Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat, Bolehkah?

Di beberapa masjid di daerah, bahkan di Jakarta, masih banyak saudar-saudara muslim yang kalau selesai shalat jumat, mereka shalat zuhur lagi, berjamaah bahkan. Kemudian ini yang mengundang banyak pernyataan dari saudara muslim lain yang memang hanya tahu bahwa sahalt jumat itu telah menggugurkan kewajiban shalat zuhur. Jadi, muslim yang sudah shalat Jumat, tidak perlu lagi shalat zuhur.

Dan memang sudah menjadi kesepakatan ulama sejagad raya bahwa orang muslim yang sudah melakukan shalat jumat, gugur kewajiban zuhurnya. Karena itu, wajar saja jika banyak yang bertanya-tanya, mengapa sebagian orang melakukan zhalat zuhur lagi setelah jumatan. Bahkan tidak sedikit yang justru menyalahkan mereka.

Maka dari itu, agar tidak ada yang slaing memandang aneh, atau bahkan menyalahkan satu sama lain, ada baiknya kita pelajari dan cari tahu kenapa mereka melakukan itu, bukan langsung menyalahkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir mayoritas orang Indonesia, fiqih yang dipelajari sejak kecil iaalah fiqihnya madzhab Imam al-Syafi'i. karena itu, pakem-pakem madzhab ini sangat dilaksanakan secara loyal oleh kebanyakan orang. Termasuk dalam hal shalat jumat ini.

Syarat Sah Jumat Tidak Terpenuhi

Dalam madzhab Imam al-Syafi'i, selain disyaratkan 2 khutbah serta masuknya waktu zuhur agar shalat Jumat itu dikatakan sah, shalat jumat juga punya syarat sah lain yang tidak boleh tidak terpenuhi; yakni hanya ada satu jumat dalam satu kampung, dan harus dihadiri oleh 40 orang mukim atau lebih.

2 syarat ini yang sekarang banyak tidak terlaksana –menurut pemahaman sebagian saudara muslim- sehingga membuat shalat Jumat itu menjadi tidak sah. Mungkin saja dalam satu kampung itu ada yang melaksanakan jumat di tempat berbeda. Kalau sudah begitu, maka salah satu dari 2 jumatan itu dihukumi tidak sah. Khawatir jumatannya yang tidak sah, maka ia dan jemaahnya melaksanakan shalat Zuhur, karena kewajibannya belum gugur, toh jumatannya tidak sah.

Atau bisa saja dalam jumatan itu dihadiri oleh kurang dari 40 orang mukim. Yang hadir jumatan memang banyak, akan tetapi yang mukim hanya sekitar 20an orang atau kurang dari 40, sisanya adalah orang yang hanya singgah di situ saja, atau kebetulan sedang lewat masjid tersebut. Karena kurang dari 40 mukim, jumatannya tidak sah.

Tapi alasan mereka melakukan shalat zuhur setelah jumatan karena jamaah kurang dari 40 orang mukim, itu alasannya yang jarang sekali terjadi. Yang paling sering terjadi ialah alasan yang pertama, yakni ada jumatan lain dalam satu kampung. Ini yang sering kali terjadi yang membuat mereka melakukan shalat Zuhur setelah Jumatan.

Satu Kampung Hanya Ada Satu Jumat

Perihal syarat sah jumat yang harus hanya ada satu dalam satu kampugn, tidak boleh ada lebih dari satu Jumat dalam kampung tersebut, sudah kami jelaskan secara rinci di sini [ http://goo.gl/BXEuZR ] silahkan merujuk.  

Dihadiri 40 Orang Mukim

Ini adalah pendapat resmi madzhab al-Syafi'iyyah, bahwa shalat jumat itu sah kalau dihadiri oleh 40 orang mukim atau lebih. Tentu syarat ini tidak muncul begitu saja, pastilah ada alasannya kenapa madzhab ini menetapkan kalau jumat itu harus dihadiri oleh 40 orang mukim atau lebih. Di antara dalil yang dipakai adalah;

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بِالْمَدِينَةِ وَكَانُوا أَرْبَعِينَ رَجُلً
"Dari ibnu Mas'ud r.a., beliau berakata bahwa Nabi saw shalat Jumat di Madinah dan jumlah mereka ketika itu 40 orang." (HR al-Baihaqi)

وَعَنْ جَابِرٍقَالَ: مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَصَاعِدًا جُمُعَةً
 "Dari Jabir r.a. beliau berkata; Sunnah (Syariat) agama ini bahwa 40 orang atau lebih ada kewajiban jumat". (HR Daroquthni)

Dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj (1/632), Imam al-Syirbini mengatakan bahwa perhatian Rasul s.a.w terkait shalat jumat tidak seketat shalat lain, termasuk dalam masalah jumah Jemaah yang hadir dalam shalat jumat haruslah memenuhi syarat. Bahkan beliau mengutip pernyataan Imam al-Nawawi dalam al-Majmu' yang mengatakan bahwa adanya syarat jumlah hadirin dalam shalat jumat adalah sesuatu yang disepakati oleh umat Islam.

Beliau menguatkan pandangan madzhabnya; "Seorang muslim wajib melaksanakan shalat sesuai tuntunan Nabi saw sebagaimana hadits (صلوا كما رأيتموني أصلي), dan tidak pernah shalat jumat itu dilaksanakan di masa beliau hidup dengan jumlah yang kurang dari 40 orang."

Tanwirul-Qulub fi Mua'amalati 'Allamil-Ghuyub

Ini adalah kitab karangan Sheikh Muhammad Amin al-Kurdiy (1332 H), kitab fiqih abad 14 hijrah yang menjadi rujukan banyak orang-orang al-Syafi'iyyah terkait masalah-masalah 'ubudiyah, termasuk juga masalah shalat Zuhur setelah shalat Jumat ini.

Di dalam kitab ini, beliau membuat bab khusus perihal shalat Zuhur setelah shalat Jumat, yang beliau tulis dari halaman 218 sampai halaman 224. Di dalamnya beliau sertakan dalil, serta pandangan-pandangan ulama madzhab al-Syafi'iyyah yang menjadi penguat.

Beliau juga menguatkan bahwa pekerjaan ini (shalat zuhur setelah Jumat) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh ulama-ulama madzhab al-Syafi'iyyah dan juga pendapat resmi mereka. beliau menyatakan bahwa shalat Zuhur setelah Jumatan itu adalah jalan Ihtiyath [احتياط] (kehati-hatian) yang diambil oleh ulama-ulama al-Syafi'iyyah melihat ada syarat jumat yang tidak terpenuhi.

Dan jalan Ihtiyath (kehati-hatian) bisa menjadi wajib, dan bisa juga menjadi sunnah. Artinya status shalat Zuhur yang dilaksanakan itu bisa jadi wajib, dan bisa juga jadi sunnah.

[1] Wajib Shalat Zuhur setelah Jumatan

Shalat Zuhur tersebut menjadi wajib dilaksanakan setelah jumat, kalau memang ada jumat lain dalam satu kampung tersebut. Dan diadakannya shalat jumat yang berbilang itu tanpa ada hajat atau kebutuhan yang mendesak. Seperti adanya masjid di kampung tu cukup untuk memuat seluruh penduduk kampung, tapi malah diadakan jumatan lagi yang berbeda di selain masjid tersebut. Maka ihtiyath dengan melakukan shalat zuhur setelah jumatan menjadi wajib.

[2] Sunnah Shalat Zuhur setelah Jumatan

Shalat Zuhur tersebut menjadi sunnah dilaksanakan. Kalau adanya jumat lain dalam satu kampung itu karena memang ada kebutuhan dan hajat. Seperti masjid yang tidak bisa mengakomodasi semua jumlah penduduk kampung, yang kalau dipaksanakan justru akan meluber ke jalanan dan menganggu orang banyak. Kalau memang ada hajat untuk membuat jumatan yang lebih dalam satu kampung, ihtiyath yang dilakukan itu statusnya sunnah.

Masalah Ijtihadiyah

Pada intinya ini adalah masalah yang diijtihadkan oleh ulama-ulama al-Syafi'iyyah, dan tidak dipegang oleh ulama madzhab lain. Artinya kemungkinan berbeda adalah sesuatu yang niscaya dan pasti terjadi.

Karena ini masalah ijtihadiyyah, maka, sebagaimana Sheikh Amin al-Kurdiy menutup pembahasannya terkait shalat zuhur seteah shalat jumat, bahwa tidak diperkenankan satu menyalahkan yang lainnya. Yang melaksanakan shalat Zuhur setelah jumatan tidak boleh menyalahkan yang tidak melakukannya. Dan yang tidak melakukannya pun tidak boleh merasa benar sendiri.   

Atau juga sebaliknya, yang melaksanakan shalat Zuhur tidak bisa merasa paling benar, dan yang tidak melaksanakan tidak perlu menyalahkan mereka yang shalat ZUhur setelah Jumatan.

Wallahu a'lam
 

Bolehkah Bertayammum Dengan Selain Tanah?


Beberapa orang atau mungkin banyak orang yang ketika bertayammum, setelah memukulkan telapak tangan bagian dalam ke tembok, kursi, dindng kendaraan serta media lain yang berdebu, mereka menggerak-gerakkan atau meniup keduanya, dengan alasan mengurangi debu yang ada di telapak tangannya tersebut. Mereka mengatakan bahwa ini adalah perkara yang disunahkan atau dianjurkan dalam tayammum. 

Tapi nyatanya, menggerak-gerakan tangan seperti itu justru bukan perkara yang sunnah, akan tetapi sesuatu yang tidak dianjurkan atau makruh, bahkan bisa jadi terlarang dalam bertayammum. Kenapa demikian?

Karena kalau bertayammum di dinding, kursi, tembok atau badan kendaraan, debu yang menempel di telapak kadarnya sangat sedikit sekali, kalau digerak-gerakkan lagi, habislah debu yang tadinya sudah menempel. Kalau sudah habis, mau bertayammum dengan apa? Akhirnya tayammumnya menjadi tidak sah, karena tidak ada debunya.

Sunnah menggerak-gerakkan tangan

Menggerak-gerakkan tangan setelah memukulkan telapak ke media tayammum (tanah atauyang lain), itu kesunahan tayammum milik madzhab al-Syafi'iyyah saja. Sedangkan madzhab lain tidak seperti itu. Karena memang madzhab al-syafi'iyyah hanya membolehkan tayammum dengan media tanah atau pasir. Dalam madzhab ini selain 2 media tersebut, orang muslim tidak bisa bertayammum.

Karena wajib di tanah atau pasir, tentu debu yang menempel banyak sekali kadarnya, bahkan ada bebatuan kecil. Nah, untuk itu disunnahkan atau dianjurkan setelah memukulkan tangan ke tanah untuk menggerak-gerakkan kembali atau meniup, agar bebeatuan-bebatuan kecil yang ada itu terjatuh, sehingga tidak melukai atau menyakiti muka yang akan diusap. Di situ poin kesunahannya.

Jadi, Kalau tidak betayammum dengan tanah, ya tidak perlu seperti itu. Ini anjuran yang ada dalam madzhab al-syafi'iyyah dalam bertayammum, karena memang harus di tanah atau pasir. Berbeda dengan madzhab lain, yang membolehkan bertayammum dengan media selain tanah atau pasir.

Sumber perbedaan?

Perbedaan pandangan antara al-syafi'iyyah dan madzhab selainnya itu merujuk kepada ayat pensyariatan tayammum itu sendiri, yaitu;

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
"Bertayammumlah kalian dengan sho'id yan suci" (al-Maidah 6)


Madzhab al-Syafi'iyyah menterjemahkan kalimat sha'id yang ada dalam ayat itu sebagai debu tanah, merujuk kepada tafsir Ibnu Abbas terkait ayat itu sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab al-Syafi'iyyah. Dan keberadaan debu yang nyata itu hanya terdapat pada tanah atau pasir saja.
Adapun media lain, memang berdebu, akan tetapi keberadaan diragukan, bisa ada bisa tidak.

Terlebih lagi bahwa Nabi saw ketika tayammum disyariatkan, beliau selalu bertayammum dengan debu tanah, dan tidak pernah bertayammum dengan badan unta atau kudanya atau media lain. Karena itu, dalam madzhab ini tayammum hanya boleh pada dua media tersebut.

Sedangkan madzhab lain (al-Hanafiyah dan al-Malikiyah), merujuk kepada kalimatSha'id dalam ayat itu sendiri. Maknanya dalam bahasa adalah "wajh al-Ardh" (muka bumi), atau "kullu maa sha'ada 'ala al-Ardh" (setiap yang berada di permukaan bumi). Jadi apapun itu bendanya, kalau dia berada di atas muka bumi, dan ada kemugkinan debu menempel di situ, itulah media tayammum yang disyariatkan.

Toh dalam hadits-hadits juga Nabi Muhammad s.a.w menyebutkan tanah secara mutlak tanpa membedakan dan menggharuskan di tanah atau pasir. Terlebih lagi, semua sepakat bahwa tayammum itu harus dengan debu, dan debu tidak hanya menempel di tanah atau pasir, ia juga ada di media-media lain selain itu. Jadi selama ada debunya, kenapa harus dibatasi? Intinya kemungkinan adanya debu di media tersebut sangat besar.

Wallahu a'lam

 

Bermadzhab, Untuk Apa?

Ketika kita membicarakan madzhab-madzhab fiqih, sejatinya kita tidak hanya membicarakan Imam Abu Hanifah sendiri, juga tidak Imam Mailk bin Anas sendirian sebagai "Founder" madzhab al-Malikiyah, tidak juga membicarakan Imam al-Syafi'i sendiri saja, dan bukan juga kita membicarakan fatwa-fatwa Imam Ahmad saja sebagai "ikon" madzhab al-Hanabilah.

Akan tetapi, bukan beliau-beliau yang kita bicarakan, melainkan kita sedang membicarakan sebuah institusi besar yang diampuh oleh orang-orang dengan keilmuan luas yang mumpuni dalam bidang syariah dan hukum, serta tentara-tentara akademisi yang militant dalam melakukan penelitian hukum serta menggali illah dan hikam dari setiap hukum dan dalil yang ada, baik itu ayat atau juga hadits.

Mereka yang bekerja untuk istitusi madzhab bukan dalam waktu harian atau bulanan, akan tetapi mereka bekerja dalam waktu tahunan bahkan jauh lebih panjang dari sekdar tahunan. Bukan hanya itu, pekerjaan mereka pun bersambung, tidak hanya berhenti pada satu masa; apa yang dikerjakan di masa sebelumnya terus dikaji dan disempurnakna oleh para punggawa-punggawa madzhab di masa selanjutnya.

Mereka inilah yang kemudian mengkaji dan mendalami kaidah-kaidah ushul (induk) yang telah dirumuskan oleh Imam madzhab mereka, serta menjelaskan apa yang rancu dari kaidah tersebut, mengoreksi, emanmbahkan serta memperbaiki apa yan sekiranya punya kemungkinan salah aplikasi. Kemudian memberikan sample-sample furu' (cabang) dalam kktab-kitab mereka, serta juga merumuskan kaidah ushul baru yang Imam mereka belum merumuskan itu berdasarkan apa yang sudah digariskan dalam madzhab sang Imam.

Sampai kita melihat bahwa apa yang dilakukan oleh sang Imam madzhab dan tentara ulama dalam setiap madzhab yang bekerja puluhan bahkan ratusan tahun tersebut tidak lagi meninggalkan masalah yang kosong jawaban kecuali sudah disiapkan oleh mereka kaidah ushul untuk dicocokan dengan masalah yang muncul.

Itu dia kenapa dalam satu madzhab kita menemukan adanya tingkatan-tingkatan ijtihad dan level ulama yang berbeda-beda dengan kelas mereka masing-masing. Karena memang semua bekerja dalam bidang dan keahlian masing-masing, guna saling melengkapi dan menyempurnakan sebuah "jalan" (madzhab) bagi para awam untuk bisa memahami syariah ini secara komprehensif. Di situlah fungsi madzhab.

Setiap madzhab punya level-level dan tingkatan mujtahid yang berbeda dengan madzhab lain, hanya saja secara global kita bisa mengklasifikasi dalam 2 level mujtahid; [1] Mujtahid Muthlaq, dan [2] mujtahid fi al-Madzhab. Dalam 2 level ini pun kemudian muncul beberapa tingkatan lagi, seperti Mujtahid muthlaq muntasib, mujtahid mukharrij, mujtahid tarjih, dan mujtahid fatwa.

Dari ulama-ulama pada 2 level ini lah kemudian muncul banyak sekali istilah-istilah ushul dalam masing-masing madzhab, serta merumuskan beberapa kaidah ushul dan Fiqih­-nya. seperti kaidah 'am wa al-khash, nash, Zahir, Majaz, Muta'awwil, Muhtamal, naskh mansukh.

Lebih rumit lagi istilah-istilah dalam istinbath hukum, seperti haml al-Muqayyad 'ala al-Muthlaq, takhriij ushul ala al-furu', takhrij Furu ala al-Ushul dan lain-lain yang mana para ulama madzhab tersebut bekerja dalam jangka abad (bukan tahunan) untuk sebuah "jalan" bersyariah.

Untuk apa ini semua?

Lalu menjadi pertanyaan kemudian, sebenarnya untuk apa itu semua? Kenapa harus ada banyak istilah rumit? Kenapa harus banyak orang terlibat?

Jawabannya ialah untuk mengurangi dan memperkecil kemungkinan salah dan keliru dalam memahami syariah serta menyimpulan sebuah hokum dari teks-teks syariah. Karena semakin banyak orang yang terlibat di dalamnya, semakin banyak sesuatu yang bisa dikoreksi. Dan itu terus berulang di setiap generasinya.

Apa yang sudah ada di masa ulama sebelumnya, deteliti oleh ulama sesudahnya, disempurnakan, dijelaskan apa yang masih rancu dan ditambahka apa yang mungkin harus ditambahkan. Semakin banyak orang yang bekerja untuk menyempurnakan itu, semakin sedikit kesalahan yang akan timbul.

Layaknya sebuah penemuan teknologi, yang dari tahun ketahun selalu diteliti dan diupgrade ke penemuan yang lebih muthakhir dan yang terpenting ialah mempermudah pengguna serta memberikan kenamanan, dan penting lagi yaitu memperkecil kemungkinan bahaya yang muncul yang bisa saja melukai pengguna.

Jadi ini bukan masalah mempersulit syariah, justru ini memudahkan kita untuk memahami syariah secara komprehensif, dengan melihat kenyataan bahwa banyak dalil baik dari ayat atau hadits yang nyatanya masing-masing bersinggungan dalam kandungan hukumnya.  

Dan harus dicamkan baik-baik, bahwa memahami dalil-dalil yang ada itu tidak cukup untuk hanya diterjemahkan saja. Kalau seandainya syariah serta dalil-dalilnya bisa dipahami hanya dengan terjemahannya saja, lalu buat apa ulama sejak 14 abad tahun lalu repot-repot membuat kitab tafsir yang berpuluh jilid? Buat apa juga repot-repot menulis kitab syarah (penjelasan) hadits kalau hanya bisa dipahami dengan  terjemah?

Melihat kenyataan seperti itu, lalu apakah masih kita akan mengatakan "kita kembali ke al-Quran dan hadits langsung, tanpa harus bermadzhab karena mereka juga manusia yang bisa salah, dan perkataan mereka tidak bisa dijadikan dalil!" masih kah kita berkata demikian?

Kalau madzhab bisa salah, apakah kita terbebas dari kesalahan dalam memamahi syariah denga akal yang sempit ini?

Mana yang lebih mungkin salah, pekerjaan yang dikerjakan oleh satu kelompok besar yang bekerja saling melengkapi, atau mereka yang bekerja sendirian?

Mana yang lebih mungkin salah, para ulama madzhab yang hidupnya jauh lebih dekat ke masa Nabi atau kita yang sudah terpisah ribuan tahun dari zaman Nabi?

Wajib kembali ke al-quran dan sunnah, akan tetapi kita tidak mungkin bisa memahami al-quran dan sunnah tanpa peran sebuah madzhab fiqih!

Wallahu a'lam
 

Satu Kampung Hanya Boleh ada Satu Jumat, Begitukah?

Yang masyhur dalam masalah shalat jumat di beberapa daerah di Indonesia ialah keharusan satu jumat dalam satu kampung, tidak boleh ada dualisme ke-Juma-an dalam satu kampung. Bahkan dalam madzhab ini salah satu jumat dihukumi tidak sah jika memang dilakukan dalam satu kampung yang memang mengadakan jumat juga. Ini yang memang masih dipermasalahkan, terutama di beberapa daerah yang memang masih sangat ketat mengaplikasi pendapat-pendapat madzhab Imam al-Syafi'i.

Yang jadi persoalan ialah, apa yang menjadi sandaran atas argumen pendapat madzhab ini, sehingga sepertinya sangat "ngotot" mengharuskan satu kampung hanya satu madzhab? Lalu bagaimana kita mengaplikasikan ijtihad ini dengan kondisi yang sudah sangat rumit sekarang? Apa dan bagaimana?

One Village, (Only) One Jumah!

Penulis pribadi cenderung marah dan benci jika mendengar ada salah seorang, siapapun itu, yang mengkritik pendapat wajibnya satu Jumat dalam satu kampung sebagai pendapat yang tidak tepat dan mengada-ngada. Mestinya, kalau memang tidak suka dengan pendapat madzhab ini, bukan berarti itu pelegalan untuk mengkritik dan memandang dengan sinis pendapat madzhab al-Syafi'i ini.

Bagaimanapun, ini adalah ijtihad seoang ulama yang wajib dihargai. Kalau memang tidak suka dan tidak mau mengamalkan, tidak usah berkomentar sinis. Silahkan saja mengamalkan pendapat lain dan tetap mengormati mereka yang memang masih senang untuk tetap mengikuti pakem al-Syafi'iyyah.

Maka dari itu, agar tidak asal sinis dan kritik, kita pelajari dulu kenapa madzhab al-Syafi'i mewajibkan hanya satu jumat dalam satu kampung, lebih jauh dari itu, madzhab ini membatalkan salah satu jumat yang dilakukan di kampung yang sudah ada jumat di situ.

Di Masa Nabi, Shalat Jumat Hanya di Masjid Nabawi

Ini salah satu dalil yang dipakai oleh madzhab sanng Imam, bahwa ketika Nabi hidup di madinah dulu, setiap datang hari jumat, semua orang berbondong-bondong datang ke masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat jumat.

Sayyidah A'isyah pernah berakata:
كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ مَنَازِلِهِمْ وَالْعَوَالِيِّ
Dari A'isyah, beliau berkata: "manusia (muslim) ketika hari jumat berdoyong-doyong (ke masjid Nabawi untuk shlata jumat) dari rumah-rumah mereka dan 'awali (pemukiman yang jaraknya sekitar 3 mil)" (HR. al-Bukhari)

Padahal ketika itu, jemaah shalat tidak hanya dilakukan di masjid Nabawi, tapi dilaksanakan juga di dusun-dusun sahabat lain. Yang menjadi Imam ialah para sahabat 'Alim dan Faqih yang memang menjadi tokoh; seperti Mu'adz bin Jabal yang masyhur dengan cerita kaumnya yang marah karena beliau –pada suatu ketika- menjadi Imam namun dengan bacaan terlalu panjang. Atau juga Amr bin Salamah yang menjadi Imam ketika beliau masih sangat kecil sekali karena hanya beliau satu-satunya yang paling banyak hafalan Qur'an di antara para warga dusunnya ketika itu.

Tapi ketika hari jumat datang, semua orang dan para sahabat yang punya jemaah shalat sendiri di "langgar-langgar" mereka tidak asal "ujung-ujung" mengadakan shalat jumat seperti shalat 5 waktu lainnya, akan tetapi mereka berkumpul dan berjalan bersama ke masjid Nabawi untuk mengadakan shalat Jumat.

Ini yang menjadi sandaran dalil bahwa shalat jumat itu haus disatukan dan difokuskan dalam satu tempat, tidak terpisah-pisah.

Shalat Jumat Adalah Syiar Islam

Penting juga untuk diketahui bahwa yang namanya shalat Jumat itu adalah bukan saja ritual ibadah mingguan, akan tetapi shalat jumat juga dinilai sebagai sebuah Syiar Islam yang harus dipublikasikan kepada khalayak agar mereka non-muslim melihat bagaimana besarnya Umat Islam dan eratnya persatuan mereka. Dengan difokuskannya shalat jumat di satu titik, alkhirnya jumalh jemaah menjadi besar karena semua terfokus ke titik tersebut, dengan begitu, jumlah yang besar ini memberikan efek yang sangat kuat dan menunjukkan bagaimana kuatnya Umat Islam dalam persatuan .

Kalau shalat jumat dilakukan berbilang; artinya dilaksanakan dalam beberapa tempat, tentu jumlah jemaah dalam setiap shalat jumat pun menjadi sedikit, karea terpecah ke beberapa titik sehingga, nilai persatuan dan eratnya ukhuwah menjadi –otomatis- berkurang. Pun nilai syiar-nya menjadi minim bahkan nihil karena tidak bisa "show" hanya dengan jumlah yang sedikit.

Imam al-Syirbini menyebutkan salah satu alasan madzhab ini;
لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءُ الرَّاشِدِينَ لَمْ يُقِيمُوا سِوَى جُمُعَةٍ وَاحِدَةٍ ، وَلِأَنَّ الِاقْتِصَارَ عَلَى وَاحِدَةٍ أَفْضَى إلَى الْمَقْصُودِ مِنْ إظْهَارِ شِعَارِ الِاجْتِمَاعِ وَاتِّفَاقِ الْكَلِمَةِ
"karena Nabi saw dan para khulafa rasyidin tidak pernah melaksanakan shalat jumat kecuali satu jemaah saja. Dan itu juga karena menyatukan jemaah pada satu jumat lebih nyata mencapai maksud jumat yang merupakan syiar dan persatuan umat" (Mughni al-Muhtaj 1/281)

 Poin yang lebih penting yang disebutkan dalam kutiapan teks tersebut ialah bahwa Nabi saw dan para khulafa' Rasyidin tidak pernah melaksanakan shalat jumat berbilang ketika mereka hidup. Dan merupakan sebuah kewajiban bagi orang muslim sejagad raya ini untuk melaksanakan shalat sebagaimana Nabi saw melaksanakan shalat itu. Dan begitulah Nabi saw melaksanakan shalat jumat; tidak berbilang.

Sulit Diaplikasikan

Hanya saja memang pendapat madzhab Imam al-Syafi'i ini sulit dilaksanakan melihat kondisi beberapa daerah di Indonesia, apalagi Jakarta. Jangankan untuk menyatukan orang-orang dalam satu jumat, menentuka mana batas kampung pun sudah tidak jelas sekarang, tidak seperti zaman dahulu yang batas kampung masih terlihat. Sebegeitu juga kondisi geografik daerah-daerah di mana sang Imam hidup yang batas kampung bisa diketahui. Sedang sekarang? Rumah berdempetan satu sama lainnya sehingga sulit untuk menentukan kampung satu dengan yang lainnya.

Artinya memang sangat sulit mengaplikasikan pendapat madzhab ini. Rumah berdempetan, masjid pun hanya bisa menampung ratusan orang saja, sedang dalam satu waktu di daerah tertentu, jumlah orang yang ada bisa mencapai ribuan, kalau dipaksakan shalat jumat di satu titik, tentu menyulitkan. Masjid terus dipaksanakan dengan membludak jemaah, pastinya akan meluber ke jalan-jalan dan gang, pasti mengganggu pejalan lain. Sulit sekali.

Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan bahwa salah satu jumat di kampung tersebut batal dan tidak sah karena ada jumat lain dalam satu kampung tersebut? Imam al-Syirbini punya jawabannya, beliau mengatakan;

إلَّا إنْ كَثُرَ أَهْلُهُ أَيْ : أَهْلُ مَحَلِّهَا ( وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ بِمَكَانٍ ) وَاحِدٍ فَيَجُوزُ تَعَدُّدُهَا لِلْحَاجَةِ بِحَسَبِهَا ؛ لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَخَلَ بَغْدَادَ وَأَهْلُهَا يُقِيمُونَ بِهَا جُمُعَتَيْنِ وَقِيلَ ثَلَاثًا فَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ
"kecuali kalau banyak jumlah penduduknya sehingga sulit untuk berkumpul dalam satu tempat. Maka boleh untuk dilaksanakan jumat dalam 2 tempat atau lebih dengan hajat itu; karena Imam al-syafi'I ketika berada di baghdad mendapati pendudukunya melaksanakan shalat jumat 2 bahkan 3 kali dan beliau tidak mengingkarinya" (Mughni al-Muhtaj 1/281)   

Jadi, pendapat madzhab ini tentang wajibnya satu jumat dalam satu kampung ternyata tidak mutlak. Artinya kewajiban itu dilaksanakan jika memang memungkinkan kondisi dan tempatnya pula. Kalau tidak memungkinkan, ya tidak mengapa kalau memang harus mengadakan shalat jumat berulang atau berbilang dalam satu kampung.

Pendapat Madzhab Tidak Pernah Asal jadi

Sejatinya, artikel ini ditulis untuk merespon beberapa komentar negatif dari sebagian orang yang melihat bahwa pendapat wajibnya satu jumat untuk satu kampung itu dengan pandangann sinis. Jelas itu mendeskriditkan sebauh ijtihad seorang ulama madzhab, yang tidak pernah mengeluarkan sebuah fatwa kecuali dengan penuh ijtihad dan tidak sal jadi.

Nyatanya memang pendapat satu jumat dalam satu kampung itu sangat berdasar bukan mengada-ngada. Walaupun ada pendapat berbeda dari imam madzhab yang lainnya, tetap saja pendapat ini mestinya diperlakukan dengan hormat dan tidak merendahkan. Bagi yang mengikutinya silahkan, nanum yang tidak sepakat bukan berarti boleh merendahkan.

Wallahu a'lam 
 

Visualisasi Nabi dalam Gambar

Masalah keharaman memvisualisasikan sosok Nabi Muhammad saw dalam bentuk gambar baik bergerak atau tidak bergerak, adalah perkara yang sudah dihukumi sebagai sesuatu yang haram. Bahkan keharamannya sudah menjadi Ijma' di kalangan ulama sejak dulu sampai sekarang ini, walaupun ini tidak sampai pada sesuatu yang "ma'lum min al-Diin bi al-Dharurah"

Banyak fatwa yang dikeluarkan dari tokoh –tokoh ulama dan juga beberapa lembaga fatwa internasional, di antaranya; "Majma' al-Fiqh al-Islamiy" (Komite Fiqh Islam, Saudi), "Majma' al-Buhuts al-Isamiyah" (Saudi) di fatwanya tahun 1972, begitu juga lembaga fatwa Mesir "Daar al-Ifta' al-Mishriyah" di tahun 1980, serta lembaga fatwanya al-Azhar Mesir di tahun 1968.  

Dan fatwa-fatwa ulama serta lembaga-lembaga tersebut yang menyatakan keharaman visualisasi Nabi Muhammad saw dalam bentuk gambar bergerak atau tidak bergerak disimpulkan dari beberapa dalil dan argument. Di antara argument tersebut;

Keharaman Berbohong atas Nabi s.a.w

Dalam hadits disebutkan bahwa neraka tempatnya bagi orang yang berani berboohng atas nama Nabi Muhammad saw,

وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
"barang siapa yang berbohong atas ku dengan sengaja maka dia (telah) menyiapkan tempat untuknya di neraka"   (Muttafaq 'Alayh)

Dalam hadits disebutkan larangan berbohong atas Nabi dalam bentuk umum, baik perkataan atau juga perbuatan.  Dan emvisualisasikan Nabi dalam sebuah gambar, atau pun karikatur tentu tidak akan pernah sama dan sesuai dengan bentuk aslinya; karena tidak akan sesuai dan terlalu banyak peran atau insting si artist (tukang seni) dalam karya tersebut. Tentu ini sebuah kebohongan dalam bentuk perbuatan yang memang dilarang dalam Islam.

Tendensi Artist

Sebuah karya seni, apapun itu bentuknya, pastilah hasilnya tersebut saesuai dengan apa yang diinginkan oleh si artist tersebut, semua bentuknya berdasarkan apa yang ada dalam otak si artist. Karena hal tersebut, tentu ini mengurangi Izzah dan kehormatan seorang Nabi; beliau dengan keperibadian yang mulia tersebut, akan tetapi tergambar dalam bingkai karya manusia yang pasti punya tendensi kepada hal-hal negative serta terbawa hawa nafsunya ketika menghasilkan karya.

Karena memang kemuliaan Nabi Muhammad yang merupakan makhluk terbaik di jagad raya ini tidak bisa diwakili oleh sebuah tendensi manusia biasa. Yang pada akhirnya ini akan menjadi bentuk pencedaraan terhadap Nabi, padahal Allah swt sejak jauh-jauh hari sudah melarang pencedaraan dan menyakiti Nabi-Nya dalam bentuk apapun, sebagaimana disebutkan dalam ayat;

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya[1231]. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." (al-Ahzab; 57)

Menggoyahkan Cinta Kepada Nabi s.a.w

Implikasi dari tendensi artist tersebut, orang-orang awam pada akhirnya akan menyimpulkan sendiri dalam otak mereka tentang kepribadian Nabi Muhammad saw dari sebuah gambar tersebut, yang sejatinya bukanlah Nabi, akan tetapi murni karya tendensi seninya si artist.

Yang pada hasilnya akan menggoyahkan kecintaan umat kepada Nabi mereka. Kenapa bisa menggoyahkan cinta mereka?

Sejak awal, syariah ini mewajibkan –tanpa kecuali- bagi seluruh umat pemeluk Islam untuk mencintai Nabi Muhammad saw, namun dengan gambar yang ditampilkan dan dikatakan bahwa itu adalah Nabi, cinta umatnya pasti goyah. Karena bisa saja gambar atau visual Nabi yang ditampilkan justru itu adalah gambaran yang memang di luar ekspektasi mereka bahwa Nabi adalah makhluk yang mulia dan agung, karena memang itu hasil seni.

Padahal yang namanya muslim, itu wajib cinta Nabinya. Banyak ayat dan hadits yang mewajibkan itu. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa cinta Nabi itu haruslah berada pada level cinta paling atas di atas cinta manusia kepada anak, orang tua dan seluruh manusia sejagad ini. kalau divisualisasikan, apa jadinya nanti?

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ والِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعينَ
"tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia aku menjadi orang yang paling ia cintai, lebih dari cintanya ke orangtuanya, anaknya serta seluruh manusia sejagad raya" (HR Bukhari)

Pada ujungnya, ini menyakiti Allah swt karena cinta umat-Nya kepada Nabi-Nya goyah, serta menyakiti Nabi sendiri dan juga menyakiti perasaan umat Islam sekaligus dalam satu waktu.

Keharaman visualisasi Nabi yang disebutkan oleh para ulama dan lembaga fatwa di atas adalah visualisasi yang tidak disertai ejekan serta hinaan. Tentu akan jauh lebih besar keharamannya jika disertai dengan hinaan dan ejekan kepada sosok Nabi. Bahkan pelakunya dihukumi sebagai kafir, kalau itu muslim.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
"dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"
"tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman" (al-Taubah; 65 – 66)

Wallahu a'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger