allah yang menjadikan pelakunya dicintai sang Kholik. Namun berdzikr itu menjadi tidak baik dan hilang nilainya ketika dikerjakan ditempat dan waktu yang tidak tepat. Ketika khutbah Jumah salah satunya.


Justru dengan ia terus berdzikir ketika Imam sedang berkhutbah diatas mimbar, ini mencenderai kedua ibadah agung tersebut. Ia telah mencederai sakralnya suatu Dzikir, dan ia juga telah melukai nilai ibadah mendengarkan khutbah Jumat. Karena salah satu disyariatkannya khutbah Jumat itu untuk memberika wejangan dan tausyiah bagi para kaum muslimin.

Lalu apa gunanya khutbah jumat jika sang makmum sibuk sendiri dengan ritual-ritual pribadi mereka? Mungkin ada yang mengatakan: “berdzikir lebih baik dari pada tidur”. Menurut saya ini argument yang keliru, karena ia berargumen dengan perbuatan yang salah untuk perbuatan yang salah juga. Dan ini tidak bisa diterima.

“Lebih baik tidak kedua-duanya”. Sama-sama tidak baik dua-duanya, Tidur ketika khutbah tidak baik, dan sibuk dzikir ketika khutbah jumat pun tidak baik. Sama seperti orang yang menghalalkan “minta-minta” yang pada dasarnya ialah haram dengan alasan “minta-minta lebih baik daripada mencuri”. Kedua-keduanya tidak baik. Dan tidak bisa dijadikan pembela untuk satu sama lainnya.

Yang baik dan benar bagi makmum ketika khutbah sedang berlangsung ialah hanya “DIAM dan MENDENGARKAN”.    

Hadits Nabi SAW:
“tidaklah seorang Muslim itu mandi di hari jumat kemudia ia bersuci…… kemudian ia mendengarkan dan memperhatikan Imam berbicara (berkhutbah), kecuali Allah mengampuni dosanya antara jumat ini dan Jumat yang akan datang” (HR Bukhori dan Abu Daud)

“jika kau BERKATA kepada saudara: ‘Perhatikanlah!’ ketika Imam sedang berkhutbah, itu berarti kau telah lalai” (HR Bukhori dan Muslim)

Artinya walaupun ia berbicara untuk menegur saudaranya, itu termasuk bicara yang mengurangi nilai ibadah kita ketika mendengarkan Imam Khutbah, apalagi berbicara yang senda gurau!.
Lalai berarti “Tidak mendapat pahala Jumat secara sempurna”   

Wallahu A’lam   
 

Masih Bangga-Kan Kita Ber-Agama?



Sayyidina Umar bin Khotthob radiyallhu 'anhu dalam suatu riwayat pernah mengatakan bahwa "seorang mu'min ialah dia yang senang dengan kebaikannya (ibadah) dan gelisah dengan keburukannya (dosa)"

Definisi yang singkat namun mempunyai arti yang sangat dalam dan sangat luas. Seperti menyindir, walau ini dikatakan jauh sebelum ratusan tahun lalu tapi sepertinya cocok untuk kaum muslim zaman sekarang ini. Bagaimana tidak? Kata-kata Amirul-mu'minin itu benar-benar kata yang pas untuk menyentil realita gaya hidup muslim jaman sekarang Yang sudah jauh diluar batas-batas norma syariah.

Dizaman yang serba mudah ini, tentu membuat orang semakin gampang untuk melakukan apa saja. Dengan kemajuan media, semua bisa tercapai dengan sangat mudah dan dengan waktu yang secepat mungkin. Lihat bagaimana mudahnya, hanya dengan sekali klik saja kita sudah bisa menyebarkan informasi ke seluruh belahan dunia manapun.

Lalu apa kaitannya dengan definisi muslim yang dijelaskan oleh sayyidina Umar ra?

Ya. lihat bagaimana sebagian muslim menggunakan segala kemudahan ini? Facebook dan twitter misalnya. 2 media sosial yang paling digandrungi anak muda ini berhasil membuat 'aib menjadi santapan publik. Banyak dari para pemuda muslim yang justru malah 'doyan' mengumbar 'aib dirinya bahkan keluarganya. Dan anehnya ia senang dengan itu semua. Bukankah mengumbar 'aib suatu keburukan?. 

2 media yang seharusnya bisa menjadi jembatan menggapai pahala dengan saling bersilaturahmi dan saling mengingatkan, tapi hany digunakan untuk hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat dan cenderung kepada suatu kemungkaran.

Bangga mempublikasi photo-photo mereka, yang perempuan mengumbar auratnya, dan kaum laki dengan bangga mengupload photo atau videonya yang sedang bergumul dengan kemaksiatan. Dan mereka bangga dan senang dengan itu semua, aneh bukan?!

Sebaliknya mereka malah malu jika harus menuliskan sebuah ayat atau hadits atau nasihat ulama di dinding-dinding mereka, padahal itu suatu kebaikan dan tentu berpahala. Tetapi mereka lebih senang kalau dinding mereka berisi dengan kata-kata galau keluhan, dan sebagainya. Atau dengan kata-kata seorang yang mereka sebut dengan ilmuan dan intelek walaupun kata-kata itu menyalahi syariah.

Kenapa harus malu dan harus takut mengisi dinding dengan nasihat ukhuwah yang agamis. Bukankah itu sebaik-baik perkataan? Yaitu perkataan yang mengajak kepada ALLAH. Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 33 surat Fushilat.

Itu yang didunia maya, di dunia nyata tidak jauh berbeda. Kebanyakan dari kita lebih suka dengan mereka yang "bad boy", atau seorang yang breaking rule, bahkan rule agama. Sudah tidak perduli lagi mana halal dan mana haram, malah mengagpnggapnya bak pahlawan yang dinanti-nanti, memujanya setinggi langit. Tapi dengan para asatidz kampung yang dengan gigih menyuburkan syariah dan menanam serta menyirami ajaran agama didaerah malah tidak dilirik. Dan bahkan dicurigai sebagai orang radikal. MasyaAllah.

Dalam hal pemikiran, Banyak (sedikit InsyaAllah) pemuda muslim yang mengatakan dirinya intelek dan berpendidikan justru lebih senang dengan pemikiran-pemikiran liberal bebas padahal jauh keluar dari norma agama. Dan sebaliknya, mengatakan kepada yang manut dan straight dalam syariah dengan sebutan kaku atau bahkan judul tidak asik. Apakah mereka telah mengangggap bahwa syariah Islam tidak sempurna sehingga harus melakukan pembaharuan-pembaharuan yang justru menjerumuskan kesesatan?

Poligami mereka caci maki tapi perzinahan malah mereka legalkan. Membaca koran menjadi kewajiban, tapi Qur'an ditinggalkan. Lantunan musik pengumbar syahwat mereka dengarkan, lantunan ayat suci mereka abaikan. Liberalis mereka sukai, para asatidz mereka curigai. Bahasa Inggris mereka dambakan, bahasa Arab katanya kampungan. Ilmu dunia diminati, tapi ilmu agama alergi. Bahkan ketika ada ceramah agamapun tutup telinga.

Begitukah seorang muslim?

Antipati pada hal agama dan lebih senang kepada hal-hal diluar agama adalah indikasi bahwa iman yang belum sempurna dan butuh dicharge kembali. Dalam hadits Nabi SAW menjelaskan bahwa Iman itu mempunyai cabang yang jumlahnya antara 73-79 cabang. Yang paling rendah ialah menghilangkan duri dari jalan dan malu itu salah satu cabang iman.

Dalam kitabnya Al-futuhat Al-Madaniyah, Imam Nawawi Banten menjelaskan hadits tersebut bahwa jika salah satu cabang Iman itu tidak ada dalam diri seorang muslim maka tidak sempurnalah Imannya. Dan jika ada, maka bertambah Imannya. Dan dari salah satu cabang Iman itu ialah "Al-Mubahaah Fil-Umur Al-Diniyah" yaitu "Bangga dengan Perkara-perkara Agama". Dan ini yang menjadi masalah bagi kaum Muslim belakangan ini. Sudah tidak adanya kebanggaan dalam beragama.

Dulu, perempuan dewasa malu kalau keluar rumah tanpa memakai jilbab. Tapi zaman sekarang justru malu kalau keluar rumah berjilbab. Dulu, para lelaki dewasa malu kalau sudah dengar azan, tapi masih nongkrong di jalanan. Lah zaman sekang justru jalanan itu ramai sekali jadi tempat tongkrongan ketika azan berkumandang. Hilang sudah kebanggaan. Na’udzu Billah..

Kalau sudah tidak ada lagi kebanggaan, muslim Indonesia akan semakin menjadi seperti "ayam mati di lumbung padi". Ini kan mengherankan ayam yang sumber utama makanannya itu gabah tapi malah justru mati dikubangan gabah itu sendiri. Muslim yang dengan sedemikian indahnya ajaran Islam itu sendiri, tapi malah antipati dan 'ogah' dengan syariah padahal justru dengan tegaknya syariat itu sendiri disitulah adanya kebangkitan dan kejayaan.

Dengan ini, mari kita kembali banggakan agama kita dengan terus menguatkan tekad untuk taat menjalankan syariat agama yang mulia ini. Sudah tidak ada keraguan lagi bahwa kejayaan akan tercapai jika syariat ini ditegakkan.

Wallahu A'lam.
 

Mazhab Fiqih Bukan Cuma Empat!


Sejarah telah mencatat bahwa Mazhab fiqih dalam Islam bukan hanya 4 mazhab yang banyak diketahui oleh orang-orang kebanyakan; yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. 

Lebih dari itu banyak sekali Imam Mujtahid Mutlak yang sederajat dengan para Imam 4 tersebut bahkan lebih pintar dan cerdas.

Hanya saja memang banyak beberapa mazhab tersebut sudah tidak diikuti, atau fatwa-fatwa mereka sudah tidak lagi sesuai dengan zaman. Dan yang masyhur sampai hari ini dan masih banyak diikuti oleh mayoritas Muslim di jagad raya ini ya 4 mazhab popular tersebut.

Walaupun ada juga yang sampai sekarang masih mengikuti pendapat selain Imam yang 4 itu dengan jumlah pengikut yang tidak banyak memang, seperti Imam Ibnu Hazm atau juga Imam Abu Ja’far yang dikenal dengan Ja’fariyyah.

Masa 4 Imam Madzhab
 
Kalau kita buka kitab sejarah kita akan menemukan beberapa nama besar dalam jajaran Mujtahid Mutlak bidang Fiqih tentunya. Diantaranya Imam Al-Laits bin sa’ad (W 175 H) yang hidup sezaman dengan Imam Malik dan disebut sebagai Imamnya negeri Mesir. 

Dan beliau jugalah Imam yang sangat dikagumi oleh Imam sayfi’i. Bahkan beliau (Imam Syafi'i) mengatakan: “Imam Al-laits lebih cerdas dari Imam Malik”. (Al-A’lam Lil-Zarkali 5/248)

Di Irak semasa dengan Imam Abu HAnifah, ada juga Imam yang masyhur dengan sebutan Amirul-Mukminin Fil-Hadits (Imam Kaum Muslimin dalam Ilmu Hadits), yaitu Imam Sufyan Ats-tsauri (W 161H). 

Dan ternyata beliau bukan saja Imam dalam hadits, tetapi ijtihad-ijtihad beliau dalam bidang Ilmu Fiqih juga sangat dijadikan pegangan oleh kebanyakan Ulama sampai hari ini. Bahkan ketaqwaannya sebagai seorang yang Alim menjadi teladan bagi juniornya. 

Sempat ditawari memegang kendali politk Kuffah oleh Al-Mansour Al-Abbasi, namun ia menolah dan pada tahun 144 H beliau keluar dari Kuffah untuk menetap di mekkah.

Ada juga nama besar seperti Imam Al-Auza’i (W 157H), sang imam negeri Syam. Fatwa dan ijtihadnya diamalkan hingga ratusan tahun. Bahkan sampai hari ini, pendapat-pendapat beliau selalu menjadi perhatian bagi para ulama. 

Dalam kitab “Tarikh Beirut” (sejarah Beirut), sheikh Sholeh bin Yahya mengatakan: “Imam Auza’i adalah orang dengan pangkat tinggi di negeri Syam, bahkan perintah beliau lebih dihormati oleh penduduk Syam dibanding perintah Sultan Syam sendiri”.

Di Kalangan pengikut Imam Abu Hanifah ada nama besar, Imam Abu Yusuf (W 182H), sahabat sekaligus murid Imam Abu hAnifah sendiri. Pedapat dan ijtihadnya banyak dijadikan rujukan bagi para pengikut mazhab hanafiyah sampai hari ini. Walaupun ia tergolong sebagai Imam yang bermazhab Hanafi, tetapi tidak sedikit fatwa beliau yang justru berbeda dengan Imam Abu Hanifah sendiri. dan beliaulah orang pertama yang menyebarkan mazhab Hanafi, juga beliau lah orang pertama yang menulis Kitab Ushul Fiqih Mazhab Imam Abu Hanifah.

Juga ada nama masyhur dengan sebutan Ahli tafsir karena kitab tafsirnya yang fenomenal “Jami’ul-Bayan fi Ta’wilil-Qur’an”, yaitu Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari (W 310H). Walaupun sebagai Mufassir, beliau juga dikenal sebagai Mujtahid Mutlak ilmu Fiqih, akan tetapi mazhabnya sudah amat sangat jarang sekali kita temui di zaman sekarang.

SEBELUM MAZHAB 4

Sebelum mazhab 4 yang masyhur itu muncul, ada juga mazhab-mazhab fiqih yang berkembang dari para mujtahid-mujtahid Mutlak zaman tabi’in yang merupakan guru dan sheikh-nya para Imam Mazhab 4 itu tadi. Dan beliau-beliau inilah para alumni yang menyelesaikan pembelajarannya ditangan para Sahabat Nabi Ridhwanullahi ‘Alayhim.

Ada Sa’id bin Al-musayyab (W 94H) dan Salim bin Abdullan bin Umar (W 106H) di madinah yang banyak mengikuti pendapat kakelnya sayyidina Umar bin Khoththob. Kemudian disusul oleh Al-Zuhri (W 124H) di kota yang sama.

Di Mekkah, ada Atho’ bin Abi Robbah. Ibrahim An-Nakho’i dan Asy-Sya’bi di Kuffah. Thawus bin Kaisan dan juga Makhul dari negeri Syam. Dan masih banyak lagi semisal Ibnu Sirin, Al-aswad, Masruq, dan juga Al-Hasan di negeri Bashrah.

Dan ada Ibul-Hurmuz yang merupakan guru dari Imam Malik, Founder Mazhab Maliki. Ada cerita menarik antara Imam Malik dan Ibnul-Hurmuz sebagaimana diebutkan dalam kitab “Jami’ Bayan AL-‘Ilm Wa Fadhlih” tentang bagaimana ketaqwaan beliau dalam mengajar murid-muridnya termasuk Imam Malik. InsyaAllah kita akan bahas kemudian di forum yang sama.


Kemudian yang banyak dikenal oleh golongan Ahlul-Bait yang hidup jauh sebelum para Imam Mazhab 4, yaitu Imam Zaid bin Ali (W 122H) yang mazhabnya disebut dengan Zaidiyah. Dan Zaidiyah-lah mazhab fiqih yang menjadi mazhabnya Imam As-Shon’ani, pengarang Kitan Subulus-Salam

Saking cerdasnya, Imam Abu Hanifah memuji cucu dari sayyidina Ali bin Abi Tholib ini dengan mengatakan bahwa “tiada orang yang lebih pintar dari Zaid dizamannya.

SEBELUM MASA TABI’IN

Senelum para fuqoha’ dan mujtahid-mujtahid dari jajaran Tabi’in muncul terlebih dahulu guru-guru dan sheikh-sheik mereka yang adalah para Sahabat Ridhwanullah ‘Alayhim. Beliau-belau para Sahabat Nabi-lah yang telah menamatkan masa belajarnya langsung dari tangan dan mulut Nabi Muhammad SAW.

Merekalah yang menyaksikan turunnya Al-qur’an, paling tahu tentang Asbab-Nuzul. Meeka yang paling mengerti dengan Makna dan tujuan hadits yang keluar dari perkataan dan perbuatan Nabi SAW. Paling memahami makna da nisi Al-qur’an, serta paling mengerti tentang Dilalah (petunjuk) lafadz syariah.

Siapa yang tidak tahu Kafaqihan Abu Bakr ra, orang pertama yang menggantikan Nabi menjadi Imam sholat ketika Nabi sakit. Kecerdasan Umar bin Khoththob. Kebijakansanaan Ustman bin ‘Affan. Kepintaran Ali bin Abi Tholib. Dan juga Ummul-Mukminin sayyidatuna ‘Aisyah ra.

Ada juga Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas yang terkenal Luwes dalam fatwanya, Ibnu Umar yang terjenal keras dan tegas dalam berfatwa. Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Imam-Imam Sahabat lainnya yang memang patut menjadi panutan dan teladan.

Akankah seorang muslim tersesat jika berpegang kepada ijtihad-ijtihad beliau semua?

Saya mengajak bagi para pembaca sekalian, terlebih jika kita seorang pengajar, penggiat dakwah dan fiqih, banyak dijadikan penutan dan banyak dijadikan tempat bertanya, penting bagi kita untuk mengetahui pendapat para Imam-Imam besar tersebut. Tidak terbatas hanya pada 4 Imam masyhur.

Fiqih adalah sesuatu yang sangat fleksibel. Dan semua fatwa dan Ijtihad para Imam itu pasti terengaruh dengan kondisi dimana sang Imam menjadi Da’i. 

kita tahu betul bahwa Imam syafi’I pun mempunyai 2 Qoul; Qadim (lama) sewaktu masih di Irak dan Jadid (baru) sewaktu di Mesir. Qoul yang dahulu dianggap Rajih pada masa lalu bisa saja jadi Marjuh di zaman sekarang. Dan sebaliknya, qoul yang dianggap Marjuh zaman dahulu bisa saja menjadi Rajih jika diterakan di zaman sekarang.

Mengetahui pendapat-pendapat Imam lain akan membuat kita lebih terbuka. Dan pasti menjauhkan kita dari kesempitan, dan kejumudan jika berbicara tentang syariah. 

wallahu A'lam
 

Keanehan Hukum Fiqih

Saya sering sekali mendapati orang muslim yang melihat saudara muslim lainnya namun ia berbeda pandangan dalam masalah fiqih, ia berkata dengan nada sinis: “Aneh banget tuh orang sholatnya.”

Atau ada juga yang seperti ini: “Kok gitu, sih! Kan ngga boleh kalo gitu…..”

Ada juga yang mengatakan: “ih masa begitu sih, salah tuh….”

Kita juga tidak jarang mendapati orang yang seperti itu malah marah dan menyalahkan orang yang berbeda pandangan dalam masalah fiqih. Dan saya kurang suka dengan kata-kata “aneh” yang keluar dari orang-orang seperti itu. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa hokum fiqih aneh.

Buat saya “keanehan” yang muncul dari seseorang ketika melihat orang yang berbeda dalam maslah fiqih bukan keanehan dalam arti yang sebenarnya. Dan keanehan dalam hukum fiqih itu biasa terjadi. Namun keanehan itu bersifat RELATIF, tidak sebenarnya aneh.

Bisa jadi itu aneh menurut seseorang, tapi itu biasa saja menurut orang lain. Aneh pada suatu zaman tertentu namun menjadi biasa pada zaman lain. Aneh menurut satu golongan orang dan biasa saja menurut golongan lain. Ini masalahnya hanya pada soal KEBIASAAN dan ILMU saja.

Orang yang sudah terbiasa dengan pendapat suatu Imam atau Mazhab menjadi aneh bila ia melihat orang lain yang berpegang pada pendapat satu Imam atau Mazhab. Senadainya dia tahu Ilmunya tersebut, pastilah kata “Aneh” itu tidak keluar dari mulutnya.

Saya akan berikan contoh-contoh keanehan tersebut:
Orang-orang yang bermazhab Syafi’i akan merasa aneh jika mendapati Imam tidak membaca doa qunut ketika sholat subuh.  Dan orang yang bermazhab hambali justu merasa aneh jika mendapati Imam sholat subuh membaca doa qunut.

Kaum Syafi’i akan meresa aneh jika mendapati orang yang tidak melakukan sholat qobliyah Jum’at. Dan sebaliknya, kaum Maliki pasti merasa aneh jika harus sholat Qobliyah sebelum sholat Jum’at.

Lingkungan masyarakat Indonesia yang bermazhab Syafi’i akan merasa sangat aneh jika mendapati sebuah masjid yang mengumandangkan azan untuk Sholat Jum’at sebelum masuk waktu zuhur. Padahal itu suatu yang biasa dan sah-sah saja, karena si pengurus masjid berpegang pada pendapat Imam Ahmad bin Hambal yang membolehkan sholat Jum’at sebelum masuk waktu zuhur.

Orang Indonesia pasti akan marah terhadap orang yang memegang anjing kemudian ia langsung masuk masjid dan sholat tanpa harus mencuci tangannya terlebih dahulu. Ini jelas berbeda dengan masyarakat yang bermazhab Maliki yang melihat bahwa Anjing itu suci.

Jadi keanehan itu bukan terletak pada hukum itu sendiri, akan tetapi terletak pada ketidak tahuan kita akan luasnya perbedaan pandangan ulama dalam hukum Fiqih itu sendiri. Justru kalau kita mengerti, kita harusnya “ANEH” kepada orang yang “ANEH” dengan orang yang berbeda pandangan dengannya.

Dalam setiap kesempatan baik itu majlis pengajian atau forum biasa, saya sering mengatakan kepada Audiens sebuah kutipan cerdas dari seorang Ulama:

من قل علمه كثر إنكاره
“Man Qolla ‘Ilmuhu Katsuro Inkaaruhu”
“siapa yang sedikit Ilmunya, Banyak ‘NGAMBEK’nya”

NGAMBEK berarti sering mengingkari setiap yang berbeda dengan apa yang menjadi kebiasaanya. Bahkan menyalahkan dan marah-marah kepada ia mengambil manhaj berbeda dalam masalah Fiqih.

Ya. Kebanyakan orang yang mengatakan “aneh” kepada yang berbeda dengannya bahkan tak segan ia menyalahkan, itu sebab karena ia tidak tahu ilmunya saja. Kalau ia tahu bahwa ada ulama yang berkata lain dan mengerti perbedaan itu, pastilah ia tidak akan merasa aneh apalagi marah-marah.

Jadi disini saya mengajak para pembaca semua untuk terus menuntut ilmu dan tidak terbatas hanya kepada satu pandangan ulama saja. Gunanya agar kita tahu bahwa banyak perndapat yang berkembang dan yang paling penting lagi ialah kita tidak mudah menyalahkan seseorang yang hanya berbeda dalam masalah fiqih yang Ijtihadi dan Furu’i.  

Wallahu A’lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger