Kau Bilang Kita Bebas, Tapi....

Kau bilang kita bebas
Tapi kau malah menyalahkan ku
Karena ku berbeda pemikiran denganmu

Kau bilang kita bebas
Aku bilang kau salah
Kau malah marah-marah

Kau bilang kita bebas
Tapi kau malah memaksa ku
Untuk Ikut pendapat mu

Kau bilang kita bebas
Aku tetap pada pendirianku
Kau malah memusuhi ku

Kau bilang kita bebas
Aku berjalan diatas pendapatku
Kau malah mengejek ku

Kau bilang kita bebas
Aku beribadah sesuai keyakinanku
Kau bilang aku kampungan

Kau bilang kita bebas
Tapi kau larang larang aku
Ketika aku ajak yang lain ikut dengan ku
Kau bilang Pemikiranku sudah ketinggalan zaman

Kau bilang kita bebas
Aku bertindak sesuai keyakinanku
Kau malah manghalangi ku
Kau bilang "kebebasan mu dibatasi oleh kebebasan orang lain"
Bukan kebebasan kalau dibatasi
Kau melanggar status dirimu yang katamu bebas
Harusnya kau perdalam dulu apa maksud kebebasan itu!
Agar kau tidak keliru

Kau bilang kebebasan itu ajaran agama
Aku ikut aturan agama
Tapi kau bilang pikiranku sempit
Padahal ada batasan dalam agama
Jadi, Agama mana yang kau maksud?

Kau bilang kebebasan itu perintah tuhan
Tapi tak pernah kau berbicara firman tuhan
Aku bacakan firman tuhan untukmu
Kau bilang "sekarang zamannya berbeda, bung!"
Jadi, tuhan mana yang kau maksud?

Kau bilang kau yakin dengan tuhan
Tapi kau selalu menuhankan otakmu
Dan cuek akan firman tuhanmu
Jadi, tuhan mana yang kau yakini?

Kau bilang kita bebas
Sampai saat ini kau terus mengadakan seminar kebebasan mu itu
Memaksa audiens ikut sejalan dengan mu
Mana kebebasan yang kau agung-agungkan itu?

Kau bilang kita bebas
Tapi semua tindakanmu diatur oleh petinggi mu

Kau bilang kita bebas
Kenapa kau takut keluar dari jaringan bebasmu itu?
 

Puasa Rajab, Ada Atau Tidak?


Pada dasarnya, puasa itu disyariatkan dan dibolehkan, asalkan bukan di hari-hari yang ada larangan berpuasa di dalamnya. 
 
Contoh puasa yang di sunnahkan; puasa senin kamis, puasa asyuro’, puasa 9 hari awal bulan dzulhijjah, puasa Daud, puasa arofah, puasa setengah awal bulan sya’ban.

Puasa yang dilarang; puasa dua hari raya, puasa  hari Tasyriq, atau puasa di waktu haid. Sedangkan puasa pada bulan Ramadhan ialah suatu kewajiban yang tidak bias ditawar-tawar.

Puasa Bulan Rajab
Adapun puasa di bulan rajab memang ada dalil pen-syariatannya, artinya dibolehkan. Dibolehkan atas dalil umum; yaitu dalil keutamaan berpuasa di bulan-bulan Haram, dan bulan rajab ialah termasuk dari 4 bulan Haram tersebut. (bulan Haram: Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, Rajab)

Bahkan dalam Kitabnya Nailul Author [نيل الأوطار], Imam Syaukani mengatakan bahwa kebolehan puasa pada bulan-bulan Haram yang didalamnya termasuk bulan rajab ialah suatu Ijma’ ulama.

Adapun dalil yang mengkhususkan keutamaan puasa pada bulan rajab memang ada dan bisa dibilang banyak, namun status hadits-hadits tersebut dho’if (lemah) dan bahkan ada yang berstatus maudhu’ atau palsu. 

Tidak ada satupun hadits tentang keutamaan puasa di bulan Rajab ini yang statusnya shohih ataupun hasan, Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al’Asqolani dalam kitabnya Tabyinul-‘Ujbi Bima Waroda Fi Syahri Rojab [تبيين العجب بما ورد في شهر رجب].

Diantara hadits-hadits tersebut ialah:

Pertama:
Dari Anas Bin Malik: “sesungguhnya dalam surga ada sungai yang bernama ‘Rajab’, airnya lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu, barang siapa yang bepuasa pada salah satu hari bulan Rajab, Allah akan meminumkan untuknya dari air sungai rajab itu”. 

Kedua:
Dari Abu said Al-Khudri ra, Rasul SAW bersabda: “barang siapa yang berpuasa satu hari pada bulan Rajab, maka ia akan mendapatkan keridhoan Allah yang besar… barang siapa yang berpuasa 2 hari, ia akan mendapatkan 2 kali lipat pahala, dan satu lipatnya itu bagaikan gunung-gunung di bumi. Dan barang siapa yang berpuasa 3 hari, Allah akan membuatkan untuknya penghalang antara ia dan neraka dengan sebuah parit, yang panjangnya perjalanan selama setahun…………….(dan seterusnya, maaf tidak diteruskan penulisannya karena panjang sekali).

Ketiga: 
“Barang siapa yang berpuasa pada bulan rajab selama 3 hari, ia bagaikan berpuasa selama sebulan, dan barang siapa yang berpuasa 7 hari, ditutup baginya pintu neraka, dan siapa yang berpuasa 8 hari, dibukakan untuknya 8 pintu surge, siapa yang berpuasa setengah bulan rajab, Allah menuliskan untuknya RidhoNya, dan siapa yang mendapat Ridho Allah ia tidak akan di siksa, dan siapa yang berpuasa sebulan rajab penuh, ia akan dihisab dengan hisab yang ringan.”
   
Hadits-hadits tersebut dan juga hadits-hadits lain yang membicarakan tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab itu semua hadits yang lemah dan bahkan banyak juga yang Maudhu’ atau palsu. Artinya tidak dapat dijadikan dalil dan hujjah. (Ibnu Hajar / Tabyiinul-‘Ujb)

Penulis tidak menuliskan siapa perawi hadits-hadits tersebut, karena memang hadits yang penulis dapat dari beberapa kitab tentang puasa Rajab ya seperti itu. tidak jelas perawi seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolany. 

Dilarang Mengkhususkan Bulan Rajab Untuk Berpuasa

Seperti keterangan diatas bahwa tidak ada penganjuran puasa pada bulan rajab secara khusus, karena tidak ada dalil yang sah mengenai hal itu.

Diriwayatkan dari Khorsyah bin Al-Harr bahwa ٍSayyidina Umar ra pernah memukul tangan-tangan kaum muslim (yang berpuasa pada bulan rajab) hingga menaruhnya di piring-piring mereka, kemudia beliau berkata: 

“Makanlah! Sesungguhnya ini (Bulan rajab) ialah bulan yang diagung-agungkan oleh orang Jahiliyah” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Katsir dalam Musnad Al-Faruq)

Imam Abu Syaibah juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar me-makruh-kan puasa pada bulan Rajab.

Beberapa ulama menyimpulkan bahwa larangan tersebut bukan berarti larangan untuk berpuasa Rajab, namun itu larang bagi mereka yang hanya berpuasa di bulan Rajab saja. mereka mengkhusukan bulan Rajab seakan-akan harus berpuasa, sedang bulan lain tidak demikian. 

Tidak menjadi larangan mutlak, karena memang ada hadits yang menerangkan sunnah berpuasa di bulan-bulan haram sebagaimana disebutkan diatas. dan terlebih lagi tidak ada larangan khusus untuk berpuasa di bulan Rajab. 
 
Tidak Ada Larangan Puasa Bulan Rajab

Imam Ibnu Majah pernah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas; “Bahwa Rasulullah SAW melarang untuk berpuasa pada bulan rajab”

Namun Imam Syaukani mengatakan bahwa status hadits ini pun dho’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan argument untuk pelarang puasa pada bulan Rajab. (Nailul Author Juz 4 Hal 331)

Kesimpulan

Kesimpulannya bahwa tidak ada dalil yang melarang puasa Rajab, dan juga tidak ada anjuran khusus untuk berpuasa di hari-hari bulan rajab. Namun hukum asli berpuasa itu dianjurkan sebagaimana disebutkan dalam hadits penganjuran berpuasa pada bulan-bulan haram, dan rajab termasuk dari 4 bulan Haram tersebut. 
(Imam Nawawi / Srayhun-Nawawi Lil-Muslim jul 8 hal 39)

Intinya memang puasa Rajab itu ada dan disyariatkan. atas dasar dalil yang menganjurkan untuk berpuasa di bulan-buan haram (mulia) dan Rajab termasuk dari 4 bulan haram tersebut. 

Namun tidak ada pengkhususan dalam puasa Rajab, entah itu sehari, 2 hari, atau 15 hari dan seterusnya karena hadits-hadits tentang itu semua dhoif dan palsu, tidak ada yang benar-benar shohih dari Nabi SAW.

jadi puasa di bulan Rajab ini sama seperti puasa-puasa di bulan-bulan lain, hanya saja di bulan rajab ini lebih dianjurkan karena termasuk dari bulan-bulan Haram (Mulia).

Amalan Sunnah Bulan Rajab

Dalam bulan Rajab ini ada amalan yang sering dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW setiap masuk bulan Rajab, yaitu membaca Do'a Rajab. redaksi do'anya seperti ini:

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
Allahumma Baarik Lanaa fi Rojaba Wa Sya'baana wa ballighnaa Romadhona.

"yaa Allah berkahilah kami pada bylan Rajab dan bulan Sya'ban ini, dan sampaikanlah (umur) kami sampai bulan Ramadhan"

semua sepakat bahwa hadits doa Rajab ini ialah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan argumen dan dalil. lalu bagaimana, boleh kah kita berdoa dengan redaksi hadits dhoif ini? apakah berdosa? baca pembahasannya DISINI   

 Wallahu A'lam
 

Tidak Ada "Kenapa" Untuk Allah SWT!


Ketika mengisi pelatihan tentang “Mawaris” di daerah Kemang Jakarta Selatan, ada seorang peserta pelatihan bertanya,
“stadz, kenapa ya Allah menurunkan Ayat waris di surat An-Nisa’?”

Buat saya ini pertanyaan yang aneh dan jelas salah redaksi. Dan sama sekali saya tidak punya kuasa untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Seharusnya pertanyaan itu bukan seperti itu redaksinya, tapi begini: “Apa Hikmah diturunkannya ayat Waris?” atau lebih tepat lagi kalau bunyinya seperti ini: “Apa asbab nuzul ayat waris ini?”

Kalau pertanyaannya seperti yang saya sebutkan tadi, itu masih bias dijawab dan memang ada penjelasaannya. Tapi kalau pertanyaan yang pertama itu tidak ada ada jawabannya. Karena pertanyaan “kenapa” untuk syariat yang telah di tetapkan oleh Allah SWT itu berarti “gugatan” kepada Allah yang telah membuat syariat tersebut.


Dan pertanyaan “Kenapa” ini tidak boleh keluar dari mulut seorang muslim atau bahkan terbesit dalam hati seseorang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir.

Karena dengan bertanya “kenapa” terhadap syariat yang telah diturunkan itu berarti kita telah menggugat Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur kehidupan dunia ini. Dan ‘Gugatan” itu lahir dari ketidak senangan, atau ketidak Ridhoan seseorang kepada apa yang dihadapinya. Berarti ia tidak senang dengan syariat Islam itu sendiri, muslim yang tidak senang kepada sayriat berarti imannya perlu dipertanyakan.

Pertanyaan “kenapa” lahir dari kurang kuatnya Iman dalam diri ini. Terkadang atau sering kali dalam hal agama, kita harus menanggalkan subjektifitas-subjektifitas kita sebagai manusia. Tidak bias semuanya diukur dengan akal manusia. Tapi harusnya imanlah yang kita dahulukan dalam mengukur setiap hal dala beragama.

Dan pertanyaan “kenapa” juga berarti kita telah menghukumi Allah tentang apa yang Ia telah tetapkan, dan ini sungguh tidak layak bagi seorang hamba. Bagaimana bias ia menggugat dan mempertanyakan Tuhannya akan apa yang telah Ia tetapkan?.

“Dia (Allah) tidak ditanya akan apa yang telah Ia kerjakan, akan tetapi merekalah (manusia) yang akan ditanya” (QS Al-Anbiya’ 23)

Kalau selalau mengukur dengan ukuran manusia, yaitu otak dan akal, akal manusia tidak akan sampai dan tak akan menemukan jawaban yang pasti. Karena seberapapun kejeniusan manusia, manusia tetaplah makhluk yang lemah dan punya banyak keterbatasan. Tapi tidak dengan sang maha Pencipta yang tidak ada kekurangan apapun.

Sebagai muslim, kita dituntut untuk selalu tunduk dengan apa yang dibawa oleh agama ini. Baik itu perintah, larangan, atau informasi-informasi yang datang dari sumber syariah; Al-Quran dan Sunnah.  Dan juga sebaliknya, jika kita melanggar, ada konsekuensi yang harus kita terima.

Dalam Al-quran, Allah SWT dengan gambling mengatakan bahwa tiada cela bagi manusia untuk menolak semua yang telah diperintahkan. Surat Al-Ahzab ayat 36

“dan tidaklah pantas bagi seorang mukmi; laki-laki dan perempuan, jika Allah dan rasulNya telah menetapkan suatu ketetapan untuk (mereka) punya pilihan lain dalam urusan-urusan mereka . dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Ahzab 36)

Jadi sangat jelas sekali, bahwa seorang muslim wajib tunduk dengan apa yang telah diperintahkan. Bukan mencar-cari “kenapa” ini diperintahkan. Allah-lah yang berhak memerintahkan kita, Allah pulalha yang tahu apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk kita. Karean Dia-lah sang maha pencipta. Jadi Dia-lah yang tahu segala.

Terlebih bahwa diakhir ayat tersebut ada ancaman jika kita meninggalkan apa yang telah diperintahkan, “dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata” .

Dalam ayat lain juga dijelaskan hal demikian, yaitu ancaman adzab yang pedih jika kita meninggalkan perintah syariah.
“dan hendaklah mereka yang melanggar perintah RasulNya itu takut akan ditimpa musibah dan siksaan yang pedih” (QS An-Nur 63)

Jadi otaklah yang harus tunduk pada syariat, bukan otak yang selalu menghukumi syariah. Karena memang akal manusia yang sehat itu pasti tunduk akan apa yang telah dibawa oleh syariat agama ini.
Rasul SAW besabda:
“Demi zat yang mengenggam jiwa ini, sungguh tidak beriman seseorang diantara kalian (tidak sempurna imannya) sampai hawa nafsu mengikuti apa yang telah aku bawa (syariah agama)” (Hadits shahih ayng diriwayatkan di dalam kitab Hujjah yang disusun oleh Abu Al-Fath Nashr Ibnu Ibrahim Al-Maqdisy dengan sanad shahih)  

Termasuk juga dalam masalah musibah atau bencana. Seorang muslim tidak dibenarkan menanyakan dan menggugat Allah dengan bertanya “kenapa musibah?”. Kenapa musibah itu diturunkan tentu karena banyak hikmah, dan Allah tidak pernah mendzolimi hambaNya kecuali hamba itu sendiri yang mendzolimi dirinya sendiri.

Dalam musibah gempa atau tsunami misalnya, penilitian dan jwaaban yang diberikan oleh para peniliti atau ilmuan tentang “kenapa” itu bisa terjadi. Itu bukan jawaban untuk sola “kenapa”, akan tetapi itu jawaba untuk soal “bagaimana” gempa atau tsunami itu bias terjadi.
“kenapa terjadi?” hanya Allah yang tahu itu semua.

Maka dari itu Rasul dari jauh-jauh hari telah mengingatkan dan mengajarkan kita agar selalu memohon kepada Allah untuk diberikan kelembutan hati agar bias menangkap semua hikmah dibalik setiap kejadian.

Wallahu A’lam
 

Pendaftaran LIPIA 2012 Telah Dibuka!

Alhmdulillah, akhirnya penantian panjang tejaab sudah. bagi para pencai ilmu, ilmu syariat khususnya, bahwa pendaftaran untuk mahasisa baru telah dibuka. itu untuk seua bagian; yaitu bagian I'dad, Takmily, dan juga syariah.

Namun jika para pembaca ingin lebih jauh mengenal LIPIA silahkan baca juga artikel "Kuliah Gratis, Digaji Pula" dan disana para pebaca juga bisa mendownload buklet panduan untuk menjadi mahaiswa LIPIA.

Pendaftaran:
I'dad  : Senin, 4 Juni sampai Jumat, 8 Juni 2012
Takimily dan syariah : Senin, 11 Juni sampai Jumat, 15 Juni 2012

tempat pedaftaran:
Di kampus LIPIA, Jl. Warung Buncit raya No. 5A
Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan


Untuk informasi yang lain silahkan telpon ke kantor LIPIA langsung Telp : 7814485-7814486

Materi Test
1. Materi Ujian I'dad meliputi : Maharoh Lughoh mulai Nahwu Shorof insya dll.
2. Materi Ujian Takmily meliputi : Maharoh Lughoh mulai Nahwu Shorof dan Balaghoh, sangat diutamakan yang berasal dari I'dad LIPIA sendiri, karena soalnya banyak dari materi Balaghoh I'dad
2. Materi Ujian Syariah meliputi : Aqidah, Tafsir, Fiqih, Usul Fiqih, Tsaqofah, Hadits, Ilmu Hadits dll.

Syarat Pendaftaran :
1. Calon Mahasiswa sudah tamat aliyah atau yang sederajat untuk bagian :
- I'dad lughawi : nilai rata-rata minimal 7 dan ijazah belum lewat 3 tahun.
2. Sehat jasmani & rohani
3. Berkelakuan baik
4. Mampu berbahasa arab dengan baik ( baca, tulis dan bicara )
5. Hafal Al-Qur’an (Minimal 2 juz untuk Takmily, 3 juz untuk Syari'ah).
6. Mengkhususkan diri sepenuhnya untuk belajar di LIPIA
7. Belum pernah diberhentikan dari LIPIA
8. Lulus tes tulis & tes lisan

Berkas yang diperlukan
1. Foto Copy Ijazah yang sudah dilegalisir
2. Transkrip nilai & raport terakhir
3. Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku / SKCK (asli)
4. Surat Keterangan Sehat dari Dokter yang masih berlaku (asli)
5. Foto copy KTP yang masih berlaku
6. Pas Foto terbaru : (4×6) 2 lembar, (3×4) 2 lembar, (2×3) 2 lembar
7. Rekomendasi dari Sekolah atau tokoh masyarakat

Masa belajar :
I'dad Lughowi (Persiapan Bahasa) : 2 tahun ( 4 semester)
Takmily (Pra Universitas) : 1 tahun ( 2 semester)
Syariah (S1) : 4 tahun ( 8 semester )
Diplom : 1 tahun (2 smester)

Informasi ini didapat dari pengumuman yang ditempel di LIPIA Jakarta ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab)

Waktu tes:
sampai kabar ini di publish, penuli belum tahu kapan ujiannya itu di selenggarakan. tapi waktu ujian itu akan diketahui ketika calon mahaiswa meyerahkan seluruh berkas yang diminta, yang nantinya berkas itu akan ditukar dengan kartu peserta ujian masuk lipia. 
 

Perbedaan Warisan Dan Wasiat

Kebanyakan orang, atau mungkin sedikit, mereka yang tidak bisa
membedakan antara wasiat dan warisan. Dan saya juga termasuk dari kebanyakan orang tersebut sebleum akhirnya belajar dan Alhamdulillah mengerti.

Wasiat dan warisan, sekilas memang sama, karena keduanya berhubungan dengan harta yang ditinggal mati oleh si pemilik. Dan syariah pun menyebut keduanya bersamaan. Artinya keduanya sangat dekat sekali.

Tapi, sebetulnya keduanya berbeda dan mempunyai hukum masing-masing.Toh namanya saja berbeda, hukum dan penerapan secara syar'i pun berbeda.

Memang keduanya ialah harta yang dibagikan setelah sipemilik meninggal dunia. Tapi pos-pos harta dari 2 ketentuan ini jelas sangat berbeda.

Warisan hanya dibagikan kepada ahli waris dan dengan kadar yang telah ditentukan, tidak "asal ngasih". Sedangkan wasiat bisa diberikan kepada siapa saja sesuai wasiat si mayit, dan jumlah berapa saja asal tidak melebihi sepertiga harta si mayit tersebut.

Warisan mempunyai hukum, syarat, asbab, dan mawani' yang tidak
terdapat pada hukum wasiat. Singkatnya perbedaan antara wasiat dan warisan bisa dilihat dari sisi waktu, kadar, hukum taklif, dan kepada siapa diberikan.

Pertama: Waktu.
 
- warisan diberikan kepada para ahli waris setelah meninggal si pemilik harta. 

- wasiat waktu pemberiannya sama dengan warisan.

Kedua: Kadar Harta Yang Diberikan
 
- warisan diberikan dengan kadar yang sudah ditentukan dalam ilmu Faro'idh, yaitu 1/2, 2/3, 1/3, 1/4, 1/6, 1/8. 

- wasiat diberikan dalam kadar yang tidak boleh melebihi 1/3 dari
harta si mayit.

Ketiga: Hukum Taklif 

- warisan hukumnya wajib. Tak ada tawar menawar lagi, ketika seorang meninggal dunia, maka wajib hukumnya bahwa harta yang ditinggalkan harus dibagikan sesuai Faro'idh.

- wasiat hukumnya mustahab, atau yang sering dikatakan dengan sunnah. Artinya baik dilakukan karena itu bagian dari Qurbah (pendekatan) kepada Allah, namun jika tidak berwasiatpun tak mengapa. Hanya saja kalau seorang sudah berwasiat, maka wasiat itu wajib ditunaikan ketika sipewasia meninggal dunia.

Keempat: Kepada Siapa Diberikan.

- warisan hanya diberikan kepada ahli waris yang telah ditentukan
dalam ilmu Faroidh. Dan tidak boleh "asal ngasih". Dalam warisan semua sudah ada pakemnya.

- wasiat diberika kepada siapapun selain ahli waris. "tidak ada wasiat bagi ahli waris" (HR Abu Daud).

Semoga bermanfaat.
Wallahu A'lam.
 

BEGINI HARUSNYA KALAU JADI PEJABAT

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Amirul Mu'mini Sayyidina Umar
ra ketika menjadi kholifah muslimin, ketika itu beliau beserta
rombongan berjalan menyusuri jalan kota.

Melihat rombongan khalifah, tentu saja para penduduk yang melihat
berenti sejenak guna membiarkan rombongan khalifah melintas lebih
dulu. Yang lain pun segera menyingkir ke pinggir jalan agar tindak
menghalangi jalan khalifah Umar.

Semua itu mereka lakukan karena hormat dan ta'dzim mereka kepada sang
khalifah Umar ra.

Saat yang lain menyingkir, ada satu anak yang belum cukup besar tetap
berdiri dan enggang menyingkir ke pinggir jalan. Seakan tak pedulu ada
rombongan sayyidina Umar yang mau melintas. Dia juga tak peduli
teguran warga lainnya.

Ketika melintasi anak tersebut, Sayyidina Umar menyambanginya dengan
hangat tanpa rasa marah dan bertanya: "kenapa kau tidak menyingkir
dari jalan seperti yang lain nak?"

Dengan sangat diplomatis dan tanpa kaku ataupun takut, si anak itu
menjawab: "kenapa aku harus menyingkir wahai khalifah?"

Sayyidina Umar pasang telinga sekali untuk perkataan si anak ini.
Kemudian ia terus teruskan: "toh saya kan tidak punya salah apa pun
kepada khalifah yang membuat saya harus menyingkir dari jalan ini"

Amirul Mu'minin beserta rombongan menyimak diplomasi si anak dengan
seksama. Lanjut ia: "toh kalaupun saya tidak menyingkir, jalan ini
masih cukup luas untuk khalifah lewati beserta rombongan khalifah.
Jadi ya saya tidak perlu menyingkir"

Rombongan dan juga para warga lainnya terperangah mendengar pernyataan
anak tersebut. Semua menyangka pastilah Umar marah kepada anak
tersebut. Bagaimana tidak, Umar lah khalifah yang dikenal sebagai
pemimpin yang banyak ditakuti karena keberaniannya.

Tapi reka-reka itu salah semua. Umar yang gagah dan dikenali galak itu
luntur kegagahannya dan lngsung berubah dengan senyuman lebar dari
mulutnya. Dan muncul raut gembira dari wajahnya.

Bukan 'omelan' yang didapat oleh anak pintar itu dari sayyidina Umar
melainkan beberapa dirham yang berpindah tempat dari kantong sang
kholifah ke kantong kecil si anak.

Melawan, berargumen, khalifah tersenyum dan memperoleh dirham. Lihat
bagaimana mulianya sikap sayyidina Umar yang sama sekali tidak
otoriter dan tidak menganggap dirinya diatas dari yang lain.

Mau dikoreksi dan tidak malu menerima kritikan dan koreksi dari orang
lain, bahkan yang lebih kecil. Begini harusnya seorang pemimpin,
merakyat dan tidak seenaknya menggunakan fasilitas negara untuk
kepentingan pribadi sendiri.

Sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lihat dinegara kita ini. Para
pejabat dan pemimpin yang jauh dari sikap seorang pemimpin, bahkan
sama sekali tidak menjadi teladan. Memakai fasilitas negara seenaknya,
ketika dikritik malah balik membidik.

Diberi saran malah tak mau mendengarkan. Ketika diketahui melanggar
hukum malah berkilah dibalik senyum.

Sudah banyak yang kita dengar dari media atau bahkan kita melihat
sendiri bagaimana perlakuan para petinggi negeri ini yang sama sekali
jauh dari nilai positif. Seenaknay memnggunakan jebatan dan kekuasaaan
tanpa mau diberikan saran.

Ada pejabat yang seenaknya ganti nomor plat mobil dan tak doberi
hukuman. Ada yang jadi jagoan di jalan. Kasar kepada petugas bandara
hanya tidak diperlakukan spesial. Memakai foreder di jalan tanpa
peduli ada warga yang sedang tersiksa karena rombongan memangkas
jalan.

Yaaa jadi bagaimana negeri ini berkembang kalau banyak di pimpin oleh
pejabat-pejabat yang tau meu menerima kebaikan.

Wallahu A'lam
 

Jadi Guru Ngaji, Why Not?

Saya selalu mengatakan kepada adik-adik kelas saya, baik yang pesantren ataupun yang non-pesantren (yang pesantren khususnya) dalam berbagai kesempatan baik itu pembekalan santri kelas akhir ataupun ketika ngobrol biasa,

"jangan malu, kalo akhirnya nanti keluar pesantren kita cuma ngajar ngaji anak-anak alus, anak-anak kecil,justru itu nilai plus buat kita.dan yang pasti pahalanya gede banget!"

Di pesantren, biasanya masa yang ditempuh itu masa SMP-SMA, jadi ketika mereka keluar dan lulus dari pesantren, mereka berada pada umur yang masih sangat muda. Umur dimana seorang manusia ingin menunjukkan keahliannya kepada sekiling dan lingkungan sekitar.

Ada rasa malu mungkin yang dirasa oleh anak-anak ini jika harus menjadi guru ngaji "A Ba Ta" di rumah atau masjid atau musholla masing-masing. Karena memang biasanya, ngajar ngaji anak-anak itu kerjaan ustadz kampung yang umurnya udah tua. "ustadz muda ngga gitu kerjaannya", mungkin begitu kira-kira perasaan yang timbul.

Terlebih lagi bahwa teman-teman mereka mayoritas meneruskan studi ke perguruan tinggi, yang bergensi bahkan, atau malah ada yang kuliah sampai ke luar negeri. 
Jadi malu juga kalau nanti ketika ada acara pertemuan dengan para teman-teman, yang lain dengan gagah membagakan kampusnya yang elit dan berkualitas. Ada lagi yang membagakan tempat kerjanya, ada juga yang membagakan yayasan dimana dia bernaung, dan sebagainya sebagainya sebagainya.
Jadi Guru Ngaji Itu Hebat
Saya tidak melarang mereka kuliah atau mereka bekerja, hanya saja sayang kalau segala ilmu yang telah didapat itu tidak dimanfaatkan. Masih banyak juga waktu setelah kulia atau kerja untuk mengajar ngaji kan?

Apalagi kalau (maaf) ekonomi orang tua kita lemah, kurang sanggup membiayai kuliah kita, beasiswapun kita tak dapat, bekerja pun sulit karena hanya punya ijazah SMA. 
Nah jadi guru ngaji itu jadi pilihan yang tepat. Tidak mesti ngajar ngaji untuk anak-anak, ngajar ibu-ibu dan bapak-bapak pun terbuka lebar, tentu sebatas ilmu yang kita miliki, yang tidak tahu serahkan kepada ahlinya. Atau mengisi mushola dan masjid dekat rumah jadi muadzin tetap.
Selain menyuburkan ilmu yang telah didapat dari pesantren, itu juga sarana yang paling mudaj untuk meraup pahala dari Allah SWT sebanyak-banyaknya. Dan tidak perlu malu! pekerjaan ini memang terlihat kecil, ndeso, tak bermutu. Tapi pekerjaan ini sungguh sangat besar kedudukannya dihadapan Allah SWT.

Bagaimana tidak? Ulama-ulama dunia yang bertebaran di seluruh penjuru alam ini itu hasil produk dari seorang guru ngaji di kampung. para ulama itu tidak akan tahu makna sebuah ayat Quran kalau tidak ngerti bahasa arab, bagaiamana ia ngerti bahasa arab kalau tidak ngudeng tulisan-tulisan arab itu, bagaimana ia tahu bentuk tulisan-tulisan arab kalau tidak mengaji ketika kecilnya dulu, dan siapa yang pertama kali mengenalkan ia dengan hurut-huruf qur'an itu? USTADZ si guru ngaji itu.

Berapa banyak pahala yang diterima oleh sang ulama atas ilmu yang ia sebarkan kepada khalayak ramai melalui ceramah, tulisan dan buku-bukunya? Tentu banyak sekali, dan sebanyak apapun pahala yang ia dapatakan, itu akan mengalir semua kepada guru ngajinya ketika kecil tanpa ada yang berkurang sedikitpun. Dan kita sudah tau hadits tentang ini. Tidak mau kah kita menjadi orang-orang yang dilimpahi pahala?.

Terlebih lagi bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan gelar "SEBAIK-BAIK MAKHLUK" kepada mereka yang belajar qur'an dan mengajarkannya.
"Sebaik-baik kalian ialah ia yang belajar qur'an dan mengajarkannya".

Ada Cerita Menarik Perihal Guru Ngaji
Beberapa waktu yang lalu kami kedatangan tamu dari saudi Arabia sana. Beliau seorang doktor syariah (maaf, saya lupa nama beliau) yang sudah lama mengajar di beberapa kampus, salah satunya ialah Imam Muhammad bin Suud Islamic University Riyadh.

Sama seperti tamu-tamu yang sudah datang sebelumnya. Beliau kemudian menyampaikan taushiah dan taujihnya kepada kami tentang bagaimana mestinya menjadi Tholibul-Ilmi. Lalu belaiu bercerita tentang mahasiswanya yang ia temui di acara semacam reuni.

Beliau adalah doktor yang sudah banyak menghasilkan para ulama yang dulu belajar kepada beliau. Tentu saja ketika bertemu, para murid yang sudah jadi ulama tersebut saling bercerita tentang pengalaman mereka soal dakwah dan juga yayasan-yayasan yamg telah mereka dirikan. Dan juga pangkat mereka dimasyarakat yang tidak bisa dikatakan kecil, mereka mendapat tempat yang dumuliakan oleh sekitar.

Tapi ditengah itu semua, ada salah seorang murid belaiu yang hanya memojokkan diri sendiri di pojok ruangan tanpa ada yang menemani. Rasa malu terlihat sekali dari raut muka wajahnya, dan sesekali tersenyum melihat mereka yang lewat di hadapannya.

Sang doktor dengan nalurinya yang mengayomi akhirnya mendekati muridnya yang kesepian ini. Kemduian bertanya: "apa yang membuat kamu berdiri sendiri disini? Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya?"

Ia jawab: "maaf dok, saya malu! Lihat murid-murid doktor sekarang, mereka semua sudah jadi orang-orang besar dengan semua pangkat-pangkat mereka yang bermacam-macam.

Tapi saya bukan itu semua, saya bukan dosen, saya juga tidak punya yayasan pendidikan, saya juga tidak meneruskan studi lagi.

Saya cuma guru ngaji untuk anak-anak kecil dimasjid dekat rumah saya. Saya malu kalau harus gabung bersama mereka."

Dengarkan bagaimana sang doktor menjawabnya.

"kamu tahu kan Imam Sudais? Kenal kan sheikh 'Arifi? Kenal kan Imam ini, Imam itu? Kamu tahu siapa yang pertama kali mengajarkan beliau-beliau alif pertama kali itu sehingga menjadi Imam masjid haram, jadi imam besar,...?"

Sang murid hanya menggelengkan kepala.

Doktor meneruskan: "apakah Allah lupa dengan jasa para guru-guru mereka sehingga mereka jadi seperti sekarang ini?"

Mulai guratan senang nampak diwajah sang murid.

"kamu jauh lebih baik dari mereka"
Wallahu A'lam
 

Hukum Mengambil Uang Tip. Halal kah?


Seorang teman yang sekarang bekerja sebagai satpam atau security untuk sekolah khusus katholik di daerah jakarta pusat, datang menemui saya beberapa waktu lalu sambil membawa sebuah pertanyaan yang selama ini membuatnya was-was.

pertanyaan itu seperti ini:
Di pos security didepan sekolah itu terpampang aturan dari sekolah yang berbunyi "NO TIPPING", artinya tidak boleh bagi para security yang mengambil uang tip dari para wali murid yang datang. Sebaliknya juga demikian, wali murid tak perlu memberi uang tip.

Uang tip itu untuk apa?
Biasanya kalau sudah masuk jam keluar sekolah, para orang tua murid itu datang untuk menjemput anak-anak mereka. Karena tak mau cape, akhirnya para orang tua ini ogah turun dari mobilnya dan meminta para security itu mencari anaknya dan membawanya ke mobil. "mas, anakku edward di kelas 2E" begitu kira-kira redaksi kalimatnya.


Nah ketika si security dapat membawa anaknya ke mobil, orang tua itu memberikan uang tip kepada security itu sebagai "uang cape". Dan ini sudah menjadi kebiasaan yang selalu terjadi setiap jam keluar sekolah, dan sudah berjalan sejak lama.

Sekolah ingin memberikan isyarat dengan aturan tersebut agar para security tidak mengambil tip dari para ortu dan para ortupun sebaiknya mengambil sendiri anak-anak mereka bukan menyuruh para security, karena itu bukan tugas security.

Lalu bagaimana hukumnya mengambil uang tip tersebut? Halal kah?

Pertama:
Pekerjaan itu (mencari anak dan membawa ke ortunya) bukanlah pekerjaan seorang security, bukan pekerjaan utama dan bukan juga pekerjaan sampingan, dan tidak ada dalam buku tugas atau surat tugas seperti itu.

mereka hanya bertugas sebagai keamanan sekolah. Menjaga sterilisasi sekolah dari hal-hal yang membuat gaduh dan kacau. Hubungannya ke sekolah ialah menjaga, dan karena itu juga yayasan yang membawahi para security ini dikirim ke sekolah.

Jadi sama sekali tidak ada kewajiban atau keharusan bagi security yang sedang dalam waktu tugas ia menuruti permintaan para ortu tersebut.

Kedua:
Perjanjian yang telah dibuat antara 3 pihak (yayasan security, security, dan sekolah) adalah jelas dan tertulis, tak ada alasan untuk tidak mematuhinya.

Sekolah meminta kepada yayasan security untuk mengirim para security guna menjaga keamanan sekolah. Yayasan mendatangkan para security guna mengamankan serta menegakkan aturan yang sudah diberlakukan disekolah. Sebagai gantinya sekolah membayar untuk itu semua.

Dan dalam perjanjian 3 pihak ini tidak ada yang namanya mengambil uang tip. Dan sekolah mengikat para security untuk menegakan aturan sekolah termasuk mengenai 'no tipping' itu tadi.

Jadi wajib hukumnya bagi para security tadi itu untuk mentaati peraturan yang telah disepakati. Islam melarang keras bagi mereka yang melanggar aturan atau akad atau perjanjian yang telah disepakati.

"wahai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad mu" (Al-Maidah 1)

Imam Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini adalah perintah bagi para kaum muslim untuk menepati akad. Dan akad-akad itu ialah termasuk perjanjian (baik itu dalam akad jual beli atau yang lainnya) antara manusia itu sendiri yang telah disepakati selama itu tidak keluar dari syariah.

Hadits Nabi SAW: "kaum muslim berdiri (berjalan) diatas syarat-syarat (yang telah mereka sepakati) kecuali syarat yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal" (HR Abu Daud dan Al-Baihaqi)

Hadits diatas jelas dan menunjukkan sama seperti apa yang ditunjukkan oleh ayat Al-Maidah ayat 1, bahwa seorang muslim dituntut untun mentaati segala persyaratan, perjanjian dan akad yang telah mereka sepakati.

Ketiga:
Hadits dan ayat diatas jelas, dan menunjukkan lafaddz umum. Artinya saling mentaati perjanjian, walaupun dengan nonmuslim karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
Jadi kalau dikatakan: "tapi itukan perjanjian kepada nonmuslim, pihal sekolah kan orang katholik?" 

Ini jelas salah. Sejarah kita mencatat bahwa Rasul beserta kaum muslim ketika itu membuat perjanjian "shulhul-Hudaybiyah" dengan orang nonmuslim, dan Rasul mentaatinya.

Dan bukan hanya perjanjian Hudaybiah itu saja Rasul membuat kesepakatan dengan nonmuslim. Banyak sekali tercatat bahwa Rasul SAW melakukan kesepakan itu, dan bahkan berjual beli dengan mereka, dan jual beli itu juga termasuk akad.

Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk merusak perjanjian itu walaupun dengan orang nonmuslim.

Keempat:
Kalau dikatakan: "itu kan udah jadi kebiasaan, bukannya kebiasaan itu jadi dihukumi?"

Syarat utama "Al-'Adah Muhakkamah" ialah kebiasaan itu tidak menabrak aturan dan hukum yang berlaku. Dan kebiasaan yang sedang kita bicarakan ini sudah melanggar aturan yang telah ada.

Kelima:
Ini yang penting. Dalam pergaulan sekarang ini, kita tidak hanya berinteraksi dengan kawan sesama agama Islam, tapi juga berbaur dengan nonmuslim. Baik itu kristen, budha hindhu, konghucu, atau juga yang tak bertuhan.

Islam tidak pernah melarang kita untuk bergaul dan berhubungan dengan mereka, Islam pun tidak pernah memerintahkan kita untuk memusuhi mereka, kecuali mereka yang mengangkat bendera perang.

Dengan ini kita dituntut sebagai orang muslim untuk menunjukkan bagaimana islam itu sebenarnya, yang pasti muslim adalah kaum yang beradab. Terlebih lagi bahwa security itu sekarang menjadi minoritas karena sekililingnya semua beragama katholik, hanya sedurity dan rekan sesama security yang jumlahnya hanya 9 orang.

Karena itu, kita harus menunjukkan sikap ke-Islam-an kita yang tetap tinggi diatas agama-agama yang lain.

Hadist Nabi SAW:
"Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (HR Ad-Daroquthni)

Dan kalau terus kebiasaan mengambil uang tip itu dilakukan, pastinya akan menjadi image dan kesan yang buruk untuk citra Islam itu sendiri. Akan timbul kesan dalam diri para ortu katholik itu akan rendahnya muslim. Karena saya yakin sekali bahwa para ortu itu juga mengetahui aturan tentang "no tipping".

"tuh liat, orang Islam, udah tau aturannya ngga boleh ngambil tip, tapi masih dikantongin aja". Setidaknya kata-kata semacam ini terbesit bahkan terucap dari salah seorang dari ortu-ortu tersebut.

Untuk itu agar mencegah fitnah untuk agama kita dan kesan buruk, hentikan ngambil uang tip! Toh gaji juga kalau disyukuri adanya pasti mencukupi kehidupan berkeluarga kita.

Kalau memang mau menolong ortu itu, tolonglah selama itu tidak menggangu dan membuat kita lalai akan tugas utama. Dan kalau disodori tip, tolaklah dengan sopan.

"maaf, pak/bu! Kami dilarang menerima uang tip!"

Dengan begitu akan timbul rasa malu dari pihak ortu dan kesan buruk itu akan berpindah kepada mereka. Mereka yang tidak tahu aturan "udah tau ngga ada tip, masih mancing-mancing aja, make nyodorin uang!".

Dengan sikap taat aturan dan tegas terhadap pelanggaran akan membuat kita semakin kuat dan disegani, dan yang pasti tidak direndahkan lagi.

Wallahu A'lam.
 

Lomba Karya Tulis: "Kajian Perang Dalam Kitab Kuning Pesantren"

LOMBA KARYA TULIS
“Kajian Perang Dalam Kitab Kuning Pesantren”

1. Apakah Islam membenarkan perang dan konflik bersenjata ?
2. Apa saja prasarat menggelar perang dalam ajaran Islam ?
3. Apakah ada ketentuan tentang cara dan sarana berperang dalam Islam ?
4. Bagaimana kitab kuning yang familiar dalam tradisi pesantren mengupas hal tersebut ?

KRITERIA
Naskah ditulis dalam kertas ukuran A-4,
Huruf Times New Roman Font 12
Panjang Naskah minimal 7500 karakter degan spasi
Cantumkan identitas diri

ALAMAT
Kirimkan ke andhi_unwahas @yahoo.co.id/ cecepdamanhuri@rocketmail.com
Atau ke FISIP UNWAHAS Jln. Menoreh Tengah x/ 22 Semarang

WAKTU
Batas akhir pengumpulan naskah 29 Juli 2012
Penilaian 1-4 Agustus 2012
Presentasi dan pengumuman Pemenang 10 Agustus 2012

JURI
Rektor Unwahas/ Wakil Sekjen MUI Pusat
Guru Besar Ilmu Hukum Unwahas
Dekan FISIP Unwahas
Sekretaris PW lakpesdam NU Jateng

HADIAH
Juara I: Beasiswa Kuliah, Uang Pembinaan Rp 3.000.000,- dan Hadiah Sponsor
Juara II: Beasiswa Kuliah, Uang Pembinaan Rp 2.000.000,- dan Hadiah Sponsor
Juara III: Beasiswa Kuliah, Uang Pembinaan Rp 1.000.000,- dan Hadiah Sponsor
Juara Harapan I: Uang Pembinaan 750.000 dan Hadiah sponsor
Juara Harapan II: Uang Pembinaan 500.000 dan Hadiah sponsor

Diselenggarakan oleh
Program Studi Hubungan Internasional dan Program Studi Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim
Bekerjasama dengan
International Comittee of the Red Cross (ICRC) Divisi Regional Indonesia
Didukung oleh
Pimpinan Wilayah Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia
(Lakpesdam) NU Jawa Tengah
Info: Cecep Damanhuri (087 888 246 239)
 

Belajar Jadi Pejabat Dari Umar bin Khotthob


Kemarin kita kembali dibuat kesel oleh ulah salah seorang petinggi partai penguasa dinegeri ini. Anas urbaningrum (Ketum partai Demokrat) Ia dengan seenaknya mengganti nomor plat mobilnya, yang sudah jelas ini adalah pelanggaran terhadap hukum. Dan kalau menurut saya, ini adalah pelecehan buat kepolisian.
Ketika dikonfirmasi tentang hal ini, ia mengelak dan mengatakan bahwa ini kerjaan sopir pribadinya agar tidak dikenali wartawan dan dikejar-kejar mobil itu. Sulit ditermia laesan tersebut, lah bagaimana bisa seorang supir dengan berani menggangi nomor plat mobil majikannya kecuali dengan perintah majika itu sendiri. Okelah kalau memang itu pekerjaan supirnya, lalu kenapa dan apa susahnya buat dia untuk meminta maaf kepada public?

Sangat sulit belakang ini menemukan figur teladan dalam jajaran pejabat negeri ini, baik itu yang legislative ataupun eksekutif. Ada tapi jumlahnya sangat sedikit jika dibanding dengan jumlah keseluruhan para pejabat.
Aneh. Padahal ia seorang muslim yang jelas tahu mana yang mesti dikerjakan dan mana yang mesti ditinggalkan. Terlebih lagi bahwa eorang muslim segala amalnya terikat dengan hukum-hukum taklify; halal, haram dan sebagainya. Anehnya lagi, beliau adalah mantan organisasi mahasiswa Muslim. Bagaimana ini bisa terjadi.

Dengan kekuasaan dan dengan jabatannya, ia merasa bisa mengelabui hukum kemudian menjadi orang yang terjaga dari sentuhan-sentuhan hukum. Pejabat macam apa yang seperti ini?
Saya jadi teringat kisah Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin KHotthob yang dengan rendah hati dan kebesaran jiwanya, ia kembali mengoreksi keputusannya tentang hal "mahar pernikahan" hanya kerena ada seorang perempuan Quraisy paruh baya yang menegurnya. Karena apa yang diputuskan oleh sayyidina Umar itu tidak sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

Karena banyaknya perempuan yang ingin dinikahi ketika itu meminta mahar yang cukup besar. Melihat masalah tersebut, Umar mengeluarkan keputusan untuk membatasi bahwa mahar untuk wanita maksimalnya sampai 400 dirham. Dan ini keliru, padahal dalam syariah tidak ada pembatasan dalam mahar.
Mendengar keputusan yang keliru seperti itu, seorang perempuan quraisy berdiri dan langsung menegur sang Amirul-Mukminin: "wahai Amirul-Mukminin! Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menurunkan ayatnya (An-Nisa' 20)"

Seketika, Umar langusang tersadarkan dan benar-benar menyadari bahwa ia telah salah membuat keputusan.  "Ya Allah! Ampunilah aku. Ternyata semua orang lebih pintar dari Umar" katanya setelah mendapat teguran itu.

Kemudian ia menaiki mimbar dan menarik kembali apa yang telah diputuskannya itu. Jadi siapapun yang ingin memberikan mahar untuk calon istrinya dipersilahkan tanpa ada batasan. (Kanzul-'Amal  No. 45798)

Tanpa malu, sayyidina Umar mengungkapkan bahwa ia bersalah dan meminta maaf kepada perempuan paruh baya itu sekaligus berterimakasih atas koreksi yang diberikan. Umar yang terkenal gagah tiba-tiba tunduk oleh perkataan seorang perempuan.

Akhirnya menjadi masyhurlah perkataan sayyidina Umar tersebut yang dalam bahasa Indonesia seperti ini: "kembali pada kebenaran (walau pahit) itu lebih baik daripada terus menerus dalam kebathilan"

Begitulah seorang pemimpin. Tetap mau ikut peraturan dan tidak malu mendapat teguran. Dan ketika ditegur ia langsung mengoreksi diri bukan malah menghardik si pengoreksi.

Atau yang lebih dekat dengan kita, yaitu Sultan Hamengkubuwono IX. Seperti yang telah saya tulis ceritanya di postingan sebelumnya. Bagaimana dengan legowonya, sang sultan mau ditilang dan minta ditilang karena memang sudah melakuakn pelanggaran lalu lintas ketika itu. Padahal sang Briptu sudah membolehkan sang sultan utuk terus melanjutkan perjalanan. Tapi sultan tetap minta ditilang.

Lihat bagaimana! Sayyidni Umar lebih sholeh dan lebih dicintai warganya dibanding si ketua partai yang mengganti nomor plat mobilnya itu, tapi sayyidina Umar tetap mengaku bersalah dan mau meminta maaf.
Sultan hamengkubuwono lebih berkuasa dan tentu lebih kaya dari anak muda ketua partai itu, tapi sang sultan tetap meu TAAT aturan.

Penegak hukumnya, polisi  pun sama juga tak memberi teladan. Ia mengetahui dengan sangat jelas bahwa itu suatu pelanggaran, tapi malah seakan-akan tidak ada pelanggaran yang serius. Dan hanya memberikannya teguran. Kalau pelanggaran yang seperti ini saja dibiarkan, lalu bagaiaman yang lebih besarnya.
Entah apa yang ditakutkan oleh sang polisi ini? Inilah tanda kerusakan bangsa ini, dimana hukum hanya berlaku pada orang kecilnya yang tidak mempunyai apa-apa namun kepada para petingginya tumpul setumpul-tumpulnya.

Ini yang telah dijelaskn oleh Nabi Muhammad SAW bahwa kehancuran suatu kaum itu disebabkan karena hukumnya tidak berlaku seimbang untuk atas dan bawah. Sabda beliau SAW:

"sesungguhnya kaum-kaum sebelum kamu telah hancur karena ini. Yaitu jika ada dari para petinggi kaum tersebut yang mencuri, mereka tidak menghukumnya, tapi ketika yang mencuri itu orang lemah, mereka menegakkan hukumannya.

Demi Allah, seandainya Fatimah Binti Muhammad (anakku) itu mencuri, pastilah aku akan potong tangannya" (HR Bukhori & Muslim)

Jadi tinggal pilih saja, apakah kita akan hancur seperti umat terdahulu?

Wallahu A'lam

 

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger