Tarjiih Antara 2 Hadits Yang Saling Kontra

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh syaikhoi Al-Muhadditsin (2 sheikh ahli hadits), dari sahabat Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi saw menikahi Mainumah, dan Nabi pada saat itu dalam keadaan ihram.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ تَزَوَّجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَيْمُونَةَ وَهُوَ مُحْرِمٌ
"Dari sahabat Ibnu Abbas ra, beliau berkata: Nabi saw menikahi Sayyidah Maimunah dan beliau saw dalam keadaan ihram" (HR Al-Bukhori dan Muslim)

Hadits ini derajatya shahih, diriwayatlan oleh Imam Al-Bukhor dan Imam Muslim pula. Tidak ada yang meragukan hadits ini, toh perawinya Al-Bukhori dan Muslim kok. Kandungan hadits ini, bahwa Nabi saw menikah dengan Sayyidah Maimunah dalam keadaan Ihram, artinya boleh menikah walaupun dengan keadaan muhrim, atau sedang ber-ihram.

Tapi sayangnya, hadits ini justru tidak diamalkan oleh para ahli fiqih. Fuqaha' tidak menjadikan ini sebagai hujjah, dan malah mengatakan sebaliknya, bahwa haram hukumnya menikah dalam keadaan ihram.

Ini kan akhirnya menjadi rancu bagi sebagian kalangan yang –biasanya- kalau haditsnya sudah shahih, apalagi bukhori dan muslim, ya berarti itu HARUS diamalkan. Tapi nyatanya hadits ini malah tidak dilirik oleh para ahli fiqih.

Tapi justru para fuqaha mengamalkan hadits yang –sepertinya- derajat kesahihannya kurang dibanding hadits di atas, yaitu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

عَنْ مَيْمُونَةَ - أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - تَزَوَّجَهَا وَهُوَ حَلَالٌ
"Dari Sayyidah Maimunah ra, bahwasanya Nabi saw menikahinya dan beliau saw dalam keadaan halal (bukan sedang ihram)" (HR Muslim)

2 Hadits Bertentangan

Jadi, ada 2 hadits yang makna dan kandungan hukumnya saling kontradiksi, yang kalau dalam istilah fuqaha serta ushuliyun, disebut sebagai Al-Ta'arudh [التعارض].

Satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Muslim itu mengandung hukum bahwa boleh menikah walaupun dalam keadaan muhrim (sedang ihram). Hadits kedua yang hahnya diriwayatkan oleh Muslim, itu mengandung hukum bahwa sebaliknya. Tidak ada pernikahan dalam keadaan ihram.

Dalam ilmu ushul, jika terjadi kontradiksi antara 2 sumber hukum, -dalam hal ini hadits-, maka kalau memang memungkinkan untuk diambil keduanya, dan dikumpulkan, ini yang disebut dengan Al-jam'u [الجمع]. Tapi itu kalau mungkin, dan kedua hadits ini tidak mungkin untuk disatukan.

Maka mesti dilakukan tarjiih [ترجيح], yaitu mengunggulkan salah satu dalil dari 2 dalil yang bertentangan untuk diketahui mana yang lebih kuat dan diamalkan.

Tarjiih

Nah, kalau dilihat dari derajatnya, tentu hadits Ibnu Abbas lah yang unggul, karena hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim. Sedangkan hadits kedua, hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim seorang. Bahwa memang banyaknya jalurnya periwayatan itu menjadikan hadits tersebut menjadi lebih kuat dibanding yang sedikti periwayatannya.

Normalnya begitu. Yang banyak jalurnya, tentulah ia yang lebih kuat, karena banyak jalur menunjukkan banyaknya perawi. Hadits yang diriayatkan banyak itu lebih kuat dari yang sedikit. Normlanya begitu, tapi ulama justru tidak mengambil hadits Ibnu Abbas tersebut.

Perawinya Adalah Tokoh Cerita

Para ulama fiqih lebih mengunggulkan hadits kedua yang hanya diriwayatkan oleh Imam muslim dari Sayyidah Maimunah dibanding hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Kenapa?

Karena hadits riwayat Imam Muslim itu diambil dari si empunya cerita itu sendiri, yaitu Sayyidah Maimunah. Masalah ini sedang berbicara tentang pernikahan Nabi dengan ASayidah Maimunah, yang kalau versi Ibnu Abbas itu terjadi ketika Nabi dalam keadaan Ihram, sedangkan versi Sayidah Maimunah sendiri yang beliau adalah si pengantin, itu terjadi ketika Nabi sedang tidak ihram.

Secara akal pun bisa diunggulkan, bahwa kisah yang diceritakan oleh si empunya kisah itu jauh lebih dipercaya, walaupun ia sendiri, dibanding kisah yang diceritakan orang lain yang tidak punya peran dalam cerita, walaupun banyak yang bercerita.

Nah, ini adalah salah satu metode tarjiih antara 2 hadits yang saling kontradiksi yang disepakati oleh ulama ushul. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tokoh cerita atau dalam istilah mustholah hadits, disebut dengan shohibul-waqi'ah [صاحب الواقعة], itu lebih diunggulkan dibanding hadits yang diriwayatkan oleh bukan tokoh cerita.  

Ini adalah salah satu metode tarjiih yang dikenal dalalm ilmu ushul-fiqh, disamping metode-metode yang masih banyak, yang tidak cukup untuk disebutkan semuanya dalam forum ini.

Jadi bukan cuma modal shahih Bukhori Muslim doing! Untuk bisa dijadikan hujjah. –wallahu a'lam-
 

Hutang Dalam Pandangan Syariah (Bag. 2)


Nabi saw Memohon Perlindungan Dari Hutang

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa di satu sisi, memberikan hutang adalah sesuatu yang mulia karena memang menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan. Tapi di sisi lain, ulama sangat mewanti-wanti sekali agar kita tidak terjerumus dalam hutang ini.

Ulama sangat menjaga sekali agar berhutang itu tidak menjadi kebiasaan yang selalu ditempuh. Akan tetapi agama ini menggiring umatnya untuk selalu menjauhi berhutang. Karena bagaimanapun hutang adalah sebuah kesulitan tersendiri.

Dikatakan oleh salah seorang penyair bahwa hutang itu adalah: "Mimpi buruk di malam hari, dan kegundahan di siang hari yang terus menghantui."

Karena itu sejak jauh-jauh hari, Nabi saw mengajarkan kita untuk selalu menghindari hutang, sebagaimana doa yang beliau saw ajarkan:

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن، وأعوذ بك من العجز والكسل، وأعوذ بك من الجبن والبخل، وأعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجال
"Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesedihan dan kegundahan, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari pelit dan sifat pecundang, dan aku berlindung kepadaMu dari hutang dan kedzaliman orang lain" (HR Al-Bukhori)

Selain doa di atas, banyak sekali dalil-dalil syariah yang memang menunjukkan bahwa agama ini sangat mewanti-wanti sekali agar umatnya tidak gampang untuk berhutang. Saking besarnya perkara hutang ini, Rasul saw ketika ada sahabat yang bertanya tentang jihadnya, apakah itu menjadi media untuk pengampunan segala dosanya. Nabi dengan tegas menjawab iya, tapi jika kau bukanlah seorang yang punya hutang.

Dalam haditsnya yang lain, beliau saw mengatakan:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ
"Seorang Syahid, apapun dosanya akan diampuni, kecuali hutang" (HR Muslim)

Segera Lunasi dan Berprilaku Sederhana

Jika memang sudah berhutang, yang harus dilakuka ialah segera melunasinya. Kalau memang belum punya uang untuk menggantinya, minimal berazam yang kuat sekali untuk tidak menunda-nunda pelunasan hutang tersebut.

Khawatir nantinya kita meninggal dan masing punya sangkutan hutang kepada orang lain. Kita lihat hadits di atas, kalau syahid saja tidak diampuni dosa hutangnya, apalagi kita yang bukan syahid?

Khawatir juga akhirnya malah makan harta haram dan terbawa sampai mati jika si piutang tidak meridhoinya:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
"dan janganlah kalian memakan harta dengan bathil" (Al-Baqarah 188)  

Maka, ketika memang sudah berhutang, tanamkan dalam diri untuk mengembalikannya segera, tidak menunda-nunda. Dan jangan sekali terbesit dalam diri untuk tidak melunasinya apalagi berdoa agar si pemberi hutang lupa kalau ia telah memberi pinjaman sehingga tidak lagi ditagih.

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدَّانُ دَيْنًا فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قَضَاءَهُ إِلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا
"tidaklah seseorang berhutang dan Allah mengetahui bahwa ia ingin melunasinya, Allah akan melunasinya untuknya (menolongnya dalam pelunasan) di dunia" (HR An-Nasa'i)

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

"siapa yang mengambil (meminjam) harta orang lain untuk dikembalikannya (melunasinya), Allah akan mengembalikannya untuknya (menolongnya dalam melunasi). Dan siapa yang mengambil harta orang lain untuk dirusaknya, niscaya Allah akan merusak orang tersebut" (HR Al-BUkhori)

Maka, solusi yang paling tepat ialah hidup sesederhana mungkin tidak terlalu berlebihan dalam segala hal, karena sesuatu yang berlebihan dan dipaksakan pasti buruk dampaknya. Kalau memang masih bisa berusaha tanpa harus berhutang tentu itu jauh lebih baik.

Jadi bedakan antara kebutuhan hidup dan gaya hidup. Jangan sampai gaya hidup melebihi kebutuhan hidup dalam pembiayaannya. –na'udzu billah-

Menunggu Bersabar Jika Jadi Piutang

Bagi pihak piutang yang sudah memberikan pinjaman, syariah ini mengajarkan untuk ia bersabar jika memang si penghutang belum punya sesuatu untuk melunasi hutangnya. Tapi tetap ia punya kewajiban untuk mengingat penghutang tersebut agar segera melunasi, bukan hanya diam saja.

Tapi jika memang di penghutang itu benar-benar telah berusaha namun masih juga belum mendapatkan hasil untuk melunasi, baiknya pihak piutang bersabar. Toh sejak awal juga, ia memeberi pinjaman karena memang ingin membantu, sangat layak niat yang baik itu juga dibarengi dengan perangai yang baik dalam implementasinya.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"dan jika mereka (penghutang) dalam keadaan sulit, maka tunggulah sampai mereka keluar dari keadaan sulit itu. Dan jika kalian menyedekahkannya tentu ia lebih baik untuk kalian" (Al-Baqarah 280)  

Dan perlu diketahui juga bahwa orang yang memberi hutangm, lalu bersabar menunggu orang yang diberi hutang itu untuk melunasinya walaupun lama, asalnya dengan ikhlas dan niatan membantu, pastinya itu tidak akan sia-sia di mata Allah swt. Sabarnya ia dalammenunggu itu punya ganjaran khusus dari Allah swt:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ
"Siapa yang menangguhkan (hutang) orang yang sedang kesusahan, maka baginya setiap satu hari penangguhan itu terhitung sedekah" (HR Imam Ahmad)

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
 "Siapa yang menangguhkan (hutang) orang yang kesulitan, atau bahkan menggugurkannya, Allah saw akan menaunginya nanti di bawah naungannNya" (HR Muslim)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ غَرِيمِهِ أَوْ مَحَا عَنْهُ كَانَ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"siapa yang meringankan kesulitan penghutangnya (dengan tangguhan) atau menghapusnya, ia akan berada di bawah naungan 'arsy di hari kiamat nanti" (HR Imam Ahmad)

Ulama mengatakan terkait hadist ini, bahwa Allah swt akan menjaga orang yang memberikan kemudahan kepada penghutang, dari panasnya dan sulitnya keadaan hari kiamat sebagai imbalan karena mereka telah menjaga para penghutang dari panas dan susahnya keadaan yang menimpanya dalam melunasi hutang tersebut.

Wallahu a'lam bisshowab,

Ahmad Zarkasih, Lc
 

Facebook dan Jurnalistik

Ini artikel yang sekitar tahun lalu pernah saya shared di grup FB para pecinta jurnalistik kalangan pesantren.

Satu hal yang penting dari manfaatnya Media Social seperti Facebook ini ialah semua orang bisa dan terbiasa menulis apa yang menjadi opini mereka dalam laman-laman dinding akun mereka.

Dengan fasilitas Medsoc Biru ini, para pemilik akun dengan sendirinya menjadi penulis karena memang terbiasa menulis dan menuangkan isi pikiran dan juga hati dalam deretan linimasa (Timeline) laman akunya masing-masing.

Dan satu lagi yang menjadi unggulan Medsoc ini ialah tidak ada penghalang antara penulis dan pembaca. Medsoc ini benar-benar terbuka, seorang penulis tidak perlu menyalin alamat URL di mana tulisannya dimuat.

Dia cukup menulis apa yang dia mau di lama muka Facebook, dengan sendirinya kemudian akun-akun lain yang menjadi temannya bisa melihat dan membaca. Ini sistem promosi artikel paling mudah dan paling efektif.
Sang penulis tidak perlu buka websait lain, dan si pembaca pun tidak perlu ribet mencari-cari alamat URL, karena pun dia membuka akunnya untuk keperluan pribadi tapi dapat keuntungan bisa membaca artikel temannya.

Berbeda dengan blog atau website pribadi lainnya bahkan portal-portal berita, memuat tulisan saja belum cukup. Karena untuk bisa dibaca dan dinikmati khalayak, sang empunya website harus mempromosikan artikelnya dengan menyalin alamat url dan menaruhnya di Medsoc-medsoc lain seperti Facebook atau twitter. Sangat tidak instan, dan kurang efektif.

Nilai Negatif Yang Riskan

Nah dari manfaat yang begitu besar, Medsoc ini juga sejatinya punya nilai negatif dan buat saya ini sangat riskan sekali. Yaitu rusaknya bahasa Indonesia.

Ya makin banyak yang menulis. Ya semakin banyak varian tulisan. Ya makin banyak genre tulisan yang muncul. Ya tulis menulis menjadi kebiasaan khalayak. Tapi banyak yang tidak peduli kaidah penulisan itu sendiri.

Karena salah satu tulisan bisa disebut ilmiah itu, selain materi yang kuat, bahasa juga menjadi pertimbangan khusus. Tulisan sebaik apapun materinya, jika disampaikan dengan bahasa yang keluar jalur kaidah, tidak bisa disebut ilmiah.

Lihat saja bagaimana gaya bahasa mereka di status, di kolom komen dan sebagainya. Tidak jelas mana subyek dan mana predikat. Rancu karena banyak huruf kapital yang ditulis bukan pada tempatnya, pun dengan kosakata yang tidak ada rujukannya di kamus bahasa Indonesia.

Oke. Katakanlah apa yang memang ada di facebook itu tulisan-tulisan iseng bukan ilmiah, tapi tetap saja dengan kebiasaan yang terus menerus ini, bahasa Indonesia dengan sendirinya akan tergeser tergantikan oleh bahasa Aneh (baca: alay). Dan menjadi asing oleh orang Indonesiaitu sendiri.

Sebagai orang yang bersentuhan dengan kegiatan tulis menulis, tentu ini membuat saya risih. Dan sepertinya saya tidak salah jika memuat artikel ini di grup yang memang concern dengan jurnalistik seperti missizone ini.

Karena berisikan orang-orang yang cinta jurnalistik. Cinta jurnalistik berarti cinta eksistensi bahasa Indonesia. Lebih tepatnya cinta bahasa Indonesia tetap berada di jalur kaidah yang benar.

Menulis Dengan Kaidah

Nah di kesempatan ini, saya berharap bisa mengajak teman-teman untuk mengkampanyekan kegiatan ini, yaitu "menulis dengan kaidah" kepada khalayak.

Mulai mengompori orang-orang untuk terus menulis dan mulai mempelopori menulis dengan kaidah bahasa yang benar. Jadi ada 2 kebaikan sekaligus yang diraup, makin rajin menulsi dan makin kenal baik dengan kaidah bahasa sendiri.

Senjata yang mesti dimiliki ya buku mungil EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), juga Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baik yang digital ataupun yang berbentuk fisik.

Pelajari kaidah baku bahasa Indonesia dalam EYD kemudian praktekkan dalam sebuah tulisan, lalu bagikan ilmu yang sudah didapat kepada teman-teman.

Jangan malah ikut-ikutan menulis dengan kaidah bahasa semaunya seperti orang yang tidak kenal jurnalis. Lalu apa bedanya dengan mereka yang selalu meratap di dinding facebook mereka?

Terlepas dari beberapa teman-teman yang menjadi anggota suatu oraganisasi penulis yang memang mempunyai gaya selingkung masing-masing. Tetap saja di luar gaya selingkung itu, kita semua punya kaidah bahasa baku yang telah disepakati oleh seluruh ahli bahasa sejagad Indonesia ini. Dan itu harus dipatuhi.

Selamat menebar manfaat
 

Hutang Dalam Pandangan Syariah (Bag. 1)

Hutang, dalam istilah syariah, ulama menyebutnya dengan sebutan Al-Qardh [القرض]. Akan tetapi kalau diterjemahkan secara normal dalam bahasa Arab, hutang itu adalah Al-Dain [الدين]. Akan tetapi penggunaan kata dain untuk hutang itu tidak lebih populer dibanding kata qardh.

Kalau sekilas memang terlihat kedau istilah itu sama saja, ya sama saja! Akan tetapi kata dain itu punya makna yang jahu lebih luas dari qardh, karena dain itu juga mencakup sebaga jenis hutang, baik berupa harta atau pun hutang dalam bentuk dzimmah atau kewajiban.

Seperti kewajiban sholat yang tertinggal, atau juga kewajiban puasa Ramadhan yang terlewat karena beberapa sebab, atau juga kewajiban zakat. Nah itu semua tergolong dalam istilah dain (hutang), hanya saja hutang yang bersifat abstrak, tak terlihat.

Qardh itu khusus untuk hutang yang bersifat fisik, yang terlihat, yaitu hutang harta. Aplikasinya seseorang yang mnejadi piutang yang meminjamkan uang sekian rupiah kepada penghutang.

Jadi qardh itu bagian dari dain, tapi tidak sebaliknya.

Hukum Taklif Hutang

Semua ulama sepakat bahwa yang namanya qardh, kalau dilihat dari sisi si piutang atau yang memberikan hutang itu hukumnya sunnah. Dengan kata lain bahwa piutang itu merupakan sebuah qurbah (ibadah) yang pengerjaannya diganjar pahala.

Kenapa dinilai ibadah? Karena memang memberikan hutang itu adalah bagian dari membebaskan orang lain dari kesulitan. Karena bagaimanapun, orang yang datang meminta hutang itu –biasanya- memang orang yang sedang ditimpa kesulitan finansial yang tidak punya jalan keluar lagi kecuali dengan berhutang.

Dalam syariah, orang muslim yang mampu membuat kesulitan orang lain hilang atau minimal meringankan beban orang lain, pastilah orang seperti ini mendapat pahala. Nabi saw menengaskan dalam haditsnya:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآْخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآْخِرَةِ ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
"Siapa yang membebaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan membebaskannya dari kesussahan di akhirat. Dan siapa yang memudahkan orang lain yang sedang dalam kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Dan siapa yang menutupi (aib) muslim lainnya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya selagi hamban-Nya menolong hambaNya yang lain" (HR Muslim)

Dari hadits ini, dan juga hadits-hadits lain yang mengandung makna serupa, para ulama menyimpulkan bahwa piutang, atau memberikan hutang dengan maksud menolong orang lain yang sedang kesulitan tergolong dalam ibadah yang mustahabb (dicintai).  

Lebih Baik Dari Sedekah

Bahkan sebagian besar ulama mengkategorikan piutang sebagai qurbah yang statusnya lebih baik daripada sedekah. Dikatakan lebih baik, Karena memang konteks dan dampak yang muncul dari keduanya berbeda.

Piutang itu selalu muncul dalam konteks menolong orang yang kesulitan. Simpelnya bahwa hutang itu memang diperuntukkan bagi mereka yang sedang dalam kesulitan. Jadi memberikan hutang seperti memberikan air kepada orang yang dalam kehausan. Itu tentu jauh lebih berkesan dan berdampak bagi si penghutang.

Berbeda dengan sedekah atau hadish yang pemberiannya tidak melihat apakah yang diberi itu dalam kesulitan atau tidak. karena memang sedang tidak butuh dan tidak dalam situasi sulit, ketika diberikan, orang yang mendapatkannya itu biasa saja. Karena memang tidak dalam keadaan yang sulit.

Ibaratnya, seperti orang yang sudah kenyang dan orang yang sedang kelaparan. Orang lapar akan sangat senang sekali jika tiba-tiba ada yang membantu memberikannya makan. Akan tetapi orang yang sudah kenyang, sudah tidak punya nafsu lagi untuk makan, jadi kalau diberi makanan, cenderung menolak. Kalaupun menerima, itu disimpan untuk waktu kemudian. Senangnya pun antara kedua orang ini berbeda.

Bisa Berubah Jadi Wajib dan Haram

Dalam Al-mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (13/113), ulama menerangkan bahwa hukum qardh itu bisa beribah tergantung situasi dan kondisi. Ia bisa menjadi wajib dari sisi piutang jika memang penghutang itu dalam keadaan yang sangat mendesak dan butuh pertolongan, yang sekiranya jika tidak diberi akan menyebabkan kebahayaan yang besar. Dan ketika itu si piutang dalam keadaan yang lapang dan berlebih uang, maka yang seperti ini menjadi wajib.

Akan tetapi jika memang penghutang tidak dalam keadaan yang sangat sulit, seperti orang yang berhutang bukan karena sulit, tapi kerana memang ingin memajukan usaha atau sejenisnya, tentu golongan ini tidak sama seperti orang yang kesulitan.

Kalau dilihat dari sisi si penghutang, memang berhutang itu hukumnya mubah, boleh-boleh saja. Tapi hukum mubahnya bisa berubah haram. Itu jika dalam diri si penghutang, tidak ada niatan yang kuat untuk mengembalikan apa yang telah ia pinjam.

Imam Ibnu hajar Al-Haitami dalam kitabnya Tuhfatul-Muhtaj, mengatakan:
لَوْ عَلِمَ الْمُقْتَرِضُ أَنَّهُ إنَّمَا يُقْرِضُهُ لِنَحْوِ صَلَاحِهِ وَهُوَ بَاطِنًا بِخِلَافِ ذَلِكَ حَرُمَ الِاقْتِرَاضُ
"seorang penghutang, kalau ia mengetahu bahwa ia berhutang itu tujuannya untuk kebaikannya (menutupi kesulitan) namun dalam hati niatnya berbeda, maka dalam hal ini diharamkan berhutang"[1]

Dan bagi si piutang juga, jika memang ia mengetahui kalau si penghutang ini tidak akan mampu mengembalikan, maka ulama juga melarangnya untuk memberikan hutang kepada orang ini. Bahkan kalangan syafi'iyyah mengatakan, kalau pun itu hanya gudaan dan kira-kira (menduga bahwa si penghutang tidak mampu untuk mengembalikan), maka itu juga menajdi haram untuk memberikannya hutang.[2]

Jadi, di satu sisi ulama sangat memuji prilaku baik orang untuk memberikan hutang dalam rangka menolong sesama. Tapi itu tidak secara mutlak, harus dilihat dulu siapa yang diberikan. Karena memang hutang itu juga aslinya kesulitan, maksudnya jangan sampai kita memberikan kesulitan kepada orang lain yang akhirnya ia terus kesulitan karena tidak mampu mengembalikan.

bersambung ke bagian.2

[1] Tuhfatul-Muhtaj 5/37
[2] Fathul-Mu'in 340
 

Siapa Yang Mewarisi Hutang?

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Sudah sering dibahas tentang pembagian waris, dalam hal ini pembagian harta dari mereka yang telah wafat. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana dengan hutang-hutang mereka yang telah wafat, siapa yang mewarisinya ? Apakah sama dengan pembagian harta ? Terima kasih Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Jawaban :

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh 

Yang harus diketahui lebih awal ialah bahwa hutang mayit itu bukan untuk diwarisi, akan tetapi hutang mayit itu dilunasi. Ya dilunasi dari harta mayit yang ditinggalkan. Dan itu bagian dari kewajiban yang harus dilaksakan sebelum pembagian harta waris.

Jadi sebelum pembagian harta waris itu dimulai, harta mayit sudah steril dari sangkutan dan kewajiban yang berkaitan dengan harta, salah satunya ialah hutang. Maka, keluarkan dulu hutangnya, barulah mulai pembagian harta warisan.

" Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang 
anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya." (An-Nisa': 11)

Dalam pembahasan waris di surat An-Nisa' ayat 11, 12, 13 dan juga 176, di penghujung ayat tersebut, Allah swt selalu mengatakan bahwa pembagian waris itu setelah wasiat dan hutang dikeluarkan dari harta si mayit. Jadi memang ada kewajiban mengeluarkan itu dulu sebelum dibagikan waris, sehinggga ketika waris dibagikan, harta sudah steril dari semua sangkutan.

Sebelum Pembagian Waris

Kewajiban yang harus dikeluarkan dari harta peninggalan mayit sebelum dibagikannya waris untuk para ahli warisnya ada 3 masalah, yaitu :

1. Pengurusan Jenazah
2. Hutang
3. Wasiat

[1] Pengurusan Jenazah

Ketika seseorang meninggal, yang harus dilakukan oleh ahli waris bukanlah langsung membagikan harta warisan, akan tetapi ia mengeluarkan dari harta si mayit utuk kepengurusan jenazahnya.

Kalaupun nanti ada salah satu anak atau ahli waris yang denagn rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepengurusan jenazah, itu tidak mengapa. Initinya bahwa kepengurusan jenazah itu diambil dari harta mayit sendiri.

[2] Hutang

Tentu yang dibicarakan dalam hal ini adalah hutang yang berkaitan dengan harta si mayit, baik itu 
hutang kepada Allah swt atau juga hutang kepada manusia.

Hutang kepada Allah swt adalah ibadah wajib yang tertunda dilaksanakan karena maut mendahuluinya. Misalnya, zakat, atau nadzar sedekah yang belum terlaksana, hutang membayar Kafarat, atau juga fidyah.

Dalam madzhab Al-Syafiiyah, jika si mayit mempunyai tanggungan hutang kepada Allah dan juga kepada manusia, maka yang harus didahulukan adalah hutang kepada Allah dulu. Berbeda dengan kalangan Al-Hanafiyah yang mendahului hutang kepada manusia dibanding hutang kepada Allah swt.

Bagaimana jika hutangnya melebihi nilai harta yang ditinggalkan?

Jika hutang si mayit ternyata melebihi nilai harta yang ia tinggalkan, jadi hartanya tidak mencukupi untuk menutupi hutangnya sendiri. Maka para pemberi hutang (piutang) akan mendapatkan bayaran sesuai persentasi hutang si mayit kepadanya dari jumlah keseluruhan hutang.

Disebutkan Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah (3/20), dalam perkara ini; yaitu jika hutang si mayit melebih ulama memberikan solusi seperti itu. Aplikasinya sebagai berikut:

Misalnya si mayit mempunyai hutang kepada 3 orang. Kepada orang A, mayit berhutang sebanyak 500 Juta. Dan kepada orang B, mayit berhutang 250 juta. Lalu kepada si C, mayit berhutang 250 juta juga. Jadi jumlah hutang mayit itu adalah 1 Milyar, sedangkan mayit hanya meninggalkan harta sebesar 500 juta.

Jika dihitung, dari keseluruhan hutang (1 Milyar), 500 juta adalah 50% dari 1 Milyar. Dan 250 juta adalah 25% dari 1 Milyar. Maka bagi piutang A (pemberi hutang 500 juta) ia mendapatkan 50% dari seluruh harta mayit (500 juta), yaitu 250 Juta. Dan piutang B serta C (yang memberi hutang 250) ia mendapat masing-masing 25% dari seluruh harta mayit (500 juta), yaitu masing-masing 125 juta.

Dan tentu akan jauh lebih baik, jika ada salah satu dari ahli waris yang memang mempunyai harta berlebih, untuk melunasi hutang tersebut atau menjaminya. Dan itu sangat terpuji.

[3] Wasiat

Setelah pengurusan jenazah, hutang, kewajiban selanjutnya yang harus dikeluarkan dari harta mayit yang ditinggalkan ialah wasiat. Denan syarat bahwa wasiatnya tidak lebih dari 1/3 dari jumlah keseluruhan harta si mayit.

Dalam ayat didahulukan penyebutannya wasiat, kenapa hutang yang didahulukan?

Ya. Walaupun penyebutannya wasiat yang terlebih dahulu, akan tetapi para ulama sudah berijma' bahwa yang mesti didahulukan adalah hutang. Dengan alasan bahwa Nabi mengerjakan itu, dan bukan wasiat terlebih dahulu.[1]

Diriwayatkan dari sayyidina 'Ali radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ الدَّيْنَ قَبْل الْوَصِيَّةِ
"sesungguhnya Nabi saw memulai (membayarkan) hutang sebelum menunaikan wasiat".[2]

Adapaun penyebutan wasiat yang lebih dahulu dari pada hutang dalam ayat tersebut, tidak berarti keharusan menunaikannya lebih dahulu. Ulama menyebutkan beberapa hikmah penyebutan wasiat yang lebih dulu dari pada hutang, diantaranya ialah:

Karena memang wasiat itu terjadi karena dorongan qurbah (ibadah) dan bukti iman serta motivasi terjaganya hubungan antara keluarga yang ditinggalkan. Berbeda dengan hutang yang –terkadang- dilakukan oleh mayit karena sebab kelalaiannya. Jadi penempatan wasiat lebih dulu dalam ayat karena wasiat lebih afdhol dalam syariah dibanding hutang.

Wallahu a'lam bis-shawab, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Zarkasih, Lc


[1] Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 3/20
[2] Nailul Author 6/64
 

Kritikus Madzhab Fiqih (Bag. 2)

Pengambilan Hukum dari Hadits

Ini yang lebih rumit lagi! Bukan hanya madzhab mutakalimun dan madzhab Al-Fuqaha yang berselisih konsep dalam mengambil hukum dari hadits, akan tetapi masing-masing madzhab fiqih; Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah, dan Al-Hanabilah punya konsep yang berbeda-beda dalam hadits untuk dijadikan sandaran dalil hukum.

Al-Hanafiyah, dalam prakteknya tidak mengambil hukum kecuali itu hadits mutawatir. Sedangkan hadits Ahad, itu diperlakukan berbeda oleh madzhab ini. sebelum menerima hadits ahad, mereka teliti dulu, bagaimana perawi haditsnya? Kalau perawi haditsnya ternyata menyelisih apa yang diriwayatkan, hadits ini tidak lolos fit and proper test dalam madzhab Al-hanafiyah untuk dijadikan dalil hukum. 

Bukan hanya itu, kalau perawinya tidak menyelisih, hadits Ahad ini tidak langsung diterima, ada tes lagi yang diujikan untuk hadits ber-perawi tunggal ini, yaitu apakah kandungannya menyelisih kandungan nash qath’iy (ayat Quran dan hadits Mutawatir) atau tidak?

Kalau itu menyelisih, maka –ma’dzirotan wa afwan-, hadits itu tidak diterima, walaupun shahih menurut kalangan lain. Nash-nash Qath’iy yang dipakai jika begitu ceritanya. Begitu strick-nya Al-hanafiyah dalam hadits Ahad.

Jadi hadits ahad yang bisa diterima oleh madzhab Al-Hanfiyah ialah hadits yang perawinya tidak menyelisih dan hadits itu tidak bententangan dengan nash-nash yang qath’iy.

Al-Malikiyah, beda lagi! Yang paling menonjol dalam madzhab Imam Malik bin Anas ini ialah pengaruh ‘Amal Ahli Madinah (Pekerjaan Penduduk Madinah). Hadits Ahad dalam madzhab ini tidak asal langsung diterima, walaupun derajatnya shahih menurut para ulama hadits. Hadits ahad itu mesti melewati tes terlebih dahulu.

Yaitu dikomparasi dengan ‘Amal Ahli Madinah, kalau kandungan hadits ahad ini bertentangan dengan pekerjaan penduduk madinah. Maka yang dipakai dan diakui dalam madzhab ini ialah pekerjaan penduduk madinah, bukan hadits ahad.

Karena menurut madzhab ini, periwayatan ‘Amal Ahli Madinah itu diriwayatkan oleh penduduk satu negeri, Madinah. Sedangkan hadits ahad hanya diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingkatan sanad. Lalu mana yang lebih kuat, satu atau satu negeri?

Al-Syafi’iyyah, ini madzhab yang sering sekali ‘dituduh’ selalu menggunakan hadits dhoif dalam pengambilan hukumnya. Yang jadi pertanyaan balik untuk pengkritik madzhab ini ialah; Dhoif menurut siapa?

Kalau kita teliti memang hadits yang dipakai oleh madzhab ini terkesan dhoif, tapi ke-dhoif-an hadits tersebut dilihat hanya dari satu jalur (hadits mempunyai banyak jalur periwayatn). Sedangkan jika meniliti dari jalur berbeda yang digunakan oleh madzhab Imam Syafi’i ini ternyata haditsnya dalam derajat yang shahih.

Lihat saja kepada musnad Imam Syafi’i, jalurnya sanadnya banyak yang meyakinkan, bahkan sangat amat meyakinkan sekali shahihnya. Tapi kalau melihat dari jalur imam Hdits lain ya berbeda lagi statusnya. Dan jalur riwayat Imam Syafi’i ini yang dijadikan sebagai hujjah-hujjah-nya Al-Syafi’iyyah.

Diakui atau tidak, label status shahih menurut para ahli hadits pun berbeda, mereka masih berselisih dengan kriteria hadits shahih. Satu hadits bisa saja punya 3 status sekaligus; shahih, Hasan, dhoif! Tinggal kita lihat siapa yang memberi status itu, imam hadits yang mana?

Al-Hanabilah, ada juga beberapa kalangan yang mengkritik madzhab Imam Ahmad ini dengan sebutan madzhab yang plin-plan, karena banyaknya riwayat qaul yang muncul dalam satu masalah. bahkan dalam satu masalah, Imam Ahmad bisa punya riwayat 8 sampai 10 fatwa.

Perlu dipahami, ini bukan karena Imam Ahmad tidak punya konsep dalam hadits, bagaimana bisa dikatakan tidak punya konsep hadits padahal beliau Imam Ahlu Hadits?

Ternyata memang Imam Ahmad semasa hidupnya tidak menulis fatwa-fatwa fiqih, beliau lebih concern dengan periwayatan hadits. Dan beliau pun melarang muridnya untuk menulis fatwanya ketika beliau hidup. Barulah ketika beliau meninggal, murid-muridnya merasa penting untuk menuliskan fatwa-fatwa Imam Ahmad.

Dan kita tahu dalam satu majlis, murid-murid itu tidak berada satu pemahaman yang sama; karena perbedaan pemahaman itulah akhirnya banyak riwayat Imam Ahmad yang berbeda-beda dalam satu masalah. terlebih lagi para muridnya itu tidak menulis ketika Imam Ahmad hidup, karena memang dilarang, mereka menulis setelah wafatnya sang Imam denagn kekuatan ingatan mereka ketika duduk di majlis Imam Ahmad. Akhirnya munculah banyak riwayat yang dinisbatkan kepada sang Imam dari murid-muridnya yang berbeda.

Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak konsep-konsep pengambilan hukum oleh para Imam madzhab fiqih, bukan hanya dari Al-Quran dan Sunnah/Hadits. Hanya saja kedua konsep yang disebutkan di atas itu yang sering menjadi bahan dan objek kritikan terhadap para imam-imam mulia itu. Dan sepertinya menjadi penting untuk diluruskan.

Jadi, kalau memang ingin menjadi pengkritik madzhab fiqih, maka pahami dulu konsep pengambilan hukum masing-masing madzhab, sebelum mengkritik. bukan hanya paham konsep sendiri yang belum tentu diakui oleh ulama ushul.

Jangan paksakan sepatu anda untuk kaki orang lain yang beda ukuran!

Jadi, itu pentingnya belajar Ushul Al-Madzahib.

Wallahu a’lam
 

Kritikus Madzhab Fiqih (Bag. 1)

Seperti memakaikan sepatu dengan ukuran kaki sendiri untuk kaki orang lain. Atau juga memaksa orang lain yang berbeda bentuk tubuh dan besarnya untuk memakai baju dengan ukuran badannya sendiri. Ya seperti itu kiranya para pengkritik madzhab fiqih belakangan ini.

Mereka sering kali mengkritik pendapat-pendapat madzhab fiqih yang berbeda dengan pendapatnya, bahkan sampai mengatakan bahwa Imam A salah dalam mengambil hadits sebagai dalil, karena berdalil dengan hadits dhoif. Dhoif menurut versinya.

Padahal sejatinya, masalah perbedaan dalam ranah hukum fiqih bukanlah sesuatu yang berbahaya, karena memang perbedaan itu ada dan bukan diada-adakan. Jadi keberadaan sebuah perbedaan dalam ranah fiqih adalah sebuah keniscayaan.

Sayangnya para pengkritik itu tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu dengan apa yang menjadi dasar manhaj (metode) pengambilan hukum (Istinbath) yang dipakai oleh para ulama mazdhab. Yang mereka tahu hanya satu metode saja dalam pengambilan sebuah hukum, yaitu asal ada hadits yang shahih, maka begitulah hukumnya. Yang tidak sejalan dengan hadits shahih ini, maka itu telah menyalahi sunnah. Padahal tidak sesimple itu!

Parahnya lagi mereka mengklaim, hanya metode mereka yang benar dan yang lain masih diragukan bahkan salah. Jelas ini keliru.

Modal Pengkritik

Seseorang yang ingin mengkritik, apapun ranah keilmuannya, ia (kritikus) mestinya mengerti dulu kenapa lawan bicara bisa menyimpulkan itu, apa dsarnya? Dan bagaimana konsepnya?

Jadi, seorang kritikus tidak hanya mengenal metodenya sendiri, tapi ia juga dituntut (kalau benar-benar mau jadi kritikus) untuk benar-benar paham metode dan konsep yang dipakai oleh lawan bicara yang menjadi objek kritiknya tersebut.

Kalau seorang kritikus hanya mengerti konse pribadinya saja tanpa tahu apa yang dipakai oleh lawan bicaranya, itu bukan kritikus namanya. Itu hanya penyimak yang salah masuk kamar. Mestinya hanya menyimak, tapi ia sok berlaga sebagai kritikus. Salah kamar dan salah sadar juga.

-dalam masalah hukum fiqih khususnya- sebelum ia mengkritik pendapat salah satu madzhab tertentu, mestinya ia pahami dulu apa metode yang dipakai oleh madzhab tersebut dalam pengambilan hukum. Tahu, pahami, pelajari dan teliti konsep penganmbilan hukumnya.

Jangan hanya karena belajarnya satu metode, dan mengira bahwa hanya metode itu yang shahih dan yang lain yang tidak bermetode seperti itu dikritik dan dianggap keliru dalam mengambil hukum. Tidak seperti itu.

Melihat ada ayat yang jelas-jelas mengandung makna bla bla bla, menurutnya, lalu ada madzhab yang mengambil hukum berbeda dengan kandungan ayat yang ia pahami. Jangan dulu kritik, lihat dulu bagaimana konsep pengambilan hukum madzhab tersebut terhadap ayat Al-Quran.

Menganggap hadits ini shahih, tapi ada madzhab yang pendapatnya bertentangan dengan hadits tersebut, malah dikatakan sebagai mukhalif Al-hadits (menyelisih Hadits). Lihat dulu apa konsep madzhab tersebut dalam mengambil hukum dari sebuah hadits. Apa hanya sanadnya yang shahih, atau punya perhitungan lain?

Pengambilan Hukum dari Ayat

Dalam pengambilan ayat misalnya, ternyata kedua madzhab ushul-Fiqh Ahlu-Sunnah berbeda masing-masing. Madzhab Mutakallimun, yang merupakan madzhab Ushul-nya jumhur madzhab fiqih (Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah) itu punya konsep yang berbeda dengan madzhab Al-Fuqaha’, madzhab ushul-nya Al-hanafiyah.

Dalam hal Al-‘Aam wa Al-Khosh (ayat umum dan ayat khusus) contohnya. Jumhur pada posisi bahwa segala ayat yang turun dalam Al-Quran dan itu mengandung makna ‘Aam (umum) itu selalu ditangguhkan terlebih dahulu dan dicari apakah ada ayat Khosh (khusus) dalam masalah ini?

Kalau ada ayat Khosh-nya, maka ayat ‘Aam itu tadi, hukum yang terjakandung dalam ayat umum itu dibawa atau digirim makna ke dalam ayat khusus. Jadi ayat khusus yang dijadikan pengambilan hukum.

Berbeda dengan madzhab Al-Fuqaha’ (Al-Hanafiyah), mereka tidak melihat apakah ayat itu umum atau khusus. Mereka melihat waktu turunnya ayat tersebut, mana yang turun duluan dan mana yang belakangan.

Jadi konsepnya, ayat yang turun terakhir itulah yang menjadi hujjah dan ayat yang turun lebih awal, kandungan hukumnya digiring ke ayat yang turun terakhir itu, seperti ditutup oleh ayat yang turun terakhit itu, walaupun ayatnya umum.   

Belum lagi ada yang disebut dengan istilah Nasikh wa Al-Mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus). Dan tidak sedikit dalam litelatur fiqih kita temukan par ulama berselisih paham dalam menentukan mana yang nasikh (menghapus) dan mana yang di-mansukh (dihapus).

Konsep pengambilan hukum dari Al-Quran saja sudah berbeda, ya wajar kalau terus kemudian muncul perbedaan pendapat. Ini contoh kecil saja. Ternyata kalau kita teliti lebih dalam, konsep pengambilan hukum dari Al-Quran yang dipakai oleh para Ahli ushul itu sangat luas pembahasannya. Seperti menentukan mana yang disebut nash? Lalu bagaimana dengan istilah Dzohir Al-Nash? Apa pula yang dikatakan ihtimal?

bersambung ke bagian 2
 

Batasan Hari Boleh Jama'/Qashar Bagi Musafir

Dalam syariah, seseorang yang melakukan sebuah perjalanan (safar), ia mendapat keringanan (rukhshoh) untuk meng-qashar sholatnya menjadi 2 rokaat, dan sekaligus menjama'-nya (zuhur-ashar dan maghrib-isya).

Tapi beberapa orang banyak yang bertanya, apakah rukhshoh qasahar dan jama' sholat it uterus bisa dilakukan oleh seorang musafir walaupun waktu safarnya sangat lama. Apakah ada batasan di mana seorang musafir sudah tidak dieprkenankan lagi untuk mendapatkan rukhshoh qashar dan jama' tersebut?

Berniat Mukim

Jawabannya dilihat dari keadaan musafir itu sendiri. Kalau memang ia melakukan perjalanan dan berniat mukim di lokasi tujuan, seperti orang yang mempunyai rumah lebih dari satu, maka status musafirnya yang mana itu menjadikannya mendapat rukhshoh itu selesai ketika ia sampai rumah tujuan.

Jadi, Ketika sampai lokasi, ia tidak boleh lagi qashar atau pun jama' sholat, karena statusnya di lokasi tujuan adalah seorang mukim, bukan musafir. Karena bukan musafir, maka tidak ada keringanan baginya untuk men-qashar atau juga men-jama' sholat.   

Tidak Berniat Mukim Hanya Singgah

Tapi ada jenis kedua, yaitu yang melakukan perjalanan tapi tidak berniat mukim di lokasi tujuan, hanya saja mereka berdiam/singgah di lokasi tujuan beberapa hari karena memang ada kebutuhan untuk mereka berdiam di situ. Dan orang yang seperti ini juga tidak semuanya sama, tapi ada 2 jenis;
[1] Tidak tahu dan tidak menentukan berapa hari berdiam di lokasi
[2] Sudah menentukan jumlah hari berdiam/singgah di lokasi

Tidak Menentukan Jumlah Hari

Untuk jenis yang pertama ialah mereka yang berpergian untuk menyelesaikan sebuah urusan atau pekerjaan yang waktunya tidak ditentukan. Karena memang bukan waktu yang menjadi patokannya, akan tetapi urusan atau pekerjaannya yang mereka jadikan ukuran. Berapa hari pekerjaan itu selesai, segitu pula mereka akan singgah.

Jadi sama sekali mereka tidak tahu akan berapa lama mereka berada di lokasi tujuan safar itu. Seperti orang yang berobat, ia tidak boleh pulang sampai keadaannya fit. Atau juga orang yang ditugaskan mencari orang hilang, ia tidak boleh pulang sebelum tugas pencariannya itu selesai.

Jadi memang tidak ada dalam benar mereka berapa hari mereka akan singgah. Untuk orang seperti ini, syariah mempersilahkannya untuk terus menggunakan rukhshoh dalam qashar dan jama' sholat. Jadi selama apapun itu ia tetap boleh jama' dan qashar sholat, walaupun tinggalnya di situ dalam waktu yang sangat lama.

Imam Al-Turmudzi dalam kitab sunan-nya meriwayatkan beberapa hadits perihal batasan hari di mana seorang musafir tidak lagi mendapatkan rukhshoh, lalu berliau menutup dengan perkataan bahwa ulama telah berijma' bahwa bagi siapa yang tidak berniat mukim dan tidak menentukan jumlah hari singgahnya, mereka tetap mendapatkan rukhshoh Qashar dan jama' sholat, walaupun lamanya sampai tahunan. (Sunan Al-Tirmidzi 2/431)

Sudah Menentukan/Ditentukan Jumlah Hari

Ini seperti orang yang ditugaskan oleh kantor atau perusahaan untuk pergi dinas luar kota, dan pihak kantor sudah menentukan berapa hari ia berada di lokasi tujuan itu.

Atau juga orang yang bepergian berlibur, dan mereka sudah membuat jadwal kapan harus kembali pulang. Berarti mereka juga sudah menentukan akan berapa lama ia berada di lokasi tujuan safar itu.

Intinya pada poin ini adalah seorang yang melakukan perjalanan jauh tidak untuk tujuan mukim dan ia sudah menentukan berapa lama ia akan singgah/tinggal di lokasi tujuannya itu, apapun jenis pekerjaan dan kebutuhan. Intinya jumlah harinya sudah ditentukan.

Untuk jenis safar seperti ini, ulama 4 madzhab sepakat untuk membatasi jumlah hari mereka yang mana mereka boleh qashar dan jama' sholat, namun terlarang jika mereka sudah melewati batas hari rukhshoh tersebut.

Kenapa dibatasi?

Dalam surat An-Nisa' ayat 101, Allah swt menyebutkan bahwa seorang yang sedang dalam perjalanan boleh untuk meng­-qashar sholat:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
"dan jika kalian 'memukul' bumi (melakukan perjalanan) maka tidak ada dosa bagi kalian untuk mengqashar sholat"  

Dalam ayat ini, Allah swt mengkaitkan kebolehan qashar  yang merupakan rukhshoh dengan sifat Dhoroba fil-Ardh (memukul di atas bumi), maksudnya ialah melakukan perjalanan jauh. Artinya kebolehan qasahar itu ada jika ada perjalanan.

Dari ayat ini, ulama menyimpulkan, maka ketika seseorang tidak lagi dhoroba fil-Ard (mumukul bumi), atau tidak lagi dalam perjalanan, maka tidak ada lagi keringanan meng-qashar sholat. Ditambah lagi dengan ayat lain sebelumnya di ayat 103:

فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
"Kalau kalian sudah dalam keadaan yang tenang, maka kerjakanlah sholat (dengan sempurna), sesungguhnya kewajiban sholat bagi orang mukmin itu sudah ditentukan waktu-waktunya"

Dulu orang yang dalam perang mendapat keringanan untuk melakukan sholat dalam keadaan semampunya yang tidak sempurna. Lalu Allah memerintahkan untuk mengerjakan sholat dengan keadaan yang sempurna jika memang sudah dalam keadaan tenang (tidak berperang). Maka begitu pula orang yang safar yang mendapat keringan potongan rokaat ketika safar, ia tidak lagi mendapat keringanan potongan rokaat ketika sudah tidak safar lagi.

Makin dikuatkan dengan banyaknya riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw tidak lagi mengqashar sholat ketika ia sudah di mekkah (bersafar dari madinah) ketika fathu makkah atau juga ketika ia umrah bersama para sahabat.

Batasan Jumlah Hari Rukhshoh

Setelah ulama 4 madzhab ini bersepakat bahwa ada batasan hari di mana seorang musafir tidak boleh lagi mengqashar dan men-jama' sholatnya setelah melewati batas itu, mereka berselisih pendapat tentang jumlah hari yang menjadi batas rukhshoh itu.

Imam Ibnu Rusy dalam kitabnya bidayah Al-Mujtahid (138-139), menjelaskan perbedaan ulama 4 madzhab dalam hal batasan jumlah hari rukhshoh bagi seorang musafir.

1.   Al-Hanafiyah: 14 hari. Hari ke-15 hilang rukhshoh dan mulai sholat sempurna tanpa jama' dan qashar.  
2.   Al-Malikiyah & Al-Syafiiyah: 3 Hari. Setelah 3 hari (hari keemapat) musafir harus sholat sempurna, tidak jama' dan tidak qashar.
3.   Al-Hanabilah: 4 hari. Hari Ke-5 tidak ada lagi rukhshoh.

Al-Hanafiyah (14 Hari)

Imam Ibnu Abdin dalam hasyiyahnya (Radd Al-Muhtar 2/125) bahwa batasan seseorang boleh qashar dan jama' sholat dalam keadaan musafir itu adalah 14 hari. Jadi ketika ia sudah meniatkan untuk singgal lebih dari 14 hari, maka di hari ke-15, ia sudah tidak  bisa lagi mendapatkan rukhshoh jama dan juga qasahr sholat.

Ini didasarkan pada apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw ketika datang ke Mekkah dari Madinah untuk pembebasan Mekkah (Fathu Makkah). Bahwa beliau saw meng-qashar sholatnya sampai 14 hari di Mekah. (HR. Abu Daud)

Al-Malikiyah & Al-Syafiiyah (3 Hari)

Dalil yang digunakan ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya bahwa Nabi saw menjadikan bagi para Muhajirin 3 hari untuk rukhshoh setelah mereka menunaikan hajinya.

لِلْمُهَاجِرِ إِقَامَةُ ثَلَاثٍ بَعْدَ الصَّدَرِ بِمَكَّةَ
"untuk para muhajirin itu bermukim 3 hari di Mekkah setelah Shodr (menunaikan manasik)" (HR Muslim)  

Imam Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm (1/215) menjelaskan maksud hadits ini, beliau katakan:
"mukimnya Muhajir di Mekkah itu 3 hari batasnya (sebagai musafir), maka jika melebihi itu, ia telah bermukim di Mekkah (jadi mukim yang tidak bisa dapat rukhshoh)"

Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam fathul-Baari (7/267) mengatakan bahwa istinbath hukum dari hadits Nabi tersebut adalah bahwa seorang musafir jika berniat singgah/tinggal di kota tujuan kurang dari 3 hari, ia masih berstatus sebagai musafir yang boleh jama' dan qashar sholat. Akan tetapi jika melebihi itu, tidak lagi disebut sebagai musafir.

Al-Hanabilah (4 Hari/21 Sholat)

Uniknya dalam madzhab ini adalah bahwa yang dijadikan ukuran bukanlah hari melainkan sholat. Madzhab ini menetapkan bahwa batasan rukhshoh bagi seorang musafir itu setelah ia melewati 21 kali waktu sholat, atau kalau dihitung dalam hari menajdi 4 hari lebih 1 kali waktu sholat.

Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2/212) dan juga Imam Al-Mardawi dalam Al-Inshaf (2/329). Dalilnya sama seperti yang digunakan oleh madzhab Al-Syafiiyah dan AL-Malikiyah, hanya saja mereka menghitungnya dengan hitungan jumlah sholat.

Imam Ibnu Qudamah Mengatakan:

وَإِذَا نَوَى الْمُسَافِرُ الْإِقَامَةَ فِي بَلَدٍ أَكْثَرَ مِنْ إحْدَى وَعِشْرِينَ صَلَاةً، أَتَمَّ) الْمَشْهُورُ عَنْ أَحْمَدَ - رَحِمَهُ اللَّهُ -
"Jika seseorang musafir berniat untuk tinggal di suatu negeri lebih dari 21 kal waktu sholat, maka ia ketika itu ia harus sempurna sholatnya (tidak jama qashar)" (Al-Mughni 2/212)

Wallahu a'lam



 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger