Persatuan Islam Hanya Impian, Jika ...

Dulu Nabi s.a.w. punya ART (Asisten Rumah Tangga) seorang anak laki-laki Yahudi, bukan Islam. Suatu saat anak Yahudi ini sakit dan tidak masuk kerja, akhirnya Nabi s.a.w mengunjunginya di rumah anak Yahudi itu. Sampai di rumahnya, ada ayah anak itu yang juga sama-sama enganut Yahudi sedang menunggu sang anak. Setelah meminta izin kepada sang ayah, Rasul s.a.w. mendekati anak tersebut lalu mengajaknya untuk bersyahadat; masuk Islam. Diajak masuk Islam, anak itu bingung karena ada sang ayah di dekatnya. Sesekali melirik ayahnya, sesekali melirik Nabi s.a.w., sampai akhirnya sang ayah berbicara: "Anakku! Taati Abu Qasim (Muhammad)!". Mendapat izin dari ayahnya, anak itu bersyahadat. Kemudian Nabi s.a.w. keluar dari rumah sambil mengucapkan: "Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan anak itu dari neraka dengan wasilahku". 

Poin dari cerita ini, mari kita berfikir sejenak. Agama adalah identitas setiap diri yang siapapun dia pasti akan membela agamanya jika ia dihina, dan siapapun dia pasti akan marah jika disuruh untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Tapi lihat bagaimana relanya sang ayah yang seorang Yahudi membiarkan anaknya melepaskan agama dan kepercayaan nenek moyangnya hanya karena seorang Muhammad s.a.w.

Kita berandai-andai sekarang, kira-kira jika Nabi s.a.w. ketika bergaul dengan orang non-muslim dengan keras dan bengis, asal hantam, mulut kotor doyan mencaci, apakah mau seorang yahudi membiarkan anaknya ikut kepada Muhammad? Tidak mungkin! Itu bukti nyata bagi kita –yang mengaku cinta dan mengikuti Nabi s.a.w.- bahwa apa yang dilakukan Nabi s.a.w. dalam menyampaikan agama ini bukan dengan caci maki, prasangka, dusta, kebencian, Nabi s.a.w. menyampaikan agama ini dengan cinta dan kasih sayang; karena memang tujuan dakwah ini adalah mengajak orang lain menuju kepada sang Maha cinta dan Sayang. Bagaimana bisa mengajak kepada cinta tapi dengan kebencian?

Nah itu Nabi s.a.w. kepada orang lain yang bukan Islam, begitu sangat baiknya Nabi s.a.w. kepada mereka. tentu akan jauh lebih baik lagi kepada muslim. Dan ini yang harus dilakukan oleh orang muslim yang mengaku mengampuh beban dakwah, sampaikah kepada orang lain dengan cinta, bukan dengan kebencian. Maka wajar saja salah seorang ulama menyatakan: "bukan ulama jika ia melihat orang yang berbeda dengannya sebagai musuh!". Karena memang ulama pasti tahu bagaimana mengejawantahkan sifat Nabi s.a.w. ke dalam metode dakwahnya. Bukan dengan kebencian pastinya.

Kita setiap hari berteriak "persatuan islam!", "Umat islam harus bersatu!", dan teriakan-teriakan semisalnya yang penulis pribadi agak geli mendengar dan melihatnya. Berteriak persatuan Islam, akan tetapi apa yang dilakuakn justru bukan membuat persatuan itu terwujud, malah menghancurkan persatuan. Kalau memang ingin sekali bersatu, maka jalankan cara-cara bersatu itu sebagaimana yang sudah Nabi s.a.w. contohkan. Saling berbuat baik, saling memafkan, jauhi prasangka buruk, jangan memandang saudara sebagai musuh. Nyatanya, semua instrument persatuan jutsru tidak dilaksanakan oleh mereka yang mengajak bersatu itu. Sungguh aneh.
 

Awam Wajib Taqlid

Kitab Bulughul-Maram yang dikarang oleh Imam Ibnu Hajsr al-'Asqalni mendapat banyak respon dari ulama lain di masanya dan juga masa setelahnya. Banyak ulama yang kemudian mensyarah (menjelaskan) hadits-hadits Ahkam yang terkumpul dalam kitab Bulghul-Maram tersebut.

Di antara kitab-kitab pensyarah yang masyhur dan banyak menjadi rujukan adalah kitab "Ibanatul-Ahkam", karangan al-Sayyid Alawi 'Abbas al-Malikiy. Beliau adalah ayah kandung dari ulama yang juga masyhur dengan banyak kitabnya, yakni al-Sayyid Muhammad 'Alawi al-Malikiy.

Yang menarik adalah, di mukaddimah Ibanatul-Ahkam ini, al-Sayyid 'Alawi menerangkan tentang bagaimana buruknya fenomena awam yang berani-berani langsung menggali hukum dari al-Quran dan Hadits dengan menganggap bahwa memang semua orang termasuk awam harus paham dalil, baik al-Quran dan juga hadits. Yang pada akhirnya keberanian mereka itu melahirkan pemahaman keliru dan fatwa prematur, walhasil banyak penyelewangan hukum karena memang perkara ijtihad dijalankan oleh yang bukan ahlinya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa orang yang menganggap wajib ijtihad bagi semua orang dan haramnya taqlid kepada mujtahid, atau juga wajib bagi semua muslim termasuk awam mengerti dalil dan teks-teks syariah itu ada karena 2 hal:Bisa jadi ia tidak tahu bagaimana tingginya ijtihad, dan rumitnya memahami teks syariah. Atau yang kedua, yakni ia tidak mengetahui kadar kemampuan dirinya sendiri.

Beliau meneruskan, bahwa kalau saja memang semua orang termasuk awam itu boleh berijtihad, tentunya kita akan mendapatkan riwayat itu dari para sahabat Nabi s.a.w.. Beberapa nama yang menonjol dan sampai pada kita tentang riwayatnya tersebut bukti bahwa tidak semusa sahabat berijtihad, padahal mereka orang yang hidup bersama Nabi s.a.w., menyaksikan turunnya wahyu, mendengar sabda Nabi s.a.w. dan juga mereka tentu sangat paham betul bahasa Arab.

Akan tetapi ketika mereka ingin mengetahui sebuah hukum masalah, mereka mendatangi pata sahabat-sahabat Nabi s.a.w. yang memang punya derajat keilmuan tinggi. Dan mereka yang punya keilmuan pun menjawab. Mestinya kalau memang wajib ijtihad, mereka perintahkan pata sahabat yang bertanya itu untuk berijtihad.

Beliau melanjutkan, kalau awam berijtihad, lalu bagaimana dengan ayat "Fas'alu Ahla-Dzikri ..."?, karena memang tidak semua orang mampu menggali hukum dari teks-teks langsung kecuali melalui jalan ulama yang mengerti. Dan kalau seandainya awam juga wajib berijtihad, tentu awam-awam di 3 generasi emas lebih layak diikuti dibandingkan awam zaman sekarang. Toh generasi awal itulah yang mendapatkan legitimasi nabawi bahwa mereka lah generasi terbaik.

Tapi toh nyatanya, yang dilakukan mereka zaman itu juga mengikuti siapa yang lebih mengerti, tidak ada yang berani menghinakan al-Quran dan hadits dengan menggalinya langsung tanpa alat yang memadai.

Tentu kita ingat bagaimana kejadian wafatnya salah seorang sahabat karena ia mendapatkan fatwa dari kalangannya bahwa tidak ada keringanan baginya ketika junub kecuali tetap mandi, padahal ia dalam keadaan sakit. Akhirnya ia amalkan dan kemudian wafat.

Kita juga tahu, bahwa dulu juga ada sahabat yang berguling-guling di tanah karena menganggap begitulah teknis tayammum untuk mengganti air pada mandi janabah. Akan tetapi apakah itu diikuti?

Wallahul-musta'an
-rahimallahu al-sayyid 'Alawi bin Abbas al-Maliky rahmah wasi'ah-
 

Siapa Yang Dikatakan Lalai Shalat?

Orang dikatakan melalaikan shalat itu jika ia mengakhirkan shalat sampai masuk shalat selanjutnya, artinya memang ia tidak melaksanakan shalat di waktunya. Ini yang dipahami dari hadits Abu Qatadah r.a. dalam riwayat Imam Muslim.

Kalau hanya mengakhirkan shalat, lalu shalat di tengah atau akhir waktu, atau juga menundanya lalu shalat di ujung waktu, itu tidak dikatakan sebagai orang yang melalaikan shalat. Ya dia melalaikan, tapi bukan melalaikan shalat, akan tetapi ia hanya melalaikan waktu utama shalat; awal waktu.

Tidak elok jika orang yang menunda shalat dikatakan sebagai yang melalaikan shalat, toh dia tetap shalat, di waktunya yang sah pula. Kurang baik juga mengatakan begitu, karena dalam surat al-Ma'un, orang yang lalai shalat itulah yang dapat jatah neraka 'wail'.

Karena itu penting juga mengetahui bahwa jenis kewajiban shalat itu adalah wajib muwassa' yang kewajiban luas dalam satu term waktu yang cukup panjang, yakni sampau waktu shalat selanjutnya. Kecuali shalat subuh.

Wallahu a'lam
 

Kurban Hukumnya Sunnah Kifayah

Selain madzhab al-Hanafiyah, kesemua ulama madzhab menyepakati hukum kurban itu sunnah yang sangat digalakkan, yakni sunnah muakkadah. Tapi, madzhab al-Syafiiyah punya rincian yang lebih unik tentang kesunahan tersebut.

Dalam madzhab ini, hukum sunnah berkurban itu punya 2 varian; Sunnah 'Ain dan juga sunnah Kifayah. Sunnah Kifayah itu hukum kurban bagi sebuah keluarga, artinya jika ada salah satu dari keluarga, baik suami atau istri atau juga anak sudah berkurban, maka itu sudah cukup bagi keluarga, dan hilang kemakruhan jika tidak berkurban.

Sebaliknya, kemakruhan tertimpa kepada seluruh anggota keluarga tersebut, jika tidak ada satu dari mereka yang berkurban, padahal mereka mampu. Ini sunnah Kifayah.

Ini yang difahami oleh ulama madzhab Imam Al-Syafii terkait kurbannya Nabi s.a.w. yang mana beliau berkurban 2 domba; Satu untuknya dan keluarganya, dan yang satu lain untuknya dan ummatnya. Nabi s.a.w. di domba pertama sebagai kepala keluarga, yang mana satu domba itu cukup baginya dan juga istri-istrinya. Dan kambing kedua, Nabi s.a.w. sebagai pemimpin umat, mewakili umatnya yang tidak mampu.

Hadits tersebut tidak bisa dipahami bahwa satu kambing bisa untuk lebih dari satu orang. Karena -dalam banyak literasi, terutama al-Malikiyah- ulama melihat kurban sebagai hadiah khusus seorang Hamba kepada Tuhannya. Dan itu dipersembahkan oleh seseorang tidak bisa berbilang kecuali yang dibolehkan; yakni pada unta dan sapi yang nyata ada kebolehan patungan sebagaimana disebutkan hadits yang shahih. Walaupun madzhab Imam Malik tetap menghukumi tidak ada patungan dalam kurban, termasuk unta dan sapi; karena memang ini adalah persembahan personal seorang hamba kepada Penciptanya.

Maka sama seperti fardhu kifayah; Shalat Jenazah, adzan, atau mendoakan bersin, pahalanya itu didapatkan oleh yang mengerjakan saja. Begitu juga dalam hal sunnah kifayah ini, pahala hanya didapatkan bagi yang melaksanakan saja, dan tidak untuk mereka yang terwakilkan.

Adapun sunnah 'Ain, itu berlaku untuk kepala keluarga atau seseorang yang belum berkeluarga. Jika ia mampu, maka sunnah baginya secara personal berkurban. Berbeda dengan keluarga, seorang istri kurbannya sudah diwakilkan oleh sang suami.

Perlu diingat juga bahwa kesunahan atau kewajiban -dalam madzhab al-Hanafiyah- dalam berkurban ini berlaku jika seseorang itu mampu, atau punya keluasan harta. Artinya jika ia berkurban, sisa harta yang dimiliki itu masih bisa membuatnya cukup, tidak kekurangan.

Dalam al-Hanafiyah, orang dikatakan mampu itu jika ia punya harta senilai 20 Dinar. Al-Malikiyah mengatakan berbeda, mampu itu jika seseorang punya keluasan harta untuknya dan untuk orang yang ditanggung nafkahnya sampai setahun. Al-Syafiiyah mirip dengan al-Malikiyah, hanya saja waktunya lebih pendek. Beliau-beliau mengatakan orang disebut mampu itu jika ia punya kecukupan harta baginya dan bagi orang yang ditanggungnya sampai hari-hari Tasyriq (13 dzulhijjah).

Wallahu a'lam
 

Resep Selamat Akhirat; Bekerja Sesuai Ilmu!

Di akhirat nanti, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi s.a.w. bahwa manusia nanti tidak akan diberangkatkan ke surga, juga tidak ke neraka sebelum ditanya 4 hal.


Salah satu pertanyaan dari 4 pertanyaan itu adalah terkait dengan ilmu yang kita miliki, kita manfaatkan untuk apa?


Maka seorang muslim, sejatinya harus memanfaatkan ilmu yang sudah ia dapat untuk kemaslahatan umat. Apapun bidangnya. Karena sama sekali tidak ada ilmu yang tidak baik, semuanya baik dan berguna. Dan semuanya bisa menuntun kita ke surga.


Tidak ada dominasi satu ilmu bahwa hanya ilmu itu yang mengarahkan ke surga, ilmu lain tidak bisa. Tidak ada seperti itu. Semua ilmu bisa mengarahkan pemiliknya ke surga, tapi tidak jarang itu disalahgunakan yang akhirnya menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa.


Ilmu agama pun, tidak selamanya bisa mengarahkan ke surga. Toh banyak ahli ilmu agama, akan tetapi tidak digunakan dengan jalur yang baik dan benar. Menghina, mencaci, merasa benar sendiri, menghakimi tanpa memberi solusi, menakuti-nakuti tanpa memotivasi, menuduh sana sini dengan dalih menjaga agama suci tapi tuduhannya tanpa bukti. Tidak ada manfaat yang diberi.


Tapi juga ilmu umum, yang secara kasat mata tidak bernilai ukhrawi akan tetapi justru itu yang membuat pemiliknya ke surga; karena dengan disiplin ilmu tersebut banyak manfaat yang ia berikan.


Dalam mata agama, orang yang baik itu yang banyak manfaatnya, apapun kehaliannya. bukan yang banyak ilmunya saja.


Maka, renungkan ilmu yang sudah Allah s.w.t. anugerahkan kepada kita. Berapa banyak orang yang punya keinginan sama terhadap ilmu tersebut, tapi akhirnya Allah s.w.t. memberi kita kesempatan dan memahamkan kita untuk itu. Setelahnya apa yang kita bisa berikan manfaat dengan ilmu tersebut kepada khalayak?


Atau mau pindah jaluran ke jalur agama karena menganggap bahwa ilmu agama satu-satunya yang menyelamatkan? Saya tidak yakin itu benar.


Wallahul-musta'an
 

Memanggil Pasangan Abi/Umi, Siapa Bilang Haram?

Saya sadar dan mengerti beberapa orang memang mengharamkan dan melarang suami memanggil istrinya dengan sebutan umi, begitu juga sebalinya, istri terlarang memanggil suami dengan Abi;


Karena khawatir itu termasuk dalam zihar yang dalam fiqih itu membuat si istri haram untuk digauli oleh si suami selamanya sampai ia membayar kafarat akan ziharnya tersebut, yaitu puasa 2 bulan berturut-turut.


(zihar itu menyamakan istri dengan orang tua yang mahram) jadi memanggil ummi dikatakan sama saja menyamakan istri dengan ibu, karenanya diharamkan.


Akan tetapi mengatakan itu sebuah keharaman juga termasuk sesuatu yang terlalu buru-buru dan gegabah, kurang teliti. Karena bagaimanapun zihar itu mempunya rukun, dan masing-masing rukun itu punya syarat tertentu yang harus terpenuhi.


Bagi saya, memanggil istri dengan ummi atau yang istri memanggil suami dengan Abi bukan zihar yang diharamkan. bukan. Karena salah satu rukun zihar ada yang tidak terpenuhi. Rukun zihar itu ada 4;


1. Musyyabbih (org yang menyamakan),
2. Musyabbah (orang yang disamakan / objek),
3. Musyabbah bihi (sesuatu yang disamakan),
4. Shighah (lafadz/redaksi).



Nah, pada rukun ke 3 yakni musyabbah bih ini panggilan umi itu tidak memenuhi syarat rukun ke-3 tersebut. yang disyaratkan oleh jumhur ulama pada rukun ke-3, adalah sesuatu yang dijadikan objek kesamaan, haruslah bagian dari aurat yang memang diharamkan untuk melihatnya. Dan nama bukanlah sesuatu yang diharamkan.


Kemudian, penting juga kemudian mengetahui bahwa syariat zihar ini pertama kali dilakukan oleh sahabat Aus bin Shamit kepada istrinya Khaulah binti ibnu Tsa'labah. yang mana Aus sangat kesal sekali kemudian mengatakan kepada Khaulah "anti kazahri ummi", dan itu adalah redaksi zihar yang masyhur dan mnejadi kebiasaan bangsa arab ketika itu.


Artinya memang ada niat dan maksud pelaku menyamakan istri dengan ibunya. benar-benar bermaksud. Nah, itu tidak kita temukan pada kebiasaan panggilan umi kepada istri ini. Sama sekali si suami tidak berniat menyamakan istrinya dengan ibunya. Sama sekali tidak ada. itu hanya agar anak-anaknya mendengar yang akhirnya mengikuti. Jadi panggilan itu sejatinya guna mengajarkan anak-anak agar sopan dan tahu bagaimana memanggil orang tuanya.

wallahu a'lam
 

Perbedaan Rukun dan Sunnah Shalat

Ketika menjelaskan tentang sunnah-sunnah shalat, ada yang bertanya "kenapa ulama-ulama madzhab itu membedakan antara rukun shalat yang mana tida boleh ditinggalkan, dengan sunnah shalat yang mana boleh ditinggalkan. Padahal semuanya datang dari Nabi s.a.w.? semuanya dari Nabi s.a.w. kenapa harus dibedakan, boleh dan tidak boleh ditinggalkan dalam shalat?"


Saya kemudian menjawab bahwa yang namanya rukun shalat itu disebut juga oleh ulama dengan istilah fardhu-fardhu shalat. Secara bahasa fardhu itu berarti sesuatu yang paten, terukur, pasti, tetap. Maka itu, ilmu waris disebut juga dengan ilmu "Faraidh", kalimat itu adalah bentuk plural dari kalimat "Faridhah", yang berarti ukuran yang pasti. Karena memang "faraidh" adalah kumpulan ukuran paten yang pasti bagi para ahli waris.


Dari sini bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang tidak paten dan tidak punya ukuran yang pasti, tidak bisa dikatakan sebaga "Fardh", karena Fardhu haruslah sesuatu yang pasti, paten dan punya ukuran yang pasti tidak berbilang atau tidak bias.


Nah, dalam ritual shalat ini, memang semua gerakannya dari Nabi s.a.w., yang banyak dicontohkan oleh para sahabat ridhwanullah 'alayhim. Akan tetapi ada gerakan dalam shalat itu yang selalu dikerjakan, tidak pernah ditinggalkan Nabi dan ukurannya pasti tidak bias. Itulah fardhu shalat yang tidak boleh tertinggal. Contohnya Takbiratul-Ihram. Nabi s.a.w. selalu membuka shalatnya dengan takbiratul-ihram, itu paten tidak pernah tertinggal, dan ukurannya pasti; karena Nabi s.a.w. tidak pernah membuka dengan hal lain.


Akan tetapi ada sesuatu yang memang Nabi s.a.w. lakukan dalam shalat, akan tetapi Nabi s.a.w. kadang dengan model ini, kadang juga dengan model itu. Atau sebuah doa dalam shalat, Nabi s.a.w. memang membaca, akan tetapi kadang dengan redaksi yang ini, kadang dengan redaksi yang itu. Nah ini yang tidak masuk dalam kategori "Fardhu", karena tidak pasti, dan tidak punya ukuran yang paten. Sesuatu yang fardhu tidak Fardhu kecuali punya ukuran yang paten.


Contohnya, mengangkat tangan ketika takbiratul-ihram. Nabi memang melakukan, selalu melakukan, akan tetapi modelnya kadang sampai kuping, kadang juga sampai dada. Ukurannya tidak pasti dan tidak paten. Karenanya, ulama menghukumi mengangkat tangan ketika takbiratul-ihram sebagai sesuatu yang sunnah dalam shalat, bukan fardhu.


Contoh lain adalah doa istiftah atau iftitah. Nabi s.a.w. memang melakukan, akan tetapi redaksinya tidak paten. Kadang dengan redaksi "Allahu akbar akbiraa …", kadang juga dengan redaksi "Inni wajjahtu wajhiya …. ", kadang juga dengan redaksi "allahumma ba'id bainiy …", dan bahkan Nabi s.a.w. juga pernah membuka shalatnya hanya dengan Ta'awudz. Karena itu, doa iftitah tidak termasuk dalam fardhu atau rukun shalat, ia masuk dalam jajaran sunnah-sunnah shalat.


Contoh lain juga adalah memberikan isyarat dengan telunjuk ketika tahiyat. Nabi s.a.w. melakukannya, akan tetapi tidak punya ukuran yang paten; Karena dalam beberapa riwayat Nabi s.a.w. menggerakkannya, kadang pun tidak. karenanya ulama tidak memasukkan itu ke dalam rukun atau fardhu shalat yang kalau tertinggal membatalkan shalat. Memberikan isyarat telunjuk itu sunnah dalam shalat. Begitu juga takbir di setiap pergantian rukun, kalau ini jelas, Nabi s.a.w. kadang mengucapkannya, kadang juga tidak.


Yang saya sebutkan ini bukanlah jawaban yang meng-cover semua jawaban atas pertanyaan di atas. Ini bukan satu-satunya, ini hanya salah satunya selain hadits al-Musi' shalatahu yang masyhur itu. Tapi bagi saya, ini jawaban yang sederhana untuk disampaikan dan dipahami. Dan sudah teruji.


Wallahu a'lam
 

Stop Riya' dan Menuduh Riya'!!!

Dalam keterang-terangan atau diam kedua-duanya sama saja, karena berpotensi sekali ada gangguan setan. Karena setan tidak kenal siapa diam dan siapa yang terang-terangan.


Yang beribadah lalu mengumumkan, berpotensi disisipkan riya melalui lakan medianya. Itu buruk.


Tapi yang diam, lalu dalam diamnya merasa lebih baik dari yang mengumumkan, apakah bisa dikatakan baik? Padahal sombong dan merasa lebih baik itulah lubuk hatinya setan.


Jadi diam atau terang-terangan, keduanya bisa disusupi setan. Yang terang-terangan tidak selalu buruk, dan diam pun tidak mesti suci.


Riya atau tidak bukan pada diam atau terang-terangan, setan selalu punya usaha. Yang terpenting adalah hati selalu dijaga.


Riya itu buruk, tapi menuduh orang lain riya, amat sangat jauh lebih buruk.


Wallahul-musta'an
 

Panitia Zakat, Apakah Termasuk Amil?

Memang agak sulit mengatakan bahwa panitia zakat di masjid-masjid atau lembaga itu sebagai Amil zakat yang memang mendapatkan jatah zakat.

Karena kalau merujuk ke pendapat ulama-ulama konvensional dari masinh-masing madzhab fiqih, kesemuanya mensyaratkan bahwa seorang Amil haruslah diangkat oleh seorang pemimpin atau penguasa yang sah. Begitu disebutkan dalam kitab-kutan mulia tersebut. Dan kebanyakan bahkan hampir semuanya panitia tersebut mengangkat diri mereka sendiri.


Apalagi jika melihat kepada kebiasaan yang dikerjakan para panitia atau lenbaga zakat ini yang terkesan menunggu. Padahal Amil, yang ketika zaman Nabi disebut dengan Jibayatuz-Zakat, mereka bukan menunggu, akan tetapi mereka mendatangi si kaya dan memghitung kewajiban zakat si kaya, lalu menganbilnya dan menyalurkan. Bukan hanya diam menunggu di kantor atau masjid, menunggu didatangi orang yang bayar zakat tanpa tahu apa dan berapa kewajiban si muslim twrsebut. Hanya menerima saja. Artinya ada pekerjaan amil yang tidak terlaksana pada panitia-panitia tersebut.


Akan tetapi, jika melihat dari sisi yang berbeda; bahwa pemerintah kita sampai saat ini sangat minim perhatiannya terhadap masalah zakat ini; toh UU zakat pun masih bermasalah dan belum terselesaikan sampai sekarang. Bahkan status badannya tersebut.


Juga di lain sisi, Indonesia ini kan luas wilayahnya, besar potensinya, banyak penduduknya, tapi sulit aksesnya. Banyak pojok-pojok wilayah Indonesia yang sama sekali tidak tersentuh, dan memang tidam ada akses menuju tempat tersebut. Dan mayoritasnya adalah muslim yang memang punya kewajiban zakat.


Maka melihat kenyataan tersebut, dan merujuk kepada pendapat ulama konvensional dari madzhab-madzhab fiqih muktamad, bisa diambil jalan tengah:


Kalau memang di daerah tersebut ada badan Amil resmi yang memang badan pemerintah, berlisensi resmi dari penguasa, mereka itulah Amil zakat. Yang lain, hanyalah panitia sekedar menjadi wakil atau penolong muzakki kepada mustahiq. Artinya tidak ada hak bagi mereka atas harta zakat, kecuali gaji atau upah dari selain zakat.


Akan tetapi, kalau daerah tersebut memang tidak terakses oleh penguasa sehingga tidak ada badan Amil yang berdiri di daerah tersebut, dan kesemuanya adalah muslim yang memang punya kewajiban zakat, maka mereka bersepakat untuk memilih siapa dan pihak mana yang memang mengurusi zakat-zakat mereka. Tentu dengan pertimbangan keilman dan integritas mereka. Dengan demikian mereka itulah Amil walaupun tidam diangkat oleh penguasa.


Ini mengambil pendapat ulama walaupun minoritas, yang menyatakan bahwa Amil itu walaupun tidak diangkat oleh penguasa, yang penting mereka mengerjakan pekerjaan Amil; mendata, menyuluh, menentukan kadar yanh harus dibayarkan, mengambil, serta menyalurkan zakat tersebut.


Ini juga cocok bagi saudara-saudara muslim yang tinggal dalam sebuah komunitas di negara mayoritas nonmuslim, yang penguasanya sama sekali tidam mengerti ada zakat dan syariat Islam, sedangkan mereka adalah muslim yang punya kewajiban zakat. Maka mereka mengangkat siapa afau pihak yang mereka sepakati untuk jadi Amil. Mengurusi zakat mereka dan menyalurkannya.


Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger