Konfrensi Internasional Tentang Fatwa, Belum Menjawab Masalah Besar Indonesia

pelaksanaan Konfrensi Internasional tentang "Fatwa" yang diselenggarakan 3 hari lalu, 24-26 desember hasil kerja sama kementrian Agama dan Muslim World League (Robithoh 'Alam Islamy), tidak bisa dikatakan membuahkan hasil dan menjawab tantangan fatwa di INdonesia ini.

pasalnya banyak target-target tidak tercapai. dan masalah-maslah yang banyak terjadi di Indonesia tentang fatwa dan urgensinya itu, juga sampai konfrensi berakhir tidak menemukan jawaban yang "pas". semua masih mengambang.

pelaksanaan konfrensi yang dihadiri para mufti dari 22 negara, yang kebanyakan negara-negara di Asia tersebut, belum berhasil memecahkan masalah "unik" sebuah negara ber-penduduk muslim terbesar di-dunia, Indonesia ini.

dari 3 hari pelaksanaan, pertanyaan dan kegundahan para audiens itu berkutat pada satu masalah besar yang sejak berdirinya Indonesia pun masalah ini belum juga terpecahkan: yaitu

INDONESIA TIDAK PUNYA MUFTI 'AAM
yang dimaksud Mufti 'Aam ialah: seorang Mufti atau lembaga yang menjadi SATU-SATUnya panutan dalam hal rujukan masalah syariah dan sebagai penjawab masalah-masalah syariah komtemporer yang terjadi.

Dan karena beliau atau lembaga tersebut hanya satu, akhirnya masyarakat muslim Indonesia ini, mau tidak mau menjadi MAU mengikuti fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut.

Dan memang yang berlaku di negara-negara muslim lain di seluruh dunia ini seperti itu. Mereka hanya punya rujukan satu lembaga fatwa yang benar-benar dijalankan karena memang satu-satunya.

Di Eropa, yang berkumpul didalam puluhan negara hanya mempunyai SATU lembaga Syariah bersama, yaitu MAJMA’ AL-FIQH AL-AURUBA (Akademi Fiqih Eropa). Dan fatwa-fatwa yang dikeluarkannya pun menjadi rujukan muslim eropa, dan mereka mentaati itu. Bahkan dalam beberapa hal, keputusan majma’ tersebut menjadi landasan hukum di pengadilan yang dikhususkan untuk muslimnya saja.

Kalaupun ada, ya itu ada di saudi yang mempunyai lembaga Fatwa 2, yaitu Majma’ Fiqih milik Robithoh dan Lembaga Fatwa Lajnah Daimah (a.n. Dewan Ulama Besar Saudi). Pun kedua lembaga tersebut berjalan seiringan, lebih banyak maslahatnya dari pada masalahnya. Karena semua bekerja sesuai kebutuhan masyarakat.

Yang terjadi di negeri kita tercinta ini sejak Indonesia Merdeka, kita sama sekali tidak punya lembaga itu! Indonesia memang rajin bikin lembaga-lembaga dan organisasi tapi kurang sedikit memperhatikan tujuan dan ekektifitas lahirnya lembaga tersebut.

Ada lembaga fatwa dari ornganisasi ini, lembaga organisasi yang “situ” juga punya lembaga fatwa. Yang lembaga persatuan sebelah “sono” juga punya dewan yang mengurusi fatwa. Organisasi “pribumi” juga ngga mau kalah, ia bikin juga lembaga syariah.

Parahnya fatwa-fatwa agama yang dikeluarkan dari masing-masing organisasi itu itu semua saling bersebrangan dan saling berlawanan. Perbedaannya bukan lagi perbedaan “Tanawwu’i” (variatif) tapi sudah mencapai perbedaan yang bersifat “tanaqud” (berlawanan). Contoh yang paling dekat dan paling santer dibicarakan yaa fatwa “rokok” dan penentuan awal Ramadhan dan Syawal..Semua tahu....

Dan anggota masing-masing organisasi tersebut keukeuh menjalankan fatwa organisasi sendiri-sendiri. Bayangkan, seorang menganggap suatu itu haram namun pekerjaan itu dilakukan oleh teman sebangkunya depan muka sendiri!. Akhirnya sulit untuk mewujudkan persatuan.

Jadi kita butuh “persatuan fatwa”, caranya??? Mmmm mesti berpikir ratusan kali bahkan ribuan kali untuk memutuskan fanatisme organisasi yang banyak melekat di dada masing-masing muslim Indonesia ini.

Karena fanatisme selamanya tidak bisa menjadikan sebuah bangsa bersatu. Tapi selama penulis hidup di Indonesia, ada dua hal yang bikin Indonesia bersatu; Sepakbola dan Bencana Alam.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menjadi tokoh utama dalam konfrensi ini, karena MUI sebagai representatif dari Kementrian Agama RI., pun tidak bisa dikatakan sebagai lambaga Fatwa satu-satunya. Lembaga yang mengatasnamakan Indonesia ini tidak bisa atau belum bisa berdiri sebagai lembaga pemersatu, tentu banyak hal yang melatar belakangi itu tersebut.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada MUI, saya mangatakan bahwa makalah dan persentasi yang dibawakan pertama kali oleh KH. Ma’ruf Amin tentang profil MUI di Indonesia juga urgensinya, benar-benar banyak celah yang bisa menjadi bahan perdebatan panjang.

Mulai dari “Ulama” yang mengisi di jajaran MUI, serta tekanan pemerintah akan MUI yang semua orang tahu itu, dan juga kedudukan MUI yang belum/tidak jelas dalam struktur negara Indonesia ini, apakah dia lembaga resmi fatwa atau bukan. Pun ketika ada penanya, dan memperdebatkan itu, ketua MUI itu tidak menjawabnya. Yaaa begitulah....

Dan ketika masalah itu dilemparkan kepada para pembicara yang mayoritas semuanya dari perwakilan Majma’ Fiqh, mereka terheran-heran mendengar masalah itu. Bagaimana bisa satu negara muslim dipimpin oleh puluhan lembaga fatwa yang berbeda dalam masalah syariah.

Mereka yang mayoritas belum pernah berkunjung ke Indonesia ini menjadi kebingungan, hehe. Jadinya konfrensi Cuma jadi ajang pertemuan dan silaturahmi para Ulama saja, tapi belum menjawab masalah tuan Rumah. PR besar.


Rekomendasi Fatwa. Baca DISINI
 

Birrul-Walidah

Imam Al-Bukhori dalam kitabnya "Al-Adab Al-Mufrod" pernah meriwayatkan
sebuah kisah seorang pembunuh yang datang kepada Ibnu Abbas untuk
meminta bertaubat. Ketika itu Ibnu Abbas sedang bersama muridnya 'Atho
bin Yasar.

Datanglah lelaki pembunuh itu dan berkata kepada Ibnu Abbas: "wahai
sepupu Rasulullah saw, aku pernah melamar seorang gadis, namun ia
menolak untuk menikah dengan ku. Kemudian datang laki-laki lain yang
melamar dan ia terima. Akhirnya mereka berdua menikah....

Aku terbakar cemburu yang becampur amarah. Lalu aku bunuh perempuan
itu! Wahai Abdullah, apakah aku masih bisa bertaubat?"

Kemudian Ibnu Abbas bertanya: "apakah Ibu-mu masih hidup?"

"Tidak. Beliau sudah wafat"

Ibnu Abbas melanjutkan: "bertaubatlah kepada Allah, perbanyak
istighfar dan kerjakan semua amal sholeh yang kau mampu!"

Kemudian pergilah si lelaki itu. Setelah pergi 'Atho bin Yasar
bertanya kepada Ibnu Abbas, "wahai guru. Kenapa kau tanyakan tentang
ibunya, sudah wafat atau masih hidup? Ia datang untuk bertaubat, apa
hubungannya dengan ibu nya yang masih hidup atau sudah wafat?"

Ibnu Abbas menjawab: "Demi Allah! Aku tidak mengetahu amalan yang
paling dekat dan paling dicintai Allah selain Berbuat baik kepada Ibu
(birrul-walidah)"
(Al-Adab Al-Mufrod hal. 15)

Setelah menceritakan ini, sheokh sholeh Al-maghomisy (Imam Besar
Masjid Quba) mengatakan bahwa Berbuat baik kepada IBu bisa menjadi
cara untuk menghapus dosa, bahkan dosa besar!

Bukan hanya itu, ia juga menjadi media untuk mendapatkan hidayah dan taufiq.

Wallahu A'lam
 

Apakah Fatwa Wajib Ditaati?


Perlu diketahui sebelumnya, bahwa disamping fatwa itu ada juga istilah yang mempunyai arti sama dengan fatwa namun berbeda konsekuensinya, itu dinamakan dengan Qodho’, yaitu keputusan seorang Hakim (Qoodhi’) dalam sebuah mahkamah atau pengadilan.

Nah sifat qodho’ ini berbeda dengan fatwa. Qodho’ inilah yang bersifat mengikat dan mempunyai ketetapan hukum yang mutlak wajib ditaati, tidak bisa dihiraukan begitu saja. Dan syariat inipun mengakui ketetapan sebuah qodho’, yaitu keputusan yang diserahkan kepada hakim untuk memberikan kejelasan hukum suatu masalah.

Terbukti bahwa dalam syariat ini ada istilah hukuman “Al-Ta’zir” yaitu hukuman yang sepenuh diserahkan kepada seorang Hakim terhadap seorang yang bersalah. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. insyaAllah dikesempatan yang lain kita bisa bicarakan qodho.

Tapi beda ceritanya kalau kita berbicara fatwa. Ulama tidak mengatakan bahwa fatwa itu sesuatu yang mengikat, fatwa hanya penjelasan terhadap hukum suatu masalah syariah, akan tetapi sifatnya tidak mengikat. Artinya boleh dikerjakan, pun boleh juga tidak dikerjakan.

Imam Nawawi (676 H) mengatakan: (وفتواه لا يرتبط بها إلزام بخلاف حكم القاضي)“fatwanya seorang Alim/Ulama itu tidak mengikat suatu keharusan, berbeda dengan keputusan hakim (qodhi’)”. (Adabul-Fatwa Li An-nawawi hal. 20)

Sama seperti yang dijelaskan oleh Imam nawawi,  Imam Al-Qurofi (684 H), salah satu petinggi Ulama dari kalangan mazhab Al-Maliki pun mengatakan demikian. Bahwa fatwa itu memang sama dengan qodho akan tetapi, ia berbeda dalam bebrapa hal,

diantaranya bahwa fatwa itu tidak mengikat, ia hanya sebuah informasi tentang hukum syar’i, berbeda dengan hukum yang dikerluarkan oleh seorang hakim (qodhi) yang disebut dengan qodho’. Itu harus dilaksanakan dan mengikat kewajibannya atas ia yang dijatuhi hukum oleh si hakim.
(Anwarul-Buruq Fi Anwa’ Al-Furuq 4/112)

Imam Ibnu Qoyyim Al-jauziyah (751 H) dalam kitabnya “I’lam Al-Muwaqqi’in”, menjelaskan bahwa fatwa memang mempunyai kesamaan dengan qodho’, yaitu keduanya sama-sama informasi akan kejelasan sebuah hukum. Tapi keduanya mempunyai 2 perbedaan;

Pertama: Fatwa itu tidak mengikat, ia hanya sebuah produk ijtihad, boleh diterima dan boleh juga tidak. Berbeda dengan qodho, ia mengikat dan harus ditaati.

Kedua: fatwa itu berlaku secara umum, untuk si Mufti dan juga Mustafti. Akan tetapi qodho’ itu hanya berlaku untuk orang yang dihakimi oleh hakim (qodhi) saja, tidak untuk yang lainnya.
(I’lam Al-Muwaqqi’in 1/90)

Jadi kesimpulannya ialah bahwa fatwa itu bersifat tidak mengikat dan boleh saja ditinggalkan. Ketika seseorang bertanya kepada ulama, lalu ulama itu menjawab/berfatwa, maka fatwa itu menjadi pilihan baginya.

Ia bisa mengambilnya dan mengamalkannya, dan ia juga bisa meninggalkannya, atau meminta fatwa lain dari ulama lain, yang bisa saja berbeda dengan yang awal.

FATWA BISA JADI KETETAPAN HUKUM
Tapi tentu saja, masalahnya tidak seperti yang dibayangkan. Karena boleh ditinggalkan lalu fafwa ulama diacuhkan begitu saja. Tidak demikian. Ada beberapa hal yang membuat fatwa itu menjadi sebuah hukum yang mengikat dan harus dikerjakan.

Pertama: ketika tidak seorang mufti kecuali satu. Maka fatwa Ulama tersebut menjadi wajib dikerjakan oleh para penduduk tersebut. Ataupun ada mufti lain tapi fatwanya sama dengan yang pertama.

Kedua: jika seorang mufti berfatwa dengan IJma’ ulama, maka harus dikerjakan, karena seorang muslim tidak boleh menyelesihi Ijma’.

Ketiga: Jika Fatwa itu dikuatkan dengan sebuah keputusan hakim (qodhi) maka kedudukannya bukan lagi menjadi fatwa biasa, tapi menjadi ketetapan Hakim yang wajib di kerjakan.
(Ensiklopoedia Fiqih Kuwait 32/50)

Wallahu A’lam.

Nah yang jadi masalah sekarang ialah, apakahn MUI itu sebuah lembaga hukum yang memang mendapat mandat negara untuk memberika suatu ketetapan hukum syariat Islam di Indonesia ini?

Atau MUI hanyalah sebuah wadah perkumpulan Ulama yang berkumpul guna mamberikan pencerahan dan pengetahuan agama bagi penduduk Indonesia ini. Jadi apa yang dihasilkan itu hanyalah sebuah Fatwa yang tidak berkekuatan hukum tetap?

Kembali lihat profil MUI.
 

Apa Itu Fatwa?


Dan seandainya (kita mulai berandai-andai), kalaupun memang benar ada fatwa MUI yang mengatakan demikian; haram mengucapkan selamat natal untuk umat kristiani, atau apapun bentuk fatwanya. Yang jadi pertanyaan apakah fatwa itu mengikat kita dan mengharuskan kita untuk mentaatinya?

Kita kembali dulu apa itu fatwa sebenarnya. Para ulama mengartikan bahwa Fatwa itu ialah  “penjelasan akan hukum syariat berdasarkan dalil-dalil syar’i, dan dikeluarkan sebagai jawaban atas pertanyaan, dan pertanyaan itu ialah bisa bersifat nyata (terjadi) atau pun tidak” (Ensiklopedia Fiqih Kuwait 32/20)

Mayoritas ulama mendefinisikan fatwa seperti itu, walaupun dengan redaksi yang berbeda-beda. Tapi yang terpenting ialah bahwa fatwa itu tidak lahir sendiri, fatwa muncul karena ada pertanyaan yang berkembang. Dan fatwa itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar syariah agar menjadi jelas dan tidak menjadi bias.

Dan memang ini terkait dengan tugas para Ulama yang mengerti akan dalil-dali syari’i beserta madlul-nya untuk memberikan pencerahan seputar hukum-hukum syariat yang banyak menjadi pertanyaan di khayalak.

Orang yang berfatwa dalam bahasa Arab disebut dengan “Mufti”, dan yang meminta fatwa disebut dengan “Mustafti”. Mufti ialah orang yang sangat berkompeten dalam bidang syariah, beliau menguasai dan sangat mendalami nash-nash syariah serta madlul syar’i-nya. Kalau bukan seorang Ulama, tidak lah bisa ia mengeluarkan sebuah fatwa, karena fatwa itu produk syariat yang dihasilkan dari intrepetasi nash-nash syari’i.

Karena seorang Mufti berbicara soal hukum syariat, kalau berbicara hukm syariat tidak bisa asal bicara dan memberikan jawaban. Pun para ulama salaf diriwatkan bahwa mereka sangat berhati-hati soal fatwa ini, tidak asal sembarang mengumbar fatwa. Imam malik dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ia menjawab 36 pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan jawaban yang sama semua,”Saya Tidak tahu” (Laa Adriy).

Sahabat Abu Musa Al-‘Asyari pernah ditanya beberapa masalah tentang hukum waris, dengan rendah diri ia mengatakan kepada si penanya: ”pergilah kau kepada Ibnu Mas’ud, ia lebih mengerti tentang hal ini dari pada aku.”

Karena memang perkara Fatwa bukanlah perkara yang biasa dan sepele. Jangan hanya karena bisa bahasa Arab dari halaqoh-halaqoh kemudian dengan gaya yang terkesan meyakinkan, ia berani memebrika label ini hala ini haram, bahkan sampai mengatakan ini “bid’ah”.

Dalam sebuah hadits Mursal yang diriwayatkan oleh Imam AL-Darimy, disebutkan: “yang paling berani diantara kalian untuk berfatwa, berarti ia berani terhadap neraka” (kanzul-‘Amal 10/184) Wal-‘iyadzu billah.

 Jadi fatwa itu ada karena adanya pertanyaan. Pertanyaan itu ditujukan oleh seorang ‘Alim, atau juga lembaga yang berisikan ulama yang memang berkompeten dalam masalah syariah ini. Kemudian, seorang ahli agama atau lembaga Ulama itu melakuakn proses ijtihad dan akhirnya menghasilkan sebuha kesimpulan hukum. Dan itulah yang dinamakan Fatwa. 

Apakah sebuah Fatwa wajib di taati? ... klik disini untuk menuju artikel "Apakah Fatwa Wajib Ditaati?
 

Siapa Bilang MUI Mengeluarkan Fatwa Haram Mengucapkan Selamat Natal?

Belakangan isu yang berkembang di media sosial ialah kritikan dari sebagian masyarakat Indonesia soal MUI yang katanya telah mengeluarkan fatwa “haram mengucapkan selamat natal” dari seorang muslim untuk kaum kristiani yang akan merayakannya tanggal 25 desember nanti.

Kebiasaan orang indonesia, ngga yang pinter, ngga yang intelek, yang awam apalagi, sering blunder dan asal komen terhadap berita yang baru ia dengar tanpa di cek dan ricek terlebih dahulu. Kalau berita itu sesuai ideologinya, setinggi langit ia akan dukung dan bangga-banggakan itu.

Tapi kalau berita itu bertentangan dengan ideologi dan keinginannya, maka habislah si penyebar berita atau yang dikatakan sumber berita menjadi bahan kritikan. Bahkan bukan Cuma kritikan tapi malah cacian serta makian yang tak sopan. Indonesia banget!

Nah bagitu juga yang terjadi sekarang ini, belum tentu kebenaran apakah MUI mengeluarkan fatwa haram atau tidak, mereka yang tidak menginginkan ini dan memiliki ideologi yang bersebrangan mulai menyebarkan kebencian untuk MUI kepada para “Followers”nya di media sosial. Dan terus mencaci maki. Begini Indonesia yang katanya ramah?

Terkait soal fatwa tersebut, saya sampai artikel ini di posting belum ada sama sekali berita RESMI yang mengatakan bahwa MUI mengeluarkan fatwa haram mengucapkan selamat natal untuk umat kristiani bagi orang Islam. Web resmi MUI pun masih kosong melompong, tidak ada sama sekali artikel atau update berita MUI yang mengatakan demikian.

Dan tidak ada satupun situs berita atau media berita yang resmi mengangkat berita soal fatwa MUI yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal. Itu Cuma kerjaan orang-orang bertendesi negativ saja terhadap MUI. Tak ada bukti yang mengatakan bahwa MUI mengatakan demikian secara resmi, lalu dengan akal bulusnya mereka menyebarkan isu-isu murahan ini . Lagu lama!

Yang ada benar-benar ada ialah “haram bagi umat Islam untuk MENGIKUTI ritual natal”. fatwa ini dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981 M / 1 Jumadal Ula 1405 H.


Dan fatwa seperti ini bukan fatwa MUI saja, akan tetapi Ulama sejagad raya ini dari dulu sampai sekarang telah sepakat untuk keharaman mengikuti ritual kegamaan agama lain seperti natal bagi umat Islam karena itu bertentangan denga akidah Islam.

Dan seandainya (kita mulai berandai-andai), kalaupun memang benar ada fatwa MUI yang mengatakan demikian; haram mengucapkan selamat natal untuk umat kristiani, atau apapun bentuk fatwanya. Yang jadi pertanyaan apakah fatwa itu mengikat kita dan mengharuskan kita untuk mentaatinya?

Bersambung,.. klik --> APA ITU FATWA ? DAN APAKAH FATWA ITU WAJIB DITAATI?
 

18 Desember, Hari Bahasa Arab se-Dunia


Hari ini, 18 desember adalah hari Bahasa Arab Sedunia. Jarang yang tahu ini, bahkan mungkin memang tidak ada yang mengetahui ini.

Ya. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB, yang dalam bahasa inggris disebut dengan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan 18 desember sebagai hari bahasa Arab sedunia.

Penetapan itu hasil inisiatif dua negara anggota UNESCO; Maroko dan Saudi Arabia guna menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi yang digunakan dan diakui oleh dunia internasional.

Karena bagaimanapun Bahasa Arab punya peran besar dalam kemajuan peradaban dunia modern sekarang ini. Disadari atau tidak, ilmuan yang sekarang banyak dikenal itu rupanya hanya menukil dan “menjiplak” dari ilmuan sebelumnya yang semuanya itu ialah ilmuan muslim. Dan bahsa yang dipakai para ilmuan tersebut untuk menuliskan pemikiran mereka ialah bahasa Arab. (Baca buku: 1001 inventions. Muslim heritage in our world) atau (buku: sumbangan peradaban Islam untuk dunia)

Bahasa Arab ialah bahasa yang telah digunakan oleh lebih dari 422 juta jiwa didunia ini sebagai bahasa percakapan mereka. Dan menjadi bahasa resmi nasional bagi kebanyakan negara-negara yang berada di kawasan Timur-Tengah dan Afrika Utara.
  
Kenapa tanggal 18 Desember ?
karena pada tanggal 18 Desember 1973, Bahasa Arab resmi terdaftar dan menjadi bahasa internasional yang masuk ke meja kerja UNESCO. Dengan demikian Bahasa Arab adalah Bahasa ke – 6 dalam urutan bahasa internasional UNESCO dari 22 bahasa negara lainnya.

Sebagai informasi, UNESCO sebelumnya telah mengumumkan tangal-tanggal yang dijadikan hari peringatan untuk beberapa bahasa internasional yang diakui UNESCO: French (March 20), English (April 23), Russian (June 6), Spanish (October 12), Chinese (November 13) and Arabic (December 18).

Bahasa Indonesia, kapan?
 

Kedermawanan Ali dan Keikhlasan Fatimah

dalam kitab Hayatu Ash-Shohabah (kehidupan para sahabat) karangan Sheikh Muhammad Al-Kandahlawi, disebutkan sebuah riwayat tentang kemuliaan seorang Ali Radhiyallahu 'anhu, juga keikhlasan sayyidah fatimah Al-Zahro Radhiyallahu 'Anha.

dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa pada suatu hari, keluarga Ali yang terdiri dari fatimah, dan dua anaknya; Hasan juga Husain, itu tidak ditemukan dalam ruma

h tersebut sepiring makanan ataupun sepotong roti yang bisa dimakan oleh para nggota keluarga.

lalu dengan ke-IKHLASAN-nya, sayyidah fatimah memberikan Baju (dalam riwayat lain, Rida' = selendang) kepada sayyidina Ali untuk dijual dan hasil penjualannya itu dibelikan makanan untuk para anggota keluarga.

sampai dipasar, baju itu terjual dengan harga 6 Dirham. denagn uang 6 dirham dikantongnya, sayyidina Ali bergegas pulang. namun ditengah jalan menuju rumah, beliau menemukan seorang faqir yang sedang meminta-minta dijalan dan terlihat sangat membutuhkan sekali akan uang. akhirnya dengan ikhlas, sayyidina Ali merelakan 6 dirham tersebut kepada si pengemis, karena menurutnya pengemis itu lebih membutuhkan dari pada dia dan kekuarganya.

pulang-lah beliau tanpa sepeser uang pun ditangannya. dalam perjalanan pulang, sayyidina Ali bertemu dengan seseorang yang sedang menuntun seekor unta. lalu ia berkata kepada sayyidina Ali: "wahai ALi, mau kah kau beli unta ku ini? aku ingin menjualnya dengan harga seratus dirham"

lalu sayyidina Ali menjawab: "aku mau saja membeli unta tersebut, tapi aku tidak memegang uang sepeserpun sekarang ini."

lelaki itu menjawab: "ya sudahlah, ambil saja unta ini terlebih dahulu, uang akan menyusul nanti jika kau telah memilikinya."

akhirnya pulang lah sayyidina Ali dengan seekor unta hasil "ngutang" yang mengekor di belakangnya. namun belum sampai rumah, ia kembali bertemu dengan seseorang yang dengan tiba-tiba bertanya kepada beliau: "wahai Ali, mau kah menjual unta itu kepada ku? berapa kau membeli unta itu sebelumnya?"

sayyidina Ali menjawab: "ya, aku mau menjualnya kepada mu. aku membelinya tadi dengan harga 100 dirham."

"kalo gitu, aku beli unta itu dari mu dengan harga 160 dirham"

terjadilah transaksi jual beli antara kedua yang emnghasuilkan sayyidina Ali meraih keuntungan 60 dirham. lalu ia kembali kepada laki-laki awal yang menjualnya unta, dan mebayar hutang tersebut sebesar 100 dirham.

dengan begitu sayyidina Ali pulang dan dikantongnya terdapat 60 dirham, dengan senyum lebar yang oenuh syukur, ali melangkah menuju keluarga tercinta.

lihat, 6 dirham yang disedekahkan oleh sayyidina Ali berbuah menjadi 60 driham. janji Allah memang tidak pernah meleset asal kita yakin. 1 kebaikan dibalas menjadi 10 kebaikan.

keesokan harinya, ALi memberitahukan apa yang terjadi itu kepada nabi Muhammad saw. dalam riwayat lain bahwa Nabi saw telah mengetahui cerita tersebut tanpa pemberitahuan dari ALi. dan itu memang salah satu keistimewaan Nabi Muhammad saw.

lalu beliau saw berkata pada ali: "tahu kah kau siapa yang menjua unta kepada mu kemarin? dan siapa yang membeli unta mu itu?"

sayyidina Ali menjawab: "Allah dan rasulNya pasti lebih tahu"

Nabi saw menjawab: "yang menjual untanya kepada mu itu Jibril, dan yang membelinya darimu itu Mikalil, mereka Allah utus berdua kepadamu. dan tahu kah kau bahwa setiap kebaikan itu berbalas sepuluh kebaikan"

hayatu Ash-Shohabah 2/280
-------------------
kalau masalah sedekah yang berbuah 10 kali lipat, semua nya sudah banyak yang membicarakan masalah ini, dan itu semua orang sudah tahu. tapi dari cerita diatas tadi saya melihat, dan saya harap anda juga melihat yang sama, yaitu bagaimana sikap sayyidah Fatimah Al-Zahro yang dengan dan rela memberikan baju nya untuk d jual oleh sang suami.

tanpa mengeluh dan tanpa mencaci, "laki-laki kerja dong!!!!" tidak demikian. dengan sabar dan ikhlas, sayyidah Fatimah menerima keadaan keluarganya yang dalam kesusahan tanpa menyalahkan pihak mamnapun termasuk suaminya.

perempuan yang hebat.

wallahu a'lam
 

Indonesia Tidak Ramah Lagi

sumber: nukudus.com
Dulu saya atau mungkin semua, sering mendengar iklan atau slogan di media yang mengatakan bahwa Indonesia itu ramah, sopan, budayanya santun dan para penduduknya murah senyum  dan sebagainya.

Banyak orang non Indonesia (eks patriat) yang awalnya hanya singgah kemudian menjadi tertarik utnuk tinggal kebih lama di Indonesia karena katranya penduduknya ramah, baik, sopan santu dan segudang alasan lainnya yang menpersepsikan bahwa orang Indonesia itu punya sikap yang positiv.

Sebagai orang yang telah sah secara hukum menjadi warga negara Indonesia (karena saya telah ber-KTP. Yang belUm ber-KTP, kewarganegaraannya diragukan, hehe) saya tentu meng-amini itu semua. Saya bangga dengan image Indonesia yang masih dipandang baik oleh orang dari negara yang berbeda.

Tapi buat saya, persepsi bahwa Indonesia itu ramah, baik dan sebagainya mesti dikoreksi ulang. Menurut saya itu lagu lama yang sudah tidak laku di pasaran kalau dinyanyikan lagi sekarang. Image dulu yang sudah tidak bisa lagi disematkan sekarang ini untuk Indonesia.

Dizaman yang serba mudah dengan satu klik ini, pergeseran budaya sangat terlihat dan makin jelas terlihat. Orang indonesia yang katanya ramah itu ternyata sudah kita tidak temukan lagi beberapa tahun belakangan ini. Sayang sekali, terlebih lagi penduduk perkotaan yang sangat dekat sekali dengan yang katanya perkembangan pendidikan dan teknologi modern.

Bukan untuk mendiskreditkan Indonesia, tapi mungkin untuk bahan perenungan. Kita terlalu mudah berlindung dengan image ramah tanpa mau memperbaiki diri.

Coba kita tengok di beberapa media social yang banyak digandrungi orang se Indonesia ini, facebook dan twitter misalnya. Bukan sebuah rahasia lagi kalau banyak kata-kata kotor yang seharusnya tidak pantas keluar dari penduduk sebuah negara yang katanya “Ramah”.

Saling hujat, saling caci, saling hina, bahkan sudah masuk wilayah yang seharusnya tidak bisa jadi bahan serangan caci maki. Suku, agama, Ras sudah tidak semahal dulu lagi. Zaman sekarang, justru hal-hal semacam itu menjadi bahan utama pembicaraan di media dewasa ini. Kita tidak bisa pungkiri itu.

Hanya karena Berbeda pandangan agama dan politik saja, mereka tidak segan saling ejek dan hina. Bahkan kata-kata yang dikeluarkan itu sudah tidak bisa dikatakan wajar lagi. Padahal banyak dari mereka yang berdebat dan beradu kejahatan verbal itu orang intelek loh, yang dikatakan berilmu dan berpendidikan.

Sudah tidak ada lagi, siapa tua siapa muda. Semua sudah tenggelam dan terlena dalam keinginan yang menggebu-gebu untuk saling manjatuhkan musuh seberang komputernya tersebut. Yang muda tidak ada lagi kata-kata hormat untuk yang tua. Yang tua pun sudah tidak memperdulikan lagi bahwa kata-katanya itu menjadi bahan pendidikan yang buruk bagi yang muda.

Bukan Cuma dengan sesama warga dalam negeri. Ternyata serangan kejahatan verbal itu pun terjadi dengan rekanan luar negeri. Ingat kejadian Indonesia Vs Malaysia di ajang piala AFF? Wuiihh perangnya bukan Cuma di lapangan. Tapi juga saling serang lewat media negara masing-masing, tidak puas dengan itu, para suporter yang katanya “SPORTIF” itu juga saling menyebar kebencian di dunia facebook dan twitter. Na’udzu billah.

Kalau dikatakan; “itu kan Cuma maya, ngga nyata kok?”. Apakah anda yakin dengan perkataan ini?. Ya memang itu dunia maya yang tidak nyata, akan tetapi si Maya itu tidak akan ada jika tidak digerakan oleh si yang Nyata.

Maya itu dihidupkan oleh kata-kata kasar hasil lantunan jari-jari yang bersumber dari hati sang pribadi kebencian, dan dia itu orang yang nyata. Jadi maya sama saja nyatanya. Hanya saja maya berhasil menjadi tameng bagi mereka para “pengecut sejati” yang menyembunyikan wajah aslinya.

STATUS KITA TETAP MUSLIM

Apapun ceritanya yang terjadi di dunia maya ini, status kita tetaplah orang Islam yang pastinya semua kelakuan dan tindakan serta ucapan kita harus selalu sejalan dan selaran dengan syariat, dengan apa yang telah digariskan oleh agama kita ini.

Ingat hadits Nabi saw yang ini:
“seorang Muslim ialah yang saudara Muslim lainya selamat dari (keburukan) TANGAN dan LISAN-nya” (HR Bukhori dan Muslim)

Termasuk kah kita dalam kategori muslim yang dijelaskan oleh Rasul saw tersebut? Apakah orang yang selalu berkata kotor, dan hujat sana sini masih bisa dimasukan dalam kategori seorang muslim qualifikasi Rasul saw itu?

Lebih tegas lagi, Nabi saw mengatakan: “Bukan dari GOLONGAN KU, dia yang tidak menghormati golongan orang tua, dan dia yang tidak menyayangi golongan orang yang muda dari mereka” (HR Al-Baihaqi/ Syu’abul-Iman, no. 10980)

Tuh, masih mau kita adu jempol saling hina, saling hujat setelah dengar ancaman Nabi saw yang seperti ini?. Kita bukan termasuk golongan beliau, kalau bukan golongan beliau, apakah masih bisa kita mencium bau surga?
Jadi tinggal pilih, mau jadi golongan Nabi atau tidak?

Berbeda boleh, beradu argumen puh tidak ada yang larang. Tapi tentu masih tetap dalam koridor koridor adab yang layak. Tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang jorok dan kotor, persis seperti orang yang tidak pernah makan bangku sekolah. Justru dengan kata yang halus namun tegas dan berisi argumen kuat seperti itulah lawan debat kita akan menghargai.

Pun demikian, peerdebatan tidak semuanya mesti kita layani kok. Kalau Cuma perdebatan-perdebatan kusir di medsoc yang tidak akan ada habisnya, pun itu juga tidak memberikan dampak apa-apa, buat apa di ladeni? toh kebanyakan mereka yang berdebat itu bukan untuk mencari kebenaran, tapi Cuma untuk unjuk kepintaran dan cari tenar saja.

Nabi saw bersabda: “Aku menjamin satu rumah di sisi surga bagi ia yang mau meninggalkan perdebatan walaupun ia berhak untuk mendebati itu. Dan aku menjamin satu rumah di tengah-tengah surga bagi ia yang meninggalkan kebohongan walaupun dalam canda. Dan aku menjamin satu rumah di surga yang paling tinggi bagi ia yang BAIK AKHLAK-nya” (HR Abu Daud)

Wallahu A’lam
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger