Ulama-Ulama "Bujang"


Jumat kemarin (25.01.2013) saya mendapatkan jadwal khutbah jumat digedung salah satu perusahan yang berada didaerah Rasuna Said kuningan, jakarta selatan. Yang saya sayangkan, gedung hitam besar menjulang tinggi dengan 50 lantai dan 4 lantai basement itu hanya mempunyai musholah di basement 1 gedung tersebut. Kalau hari jumat mushola diperbesar untuk memuat Jemaah sholat Jumat dengan memangkas bebera petak area parker, Alhamdulillah area tersebut bisa memuat lebih dari 1000 jemaah.

Tapi bukan itu yang akan dibahas dalam artikel ini. Yang akan dibahas ialah perbincangan saya yang terjadi setelah sholat jumat itu dengan beberapa pihak managemen kantor dikantin gedung.

Salah seorang pegawai bertanya: "anak udah berapa, Stadz?". Saya jawab: "belum. Saya masih single".

Tiba-tiba, pegawai yang duduk disampingnya sambil menunjuk ke arah pengurus DKM yang beada disamping saya dengan sambil senyum, ia berkata: "wah kita kecolongan nih. Besok-besok, khotib ngga boleh bujang, ini harus yang sudah menikah. hehe". Kemudian ia menoleh ke saya: "ustadz kok masih bujang, menikahlah, stadz. Bukankah itu perintah agama?", saya tersenyum sambil mengangguk, "YA"

Entah serius atau tidak, yang pasti setelah itu saya dan DKM masjid yang tadi ditunjuk-tunjuk dengan telunjuknya pun tersenyum dengan sedikit tertawa. Tapi walaupun tertawa, saya kok merasa ngga enak hati mendengar perkataan orang tersebut. Saya bingung, "apa kaitannya khutbah jumat dengan status khotib sudah menikah atau belum?"

Memang harus diakui sebagai seorang muslim, menikah itu adalah pekerjaan mulia dan orang yang menikah itu dimuliakan oleh syariat ini. Banyak dalil-dalil syar'I yang menjelaskan tentang penting dan keutamaan seorang yang sudah menikah. Bahkan dikatakan dalam sebuah hadits bahwa orang yang sudah menikah, berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya.

Memang begitu. Tapi kaitan khutbah yang berisi pesan dan ilmu agama, haruskah disampaikan oleh yang sudah berstatus "menikah"? tidak bolehkah seorang bujang menyampaikan ilmu yang ia dapat?

Ternyata Banyak Ulama Yang Membujang Sampai Akhir Hayatnya!
Jadi inget Kitabnya Sheikh Abdul Fattah Abu Ghoddah yang judulnya:
"العلماء العزاب الذين آثروا العلم على الزواج"
"Ulama-Ulama Bujang yang Mendahulukan Ilmu daripada Manikah"

Dalam buku ini, selain beliau menyebutkan beberapa Ulama masyhur yang sampai akhir hayatnya belum menikah, tapi selai itu, di Bab awal beliau menulis apa sebab Ulama-Ulama tersebut lebih menadahulukan pencarian Ilmu dan membagiknanya kepada umat dibanding harus menikah.

Disajikan pula beberapa pemaran Ulama-Ulama terdahulu tentang menikah dan pencarian ilmu, yang kalau kita amati memang Ulama yang disebutkan dalam kitab ini bukan berate menharamkan diri mereka untuk menikah, akan tetapi ada tuntutan syariah yang lebih besar dibanding harus menikah. Karena tidak menikah bukan berarti tidak mau menikah, kan?

Dan harus diketahui pula, bahwa menikah itu hukumnya tidak berada pada satu level hukum. Ya memang asal hukum menikah itu sunnah, tapi Jumhur Ulama berpendapat bahwa hukum nikah itu sesuai dengan kondisi si muslim itu sendiri. Ia bisa jadi wajib, bisa jadi sunnah, bahkan bisa jadi makruh dan malah haram. Jadi jangan sampai kita salam mempromosikan/memasarkan/menggembor-gemborkan nikah kepada orang yang salah.


bukan maksud menyetarakan diri ini dengan Ulama-ulama tersebut, (lah emang saya ini siapa? Ilmu masih cetek, baca kitab masih ngeja udah Mau menyaetarakan diri dengan beliau-beliau!!), bukan juga mau mengkampanyekan untuk tidak menikah, Na'udzubillah, Allahumma-ghfirliy.  

Tapi hanya sekedar memberitahu bahwa ilmu agama yang banyak kita dapat dan sampai ke telinga kita sampai sekarang itu ternyata diwarisi dari para "Bujangan". Sebut saja Imam Ibnu Jarir Al-Thobari yang terkenal dengan kitab tafsirnya.

Imam Nawawi Al-Dimasyq, beliau adalah Ulama pada jajaran tertinggi mazhab syafi'i. banyak Karya-karya beliau yang fenomenal, diantaranya Al-Majmu', Syarah shohih Muslim, Minhaj Al-'Abidin, Riyadhussholihin dan masih banyak lagi.

Ada lagi Imam Ibnu Taimiyah, siapa yang tidak kenal beliau? Beliau yang Ijtihadnya dalam berbagai masalah syariah banyak diikuti oleh hampir mayoritas Ulama se-jagad raya ini.

Ada lagi sheikh Al-Zamakhsari. pengarang Tafsir Al-Kasysyaf yang terkenal dengan kelihaiannya dalam berbahasa Arab tanpa merusak kaidah yang ada. Para Ahli bahasa Arab, tentu kenal dengan beliau yang karyanya dalam bidang ilmu Balaghoh, dan kaidah-kaidah Ilmu Bahasa Arab lainnya banyak menjadi rujukan, sampai sekarang ini.

Dan masih benyak lagi Ulama yang sampai akhir hayatnya belum pernha merasakan pelaminan bersama istri/suami. Tapi siapa yang meragukan kalau beliau-beliau sudah dipersiapkan oleh Allah swt dengan pasangan pengantin yang jauh lebih indah dibanding yang ada didunia ini berkat ilmu dan manfaat beliau-beliau yang dirasakan oleh umat.

Jadi kalau bermasalah dengan ilmu agama yang disampaikan oleh seorang "Bujang", harusnya kita juga merasa risih dengan ilmu syariah yang selama ini kita dapat, karena banyak juga diwarisi dari para Ulama Bujang.

Bukan masalah Bujang atau Tidak, tapi masalahnya "apakah ilmu yang disampaikan itu benar dan sesuai tuntunan agama yang tidak melenceng dari qur'an dan hadits?"   

Wallahu A'lam

untuk mengunduh Kitab ini, KLIK DISINI
 

Tradisi Pengantin Kerik Alis Mata

"kang afwan , ane pny pertanyaan yg mengganjal 'apa memang dbolehkan mengerik alis ketika walimatul ursy untk perempuan sbgai tnda perempuan trsbt sudah menikah? Ini banyak terjadi dibeberapa daerah dan sudah menjadi budaya. Bagaimana Syariah menyikapki budaya ini?"
gambar: mytipscantik.com


Islam sebenarnya datang tidak untuk menghacurkan suatu kebiasaan, tradisi atau budaya suatu kaum! Atau menghilangkannya, justru Islam menerima budaya-budaya suatu kaum dengan tangan terbuka. Sama sekali tidak ada dalam syariat ini paksaan untuk kita mengikuti budaya dimana Islam itu diturunkan, yaitu Saudi Arabia.

Yang terpenting dari kebudayaan tersebut ialah ia tidak menabrak dinding hukum syariat. Budaya dan kebiasaan atau adat tersebut tidaklah sesuatu yang memang melanggar syariat Islam. Karena bagaimanapun, kebiasaan dan adat suatu kaum itu pastilah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan yang banyak dianut oleh penduduk setempat sebelumnya. Maka harus disesuaikan dengan syariat Islam, bukan malah memaksakan syariat menyesuaikan diri dengan kebiasaan itu sendiri.

So, yang jadi ukuran dan patokan sebenarnya ialah hukum syariat itu sendiri dan bukan kebiasaan atau adat suatu negeri. Ketika adat tersebut bertentangan dengan syariat yang sah, maka tidak ada jalan baginya untuk terus dikerjakan. Artinya harus dihentikan dan dihilangkan.

Adapun budaya atau adat kebiasaan juga tradisi yang telah ada sejak dahulu, dan itu sama sekali tidak melanggar syariat, yaaa itu sah-sah saja dikerjakan. Atau bahkan sama sekali tidak ada unsur sedikitpun dengan ajaran agama tertentu, ya tidak ada larangan untuk dikerjakan.

Jadi dalam hal pergaulan sosial dan budaya suatu negeri itu semuanya sah-sah saja dan layak dikerjakan SELAMA adat tersebut tidak melanggar syariat yang ada! Bahkan pergaulan kepada orang Non-Muslim. Syaruat ini membuka lebar sekali pergaulan dengan mereka selama tidak ada syariat yang ditabrak.

Nah untuk masalah mengerik alis mata ini, itu memang menjadi kebiasaan atau adat dibeberapa daerah di Indonesia ini pada momen-momen pernikahan. maka kita lihat kembali kedalam syariat itu sendiri, apakah syariat membolehkan ataukah ada dalil-dalil syar'I yang justru melarangnya.?

Dalam syariah, ada istilah yang disebut dengan "Al-Namshu", yaitu prkatek mencukur atau apalah sebutannya, yang panti menghilangkan bulu atau rambut yang ada di bagian wajah/muka seorang perempuan.  Dan pelakunya di sebut dengan "Al-Naamishah". Dan orang yang meminta untuk dikerik alisnya itu disebut dengan "Al-Mutanammishah". Dan praktek Mengerik alis mata ini termasuk kedalam praktek Namsh itu tadi. Dan syariah sejak dahulu kala telah menjelaskan keharamannya.

Keharaman ini didasarkan hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori (no. 5492) dan Imam Muslim (no. 3966). Nabi dalam hadits ini menjelaskan bahwa Allah swt MELAKNAT An-Namishah (orang yang mencukur rambut di wajah) dan Al-Mutanamishoh (yang memintanya), dan juga orang-orang merubah ciptaan Allah.

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ»
"Allah melaknat yang membuat Tatto dan meminta dibuatkan tattoo, dan juga yang mencukur bulu rambut di wajahnya dan juga yang meminta dicukur bulu rambut wajahnya, dan orang yang mengubah ciptaan Allah"

LAKNAT dalam istilah syariah mengandung kemurkaan Allah, ini juga berarti bahwa sesuatu yang dimurkai ialah sesuatu yang haram. Karena Allah tidak memurkai sesutau kecuali itu memang diharamkan bagi umatnya!

Jadi syariatnya jelas bahwa, praktek megerik alis mata bukanlah praktek yang dibolehkan dalam syariat. Jadi mau tidak mau harus ditinggalkan walaupun itu sudah menjadi kebiasaan. Karena bagaimanapun, syariat tetap berada di depan dan harus selalu dikedepankan.

Wallahu A'lam.
 

Kupas Tuntas RIBA dan Jenis-Jenisnya

gambar: almoslim.net
            A. Pengertian RIBA
Secara bahasa riba berarti ziyadah (زيادة) atau tambahan. Dan secara istilah berarti tambahan pada harta yang disyaratkan dalam transaksi dari dua pelaku akad dalam tukar menukar antara harta dengan harta.

Riba juga berarti "At-Ta'khir" (penundaan/penangguhan). Disebut demikian karena memang Riba terjadi Karena ada penangguhan pembayaran hutang, akhirnya muncul-lah Riba itu. Itu yang banyak terjadi di masa-masa era sebelum Islam, dan masih terjadi sampai sekarang.

            B. MACAM-MACAM RIBA
 Secara garis besar, jenis Riba yang dikenal oleh syariah itu ada dua: [1] Riba Duyun (Hutang Piutang) [2] Riba Buyu' (jual Beli). Nantinya dari jenis 2 Riba inilah akan muncul berepa jenis Riba lainnya.

            1. RIBA DUYUN (HUTANG PIUTANG)
         Duyun adalah bentuk jama' dari kata "Dain" [دين] yang berarti hutang. Dinamakan Riba Hutang piutang karena memang, Riba (tambahan nilai) itu terjadi karena adanya hutang antara kedua belah pihak tersebut. Kalau tidak ada hutang yaa tidak ada Riba.

         Atau juga yang sejenis dengan hutang piutang, seperti jual beli angguran. Atau Praktek jual beli yang uang pembayarannya ditangguhkan. Itu berarti sama saja seperti ia berhutang dengan sipenjual barang.

             Biasanya Riba Duyun (hutang piutang) itu terjadi dengan 3 model:

[1.1] Pertama: Riba/Tambahan Nilai DiWaktu Pelunasan Hutang
         Gambarannya ialah ketika ada si A memiliki hutang kepada si B. lalu keduanya sepakat bahwa si A akan mengembalikannya 2 bulankemudian, sampai pada waktunya ternyata si A tidak/belum mampu melunasinya. Nah sebagai denda atas penundaan tersebut si B memberikannya tambahan hutang karena telah menunda.

         Ini yang biasa terjadi sejak zaman sebelum Islam bahkan sampai saat ini. Masih banyak praktek Jahiliyah semacam ini di negeri yang katanya sudah modern dan menganut system ekonomi modern.

         Dan memang inilah yang dinamakan dengan RIBA JAHILIYAH, karena memang kaum Jahiliyah dulu melakukan prkatek seperti ini, hingga akhirnya Nabi datang membawa syariat pengharaman RIBA dalam segala bentuknya.

             Riba semacam ini yang dikenal oleh syariah dengan sebutan Riba "Zidniy Andzur-ka" [زِدْنِيْ أَنْظُرْكَ] (Tambahkan nilainya untukku, maka aku Tangguhkan).

           Sahabat Qotadah rapernah berkata: "Bentuk riba jahiliyah adalah seseorang menjual barang tidak tunai hingga jangka waktu tertentu, bila jatuh tempo waktu pembayaran pembeli tidak mampu melunasinya ia harus membayar lebih dan waktu pembayaran diundur".
(Tafsir Al-Thobari dalam ayat 130 Surat Ali Imron)

[1.2] Kedua: Riba Yang Disyaratkan Sejak Awal Transaksi Hutang-Piutang
           Ini model Riba Jahiliyah yang dimodernisasi. Hakikatnya sama seperti Riba Jahiliyah, hanya saja yang ini lebih menyiksa dan lebih mematikan. Karena tambahan hutang itu sendiri tidak terjadi ketika jatuh tempo pelunasan. Akan tetapi tambahan hutang itu disyaratkan disetiap bulannya, atau setiap minggunya.

       Gambarannya seperti banyak yang kita tahu di berbagai instansi-instansi keuangan Kapitalis yang banyak berkembang dinegeri kita ini, kalau bahasa kasarnya Rentenir.
 
          Jadi seseorang yang membutuhkan uang untuk modal usaha atau untuk keperluan lain, dan inginmeminjam uang (berhutang) ia harus memberikan BUNGA setiap bulannya dari jumlah hutang yang ia pinjam.

           Sejak awal sudah disyaratkan, bahwa kalau meminjam di tempat/instansi/bank itu ada bungannya sekian persen perbulan dan harus dibayar ketika jatuh tempo pelunasan.

           Jadi dia meminjam uang 10 Juta (misalnya), akan tetapi nanti ia akan mengembalikan uang 10 juta dengan BUNGAnya. Maka sudah pasti ia akan mengembalikannya lebih dari 10 juta, hutang yang ia pinjam.

          Dalam kaidah Fiqih yang banyak dikenal oleh kalangan Ulama syariah ialah [كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا حَرَامٌ] "kullu Qordhin Jarro Naf'an, Fahuwa Ribaa" (setiap akad hutang piutang yang terdapat didalamnya penambahan nilai, maka itulah Riba). Aslinya ini adalah perkataan sayyidina Ali ra, yang kemudian dijadikan kaidah.

         Dalam kaidah lain disebutkan [كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا حَرَامٌ] "kullu Qordhin Jarro Naf'an, haroom" (setiap akad hutang piutang yang terdapat didalamnya penambahan nilai, haram hukumnya).
(Asybah wa An-Nadzoir hal.265)

           Para ulama sepakat bahwa setiap bunga dari pinjaman yang disyaratkan oleh kreditur pada akad pinjam meminjam termasuk riba.

          Model yang seperti ini sangat jelas keharaman-nya, karena selain memang syariah ini melarang RIBA, ini juga memberika kedzoliman terhadap satu pihak dan membuat satu pihak lainnya untung diatas kesusahan orang lain.  

[1.3] Ketiga: Gabungan Cara Pertama dan Kedua
       Model yang ketiga dari Riba Duyun yang ini-lah yang paling mematikan, dan lebih parah dampaknya. 2 model diatas saja sudah sangat jelas keburukannya, apalagi kalau 2 model tersebut digabungkan.

        Dan memang ini yang banyak terjadi. Penambahan nilai (BUNGA) telah disyaratkan dari awal akad, sekian persen. Kemudian disayaratkan lagi bahwa kalau nanti jatuh tempo dan tidak mampu melunasi-nya, maka dikenakan denda sebesar sekian persen.

       Dan anehnya ada salah satu program kegiatan pemerintah yang menggunakan cara-cara JAHILIYAH seperti ini. Jadi jika ia meminjam 10 juta (misalnya) dihari pelunasan dia akan membayar beserta bunga yang telah disyaratkan setiap bulannya. Kalau dia tidak bisa melunasi, maka dia akan dikenakan denda.

         Mungkin saja dia akan menjual semua barang dirumahnya hanya karena melunasi hutang beserta bunga dan dendanya tersebut.

             2.      RIBA BUYU' (JUAL BELI)
           Buyu' adalah bentuk jama' dari kata Bai' [البيع] yang berarti jual beli. Dinamakan seperti ini, karena Riba ini dihasilkan dari bentuk jual beli atau pertukaran 2 jenis barang Ribawi. Hanya saja Riba Buyu' ini cakupannya tidak seperti Riba Duyun yang luas.

            Dikatakan tidak memiliki cakupan yang luas, karena memang riba Buyu' ini hanya berlaku pada barang-barang Ribawi yang telah ter-manshush (termaktub) dalam hadits Nabi saw tentang Riba itu yang jumlahnya ada 6 jenis barang.

           Tapi bukan berarti riba Buyu' hanya terjadi pada enam barang itu saja, akan tetapi barang lain yang punya kesamaan 'Illat' dengan barang tersebut juga termasuk dalam kategori barang Ribawi yang berpotensi terjadi didalamnya Riba Buyu'.

          Barang-barang Ribawi itu ialah: [1] Emas, [2] Perak, [3] gandum, [4] Terigu, [5] kurma, [6] garam. Ini semua berdasarkan hadits berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَد
"Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:" Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, terigu dengan terigu, korma dengan korma, garam dengan garam harus sama beratnya dan tunai. Jika jenisnya berbeda maka juallah sekehendakmu tetapi harus tunai" (HR Muslim).

Dari 6 jenis barang Ribawi yang disebutkan dalam hadits 'Ubadah bin Shomit tadi, Ulama meng-kelompok-annya 6 jenis barang tersebut sesuai 'Illat' (sebab) keharamannya menjadi 2 kelompok:
 Pertama: Alat Tukar.
            Dalam hadits barang Ribawi, Kelompok pertama ini diwakilkan oleh "emas" dan "perak". Ulama berkesimpulan bahwa "illat" pengharamannya itu ialah karena emas dan perak adalah barang yang dipakai sebagai alat tukar yang sah.

Maka barang apapun yang secara sah dipakai sebagai alat tukar suatu Negara, itu termasuk kedalam barang Ribawi yang mana sangat mungkin untuk terjadinya Riba Buyu' didalam barang tersebut.

Kalau di Indonesia itu ya Rupiah. Sama seperti Riyal di Saudi Arabia, juga Dollar untuk Amerika, Australi dan juga Negara-negara yang memakai Dollar sebagai alat tukar yang sah. Atau juga EURO untuk Negara-negara eropa seperti Turki.

Jadi kalau barang itu bukanlah alat tukar yang sah, maka tidak ada Riba didalamnya jika terjadi tukar menukar, seperti Mobil, Rumah, atau juga kendaraan dan sebagainya.

            Kedua: Makanan Pokok dan Tahan Lama
            Kelompok kedua ini diwakilkan oleh [3] gandum, [4] Terigu, [5] kurma, [6] garam. 'Illat' pengharaman keempat barang ini ialah, karena barang-barang tersebut adalah makanan pokok [Iqtiyat/Quut] dan juga Tahan Lama [Iddikhor], atau makanan-makanan biasa disebut dengan istilah Yuqtaat wa Yuddakhor (makanan pokok dan tahan lama).

Karena memang 4 makanan ini ialah makanan yang menjadi makanan pokok dinegara masing-masing dan juga tahan lama. Artinya makanan pokok ialah makanan yang mengeyangkan. Dan tahan lama artinya makanan ini bisa disimpan untuk jangka waktu yang lama, tidak mudah basi.

Jadi diqiyaskan saja, kalau ada makanan yang mempunyai sifat yang sama, yaitu Yuqtaat wa Yuddakhor (makanan pokok dan tahan lama), maka makanan itu termasuk makanan Ribawi yang terdapat Riba Buyu', jika terjadi peertukaran makanan-maknan tersebut.

Kalau di Indonesia, Nasi/beras berarti menjadi makanan Ribawi. Kalau gitu tidak boleh asal saling tukar beras, karena bisa jadi terdapat riba. Boleh saling tukar beras asal kan harus ikut aturan yang dibolehkan syariah. Lalu kapan terjadi Riba? Akan ada penjelasannya, J

------------------
        Setelah mengetahui barang-barang Ribawi yang bisa terjadi Riba buyu' didalamnya jika dilakukan barter. Baru-lah kita bahas jenis-jenis Riba Buyu'.

    Riba Buyu' terbagi menjadi 2 jenis; [1] Riba Fadhl (Tambah), [2] Riba Nasi'ah (Penangguhan)

2.1.            Riba Fadhl (Tambah)
        Fadhl berasal dari kata bahasa Arab yang berarti "Tambah/bertambah". Riba Fadhl artinya ialah tukar menukar (barter) barang-barang Ribawi dengan jenis yang sama tapi dengan menambahkan salah satunya.

          Emas dangn emas lain ialah jenis yang sama. Beras dengan berbagai macam jenisnya ia tetaplah satu jenis BERAS yang sama. Kurma bagaimanapun jenis dan pengkelompokannya, ia dengan kurma yang lain ialah satu jenis kurma yang sama.

           Gambarannya seperti ini:
        Emas misalnya. Si A menukar emasnya dengan emas si B yang punya kualitas lebih rendah. Karena kualitasnya lebih rendah maka si B memberika emasnya dengan takaran LEBIH disbanding emas punya A. nah barter semacam ini dinamakan Riba Fadhl. Karena 2 barang Ribawi dengan jenis yang sama tapi ditukar dengan takaran yang berbeda.

        Beras. Si A ingin menukar berasnya dengan si B yang punya kualitas beras lebih buruk. Karena lebih buruk si A mengambil beras si B lebih banyak dengan alas an sebagai ganti kualitas yang jelek itu tadi. Nah ini juga termasuk dengan Riba Fadhl.

Lalu bagaimana jika ingin terlepas dari Riba Fadhl?

        Caranya ialah sebagaimana yang Nabi ajarkan ketika melihat ada 2 orang sahabat yang saling bertukar (barter) kurma. Akan tetapi salah satu sahabat memberikannya lebih karena kualitas kurmanya lebih buruk.

     Ketika Nabi saw mengetahui itu, beliau saw langsung melarang keduannya. Lalu menyuruh salah satu nya untuk menjual dulu kurma nya, setelah terjual dan menjadi uang, barulah ia beli kurma tersebut dengan uang. Bukan saling tukar dengan kurma yang sama tapi beda takarannya. Karena itulah hakikat Riba Fadhl.

       Jadi ada 2 Hal penting yang kadunya harus dilakukan ketika ingin melakukan barter barang Ribawi dengan jenis yang sama, yaitu:
[1] Tasaawi Fil Miqdar/wazn (Takaran/Timbangan Yang Sama, Tidak boleh lebih),
[2] Taqoobudh (Tunai, Tidak Boleh Ditangguhkan)

        Dua keharusannya ini sebagaimana telah disebutkan Nabi dalam Hadits Riba itu sendiri, yaitu dengan redaksi: [مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ] harus sama beratnya dan tunai.

             2.2 Riba Nasi'ah (penangguhan)
          Jenis yang kedua dari Riba Buyu' ialah Riba Nasi'ah. Nasia'ah sendiri artinya ialah penangguhan. Maksudnya memang Riba ini terjadi karena adanya penanagguhan. Sama seperti Riba Jahiliyah yang lahir karena adanya penangguhan pelunasan hutang, seperti yang telah dijelaskan dalam RIba Duyun diatas.

         Akan tetapi Riba Nasi'ah dalam kontek Riba Buyu' berbeda dengan Riba Jahiliyah tersebut. Riba Nasi'ah dalam konteks Riba Buyu' hanya terdapat pada barang-barang Ribawi saja, tidak lebih. Jadi lingkupnya menjadi lebih sempit.

        Yaitu: saling tukar (barter) barang Ribawi yang berbeda jenis tetapi sama 'Illat-nya dengan system tidak TUNAI, atau ditangguhkan/ditunda. ini yang disebut dengan Riba Nasi'ah dalam konteks Riba Buyu'.

           Gambarannya ialah seperti ini:
        Contoh Beras dan Kurma. Keduanya ialah sama-sama barang Ribawi yang berbeda jenis akan tetapi mempunyai kesamaan 'Illat-nya yaitu sama-sama makanan yang Yuqtaat wa Yuddakhor (makanan pokok dan tahan lama).

           Si A bersepakat dengan si B untuk melakukan barter Beras punya si A dengan Kurma punya si B. mereka bersepakat untuk saling menukar tapi hanya si A yang membawa berasnya, si B malah menangguhkan barter dengan kurma nya di hari kemudian. Nah praktek seperti ini (Walaupun jarang terjadi atau hamper tidak pernah terjadi) dinamakan dengan Riba Nasi'ah.

          Solusinya?
         Kalau memang harus melakukan barter 2 barang Ribawi yang berbeda jenis tapi sama dalam 'Illat-nya, satu Hal yang harus dilakukan ialah: At-Taqoobudh (Tunai).

    Jadi tidak perlu sama takarannya, karena memang keduanya berbeda jenis. Tapi syaratnya harus secara TUNAI tanpa tangguhan. Karena bisa jadi dihari kemudian salah satu dari barang tersebut harganya berubah tergantung mekanisme Pasar yang berlaku.

      Satu syarat TUNAI yang harus ada dalam jual beli semacam ini berdasarkan hadits Nabi tentang Riba itu sendiri, redaksi-nya: [فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَد] Jika jenisnya berbeda maka juallah sekehendakmu tetapi harus tunai.

­-------
Demikian penjelasan tentang Riba dan kedua jenisnya. Terlihat bahwa yang banyak terjadi hingga saat ini ialah Riba Duyun yang juga didalamnya Riba Jahiliyah.

Sedangkan Riba Buyu' walaupun memang jarang terjadi tapi bukan berarti kita tidak mesti melupakannya. Setidaknya ini bisa menjadi tambahan ilmu buat kita semua.

Mudah-mudahn manfaat.

Wallahu A'lam

baca juga: 
 

Ancaman Bagi Pelaku Riba Cs

gambar: alalami2.net
Dalam kitab Al-Mabsuth (Fiqih Hanafi) jil. 12/hal. 193, karangan Imam Al-Sarkhosi, beliau menjelaskan setidaknya ada 5 ancaman berat (adzab) yang termaktub dalam Al-quran yang akan diterima oleh sang praktisi Riba, yaitu orang yang melakukan Riba.

Bayangkan, hanya satu masalah akan tetapi Qur'an me-warning-nya dengan 5 ancaman berat. Itu berarti memang praktek riba ini benar-benar sudah masuk kategori dosa super berat.

Nabi saw bersabda: "jauhi-lah oleh mu 7 dosa besar". Sahabat bertanya: "apa itu wahai Nabi?". Nabi meneruskan: "(1) Syirik kepada Allah swt, (2) Sihir, (3) Membunuh Nyawa yang diharamkan, (4) MEMAKAN RIBA, (5) Memakan Harta Anak Yatim, (6) Kabur dari medan Perang, (7) menuduh zina terhadap perempuan muslimah."
(HR. Muslim, no 89, Bab: dosa-dosa besar)

Dan bukan hanya yang memakan Riba itu sendiri yang menjadi objek ancaman, akan tetapi orang yang memberikan peluang orang untuk melakukan riba itu juga mendapatkannya. Tidak hanya sampai dua orang itu saja, tetapi orang yang menuliskan praktek itu dan juga yang menjadi saksi praktek itu.

Dari Jabir bin Abdullah ra, beliau berkata: "Rasulullah saw melaknat para pemakan RIBA, dan juga yang membuatnya memakan RIBA, dan juga yang menuliskan (transaksi) itu juga yang memjadi saksi (transaksi) itu"
(HR. Muslim, no 1598, Bab: laknak pemakan Riba)

Karena itu judul diatas diberi tambahan "cs" (dan kawan-kawannya) karena memang prkatek Riba tidak mungkin dilakukan secara individu, pastilah itu dilakukan secara berjamaah.

Imam Al-Sarkhosi menjelaskan ayat-ayat ancaman tersebut:

Pertama: Kerasukan
لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
"mereka (pemakan RIBA) tidak akan bangkit (di hari kiamat) nanti kecuali seperti orang yang kerasukan setan dalam jiwanya" (Al-Baqoroh 275)

"kerasukan" yang dimaksud dalam ayat ialah digambarkan seperti orang yang perutnya makin makin lama semakin membesar sehingga kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menopang berat perutnya tersebut, sehingga ia tak bias bangun. Kalaupun bangun ia akan roboh lagi, dan begitulah seterusnya. Itu yang dimaksud dengan "seperti orang yang kerasukan setan".

 Kedua: Harta Yang Binasa
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبا
"dan Allah memusnahkan harta Riba" (Al-Baqoroh 276)

Kata "Al-Mahq" yang berarti musnah dalam ayat tersebut diartikan bahwa hartanya orang yang memakan riba "Diangkat Keberkahannya". Artinya hartanya tidak berkah dan karena ketidak berkahannya itu, tidak bias dinikmati oleh dirinya, anaknya ataupun keluarganya.

Ya hartanya banyak tapi sama sekali seperti tidak berbekas dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari harta tersebut.

Ketiga: Diperangi oleh Allah swt

Tidak ada dosa yang lebih sadis diperingatkan Allah SWT di dalam Al-Quran, kecuali dosa memakan harta riba. Bahkan sampai Allah SWT mengumumkan perang kepada pelakunya. Hal ini menunjukkan bahwa dosa riba itu sangat besar dan berat.

يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّه وَذَرُوامَا بَقِيَ مِنْ الرِّبَا إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba  jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan , maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat , maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak  dianiaya. (QS. Al-Baqarah : 278-279)

Keempat: Kekufuran/Kafir

Dalam beberapa ayat memang Allah memerintahkan secara tegas untuk kaum muslim meninggalkan Riba, dengan kaitan "kalau memang kalian beriman", seperti ayat ini:

وَذَرُوامَا بَقِيَ مِنْ الرِّبَا إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"dan Tinggalkanlah sisa-sisa Riba (yang masih ada) kalau kalian beriman" (Al-Baqoroh 278)

Artinya memang kalau masih tetap keukeuh pada praktek RIba yang memang sangat dibenci ini, berarti ia termasuk bukan orang yang beriman, karena kalau memang berimana, yaa meninggalkan Riba.

Namun ada Ulama yang menafsirkan bahwa praktisi RIBA akan benar-benar menjadi Kafir kalau ia benar-benar meng-HALAL-kan prkatek Riba itu. Ia bukan saja melakukan tapi juga menganggap bahwa ini pekerjaan halal dan meng-kampanyekan-nya. Na'udzubillah.
    
Kelima: Kekal Dalam Neraka

Ini masih berhubungan dengan ancaman yang nomor 4 tadi. Bahwa kaidah umumnya ialah setiap orang Muslim pasti masuk Surga sebesar apapun dosanya, tentu dengan pelunasan terlebih dahulu melalui siksaan terhadap dosa.

Dan yang kekal di nereka itu ialah mereka yang sudah masuk kategori KAFIR. Dan orang yang melakukan prkatek RIBA tidak bias disebut kafir sampai ia benar-benar melabel-kan bahwa RIBA itu sesuatu yang halal.

وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"dan siapa yang kembali (melakukan RIBA) maka ia menjadi kekal di neraka jahannam" (Al-Baqoroh 275)

Wallahu A'lam.
 

4 Fase Pengharaman RIBA

artikel ini sebenarnya hanya untuk mengetahui sejarah pengharaman Riba saja, tidak lebih. Mudah-mudahan jadi tambahan Ilmu. Karena memang Riba di masa Kenabian, tiadak langsung diharamkan secara mutlak, akan tetapi bertahap melihat kesiapan Umat Nabi saw ketika itu dalam menerima pengharaman Riba ini.

Dan sudah menjadi Ijma' Ulama bahwa Riba bagaimanapun bentuknya tetap haram, karena Al-Quran dan Sunnah telah menginformasikan keharamannya secara jelas (Shorih). Tidak ada satu pun Ulama dijagad Raya ini yang

Loh tapi kenapa banyak Ulama yang berbeda soal keharaman Bungan Bank? Pasti pertanyaan ini banyak muncul. Jeawabannya bahwa Ulama tidak pernah berbeda pendapat tentang keharaman Riba, hanya saja beliau-beliau berselisih, "Apakah Bunga Bank dan sejenisnya itu termasuk RIBA?" itu permasalahannya. insyaAllah kita bahas itu di artikel dan kesempatang yang akan datang. J

Baik kita mulai uraian tentang 4 fase pengharaman Riba dalam sejarah syariah Islam, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Doktor Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir. sebagai berikut:

Pertama:
وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.(QS. Ar-Ruum : 39 )

Ayat ini turun di Mekkah dan menjadi tamhid  (permulaan), atau awal mula dari diharamkannya riba dan urgensi untuk menjauhi riba.  

Kedua:
فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. An-Nisa : 160-61)

Ayat ini turun di Madinah dan menceritakan tentang perilaku Yahudi yang memakan riba dan dihukum Allah. Ayat ini merupakan peringatan bagi pelaku riba.

Dibalik ayat ini ada sebuah cerita yang menjelaskan bahwa memang prkatek Riba itu ada dan dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang membangkang dari syariat Nabi-Nabi mereka. merka melakukannya jauh seblum Islam datang.

Padahal semua agama Samawi mengharamkan riba karena tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(Ali Imran : 130)

Pada tahap ini Al-Quran mengharamkan jenis riba yang bersifat fahisy, yaitu riba jahiliyah yang berlipat ganda.

Walaupun memang ada beberapa Ulama yang mengatakan bahwa kata "Adh'afan Mudho'afah" (berlipat ganda) dalam ayat ini bukanlah sebagai syarat keharaman Riba itu. Karena kalau itu sebagai syarat, maka riba menjadi haram hanya kalau banyak saja, kalau sedikit tidak mengapa.

Tidak begitu! Ulama mengatakan bahwa "Adh'afan Mudho'afah" (berlipat ganda) itu bukan syarat, akan tetapi menjadi "Hal" (keterangan), bahwa Riba itu mempunyai karakteristik yang terus menerus melipat ganda sehingga menjadi sangat besar seiring berjalannya waktu.

Keempat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.(Al-Baqarah : 278-279)

Pada tahap ini Al-Quran telah mengharamkan seluruh jenis riba dan segala macamnya. Alif lam pada kata (الربا) mempunyai fungsi lil jins, maksudnya diharamkan semua jenis dan macam riba dan bukan hanya pada riba jahiliyah saja atau riba Nasi'ah.

Hal yang sama pada alif lam pada kata (البيع) yang berarti semua jenis jual-beli. Jadi segala jenis riba itu haram hukumnya dan segala jenis jual-beli itu halal, akan tetapi jika ada hal-hal yang membuat akad jual beli itu rusak atau terdapat didalamnya sesuatau yang haram, maka menjadi haram pula-lah jual beli tersebut. 

wallahu A'lam.

gambar: aliftaa.jo
 

Perbedaan Niat Sholat Antara Imam Dan Makmum, Boleh-kah?


gambar: misrawy.com
Sebelumnya saya pernah menulis artikel tentang SAH-nya sholat orang yang mengerjakan sholat sunnah dibelakang Imam sholat wajib. Atau juga sebaliknya, sholat wajib dibelakang Imam sholat sunnah. ( KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA Artikelnya )

Lalu kemudian muncul pertanyaan dari beberapa teman, “itu kalau sholat sunnah dan imam sholat wajib. Dan juga sebaliknya. Lalu bagaimana kalau imam dan makmum sama-sama sholat wajib, tapi berbeda jenis kewajibannya. Contohnya Imam sholat zuhur sedangkan makmum sholat ashar. Bagaimana, apakah itu juga sah?”

Dan masalahnya memang sama saja, yaitu bertumpu pada “perbedaan niat” antara Imam dan makmum. Apakah niat itu disyaratkan harus sejalan atau boleh berbeda?

Dalam masalah ini Imam Malik dan Imam Hanafi tidak membolehkan adanya perbedaan niat antara Imam dan makmum dalam sholat. Karena sejatinya sholat berjamaah itu haruslah tidak boleh ada perbedaan antara Imam dan makmum. Hanya saja Imam hanafi membolehkan makmum sholat sunnah dibelakang sholat wajib, selain itu tidak boleh.

Sedangkan 2 imam mazhab lainnya; Mazhab Syafi’I dan Hambali membolehkan terjadinya perbedaan niat antara Imam dan makmum. Apapun jenis sholatnya, Imam sholat wajib dan makmum sunnah. Imam Sunnah dan makmum wajib. Atau juga Imam dan Makmum sama-sama sholat wajib tapi berbeda jenis wajibnya, seperti ashar dan zuhur. (Al-Majmu' 4/272)

Bahkan Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir mengatakan kalau pendapat Imam syafi’I yang membolehkan perbedaan niat itu adalah Ijma’ (Konsensus) para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum. (Al-Hawi Al-Kabir 2/316)

Pendapat ini didasarkan pada beberapa dalil, diantaranya:

Pertama:

hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Muadz Bin Jabal yang menyebutkan bahwa Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Mu'adz bin jabal ra pernah melaksanakan sholat isya berjamaah bersama Nabi Muhammad SAW beserta sahabat. Kemudian ia pulang menemui kaumnya dan menjadi Imam sholat yang sama yaitu sholat isya untuk kaumnya tersebut. (HR Muslim)

Artinya bahwa sholat yang dilakukannya bersama kaumnya itu ialah sholat sunnah, karena sholat wajibnya telah beliau lakukan bersama Rasul saw.  Dan Imam Nawawi menyebutkan riwayat tambahan dari hadits ini yang diriwayatkan oleh Imam Syafi'i, bahwa perkara tersebut dilaporkan kepada Nabi SAW, dan Nabi tidak mengingkarinya. (Al-majmu' 4/272)

Kedua:
Hadits Abu Bakroh ra tentang salah satu cara lain sholat Khouf yang  dilakukan Nabi SAW. Disebutkan bahwa Nabi SAW melaksanakan sholat zuhur dalam keadaan khouf (peperangan), kemudian para sahabat membagi barisan menjadi 2 kelompok. Satu kelompok sholat bersama Rasul dan yang lain berjaga-jaga.

Nabi melaksanakan sholat bersama Kelompok pertama sebanyak 2 rokaat kemudian salam. Lalu masuklah kelompok yang tadi berjaga-jaga untuk sholat bersama Rasul SAW. Berjamaah 2 rokaat kemudian salam. (HR Abu Daud)

Imam Sayfi'i dalam Kitabnya Al-Um menyebutkan bahwa: 2 rokaat terkahir Nabi adalah sunnah dan yang pertama wajib. Jadi kelompok kedua yang sholat bersama Nabi itu sholat wajib sedangkan Imam mereka yakni Nabi SAW melaksanakan Sholat Sunnah. (Al-Um 1/173)

Ketiga:

Sedangkan hadits yang menjadi argument kelompok yang melarang perbedaan niat tersebut, yaitu:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
"sesungguhnya Imam (dalam sholat) itu untuk diikuti, maka janganlah
kalian berbeda dengan Imam….."
(HR Bukhori dan Muslim).

Ini dijawab oleh kelompok yang membolehkan: bahwa Maksud larangan berbeda dalam hadits ini ialah larangan berbeda dalam gerakan-gerakan badan sholat yang zhohir, sedangkan urusan yang tak terlihat (bathin) tidak termasuk dalam larangan ini. Jadi ini bukan larangan untuk berbeda niat.

Dan ini dikuatkan oleh terusan redaksi hadits itu sendiri yang  berbunyi:

فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا
"Jika ia (Imam) takbir, maka ikutlah bertakbirlah, dan jika ia ruku’ maka ikutlah ruku’…."
(Al-Hawi Al-Kabir 2/319)

Imam Shon’any dalam kitabnya “Subulus-Salam” mengatakan bahwa: “Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada masalah perbedaan niat anatar Imam dan makmum.

Seperti Imam sholat Sunnah dan Makmum sholat wajib. Atau Imam sholat Ashar dan Imam Sholat Dzuhur. Itu semua SAH sholatnya secara berjamaah. (Subulus-Salam 2/22)

Keempat:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan…" (HR Bukhori
dan Muslim)

Haditnya jelas menerangkan bahwa bagi setiap seseorang itu apa yang diniatkannya. Begitu juga dengan Imam dan makmum, mereka mendapatkan apa yang mereka niatkan masing-masing. Dan tidak ada kaitannya antara niat Imam dan makmum. (Al-Muhalla/Ibnu Hazm: 4/223)   

Dan inilah yang menjadi pendapat Jumhur (Jumhur) Ulama, bahwa perbedaan niat tersebut sama sekali tidak berpengaruh kepada sholatnya makmum terhapad sholatnya Imam yang berbeda niatnya.

Yang diwajibkan bagi seorang makmum ialah WAJIB mengikuti gerakan-gerakan Imam yang dzhohir saja, sedangkan perbedaan niat itu sendiri tidak mempengaruhi sholat mereka. Makmum walaupun berbeda niat dengan Imam, ia tetap mendapat pahala sholat berjamaah. (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islamy 2/507)

Wallahu A’lam.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger