Zakat Fitrah, Dengan Uang Atau Beras?

Assalamualaikum...
Kalo zakat fitrah itu lebih afdhol makanan pokok atau uang?? Krn ane baru denger keterangan Seakan-akan uang tuh gak boleh.. Kalo ada dalilnya.. Mohon dishare.. Semoga jawabannya jadi pencerahan buat ane khususnya.. ..

Dari empat mazahb fiqih memang semua mazhab tersebut melarang untuk mengganti zakat fitrahdengan uang, karena tidak ada dalil dari Nabi Muhammad saw yang menunjukkan bahwa Nabi pernah menukar zakat fitrah dengan uang, padahal pada saat itu juga uang sudah digunakan, tapi tidak dilakukan.

Hanya satu mazhab saja yang membolehkan, yaitu mazhab Imam Hanafi.Karena(menurut Mazhab Hanafi) pada dasarnya zakat fithrah itu diberikan kepada orang miskin gunanya mencukupkan mereka agar nantinya tidak meminta-minta lagi di hari Ied.Sebagaimana sabda beliau saw:

اغْنُوهُمْفِيهَذَاالْيَوْمِ
"Cukupkan bagi mereka di hari ini" (HR. Ad-Daroquthny)

Kata “Ughnuuhum” dalam hadits di atas itu berarti perintah kepada ummat agar mencukupkan para orang miskin di daerah tempat tinggal mereka supaya mereka tidak keluar rumah turun ke jalan dan kemudian meminta-minta lagi di hari Ied.

Tujuan syariah dalam zakat fithrah akan lebih tercapai baik dan banyak maslahatnya jika diberikan dengan uang. Bukan dengan beras atau makanan pokok (tergantung setiap negeri).Karena bisa saja bukan makanan itu yang mereka butuhkan, tetapi mungkin pakaian, mungkin juga sewa rumah, mungkin juga kebutuhan yang lain.

Dengan uang itu, si miskin bisa menutupi kebutuhan dan mencukupkan hajat mereka, dan memang itu lah tujuan syariah dari zakat fithrah. Mungkin dia sangat butuh dengan kebutuhan yang lain, pakaian misalnya untuk anak istri mereka berlebaran, dan bukan makan yang dibutuhkan, karena mungkin mereka mempunyai persediaan itu.

Kalau tetap memberikan padahal dia tidak membutuhkan, bisa jadi dia malah turun lagi kejalan guna mencari orang yang mau membeli beras darinya. Atau malah dia lari ke pasar dan menjualnya di pasar dengan harga yang sangat rendah karena di pasar pun persediaan beras melimpah.

Atau bayangkan jika si miskin butuh pakaian untuk si anak berlebaran atau butuh uang sewa rumah sedangkan sorenya ia baru mendapatkan beras, dia akan kebingungan menukarkan beras itu di malam takbiran, toko2 pada tutup dan akhirnya ia turun kejalan lagi.

----------------------------------
Dan rasanya pendapat Imam hanafi ini sangat sesuai dengan kondisi dan situasi pada saat ini. Karena masalahatnya lebih banyak dan tujuan syariahnyapun tercapai dengan baik.Tapi bukan berarti pendapat mazhab yang lain itu tidak sesuai.

Inikan berbicara soal mana yang lebih afdol. Kalau pertanyaannya seperti itu yaa yang lebih afdol itu yang membuat si miskin berkecukupan di hari ied itu. Bisa dengan beras jika memang ia butuh, bisa juga denga uang. Jadi dilihat kebutuhan si miskin pada saat tersebut.

-----------------------------------------------
Dan pendapat ini bukan saja milik mazhab hanafi, tetap juga para ulama diantaranya: hasan Al-bashri, Umar Bin abd Aziz, Imam Ats-Tsauri. Dan juga didukung beberapa ulama kontemporer zaman sekarang.

Dan pekerjaan in ibukan tanpa dalil, selain dalil diatas, ini juga pernah dilakukan oleh sahabat Mu’azd bin Jabal yang ketika diutus Oleh Nabi saw keYaman, beliau memrintahkan penduduk setempat untuk membayar zakat dengan pakaina sebagai ganti dari jagung dan gandum (zakat pertanian) karena itu lebih ringan bagi penduduk tersebut juga lebih bermanfaat untuk para Muhajirin. Dan pekerjaan Mua’zd ini diketahuioleh Nabi saw namun tidak melarangnya.

Dalamkitabnya “FathulBaari” (4/54), Imam IbnuHajar Al-‘Asqolani menukil dari Ibnu rasyid bahwa Imam Bukhori bersepakat dengan Imam Hanafi dalam masalah ini. (FatawaYas’aluunaka 9/98)
 

Sholat Isya' di Belakang Imam Tarawih, Boleh Ngga?

Belakangan muncul beberapa pertanyaan dari kawan tentang sholat isya tapi karena datang ke masjid/musholla telat, ia sudah mendapati imam sedang sholat tarawih.

Haruskan sholat isya sendiri sedangkan ada jemaah yang sedang sholat. Atau ikut saja sholat berjamaah walau beda niat, tapi apakah itu boleh?  Jadi, kalau ditarik benang merahnya, pertanyaan menajdi seperti ini:

“Benarkah Dilarang atau Tidak Sah Sholat Wajib tetapi bermakmum kepada Orang Yang Sholat Sunnah? Atau sebaliknya, makmum shalat sunnah dan Imam shalat Wajib”

Masalah semacam ini, bertumpu pada persoalan Niat. Tepatnya perbedaan niat antara makmum dan Imam, apakah itu dibolehkan atau tidak, yakni sang Imam dan sang makmum harus memiliki niat yang sama?

Memang permasalahan ini bukanlah permasalahan yang disepakati oleh Ulama, artinya dalam kebolehan berbedanya niat Imam dan Makmum adalah perkara yang ulama berbeda pendapat didalamnya.

** Perbedaan Niat Aantara Imam dan Makmum

Dalam jajaran 4 Imam Mazhab; 2 diantaranya membolehkan perbedaan niat antara imam dan Makmum, yaitu imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik melarangnya. (Al-Majmu’ Jil 4 Hal 272)

1] Niat Imam dan Makmum Boleh Berbeda

Dan pendapat yang membolehkan itu yang banyak diambil oleh kebanyakan ulama. Dalilnya ialah hadits masyhur Nabi shallallahu alayh wa sallam dari riwayat Umar bin khottob ra,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan…” (Muttafaq ‘Alayh)

Haditnya jelas menerangkan bahwa bagi setiap seseorang itu apa yang diniatkannya. Begitu juga dengan Imam dan makmum, Sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Ibnu Hazm al-Andalusi (w. 456 H): Mereka mendapatkan apa yang mereka niatkan masing-masing, dan tidak ada kaitannya antara niat Imam dan makmum. (al-Muhalla 3/143)

2] Niat Harus Sama

Madzhab al-Hanafiyah dan al-Malikiyah, yang berpendapat bahwa niat Imam dan makmum haruslah sama, itu berpegang dengan hadits:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
“sesungguhnya Imam (dalam sholat) itu untuk diikuti, …” (Muttafaq ‘Alayh).

Adanya Imam dalam shalat Jamaah itu untuk diikuti, kalau boleh makmum menyelisih, lalu buat apa ada Imam? Kalau memang boleh berbeda, lalu apa bedanya dengan shalat sendiri?.

** Jumhur Membolehkan

Jumhur Ulama madzhab tetap pada kesepakatannya, bahwa tidak ada keharusan dalam shalat Jemaah menyemakan niat Imam dan makmum. Yang diminta dalam shalat berjamaah ialah si makmum berniat sebagai makmum, adapun jenis shalatnya, ia punya otoritas untuk itu.

Dalam Kitabnya, al-Muhalla, Imam Ibnu Hazm membantah dalil yang dipakai oleh kelompok yang menganggap harus sama niat Imam dan makmum. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa pendapat ini tidak berdasar. Beliau katakan:

إنَّهُ لَمْ يَأْتِ قَطُّ: قُرْآنٌ، وَلَا سُنَّةٌ، وَلَا إجْمَاعٌ، وَلَا قِيَاسٌ: يُوجِبُ اتِّفَاقَ نِيَّةِ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ
“tidak ada dalilnya baik dari Qur’an, Hadits, Ijma’, tidak juga Qiyas yang mengharuskan persamaan niat Imam dan Makmum” (al-Muhalla 3/141)
“Jika ia (Imam) Ruku’, maka ruku’ lah, dan jika ia berdiri maka berdiri lah, dan jika ia sujud maka sujudlah,….”

Sedangkan hadits yang mengatakan bahwa Imam itu ada untuk sahalat Jemaah untuk diikuti, maksudnya ialah diikuti gerakannya saja bukan niatnya. Karena niat masing-masing orang punya sendiri. Ini dijelaskan dengan redaksi haditsnya secara lengkap:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولوا: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا

Jika ia (Imam) bertakbir, maka bertakbirlah, jik ai Ruku’, maka ruku’ lah, dan jika ia berdiri maka berdiri lah, dan jika ia mengatakan “sami’a Allahu liman Hamidah”, maka katakanlah “Rabbana wa laka al-hamdu”, dan jika ia sujud maka sujudlah,….”

Jadi, bukan niatnya akan tetapi hanya gerakannya saja yang diharuskan sama dan mengikuti imam.

**Perbedaan Niat Makmum dan Imam

[1] Sholat Sunnah di Belakang Imam Sholat Wajib

Yaitu seseorang yang melakukan sholat sunnah tetapi bermakmum kepada Imam yang sedang melakukan sholat fardhu. Sholat semacam ini dibolehkan oleh jumhur ulama dari 4 Imam Mazhab bahkan, berdasarkan beberapa dalil:

Dalil pertama

Hadits Yazid bin Al-Aswad yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alayh wa sallam ketika itu sedang dalam hajinya. dan pada waktu shubuh rasul shallallahu alayh wa sallam beserta para sahabat melaksanakan sholat Subuh di Masjid Khoif. Setelah melakukan sholat, Nabi melihat ada dua orang yang hanya berdiri di depan masjid tanpa mengikuti sholat berjamaah.

Lalu Nabi shallallahu alayh wa sallam memerintahkan agar 2 orang tadi dihadapkan kepada beliau shallallahu alayh wa sallam. kemudian rasul shallallahu alayh wa sallam bertanya: “apa yang menyebabkan kalian tidak ikut berjamaah dengan kami?”. salah satu dari 2 orang itu menjawab: “kami telah melaksanakan sholat dirumah kami wahai rasul!”.

kemudian rasul shallallahu alayh wa sallam menjawab:

فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَة
“Jangan kau seperti itu lagi! Jika kalian telah sholat dirumah kalian masing-masing kemudian kalian mendatangi masjid dan melihat ada sholat Jemaah, sholatlah kalian bersama mereka!” (HR Tirmidzi dan Nasa’i)

Hadits diatas jelas sekali menunjukkan bahwa sholat yang dilakukan itu ialah bukan sholat wajib karena telah dilakukan sebelumnya, akan tetapi itu menjadi sholat sunnah. Dan rasul shallallahu alayh wa sallam memerintahkan agar mereka ikut kembali sholat berjamaah, itu berarti boleh sholat Sunnah di belakang Imam yang sholat fardhu.

Dalil Kedua

Hadits Abu Dzar yang beliau bertanya kepada Nabi shallallahu alayh wa sallam tentang bagaimana jika ia harus mengikuti pemimpin yang sering mengakhirkan sholat fardhu. kemudian rasul shallallahu alayh wa sallam menjawab:

صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

“Sholatlah (sholat fardhu) tepat pada waktunya! Dan jika kau harus ikut sholat bersama pemimpinmu (yang mengakhirkan sholat), maka sholatlah bersama mereka! Sesungguhnya itu menjadi Sunnah untukmu” (HR. al-Bukhori dalam al-Adab al-Mufrad)

[2] Sholat Wajib dibelakang Imam Sholat Sunnah

Contoh yang paling sering ialah seperti yang telah disebutkan di pembukaan artikel ini. Dan juga yang apling sering ialah ketika harus melakukan sholat Isya sedangkan Imam beserta Jemaah lainnya sedang melakukan sholat taraweh. Apakah bisa dan boleh melakukan sholat wajib tapi bermakmum kepada Imam yang sedang sholat sunnah?

Sholat model semacam ini dibolehkan menurut kebanyakan Ulama, seperti penjelasan diatas tadi berdasarkan beberapa dalil, diantaranya:

Dalil Pertama:

Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Mu’adz bin jabal ra pernah melaksanakan sholat isya berjamaah bersma Nabi Muhammad shallallahu alayh wa sallam beserta sahabat. Kemudian ia pulang menemui kaumnya dan menjadi Imam sholat yang sama yaitu sholat isya untuk kaumnya tersebut.

عَنْ جَابِرِ ، قَالَ : " كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمْ " .
Dari sahabat Jabir ra: Muadz pernah shalat bersama Nabi saw , kemudian beliau pulang ke kaumnya dan menjadi Imam shalat bagi mereka. (HR al-Bukhari)

Imam Nawawi menyebutkan riwayat tambahan dari hadits ini yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, bahwa perkara tersebut dilaporkan kepada Nabi shallallahu alayh wa sallam, dan Nabi tidak mengingkarinya. (al-majmu’ 4/272)

Dalil Kedua:

Hadits Abu Bakroh ra yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitab sunan-nya tentang salah satu cara lain sholat Khouf (dalam peperangan) yang dilakukan Nabi shallallahu alayh wa sallam. Disebutkan bahwa Nabi shallallahu alayh wa sallam melaksanakan sholat zuhur dalam keadaan khouf (peperangan), kemudian para sahabat membagi barisan menjadi 2 kelompok. Satu kelompok sholat bersama Rasul dan yang lain berjaga-jaga.

Nabi melaksanakan sholat bersama Kelompok pertama sebanyak 2 rokaat kemudian salam. Lalu masuklah kelompok yang tadi berjaga-jaga untuk sholat bersama Rasul shallallahu alayh wa sallam. Berjamaah 2 rokaat kemudian salam.

Imam Sayfi’i dalam Kitabnya Al-Um menyebutkan bahwa: “2 rokaat terkahir Nabi adalah sunnah dan yang pertama wajib. Jadi kelompok kedua yang sholat bersama Nabi itu sholat wajib sedangkan Imam mereka yakni Nabi shallallahu alayh wa sallam melaksanakan Sholat Sunnah”. (al-Umm1/173)

**Kesimpulan:

Kesimpulannya bahwa perbedaan niat antara Imam dan makmum tidak membuat sholatnya terganggu atau batal, baik Imam ataupun makmum. Jadi tidak ada masalah jika kita sholat fardhu tetapi bermakmum kepada orang yang sedang sholat sunnah, seperti sholat isya bermakmum dengan Imam tarawih. Atau juga sebaliknya, sholat Sunnah tetapi bermakmum kepda Imam sholat Fardhu.

-wallahu a’lam-
 

Cuma Ramadhan.....



Cuma Ramadhan yang bikin kita bangun malam buat saur, padahal biasanya
kita masih selimutan diatas kasur.

Cuma Ramadhan yang bikin kita bisa makan semeja bareng keluarga waktu saur,
padahal biasanya kita makan dijalan karena harus ngejar waktu ke kantor.

Cuma Ramadhan yang bikin kita bisa sholat  subuh, berjamaah pula,
padahal biasanya bangun subuh pun tak pernah.

Cuma Ramadhan yang bikin kita baca qur'an pagi dan siang hari,
padahal biasanya sang mushaf tak tersentuh hanya manjadi penghias lemari.

Cuma Ramadhan yang bikin kita serasa dekat dan diawasi oleh Tuhan,
padahal dihari biasa Tuhan bisa kalah oleh kertas kerja harian,
bulanan dan tahunan.

Cuma Ramadhan yang bikin kita lebih sayang dan dekat dengan kelurga,
ingin saur dan buka bersama selalu,
padahal di hari biasa kita tak ada untuk mereka karena alasan waktu.

Cuma Ramadhan yang bikin kita takut bohong karena takut pahala puasa hilang,
Padahal di hari biasa kejujuran sering kita buang, katanya "jujur
tidak mendatangkan uang!".

Cuma Ramadhan yang bikin kita nunggu-nunggu waktu sholat datang,
semangat untuk sholat berjamaah,
Padahal di hari biasa untuk wudhu pun kaki ini enggan melangkah.

Cuma Ramadhan yang bikin kita tersenyum dipetang hari karena berbuka puasa,
Padahal di hari biasa kita terbakar amarah karena menghadapi macet
jakarta yang sudah diluar Logika.

Cuma Ramadhan yang bikin kita siaga sambil menunggu datangnya waktu Isya,
Padahal di hari biasa waktu itu kita sedang asik nonton telenovela.

Cuma Ramadhan bikin kita rela berlama-lama di masjid dan musholla
karena sholat taraweh berjamaah,
Padahal di hari biasa sholat isya pun kita ogah.

Cuma Ramadhan yang bikin kita mau buka telinga mendengarkan ceramah
ustazd di kultum siang dan malah hari,
Padahal di hari biasa kita selalu tutup telinga dan menghindari.

Cuma Ramadhan yang bikin kita rutin sholat witir setiap malam,
Padahal di hari biasa kita pun tak pernah tahu kalau ada sholat ganjil
penutup malam.

Cuma Ramadhan yang bikin kita rela berdzikir semalam suntuk berharap
raih malam mulia,
Padahal di malam-malam biasa kita engga becapek-capek dengan dalih
"saya besok harus kerja!"

Cuma Ramadhan.......
Nikmat Ramadhan......

"seandainya ummat-ku tahu apa yang sebenar-benarnya ada dalam bulan
Ramadhan ini, niscaya mereka menginginkan seluruh bulan dalm setahun
ini Ramadhan"

Wallahu A'lam





 

Junub di Pagi Ramadhan, Apakah Sah Puasanya?


Dari beberapa banyaknya alasan yang ada dan dipakai ketika seorang muslim itu tidak berpuasa di bulan Ramadhan, salah satunya ialah “JUNUB” di pagi hari. Karena dia merasa bahwa syarat puasa itu harus suci dari hadats besar, akhirnya ini menjadikannya untuk tidak berpuasa pagi harinya. Padahal ini keliru.

Orang yang bangun di pagi hari Ramadhan, entah apakah bangunnya itu sebelum waktu fajar atau setelah waktu fajar, dan ia dalam keadaan junub, berhadats besar, entah itu karena mimpi atau juga karena berhubungan suami-istri. Yang demikian ini tidak membatalkan kewajibannya untuk berpuasa berdasarkan Ijma’ (Konsensus) ulama sejagad raya ini. (An-Nawawi/Al-Majmu’ 6/308)

Jadi “junub” bukanlah alasan untuk tidak berpuasa. Dan puasanya tetap sah, tak perlu diganti di hari lain jika ia berpuasa dengan memulai pagi dalam keadaan JUNUB. Tentu ia harus mandi “besar” atau mandi wajib jika ingin melaksanakan sholat Shubuh, karena syarat sah sholat ialah suci dari hadats besar. Dan itu bukan syarat sah dari puasa.

**Apa Dalilnya?

Ini didasarkan oleh beberapa hadits Nabi SAW, diantaranya hadits dari ‘Aisyah yang menybutkan bahwa seorang laki-laki pernah datang suatu hari kepada Nabi SAW untuk meminta jawaban atas pertanyaanya. Ia berkata: “wahai Rasul, waktu sholat subuh datang tapi aku dalam keadaan Junub. Apakah aku masih bisa berpuasa?”.

Kemudian Nabi SAW menjawab:

وَأَنَا تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ فَأَصُومُ
“begitu juga aku! Waktu shalat subuh datang dan aku dalam keadaan Junub, dan aku pun berpuasa!” (HR Muslim dan Ahmad)

Kemudian hadits yang juga dari ‘Aisyah ra, beliau berkata:

عَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
 “Rasul SAW pernah bangun pada Ramadhan dalam keadaan Junub karena Jima’, kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (Muttafaq ‘Alayh)

Dan beberapa hadits yang bermkna senada dengan hadits diatas masih banyak sekali.

**Hadits Larangan Puasa Telah Dihapus (Mansukh)

Adapun hadits yang menyebutkan larangan untuk berpuasa bagi yang dalam keadaan junub, seperti yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairoh ra:

مَنْ أَصْبَحَ جُنُباً فَلاَ صَوْمَ لَهُ
“barang siapa yang bangun (pagi) dalam keadaan Junub, maka tidak ada puasa baginya” (Muttafaq ‘Alayh)

Jumhur Ulama mengatakan bahwa hadits ini telah dihapus (mansukh) hukumnya. Jadi hukum yang terkandung dalam hadits ini tidak berlaku lagi, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, begitu juga Imam Ash-Shon’ani dalam Subulus-Salam.

Imam Al-Baihaqi mengatakan : “Hadits ini telah di-mansukh, sebagaimana yang telah kami riwayatkan dari Abu Bakr bin Al-Mundzir. Karena Jima’ pada masa awal-awal Islam itu dilarang dan haram dilakukan pada malam-malam Ramadhan.

Dan ketika Allah menurunkan ayat yang membolehkan untuk Jima’ di malam-malam ramadhan, maka hadits ini telah di hapus dan boleh bagi yang dalam keadaan junub (sebelum fajar) untuk berpuasa.

Adapun yang hadits larangan tersebut, Abu Hurairoh mendengarnya dari Fadhl bin Abbas ra akan tetapi ia tidak mengetahui bahwa hadits itu telah di hapus, sampai ia mendengar hadits dari ‘Aisyah ra yang membolehkan.” (Sunan Al-Baihaqi Al-Kubro  4/215, no. 7788)

wallahu A'lam
 

Sholat Sunnah Lagi Padahal Sudah Sholat Witir, Boleh ngga?


Beberapa jemaah shalat tarawih di masjid-masjid biasanya keluar masjid setelah shalat tarawih selesai dan tidak mengikuti Jemaah witir bersama Imam. Ketika ditanya kenapa, mereka beralasan ingin shalat lagi di rumah nanti tahajjud atau yang lainnya, jadi witirnya diakhirkan saja sekalian.

Seakan-akan bahwa jika orang sudah shalat witir itu sudah tidak boleh lagi shalat sunnah, karena witir itu shalat penutup di malam hari. Karena sudah di tutup, maka sudah tidak boleh lagi shalat. Apa memang benar begitu?

**Pertanyaannya; "Boleh ngga sholat sunnah lagi di malam hari padahal kita sudah sholat witir?".

Dari dulu sejak awal mula kita mempelajari sholat di pengajian-pengajian, ketika masuk bab sholat witir kita sering diperdengarkan bahwa witir itu sholat penutup malam. Jadi kesannya, karena itu penutup maka tidak ada lagi sholat sunnah setelahnya. Dan menjadi aneh kalau sudah sholat witir kemudian sholat sunnah lagi, Tahajjud misalnya di malam harinya.

Tidak salah juga memang kalau sholat witir itu disebut sebagai sholat penutup di malam hari, karena memang Rasul SAW selalu menutup sholat-sholat malamnya dengan sholat witir yang jumlahnya ganjil. Tapi karena namanya penutup bukan berarti kita dilarang untuk kemudian sholat sunnah lagi setelah sholat witir.

**Shalat Sunnah Setelah Shalat Witir

Jumhur (kebanyakan) ulama termasuk para Imam dari 4 mazhab; al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah membolehkan sholat sunnah dimalam hari walaupun sebelumnya sudah melakukan sholat witir. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Rusyd Al-Qurthuby dalam kitabnya "Bidayatul-Mujtahid Wa Nihayatul-muqtashid" (hal. 164).

Tetapi setalah sholat sunnah tersebut kita tidak boleh sholat witir lagi. Pandapat Jumhur ulama ini didasarkan oleh beberapa dalil. Diantaranya:

Pertama

Hadits panjang yang diriwayatkan dari 'Aisyah ra. 'Aisyah ra berkata:

ثُمَّ يُصَلِّى التَّاسِعَةَ فَيَقْعُدُ ، ثُمَّ يَحْمَدُ رَبَّهُ وَيُصَلِّى عَلَى نَبِيِّهِ ، وَيَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً يُسْمِعُنَا ، ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ
 "… kemudian Nabi saw shalat rakaat ke-9 (Witir), lalu duduk, bertahmid dan bershalawat serta berdoa kepada Allah swt lalu salam dengan salam yang membuat kami mendengarnya. Kemudian beliau SAW shalat sunnah lagi setelah salam 2 rokaat dalam keadaan duduk" (HR Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Imam Nawawi dalam Kitabnya Al-Majmu' menjelaskan bahwa hadits diatas adalah bukti (dalil) atas kebolehan sholat sunnah setelah sholat witir.

Dan 2 rokaat Nabi SAW setelah sholat witir itu bukanlah sunnah yang sering dilakukan oleh beliau saw, akan tetapi Rasul melakukan itu untuk memberitahukan kepada ummatnya bahwasanya boleh melakukan sholat sunnah walaupun sudah sholat witir. (al-Majmu' jil.4 hal. 16)

Kedua

عن أبي أمامة ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ،  كان يصلي ركعتين بعد الوتر وهو جالس ، يقرأ فيهما بـ إذا زلزلت ) و ( قل ياأيها الكافرون
Hadits dari Abi Umamah, beliau berkata bahwa: Nabi saw pernah sholat 2 rokaat sunnah dalam keadaan duduk setelah sholat witir, membaca surat “Idza Zulzilat” dan “Qul ya Ayyuhal-Kafirun”. (HR Imam Ahmad)

Ketiga

مَنْ خَشِيَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ
Hadits Jabir ra. Rasul saw pernah bersabda: "Siapa yang takut akan tidak bisa bangun malam, hendaklah ia sholat witir di awal malam" (HR Tirmidzi)

Dari hadits ini dipahami, bahwa kalau seseorang takut untuk tidak bisa bangun malam, maka ia sholat witir diawal malam. Kemudian ketika ia bisa bangun malam padahal ia sudah witir diawal malam maka dia boleh melakukan sholat malam sebagaimana biasa.

**Tidak Perlu Witir Lagi

Nah ketika kita sudah sholat witir diawal malam misalnya sebagaimana yang banyak kita lakukan dimalam-malam ramadhan ini. Kemudian kita bangun malam untuk sholat tahajjud atau yang lainnya, maka setelah sholat sunnah tersebut kita tidak perlu melakukan sholat witir lagi, karena itu dilarang oleh Nabi saw dan tidak ada witir 2 kali dalam satu malam.

لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ
"Tidak 2 witir dalam satu malam!" (HR Tirmidzi, Nasai'I, dan Abu daud) 
Dan ini berlaku bukan hanya di bulan Ramadhan saja, tapi di seluruh malam juga diluar ramadhan. Karena witir itu bukan amalan khusus di bulan puasa saja, tapi dia ada di seluruh malam.

Hanya saja kalau di bulan ramadhan ini kita jadi lebih dekat dengan sholat witir karena memang itu dikerjakan berjamaah setelah sholat tarawih. Itulah salah satu nikmatnya Ramadhan, kita bisa shalat witir yang di bulan-bulan lain susah untuk kita kerjakan.

-Wallahu A'lam-
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger