Jangan Khatam Quran Sebelum Khatam Tajwid

Jangan #KejarKhatam quran sebelum Khatam #BelajarTajwid

Isi Ramadhan dengan #BelajarTajwid bukan #KejarKhatam

Sebaik-baik dzikir ialah membaca Quran | Sebaik-baik membaca Quran ialah dengan tajwid (kaidah hukum)

Membaca Quran dengan benar, dgn kaidah hukum tajwid ialah suatu Fardhu 'Ain , kewajiban personal tiap muslim. Ini kesepakatan ulama sejagad

#KejarKhatam bukan kewajiban, tapi #BelajarTajwid itu kewajiban

#KejarKhatam Quran dengan bacaan mencla mencle. Mau menghormati Quran apa mau menghinanya?

Baca surat dari doi aja takut kalo bacanya salah | kenapa berani baca Quran asal2an tanpa kaidah?!! Ayo #BelajarTajwid

Baca Quran dengan Tajwid dan kaidah hukum yg benar itu kewajiban dan jauh lbh baik drpd #KejarKhatam Quran tapi bacanya amburadul

Penyakit dari dulu: "masuk Ramdhan, baca qurannya begitu, keluar Ramadhan, bacanya begitu jg, tetep salah" | ayo #BelajarTajwid

Mumpung Ramadhan, ayo sembuhkan penyakit "baca quran gitu2 aja" dengan #BelajarTajwid | mumpung banyak waktu dan semangat

#KejarKhatam Quran bisa kapan aja. Tapi #BelajarTajwid ngga bisa ditunda2 lagi | #kewajiban

Ramadhan ini kita khatamin #BelajarTajwid , Ramadhan tahun depan kita Geber #KejarKhatam Quran

Mau menghormati Quran? Bukan dengan #KejarKhatam , tapi dgn membacanya dgn kaidah hukum yg benar. Ayo #BelajarTajwid

Mau menghormati Quran? Bukan dengan #KejarKhatam , tapi dgn membacanya dgn kaidah hukum yg benar. Ayo #BelajarTajwid

Ramadhan ini, tunda dulu #KejarKhatam kalau belum lancar | prioritaskan #BelajarTajwid | mumpung semangat

Di masjid2 sekitar kita, banyak #HalaqohTajwid , di kampus, di musholla, ayo datangi, ikut #BelajarTajwid | jgn baca sendirian drmh

Ngaji rame2, biar kalo ada bacaan yg salah bisa dibenerin o/ yg laen | bisa #BelajarTajwid dr kawan yg lain

Ok. Jangan #KejarKhatam Quran kalu baca blm lancar. Mending #BelajarTajwid dulu :')

Kontek teman/sahabat/kerabat/guru/mentor/ustadz, minta #BelajarTajwid kpd beliau | saling berbagi semangat Ramadhan

kmrn baca qurannya gitu, skrng gitu lagi, tetep salah" kapan benernya kalo ngga #BelajarTajwid | ayo mumpung banyak wakt&smngat

Jadikan bulan Ramadhan kali ini #BulanTajwid

"Sudah berapa kali khatam?" <-- ini pertanyaan yg kurang tepat, hrs dirubah jadi --> "sudah berapa hukum tajwid yg dipelajari?" :D

"Seberapa tajwid kah bacaan Qur'an mu?" #hmm (Y) | ayo #BelajarTajwid

"Sudah brp kali khatam?" | sy ngga kejar khatam, tp alhamdlillah bacaan sy makin bagus dan meningkat krn belajar bbrp hukum tajwid :))

"Sayang banget, ramadhan kok ngga khatam quran?" | lbh rugi lg kalo tiap taon bacaannya gitu2 aja ttp salah, perbaiki bacaan, bukan kejar2an

Kejar khatam dgn bacaan segitu2nya | trus kalo udah khatam mao ngapain? Selesai baca qurannya? Kpn #BelajarTajwid nya?

Kalo tilawah tiap hari, pasti ujungnya jg khatam, ramadhan atau bukan sama aja! Yg pnting kualitas bacaan meningkat. Bukan mencla mencle

"Berarti Ramadhan ngga khatam Quran dong?" | emang harus ya? Dosa kalo ngga khatam?

"Berarti ngga tilawah2 dong kalo ngga punya target khatam?" | Kasian, tilawah kalo lg ada target khatam doang. Ckckck

"Kalo ngga Ramadhan kpn khatam Quran?" | kasian, khatam quran kalo cuma Ramadhan doang, ckckck

Baca quran tiap hari tanpa kenal Ramadhan atau bukan, ujung2nya pasti khatam jg. Knp tunggu ramadhan?

Kualitas bacaan hrs trus ningkat dgn #BelajarTajwid krn itu yg wajib. Bukan baca mencla mencle trus ujug2 #KejarKhatam Quran

"Kalo #BelajarTajwid knp baca Qurannya?" | Baca tiap hari, itu mesti! tp jadwalkan bbrp hari u/ #BelajarTajwid ,

Kok betah punya penyakit: "masuk ramadhan baca qurannya gitu, keluar ramadhan gitu jg, ttp salah. Puasa taon depan, gitu jg. Msh mencle2"

Kalo memang ingin mengamalkan sunnah, ya #BelajarTajwid krn Jibril pun menyampaikan kpd Rasul dgn tilawah yg ber-tajwid. Ngga asal baca

Ulama sejagad tlh bersepakat baca Quran dgn kaidah yg benar (tajwid) itu kewajiban :')

follow saya di @zarkasih89
 

Hukum Memakai Barang / Software Bajakan


Timbul banyak pertanyaan tentang “Apakah Boleh kita memakai dan menggunakan barang bajakan untuk kebutuhan sehari-hari? Seperti software computer, dan juga barang lainnya?”

Sebelum melanjutkan, silahkan merujuk kembali artikel sebelumnya yang berbicara soal "Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah" (Klik)

Hak cipta memang memberikan wewenang khusus serta otoritas penuh dan perlindungan kepada si empunya karya dalam melarang pihak manapun untuk menjiplak dan menyadur hasil karya tanpa seizin atau berbagi keuntungan dengannya.

Kalau terbukti ada pihak yang mengjiplak tanpa seizin atau memasarkan tanpa berbagi loyalty, Hak Cipta memberikan perlidungan kepada pemilik karya asli untuk menjebloskannya dalam jeratan hukum, karena dinaggap telah membajak dan mencuri karya.

Lalu bagaimana dengan kabanyakan kita yang terkadang bahkan sering sekali memakai dan menggunakan barang bajakan untuk memenuhi kebutuhan kita dari mulai pekerjaan, pendidikan dan sebagainya.

Mesin Penjiplak Saat Ini

Harus ditinjau dulu bahwa di zaman yang serba canggih sekarang ini, perkara mebuat barang menjadi banyak dan bisa digandakan dengan jumlah besar bukanlah suatu yang aneh dan asing. Semua sudah sangat bisa mengaksesnya dengan mudah.

Sudah ada Mesin Foto-Copy yang mampu mengganda karya-karya artikel ilmiah seorang ilmuan dengan jumlah yang banyak. Di computer kita sudah ada perangkat keras berupa CD-RW yang juga dengna mudah kita bisa menggandakan sebuah perangkat lunak (Software) dengan alat itu.

Jadi memang penggandaan barang, dan penjiplakan karya, baik itu software dan sejenisnya adalah suatu keniscyaan yang pasti terjadi dan sulit sekali dihindari. Mau tidak mau pasti itu terjadi, dan semua pihak menyadari itu.

Pun seorang ilmuan yang bekerja sama dengan produsen atau penerbit, ketika memproduksi dan menerbitkan karyanya pasti dengan kesdaran yang penuh, mereka sadar bahwa produksinya ini pasti akan mengalami penjiplakan atau pembajakan. Mereka sangat tahu itu pasti terjadi.

Lalu, ketika seseorang membeli sebuah buku ilmiah atau sejenisnya kemudian ia menggandakannya dengan mesin fotocopy berharap teman-temannya yang lain juga bisa memanfaatkan karya itu, apakah itu disebut dengan pembajakan dan pencurian karya? Kan tidak begitu juga.

Kalau memang praktek itu disebut dengan pembajakan serta pencurian Hak Cipta, tentu tak bisa dibayangkan berapa banyak mahasiswa yang telah berdosa? Karena hampir semua mahasiswa kita belajar dengan buku hasil Fotocopi-an dan penulis buku asli serta penerbitnya tidak mengetahu itu.

Dan bagaimana pula membayangkan semua Universitas di Indonesia ini tutup karena semua mahasiswanya masuk penjara sebab melakukan praktek pembajakan Hak Cipta dengan mem-Fotocopi buku-buku ilmiah tanpa seizing penerbit? Hehe. Kan tidak begitu.

Sesuai Tujuan; Komersil / Nonkomersil

Melakukan praktek Copi-Paste, Fotocopi atau menggandakan serta memperbanyak untuk tujuan personal seperti mahasiswa untuk membantu kuliahnya atau juga guru untuk membantunya dalam mengajar bukanlah disebut dengan pembajakan atau pencurian Hak Cipta.

Karena hal yang seperti itu sudah merata, semua pihak maklum dan mengetahui itu. Baik pihak produsen, penerbit, dan juga si ilmuan itu sendiri. Jadi kenyataan bahwa itu akan digandakan adalah sesuatu yang pasti dan niscaya. Dan tidak disebut dengan pembajakan. Dan ini memang dibolehkan oleh undang-undang.

Kebutuhan menuntut untuk kita menggunakan itu, sedangkan kita tidak punya akses untuk mendapatkan produk itu kecuali dengan praktek download atau juga membeli barang imitasinya, yang berlisesi asli. Karena memang mungkin barang tersebut sulit didapat dan belum atau tidak masuk Negara tempat dia tinggal. Perkara semacam ini dibolehkan selama tujuannya nonkomersil.

Tapi jika praktek penggandaan dan penjiplakan itu ditujukan untuk kepentingan komersil atau penjualan, maka itu yang disebut dengan pembajakan. Si pelaku berdosa karena itu sama saja dengan mencuri dan mengambil keuntungan dari bukan hasil kerja dan usahanya sendiri, serta ia juga terkena jeratan hukum yang mengatur Hak cipta itu.

Dan ini memang yang dilindungi bagi produsen atau pihak pencipta asli akan karyanya. Selama pengandaan atau peng-copi-an itu bertujuan nonkomersial, itu dibolehkan. Sebaliknya, kalau bertujuan komersil, itu yang dilarang oleh agama dan juga oleh hukum Negara.  

Pengecualian

Ini dikecualikan jika memang pihak produsen asli memberikan izin resmi bahwa produk yang mereka hasilkan boleh digandakan dan boleh dijiplak, baik tujuan komersil atau juga nonkomersil.

Seperti beberapa company yang menaruh produknya di website resmi mereka serta memberika link khusus untuk orang yang datang bebas mendowload produk tersebut. Atau juga kalau produknya buku, ada pemberitahuan di belakang atau depan cover buku, bahwa buku ini boleh digandakan dengan tujuan komesil atau nonkomersil.   

Tapi memang baiknya sebagai seorang muslim, tentu kehati-hatian menjadi jalan utama yang harus ditempuh. Bukan asal ikut-ikutan dengan tanpa tuntutan yang sah sesuai syariah.

Wallahu A’lam 

Untuk mengunduh undang-undang Republik Indonesia tentang Hak Cipta, klik di sini: http://www.apjii.or.id/v2/upload/Regulasi/UU_HC_19.pdf
 

Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah

Dalam sejarah litelatur Islam memang tidak dikenal istilah Hak Cipta atau Hak Paten atau sejenisnya dalam arti bahwa penemuan ilmiahnya itu dilindungi oleh undang-undang, sehingga tidak ada satu orang atau pihak manapun yang bisa menjiplak atau mencontek penemuan tersebut kecuali dengan izin penemu aslinya.

Karena memang sejak dahulu kala, para ilmuan Islam bekerja dan berkarya bukan untuk memperjuangkan haknya sebagai penemu, atau sebagai ilmuan. Akan tetapi, beliau-beliau semua berkarya karena memang sebuah ketundukan kepada Allah swt yang telah menganugerahkan akal dan pikiran untuk mereka berfikir.

Dan hasil pemikiran yang telah diberikan Allah tersebut, entah itu berupa sebuah buku ilmiah, atau barang dan sejenisnya, mereka dedikasikan itu semua untuk kemaslahatan umat. Dan manusia setelahnya bebas memakai serta mengambil manfaat dari apa yang telah dihasilkan tanpa harus membayar kepada beliau si penemu sepeser pun.

Dan memang para ilmuan musllim itu tidak mengharapkan itu semua, yang mereka kejar hanya ridho Allah swt dan penerimaan Allah swt atas apa yang mereka lakukan itu semua. Coba saja bayangkan kalau seandainya Imam Bukhori meminta loyalty kepada setiap penerbit dan percetakan yang menyebarkan hadits-hadits shohih yang sudah beliau kumpulkan selama bertahun-tahun? Kita tidak mendapati itu kan?

Lalu kita juga tidak mendapati bahwa Ibnu Al-Haitham, sang ilmuan optic meminta loyalty dan penghargaan kepada para produsen kamera. Karena beliau yang pertama kali tercatat sebagai penemu kamera.

Kita juga tidak mendapati Imam Al-Zohrawi yang meminta loyalty kepada seluruh dokter dan universitas medis karena telah menyebarkan dan mengajarkan ilmu bedah yang telah beliau kreasikan pertama kali. Tidak beliau tidak juga keluarga beliau.

Bermula Di Perancis

Justru wacana Hak Cipta ini muncul dari orang-orang barat, karena memang manhaj hidup mereka yang serba materi dan duniawi, walaupun memang tidak semua mereka seperti itu. Tapi memang mayoritas mereka bekerja untuk memperkaya diri dan sejenisnya.

Tercatat bahwa wacana ini muncul pertama kali di Perancis sekitar tahun 1791 M, yang menginginkan bahwa setiap ilmuan harus mandapatkan perlindungan dan pengharagaan materi atas karya yang dihasilkan.

Kemudian wacana ini terus berlanjut dan akhirnya menjadi undang-undang resmi Negara dengan berbagai perubahan dan penambahan materi undang-undang sekitar tahun 1967 M.

Lalu seiring berkembangnya zaman, manusia dari waktu ke waktu terus berinovasi dan berkreasi, makin banyak penemuan ilmiah yang terbaharui, membuat Negara-negara muslim akhirnya berpikir untuk mengikuti aturan ini. Mangadopsi undang-undang eropa dalam ketetapan Hak Cipta ini termasuk Negara kita Indonesia.

Dengan tujuan untuk melindungi hak sang ilmuan yang sudah bersusah payah bekerja mengotak-atik otak yang kemudian melahirkan sebuah karya ilmiah yang bernilai tinggi. Baik itu berupa hasil pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku, atau juga sebuah benda fisik yang punya fungsi dan menolong banyak hajat manusia lain.

Hak Etik dan Hak Materi

Dalam Hak Cipta ini, setidaknya ada 2 hak penemu atau ilmuan yang dilindungi dan terjaga rapih; [1] Hak Etik, dan [2] Hak Materi.

Hak Etik contohnya ialah bahwa setiap orang yang menirukan atau mengutip (kalau itu sebuah pemikiran) atau mengerjakan sesuatu yang sama dengan karya si penemu, ia harus mencamtumkan nama si penemu aslinya. Tidak mengaku-ngaku bahwa itu miliknya padahal itu hasil jiplakan dan copi paste dari orang lain yang merupakan penemu aslinya.

Kalau untuk urusan Hak Etik, para ulama muslim telah jauh mencontohkan ini. Karena memang para ilmuan muslim sangat menjunjung tinggi nilai etik dalam menuntut ilmu. Istilahnya disebut dengan “Amanah Ilmiah”, pertanggung jawaban ilmiah disebutnya.

Bahwa setiap mereka mesti mencantumkan nama ulama yang kata atau karyanya mereka kutip. Tidak serta merta mangaku bahwa itu karya mereka, dan sama sekali tidak ada rasa malu untuk menyebut nama orang lain dalam karyanya. Justru ada kebanggaan jika memang ada nama ulama besar yang tercantum dalam karyanya.

Hak Materi memberikan otoritas penuh bagi si penemu atas penemuannya tersebut. Baik itu memberikan nama, label, dan juga otoritas reparasi jika terjadi kekeliruan atau juga penambahan materi dan sejenisnya.

Dan yang pasti bahwa setiap nilai materi yang dihasilkan dari penjualan karya tersebut (kalau memang dikomersialkan) kembali ke kantong pribadi penemu. Dan siapapun itu atau pihak manapun itu tidak berhak menjual dan mengkomersilkan barang atau karya temuannya kecuali dia harus menyetorkan hasil komersialisasi itu kembali ke penemunya.

Karena memang undang-undang melindungi hak materi si penemu untuk menerima setiap sen yang dihasilkan dari hasil karyanya tersebut.

Pandangan Syariah

Nah dalam hal hak materi dimana si penemu atau ilmuan itu menerima materi dari karya yang dihasilkan, ulama ternyata tidak pada satu suara. Ada kelompok ulama yang membolehkan dan ada kelompok ulama yang justru melarang menerima bayaran atau materi dari karya yang dihasilkan.

Lebih luasnya, kelompok ulama ini melarang adanya Hak Cipta bagi setiap karya yang dihasilkan. Karena sejatinya karya yang dihasilkan itu ialah buah pikiran dan otak, otak ialah hasil pemberian Allah swt, dan setiap pemberian Allah swt harus kembali kepada Allah swt untuk kemaslahatan manusia lain.

Kalau ada Hak Cipta justru itu mempersempit maslahat, karena orang lain tidak bisa memanfaatkannya secara bebas kecuali dengan membayar atau sejenisnya. Berikut dalil-dalil dari masing-masing kelompok sebagaimana direkam oleh DR. Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam kitabnya [فقه النوازل] “Fiqh Al-Nawazil”, sebagaimana juga ditulis oleh DR. Wahbah Al-Zuhaily dalam Kitabnya [المعاملات المالية المعاصرة] “Al-Muamalah Al-Maliyah Al-Muashiroh”.

Yang Melarang

Kelopmpok ulama yang melarang adanya Hak Cipta semacam ini berpegang dengan beberapa dalil, diantaranya;

Pertama:
Membuat karya atau menuliskan suatu informasi ilmu adalah sama halnya mneyebarkan ilmu pengetahuan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan itu memang sebuah kewajiban seorang muslim. Karena itu kewajiban, maka tidak ada imbalan  untuk sebuah kewajiban. [لا شكر على الواجب] “Laa Syukro ‘Ala Al-Waajib”

Kedua:
Membuat suatu karya ilmiah kemudian mengunci dengan sebuah Hak Cipta sehingga tidak ada orang yang bisa mengaksesnya kecuali dengan membayar dan sejenisnya adalah salah satu bentuk menyembunyikan ilmu [كتمان العلم] yang dilarang oleh syariah. Hadits Nabi saw:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang ditanya mengenai suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, niscaya ia akan dipecut oleh Allah swt di hari kiamat nanti dengan tali pecut dari neraka”
  
Yang Membolehkan

Ini adalah suara mayoritas ulama komtemporer sekarang ini yang digawangi oleh Majma’ Fiqih Islam Internasional, dan sudah secara jelas mendukung adanya Hak Cipta melalui keputusan muktamar ke-5 di Kuwait tahun 1988 tentang Hak Paten dan sejenisnya. Dalil mereka:

Pertama
Kalau dikatakan oleh kelompok yang melarang bahwa menyebarkan hasil intelektual itu adalah suatu kewajiban karena bagian dari menyebarkan ilmu, maka tidak ada imbalan untuk ilmu. Pernyataan ini jelas tidak selamanya benar. Dalam hadits disebutkan:

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ
“sesungguhnya, yang paling layak untuk kalian ambil imbalan (ongkos) ialah Kitabullah” (HR Bukhori)

Kalau dari Al-Quran saja seseorang dibolehkan mengambil imbalan atas itu, maka juga diperbolehkan mengambil imbalan dari apa yang dikandung oleh Al-Quran itu sendiri. Dan ilmu pengetahuan serta sains yang mnejadi kekayaan intelektual itu bersumber dari Al-Quran, maka sah-sah saja mengambil manfaat berupa imbalan materi dari itu.

Kedua
Sebuah karya ilmiah merupakan sebuah kemanfaatan yang dinikmati untuk maslahat ummat, dan ulama 4 madzhab sepakat bahwa sebuah manfaat itu mempunyai nilai materi dengan bukti bahwa Nabi saw pernah menikahkan seorang sahabat dengan mahar Hapalan Quran-nya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari sahabat Sahl bin Sa’d Al-Sa’idiy diceritakan bahwa Nabi saw pernah menikahkan salah seorang sahabat dengan mahar hapalan quran yang ia miliki.

قَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ
“aku telah nikahkah kau dan dia dengan (mahar) apa yang kau hapal dari Qur’an” (HR Abu Daud) 

Kalau hapalan Al-Quran bisa menjadi barang bernilai dan menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal, maka mengajarkan dan menyebarkan pemahaman tentang apa isi Al-Quran melalui karya ilmiah juga layak untuk diberi imbalan. Dan bahkan lebih layak.

Ketiga
Menghasilkan sebuah karya intelektual adalah pekerjaan otak dan sekaligus pekerjaan tangan sendiri. Dan Nabi saw sangat menghargaia sebuah pekerjaan yang dihasilkan tangan sendiri bahkan beliau mensifati itu sebagai penghasilan yang paling baik.

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُور
Nabi saw pernah ditanya tentang penghasilan apa yang paling baik? Beliau mnenjawab: “ialah penghasilan dari kerja tangannya sendiri, dan semua jual beli yang baik” (HR Imam Ahmad)

Keempat
Ada maslahat (kebaikan) yang lahir dengan adanya Hak Cipta ini, yaitu bisa memberikan motivasi bagi para ilmuan-ilmuan lain untuk terus berkarya. Karena tahu bahwa karyanya mendapat penghargaan dan dilindungi oleh undang-undang yang sangat ketat, para ilmuan termotivasi untuk terus melahirkan karya-karyanya.

Dan karya-karay para ahli otak itu tentu angat bermanfaat bagi manusia khalayak dan juga bagi agama. Dengan adanya karya yang dihasilkan, itu berarti jalan menuju kecermelangan generasi semakin terbuka lebar. Dan kemajuan menjadi sebuah ekspektasi yang bukan lagi angan-angan belaka dengan banyaknya karya intelektual yang muncul.

Jadi ada maslahat untuk kedua belah pihak, bagi khalayak dan juga bagi si ilmaun itu sendiri. Dan maslahat adalah salah satu dasar pertimbangan hukum dalam syariah. Jadi memang Hak Cipta sejalan dengan semangat syariah untuk memajukan umat.

Kelima
Kaidah Fiqih [دفع المفاسد مقدم على جلب المصالح] “Daf’u Al-Mafasid Muqoddam ‘Ala Jalbi Al-Masholih” (mencegah keburukan lebih didahulukan daripada memberikan manfaat)  menuntut adanya Hak Cipta.

Membiarkan sebuah karya bisa ditiru dan dijiplak untuk disebar manfaatnya memang sebuah kebaikan dan sebuah kemaslahatan. Tapi ada mafsadah (kerusakan) yang nantinya timbul, bahwa karena tahu bahwa karya yang dihasilkan tidak mendapat penghargaan public dan juga tidak dilindungi, malah bisa digandakan serta ditiru sebebasnya justru membuat para ahli fikir ogah untuk menuangkan karyanya lagi.

Akhirnya nanti umat akan sepi dengan karya-karya para ilmuan yang tentunya ini sebuah kerugian besar buat umat. Para ilmuan menjadi antipati untuk terus berkarya karena karyanya tidak mendapat tempat yang layak.

Dan memang sebuah hal yang manusiawi bahwa manusia ingin dihargai dengan apa yang ia telah hasilkan berupa karya emas yang memberikan banyak manfaat kepada umat.

Keenam
Hak Cipta juga mewujudkan adanya pertanggung jawaban ilmiah. Kalau sebuah karya tidak dilindungi dengan hak cipta, lalu kemudian disebar, disebar, disebar dan seterusnya hingga tidak diketahui siapa yang memulai, maka tidak diketahui juga siapa yang akan bertanggung jawab atas karya ini kalau memang terjadi kerusakan atau kesalahan. Siapa yang punya hak paten untuk meluruskan ini semua.

Padahal dalam syariat kita dituntut unutuk bertanggung jawab atas apa yang kita katakana, kita perbuat dan kita lakukan. Dengan adanya Hak Cipta, setiap karya memiliki “bapak” kandungnya yang sah yang bisa dimintai pertanggung jawaban atas karya intelektualnya tersebut.

Ketujuh
Sesuai dengan kaidah [الغنم بالغرم] “Al-Ghunmu Bil-Ghurmi”, dan [الخراج بالضمان] “Al-Khoroj bi Al-Dhoman”. Maksudnya orang yang telah bersusah payah akan menhasilkan dan mendapatkan sesuatu dari apa yang ia kerjakan.

Membuat suatu karya adalah pekerjaan sulit yang tidak semua orang bisa, maka mendapatkan imbalan dan lainnya dari apa yang ia hasilkan berupa karya ilmiah dan sejenisnya layak mendapatkan imbalan yang sesuai.

Jadi memang syariat Islam ini juga mengakui adanya perlindungan yang harus diberikan kepada setiap kayra intelektual yang dihasilkan dan juga kepada setiap pembuat kayra tersebut untu mendapatkan haknya atas apa yang telah iala kerjakan dengan susah payah.

Adapun anggapan bahwa ini bagian dari menyembunyikan ilmu, jelas tidak 100% bisa dibenarkan. Yang namanya menyembunyikan ilmu ialah tidak mau menjawab dan tidak mau menjelaskan sesuatu yang ditanyakan padahal ia tahu jawabannya atas pertanyaan itu.

Dan upaya membuat karya serta melahirkan sebuah kekayaan intelektual ialah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan public itu, dan bukan menyembunyikan ilmu. Hanya saja memang ada pertanggung jawaban atas ilmu yang diberikan, dan bentuk pertanggugn jawabannya itu ya dengan Hak cipta.

Dan ancaman bagi para penyembunyi ilmu dengan dipecut dengan pecutan dari neraka itu jika memang si ilmua menolak untuk menyalurkan ilmunya dalam sebuah karya ilmiah dan menutup akses bagi siapapun untuk menimba ilmu dari beliau. Berbeda dengan konsep Hak Cipta.

Wallahu A’lam  
 

Istilah "Tajil" Buka Puasa Dalam Syariah

Sampai sekarang tidak diketahui kenapa menu atau hidangan ringan berbuka puasa disebut dengan istilah "Tajil". Entah dari mana datangnya istilah ini, apakah ini bahasa serapan atau memang ini istilah yang dibuat-buat saja kemudian secara tidak sengaja diterima oleh sebagian besar orang Indoesia dan kemudian menjadi lumrah?

Dan saya pun belum pernah mendengar ada ahli bahasa Indonesia yang membahas ini. Tapi yang paling dekat dengan kenyataan ialah bahwa kata "Tajil" diambil dari kata bahasa Arab yaitu kata [عجّل – يعجّل - تعجيل] 'Ajjala-Yu'ajjilu-Ta'jiil yang berarti bersegera atau menyegerakan.

Dinamakan demikian, karena memang dalam syariah ini berbuka puasa itu sunnahnya disegerakan dan tidak ada penundaan. Maksudnya kalau memang sudah masuk waktu berbuka ya langsung membatalkan puasa, tidak perlu lagi menunda sampai larut malam. Sunnahnya di-Ta'jil (disegerakan).

لَا يَزَالُ اَلنَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اَلْفِطْرَ
Nabi saw bersabda: "Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka" (Muttafaq 'Alayh)

Mulai dari sinilah muncul istilah "Ta'jil", kemudian diserap menjadi "Tajil" (tanpa koma diatas setelah Ta yang menunjukkan huruf 'Ain). Dan tersebarlah kata Tajil itu yang kemudian mayshur dalam bahasa Indonesia walaupun sampai sekarang kata itu belum masuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Dan ini nama yang berbuah sunnah, karena memang namanya tajil yang bersumber dari istilah Ta'jil yang berarti menyegerakan. Orang-orang jadi lebih sigap dan seksama ketika berbuka, ingin sekali bersegera membatalkan puasa ketika waktunya tiba. Dan ini bagus sekali, karena memang sunnah-nya seperti itu.

Ta'Jil Ifthor & Ta'khir Sahur
 
Tapi sayangnya, itu hanya berlaku untuk berbuka puasa, tidak untuk bersantap sahur. Padahal dalam syariah ada istilah Ta'jil Al-Ifthor (menyegerakan berbuka) dan Ta'khir Al-Sahur (mengakhirkan sahur). Dan kedua-duanya adalah sebuah ke-sunnahan dalam berpuasa.

Sunnah menyegerakan berbuka puasa dan sunnah mengakhirkan santap sahur. Maksudnya mengakhirkan ialah bersantap sahur di waktu yang tidak terlalu jauh jaraknya antara makan dan waktu fajar (subuh). Jadi jarak keduanya sangat dekat bahkan sangat dekat sekali. Ini kesunnahan yang banyak dilupakan oleh kebanyakan orang.

Dalam redaksi hadits Ta'jil yang telah disebutkan diatas, dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan tambahan redaksi kalimat yang berbunyi,

وأخروا السحور
"…. Dan mengakhirkan sahur" (HR Imam Ahmad)

Jadi arti keseluruhannya menjadi; "Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur"

Ini juga dikuatkan oleh hadits Anas bin Malik ra dari Zaid bin Tsabit ra, beliau bersabda:
تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
"kami bersantap sahur bersama Nabi Muhammad saw lalu kami sholat (subuh) berjamaah", Anas berkata kepada Zaid: "berapa jarak waktu antara adzan (subuh) dan sahur kalian (bersama Nabi saw)?" Zaid menjawab: "sekitar bacaan quran 50 ayat" (HR Bukhori)

Jadi memang jarak waktu sahur Nabi saw dengan waktu fajar sangat dekat, hanya sekitar jangka waktu bacaan 50 ayat Quran yang dibaca dengan nada sedang, tidak cepat dan tidak lambat. Nah dengan 2 hadits diatas, ulama meurumuskan kesunnahan mengakhirkan sahur itu.

Kalau berbuka ada istilah Tajil, dan kemudian nama itu menjadi berkah karena orangpun mengamalkan Ta'jil itu sendiri dengan sigap menyegerakan berbuka. Seharusnya sahur pun demikian, mestinya istilah Ta'khir Sahur itu dipopulerkan, untuk menjadi kesunnahan dan kebiasaan orang dalam mengakhirkan sahur sebagaimana mereka juga menyegerakan berbuka.

Selain karena memang ini kesunnahan dalam, kebiasaan mengakhirkan sahur juga mempunyai hikmah kesehatan. Salah satu yang paling nyata ialah memperlama jangka waktu makanan untuk tetap berada didalam tubuh sehingga memperkuat tubuh. Karena makin dekat ke subuh, makin lama makanan akan diam hingga siang nanti.

Kebiasaan Keliru 
 
Tapi sayangnya yang terjadi malah sebaliknya. Orang malah lebih suka menyegerakan makan sahur dibanding mengakhirkannya yang merupakan sebuah kesunnahan. Malam belum memasuki waktu sepertiganya, mereka justru sudah beres makan sahur.

Di musholla-musholla dan masjid-masjid beberapa tempat, sudah mulai ramai Tarhib Sahur dengan menyalakan pengeras suara sejak puku 02.00 pagi. Ini kan jelas menggangu waktu istirahat warga. Ini kebiasaan yang semestinya harus diluruskan. Yang parahnya lagi, mereka mengisi pengeras suara masjid itu bukan dengan sholawat atau lantunan ayat, tapi justru dengan nyanyian-nyanyian yang sangat tidak layak dikumandangkan dalam sebuah tempat ibadah.

Entah apa alasannya, mungkin agar bisa menonton serial sinetron sahur yang ada di tivi agar tak terganggu makan, atau memang senang dengan hiburan-hiburan sahur yang sepertinya sudah melampaui batas normal gurauan dan sebagainya yang membuat orang senang sekali menyegerakan sahur.

Malah ada yang malas sahur dan mensiasatinya dengan sahur di tengah malam, lalu kemudian tidur hingga waktu subuh tiba, atau malah bablas hingga tak sholat subuh. Na'udzu billah

Padahal selain menguatan badan, sahur juga merupakan suatu kesunnahan yang pastinya dengan menyantap sahur itu kita mendapat pahala. Terlebih lagi bahwa dalam waktu sahur itu ada keberkahan.

قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةٌ.
Nabi saw bersabda: "Bersahurlah karena dalam sahur itu ada keberkahan" (Muttafaq 'Alayh)

Wallahu A'lam
 

Makna "Jauf" (Rongga) Dalam Fiqih Puasa

Ketika ditanya "Apakah yang membatalkan puasa?", ulama dalam kitab-kitab mereka selalu menjawab [ما وصل إلى الجوف] "Apa yang sampai/masuk ke Jauf." Dalam terjemah bahasa Indonesia yang normal, Jauf [جوف] berarti Rongga. Kemudian yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah, apakah yang dimaksud Rongga oleh ulama ketika menjelaskan fiqih Puasa?

Karena kalau rongga saja, tubuh manusia itu banyak rongganya. Karena dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, Rongga itu artinya bolongan atau celah dalam tubuh. Jadi kalau yang dimaksud rongga seperti itu, jelas puasa kita pasti sudah batal karena banyak sekali rongga yang kemasukan sesuatu.

Tapi nyatanya ulama Fiqih punya penafsiran lain tentang rongga yang dimaksud dalam hal membatalkan puasa tersebut, bukan rongga asal rongga. Dalam hal ini, ulama terbagi dalam 2 kelompok besar;

Pertama:
ulama yang mengatakan bahwa Jauf yang dimaksud itu ialah seluruh anggota tubuh manusia yang mempunyai rongga atau ruang. Seperti Faring tenggorokan, otak, rongga perut, rongga dada, rongga telinga, rongga hidung dan seterusnya sampai usus serta lambung.

Kedua:
Kelompok ulama lain yang mengatakan bahwa Jauf (Rongga) yang dimaksud oleh ulama fiqih dalam masalah puasa ialah hanya lambung, atau alat pencernaan manusia seperti usus dan lambung. Selain itu bukanlah disebut Jauf.

Nah perbedaan pendapat inilah yang akhirnya membuat perbedaan hukum dalam hal sesuatu yang membatalkan puasa. Apakah yang masuk dalam rongga secara makna umum? Atau rongga yang dimaksud dengan lambung sebagai tempat makanan? Untuk lebih jelasnya berikut penjelasan Jauf (Rongga) menurut 4 madzhab Fiqih;

1. Madzhab Hanafi

Madzhab Imam Abu Hanifah memandang bahwa Jauf ialah antara Lubbah [اللبة] (bagian bawah tenggorokan dan permulaan dada) sampai 'Aanah [العانة] (bagian tubuh yang ditumbuhi bulu kemaluan). (Duror Al-Hukkam Syarh Ghuror Al-Ahkam 2/468)

Jadi tenggorokan yang bermula setelah rongga mulut bukanlah Jauf yang dimaksud, kalaupun ada sesuatu yang masuk, sejatinya tidak membatalkan puasa menurut pendapat ini, akan tetapi memasukan sesuatu kesitu sangat bisa membatalkan puasa karena kalau sudah masuk tenggorokan, kemungkinan masuk ke dalam Jauf melalui itu sangat mungkin.

Imam Al-Kasani dalam kitabnya Bada'i Al-Shona'i mengatakan:

وَيُكْرَهُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَمْضُغَ لِصَبِيَّتِهَا طَعَامًا وَهِيَ صَائِمَةٌ لِأَنَّهُ لَا يُؤْمَنُ أَنْ يَصِلَ شَيْءٌ منه إلَى جَوْفِهَا إلَّا إذَا كان لَا بُدَّ لها من ذلك فَلَا يُكْرَهُ لِلضَّرُورَةِ….. وَكَذَا يُكْرَهُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَذُوقَ الْمَرَقَةَ لِتَعْرِفَ طَعْمَهَا لِأَنَّهُ يُخَافُ وُصُولُ شَيْءٍ منه إلَى الْحَلْقِ فَتُفْطِرُ وَلَا بَأْسَ لِلصَّائِمِ أَنْ يَسْتَاكَ سَوَاءٌ كان السِّوَاكُ يَابِسًا أو رَطْبًا مَبْلُولًا أو غير مَبْلُولٍ
"dimakruhkan bagi wanita untuk mengunyah makanan (keras guna dilembutkan) untuk makanan anaknya, karena kecil kemungkinan makanan itu tidak sampai ke jauf kecuali memang makanan itu mau tidak mau memang harus dikunyah untuk si anak…….. dan dimakruhkan juga bagi perempuan untuk mencicipi rasa kuah sup masakannya, karena dikhawatirkan akan masuk ke dalam jauf. Dan tidak mengapa bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak, baik itu siwak basah atau kering" (Bada'i Al-Shona'i 2/106)

Dan otak (rongga Tengkorak) [دماغ] dalam madzhab ini juga dipandang sebagai Jauf yang kalau ada sesuatu masuk ke dalamnya maka itu membatalkan puasa, karena dari otak ada jalur menuju Jauf. Dijelaskan oleh Imam Al-Kasani:

وَمَا وَصَلَ إلَى الْجَوْفِ أَوْ إلَى الدِّمَاغِ عَنْ الْمَخَارِقِ الْأَصْلِيَّةِ كَالْأَنْفِ وَالْأُذُنِ وَالدُّبُرِ بِأَنْ اسْتَعَطَ أَوْ احْتَقَنَ أَوْ أَقْطَرَ فِي أُذُنِهِ فَوَصَلَ إلَى الْجَوْفِ أَوْ إلَى الدِّمَاغِ فَسَدَ صَوْمُهُ …. وَكَذَا إذَا وَصَلَ إلَى الدِّمَاغِ لِأَنَّهُ لَهُ مَنْفَذٌ إلَى الْجَوْفِ فَكَانَ بِمَنْزِلَةِ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَا الْجَوْفِ
"dan apa yang masuk ke dalam jauf atau otak melalui jalur rongga asli seperti mulut, hidung, atau telinga, seperti orang yang menyuntik atau meneteskan tetesan di ke telinganya, kemudian masuk ke jauf dan otak maka batal puasanya…..dan begitu juga ke otak, karena ia punya jalur yang menuju jauf"  (Bada'i Al-Shona'i 2/93)

Jadi menurut madzhab ini Jauf itu bukan hanya lambung sebagai tempat makanan, akan tetapi rongga-rongga tubuh bagian dalam juga termasuk dalam kategori Jauf yang kalau sesuatu masuk, maka membatalkan.

2. Madzhab Maliki

Madzhab ini sama seperti madzhab Hanafi dalam hal ini, bahwa Jauf itu bukan hanya lambung akan tetapi mencakup rongga tubuh bagian dalam juga. Hanya bedanya, madzhab ini tidak menganggap otak (rongga tengkorak) [دماغ] sebagai Jauf.

Ulama madzhab ini masih berselisih apakah otak termasuk Jauf atau tidak. akan tetapi pendapat yang masyhur ialah otak termasuk dalam Jauf. Imam Al-Khorsyi mengatakan:

وَاسْتِنْشَاقُ قِدْرِ الطَّعَامِ بِمَثَابَةِ الْبَخُورِ ؛ لِأَنَّ رِيحَ الطَّعَامِ لَهُ جِسْمٌ يَتَقَوَّى بِهِ الدِّمَاغُ فَيَحْصُلُ بِهِ مَا يَحْصُلُ بِالْأَكْلِ
"menghirup udara priuk makanan sama seperti menghirup dupa, asapnya punya jasad yang memperkuat otak, sama seperti makanan (yang memperkuat badan)" (Syarh Mukhtashor Kholil 2/249)

3. Madzhab Syafi'i

Masih sama seperti pendahulunya, bahwa Jauf itu ialah otak dan hulu kerongkongan sampai usus dan lambung. Hanya saja madzhab ini lebih luas memaknai Jauf, didasarkan atas azas kehati-hatian yang sering digunakan madzhab ini dalam ibadah.

Dan bahkan mulut bagian dalam itu sudah termasuk Jauf, yaitu tempat keluarnya huruf Ha (kecil) yang berada di awal bagian tenggorokan. Menurut madzhab ini, itu sudah termasuk Bathin (Bagian dalam) mulut yang kalau ada sesuatu masuk kedalamnya sesuatu, itu membatalkan puasa.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitabnya Al-Minhaj:

فَلَوْ نَزَلَتْ مِنْ دِمَاغِهِ وَحَصَلَتْ فِي حَدِّ الظَّاهِرِ مِنْ الْفَمِ فَلْيَقْطَعْهَا مِنْ مَجْرَاهَا وَلْيَمُجَّهَا، فَإِنْ تَرَكَهَا مَعَ الْقُدْرَةِ فَوَصَلَتْ الْجَوْفَ أَفْطَرَ فِي الْأَصَحِّ.
"kalau ada sesuatu yang turun dari otak (berupa tetesan) dan sampai pada bagian zohir (luar) mulut, maka dia harus menghentikan alurnya dan meludahkannya. Kalau dia membiarkannya padahal dia mampu, lalu itu masuk kedalam jauf, maka batal puasanya" (Al-Minhaj 106)

Untuk batas bagian luar dan dalam mulut, itu dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya Tuhfatul-Muhtaj ketika mensyarah matan Imam Nawawi dalam Kitab Al-Minhaj-nya diatas. Bahwa batasan luar dan dalam mulut ialah tempat keluarnya huruf Ha kecil.

4. Madzhab Hanbali

Berbeda dengan pendahulunya, justru madzhab ini lebih melihat bahwa yang dimaksud Jauf dalam fiqih shaum itu ialah Ma'idah [معدة], yaitu lambung sebagai tempat makanan dan tempat pencernaannya. Kalau hanya masuk kedalam rongga namun tidak sampai lambung atau usus, maka tidak dikatakan membatalkan puasa. Tapi mereka juga sepakat dengan yang lain bahwa otak (rongga tengkorak) [دماغ] juga termasuk jauf.

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni menjelaskan:

أَنَّهُ يُفْطِرُ بِكُلِّ مَا أَدْخَلَهُ إلَى جَوْفِهِ ، أَوْ مُجَوَّفٍ فِي جَسَدِهِ كَدِمَاغِهِ وَحَلْقِهِ ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يَنْفُذُ إلَى مَعِدَتِهِ ، إذَا وَصَلَ بِاخْتِيَارِهِ ، وَكَانَ مِمَّا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ مِنْهُ
"bahwasanya batal puasanya dengan sesuatu yang masuk kedalam jauf-nya atau jauf (rongga) lain badannya seperti otak dan tenggorokan yang sampai masuk ke lambungnya, kalau itu masuk dengan kehendak sendiri dan sejatinya bisa dihindari." (Al-Mughni 3/36)

Dikuatkan oleh Imam Al-Mardawi dalam kitabnya Al-Insof ketika menjelaskan perkara-perkara yang membatalkan puasa:

لو أدخل شيئا إلى مجوف فيه قوة تحيل الغذاء أو الدواء من أي موضع كان
"…(batal puasanya) kalau memasukan sesuatu ke dalam rongga yang di dalamnya punya kekuatan untuk mencerna makanan atau obat dari rongga manapun masuknya" (Al-Insof 3/212)

Dan tidak ada organ tubuh yang bisa mencerna makanan kecuali usus dan juga lambung. Jadi dalam madzhab ini, segala sesuatu yang masuk ke dalam rongga, itu membatalkan puasa jika memang benar-benar masuk ke dalam lambung sebagai tempat makanan dan pencernaannya.

Jadi syaratnya menurut pandapat madzhab ini ialah harus masuk ke dalam perut atau lambung, tidak hanya masuk rongga saja.

Ulama Kontemporer

Ulama komtemporer melihat bahwa Jauf yang dimaksud dalam hal membatalkan puasa sama seperti pendapat madzhab Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan bahwa Jauf yang dimaksud dalam fiqih puasa itu ialah lambung atau usus sebagai tempat makanan dan alat pencerna.

Ini didasarkan bahwa puasa itu adalah ibadah fisik yang terukur, yang dalam istilah fiqih disebut sebagai [عبادة معقولة المعنى] "'Ibadah Ma'qulah Al-Ma'na". maksudnya ialah ibadah ini bukanlah ibadah yang abstrak yang tidak bisa diukur dengan akal manusia. Tapi justru puasa itu ibadah yang bisa diukur.

Bisa diukur bahwa puasa itu ialah "Imsak (menahan) diri dari makan, minum dan syahwat untuk menggauli pasangan di siang hari Ramadhan".

Dan organ tubuh yang menjadi tempat makanan ialah lambung serta usus, dan begitu juga bahwa bada itu mengambil manfaat dari apa yang masuk ke dalam lambung sebagai makanan untuk memperkuat tubuh. Dan itu yang membuat rusak puasa seseorang, karena memang definisinya ialah menahan dari makan dan minum.

Maka ketika sudah ada asupan ke dalam itu, maka batal lah puasanya. Dan tidak batal kalau memang tidak masuk ke dalam lambung. Karena memang makanan dan minuman tidak masuk dan tidak bisa dicerna kecuali di lambung melalui usus.

Alat Bantu Nafas

Dan masalah yang paling menonjol dalam perbedaan ini ialah perbedaan hukum memakai alat bantu nafas bagi penderita asma. Apakah puasanya tidak dengan memakai itu atau tidak?

Sebagian ulama komtemporer memandang itu tidak membatalkan puasa, dengan alasan bahwa gas yang terhirup walaupun masuk ke dalam rongga hanya saja itu tidak masuk ke dalam lambung akan tetapi hanya sampai paru-paru saja untuk membantu bernapas. Terlebih lagi bahwa angina atau gas yang disemprotkan alat itu bukanlah makanan dan tidak berkedudukan sebagai makanan yang menguatkan badan.

Walaupun memang tidak semua ulama kontemporer mengamini ini, namun sebagian besar manganut ini sesuai dengan penilitian dan studi medis yang dilakukan oleh DR. Muhammad Ali Al-Baar, seorang ahli kedokteran Islam dari Univ. King Abdul Aziz Jeddah.

Hasil studinya diajukan dalam muktamar Majma' Fiqh Islam Internasional [مجمع الفقه الإسلامي الدولي] yang diselenggarakn di Saudi Arabia tahun 1418 H / 1997 M. Kemudian muktamar mengekuarkan Qoror (keputusan) no. 93 bahwa alat bantu nafas tidak membatalkan puasa.

Selain alat bantu nafas juga ada beberapa masalah yang terkait masalah definisi Jauf ini dalam hal perkara-perkara kontemporer yang membatalkan puasa [مفطرات الصيام المعاصرة], seperti pemakaian oksigen tambahan bagi penderita asma akut, melakukan injeksi dan sejenisnya.

Wallahu A'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger