Ibnu Sabil, Zaman Sekarang Masih Ada Ngga?

Simpelnya ibnu sabil itu ialah musafir seperti apa yang kita kenal,
yaitu org yg sedang dalam perjalanan.
Tapi ibnu sabil dalam hal dia menerima zakat itu bukan sekedar
melakukan perjalanan atau jadi musafir, tapi dia musafir yang sedang
kehabisan bekal dan tidak bisa meneruskan perjalanannya.

Tapi memang ini diperdebatkan, apakah kalau orang yg dinegeri asalnya
itu kaya, apakah dia masih bisa dapat jatah zakat?

Mazhab Maliki, dan Hanafi mengatakan tidak boleh. Musafir yg dapat
zakat itu cuma musafir yg memang dia benar-benar kehabisan bekal dan
dinegeri asalnya juga ia adalah orang yang tidak mampu dan masuk dalam
kategori miskin. Nah kalo dia kaya (ini menurut maliki dan hanafi) dia
harus meminjam, bukan menerima zakat. Sampai kalau tidak ada yg bisa
meminjamkan barulah dia dapat zakat.(Hasyiyah Ibn 'abidin 2/343,
Al-syarhu Al-Kabir Lid-Dardir 1/498)

Tapi ini berbeda dengan pendapat Mazhab Syafi'i dan Hambali. Musafir
bagaimanapun kayanya dia dinegeri asalnya dia tetep berhak mendapatkan
zakat ketika dia sudah kehabisan bekal. Karena bagaimanapun orang kaya
yang dinegeri asalnya itu tetap dikatakan miskin ketika dia kehabisan
bekal dalam perjalanan. Dan Al-quran pun tidak mengklasifikasi apakah
Ibnu Sabil itu orang mampu di negeri asalnya atau tidak. Selama dia
berpredikat sebagai Ibnu Sabil dan kehabisan bekal ya dia masuk dalam
kategori penerima zakat. (Al-Majmu' 6/214)

Ada syarat bagi Ibnu Sabil itu agar dia masuk dalam kategori mendapat zakat:
‎​1. Dia muslim dan bukan ahlul bait (orang yang punya silsilah sampai
kepada Nabi saw) karena keluarga Nabi sampai kapan pun haram menerima
zakat.

2. Dia kehabisan bekal untuk meneruskan perjalanan.

3. Perjalanan bukan perjalanan maksiat. Tp tidak mesti juga perjalanan
ibadah seperti haji atau menuntut ilmu atau bekerja. Boleh juga
musafir perjalanan mubah, perjalanan yang bukan untuk ibadah tapi itu
bukan untuk maksiat. Pokoknya selama perjalanan itu tidak untuk
maksiat, dia dapat hak zakat.

4. Tidak ada pihak yg bisa meminjamkan bekal (ini syarat milik Hanafi
dan Maliki, karena buat mereka seperti dijelaskan diatas, orang yang
kaya/mampu dinegeri asalnya ketika melakukan perjalanan dan kehabisan
bekal, dia tidak bisa mendapat zakat kecuali tidak ada yang
meminjamkan)

IBNU SABIL ZAMAN SEKARANG
‎​Kalau dilihat syaratnya sih sepertinya sulit menemukan ibnu sabil yg
mememenuhi syarat dapat zakat zaman sekarang. Karena zaman Nabi, para
haji (tentu para haji yang berasal dari negeri jauh) itulah yang
mendapat jatah zakat, karena mereka termasuk dalam kategori Ibnu
Sabil.

Tapi kalau ditelisik lebih dalam (mengutip pernyataan pimpinan saya di
RumahFiqih; Ust. Ahmad Sarwat), bahwa TKI itu sebenarnya bisa masuk
dalam kategori ibnu sabil yang dapat jatah zakat. Tentu TKI yg
kesusahan, yang lagi terlunta-lunta ngga jelas nasibnya, dapat kerjaan
pun tidak ada kejelasan, toh mereka pun datang ke luar negeri dengan
status yang tidak jelas. Pekerjaan tidak dapat, yang ada tinggal
nunggu deportase dr polisi setempat.

Nah TKI yang begini mestinya dapat zakat, biar ngga terbengkalai.
Setidaknya mereka ditolong untuk bisa kembali kerumahnya di tanah air.
Karena bagaimanapun mereka itu dalam keadaan seperti ini, mereka bukan
orang mukim (bertempat tinggal), mereka tetep musafir (Ibnu sabil),
toh kan mereka ngga jelas dapat tempat tinggal atau tidak, karena
mereka datang kesitu pun dengan modal nekat dibarengi niat mancari
hidup!

Mungkin juga para musafir yang banyak kita lihat sepanjang jalur
pantura dan pantai selatan. Kalau memang memenuhi syaratnya, ya mereka
berhat atas jatah zakat!

Wallahu A'lam
 

Konsekuansi Cinta Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad saw telah meninggal 14 abad yang lalu. Jasadnya terjaga
dan pasti dijaga oleh Allah saw, sebagaimana Allah juga menjaga
namanya tetap dikumandangkan dan terus digandengkan bersama Nama-Nya.
Begitu juga Allah menjaga kehormatan dan kemualiaannya. Dan Allah swt
menjamin itu semua.

Film-film dan media yang belakangan banyak menghina dan mencaci Nabi
Muhammad saw sejatinya bukan untuk menghina Nabi directly, mereka tahu
bahwa Nabi telah wafat. Jadi bukan tujuan mereka untuk menghina yang
telah tiada. Ya memang bisa dikatakan begitu tujuannya, tapi yang
lebih menjadi target ialah menyulut api kemarahan ummat Muhammad saw
itu sendiri. Memancing emosi umat Islam.

Film IOM yang berkualitas sinematografi buruk dengan hasil dubbing
jelek dan juga kualitas gambar ecek-ecek itu setidaknya berhasil
mengobok-ngobok perut umat Islam didunia (walaupun cuma 50% nya saja)
sehingga mengekspresikan kamarahan atas penghinaan yang dilakukan
terhadap Nabi tercinta. dibeberapa negara korban berjatuhan, kerusuhan
terjadi menggeliat hampir di seluruh negara berbasis muslim. Dan
memang ini yang diingingkan oleh mereka.

Semakin banyak keributan yang menjurus ke anarkisme soal menanggapi
film jelek tersebut, justru akan MELEGITIMASI kampanye mereka yang
bilang kalau muslim itu anarki. Mereka semakin senang karena semakin
nyatalah apa yang selama ini mereka opinikan, padahal jelas Islam
tidak begitu. Emosi yang tidak terkontrol degan baik, pasti berujung
pada hasil yang sangat buruk, siapapun dia orangnya, tanpa memandang
agama yang dianut.

JANGAN MARAH! HAH?

Justru ini pernyataan yang keliru, sangat keliru. Bagaimana bisa
seorang yang mengaku beriman kepada Allah swt dan mengaku cinta agama
Islam tapi menanggapi pencitraan buruk serta penghinaan terhadap
kehormatan agamanya sendiri dia diam saja, dan bilang "cuek aja lah".

Kemarahan adalah suatu keniscayaan LAZIM yang akan timbul dari dalam
jiwa seorang yang mengaku cinta dan beriman. Tidak disebut cinta dia
yang tidak marah ketika orang yang dicintainya mendapat hinaan dan
ejekan. Mana cintanya kalau begitu. Penghinaan kepada Nabi itu berarti
penghinaan kepada kehormatan agama yang juga berarti penghinaan kepada
Allah swt. Jika diam saja, apa artinya beriman?

Tapi menjadi keliru juga kalau hanya berhenti sampai marah saja!
Cintanya hanya kalau Nabinya dihina, ini juga keliru! Sama saja
seperti kebanyakan orang Indonesia yang marah tidak kepalang ketika
mendengar ada budaya negerinya yang diakui oleh negara tetangga.
Padahal seumur-umur dia tidak pernah tau ada budaya itu diIndonesia,
gayanya lebih suka kebarat-bara-an dengan dandanan ala artis
hollywood, barang yang dipakai pun bermerk luar negeri, malu kalau
make merk dalam negeri. Bahasanya pun sok-sok inggris, ngga lisan ngga
tulisan ditiwit atau medsoc lainnya, mencibir kalau lihat mereka yang
sedang gigih melestarikan budaya daerah masing-masing.

Tapi ketika tau itu diakui negara lain dia marah sejadi-jadinya
seakan-akan dia paling cinta dengan negerinya sendiri. Kemarin-kemarin
kemana aja mas? Hmmm cinta macam apa yang seperi ini?

Muslim tidak seperti itu. Cintanya kepada Nabi saw itu suatu
konsekuensi keimanan kepada Allah. Mengaku cinta kepada Allah, ya
harus cinta Nabi-Nya (lihat Ali Imron 31). Dalam al-quran nama Allah
selalu bergandengan dengan nama Nabi-Nya. Perintah imam dan taat
kepada Allah selalu bergandeng dengan Perintah serupa kepada Nabi-Nya.
Jadi tidak disebut iman kalau cuma hanya sepihak. Seprti orang Yahudi
yang beriman kepada Allah tapi tidak mengakui Nabi Muhammad, mereka
itu "maghdub" (yang dibenci/laknat). Dan juga "Dhollun"(yang sesat)
yaitu orang-orang Nasrani yang mengimani Allah tapi mereka juga
mengakui Isa Alayh Salam sebagai tuhan.

Jadi kemarahan ketika simbol agama dipermainkan itu suatu keniscayaan
atas sebuah keimanan. Yang tidak marah, justru mereka itulah yang
patut dipertanyakan keimanannya. Tapi kemarahan itu tidak sampai
menjurus ke anarki, kerena sedikitpun tidak ada kata "anarki" dalam
kamus syariah. Apalagi sampai membunuh.

Nah kecintaan itu sebaiklnya tidak berhenti pada kemarahan semata.
Justru kecintaan itu harus diimplemntasikan dengan semakin giatnya
kita mempelajari kehidupan kanjeng Nabi yang kita cintai tersebut. Tak
ada gunanya kora-koar sana sini marah dan mengaku cinta kepada Nabi
tapi ketika ditanya "siapa paman Nabi yang terus menerus membela
dakwah nabi?" Terus diam diam saja karena tak tahu apa jawabannya!
Cinta yang palsu!

Nah momentum kemarahan ini sebaiknya dan memang seharusnya menjadikan
kita lebih mengetahui dan mendalami siapa itu sosok yang kita bela.
Karena bagaimana bisa kita mengatakan "saya cinta laila", padahal sama
sekali kita tidak tahu siapa itu Laila, rumahnya dimana? Asli mana?
Anak siapakah Laila itu?.

Disadari atau tidak, banyak dari pamuda muslim yang sama sekali tidak
tahu sejarah Nabi nya, bagaimana kehidupannya dan bagaimana tingkah
laku juga kepribadian luhurnya, siapa keluarganya? Ketika ditanya
"sebutkan 3 pemain klub MU?" Dia akan jawab sebelas pemain klub
tersebut beserta 7 pamin cadangannya dan juga pelatihnya, bahka nama
stadionnya pun tidak dilupakan. Tapi ketika ditanya "sebutkan 2 anak
laki-laki Nabi?" Satu pun tak bisa dijawabnya. Ini kan miris. Mengaku
cinta, berdiri paling depan kalau demo anti amerika, paling ketus
kalau membela jemaah pengajiannya yang berlabelkan "muhibbur-Rasul",
tapi pengetahuan nihil soal Nabi saw!bagaimana bisa?

Para Ulama mengatakan : "Al-Ma'rifatu Asasul-Mahabbah". Pengenalan itu
pangkal dari Cinta. Karena itu kita KUDU kenal Nabi saw.

Ayo kembali kita mempelajari siroh (sejarah) Nabi saw. Buka kembali
lembar-lembar sejarah Islam. Datangi pengajian dan majlis-majlis
produktif, bukan yang isinya cuma ginjing sana sini. Pelajari
kehidupannya, resapi nilai-nilainya, tanamkan dalam diri keteladannya,
hidupkan sunnahnya, sebarkan ajarannya. Dengan begitu kita menjadi
muslim yang insyaAllah telah mendapat janji beliau saw:

"Siapa yang menghidupkan sunnahku, berarti ia cinta kepada ku, siapa
yang cinta kepada ku, bersama ku nanti di surga" (HR. Tirmidzi)

Saya mengajak diri pribadi juga pembaca sekalian yang budiman, ayo
Periksa kembali, apakah kita benar-benar telah menjalankan sunnahnya
saw. Sudahkah kita hidup sesuai petunjuknya, benarkan cinta kita
kepada Allah dan Rasul menjadi cinta dari segala cinta kita?

Sebaik-baik pedoman itu Al-quran dan sebaik-baik teladan itu Nabi
Muhammad saw. Dengan berpegang kepada kitab dan sunnah belaiu saw.
Niscaya musuh-musuh Islam pun takut kepada kita karena keteguhan kita
berpagang kepada keduanya. InsyaAllah.

Wallahu A'lam
 

Pengajian Tapi Tidak Mengaji

Salah satu problem yang banyak terjadi karena minimnya SDM syariah
ialah adanya pengajian tapi tidak "mengaji".

Masjid dan mushola yang sudah terbangun mendapat banyak tuntutan dari
sekitar agar diadakannya pengajian sebagaimana umumnya. Namun karena
SDM-nya tidak ada, akhirnya jadilah pengajian yang seadanya dan
terkesan ngasal. Ya pengajian, tapi tidak berisi kajian ilmiah ataupun
pengajaran syariah. Ya itu tadi, tidak ada orang yang berkompeten.

Pengajian isinya hanya sholawatan, berdzikir bersama, atau juga baca
qur'an bareng. Tidak mengapa memang, tapi mana ilmunya? Kapan
masyarakat akan cerdas dan paham agama kalau pengajinnya cuma dzikir
saja tanpa diisi dengan ilmu.

Akhirnya, masyarakat kita tetap dalam ketidak tahuannya dalam masalah
agama. Tidak tahu dasar praktek agamanya. Dan ketidaktahuan itulah
yang akhirnya melahirkan fanatisme-fanatisme ritual, sehingga ketika
ada kelompok yang ber-ritual berbeda terjadilah gesekan-gesekan yang
menimbulkan perpecahan antar sesama muslim.

Padahal itu semua masalah furu'iyyah yang sangat pasti bisa berbeda,
dan sangat ngga penting ngeributin soal yang khilafiyyah seperti itu.
Semua itu sumbernya ialah ketidak-tahuan, seandainya mereka tahu,
tentu akan saling memahami.

Atau juga pengajian itu isinya cuma perkumpulan arisan biasa yang tiap
pertemuan ada nama yang kaluar dan akhirnya mendapat jatah. Parahnya
banyak pengajian-pengajian (namun tidak mengaji) itu akhirnya
digandrungi oleh kepentingan-kepentingan politik yang sangat kotor.
Dengan jumlah jemaah yang sangat besar, ini menjadi sumber suara yang
sangat menjanjikan.

Karena memang biasanya pengajian yang banyak didatengi oleh para
jemaah itu pengajian yang cuma kumpul-kumpul, ngga ada ngaji
syariahnya, ngga ada ilmu yang disampaikan. Karena buat mereka,
mengaji ilmu syariah itu membosankan. Aneh!

Lalu sampai kapan masyarakat muslim ini tetap dalam ketidaktahuannya
akan perkara-perkara agama? Pe-Er besar buat kita!

Wallahu A'lam
 

Masjid = Lumbung Yang Tak Ber-Padi

Awal pertama kali yang dilakukan seorang petani ketika ingin bersawah dan menanam padi itu, membajak tanah yang akan ditanami terlebih dahulu sebelum menebar bibitnya. Semua dilakukan dengan teliti dan ketelatenan.

Tentu dipenghujung "laga", ketika semua sudah terlaksana, yaitu membajak sudah, menabur benih sudah, menanaminya juga sudah. Pun padi telah menghijau dan sebagian telah tunduk dan menguning. Ketika inilah waktunya sang petani membangun "Lumbung" padi. Lumbung tempat dimana
nantinya padi yang sudah dipanen akan disimpan.

Ya memang begitu mestinya jalur yang harus dilalui oleh seorang petani. Membangun "lumbung" padi itu belakangan, karena kepentingannya pun ada diakhir. Orang pasti akan mengatakan bahwa petani itu bodoh,
bahkan gila ketika ia membangun lumbung padi sedangkan menanam padi pun tidak. Jangankan menanam padi, tanah yang akan dibajak guna ditaburi benih pun ia belum siapkan.

Analoginya mungkin cocok dengan kondisi yang terjadi belakangan ini. Analogi terhadap apa? Analogi lumbung padi dengan masjid.

Yang banyak, orang selalu sibuk nyari dana buat bangun masjid ini, dan itu dengam biaya yang wuah! Semangat mencari dana bagi yang tidak mempunyai dana. Juga sibuk mencari tanah kosong untuk dibangun bagi ia yang sudah punya dana, dan semangat nyari-nyari media supaya bisa diliput dalam berita kalau dia telah membangun masjid dengan dana besar! Hebat bukan?

Memang tidak diragukan lagi kalau para pembangung masjid itu telah dijanjikan bangunan rumah dalam surga. Jadi simpelnya, orang itu pasti akan balik ke rumahnya masing-masing, nah kalau sudah disiapkan dan
dibangunkan rumah disurga, lah masa iya dia akan pulang ke neraka. Kira-kira seperti itulah. Jadi ini juga salah satu yang bisa jadi motivasi bagi banya orang berduit untuk berinvestasi akhirat yang pasti untung. (Padahal tidak bisa juga ditafsirkan seperti itu)

Tapi sebenarnya, anjuran dan perintah membangun masjid itu harusnya dan memang semestinya dibarengi dengan semangat memakmurkan dan meramaikan masjid tersebut. Bukan cuma semangat mengejar bangunan disurga namun kitya cuek dan lupa bahwa ada kewajiban memakmurkan masjid.

Masjid itu ibarat "lumbung", lumbung itu harus diisi dengan padi. Kalau cuma ada lumbung tapi padinya nihil, orang-orang sekitar akan mengatakan bahwa petani ini bodoh. Kok lumbung duluan yang dibangun, padi ne ngendi?! Jadi kewajibannya bukan hanya membangun lumbung (masjid), akan tetapi kita juga harus bersawah dan bertanam padi guna mengisi lumbung yang kosong itu. Nah masjid seperti itu! Harus ada SDM-SDM syariah yang menjadi pengisi lumbung beton tersebut.

Hingga akhirnya masjid (dan mushola_mushola tentunya) tidak hanya menjadi bongkahan beton besar yang hanya berbunyi 5 kali dalam sehari. Hanya untuk dilakukannya sholat, itupun dengan jemaah seadanya! Setelah sholat selesai, lampu-lampu kembali dipadamkan, pintu masjid dikunci dan gerbangnya pun digembok. Ujung nya masjid terkesan tidak bernilai, karena kering dari kajian ilmu-ilmu syariah yang memang seharusnya diajarkan kepada msyarakat sekitar. Dari 24 jam dalam sehari, masjid hanya ramai 50 menit. Karena biasanya durasi sholat itu 10 menit! Masjid dimana-mana tapi ilmu syariah tetap terkekang tak
tersebar.

Lalu siapakahyang jadi padi guna mengisi lumbung itu? Tentu mereka para santri dan mahasiswa-mahasiswa syariah-lah yang layak untuk mengisi lumbung tersebut. Tapi mirisnya, perhatian kepada mereka sangat minim. Padahal tiada lagi yang bisa mengisi kecuali mereka yang mempunyai kompetensi dalam hal ini.

Jadi sebaiknya perhatian dan semangat membangun lumbung harus dialihkan kepada pembibitan padi yang baik dan unggul. Dana yang sudah disiapkan tersebut guna membangun masjid itu sebaiknya dialihkan untuk
pembangunan pesantren, majlis taklim dan operasionalnya. Itu akan lebih baik hingga akhirnya kita bisa mengisi lumbung-lumbung beton itu dengan padi-padi yang unggul dan bisa diolah menjadi pangan yang
bermanfaat dan bergizi tentunya.

Loh pesantren dan kampus-kampus syariah juga sudah banyak jumlahnya! Seandainya kita lebih dekatkan lagi telingan kita masuk ke pesantren dan kampus-kampus tersebut, kita akan mendapati banyak masalah yang terjadi. Kita akan menemukan ada calon padi unggul yang kekurangan siraman air dan cahaya matahri untuk berkembang, ada juga calon padi yang akhirnya mati karena terlalu lama tidak tersiram. Labih parah
lagi, ada petani yang sawahnya itu ludes karena terbakar! Maksudnya, tidak perlu juga kita membangun pesantren atau kampus yang baru, optimalkan saja segala potensi padi yang sudah sedikit "menghijau" di pesantren-pesantren dan kampus-kampus syariah tersebut, dengan memberikan suntikan operasional atau juga sumbangan beasiswa bagi para calon ulama tersebut!

Jadi ngga boleh bangun masjid? Boleh saja, sangat boleh bahkan! Tapi dalam syariah ini, kita mengenal ada yang namanya "aulawiyyat" (Prioritas), yaitu perkara-perkara prioritas yang harus didahulukan dibanding yang lain. Kebutuhan akan masjid tidak sebesar kebutuhan kita kepada SDM-SDM syariah yang siap pakai dan terjun. Baiknya dana-dana besar itu dialokasikan untuk memberikan beasiswa-beasiswa para santri dan
mahasiwa-mahasiswa syariah agar mereka tenang menuntut ilmu agama.

Agar nantinya kita tidak dengar lagi ada santri yang berhenti mondok karena kurang dana, atau juga mahasiswa syariah yang lebih sibuk jualan daripada belajar karena butuh dana, sampai-sampai masuknya pun kalau lagi ujian saja, tidak sempat ikut belajar! Kalau bibitnya bermasalah seperti ini, sulit bagi kita untuk menghasilkan padi berkualitas.

Bukankah lebih baik masjid itu ramai dengan kajian ilmu syariah serta pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang agama, dibanding masjid mewah besar dan megah tapi bunyi nya cuma azan doang!?? Dan masyarakat tetap dalam kejahilannya akan ilmu agama, dan ini bisa menjadi celah untuk para liberalis melancarkan misi busuknya!

Wallahu A'lam!
 

Adzan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir, Boleh Ngga?



assalamualaikum wr.wb
maaf ni pk ustadz yg baik hati saya bertanya lagi...smlm saya sdh membaca blog anda tp tdk ad mengenai pertanyaan sya..untk itu sya bertanya lg..azan atau iqomah bgi bayi yg lahir apakah d anjurkan?


Syariat Adzan
 
Masalah adzan, sesungguhnya itu disyariatkan untuk mengumumkan datangnya waktu sholat dan untuk mengundang umat agar datang ke masjid guna melaksanakan sholat.

Akan tetapi adzan juga disunnahkan untuk diperdengarkan untuk selain sholat guna mengambil keberkahan dan syiar. 

Dan mazhab yang paling luwes soal adzan di luar sholat ini ialah mazhab Syafi'iyah. Dalam mazhab ini ulamanya mengatakan bahwa adzan itu boleh diperdengarkan ditelinga anak yang baru lahir, dan ini sunnah! 

Juga untuk orang yang ingin melakukan perjalanan jauh, maka itu kita tidak usah heran kalau banyak dari orang tua kita yang mengumandangkan adzan ketika saudara atau tetangga yang ingin berangkat haji. 

Dan juga ditelinga mayat ketika memasukkan kedalam qubur, ini diqiyaskan sebagaimana ia diazdankan ketika ia baru memulai hidup ketika baru lahir. (Mausu'ah Fiqhiyah Kuwait, Bab Adzan)

 


Adzan di Telinga Bayi dan Dalilnya
 
Masalah adzan ditelinga kanan dan iqomah di telinga kiri anak yang baru lahir merupakan suatu kesunnahan yang mana pendapat ini dianut oleh mazhab Syafi'I dan Hambali. 
(Al-Muhadzab 1/242, syarhu al-munhaj 5/267, al-mughni Bab Adzan Al-maulud, kisyaful-Qina' 2/139)

Praktek ini bukan tanpa dasar apalagi ngasal. Ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Abu Rofi', bahwasanya beliau melihat Nabi saw mengadzankan di telingan Hasan (cucunya) ketika Fatimah baru melahirkannya. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits shohih dan diamalkan oleh para Ahli Ilmu.(Syarhu Al-Sunnah Li Al-Baghowi, Bab Adzan fi Aadzan Al-Maulud)

Hikmah adanya ritual adzan ditelinga bayi yang baru lahir ialah sebagai pengenalan tauhid kepada anak. Karena ketika anak itu baru keluar dari perut ibunya, tidak ada yang ia kenali, bahkan suara ibunya pun ia tidak kenal. 

Dan pun suluruh tubuhnya belum ada yang berjalan. Termasuk telinganya. Ketika pertama kali telinganya itu bekerja, kata Allah lah yang menjadi kata pertama ia dengar ketika ia masuk ke dunia ini. Karena biasanya, apa yang didengar pertama kali itu yang tak akan pernah pudar. (Fathul wahab 2/331)

dan dasar dari praktek iqomah itu ialah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Ibnu sunni dari hasan bin Ali. Dan hadits ini juga dikutip oleh para Ulama mazhab dalam kitab mereka masing-masing yang telah tersebut diatas: 

"siapa yang melahirkan maka hendaknya ia mengadzankan anaknya itu ditelinga kanan dan beriqomah ditelinga kiri, dengan demikian setan tidak akan menggangunya". 

Ini sejalan maknanya dengan hadits Nabi saw yang menjelaskan bahwa : "sesungguhnya setan itu akan kabur jika dikumandangkan adzan" (muttafaq 'Alayh dari Abu Hurairoh)
 

"Al-Marhum" Itu Bukan Gelar!


Kemarin, 11 september selain hari itu dikenal sebagai hari 911 (nine-eleven) ternyata tanggal tersebut juga merupakan tanggal dirayakannya hari Radio Nasional. Itu yang saya dengar kemarin di salah satu stasiun radio lokal jakarta.

Sang penyiar beserta rekannya membicarakan sejarah radio sejak awal dan juga para penyiar-penyiar senior yang sejak dahulu mengawal perjalanan radio nasional hingga saat sekarang. Tak lupa jua mereka membicarakan para musisi yang masyhur melalui ajang-ajang gelaran Radio.

Semua penyanyi disebutkan, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dan melegenda. Nah disini ada masalah syariah penting yang saya temukan. Ketika sang penyiar menyebut nama seorang musisi yang sudah meninggal, dia mendahulukan namanya dengan kata "Al-Marhum". Dan saya sangat tau musisi yang di"gelari" Al-marhum itu, dia bukan seorang muslim.

"AL-MARHUM" ITU DOA !

"Loh apa masalahnya?" Ya kata "Al-marrhum" itu masalahnya! Harus diketahui, bahwa dalam Islam, syariat ini telah mengajarkan ummatnya untuk selalu mendoakan saudaranya, siapapun itu. Baik kenal atau tidak kenal, tua muda, kaya miskin, atau juga masih hidup dan yang sudah meninggal. Budaya saling mendoakan diantara sesama muslin ini budaya yang sudah terwarisi sejak 14 abad lalu.

Saya disini, mayoritas dosen yang mengajar saya adalah doktor-doktor dari timur tengah seperti saudi, mesir, yordan, syiria dan sebagainya. Ketika kita berdiskusi dan mengobrol, tidak jarang mereka selalu memberi embel-embel doa setelah nama kita dalam panggilannya. 

Apalagi setelah bincang-bincang itu selesai, sebelum berpisan kita banyak saling mendoakan. Dengan redaksi  kata-kata yang beragam, seperti baarokallahu fiik (semoga kau diberkahi Allah), A'aanakallahu (semoga Allah menolongmu), rohimakallahu ( semoga Allah merahmatimu), hafidzokallahu (semoga Allah menjagamu), waffaqokallahu (semoga Allah memberi taufiq) dan banyak lagi.

Nah kata "Al-marhum" itu juga merupakan do'a dari yang hidup kepada mereka yang sudah meninggal. Kalau secara bahasa Al-marhum berarti "yang dirahmati", Artinya "semoga Allah Merahmati". Jadi ketika kita menyebut nama-nama mereka yang sudah meninggal dengan didahului atau disudahi dengan kata "Al-marhum", pada intinya itu ada doa dari kita untuk mereka. Dan memang syariatnya begitu. Orang muslim kudunya saling mendoakan, bukan cuma kepada yang hidup tapi juga kepada yang sudah meninggal.

Jadi yang harus diluruskan disini ialah, bahwa Al-Marhum itu bukanlah gelar untuk orang yang meninggal, akan tetapi itu ialah DO'A! Sebenarnya bukan hanya redaksi Al-marhum, dalam kitab-kitab Ulama atau pada kesempatan-kesempatan lain, para kaum muslim mendoakan ulama dan kaum muslim lainnya dengan redaksi doa yang berbeda-beda. Seperti Al-Maghfur lah (semoga diampuni oleh Allah), Al-marhum dan rohimahullahu yang punya arti sama. Dan masih banyak lagi.

MASALAH-NYA

Nah, karena ini doa dan doa itu merupakan suatu ibadah dalam syariat agama ini. Yang harus diketahui ialah bahwa syariat ini telah mempunyai pakem-pakem dan rule untuk ibadah yang satu ini. Dan kita ummat Islam dilarang untuk mendoakan orang kafir, yang tidak beragama Islam.

Ini jelas tergambar dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Al-bukhori tentang cerita meninggalnya paman Nabi saw tercinta Abu Tholib yang sampai akhir hayatnya belum juga masuk Islam.

Nabi saw ketika dalam ruangan dimana Abu Tholib berbaring, beliau saw meminta kepada Abu Tholib untuk bersyahadat beberapa kali, dan beberapa kali itu juga Abu Jahal yang juga berada disamping Abu Tholib menahannya untuk tetap pada keyakinan terdahulunya. Walhasil, Abu Tholib meninggal dalam keadaan tidak muslim.

Ketika itulah Nabi langsung meminta izin kepada Allah untuk meminta ampun kepada Allah untuk paman tersayangnya itu. Namun Allah menolak permintaan itu dengan menurunkan ayat:

"Dan tidaklah layak bagi Nabi dan dan orang-orang beriman memohon ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu orang-orang itu kerabatnya, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahanam" (At-Taubah 113)

Jadi jelas tidak ada kehalalan bagi kaum muslim untuk mendoakan kaum kafir walaupun itu saudara mereka sendiri. Tidak untuk yang hidup tidak juga untuk mayyitnya. Kenapa? Ya syariatnya begitu, jangan tanya kenapa atas apa yang telah Allah tetapkan. Kita tinggal manut aja! Itu kandungan ayat 36 surat Al-ahzab. dan masalah jangan tanya "kenapa" sudah kita bahas di artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu.

Tapi ini dikecualikan kalau itu doa untuk mendapatkan hidayah Islam. Karena ini juga yang sering dilakukan oleh Nabi saw kepada saudara-saudaranya, Abu Tholib dan juga Amr bin Hakam (Abu Jahal).

Ya disadari atau tidak, memang kebiasaan menggunakan gelar "Al-marhum" untuk orang-orang yang sudah meninggal itu di Indonesia ini sudah sangat umum dan familiar, dan seakan-akan itu adalah gelar wajib bagi yang sudah meninggal tanpa melihat apa agamanya. Jadi siapapun yang meninggal, pasti digelari al-marhum. Padahal tidak begitu mestinya.

Kalau itu diucapkan oleh orang non-muslim untuk non-muslim juga itu tidak masalah. Jadi masalah kalau itu diucapkan oleh orang Islam untuk mayyit non-muslim. Berarti itu dia sudah mendoakan nonmuslim dan itu melanggar syariah.

Nah karena kebiasaan ini agak keliru, juga ada dinding syariah yang ditabrak, ada baiknya kita luruskan agar tidak terus menerus berlanjut kesalahan yang sudah mengakar ini. 

Jadi Al-marhum itu khusus untuk mayyit muslim bukan non-muslim.

Wallahu A'lam!
 

Mengusap Muka Setelah Berdo'a, Boleh Ngga?


Masalah doa kemudian mengusap muka denga kedua telapak tangan itu bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Turmudzi dalam kitab Sunan-nya, yaitu hadits dari Umar bin Khothtob:

كَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ
يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا
وَجْهَهُ
“bahwa Rasul saw mengangkat tangannya ketika berdoa dan tidak menurunkan kedua tangannya tersebut sampai beliau membasuh mukanya dengan keduanya itu” (HR Turmudzi)

Hadits ini memang bermasalah dalam sanadnya menurut kebanyakan ulama hadits. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi bahwa salah satu perawinya yang bernama Hammad bin ‘Isa, ia adalah seorang yang dhoif (lemah). Karena inilah hadits ini menjadi lemah. 
(Al-Majmu’ 3/501)

Sedangkan Dalam kitabnya sendiri, Imam Turmudzi sendiri tidak mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits shohih, tetapi beliau mengatakan bahwa hadits ini ialah hadits ghorib (yang diriwayatkan hanya dengan satu jalur sanad).

Dan Imam Nawawi sendiri bahkan mazhab syafi’i dan hanafi mensunnahkan praktek mengusap muka setelah berdoa, dan itu doa yang di luar sholat! Dan beliau (Imam Nawawi) memasukkan hadits ini kedalam kitabnya
Al-Adzkar dalam Bab Adab berdo’a. dan mengatakan bahwa hadits ini memang dhoif tapi hadits ini punya Syawahid (penguat) dari hadits lain yang artinya senada dengan hadits tersebut.

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari sahabat Ibnu Abbas. Sebagaimana keterangan Imam ibnu hajar Al-Asqolaniy dalam kitab Bulughul-Marom Pada Bab Ad-Du’a Wa Al-Adzkar, sehingga menjadikan
hadits ini layak untuk diamalkan. Karena setelah mendapat penguat hadits ini naik status menjadi hadits hasan.

Imam Shon’any menjelaskan: "Dalam keterangan hadits-hadits lain dijelaskan bahwa Allah swt tidak akan membalas sia-sia bagi siapa yang berdoa mengangkat kedua tangannya memohon kepada-Nya. Artinya ketika seorang hamba berdoa sesungguhnya rahmat Allah turun kepadanya, dan sungguh amat sangat layak jika seorang hamba mengusap mukanya ketika rahmat itu turun sebagai tanda syukur. Dan karena memang muka adalah anggota tubuh yang paling mulia dan yang paling layak dihormati."
(Subulus-Salam, 4/219 Bab Ad-Du’a Wa Al-Adzkar)

Jadi sebenarnya tidak masalah melakukan praktek mengusap muka setelah berdoa. Ya haditsnya memang dhoif, tapi hadits ini mendapat penguat (syawahid) dari hadits lain yang senada yang kuat jalurnya.

Dan memang ulama sejagad raya ini sepakat bahwa hadits dhoif itu bukannya tidak boleh dikerjakan. Justru boleh TAPI dengan beberapa catatan: 
1. Dhoifnya tidak terlalu dhoif, artinya cacatnya tidak parah. 
2. Ada hadits lain yang senada yang kuat statusnya sebagai Syahid (penguat). 
3. Ini yang penting, yaitu ketika melakukannya, kita tidak boleh menyakini bahwa ini adalah bersumber dari hadits yang shohih.

Tetapi ini untuk do’a diluar sholat. Sedangkan doa didalam sholat semisal do’a qunut. Tidak ada dalil yang menerangkan bahwa Nabi mengusap mukanya setelah doa qunut. Jadi ketika doa qunut tidak perlu lagi mengusap muka, karena tidak ada contohnya! Imam Nawawi memakruhkan itu yaitu mengusap setelah doa qunut. (Al-Adzkar bab Du’a Al-Qunut)

Wallahu A'Lam
 

Melafadzkan Niat, Boleh Atau Bid'ah?

ada pertanyaan:
assalamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh
'afwan tanya.

terkait niat yang letaknya ada di hati, adakah kata2 tertentu yang selalu harus di ucap, misalkan, "saya niat wudhu lillahi ta'ala" , "saya niat sholat subuh lillahi ta'ala?"

atau cukup ia berkeinginan wudhu dan sholat, kemudian ia berwudhu dan sholat sebagaimana mestinya tanpa ada pelafadzan niat dalam hati? adakah dalil dalil yang terkait dengan ini?

jazaakallahu khaira. baarakallahu fiyk.
dari : Mifla (bukan nama sebenarnya)


Kalo pertanyaannya seperti diatas, jawabannya -wallahu a'lam- ya niat dalam ibadah itu tempatnya didalam hati, bukan di lisan. artinya ketika hati ini sudah berniat maka sudah cukup baginya tanpa harus melafadzkannya lagi. dan masalah ini telah disepakati oleh seluruh ulama sejagad raya ini termasuk ulama dari 4 mazhab fiqih, bahwa tidak ada syarat bahwa niat harus di lafadzkan.

alesannya karena memang Nabi saw tidak pernah melafadzkan suatu niat dalam ibadahnya. beliau tidak pernah memulia suatu ibadah dengan melafadzkan niat. hanya ibadah haji saja yang harus dilafadzkan niatnya (niat ihrom) sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw. walaupun tetap niatnya dalam hati.

hanya saja ada sedikit penjelasan dari ulama mazhab Maliki yang menyebutkan bahwa niat bukan di hati tapi di otak. sebagaimana yang diebutkan oleh Imam Al-Marizi dalam kitabnya "Mawahibul Jalil". akan tetapi penjelasan ini tidak masyhur dan tidak terlalu dipermasalahkan oleh kebanyakan ulama. dan tidak menjadi "muktamad". 

_____________

Masalah melafadzkan niat, ulama sendiri berbeda pendapat seperti biasa. ada ulama yang membid'ahkan dan ada juga yang membolehkan, bahkan ada yang mensunnahkan. 

Ulama yang membidahkan ini atas dasar bahwa tidak ada dalil dari qur,an dan juga cntoh dari nabi saw. nabi tidak pernah melafadzkan niat, dan niat itu termasuk ibadah yang tidak bisa asal dikerjain. tpi harus berdasarkan dalil syar'i. buat kelompok ini pokoknya yang ngga ada zaman nabi pada prakteknya itu bidah. 

namun diseberang nun tak terlalu jauh sana ada ulama yang membolehkan. bukan tanpa alasan. logikanya kalau memang melafadzkan itu bidah, niscaya tidak akan ada ulama yang sibuk menjelaskn tentang ini, toh ini adalah bidah ngapain juga diperdebatkan?. tapi kenyataannya tidak demikian. Tentu ada masalah penting yang manjadi latar belakang Ulama banyak membahas ini. Tidak asal main bid'ah-bid'ah aja!

Justru banyak ulama yang juga membolehkan melafadzkan niat dan bahkan mensunnahkan. meski tidak ada hadits yang menerangkan tentang pelafazdan niat. tapi melafadzkan niat itu sendiri berguna untuk memperkuat dan megutakan niat yang ada dalam hati. 

Rupanya di masa lalu muncul fenomena bahwa banyak orang yang selalu was-was dan selalu ragu-ragu, tidak percaya diri. selalu bertanya-tanya apakah dia sudah niat atau belum? Orang seperti ini tentu tidak seperti kebanyakan muslim lainnya. Karena dari itu Ulama membahasnya secara serius!

Nah untuk orang sepeti ini, ulama menfatwakan boleh melafadzkan niat, agar rasa was-was dalam dirinya hilang dan berganti dengan keyakinan. Artinya memang pelafzdan niat itu sendiri bukanlah untuk mengganti niat yang dalam hati. Karena bagaimanapun, niat tempatnya itu sudah paten, ya dihati, ngga bakal bisa pindah. 

Apa yang diucapkan itu bukanlah niat itu sendiri, akan tetapi upaya untuk membuang keraguan dan was-was agar sipelakunya juga tenang dalam menjalankan ibadahnya. 

----------------------------

kita liat apa kata ulama 4 mazhab tentang pelafadzan niat ini:

Mazhab Hanafi:

Ulama dalam mazhab ini tidak pada satu suara tentang melafdzkan niat, ada yang melarang karena itu tidak ada contohnya dari nabi tapi ada juga yang membolehkan, ada juga yang mensunnahkan dan ada juga yang memakruhkanya. ini dijelaskan oleh Ibnu Nujaim dalam kitabnya Al-Asybah Wan-Nadzo'ir 1/62.

Tapi mereka menitik beratkan pada orang yang was-was. untuk mereka jika melafadzkan niat itu menjadi lebih yakin, maka melafadzkan niat menjadi mustahab (disukai). (Maroqi Al-Falah 1/25)

Mazhab Maliki:

lebih baik meninggalkan / tidak melafazdkan niat karena itu tidak ada contohnya dai Nabi, walaupun kalau dikerjakan yang tidak mengapa. tapi baiknya ditinggalkan.

Tetapi pelafazdan niat mejadi mustahab (disukai) untuk orang yang was-was agar keraguananya hilang dalam dirinya. 
(Balghotus-Salik 1/202, Hasyiyat Ah-Showi 'ala Syarhi Al-Kabir 2/6)

Mazhab Syafi'i:

Ini adalah Mazhab yang paling populer mengumandangkan pelafadzan niat, sehingga bagi beberapa kalangan mazhab ini dianggap "keliru". Wah Ulama sekelas Imam syafi'i dianggap keliru oleh anak kemarin sore yang baru ikut pengajian sekali dua kali!

Ulama dari mazhab ini berpendapat bahwa melafadzkan niat itu sunnah dan ada juga yang megatakan mustahab dalam setiap ibadah. ini dikerjakan untuk membantu menguatakan apa yang sudah diniatkan dalam hati agar tidak ada lagi was-was dan keraguan. 

Akan tetapi melafadzkan niat itu sendiri bukanlah niat. karena niat itu apa yang ada dalam hati. jadi kalau ditinggalkan pun tidak mengapa. dan kalau apa yang dniatkan dalam lisan itu berbeda dengan yang dihati, maka yang dihitung ialah yang di hati. (Tuhfatul Muhtaj 5/287, Mughni Muhtaj 2/248)

Mazhab Imam Ahmad bin Hambal:

Dalam mazhab ini ulama juga juga tidak pada satu suara dalam masalah pelafadzan niat. ada yang tidak menyukainya (ghoiru mustahab/tidak disunnahkan) dan pendapat ini dinisbatkan kepada Imam mereka yaitu Imam Ahmad Bin Hambal dan ada ulama yang menyukainya (mustahab). 
(Al-Inshof 1/110) 

Dan belakangan ulama komtemprer dari mazhab ini membid'ahkannya.

Kesimpulan:

Bahwa masalah ini diperdebatkan banyak oleh ulama. initinya memang bahwa niat itu dalam hati. bukan dilisan. kalau hati ini sudah berniat, lalu buat apa lagi kita mengucapkannya. toh itu tidak dilakukan oleh Nabi saw juga. tapi sebagaimana dijelaskan bahwa kondisi seseorang yang was-was dan peragu itu dikecualikan.

Artinya, kalau memang merasa yakin dengan niat dalam hati, baiknya ya tidak perlu lagi melafadzkannya. Tapi kalau tetap ingin melafadzkan niat itu sebagai penguat, HARUS PASTIKAN kalau itu tidak mengganggu saudara kita yang juga beribadah disamping kita. Barang kali dia terganggu dengan suara lafadz niat kita yang berisik.

wallahu A'lam
 

Nadzar (Bag. 2) Kekeliruan Pandangan Tentang Nadzar


Nadzar Mubah

Dari penjelasan sebelumnya tentang syarat-syarat mandzur, Dengan demikian tidak dibenarkan juga bernadzar dengan sesuatu yang mubah, sesuatu yang aslinya suatu kebolehan, atau juga meninggalkan yang mubah. Dan ini yang banyak keliru dikalangan masyarakat. Contohnya ialah seperti orang yang bernadzar untuk mencukur rambutnya sampai pelontos jika ia bla bla bla..

Atau juga bernadzar untuk meninggalkan makan daging, atau bernadzar untuk pindah rumah, bernadzar untuk melepas cincin, dan sebagainya dan sebagainya yang itu semua adalah suatu kebolehan dalam syariat.

Yang demikian itu bukanlah suatu nadzar, karena nadzar itu haruslah suatu ibadah atau qurbah. Sesuatu yang asal hukunya ialah 'boleh' atau biasa kita menyebutnya dengan mubah, tidak bisa menjadi mandzur. Jika sudah diucapkan, maka tidak ada kewajiban baginya untuk menepatinya.
(I’anah At-Tholobin 2/360, Raudhoh Ath-Tholibin 3/303, Mughni Al-Muhtaj 6/258)

Ini didasarkan oleh hadits Nabi saw:

لاَ نَذْرَ إِلاَّ فِيمَا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ
tidak ada nadzar kecuali atas apa-apa yang dikerjakan karena mencari wajh Allah.” (HR Abu Daud). 

Artinya ialah nadzar harus sesuatu yang mendatangkan keridhoan Allah, yang akhirnya mendatangkan pahala bagi si pelakunya. Sedangkan pekerjaan mubah, itu adalah suatu yang boleh-boleh saja, dikerjakan atau tidak dikerjakan, pelaku tidak mendapatkan apa-apa.  

Dan juga hadits yang Masyhur dari sahabat ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw ketika itu melihat seseorang yang berdiri dibawah terik matahari, dan Rasul menanyakan tentang siapakah orang tersebut. Lalu para sahabat menjawab: bahwa ia adalah Abu Isroil, ia sedang menjalankan nadzarnya untuk berpuasa juga untuk tidak akan duduk, tidak berteduh dan tidak berbicara.

Kemudian rasul saw berkata:

مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِل وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ
“perintahkanlah kepadanya untuk berbicara, berteduh dan duduk kembali, tapi tetap meneruskan puasanya”. (HR Bukhori)

Dalam hadits ini Rasul membatalkan nadzar-nadzarnya yang besifat mubah, yaitu tidak duduk, tidak berteduh, dan tidak berbicara, dan tidak menyuruh mereka untuk membayar denda. Tetapi Rasul saw tetap menyuruhnya untuk meneruskan puasanya yang sudah ia nadzarkan. Jadi jelas, Nadzar haruslan sebuah qurbah atau ibadah.

**Jika Sudah Terucap, Haruskah Bayar Denda?
Yang jadi permasalahan ialah, jika nadzar untuk melakukan suatu yang mubah itu sudah terucap, dan sudah jelas tidak harus dipenuhi, apakah kita harus menunaikan kafarat (denda) karena tidak melakukan apa yang di nadzarkan tadi?

Kembali kepada hukum nadzar dengan pekerjaan mubah tersebut, nadzar dengan pekerjaan yang mubah ialah nadzar yang tidak diakui, artinya nadzar tersebut tidak sah. Karena nadzar tersebut tidak sah maka tidak ada kewajiban kafarat bagi sipalekau jika nadzarnya itu tidak dikerjakan.

Karena bagaimanapun, kafarat itu dikerjakan jika suatu nadzar tidak dikerjakan atau diingkari. Dan nadzar dengan perkara mubah tidak terhitung sebagai nadzar. Bagaimana mungkin ada kafarat sedangkan nadzarnya sendiri tidak ada. 
(Al-Majmu’ 8/455, I’anah Ath-Tholibin 2/360, Mughnil-Muhtaj 6/259)

Selisih Pendapat
Namun pendapat ini diselisih oleh pendapat dari kalangan ulama Hanbali yang memandang sebaliknya. Para Ulama Hanbali menilai bahwa nadzar dengan perkara-perkara mubah adalah suatu nadzar yang sah, hanya saja si pelakunya tidak dituntut untuk menepati nadzarnya tersebut.

Ketika nadzar tersebut sudah diucapkan, si pelaku mempunyai 2 pilihan, yaitu menunaikan nadzrnya tersebut atau tidak menunaikannya. Dan kalau tidak menunaikan nadzar tersebut, maka dia wajib melakukan kafarat (bayar denda). Dan kafaratnya ialah seperti kafarat Yamin (Sumpah). 

Karena pada dasarnya, nadzar itu ialah sumpah. Hanya saja nadzar lebih spesifik dan lebih sempit lingkupnya. Jadi jika seseorang telah bernadzar untuk perkara-perkara yang mubah, pada hakikatnya ia telah bersumpah.
(Al-Inshof Li Al-Mardawi/Bab An-Nadzr, Al-Syarhu Al-Kabir Li Ibni Qudamah 11/334, Al-Iqna’ 4/357)

**Nadzar Maksiat
Sebagaimana penjelasan di awal-awal artikel “Nadzar” ini, bahwa nadzar maksiat, atau bernadzar untuk melakukan maksiat ialah nadzar yang tidak berlaku dan tidak sah. Seperti orang yang mengatakan, “jika saya lulus ujian ini, saya bernadzar akan minum minuman keras”. Atau “jika anak ku pulang ke tanah air, nadzar ku akan kugunakan setengah dari hartaku untuk berjudi”. Nadzar yang seperti ini tidak dibenarkan dalam syariat.

Pun Ulama sejagad raya ini telah bersepakat bahwa tidak sah bernadzar untuk melakukan maksiat, berdasarkan dali-dalil yang telah tersebut di artikel “syarat-syarat mandzur”.

**Jika Sudah Terucap

Namun yang jadi persoalan kini ialah, jika nadzar maksiat itu sudah terucap dan sudah barang tentu tidak mungkin untuk dilakukan, karena itu adalah suatu kemaksiatan. Apakah si pelaku nadzar tersebut harus menggantinya denga kafarat? atau tidak ada kewajiban apa-apa lagi untuknya karena nadzar itu tidak berlaku?

Dalam masalah ini, seperti biasa Ulama kembali berbeda pendapat menjadi 2 kelompok; 

[1] Tidak Ada Denda
 
Kelompok pertama mengatakan bahwa bagi siapa yang bernadzar maksiat maka ia tidak boleh untuk menunaikan nadzranya tersebut dan tidak ada kafarat baginya walaupun sudah tercap nadzar tersebut. Ini pendapat yang banyak dianut oleh Jumhur (mayoritas) Ulama dari al-Malikiyah dan al-Syafi’iyyah termasuk beberapa ulama Mazhab al-Hanafiyah.

[2] Bayar Denda

 
Kelompok kedua mengatakan sebaliknya. Bahwa memang nadzar maksiat dilarang untuk dikerjakan, tetapi jika sudah bernadzar maka ia wajib melakukan kafarat (denda) karena nadzarnya tersebut.

Ini pendapat yang dipegang oleh ulama dari kalangan madzhab Hanafi dan Hambali.
(Bidayatul-Mujtahid 329, Al-Mughni 11/332, Al-Majmu’ 8/455, Bada’i Al-Shona’i 5/92)

Dalil Kelompok Pertama

 
Kelompok pertama yang mengatakan bahwa tidak ada kafarat untuk nadzar maksiat berdalih dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan dari istri beliau saw ‘Aisyah ra: 

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ
siapa yang bernadzar dalam ketaatan kepada Allah, maka tunaikanlah. Dan barang siapa yang bernadzar untuk kemaksiatan kepada Allah, maka janganlah ditunaikan” (HR Bukhori dan Ahmad)

Dalam hadits ini jelas bahwa nadzar ibadah itu hukumnya menjadi wajib dikerjakan bagi si pelaku nadzar. adapun nadzar maksiat, ialah nadzar yang dilarang, dan nadzarnya itu tidak sah/berlaku. Karena tidak ada nadzar yang sah atau berlaku maka tidak ada kafarat.

Dalil Kelompok Kedua

 
Sedangkan kelompok yang mendukung adanya kafarat berdalih dengan hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan dari Aisyah:

لاَ نَذْرَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ ، وَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ
“tidak ada nadzar dalam kemaksiatan kepada Allah dan kafaratnya ialah kafarat yamin (sumpah)”. (HR Ahmad dan Nasa’i)

النَّذْرُ نَذْرَانِ فَمَا كَانَ مِنْ نَذْرٍ فِي طَاعَةِ اللَّهِ فَذَلِكَ لِلَّهِ وَفِيهِ الْوَفَاءُ ، وَمَا كَانَ مِنْ نَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَذَلِكَ لِلشَّيْطَانِ وَلاَ وَفَاءَ فِيهِ وَيُكَفِّرُهُ مَا يُكَفِّرُ الْيَمِينَ
“Nadzar itu ada 2; Nadzar yang mengandung ketaatan kepada Allah, maka itu untuk Allah dan wajib dilaksanakan. Dan (yang kedua) nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, itu adalah untuk syaithan dan tidak boleh ditunaikan. Dan kifaratnya adalah kifarat sumpah” (HR An-Nasa’i dan Al-Bahaqi dalam al-Sunan al-Kubra)

Kedua haditsnya mengandung pemahaman yang sama, Sama-sama menafikkan nadzar maksiat. Hanya saja di hadits yang menjadi dalil kelompok pendukung kafarat ini ada tambahan penjelasan diakhir haditsnya, yaitu penjelasan tentang kafarat, yakni kafaratnya sama seperti kafarat sumpah.

Jadi nadzar maksiat memang dilarang untuk dikerjakan, namun sebagai gantinya ia harus membayar/melakukan kafarat. Dan kafaratnya itu sama seperti kafarat sumpah. Begitu maksud hadits kedua ini. Dan inilah yang menajdi pegangan mereka yang mewajibkan kafarat bagi pelaku nadzar maksiat.

Dan juga didasari bahwa nadzar itu sama dengan sumpah. Maka jika sudah terucap maka wajib kafarat jika sumpah itu dibatalkan. (Bada’i Al-Shona’i 5/92)

Sanggahan 
Ulama yang tidak mewajibkan adanya kafarat menyanggah dalil tersebut bahwa hadits Imron bin hushoin dan hadits Abu Hurairoh yang dipakai itu ialah hadits yang dhoif yang tidak bisa dijadikan hujjah.

Dhoifnya hadits tersebut dijelaskan oleh Imam Ibnu Abdil-Barr yang dikutip oleh Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid. Beliau mengatakan:

para ulama hadits melemahkan hadits ini. Hadits yang besanad ke Abu hurairoh itu, didalam sanadnya ada Sulaiman bin Arqom, dan statusnya itu ialah matruk"

Sedangkan hadits Imron bin hushoin, dalam sanadnya ada zuhair bin Muhammad yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya. Dan ayahnya ini berstatus Majhul (tidak diketahui). Terlebih lagi bahwa Zuhair itu sendiri statusnya ialah Munkir Al-Hadits.” (Bidayah Al-Mujtahid 329)

wallahu A'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger