Apa Yang Harus Dicontoh dari Nabi s.a.w.? ( #MaulidulRasul Bag. 3 )

Nabi s.a.w. pribadi yang komplit layak dicontoh, dan Nabi s.a.w. yang manusia, tentunya bisa untuk kita contoh (lihat postingan hari sebelumnya). Lalu apa yang harus kita contoh dari Nabi s.a.w di zaman kekinian?

 

Pertama dan yang paling utama, tentu ibadahnya. Karena memang orang yang paling taqwa dan paling dekat kepada Allah s.w.t. dari kalangan manusia ya Nabi Muhammad s.a.w., tidak ada lagi! Jadi tidak ada lagi contoh paling nyata untuk menjadikan diri dekat kepada Allah s.w.t. kecuali ya mengikuti Nabi kita ini.

 

Kalau ada orang yang bersih hatinya, itu Nabi. Kalau ada yang paling ikhlas niatnya, pasti Nabi. Kalau ada orang yang sudah diampuni dosanya, itu juga Nabi. Kalau ada orang yang sudah dipastikan masuk surga, itu pasti Nabi s.a.w., walalu demikian Nabi s.a.w. dalam sehari tidak pernah beristighfar (meminta ampun) kepada Allah s.w.t. kurang dari 70 kali. Dalam riwayat lain, tidak pernah kurang dari 100 kali.

 

Dosanya sudah diampuni, dipastikan masuk surga, dicintai khaliq, beliau yang memimpin para ahli surga, dan beliau yang membuka pintu surga. Tapi walau demikian, beliau kalau shalat malam, kakinya sampai bengkak. Padahal sudah pasti diampuni dan masuk surga, kok masih segitunya ibadah!?

 

Nabi s.a.w. ingin mengajarkan kita untuk tidak bergantung kepada siapapun, tapi hanya kepada Allah s.w.t.. Nabi juga ingin bilang kepada kita bahwa "Kita perlu Allah!". Siapapun kita, apapun kedudukan kita, sebesar apapun pangkat kita, sebanyak apa kebaikan yang sudah kita perbuat, seberapa banyak kekayaan kita, kita tetap butuh Allah s.w.t. Jangan gantungkan nasib, dan kehidupan ini kecuali hanya kepada Allah s.w.t.

 

Nabi pasti masuk surga, tapi kalau ibadah, total dan optimal. Kita bagaimana?

 

Karenanya, dalam shahih al-bukhari dari sahabat Jabir bin Abdullah, beliau –dengan kalimat perintah- menginstruksikan kepada kita untuk shalat 2 rokaat jika memang ada hajat yang diminta atau kegelisahan yang menimpa. Walaupun secara kebiasaan, kita punya segala sesuatu untuk menangani itu.

 

Karena semuanya tidak mungkin tidak, pasti semua dibawah kontrol Allah s.w.t. maka sebagai orang yang mengaku cinta dan patuh kepada Nabi s.a.w., siapa yang kita minta ketika punya hajat? Ketika ditimpa kegalauan, siapa yang kita ingat? Dan ketika mendapat rezeki, siapa yang kita angkat?

 

Haruskah Konsisten Pada Satu Madzhab?

Apakah harus berpegang pada satu mazhab? Ataukah boleh berpegang dengan banyak mazhab?
 Sekarang ini, kita sering dibingungkan dengan adanya perbedaan beberapa mazhab yang memang sudah eksis sedari dulu. Bahkan ada beberapa kasus kekerasan yg disebabkan oleh perbedaan mazhab tersebut. Apakah perbedaan mazhab sangatlah penting dalam melakukan ibadah? Sedangkan Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak pernah mewajibkan kita untuk berpegang kepada satu pendapat saja dari pendapat yang telah diberikan ulama. Bahkan para shahabat Rasulullah SAW dahulu pun tidak pernah diperintahkan oleh beliau untuk merujuk kepada pendapat salah satu dari sahabat bila mereka mendapatkan masalah agama.

Apakah dalam menjalankan syariat agama Islam kita harus menganut satu mazhab tertentu dengan konsisten? Bagaimana contoh pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari -hari?
Jawaban

Bismillahirrohmanirrohim. Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Perlu diperhatikan bahwa yang namanya madzhab itu ada sama sekali bukan untuk membuat kaum muslim kebingungan atau apapun itu namanya, yang seakan-akan bahwa madzhab itu adalah momok menakutkan dan pihak yang paling layak disalahkan terkait banyaknya perbedaan. Justru sebaliknya, adanya madzhab itu sebagai bentuk perhatian ulama yang memang para ahli ilmu syariah terkait kekhawatiran akan adanya penyelewangan dan pemahaman keliru bahkan sesat akan teks-teks syariah, baik itu al-Quran atau juga hadits. Hadirnya mereka itu memberikan jalur atau metode serta peta yang pasti dan tidak menyesatkan dalam hal memahami apa yang ada dalam teks-teks syariah tersebut; karena memang teks-teks syariah yang ada tidak mungkin bisa dipahami secara tektual saja, dan tidak hanya dengan terjemah letterleg saja.

Sayangnya, banyak pihak yang tumpul nalar serta pendek logika menganggap bahwa keberadaan madzhab itu tidak perlu dan merepotka serta membingungkan. Akhirnya mereka berani mencoba-coba menafsiri apa yang ada dalam al-Quran serta hadits dengan nalarnya yang terbatas dan pendek, tanpa perlu merujuk kepada ulama yang otoritatif dalam hal ini. akhirnya yang terjadi adalah penyelewangan serta penyesatan pemahan atas teks syariah tersebut. Dan anehnya mereka menisbatkan pendapat-pendapat keliru mereka kepada al-Quran dan hadits, seakan ingin mengatakan bahwa merekalah yang benar dan orang lain yang berbeda pendapat serta imam-imam madzhab lain itu salah. Hanya mereka yang paling mengerti al-Quran dan hadits, sedangkan selainnya nol dalam hal memahami al-Quran dan hadits. Kelompok seperti ini yang membuat atmosfer keislam menjadi kacau, lantaran ulama-ulama muktamad serta sumber ilmu syariah dikerdilkan oleh kebodohannya.

Perbedaan itu Ada!

Nah terkait adanya perbedaan bahkan banyaknya perbedaan yang ada dalam syariah ini, harus dipahami bahwa perbedaan itu ada karena memang teks-teks syariah baik itu al-Quran atau hadits memberi peluang untuk itu. Perbedaan yang ada bukan diada-adakan, atau dibuat-buat, tapi memang karena itu ada, nyata dan bukan rekayasa. Tidak perlu jauh-jauh, coba kita bukan al-Qur'an. Di ayat pertama kitab suci ini, kita sudah dapati perbedaan itu; "bismillah itu bagian dari al-fatihah atau bukan?". "Kalau iya, kenapa dalam banyak riwayat Nabi s.a.w. tidak membacanya? Dan kalau tidak, nyatanya banyak sahabat Nabi s.a.w. yang membaca itu ketika shalat. Dan itu tertulis sebagai ayat dalam mushaf-mushaf kita."

Dari sini, kita harus tahu, bahwa dalam teks-teks syariah itu ada istilah qath'iy dan dzanniy. Qath'iy adalah teks yang tidak mungkin di dalamnya ada perbedaan; karena memang teks tersebut tidak punya arti bersayap dan dilalah-nya pasti. Sedangkan dzanniy adalah teks syariah yang masih mengundang tanda tanya, dan juga perlu intrepertasi lebih dalam untuk memahaminya. Bisa jadi karena memang ada ayat atau hadits yang mempunyai kandungan makna berbeda padahal masih dalam satu masalah, atau bisa jadi teks tersebut bersayap, punya arti lebih dari satu makna. Nah di teks-teks dzanniy inilah para ulama fiqih bekerja, meneliti, menganalisa, lalu lahirnya madzhab-madzhab yang ada seperti sekarang ini. dan apa yang sudah mereka kerjakan bukanlah pekerjaan asal jadi, melainkan pekerjaan berat penuh tanggung jawab, bahkan sampai akhirat dengan metode yang tidak asal main-main. Maka dari sini, urgensi madzhab sepertinya sedikit sudah terlihat. Seandainya tanpa madzhab tersebut, bagaimana kita memahami teks-teks dzanniy tesebut?

Haruskan Bermadzhab?

Lalu kalau pertanyaan apakah kita harus mengikut madzhab dalam menjalankan syariat ini? jawabannya bisa haram alias tidak boleh dan terlarang, tapi bisa jadi wajib alias harus, tidak bisa tidak.

Dalam kitabnya, Raudhoh Al-Nadzir wa Junnah Al-Munadzir, di bab Taqlid, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620H) menyebutkan Ijma' (Konsensus) para sahabat bahwa seorang awam wajib taqlid (mengikuti) mujtahid atau madzhab. Sama sekali tidak diwajibkan seorang awam untuk mengetahui dalil, cukup bagi seorang awam untuk mengetahui hukum suatu masalah, dan menjalankan ibadah sesuai hukum yang ia ketahui walau tidak tahu dalil. Dan cukup baginya fatwa ulama yang ia ikuti, atau guru yang ia belajar kepadanya.

Sedangkan seorang mujtahid, yang memang mampu menganalisa serta menggali hukum langsung dari al-Qur'an dan hadits, ia diharamkan mengikuti sipapun itu. Yang dia harus lakukan adalahberijtihad; karena memang ia adalah ahli dalam hal itu.

Nah, tinggal di lihat dengan penuh kesadaran diri, kita masuk dalam kategori yang mana; awam kan atau mujtahid kan kita? Apakah bisa kita memahami teks-teks syariah yang ada tanpa melirik sedikitpun kepada pemaparan dan penjelasan ulama terdahulu? Seberapa baik kemampuan bahasa arab kita? Seberapa paham kita tentang maqasihd syariah? Kalau jauh dari itu semua, maka segera sadari, kita adalah awam yang hanya bisa mengikuti ulama madzhab agar selamat dalam beragama dan tidak keliru memahami al-Qur'an serta hadits Nabi s.a.w. yang suci. Karena memang pada dasarnya, mengikuti ulama-ulama madzhab tersebut itu sama juga mengikuti al-Qur'an dan hadits Nabi s.a.w.; karena memang mereka tidak mendatangkan hukum-hukum ysriah dari otak dan nafsu mereka, akan tetapi itu semua dari al-Qur'an dan hadist Nabi s.a.w..

Konsisten Satu Madzhab?

Pertanyaan lanjutannya, apakah harus konsisten dalam satu madzhab? Ini juga masalah yang memang menjadi bahan diskusi para ulama sejak dulu. Setidaknya ada 3 pendapat ulama dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu;

Pertama, pendapat konservatif dari kelompok ulama yang mewajibkan umat Islam untuk bermadzhb satu dan tidak boleh berpindah. Kedua, pendapat kebanyakan ulama yang membolehkan dan membebaskan umat untuk memilih madzhab mana saja yang ia suka dan boleh berpindah-pindah. Ketiga, pendapat yang lebih rinci; yakni jika seorang dalam hal shalat memakai pendapat madzhab al-Syafi'i, misalnya. Maka wajib ia konsisten dalam hal tersebut; artinya dalam shalat tidak boleh mengambil pendapat lain selain al-Syafi'iyyah. Sedangkan masalah selain shalat, boleh dengan madzhab lain.

Ketiga pendapat di atas punya nilai positif dan juga yang pastinya tidak lepas dari kekurangan di beberapa sisi. Pendapat pertama ini adalah pendapat beberapa ulama di masa-masa terbentuknya madzhab-madzhab fiqih yang ada. Bahwa bagi mereka yang tidak sampai pada derajat mujtahid, wajib baginya mengikuti madzhab, tidak boleh tidak. Pendapat ini berguna agar syariah dan agama ini tidak terkotori dan terkontaminasi oleh tangan dan mulut-mulut orang jahil yang punya kemampuan minim dalam hal syariah yang coba memahami teks syariah secara tekstual tanpa merujuk kepada ulama. Serta menghindari orang muslim dari berbuat dalam syariah ini sesuai nafsu dan kesukaannya saja. Serta menutup pintu untuk lahirnya fatwa-fatwa nyeleneh dari pihak-pihak yang tidak otoritatif.

Sisi negatifnya, pendapat ini mengekang orang sehingga tidak ada pilihan lain, padahal dalam kondisi-kondisi tertentu, seorang muslim bisa saja tidak bisa mengikuti pendapat madfzhab yang diikuti karena sebab dan udzur yang mengharuskannya beralih ke pendapat lain. Terlebih lagi bahwa mengikuti satu madzhab saja, tidak punya landasan argumen kuat dari teks syariah.

Pendapat kedua ini lebih moderat dan sepertinya memudahkan. Karena memang agama ini mewajibkan kita untuk mengikuti ahli ilmu; "bertanyalah kepada ahli ilmu" (al-nahl: 34) tapi dalam perintah-Nya tidak ada pengkhususan kepada ahli ilmu manapun. Jadi selama memang ia adalah seorang mujtahid, layak untuk diikuti, dan tidak harus selalu satu, bisa dan boleh seorang muslim beralih ke ahli ijtihad yang lain. Negatifnya, pendapat ini dikhawatirkan membuka pintu fatwa prematur yang dihasilkan oleh orang-orang yang tidak mampu. Karena sudah terbiasa pindah sana sini, ia beranggapan bahwa seperti tidak ada masalah kalau ia melahirkan pendapat baru, padahal dirinya bukan orang yang layak. Sedangkan pendapat ketiga ini sejatinya sama seperti pendapat pertama, hanya saja ada perkembangannya. Dan sisi kelemahan dari pendapat ini, sama seperti kelemahan pendapat pertama.

Bagi penulis, sebaiknya seorang muslim itu dalam beribadah, segala amalnya itu punya sandaran argumen yang kuat dan bukan mengada-ngada. Karenanya, tidak dibenarkan seorang muslim beribadah dan mengamalkan ajaran agama tanpa mendapat bimbingan seorang ahli agama yang bisa menjadi akses baginya menuju para mujtahid-mujtahid yang ada. Dengan bahasa yang lebih dekat "berguru kepada guru", bukan kepada buku, apalagi laman internet yang sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan. Dengan bahasa lain madzhab awam itu madzhab gurunya. Jadi apapun yang diajarkan gurunya, itulah madzhab yang ia harus ikuti. Jangan sekali-kali mencoba untuk menafsirkan dan meneliti ayat serta hadits sendirian yang akhirnya justru menghinakan al-Qur'an itu sendiri bukan memuliakan, karena ditafsiri serampangan dengan nalar yang dangkal dan metode asal-asalan.

Wallahu a'lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
Ahmad Zarkasih, Lc.
 

Kenapa Allah s.w.t. Menjadikan Nabi s.a.w. Sebagai Contoh untuk Manusia? ( #MaulidulRasul Bag. 2 )

Selain karena Nabi Muhammad s.a.w. itu manusia, salah satu hikmah kenapa Nabi s.a.w. dijadikan contoh oleh Allah s.w.t. untuk manusia; karena memang Nabi s.a.w. adalah pribadi yang komplit dan multi. Personal yang dilihat dari segala aspek hebat, bukan hanya satu aspek. Siapapun kita, apapun beackground pendidikan serta profesi kita, semua ada dalam sosok Nabi Muhammad s.a.w..

Kalau kita adalah seorang guru, Nabi s.a.w. juga seorang pengajar. Bukankah beliau yang mengatakan itu sendiri, dalam sunan Ibn Majah dikatakan: "Innama Bu'itstu Mu'alliman"; Aku memang diutus untuk mengajar. Nabi s.a.w. diutus oleh Allah s.w.t. salah satu tugasnya memang mengajar Nabi s.a.w.

Sepanjang sejarah, Nabi s.a.w. tercatat sebagai pengajar dunia paling sukses. Beliau yang selama 23 tahun berhasil mereformasi bangsa biadab menjadi bang yang beradab. Beliau yang berhasil mereformasi bangsa bar-bar nan radikal menjadi bangsa yang penuh damai. Beliau juga yang merombak umat yang terpecah belah, menjadi umat yang bersatu. Beliau juga yang membebaskan mental bangsa yang membeda-bedakan antara hitam, putih, merdeka dan budak, menjadi bangsa yang adil tanpa diskriminasi.

Kalau kita adalah seorang tentara, Nabi s.a.w. juga memimpin perang. Beliau juga yang meracik strategi perang, dan hapir semua berujung kepada kemenangan. Luhurnya budi beliau, tidak menjadikan tawanan bagai binatang. Dan sama sekali kemenangan yang dihasilkan, tidak menjadikan beliau murka dan benci kepada lawan. Mereka tetap didakwahi dan dimanusiakan.

Kalau kita adalah seorang pengusaha, Nabi s.a.w. juga bergadang. Bahkan sejak umur 9 tahun, Nabi s.a.w. sudah melakukan ekpedisi dagang sampai ke negeri Syam (Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah). Artinya sejak kecil Nabi s.a.w. sudah menjadi pengusaha kelas Internasional. Dan sejak itu pula beliau s.a.w. mendapat gelar al-Amin dari seklilingnya. Muhammad lah pedagang yang jujur, memberitahu kepada pembeli berapa modal yang digunakan dan berapa nilai keuntungan yang ia ambil. Sampai akhirnya pengusaha Khadijad binti Khuwailid mengangkatnya sebagai profesional yang menjalankan bisnis lalu mempersuntingnya.

Kalau kita adalah pejabat atau politisi, Nabi s.a.w. juga memimpin negara. Beliau s.a.w. diplomat ulung yang bahkan sejak sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau yang berhasil mendiplomasi antar suku untuk tidak saling bertengkar. Kita pasti ingat cerita tentang rekonstruksi ka'bah yang membuat semua suku ingin mnejadi pihak yang memindahkan batu mulia "Hajar Aswad".

Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu masih berusia 35 tahun memberikan solusi dengan menggelar sebuah sorban lalu meletakkan batu mulia di atasnya, kemudian para kepala suku yang bersitegang memegang setiap sisi surban. Akhirnya semua menjadi pihak yang memindahkan batu mulia tersebut. Masalah selesai, aman, damai, ketegangan menghilang dan tanpa ada darah yang ditumpahkan.  

Beliau s.a.w. jugalah yang dengan kebijakan dan hikmahnya mempersaudarakan antara kaum Anshar di madinah dengan kaum muhajirin dari Mekah, padahal sebelumnya tidak pernah mereka kenal.

Kalau kita adalah orang tua, Nabi s.a.w. punya anak dan istri juga. Beliau pemimpin negara yang tahu bagaimana membangun romantisme dalam keluarga. Beliau juga yang mengajari kita bagaimana menjadi orang tua dan tetap bisa bermain bersama anak, cucu dan keluarga tanpa merepotkan kewibawaan seorang pemimpin negara.

Kalau kita seorang da'i, Nabi s.a.w. juga berdakwah. Beliau s.a.w. yang membuat semua orang yang didakwahi menyebut-nyebut namanya bahkan ribuan tahun setelah beliau wafat. Siapa yang dakwahnya bisa sesukses dakwah beliau?

Tanpa cacian, makian, hinaan, kebencian serta kebohongan, beliau s.a.w. menjadikan manusia berbondong-bondong masuk Islam (Afwajaa). Beliau mengajari para utusannya untuk berdakwah mulai dari hal dasar, tanpa menyusahkan dan menakuti-nakuti, tapi beri kabar gembira. Beliau juga yang marah ketika tahu ada salah seorang sahabat yang menyusahkan jemaah shalat karena terlalu lama membaca surat dalam shalat.

Ini pribadi yang komplik, multi, dari segala aspek hebat. Di masjid hebat, di pasar hebat, di rumah pun hebat, di medan perang hebat. Beliau benar-benar merepresentasikan "Uswah Hasanah". Apapun profesi kita, rugi kalau tidak mengikuti beliau s.a.w.

-allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad-
 

Kenapa Allah s.w.t. Menjadikan Nabi s.a.w. Sebagai Contoh untuk Manusia? ( #MaulidulRasul Bag. 1 )

Apa Hikmah Nabi Muhammad s.a.w. dijadikan contoh oleh Allah s.w.t untuk sekalian manusia?

Kalau ada orang yang memelihara ayam, lalu ayamnya dilatih untuk bisa berkicau seperti burung kenari, orang sekitarnya pasti akan bilang kalau ia orang gila. Pun kalau ada orang yang punya kucing, lalu diperintah agar bisa mengaung seperti singa, berarti orang itu tidak waras. Sama juga gilanya, jika ada instruktur gajah mengajari gajah bagaimana caranya memanjat pohon sepintar monyet.

Itu dia kenapa Allah s.w.t. menjadikan Nabi s.a.w. manusia; agar bisa diikuti oleh manusia! Manusia, ya memang mengikuti manusia. Bukan malaikat, bukan juga dewa. Ini sejalan dengan firman Allah s.w.t. dalam surat al-Isra ayat 95; "kalau saja di bumi itu yang hidup adalah malaikat, niscaya Allah turunkan satu malaikat sebagai Rasul bagi mereka".

 Maksudnya, agar mudah mengikuti siapa yang memang harus diikuti. Artinya memang tidak ada celah lagi bagi mereka yang menolak mengikuti Nabi s.a.w.; karena Nabi s.a.w. sama manusianya.

 Walau demikian, Nabi s.a.w. manusia yang tidak seperti manusia lainnya. Ulama menyebutnya dengan istilah "Basyarun Laa kal-Basyar", manusia memang tapi tidak seperti manusia biasa. Beliau s.a.w. punya keistimewaan yang mana itu menjadi ciri juga sebagai mu'jizat yang membuktikan kenabiannya.

Contohnya; dalam riwayat Imam Muslim dan juga al-Bukhari bahwa Nabi s.a.w. memang tidur, akan tetapi tidur hanya matanya saja. Hatinya tetap terjaga berdzikir. Berbeda dengan manusia biasa yang tidurnya total dan optimal dengan makna yang sebenarnya.

Nabi s.a.w. dalam banyak riwayat termasuk riwayat Imam Muslim, keringatnya itu wangi. Dan memang dijadikan wewangian bagi para sahabat yang lain. Bahkan –masih dalam riwayat Imam Muslim- salah seorang sahabat juga bertabarruk (mengambil berkah) dari air cucian baju Nabi s.a.w. sebagai penawar penyakit. Beliau s.a.w. juga pernah mengobati salah seorang sahabatnya dengan air bekas wudhunya, lalu diusapkan ke kepala sahabat yang sakit tersebut.

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi, disebutkan bahwa Nabi s.a.w. itu cahaya, karenanya tidak pernah sahabat siapapun itu yang melihat bayangan Nabi s.a.w., baik siang yang terpantul sinar mtahari. Atau juga malam karena pantulan sinar bulan. Tidak ada. Nabi s.a.w. tidak punya bayangan, karena memang beliau adalah cahaya itu sendiri.

Nabi s.a.w memang manusia, tapi bukan seperti manusia biasa. Sama seperti batu yang jadi mata cincin, sama-sama batu dengan batu koral juga batu bata, tapi batu cincin punya kualitas.

Pada intinya, Nabi s.a.w. –dengan segala kelebihannya- adalah manusia, dan kita diperintah untuk mengikuti manusia, bukan malaikat. Nabi s.a.w. bernafsu, sama seperti kita. Nabi s.a.w. bisa senang, begitu juga marah, sama seperti kita. Artinya kita bisa mengikuti Nabi s.a.w..

Karenanya, sejak diutus, Nabi s.a.w. selalu mengajari kita untuk menjadi manusia dalam segala hal, termasuk dalam ibadah. Pasti kita ingat, dalam shahih al-Bukhari diceritakan tentang 3 orang yang ber-tabattul, datang kepada Nabi s.a.w. lalu yang pertama mengatakan: "Rasul! Saya sepanjang malam, shalat dan beribadah tidak pernah tidur." Yang kedua juga mengatakan: "Rasul! Saya puasa sepanjang masa, tidak pernah berbuka!". Yan ketiga juga bilang: "Rasul! Saya membujang dan tidak akan pernah menikah!".

Mendengar itu Rasul s.a.w. menjawab: "aku adalah orang yang paling takwa, tapi aku juga tidur kalau malam, tidak melulu shalat. Aku juga puasa, tapi juga berbuka. Tidak setiap hari puasa. Aku juga menikah. Dan siapa yang menolak sunnahku, ia bukan dari golongan ku.!".

Bersambung .... 
 

Qabliyah Jumat, Emang Ada?

Perkara qabliyah jumat ini sejak lama sudah ada perselisihan pendapatnya, yakni antara jumhur ulama dengan madzhab imam Ahmad bin Hanbal. Jumhur merujuk kepada beberapa teks yang menginformasikan itu, bahwa Nabi s.a.w. dan sahabat melakukan qabliyah. Imam Ahmad memahami itu berbeda, apa yang dikerjakan bukan qabliyah jumat, akan tetapi itu adalah shalat sunnah zawal.

Selain berbeda dalam memahami teks yang ada, jumhur dan madzhab al-hanabilah juga berbeda dalam memahami jumat itu sendiri. Bagi jumhur, jumat itu pengganti zuhur dengan bukti bahwa jika orang tertinggal jumat, entah itu sakit, tertidur atau karena memang ia orang yang bukan wajib jumatan, mereka wajib shalat zuhur.

Terlebih lagi bahwa waktu jumat pun waktunya sama seperti zuhur, yakni ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat (zawal). Maka hukum yang ada pada zuhur, berlaku juga (walau tidak semua) untuk jumatan. Salah satunya ialah adanya qabliyah itu sendiri.

Imam Ahmad melihat berbeda, jumat bukan zuhur. Zuhur tidak disyaratkan berjamaah, dan jumat ada syarat berjamaah yang tidak boleh tidak. Diperkuat lagi bahwa waktu jumat itu bukan waktu zuhur, tapi waktu zuhur itu mulainya waktu dhuha. Dan banyak teks syariah yang menunjukkan itu. 

Pandangan ini juga berimbas pada hukum-hukum lainnya, seperti bolehnya menjama (jama' taqdim) jumat dengan ashar dalam pandangan jumhur. Akan tetapi tidak ada kebolehan menjama' jumat dengan ashar dalam pandangan al-Hanabilah. Tidak ada alasan menjamak jumat dengan ashar.

Kesimpulannya memang masalah qabliyah jumat ini masalah yang sejak awalnya sudah tidak disepakati. Mau ditarik ke kanan atau ke kiri sama saja, tidak ada yang keluar sebagai pemenang. Maka santai saja dalam menyikapi ini. tidak perlu ada yang saling menyalahkan apalagi sampai menghina.

Kita lihat, diantara 4 imam madzhab lainnya, beliau hidup di masa yang terakhir. Beliau hidup, Imam Abu Hanifah sudah wafat, Imam Malik juga sudah dikubur, dan Imam Syafi'i juga sudah lebih banyak pengikutnya. Artinya Imam Ahmad hidup di masa di mana pendapat bahwa adanya qabliyah jumat itu sudah establish dan diketahui secara umum oleh masyarakat. Tapi tidak pernah ada kata dari Imam Ahmad bahwa shalat qabliyah jumat itu bid'ah yang terlarang dilaksanakan dan yang mengerjakannya mendapatkan dosa. Tidak ada. Kita tidak pernah temukan itu.

Dan ulama-ulama dari kalangan jumhur pun begitu ramah. Kita tidak mendapati mereka dalam kitab-kitab mulia mereka menyalahkan Imam Ahmad dan ulama Hanabilah karena tidak memasukkan qabliyah jumat sebagai sunnah jumat. Tidak ada. Tak sekalipun kita dapati mereka menghina dan menyalahkan satu sama lainnya.

Maka, yang qabliyah ya monggo. Yang tidak suka itu juga tidak masalah. Agama ini membolehkan adanya perbedaan, tapi agama ini tidak merestui adanya permusuhan dan kebencian. –wallahu a'lam-
 

Nabi s.a.w Tidak Anti Kepada Non-Muslim

Kaidah bertetangga itu sama di semua Negara, semua bangsa, juga di semua budaya; bahwa orang yang baik dengan tetangga, murah senyum, tidak jarang berkunjung, suka menyapa, ramah, dan rajin berbagi pastinya akan mendapat kebaikan pula dari sekelilingnya. Dan begitu juga sebaliknya, siapa yang jahat terhadap tetangga, buruk sikap, kasar perangai, pelit senyum, dan ogah menyapa, begitu juga yang akan ia dapatkan dari sekelilingnya.

Orang yang baik terhadap tetangga, pastinya akan banyak disukai oleh tengga lainnya. Dan bentuk kebaikan yang diperoleh pun bisa bermacam-macam, seperti dikirimi makanan oleh tetangga, ketika ada keperluan, tidak sedikit tetangga yang rela menolong, ketika susah pun banyak tangan tetangga yang menjulur sambil menawarkan bantuan. Anaknya pun –kalau memang punya anak- itu mnejadi anak juga bagi tetangganya; menjaga dan menasehati dari keburukan. Begitu yang biasanya didapatkan oleh orang baik, dan itu semua kita saksikan di tengah masyarakat kita.

Berbeda dengna orang yang perangainya buruk, dan jahat kepada tetangga. Jangankan untuk ditegur atau disapa tenggal lain, ketika ia lewat pun tetangga ogah menemuinya, sampai-sampai tidak sedikit yang akhirnya tutup pintu rumah ketika si jahat itu lewat. Bisa karena memang tidak suka, atau mungkin saja khawatir ada keburukan yang dihasilkan.

Nah, dalam hal bertetangga, Rasul s.a.w. adalah contoh terbaik tentang orang yang baik dalam bergaul terhadap tetangga, sehingga menjadi tokoh yang dicintai bagi tetangga. Dan itu bukan hanya terhadap yang muslim, non-muslim sama diperlakukan dengan baik oleh Nabi s.a.w.. bukti nyatanya banyak kita dapati dalam kitab-kitab hadits bahwa Nabi s.a.w. mendapat fitback kebaikan dari tetangganya, bahkan yang non-muslim.

Nabi s.a.w. Diundang Makan oleh Yahudi

Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya, dari sahabat Anas bin Malik r.a., beliau menceritakan bahwa Nabi s.a.w. pernah diundang oleh orang yahudi untuk makan, dan Nabi s.a.w. memenuhi undangan tersebut.

عن أَنَسٍ أَنَّ يَهُودِيًّا دَعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ فَأَجَابَهُ
Dari Anas bin Malik r.a., seorang yahudi mengundang Nabi s.a.w. untuk bersantap roti gandum dengan acar hangat, dan Nabi s.a.w. pun memenuhi undangan tersebut. (HR Imam Ahmad)

Ini salah satu bukti bahwa memang Nabi s.a.w. adalah tetangga yang baik bagi tetangga yang lainnya. Sampai-sampai, orang non-muslim yang tidak sepaham dengan agama Nabi s.a.w. saja mau mengundang Nabi s.a.w. untuk makan di rumahnya. Dan ini tidak mungkin terjadi jika Nabi s.a.w. memperlakukan tetangganya dengan buruk, kurang bergaul, ogah menyapa. Undangan ini jelas memberitahukan kita bahwa Nabi s.a.w. itu orang yang baik kepada semuanya, termasuk non-muslim. Beliau s.a.w. sama sekali tidak anti kepada non-muslim apalagi memusuhinya. Bukankah Nabi s.a.w. itu diutus untuk kebaikan semua makhluk?

Berwudhu Dengan Air dan Bejana Orang Musyrik

Bukan hanya itu, dalam riwayat imam al-Bukharo dan Muslim pun disebutkan:
وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ امْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari 'Imron bin Hushain r.a.., beliau berkata: "Rasulullah s.a.w. bersama para sahabatnya berwudhu dengan air dari bejana wanita musyrik". Muttafaq 'alaiyh 

Mungkin kalau urusan undangan makan, tidak begitu sensitive, karena memang masalahnya umum dan masih dikatakan wajar, walaupun sejatinya itu menakjubkan. Akan tetapi lebih mekjubkan lagi bahwa ada orang musyrik di zaman Nabi s.a.w. rela meminjamkannya bajanya untuk wudhunya Nabi s.a.w. dan para sahabat, padahal wudhu itu ibadah. Ibadah yang jelas-jelas bertentangan dengan kepercayaan wanita musyrik tersebut.

Kita berandai-andai, seandainya saja gaya bergaulnya Nabi s.a.w. kepada musyrik itu kasar, ganas, dan bengis, tidak mungkin wanita musyrik itu rela meminjamkan bejananya dan jug airnya dipakai untuk ibadah, untuk ritualnya orang Islam yang jelas menyimpang dari ajaran nenek moyangnya. Tapi kenapa wanita itu mau? Tentu karena memang Nabi s.a.w. .dan para sahabat adalah orang yang baik dan sopan dalam bertetangga. Tidak meledak-meledak, tak gampang menghina, dan pastinya murah senyum.

Pembantu Nabi s.a.w., Seorang Anak Yahudi

Ada lagi. Dulu Nabi s.a.w. punya ART (Asisten Rumah Tangga) seorang anak laki-laki Yahudi, bukan Islam. Suatu saat anak Yahudi ini sakit dan tidak masuk kerja, akhirnya Nabi s.a.w mengunjunginya di rumah anak Yahudi itu. Sampai di rumahnya, ada ayah anak itu yang juga sama-sama enganut Yahudi sedang menunggu sang anak. Setelah meminta izin kepada sang ayah, Rasul s.a.w. mendekati anak tersebut lalu mengajaknya untuk bersyahadat; masuk Islam. Diajak masuk Islam, anak itu bingung karena ada sang ayah di dekatnya. Sesekali melirik ayahnya, sesekali melirik Nabi s.a.w., sampai akhirnya sang ayah berbicara: "Anakku! Taati Abu Qasim (Muhammad)!". Mendapat izin dari ayahnya, anak itu bersyahadat. Kemudian Nabi s.a.w. keluar dari rumah sambil mengucapkan: "Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan anak itu dari neraka dengan wasilahku".

Poin dari cerita dari hadits yang termaktub dalam shahih al-Bukhari dari sahabat Anas bin Malik ini, mari kita berfikir sejenak. Agama adalah identitas setiap diri yang siapapun dia pasti akan membela agamanya jika ia dihina, dan siapapun dia pasti akan marah jika disuruh untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Tapi lihat bagaimana relanya sang ayah yang seorang Yahudi membiarkan anaknya melepaskan agama dan kepercayaan nenek moyangnya hanya karena seorang Muhammad s.a.w.

Kita berandai-andai sekarang, kira-kira jika Nabi s.a.w. ketika bergaul dengan orang non-muslim dengan keras dan bengis, asal hantam, mulut kotor doyan mencaci, apakah mau seorang yahudi membiarkan anaknya ikut kepada Muhammad? Tidak mungkin! Itu bukti nyata bagi kita –yang mengaku cinta dan mengikuti Nabi s.a.w.- bahwa apa yang dilakukan Nabi s.a.w. dalam menyampaikan agama ini bukan dengan caci maki, prasangka, dusta, kebencian, Nabi s.a.w. menyampaikan agama ini dengan cinta dan kasih sayang; karena memang tujuan dakwah ini adalah mengajak orang lain menuju kepada sang Maha cinta dan Sayang. Bagaimana bisa mengajak kepada cinta tapi dengan kebencian?

Tidak Ada Larangan Berbuat Baik Kepada Non-Muslim

Dalam syariat ini pun sudah sangat jelas dan nyata diterangkan, bahwa tidak ada larangan bagi kaum muslim untuk berbuat baik kepada non-muslim, bertetangga, bergaul juga bersahabat, selama memang non-muslim tersebut tidak mengajak kepada kemaksiatan atau juga tidak melarang kita untuk beribadah. Begitu jelas disebutkan dalam al-Qur'an surat al-Mumtahanah:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)
[8]. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. [9]. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Nah itu Nabi s.a.w. kepada orang lain yang bukan Islam, begitu sangat baiknya Nabi s.a.w. kepada mereka. tentu akan jauh lebih baik lagi kepada muslim. Dan ini yang harus dilakukan oleh orang muslim yang mengaku mengampuh beban dakwah, sampaikah kepada orang lain dengan cinta, bukan dengan kebencian. Maka wajar saja salah seorang ulama menyatakan: "bukan ulama jika ia melihat orang yang berbeda dengannya sebagai musuh!". Karena memang ulama pasti tahu bagaimana mengejawantahkan sifat Nabi s.a.w. ke dalam metode dakwahnya. Bukan dengan kebencian pastinya.

Dalam riwayat Imam Turmudzi, Rasul s.a.w. memberikan wejangan:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
 "bertaqwalah dimanapun kalian berada, dan ikutilah keburukan dnegan kebaikan, niscaya ia akan menghapus keburukan tersebut. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik."

Hebatnya, Nabi s.a.w. di dalam hadits ini tidak mengatakan "pergaulilah saudara muslim", justru Nabi s.a.w. mengatakan "Khaliqi-Naas" (pergaulilah manusia). Artinya berbuat baik itu tidak hanya terkotakan hanya kepada sesame muslim, tapi seluruh umat manusia. Siapapun dia, selama statusnya masih manusia, seorang muslim wajib berbuat baik kepadanya. Kalau manusia yang tidak jelas agamanya saja muslim harus berbuat baik, apalagi kepada sesama muslim? Tentu jauh lebih wajib lagi karena ada kesaaam tujuan, yakni Allah s.w.t.. Kita diikat dengan kalimat yang tidak mungkin terlepas sampai hari kiamat, yakni kalimat Tauhid. Lalu apa alasannya kita merusak kalimat itu dengan kebencian dan prasangka?

Wallahu a'lam
 

Memberi dan Menjawab Salam Non-Muslim, Bolehkah?

Masalah memberikan salam kepada non-muslim, belakangan menjadi masalah yang banyak dipermasalah, mungkin maklum, karena memang belakangan ada sekelompok orang yang mengatas namakan Islam, akan tetapi begitu bencinya kepada non-muslim, padahal syariat tidak mengajarkan kebencian.

Nah dalam masalah ini, ada 2 masalah yang tidak mungkin bisa dilepaskan; yakni memberi salam kepada non-muslim, atau memulai salam kepada mereka. dan masalah menjawab salam dari mereka jika mereka mengucapkan salam.

1.   Memulai memberikan salam.


Al-Hanafiyah dan al-Malikiyah, tidak melarang mendahului memberi salam kepada non-muslim, hanya saja dimakruhkan. Dan redaksi salamnya: [السلام على من اتبع الهدى]"al-salamu 'ala man ittaba'a al-huda" (keselamatan bagi yg mengikuti petunjuk).

Al-syafiiyah dan Al-Hanabilah mengharamkan mendahului salam kepada non-muslim. Haram hukumnya mendahului memberi salam. Yang dibolehkan hanya dengan salam-salam sapaan biasa, seperti selamat pagi, have a nice day dst. Intinya tidak dengan redaksi salam defaultnya muslim.

Ini karena memang ada larangan dalam hadits Imam Muslim tersebut;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلا النَّصَارَى بِالسَّلامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ  
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. Bersabd: "Janganlah kalian yang memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit." (HR. Muslim)


 Akan tetapi al-Malikiyah dan al-Hanafiyah memahami hadits tersebut berbeda. Bagi mereka, salam itu sebuah penghormatan, bukan doa. Karena memang bukan doa, hanya sebuah kehormatan, tidak masalah menghormati non-muslim jika memang diperlukan, walaupun sejatinya tidak ada kehormatan bagi kafir. Intinya boleh ngasi salam, tapi makruh. (al-Fawakih al-Diwani 2/326, Radd al-Muhtar 6/412)

Sedangkan hadits Imam Muslim tersebut, tidak bisa dipahami sebagai larangan yang umum; karena redaksi haditsnya menunjukkan bahwa hadits itu ditujukan kepada 'pemusuh' Islam atau dalam keadaan tidak berdamai (berperang). Lihat ujung haditsnya Nabi melarang memberi jalan bagi non-muslim. Itu tidak sejalan dengan kaidah sikap muslim dalam keadaan damai terhadap non-muslim sekalipun, muslim tetap wajib berbuat baik. dalam surat al-Mumtahanah, ayat 8-9 dinyatakan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (9)
[8]. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. [9]. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

2. Menjawab Salam Non-muslim.

Kalau nyatanya non-muslim yang lebih dulu memberi salam, kondisinya jadi berbeda, hukumnya pun tidak sama. Jumhur ulama 4 madzhab sepakat akan kebolehan menjawab salam tersebut, bahkan al-Syafi'iyyah dan al-Hanabilah mewajibkan menjawab salam mereka. ini dijelaskan dalam hadits Nabi s.a.w. dari sahabat Anas bin Malik r.a.:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ
"jika kalian diberi salam oleh Ahli Kitab, maka katakanlah: 'wa 'alaikum'!". (HR al-BUkhari)

Dalam hadits al-bukhari yang disebutkan di atas, kewajiban muslim menjawab salam non-muslim itu hanya dengan "wa'alaikum" (bagimu juga begitu). Tapi ini tidak bisa dipahami begitu saja, yang nantinya jika ada kerabat non-muslim memebri salam jawabnya hanya dengan ya begitu juga bagimu!". Bukan seperti itu yang dipahami oleh ulama.

Ini harus dilihat bahwa dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat Ibnu Umar r.a.;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْيَهُودَ إِذَا سَلَّمُوا عَلَيْكُمْ يَقُولُ أَحَدُهُمْ السَّامُ عَلَيْكُمْ فَقُلْ عَلَيْكَ  
Rasul s.a.w. bersabda: "jika orang-orang Yahudi memberi salam kepada kalian, mereka memberi salam dengan 'al-saami 'alaikum', maka katakanlah: ''alaik'!." (HR Muslim)

Disebutkan sebab kenapa Muslim diperintahkan mengucapkan seperti itu; karena memang dulu, non-muslim memberi salam kepada muslim ketika itu dengan kalimat yang buruk. Redaksinya "al-Saamu 'alaikum", (kebinasaan atas kalian). Nah karena redaksi salamnya begitu, Nabi perintahkan muslim cukup dengan menjawab "wa'alaik" atau "wa'alaikum" saja.

Di sini Nabi juga mengajarkan adab. Walaupun si non-muslim mendoakan kebinasaan, Nabi s.a.w. mengajari kita untuk jangan ikut-ikutan mengotori mulut dengan doa yang buruk. Karenanya Nabi s.a.w. hanya memerinahkan, "Cukup dengan wa'alaikum". Indah sekali bagaimana Nabi s.a.w. mengajarkan adab, bahkan kepada orang yang sudah berbuat buruk.

Masih dalam kitab shahih al-bukhari, pada bab al-isti'dzan ketika membahas tentang hadits-hadits 'bagaimana menjawab salam non-muslim'. Diceritakan bahwa sayyidah 'Aisyah ketika itu sedang berada di rumah bersama Nabi s.a.w., lalu sekelompok orang Yahudi datang dan memberi salam dengan buruk, yakni dengan redaksi [السام عليكم] "al-Saamu 'alaikum" (kebinasaan atas kalian). Marah dengan sapaan tersebut, sayyidah 'Aisyah lalu dengan geram menjawab: [وعليكم السام واللعنة] wa'alaikum al-Saamu wa al-la'nah (bagi kalian juga kebinasaan dan laknat). Mendengar sayyidah 'Aisyah yang marah, Rasul kemudian berkata kepadanya:

مَهْلاً، يَا عَائِشَةُ فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
"tenang saja wahai 'Aisyah, sesungguhnya Allah s.w.t. cinta kelemah lembutan dalam segala perkara".

Kemudian Nabi s.a.w. menjelaskan, bahwa menjawab salam seperti itu cukup dengan kalimat "wa'alaikum", tidak perlu marah sambil melaknat. Karena memang Allah s.w.t. cinta kesantunan dan kelemah lembutan dalam segala perkara. Lihat bagaimana luhurnya akhlak Nabi s.a.w., yang harusnya kita meneladani itu!

Lalu bagaimana, zaman sekarang non-muslim banyak yang mengucapkan salam mirip dengan muslim, dengan redaksi as-Salamu 'alaikum ... ?

Nah ini hukumnya berbeda dengan yang di atas. Kalau memang benar mereka memberi salam "Al-Salamu 'alaikum ... ", muslim juga wajib mejawabnya dengan yang sama; "wa'alaikum salam ... ". Ini yang dijelaskan oleh Imam Ibn al-qayyim dalam kitabnya "Ahkam Ahl Dzimmah" (2/425). Beliau menjelaskan bahwa menjawab salam setara dengan apa yang disebutkan oleh non-muslim tersebut adalah bentuk berbuat adil, dan berbuat baik, yang mana muslim punya kewajiban untuk itu;

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (al-nahl)

Kewajiban menjawab salam dengan yang setara juga berangkat dari ayat 86 surat an-Nisa. Bahwa Allah memerintahkan kita untuk menjawab salam jika diberi salam dengan salam yang lebih atau setara.

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
"86. apabila kamu diberi penghormatan (salam) dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu". (an-Nisa').

Wallahu a'lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ahmad Zarkasih, Lc.
 

Persatuan Islam Hanya Impian, Jika ...

Dulu Nabi s.a.w. punya ART (Asisten Rumah Tangga) seorang anak laki-laki Yahudi, bukan Islam. Suatu saat anak Yahudi ini sakit dan tidak masuk kerja, akhirnya Nabi s.a.w mengunjunginya di rumah anak Yahudi itu. Sampai di rumahnya, ada ayah anak itu yang juga sama-sama enganut Yahudi sedang menunggu sang anak. Setelah meminta izin kepada sang ayah, Rasul s.a.w. mendekati anak tersebut lalu mengajaknya untuk bersyahadat; masuk Islam. Diajak masuk Islam, anak itu bingung karena ada sang ayah di dekatnya. Sesekali melirik ayahnya, sesekali melirik Nabi s.a.w., sampai akhirnya sang ayah berbicara: "Anakku! Taati Abu Qasim (Muhammad)!". Mendapat izin dari ayahnya, anak itu bersyahadat. Kemudian Nabi s.a.w. keluar dari rumah sambil mengucapkan: "Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan anak itu dari neraka dengan wasilahku". 

Poin dari cerita ini, mari kita berfikir sejenak. Agama adalah identitas setiap diri yang siapapun dia pasti akan membela agamanya jika ia dihina, dan siapapun dia pasti akan marah jika disuruh untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Tapi lihat bagaimana relanya sang ayah yang seorang Yahudi membiarkan anaknya melepaskan agama dan kepercayaan nenek moyangnya hanya karena seorang Muhammad s.a.w.

Kita berandai-andai sekarang, kira-kira jika Nabi s.a.w. ketika bergaul dengan orang non-muslim dengan keras dan bengis, asal hantam, mulut kotor doyan mencaci, apakah mau seorang yahudi membiarkan anaknya ikut kepada Muhammad? Tidak mungkin! Itu bukti nyata bagi kita –yang mengaku cinta dan mengikuti Nabi s.a.w.- bahwa apa yang dilakukan Nabi s.a.w. dalam menyampaikan agama ini bukan dengan caci maki, prasangka, dusta, kebencian, Nabi s.a.w. menyampaikan agama ini dengan cinta dan kasih sayang; karena memang tujuan dakwah ini adalah mengajak orang lain menuju kepada sang Maha cinta dan Sayang. Bagaimana bisa mengajak kepada cinta tapi dengan kebencian?

Nah itu Nabi s.a.w. kepada orang lain yang bukan Islam, begitu sangat baiknya Nabi s.a.w. kepada mereka. tentu akan jauh lebih baik lagi kepada muslim. Dan ini yang harus dilakukan oleh orang muslim yang mengaku mengampuh beban dakwah, sampaikah kepada orang lain dengan cinta, bukan dengan kebencian. Maka wajar saja salah seorang ulama menyatakan: "bukan ulama jika ia melihat orang yang berbeda dengannya sebagai musuh!". Karena memang ulama pasti tahu bagaimana mengejawantahkan sifat Nabi s.a.w. ke dalam metode dakwahnya. Bukan dengan kebencian pastinya.

Kita setiap hari berteriak "persatuan islam!", "Umat islam harus bersatu!", dan teriakan-teriakan semisalnya yang penulis pribadi agak geli mendengar dan melihatnya. Berteriak persatuan Islam, akan tetapi apa yang dilakuakn justru bukan membuat persatuan itu terwujud, malah menghancurkan persatuan. Kalau memang ingin sekali bersatu, maka jalankan cara-cara bersatu itu sebagaimana yang sudah Nabi s.a.w. contohkan. Saling berbuat baik, saling memafkan, jauhi prasangka buruk, jangan memandang saudara sebagai musuh. Nyatanya, semua instrument persatuan jutsru tidak dilaksanakan oleh mereka yang mengajak bersatu itu. Sungguh aneh.
 

Awam Wajib Taqlid

Kitab Bulughul-Maram yang dikarang oleh Imam Ibnu Hajsr al-'Asqalni mendapat banyak respon dari ulama lain di masanya dan juga masa setelahnya. Banyak ulama yang kemudian mensyarah (menjelaskan) hadits-hadits Ahkam yang terkumpul dalam kitab Bulghul-Maram tersebut.

Di antara kitab-kitab pensyarah yang masyhur dan banyak menjadi rujukan adalah kitab "Ibanatul-Ahkam", karangan al-Sayyid Alawi 'Abbas al-Malikiy. Beliau adalah ayah kandung dari ulama yang juga masyhur dengan banyak kitabnya, yakni al-Sayyid Muhammad 'Alawi al-Malikiy.

Yang menarik adalah, di mukaddimah Ibanatul-Ahkam ini, al-Sayyid 'Alawi menerangkan tentang bagaimana buruknya fenomena awam yang berani-berani langsung menggali hukum dari al-Quran dan Hadits dengan menganggap bahwa memang semua orang termasuk awam harus paham dalil, baik al-Quran dan juga hadits. Yang pada akhirnya keberanian mereka itu melahirkan pemahaman keliru dan fatwa prematur, walhasil banyak penyelewangan hukum karena memang perkara ijtihad dijalankan oleh yang bukan ahlinya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa orang yang menganggap wajib ijtihad bagi semua orang dan haramnya taqlid kepada mujtahid, atau juga wajib bagi semua muslim termasuk awam mengerti dalil dan teks-teks syariah itu ada karena 2 hal:Bisa jadi ia tidak tahu bagaimana tingginya ijtihad, dan rumitnya memahami teks syariah. Atau yang kedua, yakni ia tidak mengetahui kadar kemampuan dirinya sendiri.

Beliau meneruskan, bahwa kalau saja memang semua orang termasuk awam itu boleh berijtihad, tentunya kita akan mendapatkan riwayat itu dari para sahabat Nabi s.a.w.. Beberapa nama yang menonjol dan sampai pada kita tentang riwayatnya tersebut bukti bahwa tidak semusa sahabat berijtihad, padahal mereka orang yang hidup bersama Nabi s.a.w., menyaksikan turunnya wahyu, mendengar sabda Nabi s.a.w. dan juga mereka tentu sangat paham betul bahasa Arab.

Akan tetapi ketika mereka ingin mengetahui sebuah hukum masalah, mereka mendatangi pata sahabat-sahabat Nabi s.a.w. yang memang punya derajat keilmuan tinggi. Dan mereka yang punya keilmuan pun menjawab. Mestinya kalau memang wajib ijtihad, mereka perintahkan pata sahabat yang bertanya itu untuk berijtihad.

Beliau melanjutkan, kalau awam berijtihad, lalu bagaimana dengan ayat "Fas'alu Ahla-Dzikri ..."?, karena memang tidak semua orang mampu menggali hukum dari teks-teks langsung kecuali melalui jalan ulama yang mengerti. Dan kalau seandainya awam juga wajib berijtihad, tentu awam-awam di 3 generasi emas lebih layak diikuti dibandingkan awam zaman sekarang. Toh generasi awal itulah yang mendapatkan legitimasi nabawi bahwa mereka lah generasi terbaik.

Tapi toh nyatanya, yang dilakukan mereka zaman itu juga mengikuti siapa yang lebih mengerti, tidak ada yang berani menghinakan al-Quran dan hadits dengan menggalinya langsung tanpa alat yang memadai.

Tentu kita ingat bagaimana kejadian wafatnya salah seorang sahabat karena ia mendapatkan fatwa dari kalangannya bahwa tidak ada keringanan baginya ketika junub kecuali tetap mandi, padahal ia dalam keadaan sakit. Akhirnya ia amalkan dan kemudian wafat.

Kita juga tahu, bahwa dulu juga ada sahabat yang berguling-guling di tanah karena menganggap begitulah teknis tayammum untuk mengganti air pada mandi janabah. Akan tetapi apakah itu diikuti?

Wallahul-musta'an
-rahimallahu al-sayyid 'Alawi bin Abbas al-Maliky rahmah wasi'ah-
 

Siapa Yang Dikatakan Lalai Shalat?

Orang dikatakan melalaikan shalat itu jika ia mengakhirkan shalat sampai masuk shalat selanjutnya, artinya memang ia tidak melaksanakan shalat di waktunya. Ini yang dipahami dari hadits Abu Qatadah r.a. dalam riwayat Imam Muslim.

Kalau hanya mengakhirkan shalat, lalu shalat di tengah atau akhir waktu, atau juga menundanya lalu shalat di ujung waktu, itu tidak dikatakan sebagai orang yang melalaikan shalat. Ya dia melalaikan, tapi bukan melalaikan shalat, akan tetapi ia hanya melalaikan waktu utama shalat; awal waktu.

Tidak elok jika orang yang menunda shalat dikatakan sebagai yang melalaikan shalat, toh dia tetap shalat, di waktunya yang sah pula. Kurang baik juga mengatakan begitu, karena dalam surat al-Ma'un, orang yang lalai shalat itulah yang dapat jatah neraka 'wail'.

Karena itu penting juga mengetahui bahwa jenis kewajiban shalat itu adalah wajib muwassa' yang kewajiban luas dalam satu term waktu yang cukup panjang, yakni sampau waktu shalat selanjutnya. Kecuali shalat subuh.

Wallahu a'lam
 

Kurban Hukumnya Sunnah Kifayah

Selain madzhab al-Hanafiyah, kesemua ulama madzhab menyepakati hukum kurban itu sunnah yang sangat digalakkan, yakni sunnah muakkadah. Tapi, madzhab al-Syafiiyah punya rincian yang lebih unik tentang kesunahan tersebut.

Dalam madzhab ini, hukum sunnah berkurban itu punya 2 varian; Sunnah 'Ain dan juga sunnah Kifayah. Sunnah Kifayah itu hukum kurban bagi sebuah keluarga, artinya jika ada salah satu dari keluarga, baik suami atau istri atau juga anak sudah berkurban, maka itu sudah cukup bagi keluarga, dan hilang kemakruhan jika tidak berkurban.

Sebaliknya, kemakruhan tertimpa kepada seluruh anggota keluarga tersebut, jika tidak ada satu dari mereka yang berkurban, padahal mereka mampu. Ini sunnah Kifayah.

Ini yang difahami oleh ulama madzhab Imam Al-Syafii terkait kurbannya Nabi s.a.w. yang mana beliau berkurban 2 domba; Satu untuknya dan keluarganya, dan yang satu lain untuknya dan ummatnya. Nabi s.a.w. di domba pertama sebagai kepala keluarga, yang mana satu domba itu cukup baginya dan juga istri-istrinya. Dan kambing kedua, Nabi s.a.w. sebagai pemimpin umat, mewakili umatnya yang tidak mampu.

Hadits tersebut tidak bisa dipahami bahwa satu kambing bisa untuk lebih dari satu orang. Karena -dalam banyak literasi, terutama al-Malikiyah- ulama melihat kurban sebagai hadiah khusus seorang Hamba kepada Tuhannya. Dan itu dipersembahkan oleh seseorang tidak bisa berbilang kecuali yang dibolehkan; yakni pada unta dan sapi yang nyata ada kebolehan patungan sebagaimana disebutkan hadits yang shahih. Walaupun madzhab Imam Malik tetap menghukumi tidak ada patungan dalam kurban, termasuk unta dan sapi; karena memang ini adalah persembahan personal seorang hamba kepada Penciptanya.

Maka sama seperti fardhu kifayah; Shalat Jenazah, adzan, atau mendoakan bersin, pahalanya itu didapatkan oleh yang mengerjakan saja. Begitu juga dalam hal sunnah kifayah ini, pahala hanya didapatkan bagi yang melaksanakan saja, dan tidak untuk mereka yang terwakilkan.

Adapun sunnah 'Ain, itu berlaku untuk kepala keluarga atau seseorang yang belum berkeluarga. Jika ia mampu, maka sunnah baginya secara personal berkurban. Berbeda dengan keluarga, seorang istri kurbannya sudah diwakilkan oleh sang suami.

Perlu diingat juga bahwa kesunahan atau kewajiban -dalam madzhab al-Hanafiyah- dalam berkurban ini berlaku jika seseorang itu mampu, atau punya keluasan harta. Artinya jika ia berkurban, sisa harta yang dimiliki itu masih bisa membuatnya cukup, tidak kekurangan.

Dalam al-Hanafiyah, orang dikatakan mampu itu jika ia punya harta senilai 20 Dinar. Al-Malikiyah mengatakan berbeda, mampu itu jika seseorang punya keluasan harta untuknya dan untuk orang yang ditanggung nafkahnya sampai setahun. Al-Syafiiyah mirip dengan al-Malikiyah, hanya saja waktunya lebih pendek. Beliau-beliau mengatakan orang disebut mampu itu jika ia punya kecukupan harta baginya dan bagi orang yang ditanggungnya sampai hari-hari Tasyriq (13 dzulhijjah).

Wallahu a'lam
 

Resep Selamat Akhirat; Bekerja Sesuai Ilmu!

Di akhirat nanti, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi s.a.w. bahwa manusia nanti tidak akan diberangkatkan ke surga, juga tidak ke neraka sebelum ditanya 4 hal.


Salah satu pertanyaan dari 4 pertanyaan itu adalah terkait dengan ilmu yang kita miliki, kita manfaatkan untuk apa?


Maka seorang muslim, sejatinya harus memanfaatkan ilmu yang sudah ia dapat untuk kemaslahatan umat. Apapun bidangnya. Karena sama sekali tidak ada ilmu yang tidak baik, semuanya baik dan berguna. Dan semuanya bisa menuntun kita ke surga.


Tidak ada dominasi satu ilmu bahwa hanya ilmu itu yang mengarahkan ke surga, ilmu lain tidak bisa. Tidak ada seperti itu. Semua ilmu bisa mengarahkan pemiliknya ke surga, tapi tidak jarang itu disalahgunakan yang akhirnya menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa.


Ilmu agama pun, tidak selamanya bisa mengarahkan ke surga. Toh banyak ahli ilmu agama, akan tetapi tidak digunakan dengan jalur yang baik dan benar. Menghina, mencaci, merasa benar sendiri, menghakimi tanpa memberi solusi, menakuti-nakuti tanpa memotivasi, menuduh sana sini dengan dalih menjaga agama suci tapi tuduhannya tanpa bukti. Tidak ada manfaat yang diberi.


Tapi juga ilmu umum, yang secara kasat mata tidak bernilai ukhrawi akan tetapi justru itu yang membuat pemiliknya ke surga; karena dengan disiplin ilmu tersebut banyak manfaat yang ia berikan.


Dalam mata agama, orang yang baik itu yang banyak manfaatnya, apapun kehaliannya. bukan yang banyak ilmunya saja.


Maka, renungkan ilmu yang sudah Allah s.w.t. anugerahkan kepada kita. Berapa banyak orang yang punya keinginan sama terhadap ilmu tersebut, tapi akhirnya Allah s.w.t. memberi kita kesempatan dan memahamkan kita untuk itu. Setelahnya apa yang kita bisa berikan manfaat dengan ilmu tersebut kepada khalayak?


Atau mau pindah jaluran ke jalur agama karena menganggap bahwa ilmu agama satu-satunya yang menyelamatkan? Saya tidak yakin itu benar.


Wallahul-musta'an
 

Memanggil Pasangan Abi/Umi, Siapa Bilang Haram?

Saya sadar dan mengerti beberapa orang memang mengharamkan dan melarang suami memanggil istrinya dengan sebutan umi, begitu juga sebalinya, istri terlarang memanggil suami dengan Abi;


Karena khawatir itu termasuk dalam zihar yang dalam fiqih itu membuat si istri haram untuk digauli oleh si suami selamanya sampai ia membayar kafarat akan ziharnya tersebut, yaitu puasa 2 bulan berturut-turut.


(zihar itu menyamakan istri dengan orang tua yang mahram) jadi memanggil ummi dikatakan sama saja menyamakan istri dengan ibu, karenanya diharamkan.


Akan tetapi mengatakan itu sebuah keharaman juga termasuk sesuatu yang terlalu buru-buru dan gegabah, kurang teliti. Karena bagaimanapun zihar itu mempunya rukun, dan masing-masing rukun itu punya syarat tertentu yang harus terpenuhi.


Bagi saya, memanggil istri dengan ummi atau yang istri memanggil suami dengan Abi bukan zihar yang diharamkan. bukan. Karena salah satu rukun zihar ada yang tidak terpenuhi. Rukun zihar itu ada 4;


1. Musyyabbih (org yang menyamakan),
2. Musyabbah (orang yang disamakan / objek),
3. Musyabbah bihi (sesuatu yang disamakan),
4. Shighah (lafadz/redaksi).



Nah, pada rukun ke 3 yakni musyabbah bih ini panggilan umi itu tidak memenuhi syarat rukun ke-3 tersebut. yang disyaratkan oleh jumhur ulama pada rukun ke-3, adalah sesuatu yang dijadikan objek kesamaan, haruslah bagian dari aurat yang memang diharamkan untuk melihatnya. Dan nama bukanlah sesuatu yang diharamkan.


Kemudian, penting juga kemudian mengetahui bahwa syariat zihar ini pertama kali dilakukan oleh sahabat Aus bin Shamit kepada istrinya Khaulah binti ibnu Tsa'labah. yang mana Aus sangat kesal sekali kemudian mengatakan kepada Khaulah "anti kazahri ummi", dan itu adalah redaksi zihar yang masyhur dan mnejadi kebiasaan bangsa arab ketika itu.


Artinya memang ada niat dan maksud pelaku menyamakan istri dengan ibunya. benar-benar bermaksud. Nah, itu tidak kita temukan pada kebiasaan panggilan umi kepada istri ini. Sama sekali si suami tidak berniat menyamakan istrinya dengan ibunya. Sama sekali tidak ada. itu hanya agar anak-anaknya mendengar yang akhirnya mengikuti. Jadi panggilan itu sejatinya guna mengajarkan anak-anak agar sopan dan tahu bagaimana memanggil orang tuanya.

wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger