KHI (Kompilasi Hukum Islam), Kitab Suci Yang Kotor

Di peradilan Islam negeri Indonesia ini ada istilah dengan sebutan "Hukum Positif". Maksudnya ialah hukum yang sah dan berlaku dalam peradilan Islam untuk seluruh penduduk Indonesia. Selain hukum positif, itu tidak berlaku.

Hukum positif yang dipakai di pengadilan-pengadilan Agama negeri ini, tercakup semua dalam sebuah susunan undang-undang yang disebut dengan KHI (Kompilasi Hukum Islam). Buku suci ini yang digunaka oleh para hakim pengadilan agama dalam menentukan hukum dan menghakimi suatu masalah.

Untung!
Negara dengan mayoritas penduduknya Islam ini, tapi anehnya hukum yang digunakan bukanlah hukum murni syariah Islam yang banyak dibicarakan oleh para Ulama dari madzhab Fiqih. Hukum syariah yang berlaku dinegara ini Cuma dalam urusan Perkawinan saja.

Nah makanya bisa dibilang "untung", adanya KHI menambah daftar undang-undang syariah islam dinegara. Karena susunan yang ada di KHI ini membahasa 3 aspek, yaitu [1] Perkawinan, [2] Per-warisan, [3] Per-wakafan.

Ya setidaknya walaupun tidak semua aspek memakai hukum syariah, masih adalah sedikit.

RUGI BESAR!
Rugi besar-nya karena undang-undang yang ada dalam susunan KHI itu hampir semua ber-masalah dari segi tinjauan syariahnya. Isinya memang undang-undang positif yang (katanya) berdasarkan syariah. Tapi menjadi tidak positif karena justru isinya malah menabrak syariah.

Banyak pasal-pasal KHI yang sama sekali ngga jelas asal-usulnya. Landasannya membingungkan. Akhirnya produk hukumnya pun amburadul. KHI ini disucikan ya karena memang hukum ini yang berlaku, tapi sayangnya isi susunan hukum KHI sama sekali tidak mencerminkan kesucian.

Hukum yang awalnya disusun untuk memberikan kemaslahatan kepada umat, justru malah berbalik menjadi biang masalah umat. Diperparah lagi, para pengak yang bekerja di pengadilan agama itu semua ora ngudeng syariah. Ini kan aneh, mereka ngga ngerti syariah tapi bisa-bisanya menjadi hakim masalah syariah. Lucu.

Dalam masalah Perkawinan yang pasal-pasalnya itu mengambil hapir 2/3 susunan KHI ini juga bermasalah. Contoh kecil yang banyak kita jumpai itu ya masalaha Redaksi Ta'liq Talak yang dibacakan oleh si mempelai pria setelah melakukan akad.

Ini kan aneh, baru saja selesai menjadi suami, eh tiba-tiba dia malah men-talak istrinya yang baru aja ijab qobul. Kalau benar-benar terjadi apa yang disebutkan, ya talaknya jatuh. Jadi boomerang juga akhirnya. Parahnya lagi si pegai KUA yang bawa surat-surat itu juga ngga ngerti soal Ta'liq Talak itu dan apa konsekuensi berikutnya dalam syariat.

Si mempelai pria pun mau aja disuruh baca. Kaga make mikir panjang, dibaca aja. Ketika redaksi itu sibaca, konsekuensi syariahnya pun muncul. Pasal 46 yang menjelaskan Ta'liq talak pun terkesan tidak konsisten isinya, malah membingungkan.

Ada lagi pada pasal-pasal yang menjelaskan tentang perceraian, yaitu pasal 129 sampai beberapa pasal berikutnya. Aneh juga disini, karena talak tidak akan terjadi kecuali itu diikrarkan didepan pengadilan, didepan muka si hakim.

Padahal seorang suami yang sudah mengatakan "Talak" kepada istrinya dengan jelas dalam syariah si istri berarti telah resmi ditalak, maka mulai saai itu juga jalan waktu Iddah-nya. Tanpa perlu ada saksi dan sebagainya.

Lucunya lagi, surat cerai yang diajukan suami itu belum diresmikan kecuali setelah dilakuakn pengkajian oleh pihak pengadilan selambat-lambatnya 30 HARI. Nah loh! Bingung kan jadinya, padahal dirumahnya, sang suami telah mentalak istrinya dengan jelas.

Masih banyak lagi pasal-pasal yang bermasalah. Termasuk yang paling heboh itu ya masalah waris. Intinya pada pasal 185 yang mengadakan istilah "Ahli Waris Pengganti". Sampai sekarang, saya masih bingung, madzhab Fiqih mana yang punya istilah seperti ini.

Redaksi susunan hukum-nya pun aneh dan membingungkan. Dijelasin: "Ahli Waris yang meninggal lebih dulu daripada si pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya…."

Ya kalau dia udah meninggal lebih dulu bukan Ahli waris namanya, kok Ahli waris meninggal, mao dikasi apa! Pdahal jelas dalam syriah hukum dan rukun-rukun waris. Syarat utamanya itu ialah ia hidup ketika si pewaris meninggal.

Dalam KHI justru menjadi bias dan rancu, siapa pewaris dan siapa yang ahli wari mendapat warisan. Masalah pasal 185 ini sudah saya tulis di sini: PASAL 185 KHI BERMASALAH!

Praktek Asal "Catut Nama" 

Akhirnya saya menjadi ragu dengan nama-nama Ulama yang ada dibelakang susunan KHI itu. karena dibelakang itu tertulis sederatan nama besar dalam bidang akademi syariah. Saya mendiga ada praktek "Asal Catut" nama disini.

Karena bebepa dari beliau pernah bertemu dan sempat mengobrol soal pasal-pasal aneh itu. dan mereka juga mengatakan ketidaksetujuannya. Apalagi kalau dilihat dari sejarah pembuatan KHI ini yang dilakukan antara tahun 1985 sampai akhirnya diresmikan oleh Presiden tahun 1991.

Tahu 1985, Menteri Agama resmi mengeluarkan surat putusan yang berisi perintah untu menyusun sebuah susunan hukum syariah. Lalu tahun 1989, Draf KHI resmi masuk DPR dan disidangkan. Baru diresmikan oleh Presiden tahun 1991.

Awal tahun 80an, pergerakan dan pergolakan pemikiran Islam ketika juga sedang hangat-hangatnya. Banyak peebincangan baik resmi atau tidak resmi yang tengan mengemuka soal isu ketidak adilan Islam yang digemborkan oleh aktifis syariah "kiri" dan sejenisnya.

Dan bukan rahasia lagi, kalau sejak tahun 80an awal itu kalangan aktifis "kiri" telah banyak menduduki posisi krusial dalam jajaran kementrian Agama, baik di birokrasi atau pekerja lapangan si universitas dan kampus-kampus Islam.

Ayo Mulai Bergerak!
 
Jadi rasanya, sudah saat memang KHI mulai di-"gerayangi", ditinjau ulang, toh sekarang sudah banyak partai Islam dan para aktifis dakwah yang punya jiwa militansi kuat dalam memperjuangkan syariah, dan ini menjadi kewajiban para Ulama yang memang mumpuni dalam syariah untuk memberitahukan umat mana informasi yang benar.

Karena seorang yang tahu ilmu-nya, pundaknya masih akan terus terbebani dengan kewajiban menyampaikan sampai informasi itu sampai kepada objek dakwah dengan baik dan benar, serta tidak asal.

Kalau MMI (Majlis Mujahidin Indonesia) saja yang hanya sebuah Jemaah kecil dari besarnya Muslim Indonesia ini bisa mengajukan protes kepada Kementrian Agama soal Terjemah Al-Qur'an. Kenapa kita tidak bisa?

Wallahu A'lam
 

Melakukan Perbuatan Syirik Karena Tidak Tahu

"ada bbrp hal yg mengganjal dlm hati sy kadang2 mmbuat resah mungkin krn sy bodoh dlm hal ilmu agama. apakah hukumnya org yg melakukan berbuat syirik tp mrk tdk sadar ato tdk tahu kalo itu prbuatan dosa bsr yg bs mengeluarkan mrk dr islam, apakah mrk mndpt toleransi krn mrk melakukannya krn kebodohan? Apakah mrk lansung dicap musyik ato kafir? Apakah parameternya mendapatkan hujah itu? Trimaksih"




Seorang yang mengucapkan 2 kalimat syahadat, yaitu meyakini dan mengimani bahwa tiada tuhan yang wajib disembah selain Allah swt, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah swt yang wajib diimani, maka ia telah resmi menjadi seorang muslim.

Dan status keislamannya tidak akan lepas sampai ia melakukan hal-hal yang memang membatalkan keimanannya. Seperti menyembah kepada selain Allah swt, yaitu mengimani sesuatu yang bisa memberikan menfaat dan mendatangkan musibah. Ini jelas kesyirikannya.

Seperti orang yang mendatangi dukun atau apalah itu namanya, dan meminta kepada dukun tersebut untuk diberikan sesuatu atau agar keinginannya tercapai dengan mudah, yang seperti ini jelas kesyirikan. Karena bagaimanapun, ia telah menghilangkan Allah dalam hatinya dan beralih mengimani serang makhluk yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa.

Akan tetapi jika ia melakukan sesuatu yang sejatinya itu syirik dengan kebodohan, artinya ia melakukan hal tersebut karena memang tidak tahu, maka –wallahu A'lam- ia tidak dikenakan hukum syirik tersebut sampai ia mengatahui bahwa pekerjaannya itu syirik. Ketidaktahuannya menghalanginya terkena hukum.

Dan tentu dengan kebodohan yang dimaafkan. Artinya memang ketidak-tahuannya itu ketidaktahuan yang dibolehkan secara syara', bukan ketidak tahuan yang disengaja atau asal tidak tahu.

Salah satu bukti bahwa ketidak tahuan itu menghalanginya untuk terkena hukum Syirik atau juga hukum syariat yang lainnya, ialah:

Pertama: kisah Dzatu Anwath.  

Hadits yang diriwayat oleh Imam Turmudzi dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi ini menceritakan tentang para sahabat yang sebagian besar baru masuk Islam dan belum banyak mendapat pengakaran.

Mereka berangkat bersama Rasul saw menuju Hunanin ketika itu. dan diwaktu itu, kaum msuyrik mempunyai pohon dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dipohon itu dengan keyakinan bahwa ada keberkahan dan ada keberuntungan jika senjata-senjata mereka ditgantungkan di pohon itu. pohon itu dinamakan "Dzatu Anwath".

Ketika rombongan Nabi Muhammad saw melewati pohon itu, para sahabat yang memang baru masuk Islam ini berkata kepada Nabi: "wahai Nabi. Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath, sebagaimana mereka (musyrik) mempunyai Dzatu Anwath".

Mendengat perkataan itu, Rasul dengan nada tinggi seperti marah menjawab: "Allahu Akbar! Inilah kebiasan (syirik) itu! demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, kalian telah mengatakan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa: 

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
 

'jadikanlah kami sesembahan sebagaimana mereka (penyembah berhala) mempunyai sesembahan. Musa berkata: sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh' (Al-A'rof 138)

Kalian benar-benar mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian. (HR. Turmudzi)

Dalam peristiwa ini, Rasul saw yang bearada ditengah-tengah mereka dan melihat langsung justru tidak memberikan status Syirik atau Kafir dan memang tidak mengkafirkan para sahabat. Padahal apa yang dilakukan sahabat itu benar-benar sebuah kesyirikan yang merupakan tradisi orang-orang musyrik terdahulu.

Akan tetapi Nabi justru memberikannya nasehat dan memberikannay ilmu bahwa itu sebuah kesyirikan yang tentu haram dilakukan oleh seseorang yang berstatus sebagai muslim. Karena memang Nabi sangat mengetahui, mereka begitu karena tidak tahu. Dan kebodohannya itu dimaklumi karena memang mereka baru masuk Islam.

Kedua: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar." (Al-Nahl 106)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt memberikan kelonggaran bagi mereka yang "terpaksa" atau "dipaksa" untuk mengucapkan atau melakukan hal-hal yang membatalkan iman walaupun dia tahu itu sebuah kemusyrikan yang membatalkan iman.

Tapi dia harus melakukannya karena memang terpaksa atau dipaksa dengan jiwa yang diancam kalau tidak melakukannya. Kalau dia melakukan dan hatinya tetap berian kepada Allah swt, ia tidak termasuk dalam golongan kafir. Dan dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa ini adalah Ittifaq (kesepakatan) Ulama. (Tafsir Ibnu Katsir 4/606)

Kalau yang tahu bahwa itu perbuatan syirik lalu melakukan karena terpaksa itu dibolehkan, apalagi yang memang benar-benat tidak tahu. Toh sejak dahulu kala Nabi Muhammad saw telah memberitahukan bahwa tidak ada hukum bagi mereka yang tidak tahu, lupa dan yang dipaksa. 

إِنَّ اَللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي اَلْخَطَأَ , وَالنِّسْيَانَ , وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

"Allah swt mengampuni bagi umatku atas perbuatnnya karena Tidak tahu, Lupa, dan yang terpaksa." (HR Ibnu Majah)


Ketiga:Ijma' sahabat Nabi saw terhadap orang-orang yang melanggar syariat atau mengerjakan perbuatan syirik karena tidak tahu. Mereka mengatakn bahwa tidak ada dosa apalgi penyematan status Kafir/Syirik kepada mereka sebelum mereka mendapat pengetahuan tentang itu.

Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu taimiyyah dalam Majmu' Fatawa-nya. Beliau menjelaskan bahwa ketika itu juga sahabat tidak langsung meng-kafir-kan Qudamah bin Madz'un dan para pengikutnya yang telah terlampau jauh dalam hal Ta'wil. Dan mereka (sahabat) kemudian memberikannya ilmu pengetahuan tentang apa yang dilakukan bahwa itu sebuah kesalahan. (Majmu Fatawa 7/610)

Kebodohan Yang Dimaafkan

Masalahnya kembali keada ketidaktahu itu sendiri. Karena ada ketidaktahuan yang dibolehkan dalam syariat, artinya memang ketidak tahuan itu sangat wajar terjadi. Dan ada juga ketidak tahuan yang tidak wajar terjadi.

Ketidak tahuan yang sangat tidak wajar ialah, ketidak tahuan akan kewajiban dasar Islam yang 5, walaupun hanya secara global. Ini suatu yang tidak masuk akal kalau seorang muslim tidak tahu bahwa sholat itu wajib, puasa wajib, dan juga zakat wajib.

Secara garis besar, rukun Islam yang 5 itu ialah sesuatu yang pasti diketahui oleh seorang muslim tanpa harus belajar, dalam istilah syara' disebut dengan "yu'lam Bi Al-dhoruroh". Jadi jika ada yang tidak tahu bahwa sholat itu wajib. Ini sungguh mustahil.

Dimaafkan 

Tapi ketidaktahuan itu menjadi dimaafkan ketika memang seseorang itu baru masuk Islam yang hanya tahu kewajiban Cuma sholat saja, puasa dan zakatnya belum ada yang ngajarin. Atau dia tahu bahwa zakat itu wajib tapi secara tafshil (terperinci) dia tidak tahu bahwa didalamnya ada kewajiban zakat harta, zakat peternakan dan yang lainnya, dia hanya tahu zakat fitrah saja misalnya.

Kemudian juga dimaafkan jika memang ketidak tahuannya dikarenakan keterbelakangan budaya, atau juga belum sampai informasi syariah yang masuk.

Ini tidak bisa kita pungkiri bahwa memang banyak saudara Muslim kita yang belum tersentuh pendidikan didaerah-daerah terpencil. Banyak dari mereka yang masih menyembah pohon, tapi mengaku dia Islam. Ada juga yang masih rajin datang ke dukun, padahal Islam. Ada juga yang masih buat sesajen ini itu dan meyakini sesajennya itu bisa mendatangkan manfaat, padahal dia juga muslim.

Apakah yang mereka ini kita katakana Musyrik semua satu kampong. Tidak bisa begitu juga kan? Karena memang tidak ada pengajaran dan pendidikan yang masuk ke daerah terpencil itu. selama tidak ada relawan syariah yang menjelaskan itu semua, mereka terbebas dari status syirik.

Kecuali memang ia benar-benar mengetahui bahwa itu syirik tapi tetap melakukan. Seperti yang terjadi didaerah perkotaan yang masih saja datang kepada orang (yang dikatakan) pintar yang bisa mengobati penyakit dengan media batu atau juga air. Ini jelas kemusyrikan. Kalau dia mengerti itu, maka jelas ia harus bertobat kembali pada jalan lurus.

Kewajiban Muslim

Karena itu sudah tidak ada keraguan lagi bahwa kewajiban seorang muslim itu ya mempelajari ajaran agamanya, Syariah. Agar nantinya tidak terus menerus jatuh kedalam pernbuatan yang diharamkan oleh syariah apalagi sampai pada sebuah kesyirikan yang membatalkan imannya.

Kalau imannya sudah batal berarti lepaslah ikatan Islam. Maka statusnya tidak Islam lagi, karena sudah tidak Islam berarti ia Kafir, dan kafir tempatnya tidak lain tidak bukan melainkan di neraka. Naudzu billah.

Dan kita tidak dituntut untuk menjadi seorang ulama ketika mempelajari syariah. Kita hanya perlu tahu mana halal dan haram. Mana batasan-batasannya, dan mana kelonggarannya. Tidak perlu terperinci sampai pada akar masalah.

Kita hanya cukup tahu bahwa ini haram tanpa harus tahu dalilnya, setelah tahu ya kita tinggalkan. Karena pendalaman dalil dan sebagainya itu tugas ulama. Kita yang awwam cukup tahu secaga global saja. Dan memang itu kewajibannya.

wallahu a'lam
 

Kerangka Artikel Fiqih

Dalam menulis artikel Fiqih yang menjelaskan tentang hukum sebuah masalah, baik masalah klasik ataupun maslah kontemporer, biasanya (dan memang seharusnya) menggunakan krangka penulisan seperti ini:

I.                    Ta'rif Lughotan wa istilahan (Pengertian, secara Bahasa dan Istilah Syar'i)
-          Shuroh Al-Masalah
II.                  Masyru'iyyah (Pensyariatan)
III.                Aqwaal Al-'Ulama beserta dalilnya
IV.                Asbaab Khilaf
V.                  Kesimpulan

I.                    Ta'rif Lughotan wa istilahan (Pengertian, secara Bahasa dan Istilah Syar'i)
Ini adalah hal yang mutlak dalam penulisan sebuah artikel syariah, penjelasana sebuha nama atau istilah dalam lotaltur fiqih adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Karena bagaimanapun, menjelaskan sebuah hukum masalah dalam kerangkeng ilmu fiqih bukanlah seperti menjelaskan sebuah opini biasa. Yang harus dilakukan terlebih dulu ialah menjelaskan nama atau topic masalah yang ingin dikemukakan hukumnya.

Penjelasan makna Ism juga haruslah seimbang, dan tidak mengacu hanya pada satu pengertian ala mazhab atau Ulama tertentu. Artinya jika satu mazahab dengan mazhab lain mempunyai pendangan berbeda dalam pengertia Ism tersebut, penulis mempunyai amanah ilmiah untuk menyampaikannya.

Dan tidak dilupakan juga, pengertian yang diungkapkan oleh para Ulama-Ulama komtemporer, karena bagaimanapun, masalah yang sedang dibahas pastilah sudah mengalami perubahan dan pergeseran makna seiring berjalannya waktu. Bisa jadi masalahnya yang sudah dijelaskan Ulama salaf dulu berbeda dengan masalah yang zaman sekarang walaupun namanya sama.

Kemudian, kalau memang yang dibahasa bukanlah sebuah masalah induk, atau bisa dikatakan ini adalah masalah yang beranak dari satu masalah induk, maka harus dijelaskan gambaran masalahnya (Shuroh Al-Masalah).

Contohnya masalah wanita yang haidh menyentuh Mushaf atau membaca Al-Quran. Semua Ulama sepakat bahwa wanita yang haidh ialah wanita yang dalam keadaan berhadats besar. Karena berhadats besar, maka hukum-hukum yang dikenakan terhadap orang yang berhadats besar dikenakan juga untuk wanita haidh.

Tapi muncul masalah, ternyata ada beberapa ulama dengan Aqwal-Aqwal mereka yang malah memberikan rukhshoh untuk wanita haidh, bahwasanya ia boleh membaca Quran dalam keadaan tertentu. Nah begitu kiranya.

II.                  Masyru'iyyah (Pensyariatan)
Nah ini juga sub judul yang mau tidak mau, harus ditulisakan oleh seorang penulis artikel Fiqih. Karena bagaimana mungkin sesuatu itu menjadi objek kajian fiqih, tapi tidak punya dasar dalil yang membuatnya disyariatkan.

Tapi penulisan masyruiyyah  ini juga tidak untuk semua jenis artikel fiqih. Untuk artikel yang membahasa masalah induk, sub judul ini jelas sangat harus ada. Tapi jika masa;ah yang ditulisan adalah masalah yang muncul dari sebuah masalah induk, artinya itu adalah masalah "anak", maka sub judul ini tidak perlu lagi ditulis.

III.                  Aqwaal Al-'Ulama beserta dalilnya
Setelah pengertian dan dalil pensyariatannya, barulah seorang penulis membeberkan apa pandangan-pandangan Ulama dari masing-masing mazhab, tentu dengan segala perbedaaan. Dan karena memang masalah itu diperdebatkan, sub judul ini menjadi harus. Kalau semua Ulama bersepakat dan ber-Ijam', maka tidak perlu adanya sub judul ini.

Nah penulisan sub judul ini juga bisa dalam bentuk yang bermacam-macam, tergantung variasi perbedaan pendapat Ulama dan masing-masing mazhabnya dalam masalah yang sedang dibahas tersebut.

Kalau dalam sebuah masalah, masing-masing dari 4 mazhab Fiqih (tidak tertutup kemungkinan untuk menuliskan pendapat dari selain 4 mazhab besar) itu mempunya perbedaan, maka sebaiknya setiap kelompok itu diberikan pointer masing-masing bagi pendapatnya.

Namun jika dalam satu masalah itu, diantara 4 mazhab fiqih (atau lebih) itu terdapat kesamaan antara 2 atau 3 mazhab, maka cukuplah dikelompokkan berdasarkan pendapatnya, bukan berdasarkan masing-masing mazhab. Artinya kelompok suaranya saja, misalnya:

Pendapat pertama: Membolehkan. Ini dianut oleh mazhab ,,,,,,,,,, dan juga mahab,,,,,,, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab ,,,,,,,,,
Pendapat kedua: mengharamkan. Pendapat ini dipegang oleh mayoritasUlama mzahba,.,,,,,

Itu utnuk Aqwal, sedangkan dalil dari masing-masing kelompok itu bisa dituliskan dalam 2 variasi; [1] langsung, setelah penjelasan Aqwal, [2] dipisahkan dalam sub judul tersendiri. Intinya sama saja, yang terpenting ialah menuliskan dalil dan argument dari masing-masing mazhab.

Tapi harus diperhatikan juga pasar pembaca artikel fiqih kita itu, menulis dimanakan kita sekarang ini? Di Internet-kah (Web, Blog, facebook, dst), atau menulis untuk dijadikan buku. Biasanya pembaca masing-masing lapangan bacaan itu punya kebiasaan dan kenyamanan membaca tersendiri.

Baiknya memang antara Aqwal dan Adillah-nya itu tidak dibedakan atau dipisahkan. Dutulisakan saja langsung setelah penjelasan Aqwal tersebut, agar pembaca tidak kebingungna mencari dalil. Atau juga para pembaca bisa mendapatkan alasan langsung dan bisa mengerti dengan mudah pesan kenapa mazhab ini berpendapat seperti ini.

Karena kalau harus dipisahkan dengan penjelasan Aqwal yang lainnya, biasanya itu membuyarkan kenyamanan pembaca, apalagi jika Aqwal-Aqwal itu berupa Tafshil yang panjang dan membingungkan. Dan tidak ada jaminan memang kalau pembaca mau merujuk kembali Aqwal jika Adillah itu dipisahkan.

IV.                Asbaab Khilaf
Biasanya ini sudah tidak penting lagi. Karena dengan menjelaskan pendapat masing-masing mazhab beserta dalilnya dengan penjelasan yang pas dan Syamil, Asbab Khilaf itu juga dengan sendirinya akan dipahami oleh pembaca.

Tapi tidak salah juga kalau memang mau dituliskan ASbab Khilaf itu sendiri. Namun tetap memperhatikan kolom muatan tulisan, apakah dengan menuliskan itu tidak memakan tempat yang banyak?

V.                  Kesimpulan
Disini barulah seorang penulis diberikan ruang untuk mengungkapkan pemikirannya atau pandangannya dalam masalah fiqih yang dituliskan sejak awal itu. karena sejak awal, penulis hanya memindahkan apa yang telah dipaparkan oleh Ulama dari masing-masing mazhab dalam kitab-kitab mereka dalam tulisan ini.

Dan Karena memang sub judul ini diberikan untuk penulis, maka penulis pun diberikan kebebasan untuk menuliskan "apa saja" dalam sub judul ini. Maka kolom Kesimpulan ini bisa berupa macam-macam.

Bisa berupa Tarjih, kalau memang mampu dan bisa (sebaiknya tidak :D). bisa juga berupa tanggapan dan Taujih serta pesan penulis untuk pembaca dalam menyikapi masalah yang dibahas. Atau bisa juga berupa pendapat Ulama, Baik salaf atau pun Kontemporer yang sekiranya punya nilai Wasath dalam masalah yang sedang dibahas itu.

Yang penting kesimpulan ini tidak meninggalkan pembaca dalam kebingungan.

PENULISAN HADITS
Dalam menuliskan dalil dan argument dari masing-masing pihak yang berselisih dalam masalah fiqih tersebut, pasti sebuah hadits itu dopakai menjadi argument, terlepas dari banyak atau sedikit hadits yang disampaikan.

Nah perlu diperhatikan, bahwa bukanlah sebuah tugas penulis artikel fiqih untuk menjelaskan derajat atau status hadits yang disampaikan. Entah itu dhoif, Shohih, Hasan, Matruk, majhul dan sebagainya. Cukuplah menuliskan siapa perwainya dan dari (kitab) mana hadits itu didapatkan.

Bukan menghilangkan karakter "Amanah Ilmiyah" yang diemban oleh seorang penulis. Justru meninggalka hadits-hadits tersebut tanpa status "menghakimi" dhoif atau Shohih, itulah bentuk Amana Ilmiyah seorang penulis artikel fiqih.

Karena yang dikerjakan seorang penulis artikel fiqih ialah hanya Menukil (memindahkan) apa yang sudah dijelaskanoleh para Ulama dari masing-masing mazhab dalam Kitab-kitab induk kedalam artikel fiqih tersebut. Adapun status derajat hadits itu bukanlah wilayah penulis.

Apapu alasannya, penulis artikel syariah tidak bisa menuliskan status derajat hadits tersebut. Kenapa? Karena ketika seorang Ulama/Mazhab Fiqih menggunakan sebuah hadits untuk menguatkan argument dan pendapat mereka, pastilah hadits tersebut adalah hadits yang shohih, dan memang layak untuk dijadikan argument menurut Ulama/mazhab tersebut.

Nah, karena bisa jadi hadits itu lemah (Dhoif) menurut "Kita", yang menilainya, tapi bisa jadi hadits itu statusnya ialah Shohih dengan sanad yang baik menurut si Pengguna Hadits tersebut untuk argument. Sanad yang "kita" gunakan untuk menilai hadist tersebut bisa jadi cacat, tapi mungkin saja Ulama tersebut mempunyai jalan (jalur sanad) lain yang derajatnya baik yang kita tidak ketahui itu.

Jadi biarkan saja hadits-hadits itu apa adanya sesuai dengan apa yang telah dituliskan oleh masing-masing mazhab. Karena seperti sudah kita ketahui sebelumnya, bahwa masing-masing mazhab punya metode dan mekanisme sendiri-sendiri dalam menggunakan hadist untuk sebuah argument.

Wallahu A'lam      
 

Menulis, Proses "Penyelamatan" Ilmu

Jalan Mendapatkan ilmu itu persis sama seperti jalan mendapatkan uang. Keduanya sama karena memang kedua-duanya sama-sama rezeki yang Allah swt anugerahkan kepada hamba-Nya.

Uang, jalan mendapatkannya beraneka ragam, bisa kerja sendiri kemudian digaji. Atau juga pemberian orang terdekat, seperti orang tua, guru dan sebagainya. Atau uang kaget yang sekali dapat langsung banyak, seperti warisan.

Cara mendapatkannya yang berbeda-beda ini yang membuat seseorang juga berbeda reaksi dalam mensikapi uang tersebut. Biasanya kalau mendapatkannya dengan cara mudah, memperlakukannya pun tidak terlalu special, bahkan terkesan mengecilkan serta menyepelekan.
 
Contohnya jika seorang anak mendapatkan uang dari orang tuanya, dia tidak pernah merasakan bagaimana keras dan susahnya mencari uang tersebut. Karena itu mudah saja ia menghamburkannya, toh ia pasti akan mendapatkannya lagi dari orang tuanya. Apalagi dalam bentuk warisan yang jumlah bisa jadi besar sekali, jauh diluar ekspektasinya.

Mahasiswa mendapat tunjangan uang dari kampus, karena mendapatkannya begitu saja, yang hanya dengan duduk mengisi absen kelas lalu tiba-tiba lembaran-lembaran uang "merah" itu masuk kedalam rekening perbulan dengan sendirinya, mahasiswa itu tidak akan terlalu berat untuk "membuang" uang itu. toh karena memang tidak ada "keringat" yang diperas untuk mendapatkannya.

Berbeda jika uang itu dihasilkan dari kerjanya sendiri dengan keringat dan jerih payah serta berdarah-darah. Semua upaya dikerahkan, waktu dihabiskan, dan tenaga disumbangkan demi mendapat uang tersebut.

Setelah uang dari "keringat"nya itu ditangan, pasti lah tindakannya berbeda. Tidak seperti uang-uang sebelumnya yang dihasilkan hanya dengan "lenggang kangkung" saja. Karena "susah", kemungkinan ia untuk menghamburkan uang tersebut pun "susah".

Akhirnya terkesan "pelit" dan "bakhil". Ketika harus mengeluarkan uan hasil keringatnya sendiri itu, perlu berpikir 2 sampai 5 kali untuk mau merogoh kantongnya. Kenapa? Karena sayang. "dapetnya udah susah banget, masa mau dihamburin asal aja".

Pun begitu juga dengan ilmu. Ilmu yang didapatkan dan dihasilkan dengan hanya duduk santai kemudian mendengarkan pengajar dan guru, kemungkinan untuk hilang sangat cepat. Karena meraihnya pun mudah sekali. Hanya masuk kelas, duduk kemudian mendengarkan.

Tidak ada upaya keras untuk meraihnya. Menulis ilmu yang didapatkannya itu pun tidak. Walhasil ilmu itu masuk kedalam otak ketika pemberian materi, setelah pemateri keluar, ilmu itu pun ikut keluar bersama sang pemateri.

Tapi berbeda jika ilmu yang didapatkan itu hasil kerja keras sendiri dengan masuk ke perpustakaan (minimal membuka "maktabah syamilah" yang menjelimetkan) kemudian bergelut dengan lautan buku dan buih-buih huruf serta titik koma.

Ilmu yang didapatkan dari hasil kerja keras seperti ini tentu akan bernilai mahal dan sangat special bagi seorang penuntut ilmu. Dan karena usaha "peluh"-nya inilah membuat ilmu tersebut menjadi melekat kuat dalam otak.  Bukan karena orang itu pintar, tapi karena memang usaha yang "susah" itu membuat otak merasa "perlu" untuk menyimpan ilmu itu lebih lama.

Mendapat Ilmu Setelah Mendapat Uang
 
Nah, salah satu upaya untuk membuat ilmu itu "menginap" lebih lama dalam otak ya dengan menulis. Karena menulis, seorang penuntut ilmu (mahasiswa/pelajar) dituntut untuk membuka buku lebih banyak, membuka buku lebih banyak membuatnya membaca lebih banyak, membaca lebih banyak membuatnya menjadi tahu lebih banyak daripada "mereka" yang hanya duduk dan mendengarkan.

Terlebih lagi jika yang ditulis itu ialah masalah syariah yang PASTI memerlukan sebuah kepastian rujukan dan tidak asal nukil. Karena bagaimanapun, seorang penulis HARUS menjadi seorang yang amanah dalam menyampaikan dan bertanggung jawab atas apa yang dia tulis.

Jangan pernah piker bahwa Ulama-ulama itu mempunyai porsi otak yang lebih banyak sehingga menjadikannya ulama cerdas dengan segudang ilmu dengan disiplin yang berbeda-beda. Allah swt maha Adil, salah satu keadilan Allah swt ialah memberika porsi otak yang sama untuk setiap hamba-Nya.

Tinggal bagaimana hamba-Nya itu memanfaatkan anugerah yang telah Allah swt berikan. Dan Ulama-Ulama pendahulu kita itu semua telah berhasil menjadikan anugerah Allah swt yang sedikit, berupa otak itu.

Ulama itu menulis, dan memang "menulis" itu ialah tradisi seorang Ulama, tidak disebut seorang ulama kalau ia belum menulis. Bagaimana bisa disebut Ulama toh karyanya saja tidak ada? Kita mengenal Ulama-Ulama besar sekals ghozali dan Imam nawawi serta IImam Ibnu Hajar itu kan bukan hasil kenala di facebook! Tapi kita mengenal mereka semua sebagai Ulama karena karya mereka yang selama hidupnya mereka tuliskan dalam sebuah buku.


karena saking banyaknya ia menulis, maka tidak dipungkiri lagi bahwa ilmu itu semua akan melekat erat dalam otak. Ingat perkataan Imam Syafi'i?

"Ilmu itu barang Buruan, dan menulis itu jadi pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Dan merupakan sebuah kebodohan ialah memburu se-ekor rusa lalu melepaskannya ditengah-tengah manusia begitu saja".

Lihat bagaimana Imam syafi'I mensifati orang yang tidak menulis. Beliau mengatakan itu sebuah "kebodohan", memburu hewan kemudian setelah dapat, ia dilepaskan begitu saja. Maka sebuah "kebodohan" juga kalau mendapatkan ilmu lalu membiarkan ilmu tersebut dalam awing-awang tanpa "mengekalkannya" dalam sebuah tulisan.

Jadi, mau jadi Ulama? Ya menulis. Itu kenapa ada kelas "Maharoh AL-Kitabah" di kampus Syariah Rumah Fiqih Indonesia. Mencetak Ulama!

Wallahu A'lam 
 

Hukum Istimna'

Bebapa waktu yang lalu, seorang kawan mengirim satu link dari website portal berita yang isinya bahwa banyak perempuan-perempuan Palestina yang bisa hamil dan melahirkan padahal suami-suami mereka berada dalam penjara Zionis Israel.

Mereka mengeluarkan mani mereka kemudian disimpan dalam sebuah wadah, dan entah bagaiaman ceritanya, wadah tersebut bisa diselundupkan dan masuk ke daerah Palestina. Kemudian seorang relawan dokter menyuntikkan mani-mani tersebut ke istri-istri mereka.

Dari berita ini, kawan saya bertanya mengenai hukum "Istimna'". Yaitu mengeluarkan mani bukan dalam keadaan Jima'. Artinya bukan dalam hubungan intim. Karena begitulah cara yang dilakukan oleh para pahlawan-pahlawan Palestina untuk membuahi istri mereka.

Sebenarnya pembahasan tentang istimna' bukanlah pembahasan baru, ini masalah yang sudah lama dibahas oleh Ulama dari lintas madzhab. Walaupun memang kondisi dan caranya saja yang berbeda dari waktu ke waktu, tapi tetap saja intinya sama.

PENGERTIAN
Secara bahasa, Istimna' [استمناء] berarti [طلب إخراج المني]upaya mengeluarkan mani. Bagaimanapun caranya, usaha seseorang untuk mengeluarkan air hina itu disebut Istimna' dalam makna bahasa.

Namun secara Istilah Syara', pengertian istimna' menjadi lebih spesifik lagi. Yaitu:
إخْرَاجُ الْمَنِيِّ بِغَيْرِ جِمَاعٍ ، مُحَرَّمًا كَانَ ، كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِهِ اسْتِدْعَاءً لِلشَّهْوَةِ ، أَوْ غَيْرَ مُحَرَّمٍ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِ زَوْجَتِهِ
"mengeluarkan air mani tidak dalam keadaan (untuk) Jima'. Baik itu yang diharamkan seperti istimna' dengan tangannya sendiri karena Syahwat, atau yang tidak diharamkan seperti istimna' dengan tangan istrinya."  (Mughni Al-Muhtaj 1/430)

Para Ulama fiqih menjelaskan bahwa istimna' itu bisa dilakukan dengan media lain selain dengan tangan. Namun para Fuqoha' tidak terlalu jauh membahsa dengan media apa istimna' itu dilakukan. Karena hukumnya tetap sama saja dengan apa yang dilakukan dengan tangan. Hanya saja nantinya yang membedakan itu semua ialah motivasi yang mendasari istimna' itu.

HUKUM ISTIMNA'
Secara garis besar, Ulama tidak ada yang berselih bahwa Istimna' itu jika dilakukan atas dasar Syahwat semata dan tidak ada alasan syari'I lainnya, maka itu haram hukumnya. Seperti orang yang melihat sesuatu yang menggairahkannya, kemudian membayangkannya dan akhirnya ia melakukan prkatek itu.

Dan karena haram, maka pelakunya berdosa. Namun jika tidak karena Syahwat, para Ulama dari 4 madzhab punya perincian masing-masing yang berbeda.

Dan para Ulama juga sepakat bahwa jika itu dilakukan dengan istri atau budaknya, maka tidak ada keharaman atasnya. Karena keharaman Istimta' (merasakan kenikmatan nikah) hanya jika dilakukan kepada selain istri dan budak, seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Dasar pengharaman Istimna' yang hanya karena syahwat ialah:
Pertama:
وَاَلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنْ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
"dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas". (Al-Mukminun 5-7)

Dalam ayat ini secara jelas Allah swt mengharam Istimta' kepada selain istri dan budak. Dan Istimna' adalah bagian dari pada Istimta', merasakan kenikmatan itu. maka Istimna' menjadi haram dengan catatan bahwa Istimna' itu dilakukan bukan karena atau dengan Istri dan budak.

Kedua:
Hadits Nabi saw yang memerintahkan para pemuda yang sudah mempun untuk mencari nafkah serta kebutuhan sebuah pasutri untuk segera menikah. Kemudia Nabi saw memberikan jalan keluar bagi yang belum bisa untuk itu semua dengan jalan puasa

"barang siapa yang tidak mampu untuk itu, maka berpuasalah. Karena itu bisa jadi penjaga dirinya"

Dalam hadist ini, Nabi saw memberikan jalan keluar bagi mereka yang sudah ingin dan tidak kuat menahan nafsu untuk berpuasa walaupun berat. Karena puasa bisa jadi tameng yang kuat untuknya. Tapi Nabi saw tidak memberikan celah sedikit pun untuk membolehkan Istimna', padahal prkatek itu lebih mudah dibanding harus puasa.

Dari Hadits ini, para Ulama berkesimpulan bahwa memang istimna' yang didasari syahwat semata diharamkan.

Pengecualian
Jumhur Ulama sepakat bahwa jika istimna' itu dilakukan atas dasar syahwat semata maka itu jelas keharamannya. Namun jika kondisinya berbeda dan bukan karena syahwat semata, Ulama punya penjelasan yang berbeda:

4 Madzhab Fiqih ini punya tinjauan yang hampir serupa, yaitu Kalau Istimna' itu dilakukan karena memang dorongan syahwat yang besar sekali, yang kalau tidak dituruti akan menyebabkan dia melakukan perzinahan. Maka melakukan praktek istimna' itu dibolehkan, karena melakukan Istimna' jauh lebih kecil dosanya dibanding ia harus berzina.

Kekhawatiran ini yang membuatnya boleh melakukan Istimna', bahkan diwajibkan seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Aabdin dalam hasyiyah-nya. Namun madzhab Maliki punya sedikit penjelasan, yaitu jika memang ia mampu untuk berpuasa maka istimna' tetap haram hukumnya.
(Hasyiyah Ibnu Aabdin 2/399, Al-Majmu' 20/32, Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Kuwait 4/98)

PEJUANG PALESTINA
Terkait dengan berita para pejuang Palestina yang disebutkan dalam portal berita diatas, dan dikaitkan dengan apa yang sudah dijelaskan dalam artikel ini. Para pejuang itu termasuk dalam kategori yang memang dibolehkan untuk melakukan prkatek itu. karena beberapa sebab:

Pertama:
Ayat diatas yang menjelaskan tentang keharaman istimta' itu dikaitkan dengan sebuah syarat, yaitu kepada selain Istri dan budak. Dan apa yang dilakukan oleh para pejuang Palestina itu memang karena dan untuk istri-istri mereka, bukan yang lain.

Dalam kitabnya Al-Um, Imam Syafi'I menjelaskan bahwa keharaman istimta' dan yang didalamnya istimna' itu ada jika dilakukan untuk selain Istri dan budak. Jadi tidak masalah jika itu dikerjakan untuk Istri dan budaknya. (Al-Um 5/94)

Ini juga dikuatkan oleh pendapatnya Imam Ibnu Aabdin dalam Hasyiyah-nya, beliau mengatakan:
إن أراد بذلك تسكين الشهوة المفرطة الشاغلة للقلب وكان عزبا لا زوجة له ولا أمة أو كان إلا أنه لا يقدر على الوصول إليها لعذر قال أبو الليث أرجو أن لا وبال عليه وأما إذا فعله لاستحلاب الشهوة فهو آثم
"kalau itu dilakukan karena memang untuk meredam syahwat yang sangat besar, yang sangat menggangu ketenangan, dan dia adalah orang yang belum beristri dan juga tidak punya budak, Atau Dia Adalah Orang Yang Beristri Namun Tidak Bisa Menggauli Istrinya Karena Sebab Tertentu, faqih Abu Laits mengatakan: aku harap tidak ada dosa baginya, namun jika bukan karena itu semua maka ia berdosa."
(Hasyiyah Ibnu Aabdin 2/399)

Kedua:
Ada Kaidah Fiqih yang mengatakan:
إذا ضاق الأمر اتسع
"kalau keadaannya sempit, maka (hukum) menjadi luwes"

Para pejuang Palestina yang dipenjara oleh Zionis Israel bukanlah seseorang yang dalam keadaan normal dan bisa melakukan apa saja. Mereka orang yang terkukung dalam sebuah bui yang pastinya tidak bisa melakukan pelarian begitu saja.

Dan melihat bahwa salah satu tujuan pernikahan dalam syariah ialah "melahirkan keturunan", maka upaya untuk itu haruslah dilakukan. Dan dalam keadaan ini, melakukan hubungan suami istri untuk tujuan melahirkan keturunan itu sama sekali tidak memungkinkan.

Dan cara yang paling realistis ialah dengan melakukan praktek itu lalu disimpan dalam wadah dan dikrimkan untuk para istri mereka. Pada dasarnya memang praktek Istimna' itu diharamkan, tapi keadaan para pejuang itu menjadikannya boleh untuk melakukan praktek istimna' itu.

Jadi aslinya haram, namun karena keadaan yang "sempit", maka yang awalnya haram menjadi halal. Tapi kehalalan ini tentu saja tidak terbuka sedemikian bebas. Ada batasan dan aturannya.

Toh para Pejuang ini memang melakukannya bukan karena syahwat semata, tapi karena tujuan yang mulia. Toh kalaupun memang karena syahwat, syahwat dengan jalan ini dibolehkan karena memang dilakukan untuk istri sendiri sebagaiman yang dijelaskan oleh Nabi saw tentang orang yang mendatangi istrinya karena syahwat. Dan rasul saw menjawab bahwa itu justru berpahal.

Ketiga:
Melahirkan keturunan memang tujuan pernikahan. Tapi ada tujuan yang lebih tinggi dalam sebuah pernikahan dalam syariah, yaitu "menegakkan syariat Allah swt". Karena dengan melahirkan, akhirnya membuat populasi muslim bertambah.

Dengan populasi muslim yang bertambah, impian penegakkan syariah terbuka lebar dimuka  bumi ini, karena memang yang lahir dari Rahim seorang muslim akan menjadi muslim juga. Karena muslim, ia pastinya akan berjuang meneggakkan syariat agamanya.

Terlebih bahwa daerah Gaza Palestina ialah daerah yang memang sedang membutuhkan amunisi pejuang yang berjiwa militant tinggi. Dan sangat sulit melahirkan generasi muslim militant seperti itu kecuali dari benih seorang muslim yang militant juga.

Dan para pejuang palestina itu telah membuktikan diri mereka sebagai muslim dengan militansi tinggi dalam menegakkan syariat di bumi palestina. Maka sulit dibayangkan jadinya kalau mereka berdiam diri saja, karena itu bisa jadi membuat populasi muslim di tanah palestina makin berkurang.

Wallahu A'lam  
 

Mertua dan Menantu Ahli Fiqih

Sekitar tahun ke-6 Hijriyyah, salah satu Ulama Fiqih terkemuka dari madzhab Hanafi, Imam Muhammad bin Ahmad Al-Samarqondi atau yang biasa dikenal dengan sebutan Al-Samarqondi merampungkan buku Fiqih-nya yang diberi judul "Tuhfatul-Fuqoha" [تحفة الفقهاء]. 

Setelah kemunculannya, buku ini menjadi rujukan penting bagi para penuntut Ilmu dalam masalah Fiqih Hanafi. Bahkan bukan hanya dari kalangan penudkung Hanafi saja, Ulama dari lintas madzhab pun "kepincut" dengan Kitab ini. 

Salah satu Murid beliau yang juga seorang ahli Fiqih bermadzhab Hanafi, Abu Bakr bin Ahmad Al-Kasaani jatuh hati dan "naksir" dengan Kitab gurunya ini. Saking cintanya kepada Gurunya tersebut dan juga Kitab "anyar" beliau ini, mendorongnya untuk mengarang sebuah kitab yang menjadi "syarah" (penjelasan) dari Kitab tersebut. Yang kemudian kitab sayarah itu dinamakan dengan "Bada'I Al-Shona'I" [بدائع الصنائع].

Setelah kitab syarah itu rampung dan selesai dibukukan, sang guru Imam Al-Samarqondi rupanya "naksir" balik dengan kitab karangan muridnya, Imam Al-Kasaani itu yang merupakan Kitab syarah atas Kitabnya "tuhfatul fuqoha".

Akhirnya, Imam Al-samarqondi menikah-kan muridnya (Imam Al-Kasaani) dengan anaknya, Fatimah Binti Muhammad Al-Samarqondi yang juga seorang Faqihah (AHli Fiqih Wanita). Satu-satunya seorang Ahli Fiqih dari kalangan wanita yang namanya sudah tenar seantero Turkistan (Tajikistan sekarang) ketika itu.

Padahal ketika itu, Fatimah yang memang sudah harum namanya, sudah banyak didatangi oleh para petinggi dan pejabat kerajaan Roma (yang muslim tentunya) untuk melamar. Tapi ayahnya, Imam Al-samarqondi menolak anak pejabat itu semua dan menikahkannya dengan muridnya sendiri yaitu Imam Al-Kasaani yang telah mensyarah Kitabnya.

Dan Kitab "Bada'I Al-Shona'I" [بدائع الصنائع] itu sendiri dijadikan Mahar (Mas Kawin) dari Al-Kasaani untuk Fatimah Al-samarqondiyah. Jadi Imam Al-Kasaani men-"syarah" Kitabnya kemudian menikahkan anaknya [شرح تحفته وزوج ابته]

Diceritakan bahwa ketika masih bujang, Imam Al-Kasaani selalu bertanya kepada gurunya, Imam Al-Samarqondi sebelum menuliskan sebuah masalah fiqih atau memberikan fatwa kepada khalayak. Namun setelah menikah, Imam AL-Kasaani selain kepada gurunya, beliau juga meminta ACC untuk memberikan fatwa dalam masalah Fiqih kepada istrinya juga Fatimah yang memang seorang ahli fiqih.

Dan diceritakan juga bahwa Imam Al-Kasaani beberapa kali melarat fatwanya sendiri setelah diberikan "pencerahan" oleh sang Istri Fatimah dalam sebuah masalah Fiqih.

Inilah yang disebut dengan perkawinan Fiqih, karena suami dan istri seorang Ahli fiqih, yang akhirnya membuahkan kolaborasi fiqih apik untuk umat. :D

wallahu A'lam







 

Bibliography Fiqih

Di kampus Syariah yang diadakan oleh RumahFiqih Indonesia, ada kelas yang khusus mempelajari bioghrafi lahirnya pembukuan dan dibukukan-kan-nya disiplin sebuah Ilmu. Dalam hal ini Rumah Fiqih fokus dengan biographi kitab-kitab Fiqih dan Ushul-nya.

Kelas ini disebut dengan istilah Bibliography Litelatur Fiqih. Kalau dalam bahasa Arab disebut dengan istilah "Qowa'im Al-Kutub".

Dalam kelas ini dipelajari bagaimana lahirnya sebuah ilmu dan kemudian itu dibubukan oleh pencetus/penemu atau perumus ilmu itu sendiri, dan bagaimana akhirnya ilmu yang sudan menjadi kitab itu tersebar sampai bisa dinikmati oleh para pencinta ilmu.

Intinya dalam kelas ini, mahasiswa "diharuskan" untuk mengetahui dan akhirnyapun dituntut untuk menghapal ratusan kitab fiqih beserta penulisnya dan tentu dibarengi dengan sejarah bagaimana kitab itu ditulis dan dibukukan.

Dan yang hebatnya lagi, bukan hanya nama kitab dan penulisnya, mahasiswa juga digiring untuk bisa menghapalkan nama Ulama beserta tahun lahir dan tahun wafat. Jadi ketika nama salah satu Ulama saja disebutkan, si Mahasiswa bisa dengan cepat menyebutkan tahun lahir dan juga tahun wafatnya.

Penting ya? Ya. Jelas penting sekali. Karena bagaimanapun seorang Ulama, ketika beliau menuliskan sebuah karyanya, apapun jenis disiplin ilmunya, pastilah gaya penulisannya atau metodenya itu bersinggungan erat dengan lingkungan juga kondisi politik di masa ia hidup ketika itu.

Jadi bisa saja, satu disiplin ilmu yang sama, 2 Ulama penulis disiplin ilmu berbeda manhaj (metode) penulisannya. Entah Bab-Bab nya yang tidak berurutan atau gaya penulisan materinya yang seperti sedang berdiskusi atau sedang berdebat, atau juga sedang memberikan pengajaran kepada muridnya.

Seperti yang kita dapati di Kitab Raudhoh-Nadzir wa Junnatul-Manadzir karangan Ibnu Qudamah dalam masalah Ilmu Ushul fiqih.

Dalam setiap bab di kitab tersebut, Imam Ibnu Qudamah menulis dengan gaya berdebat. Seperti orang yang sedangberadu argumen dengan lawan debatnya. Setiap beliau memaparkan dalil dan argumennya, beliau juga memaparkan argumen kelompok-kelompok yang bersebrangan dengan beliau dalam masalah itu. Kemudia, bantahan itu dibantah lagi oleh Ibnu Qudamah. Jadi persis seperti orang yang berdebat.

Terlepas dari bahwa kitab ini saduran dari Kitab Al-Mustashfa punya Imam Ghozali, Kitab ini (Raudhoh-Nazhir) benar-benar menggambarka bagaima kondisi ilmiah ketika zamannya, yaitu keadaan hingar bingar Ilmuan Filsuf non-islam yang selalu saja mendebati para ilmuan Islam.

Jadi buku itu disiapkan sebagai jawaban atas tuduhan-tuduhan kelompok "antagonis" dalam bab-bab ushul Fiqih Syariah Islam.

Kembali ke Bibliography litelatur Fiqih. Ada seorang mahasiswa yang bertanya seperti kebingungan. Katanya: "bagaimana ya bisa menghapal nama-nama Ulama yang banyak itu dengan nama Kitabnya dan tahun wafat ya?"

Kemudian ia ditanya balik: "kenapa yaa orang2 itu gampang sekali menghapal nama-nama pemain bola eropa?. Bahkan bukan cuma namanya, tapi nomor punggunya, klub apa saja yang pernah dibela, berapa gajinya, apa kebangsaannya, juga siapa nama istirinya" wow.

That's the answer. Nikmatilah karya Ulama sebagaimana kita menikmati sepakbola. :D

Wallahu A'lam
 

Akal dan Wahyu

Sejatinya memang Akal itu tidak pernah mengingkari apa yang datang datang dari wahyu. Akal pasti menerima wahyu, keduanya pasti dan memang bisa berjalan bersama.

Akal tidak pernah mengingkari wahyu, dan wahyu-pun tidak pernah menafikan akal. karena yang menurunkan wahyu, Dia-lah juga yang meciptakan akal, yaitu Allah swt.

Tidak mungkin keduanya diciptakan bertentangan. Kalaupun ada pertentangan antara keduanya, itu hanya fliksi yang tidak nyata wujudnya.

Yang mempunyai akal sehat dan berkeikatan dengan hati yang bersih tidak akan mengingkari wahyu. Wahyu tidak pernah keliru. Kalau dirasa akal ada yang keliru, bukan wahyu yang salah. Itu bisa terjadi karena 2 kemungkinan;

Pertama:
Informasi yang masuk ke akal adalah informasi bohong yang yang sudah pasti keliru. Akhirnya ketika informasi kedua (yang benar) masuk, akal sulit menerima karena informasi sebelumnya (yang keliru) telah masuk lebih dahulu.

Yang seperti ini, sangat mungkin bisa menerima ketika hati masih bisa melihat dan belum tertutup.

Kedua:
Akal yang sudah tertutupi penyakit, karena hati yang tidak pernah mendapat asupan hikmah, takut kepada syariah. Sudah terlalu banyak asupan kebencian dan sinisme terhadap wahyu bahkan tuhan. Na'udzu billah.

Karena itu, pelajari agama Islam ini dengan baik dan benar dari otoritas dan pihak yang valid serta terpercaya. Sebelum bergelut dalam perbandingan agama, dan terjun ke jurang pemikiran silang agama yang rumit.

Hati dan akal yang belum berisi hikmah syariah yang kuat, bukan tidak mungkin pasti terguncang dan terbawa ke lembah relativisme yang hina.

Wallahu A'lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger