Program Keluarga Berencana (KB), Menyalahi Syariah atau Tidak?

Program Keluarga Berencana yang dimotori oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ini adalah salah satu upaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan pendudukan dengan cara mencegah kehamilan para ibu.

Dalam hal praktek mencegah kehamilan, ulama membagi kedalam 2 golongan; [1] Pencegahan kehamilan permanen, atau yang dikenal dengan istilah Tahdiid An-Nasl (تحديد النسل)dan [2] Pencegahan kehamilah temporer atau sementara yang disebut dengan istilah Tandziim An-Nasl (تنظيم النسل). Ulama membagi keduanya karena memang punya hukum yang berbeda.

[1] Tahdid An-Nasl (تحديد النسل)

Maksudnya ialah pasangan pasutri melakukan serangkaian upaya untuk membatasi keturunan dengan alat atau operasi yang membuat si istri tidak bisa hamil lagi, atau si suami tidak subur lagi. Dan pencegahan kehamilan yang dilakukannya bersifat permanen. Ini persis seperti prkatek pengkebirian.

Untuk jenis yang ini, hukumnya jelas haram dan tidak ada ulama yang menyelisih. Alasannya karena memang tujuan (Maqshod) perkawinan dalam syariah ialah selain menyalurkan syahwat dengan jalan halal, ini juga bertujuan untuk memperbanyak keturunan (An-Nasl).

Banyak nash-nash syariah baik dari Al-Quran dan juga hadits Nabi saw yang memerintahkan umat Islam agar menjaga eksistensi, salah satu caranya dengan pernikahan yang kemudian melahirkan keturunan. Nah mencegah apa yang menjadi perintah adalah sebuah pelanggaran dalam syariah. Dan itu diharamkan.

[2] Tandziim An-Nasl (تنظيم النسل)

Tandzim dalam bahasa Arab berarti mengatur. Maksudnya mengatur kelahiran dengan menunda dan memberi jarak antara kelahiran pertama dan yanga kedua dan seterusnya. Penundaan yang dilakukan tentu dengan alasan dan pertimbangan. Seperti alasan kesehatan ibu atau bayi itu sendiri yang sudah benar-benar ditinjau oleh ahli medis, atau juga karena alasan lain seperti social.

Jadi si pasutri melakukan semacam kegiatan untuk mengatur kelahiran dan bukan mencegahnya, entah dengan alat seperti senggama terputus atau system kalender, dan juga dengan alat seperti alat kontrasepsi yang sifatnya kontemporer dan tidak permanen.

Untuk praktek yang satu ini, ulama membolehkan. Karena sejatinya praktek ini bukanlah sebuah pencegahan, pembatasan serta pemutusan keturunan, melainkan hanya sebuah pengaturan. Mengatur kelahiran. Dan BKKBN dengan programnya KB masuk dalam kategori Tandzim An-Nasl yang dibolehkan ini, bukan praktek Tahdiid An-Nasl.

Karena apa yang digunakan dalam program ini ialah alat-alat pencegahan, alat kontrasepsi yang sifatnya mencegah sementara tidak permanen. Jadi pada saat tertentu si ibu bisa kembali melahirkan, hanya jaraknya saja yang diatur. Ini tidaklah melanggar syariah.

Pernah Terjadi di Zaman Nabi

Praktek ini juga pernah terjadi dan dialami oleh sahabat pada masa Nabi Muhammad saw, yang dikenal dengan istilah 'Azl (عزل). Praktek 'Azl (عزل) ialah prkatek untuk menunda kelahiran, dimana si suami yang bersenggama dengan istrinya, ketika spermanya terasa akan keluar, suami mengeluarkannya. Jadi tidak masuk ke dalam rahim sang istri, sehingga tidak menimbulkan kehamilan.

Ini praktek penundaan kelahiran yang dilakukan ketika itu, dan kemudian Nabi Muhammad saw mengetahui itu namun beliau saw tidak melarangnya. Seandainya praktek itu diharamkan, pastilah Nabi melarangnya langsung.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَنْهَنَا
Dari Jabir ra, beliau berkata: "kami melakukan prkatek 'azl di masa Nabi Muhammad saw, dan beliau mengetahui itu namun tidak melarang kami" (HR Muslim, no. 2610)

Nah, jadi sebenarnya apa yang dikampanyekan oleh BKKBN dengan programnya KB tidak menjadi masalah dengan syarat tidak permanen. Pun program ini dilaksanakan dengan alasan kemashlahatan social terkait laju peningkatan penduduk yang harus dikendalikan.

Karena memang alasan pemerintah dengan program KB, jika ditinjau dengan Fiqihul-Waqi', memang alasannya bisa dibenarkan. Karena ada maslahat yang lebih besar yang dapat terwujud dengan prkatek KB yang dilakukan warganya.

Termasuk juga kalau itu dilakukan dengan alasan ekonomi yang khawatir tidak siap dengan banyakanya keturunan. Imam Al-Ghozali mengatakan dalam kitabnya al-Ihya' bahwa alasan ekonomi juga bisa jadi pertimbangan untuk pencegahan kehamilan sementara.

Walaupun urusan rezeki ditangan Allah swt, namun menutur Imam Ghozali, melakukan praktek 'Azl dengan alasan ekonomi bukan bukan berarti tidak berimana kepada takdir Allah swt. Tapi justru itu mengambil sebab zahir (relistis) yang juga bagian dari iman kepada takdir Allah swt. (Ihya' Ulum Al-Din 2/52)

Alat-Alat Kontrasepsi

[1] Senggama Terputus
cara pencegahan kehamilan sementara banyak caranya, entah itu dengan alat atau juga tanpa alat. Contoh dengan tanpa alat ialah prkatek "senggama terputus", yaitu prkatek hubungan suami istri yang  terjadwal dengan sisitem kalender.

Dan tentu sebelumnya telah meminta pertimbangan dan saran dokter tentang jarak dan waktu yang memang dibolehkan atau tidak dibolehkan sesuai medis untuk melakukan hubungan.

[2] Kondom
Kondom ini adalah alat pencegah kehamilan yang sudah cukup popular bahkan dijual bebas di toko apotik. Kondom ini bahkan menjadi kampanye kondom kontroversial yang pernah diutarakan oleh Menteri Kesehatan. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori. Ini mencegah sperma masuk ke dalam rahim walaupun tidak 100% berhasil.

[3] Pil KB
Pil KB adalah salah satu mencegah terjadinya kehamilan. Pil KB ini diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur.

[4] Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
Biasa kita kenal dengan IUD (Intra Uterine Device). Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar produksi air susu ibu (ASI).

[5] Injeksi KB
Metode alat kontrasepsi ini dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur. Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate (DMPA). Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di pantat (gluteus) yang dalam atau pada pangkal lengan (deltoid). Dan ini masuk dalam jenis alat kontrasepsi yang juga biasa dipergunakan.

[6] Norplant (Susuk).
Norplant sama artinya dengan implant. Susuk atau implant ini adalah merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk waktu 5 tahun. Norplant biasanya dipasang di bawah kulit, di atas daging pada lengan atas wanita. Alat tersebut terdiri dari enam kapsul lentur seukuran korek api yang terbuat dari bahan karet silastik. 

Masing-masing kapsul mengandung progestin levonogestrel sintetis yang juga terkandung dalam beberapa jenis pil KB. Hormon ini lepas secara perlahan-lahan melalui dinding kapsul sampai kapsul diambil dari lengan pemakai. Kapsul-kapsul ini bisa terasa dan kadangkala terlihat seperti benjolan atau garis-garis.

Keenam alat kontrasepsi yang dipaparkan diatas masuk dalam kategori pencegahan kehamilan secara komtemporer tidak permanen. Maka hukumnya sama seperti hukum 'azl.

Vasektomi

Selain alat kontrasepsi yang disebutkan diatas, ada juga alat kontrasepsi yang disebut dengan vasektomi. Yang membedakan ialah bahwa vasektomi bersifat permanen, tidak seperti lainnya yang hanya sementara. Vasektomi sering disebut kontap-pria (kontrasepsi mantap pria)

Dalam kondisi normal, sperma diproduksi dalam testis. Pada saat ejakulasi, sperma mengalir melalui 2 buah saluran berbentuk pipa (vas deferens), bercampur dengan cairan semen (cairan pembawa sperma), dan keluar melalui penis.

Pada operasi vasektomi, saluran (vas deferens) tersebut dipotong dan kedua ujung saluran diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir dan bercampur dengan cairan semen.

Vasektomi adalah prosedur paten yang efektif untuk menghentikan kapasitas pria dengan jalan melakukan okulasi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

Karena itu praktek ini juga disebut dengan istilah Kontrasepsi mantap. Karena kemungkinan berhasil mencegah kehamilah sangat besar, terlebih lagi sifatnya yang permanen.

Hukum Vesektomi

Vasektomi lebih mirip dengan praktek pengkebirian dan pemandulan, bahkan memang itu esensinya. Dengan demikian praktek ini mutlak diharamkan oleh syariah. Karena memang telah menabrak dan menyalahi perintah syariah yang menganjurkan untuk memperbanyak keturunan.

Dikecualikan. Namun vasektomi bisa saja dilakukan dengan alasan medis yang memang benar-benar urgent (Dhoruriy). Misalnya untuk menghindari kehamilah bagi si istri karena sebab penyakit yang diderita.

Khawatir jika hamil justru malah menambah parah bahkan bisa menyebabkan kematian. Atau jika hamil justru penyakit parah itu akan membuat anak yang dilahirkan membawa penyakit dan kemungkinan besar cacat.

Dengan alasan medis yang benar-benar valid seperti itu, vasektomi bisa dikecualikan untuk bisa dikerjakan karena ada Mafsadah (keburukan) yang harus dihindari. Karena memang syariah Islam menjaga umatnya dari segala bentuk Mafsadah.

Kaidah Fiqih: "Laa Dhoror Walaa Dhiroor" [لا ضرر ولا ضرار] (Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan.

Vasektomi Semi Permanen

Belakang ada penemuan medis yang mengindikasikan bahwa vasektomi bisa saja menjadi tidak permanen, yaitu dengan operasi "rekanalisasi", yaitu upaya penyambungan kembali saluran yang telah terpotong. Dan itu telah teruji dapat kembali memulihkan saluran yang sebelumnya sudah terputus.

Jadi sewaktu-waktu kemampuan si lelaki untuk menyalurkan sperma dan membuahi tahim si istri bisa kembali pulih. Kalau seperti ini, Vasektomi dengan status tidak mantap yang bisa disterilisasi ini tidak tergolong dalam kelompok alat kontrasepsi yang diharamkan, karena sifatnay telah berubah dari permanen menjadi sementara.

'Illat (sebab) keharamannya yang merupakan memandulkan permanen telah hilang, maka ketika telah hilang 'Illat keharamannya, hukumnya menjadi tidak haram lagi.

Kesepakatan Ulama MUI, pada muktamar ke-IV MUI di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada tanggal 29 Juni s/d 2 Juli 2012 MUI telah membolehkan vasektomi –tidak mantap- sebagai salah satu metode dalam Program KB di Indonesia.

"kalau dengan kondom atau prkatek 'azl mungkin itu tidak jadi masalah, tidak melanggar syariah. tapi bagaimana dengan alat kotrasepsi lainnya yang menyatu dan merubah hormon, lalu mematikan sel telur dalam rahim, apakah tidak menyalahi syariah?"

Ya walaupun sifatnya sama dengan alat kontrasepsi lainnya yaitu mengatur kehamilah dan tidak memandulkan secara permanen. Tapi ssistem kerja beberapa alat kontrasepsi memang berbeda-beda, termasuk injeksi, implant atau susuk itu bekerja didalam dan mempengaruhi hormon.

Beberapa kalangan memang tetap mengharamkan itu walaupun sejatinya tandzim nasl bukan tahdid, tapi dengan sistem kerja yang menyiramkan, memvaksin hormon dalam tubuh kemudian "seakan-akan" membunuh sel telur dalam rahim, itu yg menyalahi syariah karena sama saja seperti aborsi.

Tapi pendapat ini "marjuh" (dilemahkan) oleh kebanyakan ulama. Karena beberapa sebab:

(1) Vaknisasi hormon, injeksi, implant dan sebagainya itu yang bekerja dalam tubuh sama sekali tidak membunuh sel telur. Tapi ia hanya menghambat terjadinya ovulasi (pembuahan), adapun sel telur yg telah tertanam dalam rahim tidak terkena dampak. Ia hanya mengurangi potensi sperma masuk dan membuatnya tidak siap untuk nidasi.

(2) Sperma yang masuk kemudian dilemahkan oleh implant dan sebagainya itu bukanlah janin yang kalau membunuhnya sama dengan aborsi.

Sel-sel telur dalam sperma itu selamanya tidak disebut dengan janin kecuali jika sudah benar2 tertanam dalam rahim (nidasi).jadi ini berbeda dengan aborsi yang memang membunuh sel telur yg telah tertanam dan berbuah.

Ketika menjelaskan kalimat "nuthfah" [نطفة](sperma) dalam Quran, Imam Qurthubi mengatakan: "nuthfah (sperma) bukanlah sesuatu apa2 dan tidak dihukumi sebagai janin sampai ia benar2 menyatu (tertanam) dalam rahim" (tafsir Al-qurthubi 12/8)

Dan dalam dunia medis, sperma yg masuk itu tidak benar-benar tertanam dalam rahim kecuali setelah melewati 6 atau 7 hari setelah dipancarkan.

Dan Majma' Fiqih Islam Internasional dalam qoror (keputusan)-nya telah membolehkan tandzim nasl dengan alat-alat semacam ini. 

 
Wallahu A'lam
 

Anak Tidak Berhijab, Ayah Masuk Neraka! Hadits Palsu

"satu langkah wanita keluar rumah tanpa menutup aurat, satu langkah pula ayahnya hampir masuk neraka. Satu langkah seorang istri keluar rumah tanpa menutup aurat, satu langkah suaminya hampir masuk neraka".

Saya sering sekali dapat ungkapan ini, dan beberapa web atau juga blog termasuk FanPage yang menuliskan ungkapan tersebut menambahkan kata "HR. Hakim", yang berarti bahwa ungkapan tersebut sebuah hadits. Malah ada juga yang menisbatkan ungkapan itu kepada riwayat Imam Bukhori dan Muslim.

Tapi dari sekian banyak web dan blog yang memasang ungkapan itu di sejagad maya ini, belum satu pun saya dapati ada yang menambahkan sanad hadits tersebut. Atau minimal disisipkan pula teks bahasa Arabnya. Sama sekali nihil.

Malah ada juga gambar-gambar yang berseliweran di internet yang isinya gambar wanita yang tidak berhijab kemudian bawahnya ditulis ungkapan ini, tentu tidak lupa dengan tambahan "HR……"

Dengan keterbatasa alat, media dan referensi yang saya gunakan, saya sampai sekarang belum menemukan ungkapan itu dalam sebuah kitab Hadits, atau ada ulama yang mengaskan bahwa ini hadits. Karena memang kemunculan ungkapan tersebut juga agak aneh, tiba-tiba muncul dan kemudian menyebar tanpa ada sanad yang jelas.

Saya bukan dalam posisi menganjurkan orang untuk tidak menutup aurat, Na'udzubillah. Bukan juga melarang orang untuk berseru menutup aurat. Bukan itu! Saya harap tidak salah paham. Tapi saya melihat ada beberapa poin yang memang menabrak dinding syariah dengan ungkapan ini.

Hadits Buatan

Tentu poin yang paling penting ialah bahwa ungkapan ini sama sekali bukan hadits. Nah karena memang bukan hadits, maka jangan sekali-sekali kita menisbatkan sebuah ungkapan kepada Nabi saw yang aslinya itu bukan perkataan Nabi Muhammad saw.

Karena jelas itu melanggar syariah dan masuk dalam kategori berbohong atas Nabi saw. Yang parahnya lagi, bahwa orang yang telah berbohong atas Nabi saw ganjarannya adalah neraka. Bukan main besarnya ancaman bagi yang mencoba-coba menisbatkan sebuah perkataan kepada Nabi saw padahal aslinya bukan.

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
"barang siapa yang berbohong atas ku dengan sengaja maka dia (telah) menyiapkan tempat untuknya di neraka"   (Muttafaq 'Alayh)

Perkara menisbatkan sebuah perkataan dan ungkapan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah pekerjaan remeh yang sembarang orang bisa melakukannya. Kosekuensinya besar dan tidak tangung-tanggung. Karena berbohong atas Nabi tidak sama seperti berbohong atas manusia lain. Karena perkataan Nabi Muhammad adalah wahyu. Membual dengan hadits sama saja membual dengan wahyu. Lalu tempat apa yang lebih pantas untuk para pembual wahyu selain neraka?

Jadi harus lebih teliti dengan ungkapan-ungkapan yang banyak menyebar dengan label hadits tapi sanad dan kitab rujukannya tidak jelas.

Vonis Neraka

Ya. Walaupun dalam ungkapan tersebut tidak vulgar dinyatakan masuk neraka, hanya "Hampir" saja, tapi tetap hampir itu kan yang satu langkah, kalau langkahnya banyak ya yang tadinya hampir menjadi benar-benar masuk juga. hehe

Dan alam affirmasi sebuah dakwah, kata-kata seperti itu sangat kasar dan menimbulkan kesan negative bagi si pendengar dan mad'u.

Kata-kata semisal neraka, kafir, atau juga musyrik adalah kata-kata yang harusnya bisa dihindari dalam berdakwah. Dengan kata-kata kurang sopan itu, yang terjadi malah pendengar melipir pergi dan ogah lagi mendengarkan dakwah kita.

Dan yang harus dipahami bahwa perkara menentukan si fulan dan fulanah kafir atau neraka sama sekali bukan perkara ecek-ecek. Seseorang tidak bisa melabeli seseorang dengan sebutan kafir kecuali dengan bukti-bukti nyata. Bukan dengan hadits bualan seperti ini.

Dan ungkapan ini juga telah menyalahi standarisasi penilaian syariah, dalam quran disebutkan "Laa Taziru Waaziratun Wizro ukhro" (seseorang yang berdosa tidak menanggung dosa orang lain).

Seorang ayah atau ibu yang sudah berkali-kali memerintahkan anak perempuannya yang sudah baligh untuk berhijab, lalu kemudian dengan kanakalan remaja itu ia tetap tidak menggubris perintah orang tua dan terus tidak manutup aurat, ya itu perkara si perempuan bukan lagi perkara orang tua.

Saya sering membayangkan bagaimana sakitnya perasaan orang tua dan suami ketika membaca ungkapan itu. padahal sejatinya beliau-beliau telah menempuh seluruh cara sekuat tenaga untuk bisa membuat anak dan istrinya menutup aurat. Tapi wanita itu tetap menolak untuk berhijab dengan alasan yang dibuat-buat.

Musa dan Harun 'Alaiyhimas-Salam Kepada Fir'aun

Firaun yang memang sudah jelas kufurnya, sudah jelas masuk neraka, sudah jelas menandingi Allah swt dengan mengaku sebagai tuhan dan meminta disembah oleh rakyatnya. Tapi tetap Allah swt memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata dengan perkataan yang baik dan sopan kepada Firaun.

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaha 44)

Ini kepada Fir'aun yang sudah jelas menyimpang, bahkan berani mengaku tuhan. Lalu kenapa kita terhadap saudara muslim lainnya yang sama-sama beriman, sama-sama berusaha untuk menjadi muslim yang makin baik tidak bisa berkata yang sopan dan lembut sebagaimana Musa dan Harun mendakwahi firaun.

Jadi memang seorang muslim ialah seseorang yang punya sifat "Tabayyun", cek ricek kebenaran kabar penting yang datang ke kuping kita, tidak asal telan.  

Wallahu A'lam.
 

Dilema "Punuk Unta"

Tentu semua pernah dengar tentang istilah Punuk unta bukan? Yang belakangan memang sering dikampanyekan oleh beberapa aktifis dakwah melalui akun-kaun medsoc bahwa itu melanggar syariah dengan disertai gambar sample-nya pula.

Bahkan saking semangatnya, sample gambar yang ditampilkan pun disertai gambar asli unta dengan punuknya yang tinggi kemudian disisipkan gambar kepala wanita berkerudung yang gaya berkerudungnya yang "dimirip-mirip-kan" dengan punuk unta itu. Saya pribadi agak risih melihat gambar tersebut.

Dan memang saya melihat ada beberapa poin yang rasanya urgent sekali untuk diluruskan terkait masalah punuk unta ini. Karena memang masalahnya, dalam hadits Nabi, wanita seperti itu masuk dalam golongan penduduk neraka. Jadi bayangkan saja, berapa wanita yang sudah "divonis" neraka dengan gambar itu? Terlalu terburu-buru kalau harus mengatakan neraka.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا [1] ..... [2] وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Nabi saw: "Ada 2 golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. [1]……[2] wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak lenggok, mengundang kemaksiatan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita itu tidak masuk surge dan juga tidak mencium bau surga, padahal bau surga sudah tercium dalam jarak sekian dan sekian". (HR Muslim, 3971)

Sayangnya pesan yang disebarkan tentang hadits ini dengan gambar-gambar yang banyak bertebaran itu masih agak bias, dan kurang penjelasan yang detail. Masih terlalu umum jika hanya mengatakan punuk unta. Kesannya jadi wanita manapun yang berhijab dengan model serupa seperti di gambar "Punuk Unta", berarti dia masuk dalam ketegori yang dilarang itu.

Dilema Rambut Panjang

Ini yang perlu dijelaskan. Tentu banyak yang akan bertanya-tanya, Punuk Unta itu seperti apa? Dan bagaimana? Lalu bagaimana dengan wanita yang punya rambut panjang? Kalau kita lihat lebih teliti, orang-orang tua kita juga banyak yang berkerudung dengan model "mirip" punuk unta itu, karena memang rambutnya yang panjang. Lalu apakah mereka tergolong sebagai ahli neraka?

Wanita-wanita yang berambut panjang menjadi dilema kalau begini. Sulit sekali rasanya berhijab, karena kalau rambutnya dujulurkan begitu saja agar tidak ada punuk unta, itu akan membuat rambutnya terlihat oleh orang-orang karena panjangnya rambut tersebut.

Tapi kalau dia lipat rambut itu agar lebih mudah memakai hijab dan rambutnya tetap terjaga tidak terlihat, nantinya akan muncul benjolan dibelakang kepala yang pasti akan dikatakan sebagai punuk unta. Berdosa juga akhirnya. Rambut kelihatan ngga boleh, dilipat pun ngga boleh karena punuk unta. Lalu bagaimana?

Apa ada dalil yang melarang wanita untuk memanjangkan rambutnya? Atau apakah ada dalil yang memerintahkan wanita untuk memangkas rambutnya jika sudah panjang? Apa ada?
Nah maka itu, penting sekali agar definisi "Asnimatil-Bukht" [أسنمة البخت] "Punuk Unta" yang dimaksud dalam hadits ini dijelaskan dengan baik dan fair.

Apa itu Punuk Unta?

Imam Nawawi dalam menjelaskan hadits ini mengatakan:
"Yang dimaksud dengan "Asnimatil-Bukht" [أسنمة البخت] "Punuk Unta" ialah mereka yang membesarkan kepalanya dengan kain hijab, atau selendang dan semisalnya yang dilipatkan diatas kepala sehingga menyerupai punuk unta. Ini pendapat yang masyhur" (Syarh An-Nawawi 'Ala Muslim 17/191)     

Imam Ibnu Al-'Arobi juga mengatakan:
"kalimat "Asnimatil-Bukht" [أسنمة البخت] "Punuk Unta" dalam hadits itu ialah kiasan bagi wanita yang membesarkan kepala dengan sejenis potongan-potongan kain (rambut palsu) agar orang yang melihatnya menyangka bahwa itu rambutnya. dan ini diharamkan" (Faidh Al-Qodir 1/463)

Jadi punuk unta itu –sesuai definisi diatas- bukanlah lipatan rambut, akan tetapi lipatan dan gulungan sesuatu yang bukan rambut asli entah itu kain atau bahan sejenis yang dilipat diatas kepala, agar nantinya orang yang melihat menyangka bahwa itu rambut sungguhan yang panjang padahal bukan. Ini yang dilarang karena ada unsur penipuan dan pengelabuan.

Nah kalau definisinya seperti ini, berarti ada kolerasi dan sambungan dengan hadits larangan menyambung rambut, karena dalam praktek itu semua terdapat unsur penipuan dan mengelabui. Nabi saw bersabda: "Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambungkan dan yang membuat tatto juga yang minta dibuatkan tatto" (HR. Bukhori 5841)

Punuk Unta = Lipatan Rambut?

Ya memang ada ulama yang menafsirkan bahwa punuk unta itu lipatan rambut panjang. Tapi jangan gegabah mengatakan orang yang melipatkan rambut mereka sebagai punuk unta, ulama punya spesifikasi khusus dalam mengkategorikan lipatan rambut itu sampai disebut dengan punuk unta yang dimaksud dalam hadits.

Imam Al-Qurthubi sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolani dalam kitabnya  Fathul-Baari, mengatakan:
وقال القرطبي البخت بضم الموحدة وسكون المعجمة ثم مثناة جمع بختية وهي ضرب من الإبل عظام الأسنمة والأسنمة بالنون جمع سنام وهو أعلى ما في ظهر الجمل شبة رءوسهن بها لما رفعن من ضفائر شعورهن على أوساط رءوسهن تزيينا وتصنعا وقد يفعلن ذلك بما يكثرن به شعورهن
"bukht [بخت] itu bentuk plural dari Bukhtiyah [بختية], yaitu kata yang dipakai sebagai perumpamaan unta yang mempunyai punuk besar. Sedangkan kata Asnimah [أسنمة] bentuk plural dari "Sanam" [سنام] yaitu ialah punuk yang menjulang tinggi yang berada ditengah-tengah punggung unta,  

Kepala-kepala wanita itu dianalogikan dengan punuk unta karena mereka mengangkat (menjadikan) gulungan dan lipatan rambut mereka diatas kepala sebagai bentuk perhiasan (berhias mempercantik) dan dibuat-buat, dan terkadang mereka melakukan itu dengan sesuatu yang bisa menambah rambut mereka (dengan rambut buatan)"  (Fathul-Baari 10/375)

Ada point penting yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi disitu, yaitu point:
تزيينا وتصنعا
"sebagai bentuk perhiasan (berhias mempercantik) dan dibuat-buat"

Makin jelas disini bahwa yang dimaksud punuk itu ialah ikatan atau gulungan rambut dan yang bukan rambut, seperti kain atau sorban yang kemudian ditaruh diatas kepala dengan tujuan Estetic (mempercantik diri), yaitu dengan maksud berdan-dan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Sedangkan, apa yang dilakukan oleh kebanyakan wanita Indonesia yang berambut panjang kemudia dia melipatnya di belakang kepala agar bisa memakai kerudung tidak tergolong dalam sebutan punuk unta yang dilarang.

Toh mereka bukan bertujuan untuk berhias, mereka melakukan karena memang harus melakukan itu untuk bisa berhijab. Bukan dibuat-buat agar terlihat modi. Dan juga lipatan rambut itu tidak diletakkan diatas kepala seperti punuk unta, melainkan dibelakang kepala.

Karena dalam syarahnya tentang hadits itu, Imam Nawawi mengutip pendapat salah satu ulama yang menyebutkan bahwa punuk unta itu yang gumpalan rambut atau rambut palsu yang ada diatas kepala, itu yang disebut dengan punuk unta. (Syarh An-Nawawi 'Ala Muslim 17/191)

Jadi sama sekali apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua kita, atau saudari-saudari muslim kita itu bukan yang dimaksud dalam hadits Nabi saw itu. Karena itu rambut asli dan bukan bertujuan estetik, atau berhias mempercantik diri. Dan baiknya kita lebih bijak dan fair ketika menyampaikan pesan agama.

Justru para wanita berhijab modis yang banyak sekarang itu, –maaf- mereka yang lebih dekat dengan sebutan punuk unta. Karena beberapa mereka memakai kerudung dengan banyak lapisan. Lapisan dasar, kemudian ditambah dengan lapisan kedua yang berwarna-warni kemudian diputer, digulung, ditambah lagi dengan renda-renda. Masih kurang, ditambah lagi dengan bunga. Masih kurang kemudia ditambah lagi dengan pashmina. Kan ini yang akhirnya membuat kepala semakin besar.

Fatwa Sheikh Bin Baz

Ketika ditanya oleh seorang penanya "apakah lipatan rambut dibelakang kepala untuk wanita yang berambut panjang itu termasuk dalam golongan ahli neraka yang disebut dengan punuk unta dalam hadits nabi?"

Beliau menjawab: Tidak! wanita yang berambut panjang kemudian melipatnya dibelakang kepala tidak masalah walaupun agak sedikit menonjol. Karena larangannya ialah lipatan dari sesuatu selain rambut, seperti kain atau selendang dan semisalnya.

Lihat fatwanya disini: binbaz [dot] org [dot] sa/mat/11139

Sheikh Kholid Abdullah Al-Muslih

Sheikh Kholid bin Abdullah Al-Muslih, seorang guru besar syariah dari Universitas Imam Muhammad bin Saud cabang Al-Qosim, pun mengatakan demikian dalam sebuah acara televise konsultasi syariah yang memang rutin ditayangkan dan beliau menjadi pengasuhnya.

Doktor yang pernah belajar langsung dengan Sheikh Sholeh Al-'Utsaimin ini juga mengatakan bahwa lipatan rambut wanita yang memang berambut panjang sama sekali tidak termasuk dalam kategori punuk unta yang dapat ancaman neraka dalam hadits Nabi saw.

Memahami Hadits

memahami hadits tidak seperti memahami teks bahasa Arab biasa yang bisa diartikan dengan tanpa melihat referensi, cukup buka kamus, kalau sudah tahu ya tinggal diterjemahkan lalu dengan demikian bisa langsung paham.

memahami hadits perlu pemahaman yang kmprehensif, tidak sepotong-septong. karena memang hadits tidak seperti pragraf bahasa arab biasa. seandainya saja hadits itu bisa dipahami begitu saja oleh para mereka yang memang bisa berbahsa arab, ulama sejak 14 abad yang lalu tidak perlu repot-repot membuat kitab-kitab syarah yang jumlah jilidnya sampai belasan dan puluhan.

Itu memang karena tidak mudah memahami sebuah hadits. perlu banyak tinjauan, tentu juga harus mengerti Asbab wurudnya, pada even dan momen apa nabi menyampaikan itu, dimana nabi mengatakan itu, letak geografis, kepada siapa Nabi menyampaikan itu.

Dan pemahaman kita pasti akan mentok tanpa kita merujuk kepada kitab-kitab syarah hadits tersebut. dan saya sangat menyanyangkan banyak gambar yang tersebar mengutip hadits hadits ini, atau juga web, blog, fanpage yang juga mengutip hadits ini hanya menuliskan terjemah begitu saja tampa menampilkan apa kata ulama tentang hal itu. itu sangat disayangkan.

Padahal kalau kita buka beberapa syarah ulama dalam kitab2 mereka (tentu dengan bimbingan mereka yang paham) insyaAllah kita akan mendapat pencerahan.
 
Hadits Punuk Unta

Hadits ini riwayat imam muslim, nah kita buka saja kitab-kitab yang memang menyarah kitab Shohih muslim, ada Syarah Imam Nawawi, Syarah imam Suyuthi, Imam Ibnu Al-Atsir juga punya, An-Nihayah namanya, Al-Dibaaj 'ala Muslim, Imam al-baghowi juga mengutip penjelasan hadits ini dalam Syarah sunnah-nya, imam Ibnu hajar pun demikian dalam Fathul-Baari-nya.

DDan kesemua ulama tersebut sama sekali tidak ada yang meributkan punuk unta, selain punuk yang terbuat dr kain, sorban, rambut palsu,,, selama itu memang rambut asli dan memang harus mengumpulkannya, mirip atau tidak mirip punuk unta, tidak diributkan.

Ada yang mempermasalahkan memang jika itu rambut asli, tapi dengan poin itu tadi: "Tazyiinan wa tashonnu'an" (pengen pamer cantik, dibuat-buat biar dibilang cantik".

Malah tidak sedikit ulama yang menafsirkan tentang prilaku buruk si wanita arena memang sejak awal redaksi hadits tersebut menceritakan perangai buruk seorang wanita yang berpakaina tapi telanjang.

Pun kalau kita merujuk kepada ulama kontemporer, tidak ada yang meributkan tentang rambut asli. beliau-beliau fine-fine aja tentang itu. karena memang rambut asli.

Jadi memang baiknya, kita lebih bijak, dan tentu sering-seringlah merujuk kepada beliau ustadz-ustadz dan ulama yang memang jauh lebih paham dari pada kita.

jangan asal tempel hadits. 


-wallahu a'lam- 
 

Donor ASI Dalam Pandangan Syariah

Beberapa hari yang lalu, saya ber-chat via Blackberry dengan salah seorang ibu Rumah Tangga yang mengaku salah satu anggota dari perkumpulan wanita peduli bayi kurang asi. Perkumpulan tersebut memberikan atau lebih tepatnya mendonorkan asi yang sudah diperah dan dibotolkan kepada mereka yang membutuhkan.


Beliau mengatakan bahwa sekarang sudah bukan barang asing lagi, banyak wanita yang mendonorkan susunya untuk bayi-bayi yang kekurangan asi. Karena memang banyak bayi dalam keadaan tidak berunutung, begitu kata beliau.

"Itu bagaimana hukumnya ya, pak?"

Saya katakana ya "Ahlan wasahlan", silahkan saja dan tidak mengapa. Kalau memang si wanita mempunyai susu yang melebihi kebutuhan anaknya sendiri kemudian ia berkeinginan mendonorkan, justru itu akan menjadi amal baik wanita itu nantinya dan tentu mendapatkan pahala dari Allah swt.

Toh dulu juga Nabi menyusui dari ibu susuan yang bernama Halimah Al-Sa'diyah, dari suku Sa'd di kampung baduy.

Hanya saja memang harus diketahui konsekuensi syariah yang muncul dalam mendonorkan susu itu bagi siapapun yang ingin mendonorkan asinya tersebut. Bahwa nantinya donor asi itu akan menyebabkan pertalian nasab bagi si wanita pendonor dan juga bayi yang mendapat donor asi tersebut.

Si anak menjadi seperti anak kandung hukumnya dalam syariah. Lebih tepatnya menjadi mahrom, karena telah menjadi mahrom maka nantinya si bayi ketika sudah baligh boleh bersentuhan dengan si ibu pendonor dan juga tidak masalah membuka hijabnya di depan anak tersebut.

Dan anak itu menjadi saudara dari anak-anak si ibu pendonor itu. Menjadi sama hukumnya, dan tidak bisa menikah satu sama lain, karena status mereka semua ialah Mahrom.

Nah, untuk menghindari terjadi kerancuan nasab dari praktek ini, maka baiknya si pengelola harus terliti. Harus didata dengan identitas yang benar dan tidak bias siapa si pendonor dan siapa yang mnedapat donor asi tersebut. Agar nantinya ketika sudah besar tidak terjadi hal-hal yang melanggar syariah.

"Emangnya minum asi tidak langsung dari si ibu (dengan asi yang sudah diperah dalam botol) itu juga termasuk hal yang menjadikan ke-mahrom-an dan menetapkan nasab, pak?"

Ya. Memang ulama berbeda pendapat dalam hal ini, apakah ke-mahrom-an itu terjaid hanya dengan meminum asi langsung dari si ibu atau bisa dengan asi yang sudah diperah? Ada yang mengatakan "Ya. Jadi mahrom". Ada juga yang mengatakan "Tidak! Mahrom hanya terjadi ketika si bayi menyusu langsung".

[1] Mahrom Hanya Terjadi Dengan Menyusui Langsung.

Ulama dalam kelompok ini berpendapat bahwa susu yang sudah diperah itu tidak disebut menyusui, jadi tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal itu, ini adalah pendapatnya madzhab Zohiri, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Dengan dalil:

Rodho' [رضاع] (menyusui) secara bahasa Arab berarti:
التقام الثدي وامتصاص اللبن
"Iltiqom al-Tsady wa Imtishosh Al-Laban"
"menempelnya mulut bayi dengan dada dan menghisap susu dari situ"

Jadi jika seorang bayi menyusu dengan asi yang sudah diperah dan dibotolkan artinya dia tidak menyusu secara langsung dari dada si ibu, maka itu tidak dinamakan Rodho', karena bukan Rodho' ya tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal ini. Karena memang ke-mahrom-an terjadi hanya terjadi dengan Rodho', dan asi yang sudah dibotolkan tidak bisa dikatakan Rodho'.

Selain secara bahasa, bahwa menyusui itu ialah bukan hanya menyalurkan asi kepada si bayi. Tapi dengan menyusui langsung juga terjadi proses transfer rasa sayang dan cinta dari si ibu kepada si bayi, nah proses pertalian emosional ini jugalah yang menyebabkan terjadinya ka-mahrom-an. Dan itu tidak terjadi pada penyusuan dengan asi yang sudah dalam botol.

[2] Ke-Mahrom­-An Terjadi Dengan Menyusui Langsung Atau Tidak Langsung

Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari 4 madzhab Fiqih. Menyusui baik yang langsung atau pun dengan system perah dan botol itu sama saja hukumnya, sama-sama menjadi si bayi dan si ibu mnejadi mahrom. Dengna dalil:

Yang mnejadi patokan itu bukan bagaimana cara menyusui, tapi yang menjadi Patoka itu ialah susu ibu itu sendiri yang telah masuk kedalam tubuh si bayi dan menyatu dengan darah dan daging.

Dalam riwayat Abu Daud dari hadits Ibnu Mas'ud disebutkan Nabi saw bersabda:
لَا رَضَاعَ إِلَّا مَا أَنْشَزَ اَلْعَظْمَ, وَأَنْبَتَ اَللَّحْمَ
"tidak dikatakan menyusui kecuali yang menjadikan tulang dan menumbuhkan daging" (HR. Abu Daud)

Disini jelas bahwa yang disebut dengan Rodho' itu ialah penyusuan yang menjadikan daging dan tulang, dan itu terjadi pula pad bayi yang menyusu dengan botol dari asi yang sudah diperah. Jadi memang tidak mesti langsung.  

Kemudian juga ada hadits yang mengatakan bahwa: "Sesungguhnya Rodhoah (penyusuan) itu ialah yang menghilangkan kelaparan (si bayi)" (Muttafaq 'Alayh). artinya memang dalam hal ini tidak dilihat apakah susu itu dihisap langsung atau tidak. Selama asi itu memang menjadi makanan pengeyang (makanan pokok) bagi bayi, dan itu kemudian menjadi daging dan tulang, maka ke-mahrm-an berlaku disitu.

"Lalu Gimana, pak? Mana pendapat yang kuat?"

Saya tidak mengatakan mana yang kuat mana yang lemah. Tapi saya lebih condong kepada pendapat Jumhur. Selain karena itu suara mayoritas (Majority Voice), pendapat ini juga lebih hati-hati dan tidak menggampangkan.

Toh dulu, pada zaman Nabi juga terjadi peristiwa Salim, seorang Budak Abu Khuzaifah, yang disusui oleh istirnya Abu Khuzaifah dengan susu yang sudah diperah dan kemudian Nabi menyatakan bahwa mereka telah menjadi mahrom.

"Bukannya Penyusuan yang menetapkan nasab itu penyusuan dengan jumlah 5 kali susuan?"

Ya. Itu pendapat Jumhur bahwa penyusuan yang menyebabkan mahrom itu jika susuannya mencapai 5 kali susuan, berdasarkan hadits 'Aisyah ra. Bahwa diawal masa-masa kenabian, penyusuan yang menyebabkan ka-mahrom-an ialah 10 kali dan kemudian diNaskh (dihapus) mnejadi 5 kali susuan. Dan ini yang berlaku sampai Rasulullah saw wafat. (HR Muslim)  

"Lalu Bagaimana menentukan itu satu kali susuan? Apakah dengan satu botol atau berapa takarannya?"

Imam Shon'any dalam kitab Subulus-Salam, menjelaskan ini. Beliau mengatakan bahwa yang disebut satu kali susuan itu ialah:

"ketika si bayi menyusu (langsung atau tidak langsung) kemudian ia meninggalkan susuannya tersebut tanpa paksaan (bukan dilepaskan oleh si ibu) tapi dia melepaskan isapannya tersebut dengan sendirinya. Tapi jika ia melapaskan isapan karean ingin bernapas atau sekedar istirahat atau hal lain (seperti nguap dan ngulet), kemudian kembali lagi menghisap dalam jarak waktu yang dekat. Maka berhentinya itu tadi tidak terhitung sebagai satu kali susuan, tapi susuan yang belum beres."
(Subulus-Salam. Hal 1117)

Nah itu yang disebut dengan satu kali susuan. Tapi kan memang bayi itu tidak menyusu sekali dua kali, bahkan dalam sehari ia bisa menyusu lebih dari 6 kali dan lebih dan lebih. Kalaupun harus dioplos, artinya susuan pertama dari donor asi si ibu A dan yang kedua dari ibu B.

Maka penting disini pendataan yang detail. Hari ini memang si ibu A donor asinya hanya satu kali, tapi esok hari ia bisa mendonor yang kedua dan dihisap oleh bayi yang sama seperti kemarin. Kalau terus berulang sampai 5 kali, maka terjadi ke-mahrom-an.

Maka penting dalam hal pengelolaan donor asi ini ialah pendataan identitas yang jelas dan detail baik bagi si ibu pendonor atau si bayi yang mendonorkan.

"Boleh ngga ya, pihak pengelola meminta uang atas asi yang diminta?"

Saya melihat tidak ada masalah jika harus diuangkan, artinya diperjual belikan. Itu sama saja seperti pasangan pasurtri yang memberikan tanggung jawab susu anaknya kepada seorang wanita penyusu, dan memberikan gaji/salary untuk wanita tersebut.

Dan hal itu dibolehkan dalam syariah. Bahkan dalam ilmu fiqih, seorang suami lah yang wajib memberikan itu, artinya seorang suami berkewajiban memberi upah untuk istrinya jika ia menyuruh si istri untuk menyusui. Tapi jika menolak, si suami wajib mencarikan ibu penyusu untuk anaknya. Karena memang kewajiban Hadhonah (asuh) itu ada pada ayah, termasuk masalah asi bayi.

Tapi yang namanya donor, ya berarti donasi. Yang namanya donasi kan berarti pekerjaan sukarela, itu aslinya. Maka sebenarnya tidak perlu ada bayar-bayaran. Tapi jika pengelolaan memang membutuhkan uang untuk operasional pengelolaan, ya tidak masalah.

Wallahu A'lam     
 

Hukum Konsumsi Kopi Luwak

beberapa waktu yang lalu muncul pertanyaan dari salah satu kawan tentang hukum luwak. Beliau mengatakan: "Bagaimana ya hukum konsumsi kopi luwak, itu kan dari kotoran. Bukannya kotoran itu najis?"
 
Sebenarnya ini bukan masalah baru, sejak dulu ulama negeri ini sudah membicarakan itu semua. Sampai MUI pun telah mengeluarkan fatwa halal unuk kopi luwak itu sendiri. Tapi tidak masalah juga kalau dibahas disini, sekaligus menambah maklumat juga.


Kopi Luwak Bukan Kotoran

Kopi luwak itu bukan kopi dari kotoran hewan. Tapi kopi luwak itu kopi biasa sama seperti kopi lainnya, hanya saja itu keluar darr perut luwak bersamaan dengan kotorannya.Konon ceritanya luwak itu hewan yang pintar memilah milih biji kopi terbaik, jadi dia tahu mana biji kopi yang bagus dan kemudian dia makan.

Nah biji kopi yang telah dimakan itu dikeluarkan lagi bersama kotoran luwak dengan bentuk biji kopi yg masih utuh. Katanya biji kopi yang sudah melewati proses penyaringan perut luwat itu akan menghasilkan rasa yang sangat nikmat.

Entah bagaimana penelitiannya dan tolak ukurnya sehingga kopi yang dihasilkan dari luwak itu dikatakan punya rasa yang sangat nikmat.

Bukan Barang baru

Sebenarnya praktek hewan yang memakan biji-bijian kemudian biji yang keluar dari perut hewan itu menjadi konsumsi manusia, itu bukan hal baru. Itu telah ada sejak zaman ulama salaf. Dan beliau-beliau juga telah membicarakan ini sejak dulu. Jadi Alhamdulillah kita ngga perlu repot lagi mencari sana-sini, cukup merujuk kepada mereka.

Sumbu masalahya yaitu pada biji makanan yg keluat dari perut hewan itu, apakah tergolong najis atau bukan. Karenaa kalau najis, yaaa haram dimakan. Inget ya kriteria makanan haram (non hewani) dalam syariah: [1]. Najis, [2]. Memabukan, [3]. Membawa kemudhorotan.

Apakah biji kopi yang keluar dari perut luwak itu najis?

Simpelnya kita bisa rujuk ke qoulnya Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu'nya. Beliau mengatakan:

إذا اكلت البهيمة حبا وخرج من بطنها صحيحا فإن كانت صلابته باقية بحيث لو زرع نبت فعينه طاهرة لكن يجب غسل ظاهره لملاقاة النحاسة

"Kalau ada hewan yang memakan biji-bijan, kemudian biji itu keluar dari perutnya dalam keadaaan sempurna tidak rusak, bentuk dan kekerasan biji itu masih utuh, yaitu kalau seandainya ditanam lagi masih akan tetap tumbuh, maka biji itu suci dan wajib dibersihkan karena telah bersentuhan dengan najis (yang ada di perut hewan)"
(Al-Majmu' 2/573)

Nah jelas kan bahwa biji itu masih tetap dalam keadaan suci. Standarnya kalau biji itu keluar dari perut hewan masih tetap dalam keadaan sempurna dan utuh. dan standarisasi "utuh"? Yaitu kalau ditanam dia akan tumbuh lagi. Nah kalau begini, biji itu suci dan tinggal dibersihkan saja, karena telah bersentuhan dengan kotoran hewan.

Karena memang biji itu suci, ya jadi sah-sah saja untuk di konsumsi. -wallahu a'lam-

 

Kitab Alghoz Kontemporer (Download Kitab)

S: seorang wanita sama sekali tidak boleh jadi Imam untuk laki-laki, tapi bagaimana jika itu terjadi dan itu boleh, tidak dilarang sama sekali?
J: si wanita sedang membaca Al-Quran dan suaminya mendengarkan, ketika membaca ayat sajadah (sujud), si wanita sujud dan suaminya yang mendengarkan pun ikut sujud. Maka terlihat seakan-akan wanita mengimami laki-laki.


Nama kitabnya Al-Durar Al-Bahiyyah Fi Al-Alghoz Al-Fiqhiyyah [الدرر البهية في الألغاز الفقهية], disusun oleh DR. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi, yang banyak dikenal orang dengan sebutan Sheikh 'Arifiy.

Ini adalah kitab Alghoz Komtemporer zaman sekarang, berisi lebih dari 300 contoh Alghoz Fiqih yang telah dikumpulkan dari beberapa kitab Turats (lama) dan juga dari apa yang telah banyak dibicarakan oleh kalangan para ulama Fiqih dalam majlis-majlis mereka.

Salah satu kunci yang membuat Alghoz itu originil dan terlihat tidak ecek-ecek itu ialah kematangan bahasa dan kedalaman pemahaman serta wawasan dalam masalah fiqih. Dan kitab ini, walaupun kontemporer, bahasa yang disajikan sangat akrab di telinga, mudah dimengerti tapi tetap menjaga detailnya bahasa Arab itu sendiri.

Untuk masalah Fiqih yang disajikan kedalam bentuk Alghoz dalam kitab ini tidak terbatas hanya pada madzhab si penulis saja; Madzhab Hanbali. Akan tetapi juga mencakup semua madzhab Fiqih, karena memang yang dilakukan sheikh 'Arifi bukan menciptakan Alghoz baru, akan tetapi mengumpulkan apa yang sudah ada dan menyajikan dengan bahasa yang familiar dan tidak sulit dimengerti.

Satu yang menjadi kritik dari kitab ini ialah susunannya yang tidak diklasifikasikan dengan bab-bab Fiqih, beliau (penyusun) hanya memberika nomor-nomor saja tanpa mengkotak-kotakkannya dalam bab-bab Fiqih.

Tapi yang menjadi nilai plus, kitab ini tidak hanya memuat Alghoz saja. Di footnote kita akan mendapati beberapa maklumat syariah yang tentu bermanfaat; diantara yang paling banyak disajikan ialah kisah-kisah hikmah para ulama salaf. Jadi dalam kitab ini, kita dapat 2 kelebihan.

Setidaknya kitab ini bisa menjadi teman di kala senggang, bergurau dengan gurauannya para Fuqoha' (walaupun bukan seorang faqih) itu jauh lebih baik dibanding harus bergurau yang menjurus ke maksiat. 

Link Download:


 
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger