Kitab Mukhtashor Al-Muzani, Induk Segala Kitab Fiqih Mazhab Syafi'i

Agak keliru sebenarnya kalau dikatakan bahwa kitab-kitab Fiqih mazhab Syafi'i menginduk kepada kitabnya sang Imam, yaitu Al-Umm. Justru kitab-kitab Fiqih mazhab Syafi'i yang jumlahnya banyak itu beranak pinak bukan dari Kitab Al-Umm.

Kalau kita buka lagi litelaturnya, kita akan temukan bahwa kitab-kitab Fiqih mazhab Syafi'i itu bersumber pada satu kitab kecil, yaitu Kitab "Al-Mukhtashor" [المختصر] karangan Imam Al-Muzani (264 H). yang kemudian kitab itu disebut dengan Mukhtashor Al-Muzani [مختصر المزني].

Apa yang ada di kitab Al-Umm hanya berupa riwayat-riwayat Imam Syafi'i dalam masalah fiqih dan tentu fatwa-fatwa beliau. Tidak tersusun secara sistematis dan juga urutan babnya masih tidak teratur.

Kemudian datang lah Imam Al-Muzani yang kemudian merangkum itu semua. Imam Muzani lah orang pertama yang menyusun kitab mazhab Syafi'i dalam bentuk yang sistematis, dengan susunan yang mudah dan babnya berurutan. Beliau mulai kitabnya dengan bab Thoharoh dan diakhiri dengan bab 'Itq Ummahat Al-Aulad [عتق أمهات الأولاد].

Dalam kitab Mukhtashornya ini, beliau bukan hanya merangkum apa yang ada dalam Kitab Al-Umm Imam Syafi'i, tapi juga segala koresnpondesi beliau dengan Imam Syafi'i dalam masalah fiqih yang tidak tertulis dalam Al-Umm.  

Karakteristik Al-Mukhtashor

Imam Al-Muzani setiap menuliskan satu masalah Fiqih, ia memulai dengan hukum maslaah tersebut tentu menurut pandangan mazhab Syafi'i lalu kemudia beliau sertakan dalil. [Pertama] berupa ayat Quran, [kedua] hadits Nabi Muhammad saw, dan [ketiga] barulah beliau menulis perkataan (Qoul) Imam Syafi'i sebagai pendiri mazhab.

Selalu begitu. Selalu menempatka ayat, kemudian hadits dan diakhiri dengan fatwanya Imam Syafi'i. kalau tidak ditemukan dalam masalah itu ayat atau hadits, beliau langsung mengutip perkataan Imam Syafi'i.  

Dan metode penulisan Kitab ini menjadi semacam sampel bagi seluruh ulama mazhab Syafi'i dalam menulis kitab Fiqih. Dan memang kitab ini yang kemudian beranak pinak menjadi ratusan kitab bahkan ribuan kitab Fiqih yang banyak beredar sampai sekarang.

Tentang Penulis

Yang lebih special lagi ialah bahwa Imam Al-Muzani, (seperti disebutkan dalam Mukaddimah kitab) selalu melakukan sholat 2 rokaat sebelum menulis satu masalah Fiqih dalam kitabnya ini. Bayangkan sudah berapa rokaat yang beliau lakukan dalam menulis satu kitab ini?

Nama asli beliau: Ismail bin Yahya bin Ismail Abu Ibrahim Al-Muzani. Lahir di Mesir 175 H, dan wafat di negeri yang sama tahun 264 H. walaupun lahir kemudian besar dan pula meninggal di Mesir, akan tetapi Imam Muzani bukanlah berkebangsaan Mesir.

Beliau adalah orang Arab asli, karena memang beliau berasal dari suku Muzainah Al-'Adnaniyah yang merupakan satu jalur nasab dengan Nabi Muhammad saw. Dan dari nama suku Muzainah itu sendiri, kemudian beliau dikenal dengan Al-Muzani.

Selain menjadi pengikut Imam Syafi'i yang banyak mengambil ilmu dari beliau, Imam Muzani merupakan sahabat bagi Imam syafi'i karena memang masanya yang sama.

Imam syafi'i sering memujinya karena kejeniusannya. Beliau pernah bilang: "Muzani itu Penolong mazhabku [ناصر مذهبي]"

Dan juga karena saking cerdasnya, Imam syafi'i pernah mengatakan: "seandainya saja Setan yang mendebatinya, pasti ia yang menang" (Al-A'lam Li Al-Zirikly 1/329)

Untuk mendownload kitab Mukhtashor Al-Muzani:
 

Pendaftaran Mahasiswa Baru LIPIA 2013

Setelah  banyak yang menanti, akhirnya pendaftaran kampus biru LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) kembali dibukan untuk tahun 2013 ini. Berikut informasi:



"Diumumkan bahwa penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru untuk semester pertama tahun ajaran 1434-1435 H Insyaallah akan mulai dilaksanakan pada :
Hari Senin 24 Rajab 1434 H atau 3 Juni 2013 M."

tempat pedaftaran:
Di kampus LIPIA, Jl. Warung Buncit raya No. 5A
Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan

Untuk informasi yang lain silahkan telpon ke kantor LIPIA langsung Telp : 7814485-7814486

Materi Test
1. Materi Ujian I'dad meliputi : Maharoh Lughoh mulai Nahwu Shorof insya dll.
2. Materi Ujian Takmily meliputi : Maharoh Lughoh mulai Nahwu Shorof dan Balaghoh, sangat diutamakan yang berasal dari I'dad LIPIA sendiri, karena soalnya banyak dari materi Balaghoh I'dad
2. Materi Ujian Syariah meliputi : Aqidah, Tafsir, Fiqih, Usul Fiqih, Tsaqofah, Hadits, Ilmu Hadits dll.

Syarat Pendaftaran :
1. Calon Mahasiswa sudah tamat aliyah atau yang sederajat untuk bagian :
- I'dad lughawi : nilai rata-rata minimal 7 dan ijazah belum lewat 3 tahun.
2. Sehat jasmani & rohani
3. Berkelakuan baik
4. Mampu berbahasa arab dengan baik ( baca, tulis dan bicara )
5. Hafal Al-Qur'an (Minimal 2 juz untuk Takmily, 3 juz untuk Syari'ah).
6. Mengkhususkan diri sepenuhnya untuk belajar di LIPIA
7. Belum pernah diberhentikan dari LIPIA
8. Lulus tes tulis & tes lisan

Berkas yang diperlukan
1. Foto Copy Ijazah yang sudah dilegalisir (bisa dengan Surat Keterangan Lulus jika Ijazah belum keluar)
2. Transkrip nilai & raport terakhir
3. Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku / SKCK (asli)
4. Surat Keterangan Sehat dari Dokter yang masih berlaku (asli)
5. Foto copy KTP yang masih berlaku
6. Pas Foto terbaru : (4×6) 2 lembar, (3×4) 2 lembar, (2×3) 2 lembar
7. Rekomendasi dari Sekolah atau tokoh masyarakat (tidak wajib)

Masa belajar :
I'dad Lughowi (Persiapan Bahasa) : 2 tahun ( 4 semester)
Takmily (Pra Universitas) : 1 tahun ( 2 semester)
Syariah (S1) : 4 tahun ( 8 semester )
Diplom : 1 tahun (2 smester)

Informasi ini didapat dari pengumuman yang ditempel di LIPIA Jakarta (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab)

Waktu tes:
sampai kabar ini di publish, penulis belum tahu kapan ujiannya itu di selenggarakan. tapi waktu ujian itu akan diketahui ketika calon mahasiswa meyerahkan seluruh berkas yang diminta, yang nantinya berkas itu akan ditukar dengan kartu peserta ujian masuk lipia. 

 

Nikah Beda Agama, Boleh? (bag. 2: Bantahan untuk Ulil Absar)

Sebelumnya telah kami jelas bahwa nikah beda agama itu dibolehkan dengan kondisi laki-lakinya muslim dan wanitanya non-muslim dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani).

Akan tetapi jika kondisinya berbeda, yaitu wanitanya muslimah dengan laki-laki non-muslim, ini yang dilarang. Dan keputusan ulama tentang larangan ini telah menjadi sebuah Ijma', yang tidak ada satu pun ulama menyelisihi ini.


Lalu, tiba-tiba tokoh Liberal Islam Indonesia, Ulil Absar Abdallah mengatakan dalam akun twitternya, ada pendapat ulama yang membolehkan bagi wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim.

Saya kaget, awalnya saya kira memang ada pendapat ulama yang saya lewatkan dalam masalah ini. Tapi ternyata memang tidak ada ulama satupun yang mengatakan demikian. Ulama syariah yang memang sudah diakui keilmuannya dan menjadi rujukan muslim sedunia tidak ada yang mengatakan demikian.

Rupanya, ulama yang dimaksud Ulil itu ialah para Tokoh Liberal itu sendiri. Aneh bukah??? Kirain ulama manaaa gitu!?!?

Ulil bilang yang membolehkan wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim itu ialah Prof. Nurkholis Majid, DR. Zainun Kamal, dan DR. Djohan Efendi. Mereka siapa ya berani menyelisih Ijma' ulama?

Karena ketika suatu pendapat sudah dihukumi dengan Ijma', maka sudah tidak ada gunanya lagi menguras tenaga untuk mencari solusi hukum masalah itu. toh ulama sudah ber-Ijma', mau apa lagi?

Tapi memang kan orang-orang liberal ada untuk itu. mereka ada untuk menyelisih apa yang sudah menjadi Ijma' ummat. Jangankan Ijma' Ummat, toh Quran saja berani mereka gubah kok dengan tafsiran-tafsiran seenak nafsunya. Jadi ngga usah heran. Tujuan mereka memang untuk distorsi syariah. Dan karena itu mereka "dibayar".

Tapi bagaimanapun, argument-argumen Ulil soal kebolehan mutlak wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim harus dibantah, agar distorsi syariah ini tidak terus berkepanjangan yang ahirnya menyebabkan generasi muda Islam terlanjur terkotori dengan pikiran "Setan" ini.

Bantahan Argumen

dalam tradisi Fiqih, memang dibolehkan seseorang untuk menympulkan sebuah hukum dengan dalil-dalil tentunya. Tapi yang jadi permasalahan ialah, bagaimana Istidlal-nya. Istidlal [استدلال]; cara pengambilan hukumnya bagaimana?

Ya dalilnya ada, tapi kalau cara penyimpulan hukumnya ngasal dan acak-acakan yaaa tidak bisa dijadikan argument. Di sini kita akan liat bagaimana "ngasal-"nya Ulil dalam ber-istidlal.

------------------------
Ulil mulai argumennya dengan mengutip pendapat salah satu ulama tafsir, Imam Qotadah. Kata Ulil ayat 221 surat al-baqoroh itu yang melarang kaum muslimah menikah dengan laki-laki Musyrik itu ayatnya tidak umum.

Di twit  no. 27-28 Kata Ulil, Imam Qotadah berpendapat bahwa "Musyrik" yang dimaksud dalam ayat ialah "Musyrik Arab". Dan ini ditulis oleh Imam Al-Thobari dalam tafsirnya.

Jadi menurutnya, larangan untuk menikah dengan musyrik itu hanyalah kalau orang musyrik itu orang Arab, selain Arab ya boleh. Sesuai dengan pendapat Imam Qotadah dalam mengartikan kata "Musyrik" secara umum.

Disini Ulil telah melakukan KEBOHONGAN, dia bilang bahwa musyrik itu hanya musyrik arab, jadi wanita muslimah menikah dengan orang musyrik yang bukan arab boleh-boleh saja. Padahal Imam Qotadah tidak mengatakan demikian!!!!

Dalam tafsir Al-Thobari (4/363) ketika menjelaskan ayat 221 surat al-baqoroh. Imam Thobari memang mengutip riwayat dari Imam Qotadah. Tapi yang dibahasa ialah Musyrikat [مشركات], bentuk jamak dari Musyrikah [مشركة] yang artinya ialah Musyrik perempuan. Bukan Musyrik laki-laki seperti hayalan Ulil itu.

Dibahas ketika itu ialah ayat [ولا تنكحوا المشركات حتى يؤمن] "Janganlah kalian menikahi wanita-wanita Musyrik". Imam Qotadah mempermasalakah, "wanita musyrik" yang mana yang dilarang? Beliau mengatakan yang dilarang hanya wanita musyrik Arab. Bukan kata Musyrik secara umum. Yang dibahas hanya siapa Musyrik wanita yang dilarang itu?

Adapun musyrik laki-lakinya tidak dibahas, karena memang sudah jelas hukumnya. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki Musyrik manapun, baik Arab atau bukan Arab. Dan ini sebuah Ijma'.

Adapun musyrikah, memang itu yang diperdebatkan oleh Ulama, wanita-wanita musyrikah yang mana yang dilarang? Adapun laki-laki musyrik tetap hukumnya, tidak ada perbedaan. Tetap haram menikah dengan wanita muslimah.

Ini jelas penipuan, dan pelitiran tafsir oleh Ulil. Dan juga parahnya, ia mecatut nama Imam Qotadah sebagai tameng untuk tafsiran "nyeleneh"-nya. Imam Qotadah sama sekali tidak membahas Musyrik laki-laki, akan tetapi membahas Musyrikah wanita.


gambar dari kitab Tafsir Al-Thobari jil. 4 hal. 363. Imam Qotadah membahas Musyrikah (perempuan), bukan Musyrik secara umum 

Dan kata-katanya jelas, tidak ada bias. Karena memakai [ة] Ta' Marbuthoh  dalam kata Musyrikah [مشركة], sebagai pembeda antara musyrik laki-laki dan musyrik perempuan. Anak SD yang belajar bahasa Arab pun tahu, kalau itu untuk Muannats (peempuan) bukan untuk umum!  

Lalu dari mana Ulil bisa menyimpulkan bahwa itu pembahasan musyrik secara umum?

------------------------

Di twit no. 31 dan seterusnya, karena memang Ulil menganggap larangan menikah dengan musyrik itu hanya untuk musyrik arab. Jadi dia beranggapan bahwa ayat larangan ini hanya untuk ornag Arab saja, tidak secara umum/universal.

Dia mengaitkan larangan itu bersifat local untuk orang Arab saja karena ketika itu situasinya lagi perang. Dan seterusnya. Intinya dengan alasannya itu dia beranggapan bahwa ayat itu sifatnya local, tidak universal. Jadi tidak bisa larangannya itu tidak untuk kita yang bukan di Arab.

Ini aneh! Ini metode tafsir yang hermeneutic yang memang tidak dikenal dalam tradisi Islam. Tafsir ini menjadikan qur'an sebagai kitab yang tidak universal. Semua dikaitkan dengan kondisi sosial dimana hukum hanya berlaku untuk mereka yang berada pada kondisi sosial itu. dia meragukan ke-universalan Al-Quran yang memang sudah Allah swt sendiri yang mengakui bahwa Qur'an itu untuk semua, bukan hanya satu golonga. Ada penyelewangan disini!

Ini jelas bertentangan dengan apa yang sudah menjadi kesepakatan ulama dalam menyimpulkan sebuah hukum dari sebuah nash (teks) syariah. Ulama Ushul dan Fiqih berpegang pada kaidah umum yang mengatakan:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
[Al-'Ibrotu Bi 'Umuum Al-Lafdz laa Bi Khushuushi As-Sabab]
"Ibroh yang dijadikan patokan hukum itu ke-umuman (universal) teks, bukan dengan ke-khususan sebab (turunnya teks)"

(lihat: Al-Ibhaj 2/185, Al-Bahru Al-Muhith 2/352, Al-Mahshul lil Al-Razi 3/189)

Ini kaidah yang menjadi dasar bagi para Fuqoha' dan Ushuli (Ahli Ushul Fiqh) dalam mengambil kesimpulan hukum untuk sebuah masalah dari taks syar'i, mereka tidak memandang sebab turunnya teks.

Kecuali memang ada nash atau teks juga yang mengatakan bahwa ini hukumnnya khusus untuk si fulan, atau khusus untuk kaum ini, khusus untuk kaum itu. tapi jika tidak ada keterangan teks yang mnejelaskan itu, maka teks menjadi universal dan hukumnya menjadi umum berlaku untuk semua muslim tanpa memandang sebab turunnya ayat atau teks.

Kalau memang teks syariah itu selalu dikaitkan dengan sebab turunnya dan kondisi sosial saat itu diturunkan, ya kalau gitu tidak ada hukum syariah untuk Indonesia dan Negara muslim lainnya.

Karena memang teks itu turun untuk mereka kaum yang diturunkan teks untunya, bukan untuk umum dan tidak universal. Kan ini jelas pemahaman yang amburadul. Jelas-jelas penyelewengan. Pengambilan hukum sesuai nafus saja.

Yah namanya juga liberal. Mereka memang tidak punya konsep ushul fiqh yang jelas. Bisanya asal catut sana sini, ngutip ulama lalu bersembunyi dibalik nama ulama yang sudah dijadikan tameng. Padahala sama sekali, ulama itu tidak berpikiran sesuai ideology iblis mereka. Mereka memelintir perkataan ulama.  

------------------------

Kemudian di twit no. 71 dan seterusnya, Ulil mengatakan bahwa tidak ada larangan dalam surat Al-Maidah ayat 5 untuk muslimah menikah dengan laki-laki Kafir. Lah memang dalam ayat ini tidak ada laranga bro.

Larangan muslimah menikah dengan orang laki kafir ada di ayat 221 surat Al-Baqoroh dan ayat 10 surat Al-Mumtahanah. Ini yang jelas dan hukumnya tidak pernah dicabut atau di mansukh [منسوخ] (diangkat).

Ayat 5 surat Al-Maidah itu takhshish [تخصيص] (pengkhususan) untuk ayat 221 surat Al-Baqoroh, tapi bukan mencabut hukumnya. Kita lihat!

Di ayat 221 surat Al-Baqoroh, Allah swt melarang  laki-laki muslim menikahi wanita musyrikah. Dan para wali dilarang menikahi anak-anak wanita mereka yang muslimah untuk dinikahkah dengan laki-laki kafir. Artinya wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir.

Nah ayat 5 surat Al-Maidah itu menjelaskan bahwa laki-laki muslim yang awalnya dilarang menikah dengan wanita musyrik itu dikhususkan pelarangannya. Larangannya menjadi tidak semua musyrikah, akan tetapi kalau wanita itu Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) maka jadi boleh. Sebatas itu saja pengkhususannya.

Adapun hukum wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir ya tetap berlaku, tidak ada yang mengkhususkan. Tetap dilarang dan tidak ada yang membolehkan. Bahkan ini sudah menjadi Ijma'. Seperti yang telah disebutkan diatas.

Jadi kalau kata Ulil, tidak dalil yang melarang wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir jelas tidak terbukti. Lah wong dalilnya jelas. Udah jadi Ijma' juga kok!

------------------------

Kemudian di twit sebelumnya (sebelum membahas argumennya yang ngaco) dia bilang: "banyak teman saya yang mneikah beda agama dan mereka semua bahagia."

Jawab:

Pertama: apakah perasaan bahagia, senang, sedih, itu bisa menjadi argument dalam hukum syariah? Ulama mana yang bilang kaya gini?!!??? Perasaan kok jadi dalil hukum??

Perasaan selamanya tidak bisa menjadi dasar dalil bagi setiap amal seorang muslim. Kalau semua berdasarkan perasaan, yaa mencuri jadi boleh dong! Toh mencuri berzina juga kan karena perasaan yang mengatakan boleh-boleh saja! Perasaan ornag yang sudah tertutup hatinya dari syariah.

Kedua: ya bahagia di dunia mungkin. Tapi Islam bukan agama yang Cuma mikirin dunia aja, Islam memikirkan juga nasib umatnya di Akhirt nanti, bahagia atau tidak? karena itu banyak anjuran-anjuran syariah yang menuntun umatnya untuk bahagia di dunia dan akhirat.

Lihat ujung ayat 221 surat Al-baqoroh yang melarang nikah beda agama antara wanita muslimah dengan laki-laki kafir:

أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ
[mereka (orang kafir) mengajak ke neraka]

Dan syariah sangat menjaga umat Islam ini agar terhindar dari kesengsaraan di akhirat. Karena itu banyak syariah yang menuntun untuk mnejauhi kesengsaraan itu, termasuk menikahnya wanita muslimah dengan laki-laki kafir. Ini yang dijelaskan oleh Imam Al-Kasaani:

في آخِرِ الْآيَةِ بِقَوْلِهِ عز وجل { أُولَئِكَ يَدْعُونَ إلَى النَّارِ } لِأَنَّهُمْ يَدْعُونَ الْمُؤْمِنَاتِ إلَى الْكُفْرِ وَالدُّعَاءُ إلَى الْكُفْرِ دُعَاءٌ إلَى النَّارِ لِأَنَّ الْكُفْرَ يُوجِبُ النَّارَ
"diakhir ayat, Allah mengatakan: [mereka (orang kafir) mengajak ke neraka], karena mereka mengajakan untuk menjadi kafir. Dan ajakan menjadi kafir ialah ajakan menuju neraka. Karena orang kafir telah pasti untuk mereka adalah neraka."
(Bada'i Al-Shona'i 2/271)

------------------------

Kemudian di twit no. 100, Ulil bilang: "tentu saja kita bisa bersikukuh dengan pendapat ulama klasik bahwa nikah beda agama dilarang. Tapi apa itu bijaksana?"

Harusnya pertanyaan ini ditujukan kepada Ulil dan kawan-kawannya: "ijma' ulama, kesepakatan ulama sejak dulu dan sampai sekarang sudah melarang wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir. Kemudian kalian yang bukan ulama mengatakan berbeda dan malah menentang. Apa itu bijaksana? Kalian siapa? Ulama juga bukan.

Kita siapa, dengan keilmuan yang minim kemudian berani menyelisihi apa yang sudah menjadi kesepakatan ulama. Dan sudah menjadi Ijma' umat sejagad raya ini.

Wallahu A'lam
 

Nikah Beda Agama, Boleh? (bag. 1)

Pada dasarnya memang ulama membolehkan menikah beda agama dengan kondisi seorang muslim laki-laki menikah dengan wanita Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi). Ini pendapat Jumhur (mayoritas ulama).

Dalam beberapa litalatur dan juga kitab-kitab Tafsir disebutkan perbedaan pendapat apakah selain wanita Ahli Kitab, seorang muslim boleh menikahinya? Artinya ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menikahi wanita non-muslim yang dari selain Ahli Kitab.

Intinya bahwa seorang muslim dibolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab. Ini pendapat yang dipegang oleh Jumhur ulama.

Nah adapun jika kondisinya berbalik; yaitu wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim (Musyrik/Kafir), apakah boleh? Ini yang menjadi pembahasan kita disini.

Ijma' (Konsensus) ulama: tidak diperbolehkan seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim, apapun jenis ke-non-muslimannya. Entah itu dia seorang Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu atau agama pun, yang penting ia bukanlah seorang muslim.

Apa dalilnya?  

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ
"dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka,,," (Al-Baqoroh 221)

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
"mereka (wanita-wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka… " (Al-Mumtahanah 10)

Dua ayat ini secara tegas mengatakan bahwa wanita muslimah itu haram dinikahkah dengan orang kafir bagaimana pun alasannya. Dan ulama telah mengatakan bahwa ini adalah Ijma' ulama.

Jika suatu hukum itu sudah dihukumi oleh sebuah Ijma', maka sudah tidak ada lagi perselisihan pendapat didalamnnya. Begitu suatu masalah dihukumi, dan hukum itu tidak diperselisihkan oleh ulama yang lain, maka itu menjadi ijma'. Dan ketika sudah menjadi Ijma', sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Ini prinsip yang di[egang oleh para Fuqoha' (ahli fiqih).

Adapun ayat yang terkandung dalam surat AL-Maidah ayat 5, seperti dibawah ini:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ
"Adapun hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang Ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan bagimu kaum muslimim mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang Ahli kitab sebelum kamu" (Al-Maidah 5)

Ayat ini ialah Takhshish [تخصيص] untuk ayat 221 surat al-baqoroh diatas. Disebutkan bahwa wanita non-muslim (musyrik) itu tidak boleh dinikahi oleh laki-laki muslim. Pada ayat ini terjadi pengkhususan, bahwa larangan yang ada di surat al-baqoroh itu untuk wanita musyrik saja, sedangkan Ahli Kitab, dibolehkan.

Artinya bahwa kalau wanita itu Ahli Kitab, tetap boleh. Walaupun ia seorang wanita kafir. Karena yang dilarang itu ialah wanita kafir yang selain Ahli Kitab (yang tidak diturunkan Kitab; Nasrani dan Yahudi).

Nah larang bagi wanita muslimah untuk menikah dengan laki-laki non-muslim tetap berlaku. Karena ayat ini ialah Takhshish [تخصيص] bukan Naskh [نسخ] yang menghapus kandungan hukum dalam ayat. Ini hanya pengkhususan saja. Maka yang tidak dikhususkan dalam ayat, hukumnya tetap berlaku.

Ijma' Ulama, Wanita Muslimah Haram Menikah Dengan Pria Kafir

untuk menguatkan pendapat ini, yakni larangan bagi perempuan muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim adalah sebuah Ijma', berikut penulis akan beberkan pendapat-pendapat ulama mengenai Ijma' ini.

-------------------------
Dalam tafsirnya, Al-Jami' Li Ahkam Al-Quran [الجامع لأحكام القرآن], Imam Al-Qurthuby ketika menjelaskan ayat 221 surat al-baqoroh tersebut, beliau mengatakan:

قوله تعالى: {وَلا تَنْكِحُوا} أي لا تزوجوا المسلمة من المشرك. وأجمعت الأمة على أن المشرك لا يطأ المؤمنة بوجه
"Ummat ini telah ber-Ijma' bahwa seorang laki-laki kafir tidak boleh menikah dengan wanita Muslimah apapun alasannya"
(Tafsir Al-Qurthubi, 3/72)

--------------------------
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Imam Ibnu Hayyan dalam Kitab Tafsirnya Al-Bahr Al-Muhith [البحر المحيط], beliau mengatakan bahwa memang larang bagi seorang muslimah menikah dengan laki-laki kahir adalah sebuah Ijma' yang tidak bisa ganggu gugat lagi.
(Tafsir Al-Bahr Al-Muhith 2/175)

--------------------------
Imam Syafi'i, ketika mengomentari ayat 10 surat Al-Mumtahanah itu menjelaskan juga bahwa sudah tidak ada lagi penddapat yang menyelisih. Semua sepakat bahwa Muslimah tidak dihalalkan bagi laki-laki kafir. Beliau berkata:

فَحَرَّمَ اللَّهُ عز وجل على الْكُفَّارِ نِسَاءَ الْمُؤْمِنِينَ لم يُبِحْ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ بِحَالٍ ولم يَخْتَلِفْ أَهْلُ الْعِلْمِ في ذلك
"Maka Allah swt mengharamkan wanita-wanita muslimah bagi orang-orang kafir (laki-laki) dan sama sekali tidak membolehkan walaupun satu orang dari wnaita-wanita muslimah apapun alasannya. Dan tidak ada sama sekali perbedaan pendapat antara ulama dalam hal ini"
(Al-Um 5/153)

--------------------------
Imam Al-Kasaaini [الكاساني] dari kalangan ulama madzhab Hanafi, dalam kitabnya Bada'i Al-Shona'i [بدائع الصنائع] juga mengutip pendapat yang sama, bahwa jelas larangannya bagi kaum wanita muslimah dilarang mneikah dengan laki-laki kafir. Beliau berkata:

فَلَا يَجُوزُ إنْكَاحُ الْمُؤْمِنَةِ الْكَافِرَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حتى يُؤْمِنُوا }
"dilarang menikahkan wanita muslimah kepada laki-laki non-muslim, karena ayat larangan ini [dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.] "

في آخِرِ الْآيَةِ بِقَوْلِهِ عز وجل { أُولَئِكَ يَدْعُونَ إلَى النَّارِ } لِأَنَّهُمْ يَدْعُونَ الْمُؤْمِنَاتِ إلَى الْكُفْرِ وَالدُّعَاءُ إلَى الْكُفْرِ دُعَاءٌ إلَى النَّارِ لِأَنَّ الْكُفْرَ يُوجِبُ النَّارَ
"diakhir ayat, Allah mengatakan: [mereka (orang kafir) mengajak ke neraka], karena mereka mengajakan untuk menjadi kafir. Dan ajakan menjadi kafir ialah ajakan menuju neraka. Karena orang kafir telah pasti untuk mereka adalah neraka."
(Bada'i Al-Shona'i 2/271)

--------------------------
Dalam kitab Al-Syarhu Al-Kabir [الشرح الكبير], kitab fiqih mazdhab Hanbali disebutkan juga bahwa tidak ada perbedaan pendapat antara ulama dalam pelarangan seorang wanita muslimah yang menikah dengan seorang laki-laki kafir. Beliau berkata:

(ولا يحل لمسلمة نكاح كافر بحال) لقول الله تعالى (ولا تنكحوا المشركين حتى يؤمنوا) ولقوله سبحانه (لا هن حل لهم) ولا نعلم خلافا في ذلك.
"tidak dihalalkan bagi wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim, karena ayat larangan ini [dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.] dan juga ayat ini [mereka (wanita-wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka], dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan tentang ini diantara ulama"
(Al-Syarhu Al-Kabir 7/507)

--------------------------
Jadi jelas bahwa larangan bagi wanita muslimah untuk menikah dengan laki-laki non-muslim itu sudah menjadi Ijma' yang tidak bisa diperselisihkan lagi. Dan memang samapai sekarang juga tidak ada satu pun ulama yang menyelesihi itu.

Hanya segelintir orang dari kalangan Liberal yang mengakui adanya kebolehan menikah beda agama secara mutlak, termasuk wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki muslim.

Dan tentu saja kita tahu apa yang diinginkan oleh para Liberalis itu, tentu mereka hanya ingin membuat ragu-ragu kepada ummat dan mewujudkan sebuah distorsi syariah. Karena memang itu pekerjaan mereka.

Dan pandangan-pandangan mereka dalam hal syariah sama sekali tidak berdasar. Tidak ada landasannya, baik dari Al-Quran dan Sunnah, maupun pendapat sahabat serta para ulama. 

wallahu A'lam
 

Bijak Dalam Bersyariah

Jangan terlalu cepat sinis memandang kepada hadits yang derajatnya lemah atau dhoif, kemudian meninggalkan. Jangan juga terlalu cepat nyinyir melihat ada banyak orang yang mengamalkan hadits dhoif tersebut. Teliti dulu! Jangan terburu-buru menghukumi dan menghakimi.

Jangan juga terlalu cepat angkat dada melihat ada hadits shohih. Jangan grasak grusuk, terburu-buru mengimplementasikan hadits dengan shohih untuk diamalkan. Sabar, denger apa kata ulama dulu. Jangan asal mengambil kesimpulan kalau masih belum matang berilmu syariah. Hati-hati!

Hadits dhoif belum tentu terlarang diamalkan dan hadits shohih pun belum tentu layak diamalkan. Sabar. Denger apa kata ulama dulu. Jangan buru-buru mencaci mereka yang mengamalkan hadits dhoif. Teliti dulu!

Hadits sholat dengan memakai sandal juga kan hadits shohih, dan itu sunnah Nabi Muhammad saw. Tidak ada yang mengingkari itu. tapi apa dikatakan benar kalau kita masuk masjid untuk sholat tapi tidak melepas alas kaki kita?

"loh itu kan lantainya bersih. Ya pasti dilarang oleh pengurus masjidnya!"

"hehe. Loh itu sunnah Nabil oh! Mao nurutin perintah pengurus Masjid apa mau ngikutin sunnah Nabi ?? masa Nabi kalah sama pengurus Masjid???"

"Nah loh kan ribet juga jadinya. Hehe"

Akhirnya memang syariah ini menuntut kita untuk cerdas dalam merealisasikan syariah itu sendiri. Tidak asal jadi. Karena bisa jadi yang kita yakini itu sunnah, malah menjadi fitnah.

Bukan syariahnya yang fitnah, bukan syariah yang tidak baik. Syariah selamanya baik dan tidak akan menjadi buruk. Tapi dampak yang dihasilkan akibat pelaksanaan syariah yang sembrono asal sruduk, itu yang jadi fitnah dan memberikan nilai minus pada syariah.

"Mbok ya sinau sing bener". Syariah bukan hanya tahu ini shohih, lalu kemudian dengan semangat dikampanyekan "Ayo laksanaka!". Bukan juga Cuma tahu ini hadits dhoif kemudian ditinggalkan, "hadits dhoif, ngga lah. Sorry ya". Tidak begitu juga.

Karena ibadah itu menjadi baik ketika dilaksanakan di waktu dan tempat yang tepat. Dengan keadaan yang tepat pula. Tidak bisa asal jadi.

Dalam beramal tidak cukup hanya hadits shohih, hadits dhoif. Banyak pertimbangannnya, dan ulama sudah membahas itu dalam sebuah disiplin ilmu yang apik, Ushul Fiqh namanya.

Dalam menentukan sebuah amal apakah ini layak diamalkan atau ditinggalkan, tidak cukup hanya dengan bekal hadits shohih dan hadits dhoif. Ya itu alat utama bagi para mujtahid, para Fuqoha' (ahli fiqih) dalam menentukan hukum.

Banyak pertimbangannya. Sebuah hadits shohih yang sampai kepada ahli fiqih tidak serta merta kemudian beliau menghukumi ini sebuah kewajiban dan harus dikerjakan. Dan tidak juga hadits dhoif yang datang kepada beliau kemudian dibuang begitu saja.

Yang shohih menurut para ahli hadits, belum tentu menjadi argument kuat bagi para fuqoha'. Yang dhoif menurut ahli hadits belum tentu dicampakkan oleh para fuqoha'. Itu salah satu sebab adanya perbedaan dalam menentukan hukum antara ahli hadits dan ahli fiqih.

Dokter dan Apoteker

Ibaratnya ahli hadits itu ialah seorang apoteker yang mensortir segala macam obat-obatan. dan ahli fiqih itu ibarat seorang dokter, yang mengobati. Dia yang langsung bertemu dengan si pasien. Beda dengan apoteker yang kerjanya diapotik. Tidak mengobati tapi memberikan pasokan obat.

Kerjanya apoteker, meneliti apakah obat ini layak untuk dikonsumsi atau tidak? Untuk pasein penyakit apa obat ini dikonsumsi? Apakah ini obat untuk panas atau untuk sakit kepala?

Pekerjaannya meneliti sebuah hadits, apakah ini shohih atau dhoif. Apakah para perawinya itu benar-benar tsiqoh atau malah majhuul (tidak dikenal). Itu tugas seorang ahli hadits, lalu kemudian disodorkan hadits itu kepada ahli fiqih untuk diolah mejadi sebuah resep bagi pasein.    

Yang langsung bersentuhan dengan sang pasien ialah seorang dokter, dia yang mendiagnosis, apa sakitnya? Kenapa bisa sakit seperti ini? Apa penyebabnya? Lalu dampak penyakit terhadap badan apa? Begitu kan pertanyaan sorang dokter.

Setelah tahu semua seluk beluk penyakit yang diderita. Barulah sang dokter memberikan resep dan mengobati dengan obat yang sudah diberikan tadi oleh si apoteker.

Kata apoteker: "penyakit seperti ini, obatnya ya ini!" Tapi kata dokter bisa berbeda. Kata dokter: "ya penyakitnya memang itu tapi, gejalanya tidak biasa, maka tidak usah make obat itu. make obat ini aja. Ini lebih cocok dengan kondisinya."

Kalau kita datang kepada apoteker untuk membeli sebuah obat sakit kepala contohnya. Siapapun yang datang kepadanya dengan keluhan sakit kepala, sang apoteker pasti memmberikan obat yang sama. Tidak mungkin berbeda. Karena sakitnya sama yaa obatnya juga sama.

Tapi kalau datang ke dokter, sakitnya sama-sama sakit kepala. Bisa jadi beda obat dan resepnya. Yang pertama diberi obat sakit kepala dengan tambahan ini dan itu, karena ada gejala yang beda setelah diidagnosis.

Kepada yang kedua sang dokter malah memberi obat bukan untuk sakit kepala, karena mungkin itu bukan sakit kepala, ada sakit lain yang akhirnya berdampak sakit di kepala. Itu setelah dilakukan diagnosis dan pemeriksaan sebelumnya.

Bagitu juga ahli fiqih (dokter) dan ahli hadits (apoteker). Apoteker membantu dokter untuk memberi pasokan obat. Dokter melakuan pemeriksaan untuk mengobati pasien. Kalau tidak ada apoteker, sulit bagi dokter mengobati, karena senjatanya yaa dari apoteker.

Jadi semuanya saling membantu.

Jadi wajar kalau sering kita dapati beberapa ulama fiqih memakai hadits yang sudah dihukumi dhoif oleh para ahli hadits sebagai sandaran hukumnya. Jangan dicaci dan jangan nyinyir juga kepada mereka yang mengamalkan itu.

Toh para ulama hadits juga  sudah memberikan rumusan bagaimana cara mengamalkan hadits yang sejatinya sudah dihukumi dhoif dan lemah oleh mereka.

Jadi jangan marah kalau melihat dokter memberi resep berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh seorang apoteker.

Wallahu a'lam

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ "
Nabi Muhammad saw bersabda: "bisa jadi orang yang disampaikan kepadanya hadits (tidak mendengar langsung) itu lebih paham dan mengerti dibanding yang mendengar langsung" (HR Bukhori)
 

Hadits Doa Rajab Dhoif (Lemah), Boleh Diamalin atau Tidak?

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
Allahumma Baarik Lanaa Fi Rojaba Wa Sya'baana Wa Ballighnaa Romadhona
"Ya Allah berikanlah kami keberkahan pada bulan Rajab ini dan Sya'ban nanti. lalu sampaikanlah umur kami ke bulan Ramadhan"
Ya. Saya sepakat bahwa hadits Do'a Rajab yang banyak diperdengarkan ketika masuk bulan Rajab, dan memang itu yang banyak diamalkan oleh hampir seluruh muslim di Indonesia, bahkan di Negara lain.

Tapi ketika ada hadits dhoif, yang menjadi pertanyaan ialah;
[1] Apa sebab ia menjadi dhoif,?
[2] Apakah Boleh berdoa dengan redaksi dari hadits yang dhoif? Ini yang penting!

Teliti Hadits

Kita lihat dulu, dari sisi mana para ulama merumuskan bahwa hadits ini ialah hadits dhoif. Hadits ini diriwayatkan oleh banyak ulama dalam kitab-kitab mereka, tapi bukan dalam kitab-kitab hadits seperti kitab Shohih Bukhori atau kitab Sunan dari imam hadits yang 4 (Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa'i, Tirmidzi).

Yang saya temukan (dengan keterbatasan referensi saya) ada 3 kitab hadits yang punya riwayat ini; yaitu:

[1] Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (مسند الإمام أحمد بن حنبل), nomor hadits: 2346
[2] Al-Mu'jam Al-Ausath (المعجم الأوسط)karya Imam Ath-Thobroni, no. 3939
[3] Syu'ab Al-Imam (شعب الإيمان) karya Imam Al-Baihaqi, no. 3534

Dari ketiga imam yang disebutkan tadi, jalur hadits ini semuanya berujung pada sahabat Anas bin Malik ra. Akan tetapi semua jalur periwayatannya bermasalah. Karena didapati ada beberapa perawi hadits yang cacat dan punya kelemahan.

Jalur riwayat Imam Ahmad: dari Abdullah bin Muhammad, dari Ubaidillah bin Umar, dari Zaidah bin Abi Al-Roqqod, dari Ziyad bin Abdullah Al-Numairi, dari Anas bin Malik ra.

Jalur Riwayat Imam Al-Thobroni: dari Ali bin Sa'id Al-Razi, dari Abdul Salam bin Umar, dari Zaidah bin Abi Al-Roqqod, dari Ziyad bin Abdullah Al-Numairi, dari Anas bin Malik ra.  

Jalur Imam Al-Baihaqi: dari Ahmad bin Husain, dari Muhammad bin Abdullah, dari Muhammad bin Muammil, dari Fadhl bin Muhammad, dari Ubaidillah bin Umar, dari Zaidah bin Abi Al-Roqqod, dari Ziyad bin Abdullah Al-Numairi, dari Anas bin Malik ra.

Nah dari kesemua jalur ini, ada 2 orang yang bermasalah; yaitu [1] Zaidah bin Abi Al-Roqqod, dan [2] Ziyad bin Abdullah Al-Numairi

[1] Zaidah bin Abi Al-Roqqod (زائدة بن أبي الرقاد)

Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolany dalam kitabnya yang memang menjelaskan khusu tentang Bulan Rajab Tabyiin Al-'Ujb fiimaa Waroda Fi Syahri Rojab [] menukil perkataan Imam Al-Bukhori yang mengatakan bahwa Zaidah itu Munkirul-Hadits, orang yang (selalu) meriwayatkan hadits munkar. Ini adalah sebuah kecatatan.

Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Zaidah itu tidak bisa dijadikan hujjah / argument. (Tabyiin Al-'Ujb hal. 6)

[2] Ziyad bin Abdullah Al-Numairi (زياد بن عبد الله النميري)

Imam Ibnu Ma'in mengatakan bahwa beliau adalah perawi yang tidak Tsiqoh (terpercaya), artinya lemah sama seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolani bahwa ia adalah dhoif (lemah).

Berbeda dengan yang lainnya, justru Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa status Ziyad itu  Tsiqoh (terpercaya). Begitu seperti yang dijelasn oleh Imam Abu Bakr Al-Haitsmi dalam kitabnya Majma' Al-Zawaid [مجمع الزوائد] jil. 5 hal. 220

Jadi simpelnya bahwa hadits ini memang lemah statusnya. Lemah karena ada 2 orang yang menurut para ulama hadits, mereka itu tidak kuat dan punya cacat. Maka tidak bisa hadits yang diriwayatkan oleh orang punya cacat dikatakan shohih.

Boleh Ngga Mengamalkan Haditsnya?

Ok. Sampai sini kita sepakat bahwa hadits itu Dhoif, tapi apakah kita tidak boleh berdoa dengan redaksi hadits yang derajatnya lemah. Apakah kita berdosa?
(masalahnya sama saja seperti hadits buka puasa yang sudah masyhur dikalangan masyarakat akan tetapi itu hadits dhoif. dan saya sudah bahas ketika bulan syawal kemarin. klik DI SINI)

Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdoa dengan menggunakan lafadz hadits yang derajat keshahihannya masih menjadi perdebatan.

Sebagian mengatakan tidak boleh berdoa kecuali hanya dengan lafadz doa dari hadits yang sudah dipastikan keshahihannya. Namun sebagian yang lain mengatakan tidak mengapa bila berdoa dengan lafadz dari riwayat yang kurang atau tidak shahih.

Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pada dasarnya malah dibolehkan berdoa dengan lafadz yang digubah sendiri. Contohnya ialah doa qunut yang biasa kita baca baik itu ketika sholat Subuh atau juga sholat Witir.

Ulama bersepakat bahwa boleh seorang imam atau seorang sholat membaca doa hasil karangan sendiri. Artinya tidak terpaku pada nash yang ada. Boleh manambahkannya hingga panjang. Tapi tetap yang lebih baik itu sesuai dengan nash yang ada dari Nabi saw. (Al-Azkar An-Nawawi, Bab Doa Qunut hal 60)

Harus Arab??????

Kalau berdoa harus dengan redaksi dari hadits yang benar-benar shohih, wah jadi ribet dong beragama?! Bagaimana dengan nasib kawan-kawan yang tidak fasih bahkan tidak bisa berbahasa Arab? karena semua hadits berbahasa Arab.
Tetapi berdoa saja dan mengharap dari Allah agar Allah mngabulkan doa kita. Karena aslinya doa itu sesuatu yg bisa kita katakan apa saja di dalamnya, hanya saja kalau itu bukan dari hadits kita tidak boleh meyakini kalau ini hadits atau sunnah.

Isi doa Rajab itu kan meminta keberkahan pada bulan Rajab, dan memohon dipanjangkan umur sampai masuk kepada Romadhan. Lalu apa masalahnya? Apakah dilarang berdoa minta keberkahan? Apakah dilarang kita berdoa meminta panjang umur?

Apakah ada dalil yang mengharuskan doa dengan berbahsa Arab? Apakah ada dalil yang mengharamkan kita untuk berdoa dengan bahasa selain Arab? Silahkan tunjukkan kalau memang ada!!!

Tidak Boleh Meyakini Ini Sebuah Hadits

sebenarnya tidak masalah kita membaca doa dengan lafadz hadits yg dhoif atau juga lafadz buatan sendiri ASAL kita tidak meyakini bahwa ini dari hadits yg shohih dan tidak meyakini kalau ini sunnah. 

Yang terpenting itu ialah kita tidak meyakini sama sekali bahwa ini adalah sebuah hadits shohih. Berdoa ya berdoa saja. Tanpa harus meyakini ini sebuah hadits yang shohih.

Kenapa tidak boleh meyakini bahwa ini hadits?

Yup! Sama sekali tidak boleh. Karena kalau kita meyakini ini sebuah hadits dari Nabi saw, padahal ini adalah hadits bermasalah, itu sama saja kita beranggapan bahwa Nabi mengatakan itu, kan padahal tidak!

Itu namanya kita sudah berbohong dengan nama Nabi Muhammad saw. Dan itu sangat dilarang. Termasuk dosa besar. Karena dalam hadits ada ancaman bahwa yang berbohong dengan nama Nabi saw ialah neraka. Nau'udzu billah.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"siapa yang berbohong atas ku, maka ia telah mengambil poisinya di neraka" (Muttafaq 'Alyh)

Dan mengatakan bahwa sebuah hadits itu dari Nabi padahal sejatinya itu bukan hadits adalah salah satu gambaran pembohongan atas Nabi saw.

Wallahu A'lam
 

Sholat Jumat Tapi Tidak Mendengar Khutbah, Sah kah?

Salah satu kampus yang memiliki 2 gedung kembar; gedung A dan gedung B, biasa melakukan sholat Jumat sendiri untuk para mahasiswanya dan juga beberapa karyawan yang kantornya berada di sekitar kampus. Kedua gedung menyambung dengan jalan yang ada di lantai 1.

Sholat Jumat biasa diadakan di ruang utama gedung B di lantai 1 yang memang biasa digunakan untuk sholat. Saking banyaknya Jemaah yang ikut sholat Jumat, mereka sampai terhampar hingga lantai dasar, bahkan sampai ke gedung A yang berada di sampingnya.

Namun jumat ini berbeda, speker yang biasanya menyala nyaring dengan kuat. Jumatan kali ini tidak berfungsi sama sekali. Jumatan sepi, para Jemaah yang berada di gedung A kebingungan karena sudah lewat waktu zuhur hampir 20 menit tapi belum juga terdengar khutbah.

Tiba-tiba baru ada suara dari sebelah memberi isyarat bahwa sudah Iqomah sholat. Akhirnya mereka sholat Jumat dengan tanpa mendengar khutbah sama sekali. Walau satu huruf. Jadi pertanyaan, bagaimana hukum sholat Jumatnya tadi? Sah kah?

Dalam Kasus Ini Ada 2 Masalah:

[1] Apakah mereka yang tidak mendengar khutbah Jumat, terhitung sebagai orang yang melakukan Jumatan? Karena Sholat Jumat harus dengan khutbah.

[2] Apakah karena tidak mendengar khutbah Jumat, mereka boleh berbicara? Pembicaraan mereka, apakah dihitung sebagai "Laghw" yang memang dilarang dalam syariah ketika khutbah Jumat berlangsung? Karena wajibnya itu diam dan mendengarkan.

Masalah Pertama:

Memang ulama telah bersepakat bahwa khutbah itu ialah salah satu syarat sahnya sholat Jumat. Maka ketika khutbah tidak ada, sholat Jumat pun menjadi tidak sah, karena syaratnya hilang.

Walaupun ada satu pendapat dari Imam Hasan Al-Bashri yang mengatakan bahwa khutbah Jumat bukanlah syarat sah. Tapi sayangnya pendapat ini lemah, kalah kuat dengan pendapat yang dipegang oleh ulama.
(Al-Hawi Fi Fiqh Al-Syafi'I 3/44)

Tapi yang terjadi dalam kasus ini bukanlah sholat Jumat tanpa khutbah, akan tetapi sholat Jumat yang khutbahnya tidak terdengar karena kerusakan teknis. Jadi sholat mereka tetap sah, dan mereka telah melakukan sholat Jumat. Maka tidak perlu diganti dengan sholat Zuhur.

Kasusnya sama saja seperti mereka yang sholat Jumat, tapi ketinggalan khutbah karena telat datang. Ketika imam sedang sholat Jumat, ia baru masuk masjid, akhirnya ia tidak mendengar khutbah. Sholat Jumatnya tetap sah, tapi memang pahalanya tidak sesempurna mereka yang mendengar khutbah.

"siapa yang mendapati satu rokaat sholat Jumat (bersama imam) maka lanjutkan rokaat berikutnya (rokaat kedua)" (HR. Ibnu Majah, no. 1111)

Maksud hadits tersebut ialah bagi siapa yang terlambat datang Jumat, hanya kedapatan satu rokaat bersama imam, maka ia cukup melengkapi satu rokaat lagi menjadi 2 rokaat jumat sempurna.

Artinya memang sholat Jumat-nya sah dan tidak perlu mnegganti dengan Zuhur. Itu yang ketinggalan satu rokaat, apalagi mereka yang dalam kasus ini ikut bersama imam dari rokaat pertama.

Masalah kedua:

Karena tidak mendengar khutbah dan waktu sudah masuk waktu Zuhur lama, akhirnya mereka kebingungan dan saling bertanya-tanya. Malah ada yang masih ngobrol karena menganggap khutbah belum mulai, padahal di gedung sebelah Khotib sudah khutbah kedua.

Nah apakah pembicaraan mereka dengan satu sama lainnya terhitung Laghw (lalai Khutbah) yang memang berdosa atau tidak?

Dalam masalah ini, ulama terbagi menjadi 2 pendapat; [1] Mengharamkan, dan [2] Membolehkan.

Pendaat pertama:
Itu terhitung sebagai Laghw, dan mereka berdosa karena lalai walaupun sholatnya tetap sah.

Ini pendapat yang dipegang oleh beberapa ulama yang bersumber dari pendapatnya sahabat Utsman bin Affan ra. Imam Ibnu Qudamah yang mewakili kelompok pertama mengatakan:

"tidak ada perbedaan dalam larangan berbicara ketika khutbah Jumat, baik bagi mereka yang mendengar atau mereka yang jauh yang tak mendengar. Sebagaimana riwayat dari Utsman bin Affan yang berkata bahwa wajib bagi yang dekat mendengarkan dan diam. Bagi yang jauh (tidak terdengar) itu wajib diam. Maka ketika dia diam, dia mendapatkan ganjaran yang sama seperti mereka yang mendengarkan" (Al-Mughni 2/165)

Kemudian Imam Ibnu Qudamah menambahkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Imam Abu Daud, bahwa Rasul saw pernah bersabda:

"3 orang yang datang sholat Jumat. Yang pertama masuk kemudian lalai (tak mendengar khutbah) maka ia mnedapat ganjaran (dosa) akan itu. yang kedua masuk dan berdoa kepada Allah, maka Allah berkehendak mengambulkan atau menolak doanya. Dan yang ketiga masuk lalu diam dan mendengarkan khutbah, maka ia yang mendapatkan ampunan antara Jumat sampai Jumat berikutnya" (HR Abu Daud, no. 939)

Pendapat kedua:
Tidak ada dosa bagi mereka, karena diam ketika khutbah itu memang untuk mendengar khutbah, maka ketika khutbahnya tidak terdengar ya tidak masalah.

Ini pendapat yang dianut oleh Imam Ahmad dan menjadi pendapat resmi madzhab Hanbali.

Memang berbicara ketika khutbah Jumat itu berdosa karena termasuk "Laghw"  yang memang dilarang dalam hadits Nabi saw: "………………. barang siapa yang berbicara, maka dia telah lalai (laghw), siapa yang lalai, maka ia tidak mendapatkan pahala Jumat (sempurna)" (Muttafaq 'Alayh)

Akan tetapi larangan tersebut kan ketika khutbah Jumat memang terdengar. Dan dilarang berbicara agar bisa mendengarkan imam Khutbah, dan tidak menggangu Jemaah lain yang sedang mendengarkan. Maka ketika khutbahnya tidak terdengar, ya boleh saja berbicara.

Sama seperti kandungan ayat: "jika diperdengarkan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diam" (Al-A'rof: 204)

Ayat ini seperti dikatakan oleh para Ahli Tafsir, ia turun ketika Nabi Muhammad saw sedang khutbah. Maka ketika diperdengarkan, ya diam dan dengarkan. Tapi ketika tidak terdengar, ya apa yang mau didengarkan?

Maka ulama yang berpendapat ini tidak mengharamkan berbicara ketika khutbah, selama pembicaraannya tidak mengganggu Jemaah sekitar, dan tidak dengan suara yang tinggi.

Akan tetapi dalam kondisi ini, Imam Ahmad berpesan bahwa menyibukkan diri dengan dzikir dan juga sholawat kepada Nabi Muhammad jauh lebih baik daripada berbicara. (Matholib Uli Al-Nuhaa 788, Al-Mughni 2/165)

wallahu A'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger