Anak Meninggal Lebih Dulu dari Ayah, Apakah Ia Dapat Warisan

Assalamualaykum
Ust. Ahmad

Afwan, ana mau tanya?
Ayah sudah meninggal dunia dan meninggalkan 4 anak laki laki dan 3 anak perempuan, semuanya telah menikah dan punya anak

yang jadi pertanyaan adalah, dari 4 anak laki laki yang punya Hak waris ada diantaranya telah meninggal dunia mendahului sang ayah, apakah hak warisnya masih ada bila anak tersebut meninggalnya mendahului ayahnya, sedangkan anaknya tersebut telah memiliki Istri dan 5 anak laki laki dan 2 anak perempuan, kalo punya hak waris bagaimana perhitungannya,

semoga pertanyaan saya Jelas, jazakulloh khoiron katsiro
Barokallohufiik
Ahmad


Pertama yang harus diketahui bahwa seseorang tidak dapat mendapatkan waris kecuali terdapat dalam dirinya syarat-syarat mendapatkan waris itu sendiri. Dan ulama telah memformulasikan adanya 3 syarat dalam waris, yang kesemuanya ini harus terpenuhi;

1. Meninggalnya Pewaris secara Hak (benar) ataupun secara Hukum (seperti orang yang hilang tanpa kabar, kemudian hakim menghukuminya sebagai orang yang meninggal).

2. Ahli waris dalam keadaan hidup ketika si Pewaris meninggal Dunia.

3. Tidak terdapat dala dirinya hal-hal yang menghalangi waris.

Yang menghalangi waris itu ada 3 macam, yaitu;
[1] Pembunuhan, maksdunya ialah si ahli waris membunuh pewaris. Maka yang seperti ini tidak mendapatkan waris.
[2] Perbedaan agama, jadi kalau ahli waris dan pewaris beda agama, maka tidak ada saling mewarisi diantara mereka.
[3] Perbudakan.

Tiga syarat di atas adalah syarat yang memang disepakati oleh seluruh ulama sejagad raya ini dan tidak ada yang menyilisihnya. Maka kalau salah satu syarat tidak terpenuhi, maka tidak ada perwarisan.

Nah, kalau dari cerita yang disebutkan di atas, maka anak yang mneinggal lebih dulu dari ayahnya (pewaris) tidak termasuk orang yang mnedapatkan warisan. Kenapa? Karena ia tidak ada ketika si ayah (pewaris) meninggal. 

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa syarat waris itu, si ahli waris ada atau hidup ketika si pewaris meninggal. Dan anak itu tidak ada ketika ayahnya meninggal, maka tidak dapat waris.

Karena tidak dapat waris, jatahnya pun tidak ada dan tidak bisa diwakilkan atau digantikan oleh anaknya. Ini menjadi kesepakat ulama 4 madzhab. Apapun kitabnya, kita tidak akan menemukan adanya ahli waris pengganti dalam litelatur fiqih dari dulu sampai sekarang.

Pembagian

Maka pembagiannya ialah harta pewaris jatuh semua ke anak-anaknya itu tadi, yaitu 3 Anak laki-laki dan 3 perempuan. Satu anak laki-laki yang dibicarakan ini tidak masuk dalam ahli waris karena ia sudah tidak ada ketika pewaris meninggal dunia.

Jadi, pembagiannya itu "Li Al-Dzakari Mitlu Hadzdzi Al-Untsayain", laki-laki mendapat 2 jatah dibanding jatah wanita. Masing-masing anak laki-laki yang jumlahnya 3 orang itu mendapat 2/9. Sedangkan anak perempuan yang jumlahnya 3 orang, masing-masing mendapat 1/9. 

Pasal 185 Kompilasi Hukum Islam (KHI) 

Saya mengira dan mungkin perkiraan saya tepat, bahwa munculnya pertanyaan ini karena memang ada salah satu pasal dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menjadi 'kitab suci' di seluruh pengadilan agama Indonesia ini yang menyatakan adanya ahli waris pengganti. Yaitu pasal 185, dan memang pasal ini menjadi boomerang sendiri untuk para pengadil di Indonesia. 

Karena memang ini adalah kitab suci yang wajib ditaati maka seluruh pengadil di Indonesia memakai kitab suci ini dalam keputusan-keputusannya, padahal pasal-pasal dalam KHI ini banyak yang menyelisih syariah. Dan ini juga banyak dikritik oleh para ilmuan-ilmuan syariah sejak kemunculannya tahun 1991 sampai saat ini. apalagi yang terdapat dalam pasal 185 yang penuh kontriversial ini.

Bunyi pasal 185 KHI yang berisi 2 ayat seperti ini,

(1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada sipewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173.

(2) Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Ahli Waris Pengganti Banyak Kerancuan

Perlu diluruskan di sini bahwa dalam syariah seseorang tidak bisa dikatakan sebagai "Pewaris" kecuali ia sudah meninggal. Karena ia yang mewarisi harta, dan seseorang tidak bisa mewarisi harta kecuali ia sudah meninggal.

Dan tidak bisa seseorang disebut "Ahli Waris" kecuali jika ia hidup da nada ketika si pewaris meninggal. Karena Ahlli waris itu artinya orang yang menerima warisan, bagaimana mungkin ia menjadi ahli waris kalau ia sudah meninggal dan tidak ada.

Redaksi pasal 185 ayat 1 dan 2 diatas benar-benar aneh dan membingungkan, Kata-kata "Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada sipewaris……" apa maksudnya? Bagaimana bisa ia jadi ahli waris kalau dia sudah meninggal? Dan bagaimana pula dia bisa jadi pewaris kalau dia masih hidup? Ini kan pasal yang aneh.

Setelah penelitian, rupanya panitia penyusun memasukkan pasal ini mengambil dari pemahaman seorang ahli hukum adat bernama Hazairin dalam beberapa karya tulisnya yang memang concern kepada hukum-hukum adat di Indonesia yang kemudia diselaraskan dengan hukum syariat.

Tapi sayangnya dalam argument yang dipakai untuk menjadi sandaran dasar pasal ini tidaklah kuat. Bahkan terkesan memaksakan. Mau dikompromikan bagaimanapun, pasal ini tidak bisa diterima nalar syariah.

Argumen Hazairin

Dalam bukunya, Hukum kewarisan Bilateral, Hazairin berargumen untuk menguatkan 'ijtihad'-nya terkait ahli warispengganti ini dengan ayat 33 surat an-Nisa yang diartikan secara serampangan oleh beliau. Tanpa merujuk kepada ahli tafsir atau ahli fiqih sekalipun, beliau memberikan pemahaman bahwa ini adalah ayat yang melegalkan adanya ahli waris pengganti, padahal tidak begitu. 

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ

"bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan Mawali (pewaris-pewarisnya)".

Beliau (Hazairin) menafsirkan kata Mawali di ayat ini sebagai pengganti, ya berarti pengganti ahli waris. Padahal tidak ada satu ahli tafsir atau pun ahli fiqih yang mengatakan demikian.

Kalau kita lebih teliti lagi, bahwa ayat ini bukan menunjukkan adanya ahli waris pengganti, akan tetapi ayat ini adalah ayat yang menjadi naskh (penghapus) kebiasaan orang jahiliyah yang sejak dulu saling mewarisi satu sama lain tanpa aturan yang jelas.

Mereka (jahiliyah) ketika itu, jika keduanya saling suka walaupun bukan anak atau kerabat, maka itulah yang menjadikannya saling mewarisi, sebagaimana dijelaskan oleh para Mufassir. Tanpa kenal siapa kerabat siapa anak siapa orang tua. Yang penting, yang disukainya siapapun itu, maka itulah yang mewarisi. Sampai-sampai ada istilah yang masyhur ketika itu:

"Damii Damuka, 'Adzmi Adzmuka, Taritsuni wa Aristuka", yang artinya: "darahku adalah darahmu, tulang ku adalah tulangmu, kau mewarisiku dan aku mewarisimu".

Nah, kebiasaan ini yang kemudian dihapus oleh syariah, maka turun ayat ini sebagai pemberitahuan bahwa masing-masing dari kalian telah ada ahli warisnya yang akan menerima harta pusaka setelah si empunya meninggal. 

Lalu dimana dijelaskan ahli waris itu? Setelah ayat ini turun, kemudian turun ayat yang mejalskan siapa yang mewarisi dan siapa yang tidak pada ayat 11, 12, 13 dan ayat 176 surat an-Nisa'. (lihat tafsir Al-Thobari 8/275)

Semakin jelas akhirnya pasal ahli waris pengganti ini. tapi sayangnya masih saja pasal ini digunakan oleh para hakim dan akhirnya menjadi boomerang sendiri bagi mereka dan juga orang-orang yang mengadukan perkaranya ke pengadilan agama.

Tidak sedikit akhirnya banyak keponakan dan paman berebut harta waris di pengadilan karena sebab pasal yang rancu ini. yang berujung pada retaknya tali persaudaraan antara keluarga.

Wallahu a'lam bishshawab

Ahmad Zarkasih, Lc.
 

Membiarkan Orang Lain Berbuat Haram?

Ini Lanjutan dari artikel sebelumnya

Belajar Bijak Dalam Ikhtilaf dari Ulama Salaf


Mungkin akan dikatakan: "Bagaimana bisa membiarkan mereka mengerjakan yang haram?". Perkataan seperti, atau lebih tepatnya pertanyaan seperti wajar ditanyakan, jika kita meyakini keharaman sesuatu, sedangkan yang lain tidak dan mengerjakan.

Tapi ini menjadi pertanyaan balik, "haram menurut siapa?", "apakah semua ulama sepakat keharamannya?".

Dalam masalah ini, ada kaidah fiqih yang mana ulama memegang itu demi tidak terjadi perkara saling menyalahkan satu sama lain. Yaitu:

لا ينكر المختلف فيه وإنما ينكر المجمع عليه
"Tidak boleh menginkari perkara yang (keharamannya) masih diperdebatkan, tapi (harus) menginkari perkara yang (keharamannya) sudah disepakati"[1]

Ini dijelaskan secara gamblang oleh Imam Al-Suyuthi dalam kitabnya yang memang ditulis untuk membahasa kaidah-kaidah fiqih, Al-Asybah wa Al-Nazhoir, bahwa kita tidak bisa seenaknya menyalahkan orang lain yang melakukan sebuah perkara yang haramnya masih diperdebatkan. Mungkin saja, ia berpegang dengan pendapat yan tidak mengharamkan itu, berbeda dengan apa yang kita pegang.

Akan tetapi jika keharaman sesuatu itu sudah disepakati, seperti haramnya zina, mencuri, korupsi, riba, meninggalkan sholat, dan sejenisnya, maka tidak ada kata kompromi lagi. Kalau dia sudah disepakati haram, sudah tidak ada lagi toleransi untuk mereka yang mau melakukannya.

Di sini ulama fiqih sangat memperhatikan keberlangsungan hidup harmonis antar sesama, dengan tidak menyalahkan siapa yang berbeda dengan apa yang kita yakini, selama memang apa yang diyakininya itu bersandar kepada pendapat ulama lain yang juga mutamad.  

Wallahu a'lam


[1] Al-Asybah wa Al-Nazhoir li Al-Suyuthi 158
 

Belajar Bijak Dalam Ikhtilaf dari Ulama Salaf

Dalam litelatur fiqih, kita pasti akan mendapatkan (Ikhtilaf) perbedaan-perbedaan pendapat di kalangan ulama, baik itu lintas madzhab atau juga dalam madzhab itu sendiri. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam masalah fiqih yang memang tempatnya ulama berijtihad.

Konsekuensi yang harus muncul ketika adanya ijtihad ialah adanya perbedaan itu sendiri. Jadi memang perbedaan dalam masalah fiqih ialah sesuatu yang ada dan bukan diada-ada-kan. Jadi sebelum lebih jauh mendalami fiqih, seorang harus siap menghadapi perbedaan itu dan bersikap bijak dalam perbedaan itu.

Imam Syathibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat, meriwayatkan qoul Imam Qatadah yang mana qoul ini sangat masyhur sekali di kalangan para fuqaha dan pembelajar fiqih:

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الِاخْتِلَافَ لَمْ يشمَّ أنفُه الْفِقْهَ
"Siapa yang tidak tahu (Tidak mengakui) Ikhtilaf, ia sama sekali tidak bisa mencium Fiqih"[1]

Yang Benar Hanya Pendapatku!

Tapi justru ada saja beberapa orang yang saya atau kita dapati, banyak dari mereka yang seakan-akan tidak menerima adannya perbedaan itu dan memaksakan semua orang sependapat dengan apa yang ia yakini, padahal itu masalah fiqih yang belum ada kata sepakat diantara para ahli fiqih.

Mereka hidup di lingkungan yang sebenarnya tidak buta dengan syariah, yang kemudian orang-orang di lingkungan tersebut sudah terbiasa dengan salah satu pendapat ulama dalam masalah fiqih, dan itu yang menjadi landasan mereka dalam beribadah.

Lalu mereka datang dengan pendapat baru, yang sebelumnya tidak dikenal oleh lingkungan tempat ia tinggal lalu mengumbarnya dengan sambil mengatakan apa yang dilakukann selama ini oleh para penduduk setempat ialah keliru dan salah, bahka itu menyalahi sunnah.  

Dengan bangganya mereka mengatakan itu dan sudah pasti perkara semacam ini menimbulkan gesekan yang amat berbekas diantara masyarakat sehingga akhirnya perpecahan tidak bisa lagi dihindari. Hanya karena ada beberapa orang yang tidak paham betul dengan masalah fiqih, akhirnya persatuan yang sudha sekian lama dibangun roboh seketika.

Padahal memperkuat persatuan dan menutup jalan perpecahan jauh lebih baik, dan semua orang sepakat ini. caranya dengan tidak menimbulkan gesekan di masyarakat dengan hal-hal fiqih yang statusnya masih dalam perdebatan, lalu menonjolkan perbedaannya di depan khalayak dangan bumbu "Ini pendapat yang sesuai Sunnah!".

Secara langsung mengatakan bahwa yang selama ini dilakukan oleh sekelilingnya ialah jauh dari kata sunnah, lebih dalam lagi bahwa yang dilakukan khalayak sebelumnya adalah menyelisih sunnah, padahal mereka melakukan itu bukan tanpa dasar, tapi justru dengan dasar dalil, hanya saja si pembawa berita "sunnah" itu yang tidak tahu adanya perbedaan pendapat.

Berbeda pendapat bukanlah sesuatu yang keliru dan disalahkan, akan tetapi jika perbedaan itu dintonjolkan depan khalayak yang sudah paten memakai satu pendapat, bukan tidak mungkin terjadi perpecahan. Apalagi sampai keluar statemen bahwa "ini yang benar, dan yang dilakukan selama ini menyalahi sunnah!", tentu yang seperti ini rawan membuahkan perpecahan.

Ulama Fiqih Sadar Persatuan Walau Berbeda Pandangan

Kalau mau berbeda ya silahkan saja, hanya perlu dijaga jangan sampai menonjolkan itu depan khalayak yang akhirnya menimbulkan gesekan. Bukankah seornag muslim dituntut untuk menjaga harmonisasi persatuan antara sesama muslim?

Mungkin beberapa orang lupa atau tidak tahu bahwa ada kaidah fiqih yang sangat mengambarkan sekali bagaimana ulama fiqih itu benar-benar peduli akan terwujudnya persatuan umat walaupun dalam bingkai perbedaan pendapat.

الخروج من الخلاف أولى وأفضل
"Keluar dari perbedaan adalah lebih utama dan lebih baik"[2]

Ini dijelaskan oleh Imam Taajuddin Al-Subki dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazoir. Ketika membahas ini dalam kitabnya, beliau seperti menasihati bahwa perbedaan dalam masalah fiqih itu sesuatu yang tidak bisa dihindari, maka kita lah yang harusnya cerdas dalam menyikapi itu.

Bagaimana?

Dengan tidak menimbulkan sesuatu yang akhirnya malah melahirkan silang pendapat tajam di depan khalayak, yang padahal perkara itu bukanlah perkara yang sampai pada pada level Ijma', itu masalah yang terbukan ijtihad di dalamnya.

Dengan tidak juga menonjolkan itu depan khlayak yang punya pendapat berbeda, dan tetap hidup seirama dengan mereka. Toh tidak ada yang salah mengikuti alur khalayak dalam masalah fiqih, kenapa harus memaksakan satu pendapat yang akhirnya malah jadi boomerang lalu merobohkan persatuan yang sudah ada.

Saking agungnya kandungan kaidah ini, Imam Taajuddin Al-Subki mengatakan banyak ahli fiqih yang menyangka bahwa kaidah ini adalah kaidah fiqih yang telah disepakati oleh seluruh ulama dan menjadi 'Ijma'.

Maka mengikuti khalayak dengan tujuan maslahat, yaitu persatuan tentu jadi pilihan yang solutif, bukan malah memperuncing keadaan. Bukankah kita sudah banyak menerima contoh itu dari para pendahulu (salaf) kita?

Sahabat Abdullah bin Mas'ud

Sahabat Abdullah bin Mas'ud dengan tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdholnya ialah sholat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang sholatnya sempurna 4 rokaat, beliau mengatakan itu adalah mukholafatul-aula [مخالفة الأولى] (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut sholat sempurna 4 rokaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas'ud ditanya: "kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mnegikutinya sholat 4 rokaat?". Ibn Mas'ud menjawab: [الخلاف شر] "berbeda itu buruk!".[3]

Karena tahu, bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut, Ibnu Mas'ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisih pandangannya sendiri.

Imam Malik bin Anas

Tentu juga kita tahu cerita tentang Imam Malik yang ditawari oleh Khalifah Al-Manshur untuk menjadikan bukunya "Al-Muwatho'" sebagai kitab Negara yang menjadi pegangan hukum bagi rakyatnya. Namun Imam malik menolak langusng tawaran itu:

يا أمير المؤمنين  لا تفعل هذا فإن الناس قد سبقت إليهم أقاويل ، وسمعوا أحاديث ، ورووا  روايات ، وأخذ كل قوم بما سبق إليهم ،
"wahai Amirul-mikminin, jangan lakukan itu! Orang-orang sudah terbiasa dengan pendapat-pendapat yang mereka dengar sebelumnya, mereka telah mendengar hadits-hadits, mereka juga telah melihat periwayatan, dan setiap kaum telah melakukan ibadah sesuai pendapat yang mereka ambil sebelumnya" [4]

Imam Malik tidak memaksakan itu karena khawatir nantinya akan terjadi perpecahan kalau nantinya penduduk dipaksa untuk mengikuti Imam Malik sedangkan mereka telah beribadah sesuai pendapat ulama yang mereka ikuti sebelumnya.

Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi'i

Kita juga tahu secara detail bagaiman Imam Syafi'i meninggalkan qunut subuh ketika menjadi Imam untuk para pengikut Imam Abu Hanifah yang tidak melihat adanya kesunahan qunut dalam sholat subuh, di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah.

Padahal Imam Syafi'i-lah pelopor qunut subuh dan mnejadikannya sunnah muakkad dalam sholat subuh yang jika meninggalkannya, maka sunnah diganti dengan sujud sahwi. Tapi beliau rela meninggalkan itu, karena tahu dimana ia saat itu.

Imam Ahmad bin Hanbal

Kita juga tahu betul bahwa Imam Ahmad bin Hanbal punya pendapat yang mengatakan bahwa orang mimisan, yang keluar darah dari hidungnya itu batal wudhunya, sama seperti orang yang berbekam.

Akan tetapi ketika ia ditanya: "bagaimana jika imam yang sedang mengimai dan anda dalam barisan makmum, lalu ia keluar darah (luka) dan tidak berwudhu lagi, apakah anda tetap sholat di belakangnya?", Imam Ahmad menjawab:

كيف لا أصلي خلف الامام مالك وسعيد بن المسيب
"bagaimana mungkin aku tidak mau sholat di belakang Imam Malik dan Sa'id bin Al-musayyib?"[5]

Indikasinya bahwa Imam Malik dan Ima Sa'id bin Al-Musayyib berbeda pandangan dengan Imam Ahmad dalam Masalah orang yang keluar darah dari tubuh, apakah batal wudhu atau tidak? tapi Imam Ahmad tidak menyalahkan mereka dan justru tetap mengikuti sholat di belakangnya. Hebat bukan?


[1] Al-Muwafaqat 5/122
[2] Al-Asybah wa Al-Nazhoir li Al-Subki 1/111
[3] Fathul-Baari 2/564
[4] Hujjatullah Al-Balighoh 1/307
[5] Abad Al-Ikhtilaf fi Al-Islam 117
 

Ketika Nenek Menyusui Cucunya

Mungkin sekarang bukan hal yang aneh lagi kalau ada orang tua yang menyusui cucunya, melihat banyaknya ibu-ibu muda, bahkan sangat muda yang sudah melahirkan anak, tapi masih sangat disibukkan dengan pekerjaan.

Sulusi yang paling sering diambil ialah menitipkan anak itu ke orang tuanya. Selaikn aman, cara ini juga dinilai sebagai cara yang efisien dan juga ekonomis, karena tidak ada orang tua yang meminta 'digaji' ketika merawat cucunya sendiri.

Dan ternyata, menitipkan anak ke orang tua juga tidak terbatas pada masalah merawat ketika si ibu muda ini bekerja. Akan tetapi lebih dari itu, tidak jarang ada orang tua yang dititipkan cucunya itu malah menjadi ibu susu bagi cucunya.  

Ya. Karena bagaimanapun kebutuhan bayi akan asi sangat besar, sedangkan si ibu muda tidak punya waktu dan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan bayinya tersebut, maka jadilah sang nenek sebagai ibu ASI buat cucunya.

Ada lagi mungkin factor yang umum, walaupun jarang, yaitu ibu muda yang tidak punya ASI maksimal. Mungkin saja karena kesehata si ibu muda ini yang tidak prima sehingga tidak bisa menghasilkan ASI yang baik buat anaknya.

Lalu bagaimana syariah memandangnya?

Sebenarnya tidak ada yang mesti dipermasalahkan jika ada seorang nenek menjadi penyuplai ASI bagi cucunya, dan tidak ada yang melarang pula. Syariah membolehkan siapapun itu untuk menjadi ibu ASI bagi bayi, walaupun bukan anaknya, termasuk sang nenek. Ini mirip perkara donor ASI yang banyak dilakukan belakangan ini.

Hanya saja memang yang harus diperhatikan ialah konsekuensi syariah setelahnya, sebagaimana juga yang terjadi dalam masalah donor ASI. Tentu akan ada beberapa hukum ke-mahram-­an yang berubah setelah adanya hubungan 'ekslusif' antara bayi dan neneknya.

Karena penyusuan itu adalah salah satu factor yang merubah status ke-mahram-an. Nabi saw bersabda:

يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ
"diharamkan karena sebab penyusuan apa-apa yang diharamkan karena nasab" (Muttafaq 'Alayh)

Tidak Boleh Menikah Dengan Sepupu

Maka status nenek itu berubah menjadi ibu karena ia menjadi anak susuannya, dan bibi-bibinya yang merupakan anak dari neneknya itu pun derajatnya menjadi saudari-saudarinya karena ia menyusu kepada ibu dari bibi-bibinya.

Dan kakeknya pun berubah menjadi seperti ayahnya (jika memang susu yang dihasilkan nenek itu dari si kakek ini), karena ia telah menyusu kepada istri kakeknya.

Mungkin yang disebutkan tadi itu tidak terlalu banyak berpengaruh, karena disusui atau tidak oleh neneknya, mereka semua tetap jadi mahrom karena status mereka ialah bibi, dan bibi itu mahram bagi keponakannya.

Yang berubah total status ke-mahram-annya ialah sepupu-sepupunya. Awalnya mereka adalah bukan mahram, tapi karena ia menyusu kepada sang nenek, sepupu-sepupunya itu berubah menjadi mahram, karena status mereka sekarang menjadi keponakan bagi si anak yang menyusu itu.

Ketika ia menyusu kepada nenek, statusnya menjadi sama dengan bibi-bibinya, yaitu anak dari nenek. Karena ia menjadi anak dari nenek, maka cucu-cucu nenek yang lain (yang merupakan sepupunya) menjadi mahram baginya, karena susuan ini.

Yang awalnya boleh menikah, menjadi tidak boleh karena sudah mahram. Awalnya harus menutup aurat di depannya, sekarang menjadi  boleh, karena statunya telah berubah menjadi mahram, akibat menyusu kepada sang nenek. Dulu tidak boleh berkhalwat dengannya, sekarang menjadi boleh. Dulu membatalkan wudhu jika bersentuhan, tapi sekarang tidak.  

Mewarisi Atau Tidak?

 Ini yang sering ditanyakan banyak orang perihal anak sesusuan atau saudara sesusuan, apakah mereka itu selain menjadi mahram, mereka juga mendapatkan waris sebagaimana anak atau saudara kandung lainnya?

Jawabannya jelas tidak! menyusui itu hanya merubah status menjadi mahram, tapi tidak memasukkan ke dalam jajaran ahli waris yang akan mewariskan nantinya ketika ada salah satu kerabat meninggal.

Karena sebab-sebab waris itu ada 3:
[1] Pernikahan (Suami-Istri)
[2] Nasab (keturunan)
[3] Perbudakan,
Dan penyusuan tidak termasuk dalam 3 tersebut. Yang berubah setelah penyusuan itu ialah hanya status ke-mahram-an saja, tidak untuk yang lainnya.

Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim (10/19) menjelaskan:

وأجمعت الأمة على ثبوتها (الحرمة) بين الرضيع والمرضعة وأنه يصير ابنها يحرم عليه نكاحها أبدا ويحل له النظر اليها والخلوة بها والمسافرة ولا يترتب عليه أحكام الأمومة من كل وجه فلا يتوارثان ولا يجب على واحد منهما نفقة الآخر ولا يعتق عليه بالملك ولا ترد شهادته لها ........ فهما كالأجنبيين في هذه الأحكام
"Umat ini telah ber'ijma' atas ke-mahram-an antara yang menyusui dan disusui, dan ia menjadi anaknya yang haram dinikahi selamanya, dan ia boleh melihat kepadanya (auratnya) dan berkhalwat dengannya serta berpergian bersamanya. Dan tidak semua hukum per-ibu-an berlaku (akibat susuan), seperti bahwa ia tidak mewarisi satu sama lain, dan tidak wajib saling menafkahi, dan tidak membebaskan perbudakannya, dan juga tidak tertolak kesaksian keduanya untuk satu sama lain…..mereka dalam hukum-hukum ini seperti 2 orang asing" .

Wallahu a'lam   
 

Bingung, Ber-Cadar atau Tidak?

Salam..
Ustadz Zarkasih, Saya Putri, saya mengenakan cadar di pertengahan tahun 2012, saat saya masih di Jakarta.. Mengenakannya kerana untuk melindungi diri, dari marabahaya juga polusi Jakarta.. (Ini niat awal saya), tapi kemudian itu menjadi azam untuk terus bercadar.

Hanya saja dalam beberapa kesempatan, saya masih tetap membuka cadar, karena memang kondisinya tidak memungkinkan saya untuk bercadar. Seperti di kantor tempat saya bekerja. Kalau dari rumah saya bercadar, tapi ketika sampai kantor, saya harus melepasnya lagi. Dan begitu seterusnya.

Apa yang saya lakukan ini termasuk dosa, ustadz? Bagaimana keadaan saya ini yang masih belum 'kaaffah' dalam berhijab?"



Untuk urusan cadar, putri bisa cari sendiri soal dalil-dalil siapa yang mewajibkan dan siapa yang tidak mewajibkan di web rumahfiqih.com (tempat saya beraktifitas), insyaAllah membantu. tapi karena memang masalah yang diajukan cuma dalil, saya -dengan tidak bermaksud menggurui- akan menyampaikan beberapa pandangan saya terhadap apa yang ditanyakan.

Saya termasuk orang yang mengikuti pendapat ulama bahwa cadar bukanlah kewajiban, dan ini pendapatnya jumhur (mayoritas ulama) bahkan tidak juga pada derajat sunnah. jadi buat saya, cadar itu bukan kewajiban bukan juga kesunahan. itu boleh-boleh saja bagi mereka yang mau menjaga atau berhati-hati atau dengan alasan yang lain juga.

Yang disepakati oleh ulama sejagad raya iala, wanita harus menutup auratnya, yaitu seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. madzhab Hanafi menambahkan bahwa boloeh juga memperlihatkan kedua tumit kaki. Ya sebatas ini pembatasan aurat wanita dalam pandangan ulama mayoritas sejak zaman Nabi saw sampai hari ini, tidak ada yang menyelisih.

Buat saya, cadar bukan salah satu simbol agama Islam. karena memang itu tadi, Islam tidak mewajibkan cadar, bahkan tidak menyunnahkannya. tapi bagi mereka yang ingin berhatu-hati ya silahkan saja.

Nah, terkait masalah yang ditanyakan, saya rasa dengan pendahuluan diatas sepertinya sudah tergambar jawaban yang akan saya berikan.

Batasan Menutup Aurat

Kalau yang ditanyakan itu 'kaaffah' atau tidak? maka kita lihat dulu definisi 'kaffah' ini. Yang ditanyakan ialah 'kaffah' dalam memakai hijab. Maka kembali ke hukum hijab dan batasan mana yang harus ditutupi?

Karena ia disebut 'kaffah' ialah jika semua syarat dan syariatnya terpenuhi. syariat hijab wajib dilakukan, dan bagian yag harus ditutupi pun sudah tertutupi, lalu mau 'kaffah' yang bagaimana lagi?

Dalam syariah, pakaian wanita itu menjadi syar'i dengan tiga kriteria:
[1] Laa Yashif [لا يصف]
[2] Laa Yasyif [لا يشف]
[3] Laa Yaktasyif [لا يكتشف]

[1] Laa Yashif (Tidak Mensifati)

Tidak mensifai maksudnya tidak mensifati tubuh. denagn bahasa yang lebih dekat yaitu tidak membuat lekukan-lekukan tubuh terlihat. atau dengan bahasa yang lebih akrab yaitu pakaian wanita tidak ketat.

[2] Laa Yasyif (Tidak Transparan)

Ini jelas, bahwa tidak ketat saja tidak cukup, tapi juga harus yang tidak terlihat oleh mata luar. jadi pakaiannya harus dengan bahan yang memang bukan transparan yang bisa terlihat apa yang ada di balik bahan. tapi harus dengan bahan yang bisa menutup mata untuk mengakses apa yang ada di balik bahan. 

[3] Laa Yaktasyif (Tidak terbuka)

Maksudnya tidak terbuka ialah tidak terbuka auratnya. maka yang namanya aurat itu harus ditutupi, dan kadar yang harus ditutupi dari tubuh wanita itu sudah dibahas oleh para ulama dengan kesimpulan bahwa semua tubuh wanita itu aurat dan harus ditutupi kecuali muka dan telapak tangan. ini yang disepakati oleh seluruh madzhab fiqih.

Jadi, jika ada wanita yang memang berpakaian dengan memenuih syarat yang disebutkan di atas, ya selesai urusan! ia telah mempraktekkan apa yang sering disebut denagn pakaian syar'i. ini juga sudah berarti 'kaaffah' dalam berbusana bagi wanita.

Tentukan Pilihan!

Hanya saja yang jadi tantangan kemudian ialah, bagi putri harus menentukan sikap sekarang, apakah tetap mau bercadar atau tidak. dan keduanya tidak ada yang tercela atau bahakan membuahkan dosa. karena dalam syariat dosa itu dihasilkan jika meninggalkan kewajiban atau melakukan sebuah keharaman. dan dua pilihan di atas bukanlah sebuah keharaman, karena memang sesuai denga tuntutan syariah.

Bergaul Eklusif Dengan Syariah

Tinggal di kondisi Indonesia yang memang belum sepenuhnya bisa menerima budaya arab, (buat saya, cadar itu hanya budaya arab saja), kita sebaikanya menyesuaikan diri dengan lingkungan selama itu tidak menabrak dinding syariah.

Karena bagaiamanpun, syariah ini tidak turun untuk menghancurkan kultru dan budaya warga setempat. jika memang itu baik, syariah membuka tangan untuk itu, tapi jika itu melanggar aturan syariah, maka tidak ada kompromi lagi.

Memperhatikan lingkungan setepmat dan sadar dengan dengan apa yang terjadi di luar itu lebih baik dibanding harus tetap keukeuh dengan pilihan kita sendiri yang sejatinya syariah pun tidak menuntut itu.

Toh ini juga masalah khilaf yang sejak dulu masih diperdebatkan oleh ulama, jadi mengambil salah satunya bukan lah sebuah aib apalagi dosa. (dan saya sudah jelaskan mana pendapat yang menjadi pilihan saya)

Malah tanggapan negatif yang dihasilkan dengan makai cadar itu jauh lebih besar dibanding positif yang diterima. ingat juga bahwa kita hidup tidak hanya bergandengan dengan syariah, tapi disekeliling kita banyak yang juga berbaur dan menjadi bagian dari kehidupan sosial kita.

Mengurung diri hanya bergaul dengan syariah bukan pilihan tepat. maksudnya bergaul eklusif dengan syariah ialah, hanya memperhatikan syariah itu sendiri dengan pemahaman sendiri tapi mengindahkan dampak negatif serta opsitif yang timbul dari lingkungan dengan penerapan (yang dianggap) syariah itu.

Ini justru menimbulkan efek negatif untuk syariah itu sendiri, bukan syariahnya ayang negatif, tapi dampak yang dihasilkan akibat penerapan yang kurang baik itu yang menajdi masalah. tapi tetap pilihan ada tangan putri, memilih yang mana kah? jika sudah jatuh pada pilihan tersebut, yakin dan jalankan sambil berdoa minta dikuatkan dan diberi istiqomah oleh Allah swt.

Solusi Terbaik, Jaga Sikap dan Prilaku

Dan memakai cadar, (buat saya) bukan solusi terbaik dalam menjaga kehormatan seorang wanita di lingkungan yang heterogen seperti Indonesia ini.

Jauh dari itu, menjaga kehormatan seorang wanita berangkat dari dalam diri untuk menganggungkan wanita itu sendiri terhadap dirinya. mau diapakan jiwa ini tergantung bagaimana sikap ia terhadap dirinya.

Maka kehormatan itu juga bergantung erat sekali dengan sikap dan tingkah laku yang keluar dari diri kita sendiri. walaupun tidak bercadar, tapi jika ia menjaga lisan denan baik, tidak berbicara yang macam-macam, bersikap ssewajarnya, tetap memberi wibawa pada diri sebagai wanita, berhati-hati dalam bersikap dan berinteraksi kepada orang lain, baik itu wanita atau lelaki, itu menjadi pilihan yang solutif bagi seorang wanita.

wallahu a'lam

 

Memasak Babi untuk Majikan Non-Muslim

Saya sudah kerja lebih dari 2 tahun untuk orang cina, sehari-hari memasak babi untuk mereka tapi saya tidak makan. Saya tahu babi itu haram. Dulu tidak pernah terfikir, tapi akhir-akhir ini jadi terfikir tentang harta yang saya dapatkan. Kemudian juga menjadi sulit, karena makanan di kulkas tercampur kadang-kadang. Berfikir untuk mencari majikan muslim. Bagaimana dengan masalah saya ini?


Masalah seperti ini memang sering kali ditanyakan banyak orang yang memang sudah lama terjun dalam dunia pekerjaan, lebih khusus lagi mereka yang bekerja untuk orang non-muslim. Atau bekerja dalam perusahaan milik non-muslim, seperti pembantu rumah tangga dan semisalnya.

Sejatinya tidak ada masalah dengan bekerja membantu orang non-muslim, karena memang syariah ini membolehkan kita bergaul dan ber-muamalah­ dengan orang non-miuslim sekalipun. Yang penting ialah kita tahu mana batasan syariahnya, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

Kalau kita bukan sejarah, tidak sedikit kita akan mendapati muamalah (hubungan) Nabi saw dengan orang-orang kafir. Entah dalam hal perbiagaan atau juga hutang piutang, bahkan Nabi saw pun pernah diriwayatkan menggadaikan baju besinya guna meminjam uang dari orang Yahudi.

Walaupun memang tentu akan jauh lebih baik jika kita bekerja untuk majikan muslim yang punya kultur dan budaya yang sama. Selain bisa tenang berkerja, kita juga pasti mendapat ketenangan ibadah. Karena orang muslim tahu apa yang harus dilakukan oleh muslim lainnya dalam ibadah dan muamalah. Dengan demikian ia akan memebrikan ruang yang luas untuk kita beribadah dan sejenisnya dengan nyaman tanpa khawatir dan was-was.

Akan tetapi dalam hal ini, ketika yang menjadi majikan itu bukanlah orang muslim, kita dituntut untuk menjaga akidah tentu yang didahulukan, lalu kemudian menjaga kinerja kita sebagai ppekerja mereka dalam hal urusan rumah tangga.

memang selain harus menjadi pekerja yang professional, yang menghargai pekerjaan dan siapa yang menjadi majikan kita, seorang muslim juga harus bisa memanfaatkan situasi dimana ia tinggal untuk sarana ibadah.

Bagaimana?

Dengan menunjukkan kualitas kerja yang baik. Itu menjadi sarana dakwah kepada mereka yang paling mudah untuk kita lakukan. Dengan bekerja sesuai SOP yang ada (selama tidak menyalahi syariah), tentu pekerjaan itu nantinya akan berbekas kepada mereka yang membayar kita. Setidaknya itu menjadi gambaran bahwa orang muslim itu baik kerjanya, tentu ini menjadi daya tarik untuk dia mengenal Islam lebih jauh. Dan bukan suatu hal yang mustahil, orang non-muslim itu akan tertarik mempelajari Islam dan memeluk Islam berkat profesionalnya kita.

Masakan Babi

Sejatinya ini bukan masalah besar, kalau kita lebih jeli melihatnya. Masalah memasakan mereka babi itu bukanlah sesuatu yang dilarang, karena babi bukanlah barang haram untuk mereka. Dan kita bekerja untuk mereka, ya konsukuensi yang harus dilakukan ialah kita (pastinya) akan melakukan sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka.

Nah, karena memang urusan dapur kita yang memegangnya dan mengaturnya. Tentu kita punya kuasa untuk menaruh mana yang harus dipisahkan dan mana yang harus digabungkan. Tentu seorang pembantu akan jauh lebih mengerti dalam hal ini, maka sepertinya kekhawatiran akan tercampurnya daging babi yang haram dan daging yang halal untuk muslim tidak menjadi masalah besar. Karena semua ada di tangan kita, kita yang mengatur, kita yang mesti pintar dimana menempatkan itu semua.

Kalaupun harus disamakan tempatnya, taruhlah itu dengan pembatas yang nyata, seperti plastic yang membungkus. Makanan-makanan haram dibungkus dengan plastic yang rapat bahkan super rapat sehingga tidak tercampur denga daging yang halal, bahkan minyaknya sekalipun.

Pun harus dimengerti bahwa dalam syariah, menyentuh najis itu bukanlah sesuatu yang diharamkan. Kita tidak berdosa menyentuh sebuah najis, baik itu daging babi, atau kotoran sekalipun. Hanya saja ada konsekuensi syariahnya, yaitu harus dibersihkan dengan tata cara pembersihan sesuai syariah.

Mencari Majikan Muslim Lebih Baik

Seperti yang sudah disinggung sejak awal bahwa memang akan jauh lebih baik mencari majikan yang punya iman sejalan. Bekerja untuk orang muslim akan jauh lebih menenangkan hati dibanding dengan orang non-muslim.

Selain masalah ibadah, kita pun tidak perlu susah-susah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, karena bagaimanapun yang namanya muslim itu sama di mana saja. Hanya berbeda dalam beberapa hal yang terkait budaya dan adat setempat. Tapi masalah ibadah, semuanya sama.

Menjadi tenang hati ini, dalam bekerja dan juga dalam ibadah. Maka diusahakan untuk mencari majikan yang sejalan imannya dengan kita. Dan tidak perlu langsung keluar dari pekerjaan yang lama ini jika khawatir kita tidak puna pemasukan yang bisa memenuhi kebutuhan kita dan keluarga, kalau kita berhenti bekerja.

Tapi kalau memang tidak khawatir, dan punya simpanan selama masa jobless¸yang tinggalkan pekerjaan dan mencari pekerjaan yang baru atau majikan baru.

Wallahu a'lam
 

Membeli Barang Sitaan Gadai, Bagaimana Hukumnya?

Pertama yang harus diperhatikan dalam jual beli ialah rukun jual beli itu sendiri, karena jika salah satu rukun jual beli itu rusak atau tidak terpenuhi, maka rusak juga akadnya.

Kalau sudah rusak akadnya, maka kepemilikannya pun tidak diakui dalam syariah. Dengan bahasa lain, bisa dikatakan bahwa ia menggunakan barang yang haram digunakan, karena itu bukan miliknya. Karena bagaimanapun seorang muslim tidak bisa memanfaatkan suatu barang yang bukan miliknya kecuali dengan izin si pemilik aslinya yang sah.

Dan salah satu rukun jual beli itu ialah Al-Mabii' [المبيع] (Barang dagangan), namun tak selesai sampai situ. Al-Mabii' pun harus memenuhi syarat yang kalau syarat itu tidak terpenuhi, maka jual belinya tidak sah. Ya tidak sah karena kerusakan ada pada akad.

Salah satu syarat Mabii' yang berkaitan dengan masalah ini ialah mabii' itu adalah milik si penjual secara sah. Maka tidak sah jual beli dengan barang yang bukan milik penjual, kecuali ia adalah wakil atau wali dari si pemilik barang itu.

Setelah ini kita lihat status barang gadai yang disita itu, siapa pemiliknya dan siapa penjualnya?

Biasanya barang sitaan gadai itu ialah barang yang dijadikan jaminan oleh si peminjam untuk berhutang, namun sudah sampai tempo untuk melunasi hutang, si peminjam atau penghutang tidak mampu membayarnya. Maka konsekuensinya ialah barangnya menjadi sitaan. Dan untuk mendapatkan untung, si penerima gadai atau pemberi hutang ini menjual barang sitaan itu tanpa sepengetahuan si peminjam atau yang mengadaikan barang itu.

Jadi dalam hal ini yang menjual ialah si penerima gadai. Yang jadi pertanyaan, apakah barang itu memang benar miliknya, sehingga ia seenaknya bisa menjualnya?

Pegadaian Tidak Merubah Status Kepemilikan Barang

Ini jelas keliru, padahal dalam syariah kepemilikan barang itu tidak pernah berpindah dari tangan ke tangan yang lain kecuali dengan 4 sebab:
[1] Jual Beli,
[2] Hibah,
[3] Wasiat,
[4] Waris.
Tidak ada yang namanya pegadaian itu menjadikan si pemberi hutang atau penerima gadai menjadi pemilik barang yang digadaikan.  

Dalam gadai, status kepemilikan barang ialah tetap pada si pihak yang mneggadaikan barang, yaitu pihak peminjam hutang. Apapun bentuknya, gadai tidak merubah status kepelikan barang.

Ya syariah memang membolehkan barang tersebut dimanfaatkan oleh si penerima gadai. Misalnya orang berhutang dan menggadaikan mobil, maka si penerima gadai boleh memanfaatkan itu untuk kegiataan sehari-harinya, namun ia juga punya kewajiban merawat barang itu, seperti membiayai bensinnya. Tapi tetap status barang itu ialah milik si peminjam atau yang memberikan gadai.

Maka jika sudah datang tempo pembayaran, si peminjam berhak mendapatkan kembali barang gadainya itu lalu membayar atau melunasi hutang yang telah ia ambil dari si penerima gadai.

Lalu Kalau Si Peminjam Tidak Bisa Melunasi Hutang?

Kalau si peminjam tidak bisa melunasi hutang, itu bukan sebab yang menjadikan status kepemilikannya pindah. Akan tetapi yang harus dilakukan ialah melapor kepada hakim bahwa si peminjam tidak bisa melunasi hutangnya padahal sudah jatuh tempo.

Maka si hakim yang akan memaksa si peminjam untuk menjual barang gadaiannya itu dan melunasi hutangnya dari hasil penjualannya itu. Kalau tetap tak terpenuhi dengan hasil penjualannya, si peminjam tetap punya tanggunan kepada si pemberi pinjaman.

Kalau si peminjam tidak mau menjualnya, maka hakim yang akan menjual itu dan hasilnya akan dibayarkan kepada si pemberi pinjaman dengan jumlah yang telah dipinjam. Kalau ada sisa, maka itu dikembalikan kepada pemilik barang, yaitu si peminjam.

Atau bisa juga, si hakim memerintahkan si pemberi pinjaman yaitu orang yang menerima gadai tersebut untuk menjual barang tersebut dan hasilnya diambil sebagai pelunasan hutang itu. Dan tentu ini sepengetahuan si peminjam atau yang menghutang itu.

Adanya Perjanjian di Awal Akad

Lalu bagaimana jika kedua belah pihak telah melakukan perjanjian, dan masing-masing sepakat untuk menjual barang gadainya jika si peminjam tidak bisa melunasi hutang di saat jatuh tempo?

Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu' (13/214) mengatakan:

إذا اشترط المتراهنان شرطا نظرت، فإن كان يقتضيه كأن شرطا أن يباع المرهون في الدين عند حلول الدين أو أن يباع بثمن المثل أو على أن منفعته للراهن صح الشرط والرهن، لان العقد يقتضى ذلك
"Jika kedua pelaku gadai (pemberi gadai dan penerima gadai) memberikan syarat, maka syarat itu harus ditinjau lebih dulu. Kalau syarat itu memang sejalan dengan akad gadai dan tidak merusaknya, seperti menjual barang gadai ketika jatuh tempo atau menjualnya dengan harga semisal (setimpal) atau manfaatnya untuk si pemberi gadai, maka syarat dan gadainya sah. Karena akad gadai menuntut itu (sejalan dengan akad gadai)."

Jadi yang harus diperhatikan dalam jual beli barang sitaan gadai ialah, bahwa si pemilik barang itu ialah tetap si pemberi gadai. Dan ketika barang itu dijual, itu mesti:
[-] Sudah Jatuh tempo
[-] Dengan sepengetahuan si pemilik barang, yaitu pemberi gadai (peminjam).

Jadi si pemberi hutang, atau penerima gadai tidak bisa seenaknya menjual tanpa ada pengetahuan dari si pemilik barang, yaitu si peminjam. Karena kalau ia menjualnya tanpa sepengetahun si peminjam yang itu ialah pemilik barang, jual belinya tidak sah, karena ia menjual barang yang bukan miliknya.

Wallahu A'lam    
 

Panggilan Jablay = Menuduh Zina! Benarkah?

Dalam syariah, bukan hanya zina yang mendapat hukuman (Hadd) cambuk, akan tetapi menuduh orang lain sebagai pezinah atau menuduhnya berzina pun termasuk kedalam pelanggaran syariah yang tidak hanya berbuah dosa akan tetapi juga berbuah hukuman (Hadd) cambuk bagi si pelaku tuduh.

Dalam pembahasan Fiqh Jinayah, menuduh orang lain berzina atau sebagai pezina itu disebut dengan istilah Al-Qadzaf [القذف], yang secara bahasa berarti melempar. Akan tetapi secara istilah, Al-Qadzaf berarti menuduh zina. Ya melempar tuduhan kepada orang lain bahwa ia pezina.

Jadi kalau ada orang yang dengan sengaja menuduh saudara muslim lainnya sebagai pezina atau berzina, ia akan terkena hukum cambuk itu. Dan ini telah menjadi kesepakatan ulama sejagad raya[1]. Bisa ia bebas dari ancaman cambuk dengan syarat mendatangkan 4 orang saksi yang menguatkan tuduhannya tersebut. Dalilnya jelas:  

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik   dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka  delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur : 4)

Kalau berbicara hukuman di dunia, tentu tidak bisa kita asal mecambuk mereka yang dengan asal menuduh orang lain berzina, akan tetapi apapun itu, orang yang telah menuduh orang lain sebagai pezina atau berzina, itu merupakan dosa besar. Maka itu ulama mengharamkan praktek qadzaf yang tanpa saksi ini.

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah  lagi beriman , mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar (QS. An-Nur : 23)

Dalam hadits yang shahih riwayat Imam Al-Bukhori, Nabi saw pernah menyebutkan ada 7 dosa besar yang bisa mengghancurkan manusia itu sediri, salah satunya ialah menuduh orang lain berzina atau sebagai pezina.

Khusus Untuk Lelaki?

Wajar bilan muncul pertanyaan, apakah itu hanya untuk lelaki yang menuduh wanita berzina? Karena memang dalam ayat itu yang dihukum cambuk ya laki-laki yang menuduh wanita baik-baik. Jadi, kalau wanita menuduh lelaki, atau lelaki menuduh lelaki lainnya, apakah itu termasuk qadzaf?

Ya! Itu juga qadzaf yang berbuah dosa dan hukuman cambuk. Dan ini telah menjadi Ijma' ulama bahwa siapapun yang menuduh saudara muslim lainnya dengan zina, maka ia juga terkena hukum qadzaf ini.[2]

Imam Al-Syaukani menjelaskan kenapa hanya penuduhan laki-laki terhadap wanita yang disebutkan dalam ayat? Hikmahnya, karena memang wanita selalu menjadi korban itu, padahal syariah telah meninggikan derajat wanita. Dan penuduhan terhadap wanita baik-baik itu yang sangat hina, benar-benar mencederai syariat, dan ini adalah bentuk pembelaan syariat terhadap wanita.[3]

Bentuk Qadzaf

Bentuk qadzaf yang menghasilkan hukuman cambuk bagi pelaku tuduh itu ada 2 macam, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama fiqih termasuk Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah Al-Mujtahid;

[1] Menuduh berzina, atau sebagai pezina.

Maksudnya menuduh seseorang dengan redaksi kata yang menunjukkan bahwa ia pezina. Contohnya, memanggil seseorang dengan sebutan pezina, seperti "wahai Pezina!", "dasar kau pelacur", dsbg.

[2] Menafikkan atau menyangkal keabsahan nasab.

Maksudnya ialah menafikkan keabsahan nasab seseorang kepada ayahnya atau kepada dirinya sendiri. Seperti seorang ayah yang berkata kepada anaknya: "Kamu bukan anakku!", itu berarti si ayah menuduh istrinya berzina.

Jadi kalau ada seorang muslim yang melakukan satu diantara 2 jenis qadzaf di atas, maka ia harus terkena hukuman cambuk dan pasti berdosa besar sampai ia benar-benar bisa menghadirkan 4 orang saksi sebagai penguat tuduhannya.

Syarat Maqdzuf [مقذوف] (Yang Tertuduh)

ini juga yang perlu diketahui bahwa menuduh saja belum bisa membuat penuduh terkena hukuman qadzaf, tapi ada syarat-syarat yang memang harus terpenuhi pada diri si qaadzif [قاذف] (penuduh) dan juga si maqdzuf [مقذوف] (tertuduh).

Syarat qaadzif itu cukup 3; Baligh, Berakal, dan ikhtiyar (tidak terpaksa). Jadi kalau ada orang Islam atau non-Muslim yang sudah baligh dan berakal menuduh seorang muslim dengan zina, ia mesti terkena hukuman qadzaf.

Sedangkan syarat maqdzuuf ialah; Islam, Baligh, Berakal, dan 'Iffah [عفة]. Yang dimaksud dengan iffah itu sendiri ialah menjaga diri, artinya ia adalah orang baik-baik yang bisa menjaga kehormatan dirinya sendiri dengan isitiqomah menjaga perilaku dan menutup auratnya.

(Ini adalah syarat-syarat yang memang disepakati oleh ulama, masih ada beberapa syarat yang tidak disepakati, yang sepertinya tidak mungkin dijelaskan mendetail dalam forum ini.)

Kalau syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada hukum qadzaf. Akan tetapi bagaiamanpun, walaupun tidak ada hukum qadzaf, berkata kotor dan menuduh orang lain dengan tuduhan yang buruk juga itu sebuah dosa. Memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk juga termasuk dosa, bahkan dosa besar.
    
Gurauan/Panggilan "Jablay" = Qadzaf ?

Lalu menjadi pertanyaan kemudian, melihat banyaknya acara-acara hiburan di televisi sekarang ini, serta lawakan yang terkadang tidak sedikit dari para pelaku memanggil lawan mainnya dengan panggilan koto yang punya konotasi kotor, seperti "Jablay", atau "wanita murahan!", "cabe-cabean", dsbg.

Atau mungkin itu juga yang terjadi dalam percakapan dan gurauan kita sehari-hari dengan kawan atau sahabat, yang bisa saja keluar dari mulut kata-kata yang memang mengindikasikan bahwa itu berarti pezina atau berzina. Apakah itu termasuk qadzaf?

Yang harus diketahui ialah bahwa qadzaf itu tidak berlaku jika tidak ada tuduhan, dan tuduhan itu tidak disebut tuduhan jika tidak berupa kata-kata yang keluar dari mulut, atau dengan kata lain "redaksi". Ya! Jadi qadzaf itu terjadi kalau ada redaksi qadzaf itu sendiri, yang salam bahasa syariah disebut dengan istilah Shighah [صيغة].

Dan ulama telah membagi redaksi (shighoh) qadzaf itu menjadi 3 jenis:
[1] Shighoh Shariih [صريح] (jelas/tegas)
[2] Shighoh Kinayah [كناية] (kiasan)
[3] Shighoh Ta'ridh [تعريض] (sindiran)

Redaksi yang shorih ya jelas dan tegas, yang mempunyai arti tidak ambigu, hanya satu arti, yaitu zina!. Tidak ada perdebatan dalam masalah ini, yaitu kata "Pezina!", atau "kau telah berzina!". Untuk redaksi yang ini, semua ulama sepakat bahwa pelaku tuduh dengan redaksi shorih ini terkena hukuman had cambuk kalau memang tidak bisa membawa saksi.

Redaksi kinayah ialah redaksi yang mempunya arti ganda, bisa berarti zina dan juga bisa berarti selainnya. Seperti panggilan seseorang kepada yang lain dengan sebutan; "Ya fahisy [فاحش] (pelaku perbuatan kejis)", atau juga "ya Faajir [فاجر] (orang yang berlaku dosa hina).

Redaksi Ta'ridh itu redaksi kata yang menyindir, ulama mencontohkannya dengan kalimat seperti ini; "ibuku bukan pezina!", atau "aku bukan anak zina!". Redaksi kalimat ini ialah sindiri kepada lawan bicara bahwa kalau saya bukan anak zina, berarti ia yang anak zina. Itu berarti ia menuduh ibu lawan bicaranya itu ialah pezina.

Jablay, cabe-cabean, Pecun

Maka, kalau kita kembali ke permasalahan awal, kata-kata Indonesia yang berindikasi zina seperti Jablay, cabe-cabean, terong, pecun, itu bukanlah kata yang shorih untuk zina. Yang jelas-jelas zina ya kata zina itu sendiri. Sedangkan kata-kata yang disebutkan tadi ialah redaksi kata kinayah (kiasan).

Orang bisa dengan mudah mengatakan orang lain jablay, tapi dengan kata pezina, orang harus berfikir 100 kali untuk mengatakan itu. Karena bagaimanapun otak orang Indonesia juga telah di-set bahwa kata itu berimplikasi buruk, baik bagi dirinya atau juga diri orang yang menjadi objek.

Bagaimana Hukum Redaksi Kinayah?

Kalau yang shorih, ulama tidak berbeda pendapat tentang itu, hukumnanya jelas yaitu ia terkena hukuman had cambuk di dunia, dan besar dosanya yang akan ia tuai di akhirat nanti. Akan tetapi, untuk redaksi kinayah (kiasan), ulama 4 madzhab berada pada satu suara, yaitu tidak ada had cambuk bagi si penuduh.[4]

Ia tidak terkena hukuman qadzaf dengan redaksi kiasan, akan tetapi tetap ia berdosa, karena bagaimanapun itu adalah kata-kata kotor yang tidak bisa dikelaurkan sembarangan oleh seseorang kepada saudaranya sendiri.

Karena hukuman Hadd cambuk itu hanya berlaku jika memang ada bukti nyata jelas dilakukan oleh si pelaku, yang jelas ya hanya kata dengan redaksi yang shorih itu tadi, yaitu zina. Dengan kata selain itu mempunyai ihtimal (kemungkinan) arti berbeda.

Imam Al-Sarakhsi dari kalangan Hanafiyah mengatakan, kalau seandainya itu di-Hadd cambuk, berarti itu mendirikan had dengan qiyas (menganalogikan redaksi kinayah dengan redaksi shorih), dan itu tidak mungkin, karena had tidak bisa dibangun dengan qiyas (peng-analogian).[5]

Selama itu punya kemungkinan arti yang berbeda, berarti ini tidak bisa menjadi bukti yang kuat untuk dikenakan had cambuk.

Hukuman Ta'ziir [تعزير]

Setelah semua sepakat kalau ia tidak terkena hukuman qadzaf, akan tetapi ulama 4 madzhab punya rincian yang berbeda-beda dalam pembahasan qadzaf dengan redaksi kinayah ini.

Semua madzhab ini sepakat bahwa orang yang melakukan qadzaf redaksi kinayah, ia tidak terkena hukuman apapun, apalagi hukuman cambuk qadzaf. Akan tetapi, statusnya ia tetap berdosa, karena telah mengeluarkan kata tidak layak kepada saudaranya sendiri.

Dan ini yang memang menjadi perangai seorang muslim, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw, yaitu: yang bisa menjaga tangannnya dari berbuat buruk, dan menjaga mulutnya dari berkata kotor serta menghina saudara lainnya.    

Dan karena ini melukai orang lain, maka hukuman bagi si pelaku ialah hukaman Ta'ziir; yaitu hukuman yang diserahkan kadarnya kepada hakim, menurut 4 madzhab selain madzhab Hanbali. Maka di sini hakim punya wewenang untuk menghukum si pelaku sesuai kadar pelanggarana yang dilakukan.[6]

Entah itu dipenjara atau dikenakan denda atau juga dengan yang lainnya. Yang terpenting ialah hukuman itu sesuai dengan falsafah sanksi dalam syariah, yaitu [1] Sesuai Dengan Kadar Pelanggaran, [2] Berefek jera baginya dan bagi yang lain.

Mungkin dalam hukum konvensional ini disebut dengan istilah pencemaran nama baik.

Buktikan Dengan Sumpah

Madzhab Maliki dan Syafi'I punya rincian lain soal ini. Karena pelaku menuduh dengan redaksi kinayah yang punya kemungkinan makna berbeda dengan zina, atau mungkin bermaksud untuk tidak menuduh zina. Maka si pelaku diwajibkan untuk bersumpah (yamin) dihadapan Hakim.

Benarkah ia mengatakan demikian untuk menuduh zina atau tidak? buktikan dengan sumpah! Kalau sumpahnya itu bukan untuk menuduh zina, maka ia selamat dari hadd dan terkena hukuman ta'zir atas pelanggaran verbalnya itu, akan tetapi kalau ia bermaksud dengan itu tuduhan zina, maka ia layak mendapat hadd.[7]

Kalau tidak mau bersumpah, menurut madzhab Maliki, orang ini harus dipenjara dan dipaksa bersumpah. Tetap akan terus dipenjara sampai ia mau bersumpah atas kata-kata kotornya itu, apakah bermaksud qadzaf atau bukan?.[8]

Wallahu a'lam


[1] Bidayah Al-Mujtahid 692
[2] Tafsir Ibn Katsir 6/13
[3] Fath Al-Qadir 3/178
[4] Al-Mabsuth 9/119, Al-Mudawwanah 4/387, Mughni Al-Muhtaj 3/369, Al-Mughni 8/221
[5] Al-Mabsuth 9/119
[6] Al-Mabsuth 9/119, Al-Mudawwanah 4/387, Mughni Al-Muhtaj 3/369
[7] Mughni Al-Muhtaj 3/369
[8] Al-Mudawwanah 4/387
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger