Nitip Doa

Kalau sudah masuk akhir bulan Dzulqo'dah seperti sekarang ini, sudah mulai banyak kloter-kloter Jemaah Indonesia yang sudah berangkat menuju tanah suci untuk ibadah haji. Dan biasanya, para Jemaah sering sekali membawa titipan dari keluarga atau kerabatnya di tanah air, yaitu titipan doa. 

Orang Indonesia, atau lebih tepatnya beberapa kalangan di pinggiran kota atau daerah sering sekali titip-titipan doa dengan saudaranya yang mau berangkat haji. Nitip doa maksudnya itu meminta didoakan oleh saudarnya yang berhaji ke Tanah Haram sana, karena bagaimanapun keutamaan berdoa di Tanah Haram sangat besar dan termasuk dalam tempat-tempat istijabah.

"Bang, ane nitip doa ya nanti. Kalo depan ka'bah, jangan lupa doain ane biar makin,……"

"Nanti di raudhoh, ane nitip doa ye! Doain ane ama bini ane biar bisa nyusul kaya ente pegih haji!"

Begitu kiranya redaksi kalimat yang sering kita dengar. Bahkan saking banyaknya permintaan titipan doa, ada Jemaah yang membuat list titip doa di buku diary mereka yang nantinya mereka bawa ke tanah suci. Niatnya biar tidak kelupaan untuk mendoakan saudaranya, karena bagaimanapun titipan doa juga amanah.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal keberangkatan haji, praktek titip-titipan doa ini juga sering dilakukan di luar itu. Bahkan hampir setiap hari, orang Indonesia banyak yang melakukannya. Tidak jarang kita temuka orang yang bertemu dengan kawan atau siapapun yang yang mengatakan:

"Mas/Mba, Doain aku ya! Aku sebentar lagi mau,……."

Apalagi kalau bertemu dengan ustadz atau kiyai, pasti minta lebih banyak lagi titipan doa.

"Yai, mohon doanya, biar saya bisa ,……",

"Pak ustadz, jangan lupa kalo sholat malem doakan kami juga biar,……."

Itu semua sejatinya adalah praktek titip doa, karena kita menitipkan doa kita agar didoakan juga oleh orang lain, terlebih jika ia orang sholeh dalam selipan doa-doa mereka. Berharap dengan banyaknya orang yang berdoa untuk kita, keinginan dan cita-cita semakin dekat, karena banyak yang meminta. Dan praktek ini sangat baik sekali.

Doa kok Dititip?

Sayangnya belakangan ini, atau entah sejak kapan, ada beberapa kalangan yang malah mencibir prkatek yang sudah sejak lama dilakukan oleh kebanyak orang Indonesia, bahkan ini diprkatekan oleh semua muslim sejagad raya sejak zaman kenabian.

Mereka beralasan bahwa prkatek titip doa itu tidak sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Allah melalui ayat Quran-Nya:

"dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku" (QS Al-Baqarah 186)

Mereka menganggap dengan ayat ini, bahwa seseorang tidak perlu lagi meminta orang untuk mendoakan atau titip-titipan doa, karena Allah swt itu dekat dengan hambaNya, dan karena dekat ya tidak perlu lagi meminta orang lain, langsung saja kepada yang dekat.

Memang sejatinya begitu, tapi bukan berarti praktek titip doa itu disalahkan dan tidak dibenarkan. Meminta orang untuk mendoakan bukan berarti tidak meyakini bahwa Allah itu dekat, bukan begitu mikirnya. Akan tetapi memang syariah ini membolehkan prkatek titip doa.

Syariah ini memberikan kita keistimewaan, bahwa ada beberapa tempat dan beberapa waktu yang sering disebut dengan Mahallu Istijabat Al-Du'a (tempat-tempat/keadaan yang dimana doa akan dikabulkan), seperti waktu sepertiga malam, ba'da Ashar menjelang maghrib di hari Jumat. Kalau tempat ada Raudhoh-nya masjid Nabawi, Hijir Ismail dan sebagainya.

Apakah jika orang mengejar waktu dan tempat-tempat tersebut untuk berdoa dikatakan bahwa ia tidak meyakini kalau Allah itu dekat sehingga ia harus mencari-cari waktu dan tempat khusus? Kan tidak begitu juga logikanya. Memang syariah menyediakan itu untuk kita bisa manfaatkan.

Dalam syariah, prkatek ini disebut dengan istilah Al-Tawassul bil-Ahya (bertawassul dengan orang yang hidup). Yaitu meminta didoakan oleh orang, terlebih jika itu orang sholeh untuk hajat yang sedang diinginkan kepada Allah. Memintanya kepada Allah, tapi melalui lisan doanya orang sholeh tersebut. Orang Indonesia saja yang menamakannya titip doa.  

Praktek ini sudah dilakukan sejak zaman sahabat, ketika Nabi saw masih hidup. Tidak ada satupun ulama yang berpendapat bahwa Al-Tawassul bil-Ahya itu dilarang, ulama sejagad raya ini telah bersepakat kebolehannya.

Dan bagi yang dititipi doa, ini sebuah amal buat dia sebagai tambahan kebaikan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jika kita meminta ampun untuk saudara muslim kita, kita mendapat satu kebaikan dari jumlah muslim yang didoakan. Bayangkan kalau yang kita doakan itu muslim sejagad, berapa kebaikan yang kita peroleh?

Nabi Mengajarkan Titip doa

Sadar atau tidak sadar ternyata Nabi saw sejak dulu telah mengajarkan kita praktek titip doa ini. Banyak dari kalangan sahabat yang meminta didoakan oleh Nabi saw, dan sama sekali Nabi tidak mengatakan kepada mereka: "berdoa sendiri saja, Allah swt itu dekat!" tidak pernah ada riwayat seperti itu, akan tetapi Nabi meng-iya-kan dan mendoakan mereka semua. Apa itu bukan praktek titip doa namanya? Itu sama saja Nabi dititipkan doa oleh para sahabat.

Dalam riwayat Imam Tirmidzi (5/569) melalui sahabat Utsman bin Hunaif, Nabi saw pernah didatangi oleh seorang yang buta. Beliau meminta kepada Nabi saw untuk didoakan agar butanya itu diangkat oleh Allah swt dan dia bisa melihat kembali lagi. Apakah Nabi menolak? Sama sekali tidak. kalau memang tidak boleh, pastilah Nabi menolak.

Ada lagi dari riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, diceritakan bahwa Nabi saw sedang khutbah Jumat kemudian ada seorang yang masuk masjid dan langsung berdiri meminta kepada Nabi saw mendoakan keadaan kampungnya yang sedang paceklik:

يَا رَسُول اللَّهِ هَلَكَتِ الأَمْوَال وَانْقَطَعَتِ السُّبُل فَادْعُ اللَّهُ يُغِيثُنَا . فَرَفَعَ رَسُول اللَّهِ يَدَيْهِ ، ثُمَّ قَال : اللَّهُمَّ أَغِثْنَا . اللَّهُمَّ أَغِثْنَا . اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

"wahai Nabi harta kami hancur, jalan-jalan (rezeki) telah terputus. Berdoalah kepada Allah untuk menolong kami", kemudian Rasul saw mengangkat tangannya dan berdoa: "ya Allah tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami"

Seketika langit mulai mendung dan menurunkan hujan lebat sejak jumat itu sampai juma berikutnya, terus menerus tidak berhenti.

Atau juga riwayat Muslim (hadits no. 2542) yang masyhur sekali di telinga kita, yaitu cerita tentang khoirut-tabi'in (sebaik-baiknya tabi'in) Uwais Al-Qorni Al-Yamani, dimana ketika itu Nabi memerintahkan Umar bin Khoththob untuk meminta kepada Uwais agar didoakan dan dimintakan ampun kepada Allah swt.

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، …..لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ»

Umar berkata: "Aku mendengar Rasul saw bersabda: akan datang nanti Uwais bin 'Amir bersama rombongan dari Yaman…. Dia punya ibu yang ia sangat berbekati sekali kepada ibunya, kalau dia bersumpah kepada Allah, pastilah Allah mengabulkannya, kalau kamu bisa memintakan ampun kepada Allah melalui dia, maka lakukanlah"

Maka ketika musim haji datang, Umar ra menunggu-nunggu kedatangan rombongan dari Yaman guna mencari Uwais Al-Qorni agar bisa didoakan oleh beliau. Akhirnya bertemua juga dengan Uwais dan meminta dimohonkan ampun kepada Allah untuknya atas rekomendasi dari Rasul saw.   

Manusia sekelas Umar ra, yang sudah dijanjikan surga oleh Allah swt saja masih disuruh untuk menitipkan doanya kepada Uwais Al-Qorni. Apakah tidak bisa Umar berdoa sendiri? Apa doa seorang Amirul-Mukminin tidak dikabul oleh Allah swt, kurang mustajab gitu?

Lalu siapa kita tiba-tiba malah melarang untuk memintakan doa kepada orang lain yang jauh lebih sholeh dari kita. Jadi mulai sekarang sering-sering titip doa ke orang-orang sholeh. Dengan kedekatakannya insyaAllah hajat kita terkabul.

Wallahu A'lam
 

Mendirikan Bangunan di Atas Kuburan, Boleh kah?

Perihal meninggikan kuburan dengan memplesternya dengan semen kemudian membuatnya menjadi permanen, atau membangun sebuah bangunan, entah itu sebuah kamar, atau kubah diatasnya adalah perkara yang telah disepakati ke-Makruh-annya oleh ulama 4 madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali).[1]

Tidak ada satu madzhab pun yang mengatakan bahwa itu sebuah keharaman, 4 madzhab fiqih menghukumi sebagai perkara yang makruh. Dalil kemakruhan yang dipakai oleh 4 madzhab tersebut ialah hadits riwayat Imam Muslim dan juga Imam Tirmidzi dari sahabat Jabir bin Abdullah:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
"Rasul saw melarang untuk meninggikan/memplester kuburan dan memabangun diatasnya sebuah bangunan" (HR Muslim)

Dalam riwayat Imam Tirmidzi ada tambahan [أن يكتب عليع] "dan juga (dilarang) utuk menuliskan sesuatu diatasnya" (HR Tirmidzi)  

Mungkin menjadi pertanyaan, dalam redaksi haditsnya itu ada pelarangan, dan pelarangan dalam teks syar'i itu mengandung sebuah keharaman. Kenapa para ulama tidak mengharamkan itu?

Alasannya bahwa memang ada pelarangan untuk itu, akan tetapi ummat ini telah ber­-Ijma' atas kebolehannya menguburkan Nabi Muhammad saw dalam sebuah kamar, yaitu kamar 'Aisyah, dan tidak ada satu pun ulama yang menyanggahnya. Kalaupun ini dilarang pastilah akan ada yang menyanggahnya.

Jadi pelarangn yang ada dalam redaksi hadits itu telah dipalingkan menjadi sebuah ke-makruh-an saja. Namun dalam penerapannya, walaupun memang semua sepakat bahwa itu makruh, masing-masing madzhab punya pendapat kadar makruh yang berbeda-beda.

Dalam hasyiyah-nya, Imam Ibnu Abdin dari kalangan Hanafiyah menyatakan kebolehan dan tidak Makruh, terlebih jika itu adalah kuburan para syuhada', orang sholeh dan para guru yang khawatir akan ada pencurian atau pengrusakan, atau bahkan hilang. Sebagaimana juga disampaikan oleh Imam Al-Dimyathi dari kalangan syafiiyah dalam kitabnya Hasyiyah I'anah Al-Tholibin.[2]

Dan itu adalah upaya yang baik (Hasan), dan semua orang melihatnya sebagai sebuah kebaikan. Dan Rasul saw melalui sahabat Ibnu Mas'ud mengatakan:

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ
"Apa yang manusia nilai sebagai sebuah kebaikan, maka itu juga baik menurut pandangan Allah saw" [3]

Haram Jika di Pemakaman Umum

Setelah bersepakat bahwa meninggikan atau mendirikan bangunan adalah sebuah ke-Makruh-an, ulama 4 madzhab pun bersepakat atas keharaman meninggikan dan membangun di atas kuburan sebuah bangunan baik itu kamar, kubah atau pun tenda, jika itu berada di tanah Musabbalah [مسبلة].

Tanah Musabbalah [مسبلة] ialah tanah atau kawasan yang memang orang biasa menguburkan mayyit disitu, artinya ialah pemakaman umum.[4]

Konklusinya bahwa ulama sepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya sebuah bangunan itu hukumnya makruh jika makam itu berada di tanah milik sendiri. Dan menjadi haram hukumnya jika makam itu berada di pemakaman umum yang di kiri serta kanannya banyak kuburan saudara muslim lainnya.[5]   

Imam Al-Mardawi mengutip perkataan Abu Al-Ma'ali dari kalangan Hanbali bahwa mendirikan bangunan di atas kuburan yang ada di pemakaman umum itu mengagngu dan membuat penyempitan yang sama sekali tidak berguna.

Karena sejatinya pemakaman umum itu disediakan untuk memakamkan mayit, dan bukan untuk dibangun yang akhirnya membuat sempit. Imam Taqiyudin dari kalangan hanbali juga mengatakan bahwa yang mendirikan bangunan di makam yang berada di pemakaman umum itu adalah Ghosib (tukang rampas) hak orang lain.[6]

Harus Dihancurkan

Madzhab Syafi'i dan Maliki, selain mengharamkan pendirian bangunan di atas makam yang berada di pemakaman umum, kedua madzhab ini juga menambahkan sebuah ketentuan lain, yaitu wajib dihancurkan.[7]

Jadi, kalau memang ada yang mendirikan bangunan entah itu kubah, kamar atau tenda di atas makam yang berada di pemakaman umum, maka wajib dihancurkan bangunan tersebut sampai tak tersisa.

Imam Syafi'i mengatakan sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu':

ورأيت من الولاة من يهدم ما بني فيها قال ولم ار الفقهاء يعيبون عليه ذلك ولان في ذلك تضييقا علي الناس
"Dan aku melihat para imam (pemimpin) menghancurkan bangunan-bangunan di pemakaman umum, dan aku tidak melihat para ahli fiqih mencela perbuatan imam itu. Itu karena bangunan tersebut membuat sempit bagi yang lain"[8]

Pandangan Masing-Masing Madzhab

Secara umum sebagaimana dikatakan diatas bahwa meninggikan atau mendirikan bangunan  di atas kuburan itu hukumnya haram jika berada di pemakaman umum. Dan makruh jika di tanah selain pemakaman umum, namun kadar ke-makruh-an setiap madzhab berbeda. Berikut penjelasannya:
  
Madzhab Hanafi

Imam Abu Hanifah memandang bahwa mkaruh hukumnya meninggikan atau juga membangun sebuah bangunan diatas kuburan, entah itu sebuah kamar atau juga kubah. Menjadi haram kalau diniatkan sebagai penghiasan, atau juga sebagai pamer atau kesombongan.

Karena itu sama saja seperti menghias kuburan, dan menghias kuburan adalah perbuatan menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak syari'i.

Akan tetapi dalam hasyiyah-nya, Imam Ibnu Abdin membolehkan jika tidak ada unsur itu semua, terlebih jika itu adalah kuburan orang sholeh dan para guru yang khawatir akan ada pencurian atau pengrusakan, atau bahkan hilang.

Dan itu adalah upaya yang baik (Hasan), dan semua orang melihatnya sebagai sebuah kebaikan. Dan Rasul saw melalui sahabat Ibnu Mas'ud mengatakan:

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ
"Apa yang manusia nilai sebagai sebuah kebaikan, maka itu juga baik menurut pandangan Allah saw" [9]

Madzhab Maliki

Sama seperti pendahulunya, Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki juga menghukumi haram jika memang pembangunan itu diniatkan sebagai ajang pamer dan menyombongkan mayit atau keluarga si mayit. Imam Al-Dasuqi mengatakan:

الْبِنَاءُ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ حَوْلَهُ فِي الأَرَاضِي الثَّلاثَةِ - وَهِيَ الْمَمْلُوكَةُ لَهُ وَلِغَيْرِهِ بِإِذْنِ وَالْمَوَاتُ - حَرَامٌ عِنْدَ قَصْدِ الْمُبَاهَاةِ وَجَائِزٌ عِنْدَ قَصْدِ التَّمْيِيزِ وَإِنْ خَلا عَنْ ذَلِكَ كُرِهَ
"memagari atau mendirikan bangunan di atas kuburan atau sekitarnya di 3 tanah (milik sendiri / milik orang lain dengan izin / pemakaman umum) adalah haram jika diniatkan untuk ajang pamer dan kesombongan. Dan boleh jika sebagai penanda (agar tidak hilang), dan kalu tidak ada unsur itu semua, maka hukumnya makruh"[10]  

Madzhab Syafi'i

Madzhab Syafi'i dalam hal ini mempunyai 2 riwayat perihal hukum meninggikan kuburan atau mendirikan bangunan di atasnya, yaitu Mubah (boleh) dan juga makruh. Namun pendapat yang mengatakan makruh lebih kuat sebagai pendapat madzhab. Imam Nawawi mengatakan:

قال اصحابنا رحمهم الله ولا فرق في البناء بين ان يبنى قبة أو بيتا أو غيرهما ثم ينظر فان كانت مقبرة مسبلة حرم عليه ذلك قال اصحابنا ويهدم هذا البناء بلا خلاف
"Para sahabat kami –rahimahumullah- (ulama syafiiyah) berkata: tidak ada bedanya dalam hal bangunan di atas kuburan, baik itu kubah atau rumah atau selain keduanya (hukumnya tetap makruh), namun ditinjau. Kalau itu di pemakaman umum, maka hukumnya haram. Para sahabat kami berkata: wajib dihancurkan tanpa (ada) perbedaan"[11]

Madzhab Hanbali

وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ : فَمَكْرُوهٌ , عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ , سَوَاءٌ لاصَقَ الْبِنَاءُ الأَرْضَ أَمْ لا , وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الأَصْحَابِ
Imam Al-Mardawi dalam Al-Inshof: "Adapun mendirikan bangunan, makruh hukumnya. Dan ini pendapat madzhab yang sah. Baik itu bangunan menempel dengan tanah atau tidak sama saja"[12]

Beberapa ulama dari kalangan Hanabilah mengatakan bahwa yang dilarang membuat bangunan itu ialah larangan membuat sebuah masjid atau semisalnya yang mempunyai untuk menjadi tempat sholat. Bukan larangan membuat kamar atau tenda atau juga kubah.

Larangan ini sejalan dengan hadits Nabi saw yang menjelaskan tentang pelaknatan orang-orang Yahudi karena menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai tempat sesembahan,

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Allah melaknat orang-orang Yahudi (karena) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat sujud" (HR Muslim)   

Wallahu A'lam


[1] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601, Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425, Al-Majmu' 5/296, Al-Inshof 2/549-550, Kasysyaful Qina' 2/139
[2] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601, Hasyiyah I'anah Al-Tholibin 2/120
[3] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601
[4] Hasyiyah Qolyubi wa 'Umairoh 1/350
[5] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601, Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425, Al-Majmu' 5/296, Al-Inshof 2/549-550,
[6] Al-Inshof 2/549-550
[7] Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425, Hasyiyah Qolyubi wa 'Umairoh 1/350, Hasyiyah I'anah Al-Tholibin 2/120
[8] Al-Majmu' 5/298
[9] Hasyiyah Ibnu 'Abdin 1/601
[10] Hasyiayh Al-Dasuqi 1/424-425
[11] Al-Majmu' 5/298
[12] Al-Inshof 2/549-550
 

Pilih Pendapat Yang Mana?

Ketika seseorang membaca artikel fiqih atau juga mengikuti sebuah kajian fiqih yang didalamnya membahas perbedaan pendapat antara madzhab dan para ulama fiqih, satu pertanyaan yang sering muncul setelahnya ialah:

"Jadi, harus pilih yang mana ya?"

Pertanyaan yang hampir semua orang menanyakan ini. Dan tentu ini pertanyaan yang sangat maklum adanya, karena seriap orang berbeda-beda kamampuannya dalam memahami masalah syariah. Ada yang tahu harus memilih apa, tapi juga ada yang kebingungan harus memilih yang mana.

Memang tidak ada ketentuan dan keharusan dalam syariah ini untuk kita mengikuti satu pendapat atau satu madzhab tertentu. Apalagi dalam masalah khilafiyah, kita dibolehkan mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain sesuai dengan keyakinan kita, apakah itu yang lebih mudah, atau pendapat yang lebih hati-hati dan terkesan sulit. Tentu itu juga dengan bimbingan seorang guru.

Secara umum, perbedaan pendapangan dalam masalah fiqih selalu berujung pada 2 klasifikasi pendapat; yang terkesan keras atau berat dan satu lagi terkesan ringan atau mudah. Atau mungkin ada kelas ketiga yang berada antara yang keras dan ringan.

Apakah boleh mengambil pendapat yang lebih mudah dan ringan dalam masalah khilafiyah, yang disebut dengan Tatabbu' Al-Rukhos [تتبع الرخص]? Atau kah diharuskan mengambil yang lebih sulit sebagai kehati-hatian?  

-       Tatabbu' Al-Rukhos (Memilih Yang Ringan) 

Ulama memang ada yang membolehkan mengambil pendapat yang lebih mudah saja untuk diamalkan dibanding pendapat ulama yang terkesan berat dan sulit. Dengan alasan bahwa memang tidak ada larangan dalam syariah ini untuk beribadah sesuai dengan pendapat ulama yang memudahkan.

Dalam fiqih, kita sebagai orang yang awwan, yang hanya mengikuti para ulama Mujtahid, kita bebas memilih pendapat mana yang kita sukai. Selama memang pendapat itu keluar dari mulu tseorang ulama mujtahid yang mu'tabar, yang memang punya kapasitas untuk itu. Dan bukan keluar dari seorang yang sama sekali tidak kompeten dalam mengeluarkan sebuah pandangan atau fatwa dalam masalah fiqih.

Terlebih lagi bahwa sama sekali tidak ada larang dalam syariah ini untuk memilih pendapat yang lebih berat jika memang ada pendapat yang lebih ringan. Pendapat mana yang kita ikuti, kita bebas memilih.

Dan sunnah Nabi Muhammad saw baik itu perkataan ataupun perbuatan menunjukkan kebolehan untuk mengambil pendapat yang memudahkan sebagai landasan beribadah. Nabi dalam sebuah riwayat dikatakan: 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِيهِ إِثْمٌ فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
"Dari 'Aisyah ra, beliau berkata bahwa Nabi tidak diberikan 2 pilihan kecuali ia memilih yang paling mudah kecuali jika itu dosa. Kalau itu dosa ia adalah orang yang paling menjauhinya" (HR Ahmad) 

Imam Al-Qorofi dari kalangan Malikiyah mengatakan secara tegas kebolehan bagi seseorang untuk beribadah dengan landasan pendapat ulama yang memang meringankannya. Tapi kemudian beliau memberikan syarat bahwa keputusannya mengambil pendapat yang ringan tersebut tidak membuatnya mengerjakan suatu amalan yang batil dan juga tidak sampai kepada prkatek Talfiq

Talfiq ialah praktek mengambil beberapa pendapat ulama mujtahid dalam satu urusan amal, lalu mencampurnya sehingga melahirkan pendapat baru.[1]

Seperti dalam masalah wudhu. Seseorang mengambil pendapatnya imam syafi'i yang tidak mewajibkan mengusap seluruh bagian kepala. Akan tetapi ia mengambil pendapat imam Ahmad bin Hanbal yang tidak membatalkan wudhu jika bersentuhan dengan lawan jenis, yang sejatinya wudhunya itu batal menurut madzhab Syafiiyah.

Jadi yang terjadi itu justru ia membuat praktek wudhu versi baru yang belum pernah ada imam Mujtahid mengatakan demikian. Ia justru membuat madzhab baru akhirnya. Intinya memang talfiq itu membuat madzhab sendiri tanpa dasar yang jelas, hanya catut sini catut sana.

-       Memilih Yang Berat

Namun ada juga pendapat ulama yang memang sangat keras dan mengharamkan mengikuti pendapat yang mudah atau yang ringan. Ulama ini mewajibkan mengambil pendapat yang memang berat dan kuat. Dan ini adalah pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal dan juga beberapa ulama dari kalangan Malikiyah.[2] Ini juga termasuk pendapat Imam Al-Ghozali dari kalangan Syafiiyah.[3]

Menurut pendapat ini, mengambil pendapat yang ringan dalam beribadah itu lebih condong dan lebih dekat kepada keinginan hawa nafsu yang memang selalu menginginkan keringanan dalam beribadah.

Padahal ketika terjadi perselihan pendapat, yang diperintahkan kepada kita ialah kembali kepada Allah swt dan Rasul saw. Bukan malah mengikuti hawa nafsu.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
"Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)". (An-Nisa' 59)

Dorongan hawa nafsu sangat kental menjadi latar belakang alasan kenapa seorang muslim mengambil pendapat yang meringankannya, dan enggan mengambil ketetapan yang berat. Dan syariat dengan sangat jelas melarang ummatnya mengikuti hawa nafsu. 

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
"janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah". (Shaad 26) 

Akhirnya, dengan terus mengikuti hawa nafsu akan timbul penyepelan dan meremehkan ketetapan syariah. Dengan ia terus menerus mencari-cari mana pendapat yang sekiranya menguntungkan bagi dia dan kelompoknya. Iman dalam diri sudah tidak menjadi dasar dan dorongan lagi dalam beribadah, akan tetapi nafsu dan kepentingan sepihak. 

Imam Al-Ghozali mengatakan:
وَلَيْسَ لِلْعَامِّيِّ أَنْ يَنْتَقِيَ مِنْ الْمَذَاهِبِ فِي كُلِّ مَسْأَلَةٍ أَطْيَبَهَا عِنْدَهُ فَيَتَوَسَّعَ
"Seorang awaam (yang tidak mampu berijtihad) tidak diperkenankan baginya menyeleksi pendapat madzhab yang paling menguntungka buatnya, (khawatir) ia bisa melampaui batas (memudahkan)"[4]

Pendapat ini juga didasari oleh faham kehati-hatian dalam beribadah. Bagaimanapun, ibadah adalah kerat kaitannya dengan perkara halal dan haram yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam dosa. Perkara yang berat seperti ini hendaknya tidak digampangkan atau dimudah-mudahkan. 

-       Pendapat Imam Syathibi 

Dalam kitabnya Al-Muwafaqat, Imam Syathibi menjelaskna bahwa yang harus dilakukan oleh seorang penanya jika mendapatkan pendapat yang berbeda dari para mujtahid ialah mencari pendapat mana yang lebih unggul. Tidak langsung memilih mana yang lebih mudah untuknya. Tapi menimbang dulu mana yang kuat, dilihat dari dalil dan bagaimana para mujtahid itu berIstidlal. 

Karena menurut beliau perbedaan pendapat untuk seorang awwam itu bagaikan dalil-dalil yang saling berselisih untuk seorang Mujtahid. Dan pada saat itu seorang mujtahid diharuskan mencari dalil mana yang lebih kuat, begitu juga seorang muslim jika dihadapkan kepada perbedaan pendapat.[5]
 
Pendapat Imam syathibi di sini sepertinya menjadi pendapat penengah antara 2 pendapat di atas. Akan tetapi pendapat beliau di sini tidak bisa diemplementasikan kepada seluruh orang, itu hanya cocok bagi mereka yang memang bisa melakukan itu, yaitu memverifikasi pendapat mana yangs sekiranya kuat. 

Padahal di kalangan sana banyak sekali orang awwan yang sama sekali tidak tahu harus memilih yang mana. Kalau dia diperintah untuk menyeleksi pendapat mana yang sekiranya kuat sudah pasti menyulitkan. 

Sepertinya memang pendapat Imam Syathibi ini hanya cocok bagi para penuntut ilmu syar'i, yang mana mereka mengerti dalil dan istidlalnya namun tidak sampai derajat mujtahid. 

Memilih Madzhab Negara

Cara yang cocok dan baik menurut penulis dalam hal ini ialah mengikuti pendapat atau madzhab Negara. Itu jika memang ada Negara yang menjadikan salah satu madzhab fiqih menjadi hukum setempat bagi warganya. Kalau memang tidak, ya ikuti saja pendapat yang banyak dipegang oleh lingkungan sekitar, yaitu suara mayoritas (Majority Voice). 

Kalau memang tinggal pada lingkungan Hanbali, ya mengikuti pendapat Madzhab Hanbali jauh lebih baik dari pada yang lain. Begitu juga jika memang tinggal di lingkungan Malikiyah, sungguh sangat tidak elok jika kita malah menampakkan keengganan kita untuk mengikuti pendapat Malikiyah. 

Kita di Indonesia ini yang memang terkenal dengan menjamurnya madzhab Syafi'i, karena memang sejak awal datangnya Islam ke tanah air, para punggawa dakwahnya itu meyoritas bermadzhab syafi'i. Dan tentu jauh lebih baik bahkan memang sangat baik untuk kita mengikuti pendapat-pendapat ulama syafiiyah. Dibanding harus tetap kukuh dengan ulama yang tidak bermadzhab. 

Karena bagaimanapun menampakkan perbedaan ditengah keseragaman khalayak ialah sesuatu yang sangat tidak terpuji, dan sudah pasti akan menimbulkan gesekan antara masyarakat.

Contohnya dalam masalah wudhu. Penduduk Indonesia sudah terbiasa dengan cara wudhunya Syafiiyah yang menetapkan bahwa bersentuhan dengan istri setelah wudhu itu membatalkan. Lalu ada seseorang berpandangan berbeda, bahwa menyentuh istri setelah wudhu tidak membatalkan seperti pendapatnya Hanbali. Kemudian sebelum masuk masjid orang-orang melihatnya mencium istrinya lalu masuk masjid kemudian mengimami. 

Walaupun tidak disalahkan, akan tetapi ini justru menimbulkan kesan negatif diantara warga sekitar. Apalagi kalau warga sekitar tersebut memang tidak mengetahui perbedaan pendapat tersebut. Khawatir akan terjadi gesekan nantinya. 

Contoh lain yang lebih berat ialah masalah. Kalangan Syafiiyah di Indonesia sudah paten bahwa menikah tidak sah kecuali dengan adanya wali si gadis, berbeda dengan hanafiyah yang tidak mensyaratkan wali. Kemudian tiba-tiba seseorang melangsungkan pernikahan tanpa wali si gadis di depan khalayak. Ini pastinya akan menimbulkan ketidak harmonisan sosial. 

Kalau memang meyakini pendapat yang menyelisih pendapat khalayak pada umumnya, sebaiknya memang tidak ditampakkan secara vulgar depan mereka agar tidak terjadi gesekan. Toh ini hanya perbedaan fiqih yang masih berada di ranah Ijtihadi yang siapapu itu boleh mengambil pendapat dan boleh berbeda. Tidak perlu juga mati-matian membela pendapat sendiri. 

Disadari atau tidak, masih banyak pihak yang alergi dengan perbedaan. Tentu jalan yang terbaik ialah mengajarkan mereka tentang perbedaan itu sendiri, agar kedepannya tidak ada lagi yang aneh dengan perbedaan fiqih.  

Memang tidak ada kewajiban seseorang untuk berpegang pada salah satu madzhab tertentu. Akan tetapi memilih berselisih dengan pandangan mayoritas dalam masalah fiqih bukan sesuatu yang layak dipegang. 

Wallahu A'lam


[1] Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu 1/85
[2] Al-Madkhol ila Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal 206
[3] Al-Mustashfa 1/374
[4] Al-Mustashfa 1/374
[5] Al-Muwafaqot 5/84
 

Tidak Bersedih Dengan Wafatnya Ulama Berarti Munafiq?

من لم يحزن بموت العالم فهو منافق

"Siapa yang tidak bersedih dengan kematian seorang ulama maka ia termasuk munafiq"

Kalau yang ditanya apakah ini hadits? Apa derajatnya?

Jelas ini bukan hadits, -Wallahu A'lam- karena sepanjang pencarian, tidak ada kitab-kitab hadits yang meriwayatkan redaksi seperti ini.

Lalu siapa yang pertama kali mempopulerkan hadits ini?

Sepengetahuan penulis, qoul ini dipopulerkan oleh Imam Nawawi Al-Jawi (Tanara, Banten) dalam kitabnya "Maroqil-'ubudiyah" [مراقي العبودية]. Kitab ini adalah syarah (penjelasan) dari kitab "Bidayah Al-Hidayah" [بداية الهداية], karangan Imam Al-Ghozali.

Kitab bidayah hidayah itu kecil, dan tipis, berisi tentang adab-adab seorang muslim dari mulai bangun tidur sampai meninggal dunia, yang ditinjau dari segi tasawwuf. Termasuk di dalamnya bab keutamaan ilmu dan ulama.

Tentu kita mnegenal kitab fenomenal karangan Imam Ghozali; Ihya' Ulum Al-Diin [إحياء علوم الدين]. Bisa dibilang kitab bidayah Hidayah itu kitab resensinya, kitab yang isinya sama seperti kitab ihya' tapi dengan penjelasan yang lebih singkat dan padat. Karena setiap akhir pembahasan bab, Imam Ghozali selalu mengatakan:

وهذا قد بيناه تفصيلا في كتابنا الإحياء, فمن أراد قليراجع
"Dan pembahasan ini telah kami bahasa secara rinci dalam kitab kami, Ihya'. Siapa yang ingin menambah keterangan, hendaklah ia merujuknya".

Ketika membahas keutamaan ilmu dan ulama, Imam Nawawi mengeluarkan "hadits" itu, sayangnya beliau tidak menuliskan sanad ataupun nama perawinya. Jadi cukup sulit bagi para penuntut ilmu untuk mencari rujukan hadits ini (kalau memang benar hadits) dalam kitab-kitab hadits yang masyhur.

Lalu bagaimana mensikapinya?

Prinsip seorang muslim, kalau itu dari Nabi maka harus san'an wa thoatan (dengar dan mentaati). Akan tetapi kalau itu bukan dari Nabi, maka boleh diambil dan boleh juga menolak kalau memang tidak ada kebaikannya. Akan tetapi kalau ada kebaikan dalam pernyataan tersebut kenapa tidak diambil manfaatnya?

Walaupun itu bukan hadits, tapi kalau dilihat lebih jauh lagi, pernyataan itu ada benarnya juga. Maksudnya memang sangat layak kita bersedih jika ada seorang ulama yang meninggal dunia.

Ulama itu para ahli waris Nabi, dan Nabi tidak mewarisi apa-apa kecuali ilmu. Berarti memang ulama itu jalan kita untuk menuju apa yang diajarkan oleh Nabi karena para ulama itu semua yang terwarisi ilmu Nabi saw.

Makin banyak ulama yang meninggal, makim banyak pula nantinya ilmu yang tidak tersampaikan kepada ummat. Akhirnya banyak yang tidak paham agama, tidak punya penuntun yang menuntunnya dalam masalah agama karena ahli warisnya terhenti.

Masa iya kita tidak bersedih dengan terputusnya ilmu? Dan kematian ulama itu adalah salah satu cara Allah mengangkat ilmuNya dari bumi. Sebagaimana hadits Nabi saw:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari bumi akan tetapi Allah mengambil ilmuNya dengan mewafatkan para ulamanya. Sehingga ketika Allah swt tidak menyisakan orang-orang 'alim di situ, para manusia menjadikan orang-orang bodoh (bukan ahli ilmu) sebagai tempat bertanya, maka ia berfatwa tanpa ilmu lalu sesatlah dan menyesatkan" (HR Bukhori)  

Jadi memang harus kita bersedih kalau ada ulama yang wafat. Itu ancaman buat keilmuan islam, buat umat yang bakal kehilangan penuntun. Ulama itu bagaikan penerang bagi umatnya, dan umat itu mendapat penerangan dari ilmu para sang ulama. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada ulama? Bagaimana bisa umat beribdah tanpa ilmu?

"Kan ulama banyak! Ngga cuma dia doang" mungkin ada yang bilang begitu.

Tapi tidak seperti itu berfikirnya. Coba bayangkan ada jalan yang panjangnya kira-kira berkilo-kilo meter. Setiap sekian ratus meter didirikan pos sebagai tempat lampu penerang supaya orang dan rumah yang ada sekitar bisa mendapat cahaya.

Kalau di salah satu pos ada lampu yang mati, bagaimana keadaan orang sekitar pos itu? Pasti kesusahan. Dan dia harus berjjalan jauh guna mendapat cahaya yang masih menyala di pos lain. Ini jelas menyulitkan.

Begitu juga kiranya sang ulama. Ulama memang banyak tapi kesemuanya sudah punya pos dan bidang yang didalami masing-masing. Kalau ulama satu meninggal memang ada uda ulama lain yang masih ada, tapi belum tentu ulama yang tersisa itu menekuni sesuai apa yang ditekuni oleh ulama yang wafat itu. Kalau beliau sudah wafat maka satu pos keilmuan hilang. Dan bagaimana juga nasib para murid serta warganya yang selama ini berguru dan mendapat tuntunan beliau.

Bahkan sayyidina Umar pernah berkata dalam sebuah atsar yang dikutip oleh Imam Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya':

موت ألف عابد قائم الليل صائم النهار أهون من موت عالم بصير بحلال الله وحرامه
"kematian seribu org ahli ibdah yang rajin sholat malam dan puasa disiangnya itu tdk sebanding dengan kematian seorang ulama yang mengerti halal haramnya aturan Allah swt (syariah)"[1]

Karena memang manfaatnya sangat jauh berbeda, dan ulama punya kredit poin yang jauh lebih baik dari pada seorang ahli ibadah. Orang ahli ibadah manfaatnya buat dia sendiri, karena ibadahnya hanya bisa menyelamatkan dirinya dan pahalanya pun hanya khusus sendiri.

Berbeda dengan seorang ulama, yang manfaatnya dirasa oleh banyak orang. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akhirnya bisa beribadah dgn baik karena tuntunan si ulama tersebut. Ini juga yang telah dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya:  

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
"Keutamaan orang berilmu dibanding orang yang beribadah itu seperti keutamaan bulan malam purnama diatas bintang-bintang. Dan ulama ialah ahli para waris Nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham akan tetapi mewarisi ilmu" (HR Ibnu Majah, Tirmidzi dan Abu Daud)

Orang alim seperi bulan, orang yang ahli ibadah hanya seperti bintang yang sinarnya tidak cukup menerangi semesta bumi. Berbeda dengan seorang alim yang Nabi saw gambarkan layaknya bulan purnama yang menyinari seluruh isi bumi. Jadi ya memang sangat layak kita bersedih untuk kemwatian seorang ulama.

Tapi dari itu semua, sangat tidak layak kalau tiba-tiba kita mengatakan seseorang itu munafiq hanya karena tidak terlihat sedih. Karena sejatinya, kesedihan bukan terpancar dari linangan air mata saja. Kesedihan banyak bentuknya dan tidak melulu dengan tangisan. Pelabelan munafiq bukanlah perkara yang sepele, terlebih lagi bahwa jika itu dilabelkan kepada saudara muslimnya sendiri.

Wallahu A'lam


[1] Ihya' Ulum Al-Din 1/9
 

Menggugat Slogan "Kembali ke Al-Quran dan Sunnah"

Slogan "Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah" sekarang ini memang sedang booming dimana-mana. Setiap kita bertemu dengan para punggawa-punggawa dakwah dari kalangan tertentu, pastilah kita dapati slogan ini.

Dengan bantuan media social yang masiv membuat slogan ini makin banyak dikenal dan dikatakan terus berulang karena memang maksudnya bagus. Ya memang seorang muslim wajib hukumnya untuk dia kembali kepada kitab pedomannya, yaitu Al-Quran dan juga tuntunan panutannya yaitu Hadits-hadits Nabi Muhammad saw. 

Tapi saya pribadi agak riskan dan khawatir dengan slogan ini, bukan tidak setuju, tapi ada hal lain yang rasanya urgen sekali untuk diluruskan dari slogan nyunnah ini. Khawatir adanya kesalahpahaman dari slogan itu kalau memang dipahami begitu saja, karena memang perlu ada pembahasan beberapa poin penting dari slogan tersebut.

Dalam beribadah memang kita dituntut dan diharuskan untuk mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Allah swt dalam Al-Quran dan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw melalui riwayat-riwayatnya. Ya benar, tidak ada selain itu.

Akan tetapi akan terjadi ketimpangan dan kebingungan kalau hanya langsung kembali ke Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Kapasitas kemampuan orang itu berbeda-beda antara satu dan yang lainnya, tidak bisa disamaratakan. Kalau dengan kemampuan pemahaman yang segitu-segitu saja, kemudian ia dipaksa untuk beribadah sesuai Al-Quran dan Sunnah versi pemahamannya, tentu akan terjadi kekacauan syariah.

Sholat Boleh Menghadap Kemana Saja

Orang yang melaksanakan sholat dan menghadap bukan ke kiblat, akan tetapi menghadap kearah selain kiblat, sholatnya tetap sah jika diukur dari slogan "Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah" itu. Toh memang di Al-Quran disebutkan begitu,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui" (Al-Baqarah 115)

Padahal sejatinya sholat punya aturan dan tuntunan yang memang sudah baku, sesuai apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.  

Orang Non-Muslim Najis, Maka Jauhi

Kalau dengan slogan itu juga, maka menjadi benar jika ada seorang muslim yang tidak mau bergaul dan berbaur dengan saudara-saudaranya yang non-muslim, karena memang orang non-muslim itu najis. Sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا
"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini" (At-Taubah 28)

Padahal sama sekali tidak ada satu pun pendapat dari 4 madzhab Fiqih yang mengatakan bahwa orang non-muslim itu najis. Semua bersepakat bahawa najis yang dimaksud diayat ialah najis secara makna bukan secara zahir.

Dan juga tidak ada dari para Imam tersebut yang mengharamkan kita untuk berbaur, bersalaman, atau bahkan memeluk saudara kita yang non-muslim. Dan juga kita dibolehkan berkongsi makan dan minum dengan mereka dalam satu wadah selama itu bukan makanan atau minuman yang diharamkan dalam syariah.

Buang Air Menghadap Kiblat

Dan pasti seseorang akan kebingungan jika dia langsung kembali kepada Hadits, lalu menemukan hadits yang melarangnya untuk membuang air dengan menghadap atau membelakangi kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh Nabi saw dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshori:

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا
"Jika kalian masuk toilet, janganlah kalian menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kecil, dan jangan juga membelaknginya. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat" (HR Tirmidzi)

Loh bagaimana ini? Dilarang menghadap kiblat dan juga dilarang membelakanginya, akan tetapi menghadap barat atau ke timur. Bagaimana bisa? Toh di Indonesia kalau kita menghadap timur, itu berarti membelakangi kiblat, kalau ke barat justru kita menghadap kiblat. Lalu menghadapmana mestinya kita jika buang air?

Kalau hanya semangat "Kembali ke Al-Quran dan Sunnah", itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali. kita akan mentok dan akhirnya bingung sendiri.

Pojokkan Mereka Ke Jalan Yang Sempit

Saya akan lebih takut jikalau ada seorang yang dengan semangat "Kembali ke Al-Quran dan Sunnah", kemudian tanpa guru ia membuka kitab hadits, lalu menemukan hadits ini:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ
"janganlah kalian memulai memberi salam kepada orang yahudi dan Nashrani. Dan jika kalian bertemu mereka di jalan, pojokkan mereka ke jalan yang sempit (jangan beri jalan)" (HR Muslim)

Haditsnya shahih, riwayat Imam Muslim pula, siapa yang berani mengatakan kalau ini hadits dhoif? Redaksinya jelas, tidak ada bias bahwa kalau bertemu dengan orang Yahudi dan Nashrani di jalan, jangan beri mereka jalan. Pojokkan mereka samapi tidak ada jalan bagi mereka untuk meneruskan jalannya.

Bayangkan bagaimana jika ada orang yang dengan semangat "kembali ke Al-Quran dan Sunnah" yang menggebu-gebu mendapati hadits initanpa bimbingan seorang guru? Apa yang sekiranya ia lakukan setelah mendapatkan hadits tersebut? Yang terjadi pasti kekacauan social diantara masyarakat.

Kembali ke Ulama

Apa yang diurai diatas dari kasus-kasus tersebut hanyalah beberapa contoh bahwa kita khusunya yang memang awam akan agama tidak bisa serta merta langsung menceburkan diri dalam lautan ayat dan hadits yang punya kedalaman makna.

Kita akan sulit sekali nantinya jika hanya mengandalkan semangat "Kambali ke Al-Quran dan Sunnah" tanpa ada bimbingan mereka yang memang mengerti betul tentang syariah. Dan rasanya slogan "Kembali ke Al-Quran dan Sunnah" itu juga mesti diluruskan.

Redaksi kalimatnya berubah menjadi "Kembali ke Ulama". Karena sejatinya kembali kepada ulama itu juga kembali kepada Al-Quran dan sunnah yang sesungguhnya. Kita tidak bisa dengan gampang memahami teks ayat dan hadits tanpa bimbingan dan tuntunan mereka yang memang mengerti.

Dan kepada siapa kita harus meminta bimbingan untuk bisa memahami maksud ayat dan hadits kecuali kepada ulama? Dengan keilmuannya kita dibantu untuk lurus dalam beribadah karena mereka punya kapasitas dan kemampuan yang Allah swt berikan kepada mereka untuk mengetahu maksud dan makna ayat serta hadits.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An Nahl: 43).
Jadi satu-satunya jalan ialah mengikuti mereka kalau memang kita tidak tahu. Karena ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi itu bukanlah seperti teks bahasa arab biasa yang jika sudah ditemukan terjemahannya maka langsung bisa dipahami. Tidak begitu!

Kalau memang bisa dengan bebas dipahami, lalu buat apa sejak 13 abad yang lalu para ulama bersusah payah mengerahkan pemikiran dan tenaga dalam menulis kitab-kitab Tafsir Quran dan juga kitab-kitab syarah (penjelasan) hadits.

Coba kita lihat ke belakang, sudah berapa banyak kitab tafsir dan kitab syarah hadits yang sudah dikarang oleh para ulama kita. Bahkan jumlahnya ada yang melampaui angka umur si penulis itu sendiri. Kalau memang semua bisa paham, kenapa harus ada itu semua?

Jadi perkara "kembali ke Al-Quran dan Sunnah", bukan perkara yang asal saja, yang semua orang bisa melaksanakan. Tidak cukup seorang mengatakan: "Cukuplah bagiku Al-Quran dan Hadits", dan dia tidak mengetahu lewat jalur mana ia memahami maksud dan makna ayat serta hadist tersebut. Dan bagaimana pula ia bisa mengambil kesimpulan hukum dari ayat dan hadits tanpa merujuk kepada pendapat ulama?

Kita seharusnya sadar bagaimana usaha serta perjuangan para imam mujtahd serta ulama-ulama tredahulu dalam menyampaikan pemahaman yang lurus tentang Al-Quran dan sunnah kepada kita semua. Mereka hidupkan malam-malamnya dan mereka habiskan siangnya dengan mencari dan meneliti guna mencapai sebuah pemahaman yang benar.

kalau dikatakan: "Ulama itu juga kan manusia, bisa salah. Jadi kita kembali saja kepada Al-Quran dan sunnah". Kalau ulama saja bisa salah, lalu siapa anda dengan pongah mengatakan pendapat anda yang paling benar. Justru kemungkinan anda untuk salah memahami maksud ayat dan hadits sangat besar sekali karena anda juga manusia biasa.

Bahkan taraf keilmuan anda sangat jauh jika dibandingkan dengan ulama yang anda diskreditkan kapastitasnya sebagai ulama.

Wallahu A'lam
 

Kawin Lari

Menikah tanpa wali, wali si gadis tentunya, biasa disebut oleh kebanyakan orang dengan istilah kawin lari. Karena memang orang yang menikah tanpa wali si gadis berarti memang tidak mendapat persetujuan dari sang wali wanita.

Agar tujuannya untuk menikah sang gadis bisa terwujud, satu-satunya cara ialah menikah diam-diam tanpa sepengatahuan si wali wanita, atau juga dengan membawa kabur si wanita dan menikah di tempat lain dengan wali hakim yang keabsahannya diragukan.

Padahal kalau kita buka kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kawin lari punya makna yang lebih luas dan sedikit berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang yang mengatakan itu sebagai pernikahan tanpa wali.

Kawin lari ialah "perkawinan dengan cara melarikan gadis yang akan dikawininya dengan persetujuan gadis itu untuk menghindarkan diri dari tata cara adat yang dianggap berlarut-larut dan memakan biaya yg terlalu mahal".

Walaupun demikian, kawin lari tetap menjadi istilah populer yang maksud dan maknanya ialah menikahi perempuan tanpa walinya yang sah. 

Lalu bagaimana syariah memandang prkatek ini, apakah pernikahannya itu sah? Karena belakangan banyak yang melakukan praktek itu dengan dalih bahwa ada madzhab Fiqih yang membolehkan menikah dengan tanpa wali. Karena memang ada pendapat yang mengatakan demikian, maka tidak bisa juga kita asal melarang. 

Pertanyaannya kemudian menjadi, "Apakah wali termasuk rukun dalam pernikahan yang keberadaan menjadi sebuah syarat sah nikah atau tidak?"

Posisi Wali Dalam Pernikahan

Keberadaan wali nikah yang menjadi syarat sahnya pernikahan memang masih berada pada willayah perbedaan pendapat antara ulama fiqih lintas madzhab. Setidaknya ada 3 pendapat masyhur di kalangan para ahli fiqih dalam masalah ini:

[1] Wali adalah syarat sah sebuah pernikahan, artinya sebuah pernikahan tidak sah dalam pandangan syariah jika tanpa wali. Ini adalah pendapat jumhur ulama; diantaranya madzhab Syafi'i, Hanbali dan salah satu riwayat masyhur Imam Malik.[1]

[2] Wali bukanlah syarat sah pernikahan. Pernikahan secara syariah, hukumnya sah walau tanpa wali. Ini pendapat Imam Abu Hanifah, namun 2 sahabat beliau; Muhammaddan Abu Yusuf memandang berbeda.[2]

[3] Dibedakan antara perawan dan janda. Kalau perawan, wali adalah syarat sah pernikahan, akan tetapi kalau dia janda maka wali bukanlah syarat sah pernikahan itu. Ini pendapatnya Imam Abu Daud Al-Zohiri.[3]

Sejatinya, dalam turots fiqih ada satu lagi pendapat dalam masalah ini, yaitu pendapat Imam Malik dari riwayat Ibn Al-Qasim yang mengatakan bahwa seorang wanita yang tidak Syarifah (mulia) atau dari kalangan biasa yang tidak terpandang, boleh menikah dengan tanpa wali.

Jadi dalam pandangan Imam Malik yang satu ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Rusyd, wali merupakan syarat pelengkap saja dan bukan syarat sah pernikahan. Adanya itu baik, tapi tidak adanya juga tidak menjadi masalah.

Dalil Jumhur

Kita mulai dari kelompok pertama yang mensyaratkan adanya wali dalam sebuah akad pernikahan yang sah dalam syariah. Dan ini –sebagaiaman di atas- adalah pendapat jumhur ulama kecuali madzhab Abu Hanifah Al-Nu'man.       

1.    Banyak ayat-ayat pernikahan yang secara jelas menjadikan para wali itu sebagai pemegang kekuasaan atas terjadinya akad pernikahan itu sendiri dengan menisbatkan kata nikah para wali.

Diantara ayat-ayat tersebut ialah:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ
"dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan".(An-Nur 32)

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا
dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. (Al-Baqarah 221)

Perintah-perintah untuk melangsungkan pernikahan di ayat-ayat diatas ditujukan dengan shighot (redaksi) mudzakkar yang berarti itu untuk laki-laki (para wali). Artinya memang pernikahan itu ada pada wali, dan seandainya wanita bisa menikahkan didirnya sendiri, niscaya pernitah itu akan ditujukan untuk perempuan. Tapi nyatanya tidak ada. 

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ
"apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya"(Al-Baqarah 232)

Makin jelas lagi di ayat ini bahwa larangan menghalangi pernikahan itu ditujukan kepada laki (wali perempuan), kalau saja memang perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, lalu kenapa ada larangan untuk walinya?

2.    Lebih jelas lagi bahwa banyak hadits-hadits Nabi saw yang memang melarang wanita untuk melangsungkan pernikahannya sendiri tanpa wali. Diantaranya:


لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
Dari Abu Musa Al-Asy'ari, Nabi saw bersabda: "Tidak sah pernikahan tanpa wali" (HR Ahmad dan Ibnu Hibann) 

Dalam riwayat lain disebutkan: 

أَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا, فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ, فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا اَلْمَهْرُ بِمَا اِسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا, فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Dari 'Aisyah ra, Rasul saw bersabda: "Wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannnya adalah batal (3 kali), jika si laki-laki itu telah menggaulinya, maka baginya mahar atas itu. Dan jika para wali itu berselisih, maka Hakim ialah wali bagi yang tidak mempunyai wali" (HR.Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ini dikuatkan dengan riwayat dari Abu Hurairoh:
لَا تُزَوِّجُ اَلْمَرْأَةُ اَلْمَرْأَةَ, وَلَا تُزَوِّجُ اَلْمَرْأَةُ نَفْسَهَا
Dari Abu Hurairah ra, Rasul saw bersabda: "Wanita tidak menikahkah wanita yang lain dan tidak bisa ia menikahkan dirinya sendiri" (HR. Ibnu Majah dan Al-Daro Quthni)

Dan kata nikah dalam ayat maupun hadits itu semua berarti akad nikah itu sendiri sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu'.

Masih dalam kitabnya, Imam Nawawi menambahkan pernyataan Imam Ibnu Al-Mudzir bahwa pernikahan dalam Islam haruslah dengan wali, dan tanpanya pernikahan itu batal. Dan ini ialah pendapat yang tidak ada satupun dari sahabat Nabi yang menyelisihnya.[4]

Dalil Madzhab Hanafi

Sedangkan kelompok kedua, yaitu pendapatnya Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa pernikahan tidak disyaratkan adanya wali, berargumen dengan beberapa dalil:

1.    Banyak ayat Al-Quran yang justru memberika kekuasaan penuh untuk wanita melangsungkan pernikahannya sendiri tanpa wali. Diantaranya: 

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ
"kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain…" (Al-Baqarah 230)

Dalam ayat ini Allah mengembalikan perkara nikah kepada wanita itu sendiri, ini berarti ialah legalitas syariah kepada wanita untuk melangsungkan pernikahannya sendiri tanpa wali. 

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ
"apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya"(Al-Baqarah 232)

Dalam ayat ini ada 2 poin; pertama pernikahan justru dinisbatkan kepada wanita, yang berrati tidak perlu ada wali untuk menikah. Kedua bahwa larangan menghalangi itu ditujukan –bisa jadi- untuk para mantan suami agar tidak menghalangi mantan istrinya menikah dengan siapa saja yang ia mau jika sudah selesai masa iddahnya. 

Dan bisa jadi untuk para wali perempuan itu untuk tidak menghalangi mereka menikah jika memang mereka sudah sepakat dengan para calon-calon suami mereka. Bukan berarti larangan untuk melakukan akad pernikahan.[5]

فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka (menerima pinangan / menikah) menurut yang patut" (Al-Baqarah 234)

Walaupun mempunyai Ihtimal, ayat ini tetap dijadikan argument bahwa wanita memang diberikan kekuasaan untuk melangsungkan pernikahannya sendiri tanpa wali. 

2.    Setelah berdalil dengan ayat Quran, kelompok ini kemudian menguatkan pendapatnya dengan dalil-dali dari hadits Nabi Muhammad saw. Diantaranya:

الْأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْذَنُ فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا
Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda: "Wanita yang tidak bersuami lebih berhak atas dirinya ketimbang walinya. Dan wanita perawan dimintai izi atas dirinya, dan diamnya ialah perizinannya" (HR Muslim)

Dalam hadits ini jelas nyata bahwa wanita manapun bisa melangsungkan pernikahannya tanpa adanya wali. Walaupun tetap dalam madzhab ini, meski wali bukanlah syarat sah, akan tetapi akad nikah seorang wanita dengan wali itu sebuah hal yang disukai (mustahabb).[6]
 
Perlu diketahui sebelumnya bahwa dalam ushul madzhab Imam Abu Hanifah ada klualfikasi khusus yang tidak ada dalam madzhab-madzhab lainnya dalam menerima sebuah hadits untuk dijadikan dalil hukum. 

Salah satunya ialah: tidak bolehnya perawi hadits menyelisihi apa yang diriwayatkannya. Berbeda dengan Jumhur yang tetap mengambil riwayatnya sebagai dalil hukum tanpa melihat perbuatan si perawi yang menyelisihi riwayatnya sendiri. 

Dan hadits 'Aisyah yang mengandung kebatilah dan ketidak absahan sebuah pernikahan yang tidak ada wali di dalamnya itu ada kejanggalan. 

Kejanggalannya karena ada riwayat yang menyatakan bahwa 'Aisyah pernah menikahkan anak perempuan saudara kandungnya; Abdul-Rahman. Akan tetapi ketika itu Abdul-Rahman dengan dalam perjalanan di negeri Syam.[7]  

Dan dalam madzhab ini juga, penambahan ketetapan hukum atas ketetapan hukum yang sudah terlebih dahulu muncul itu menyebabkan perubahan, dan bukan penambahan atau keterangan. 

Dan menurut pandangan madzhab ini, dalil kebolehan wanita menikah dengan tanpa wali yang ada dalam Al-Quran itu ialah Qoth'i. dan semua dalil hadits yang disampaikan oleh kelompok pertama itu sifatnya Dzonni karena tidak disampaikan secara Mutawatir (jalur sanad yang masiv), akan tetapi jalur Ahaad, yaitu satu jalur sanad saja.

Maka tidak bisa dalil yang Dzonni itu merubah ketetapan hukum yang sudah ada sebelumnya dalam Al-Quran, dan itu sifatnya qoth'i. sudah jelas dalam kaidah ushul bahwa qoth'I jauh lebih kuat dibanding Dzonni. 

3.    Dalil 'Aqli.
Setelah menguraikan dalilnya dari Al-Quran dan sunnah, madzhab ini kemudian mulai berargumen dengan dalil akal. Bahwa pernikahan adalah praktek pengambilan manfaat yang di dalamnya terdapat maslahat agama dan dunia, sama seperti jual beli. 

Salah satu syarat sahnya praktek jual belia ialah masing-masing pelaku transaksi itu berakal dan bukan termasuk orang yang tidak mampu mengelola keuangan dengan baik, seperti anak kecil atau juga orang gila. Begitu juga dalam pernikahan. 

Maka itu dalam madzhab kami, wanita kecil yang menikah wajib dengan wali, karena ia belum cukup berakal untuk melakukan itu. Berbeda dengan wanita yang dewasa, dan sudah cerdas menentukan pilihannya. Tidak perlu lagi ia kepada perwalian ke ayahnya atau juga yang lain. Karena ia sudah cukup cerdas untuk melakukan itu. 

Maka ketika si wanita sudah cukup cerdas dan dewasa untuk menangani masalah itu semua, dia sudah tidka perlu lagi tuntunan walinya. Karena itu tidak disyaratkan menikah dengan wali, karena memang perwalian dibutuhkan jika memang yang diwalikan tidak mampu melakukan hal terssebut. Maka ketika yang diwlalikan sudah mampu, secara otomatis perwalian itu pindah ke dirinya sendiri dari yang sebelumnya berada di walinya.[8] 

Dalil Imam Abu Daud Al-Zohiri

Sedangkan Imam Abu Daud Al-Zohiri yang biasa disebut dengan Abu Sulaiman oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla, beliau berdalil dengan redaksi zahir teks hadits: 

اَلثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا , وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ , وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا
Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda: "Wanita yang tidak bersuami lebih berhak atas dirinya ketimbang walinya. Dan wanita perawan dimintai izi atas dirinya, dan diamnya ialah perizinannya" (HR Muslim)

Pilih Pendapat Yang Mana?

Memang tidak ada ketentuan dan keharusan dalam syariah ini untuk kita mengikuti satu pendapat atau satu madzhab tertentu. Apalagi dalam masalah khilafiyah seperti ini, kita dibolehkan mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain sesuai dengan keyakinan kita, apakah itu yang lebih mudah, atau pendapat yang lebih hati-hati dan terkesan sulit. Tentu itu juga dengan bimbingan seorang guru.

Dalam masalah ini memang pendapat Imam Abu Hanifah terkesan pendapat yang ringan bahkan memudahkan untuk tidak kita katakana menggampangkan. Karena memang tidak mengharuskan wali bagi siapa saja yang ingin menikah. Berbeda dengan pendapat Jumhur yang mensyaratkan wali nikah sebagai rukun yang tidak boleh ditinggalkan.

Dan memang inilah yang sering dijadikan tameng oleh beberapa kalangan untuk melangsungkan pernikahan dengan tan wali si wanita. Mereka berdalih bahwa ada pendapat madzhab fiqih yang membolehkan itu. Terkesan menggampangkan syariah walaupun tidak salah juga.

-       Tatabbu' Al-Rukhos (Memilih Yang Ringan)  
Lalu yang jadi pertanyaan apakah boleh mengambil pendapat yang lebih mudah dan ringan dalam masalah khilafiyah seperti ini, yang disebut dengan Tatabbu' Al-Rukhos [تتبع الرخص]? Atau kah diharuskan mengambil yang lebih sulit sebagai kehati-hatian?

Ulama memang ada yang membolehkan mengambil pendapat yang lebih mudah saja untuk diamalkan dibanding pendapat ulama yang terkesan berat dan sulit. Dengan alasan bahwa memang tidak ada larangan dalam syariah ini untuk beribadah sesuai dengan pendapat ulama yang memudahkan.

Dan sunnah Nabi Muhammad saw baik itu perkataan ataupun perbuatan menunjukkan kebolehan untuk mengambil pendapat yang memudahkan sebagai landasan beribadah. Nabi dalam sebuah riwayat dikatakan: 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِيهِ إِثْمٌ فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
"Dari 'Aisyah ra, beliau berkata bahwa Nabi tidak diberikan 2 pilihan kecuali ia memilih yang paling mudah kecuali jika itu dosa. Kalau itu dosa ia adalah orang yang paling menjauhinya" (HR Ahmad)  

-       Memilih Yang Berat

Namun ada juga pendapat ulama yang memang sangat keras dan mengharamkan mengikuti pendapat yang mudah dan terkesan menggampangkan. Ulama ini mewajibkan mengambil pendapat yang memang berat dan kuat. Dan ini adalah pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal dan juga beberapa ulama dari kalangan Malikiyah. [9]

Menurut pendapat ini, mengambil pendapat yang ringan dalam beribadah itu lebih condong dan lebih dekat kepada keinginan hawa nafsu yang memang selalu menginginkan keringanan dalam beribadah.

Padahal ketika terjadi perselihan pendapat, yang diperintahkna kepada kita ialah kembali 
kepada Allah swt dan Rasul saw. Bukan malah mengikuti hawa nafsu. 

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
"Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)". (An-Nisa' 59)

Dorongan hawa nafsu sangat kental menjadi latar belakang alasan kenapa seorang muslim mengambil pendapat yang meringankannya, dan enggan mengambil ketetapan yang berat. Dan syariat dengan sangat jelas melarang ummatnya mengikuti hawa nafsu. 

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
"janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah". (Shaad 26)

Dan akhirnya, dengan terus mengikuti hawa nafsu akan timbul penyepelan terhadap syariah. Dengan ia terus menerus mencari-cari mana pendapat yang sekiranya menguntungkan bagi dia dan kelompoknya. Iman dalam diri sudah tidak menjadi dasar dan dorongan lagi dalam beribadah, akan tetapi nafsu dan kepentingan sepihak.

-       Pendapat Imam Syathibi

Dalam kitabnya Al-Muwafaqat, Imam Syathibi menjelaskna bahwa yang harus dilakukan oleh seorang penanya jika mendapatkan pendapat yang berbeda dari para mujtahid ialah mencari pendapat mana yang lebih unggul.

Tidak langsung memilih mana yang lebih mudah untuknya. Tapi menimbang dulu mana yang kuat, dilihat dari dalil dan bagaimana para mujtahid itu berIstidlal. Karena menurut beliau perbedaan pendapat untuk seorang awwam itu bagaikan dalil-dalil yang saling berselisih untuk seorang Mujtahid. Dan pada saat itu seorang mujtahid diharuskan mencari dalil mana yang lebih kuat, begitu juga seorang muslim jika dihadapkan kepada perbedaan pendapat.[10]

Memilih Pendapat Mayoritas (Hukum Negara)

Yang paling baik menurut penulis dalam hal ini ialah mengikuti pendapat yang banyak dipegang oleh lingkungan sekitar, yaitu suara mayoritas (Majority Voice). Sebenarnya bukan hanya pada masalah nikah ini saja, akan tetapi dalam segala hal memang baiknya seseorang tidak menampakkan perbedaan sendiri ditengah keseragaman khalayak.

Kalau memang tinggal pada lingkungan Hanbali, ya mengikuti pendapat Madzhab Hanbali jauh lebih baik dari pada yang lain. Begitu juga jika memang tinggal di lingkungan Malikiyah, sungguh sangat tidak beradab jika kita malah menampakkan keengganan kita untuk mengikuti pendapat Malikiyah.

Kita di Indonesia ini yang memang terkenal dengan menjamurnya madzhab Syafi'i, ya tentu jauh lebih baik bahkan memang sangat baik untuk kita mengikuti pendapat-pendapat ulama syafiiyah. Dibanding harus tetap kukuh dengan ulama yang tidak bermadzhab.

Karena bagaimanapun menampakkan perbedaan ditengah keseragaman khalayak ialah sesuatu yang sangat tidak terpuji, dan sudah pasti akan menimbulkan gesekan antara masyarakat.

Dan hukum mayoritas dalam hal perkawinan di Indonesia ini sudah tertuang dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang menjadi pegangan seluruh Hakim Agama di sejagad indonesia ini. Sudah pasti tidak akan berbeda.

Dan posisi wali nikah dalam KHI ialah sama seperti pendapat jumhur yang menempatkan seorang wali nikah sebagai rukun nikah yang keberadaannya tidak boleh tidak ada. Ini tertuang dalam pasal 19 – pasal 24 dalam Kompilasi tersebut.

Kemaslahatan

Satu lagi yang sering dijadikan dasar hukum oleh para ulama ialah Al-Istishlah [الاستصلاح] atau biasa yang disebut dengan kemaslahatan. Negara ini sudah menentukan bahwa menikah tidak sah kecuali dengan wali. Dan aturan ini dibentuk tentu bukan sekedar asal bentuk, akan tetapi dengan perhitungan yang matang setelah meninjau berbagai aspek, baik itu aspek syariah maupun aspek sosial.

Menjadikan wali nikah sebagai rukun, selain mengikuti pendapat jumhur ulama, ini juga mempunyai dampak positif yang besar terhadap keberlangsungan hidup sosial antara warga. Dan justru meninggalkan ini, yakni mengambil keputusan bolehnya menikah tanpa wali akan menghasilkan dampak yang buruk bagi masyarakat.

Coba bayangkan seandainya seluruh warga diberikan kebebasan untuk menikah tanpa wali si gadis, apa yang akan terjadi? Kesemrawutan sana sini pasti yang akan terjadi. Mungkin hampir tiap hari kita akan mendengar seorang ayah kehilangan anak gadisnya karena dibawa kabur oleh sang pacar yang tidak disetujui oleh si ayah gadis.

Kemudian berapa banyak wanita yang hamil dan kemudian si ayah tidak mau tanggung jawab? Karena memang tidak ada persetujuan dengan sang wali dalam akad yang merupakan sebagai perpindahan tanggung jawab dari si wali kepada sang lelaki.

Kekacauan pasti akan terjadi, dan kekacauan ini akan terus berlanjut kalau tidak ada tindakan tegas dari penguasa. Untuk meminimalisir kekacauan itu dan meciptakan maslahat bagi warganya, Negara membuat aturan itu.

Jadi sejatinya memang tidak ada alasan untuk tidak mengikuti jumhur, karena memang Negara mewajibkan itu.

Wallahu A'lam

[1] Bidayatul-Mujtahid 376, Al-Majmu' 16/146, Al-Mughni 7/337
[2] Bada'i Al-Shona'i 2/247
[3] Al-Muhalla 9/455
[4] Al-Majmu' 16/150
[5] Bada'i Al-Shona'i 2/248
[6] Bada'i Al-Shona'i 2/247
[7] Al-Muhalla 9/452
[8] Bada'i Al-Shona'i 2/248
[9] Al-Madkhol ila Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal 206
[10] Al-Muwafaqot 5/84
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger