Hukum Sholat di Masjid Yang Ada Kuburannya

Sholat di dalam masjid yang ada kuburnya, entah itu di sebelahnya atau juga berdampingan dengan masjid, atau juga kuburan yang berada di areal masjid tidak mutlak diharamkan oleh Jumhur ulama. Dan ini bukanlah perkara yang baru, akan tetapi sejak dulu ulama sudah membahas ini.

Kelompok Yang Mengharamkan

Namun kemudian, ada yang ulama yang mengharamkan praktek sholat di masjid yang ada kuburannya, yaitu kelompok ulama yang menamakan dirinya dengan kelompok Salafi. Dengan dalil hadits nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Abu Huriaroh ra: 

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
"Allah swt melaknat orang-orang yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka masjid (tempat bersujud)" (HR. Bukhori 417 / Muslim 825)

Dan hadits-hadits ini juga diriwayatkan oleh beberapa Imam Sunan hadits dengan redaksi yang mirip. Imam Al-Suyuthi menambahkan redaksi [وصالحيهم] wa Sholihim (orang-orang sholih mereka) berdasarkan riwayat muslim.

Dengan dasar hadits ini, mereka mengharamkan melakukan sholat di dalam masjid yang ada kuburannya, toh mendirikan masjid di atas atau sekitaran masjid saja tidak boleh, berarti sholatnya juga tidak boleh. Dan sholatnya menjadi tidak sah plus dia berdosa. Karena Allah swt melaknat orang-orang yahudi dan nasrani, dan kita diperintah untuk menyelisih mereka.

Bahkan salah satu ulamanya berfatwa ketika ditanya tentang hal tersebut, beliau memberikan jawaban bahwa masjid itu harus dihancurkan atau kuburan itu yang harus di pindahkan.[1]

Namun ketika ditanya tentang "bagaimana hukum sholat di dalam masjid Nabawi yang di dalamnya ada kuburan Rasulullah saw dan juga sahabat yang lain?"

Mereka menjawab bahwa masjid Nabawi itu di khususkan, bahwa masjid itu lebih dulu dibangun dan kemudian dilebarkan akhirnya menjadikan kuburan Nabi saw masuk dalam masjid.

Kelompok Yang Membolehkan

Kelompok yang membolehkan sholat di dalam masjid yang ada kuburannya ialah ulama dari kalangan  madzhab Fiqih tanpa tercela[2], kecuali madzhab Hanbali yang mengharamkan[3].

Akan tetapi jika kuburannya itu ada di seberang pengimbaran imam, itu dimakruhkan dan sholatnya tetap sah. Ini pendapat 4 madzhab fiqih selain madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Dan pendapat mayoritas inilah yang diikuti oleh ulama komtemporer sekarang, tentu selain kelompok salafi itu. Salah satu yang mewakilinya ialah para ulama yang tergabung dalam dewan fatwa Mesir [دار الإفتاء المصرية] Daar Al-Ifta Al-Mishriyah. Sebagaimana telh mereka jelaskan dalam beberapa fatwa mereka.

Dan sudah pasti mereka mengikuti bukan tanpa dalil tapi justru dengan dalil yang sangat kuat. Mereka berdalil dengan Al-Quran, Sunnah, Kesepakatan para sahabat Nabi saw, dan juga kesepakatan umat.

1.    Makam Sahabat Abu Bashir:

Imam Ibnu Abdil-Barr dalam kitabnya Al-Istii'aab meriwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama Abu Bashir, ketika ia meninggal dunia para sahabat membangun masjid di atas kuburannya (di sekitranya). Dan pada saat itu Nabi saw masih hidup, akan tetapi tidak ada satu riwayat pun yang sampai saat ini bahwa Nabi saw melarangnya.

Bahkan para sahabat yang diceritakan ketika itu mngetahui pendirian masjid di atas kuburan Abi Bashir sejumlah 300 sahabat, tidak ada satu pun dari mereka yang menentangnya.[4] Ini bukti sebuah kebolehan, karena kalau perkara itu dilarang pastilah akan sampai riwayat ke kita saat ini yang melarang itu.

Karena Nabi saw dan para sahabat tidak akan diam untuk sebuah kemaksiatan.

*Kritik
Berhujjah dengan dalil riwayat cerita ini memang lemah, karena cerita ini sudah sejak dahulu kala, ceritanya sudah sejak lama sekali sedangkan riwayat hadits Nabi Muhammad saw yang melaknat prilaku orang Yahudi dan Nasrani itu dikatakan oleh beliau saw beberapa hari sebelum wafat. Yaitu di hari rabu dan beliau wafat di hari senin setelah itu. Bisa jadi riwayat ini menghapus apa yang terjadi pada masanya Abu Bashir.    

2.    Pemilihan Makam Nabi saw:

Ini juga dikuatkan oleh praktek yang dilakukan oleh para sahabat Nabi saw ketika wafatnya beliau saw, yang diceritakan oleh Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwaththo'. Ketika itu para sahabat berselisih dimana akan memakamkan Nabi saw, Imam Malik berkata: 

فَقَالَ نَاسٌ يُدْفَنُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ، وَقَالَ آخَرُونَ يُدْفَنُ بِالْبَقِيعِ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ فَقَالَ سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَقُولُ مَا دُفِنَ نَبِيٌّ قَطُّ إلَّا فِي مَكَانِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَحُفِرَ لَهُ فِيهِ

"orang-orang berkata: 'kuburkan (nabi) di mimbar (masjid Nabawi)', yang lain berkata juga: 'kuburkan di pemakaman baqi''. Kemudian Abu bakr datang dan berkata: 'aku pernah mendengar Nabi saw bersabda bahwa tidak ada nabi yang meninggal dunia kecuali ia dikuburkan ditempat dimana ia wafat'. Kemudian di gali lah di dalam kamar Nabi tersebut"[5]

Kesimpulan yang diambil dari hadits ini ialah bahwa ada sekelompok sahabat yang malah menyarankan untuk Nabi dikuburkan di mimbar, dan mimbar itu bukan di luar masjid, tapi memang benar-benar di dalam masjid.

Kalau memang itu dilarang oleh Nabi saw, dan hadits pelaknatan Yahudi dan nasrani itu pun sudah turun, kenapa ada sahabat yang masih berani menyarankan itu?

Dan setelah mereka menyarankan itu, tidak ada sekelompok sahabat lainnya yang menghardik sarannya tersebut jika memang itu melanggar ketentuan syariat? Tapi nyatanya tidak ada.

Dan Abu bakr, yang akhirnya menjadi pengambil keputusan bahwa Nabi dikuburkan di kamarnya sendiri (kamar 'Aisyah), itu bukan berdasarkan bahwa saran-saran sahabat lain itu terlarang, tapi karena memang Nabi mewasiatkan itu.

Apa mungkin para sahabat Nabi saw membiarkan sebuah pelanggaran syariat.

3.    Kamar 'Aisyah Menempel Dengan Masjid

Jadi memang Nabi wafat ketika belaiu berada di kamar 'Aisyah ra, dan sudah maklum (diketahui) bahwa kamar para istri-istri Nabi saw itu berdempetan dengan masjid Nabawi termasuk kamar 'Aisyah. Jadi kuburan Nabi memang berada tepat disamping Masjid dan bahkan berdempetan tak terbatas sangat dekat sekali.

Dan para sahabat tetap melaksanakan sholat di masjid Nabawi dengan tenang, tanpa ada yang risih dan gundah. Semua baik-baik saja padahal kuburan Nabi menempel erat dengan masjid. Karena kalau memang itu terlarang, pastilah mereka tidak diam.

Tapi sama sekali tidak ada dari para sahabat yang memang dekat dengan Nabi, mengetahui sunnah dengan benar, para penghafal Al-quran, mengetahui sebab turunnya Al-quran, tidak ada dari mereka yang menyarankan untuk memindahkan kuburan Nabi, atau bahkan memindah masjid Nabawi ketempat yang berjauhan dengan kuburan. Tidak ada!

Dan apa yang kita lihat sekarang di Indonesia atau kebanyakan Negara-negara Islam itu ya seperti ini. Bahwa banyak masjid-masjid yang dibangun itu bersebelahan dengan makan orang-orang sholih dari kaum tersebut. Termasuk para wali Allah swt.

Dan ini telah menjadi kesepakatan para sahabat Ridhwanullah 'Alaihim

-       Khusus Kuburan Nabi saw

Kalau dikatakan bahwa itu kuburan Nabi dan itu dikhususkan, maka selain kuburan Nabi itu yang terlarang. Ini pengkhususan yang keliru dan salah.
Sejatinya hukum dalam syariat itu umum berlaku untuk siapa saja dari kaum muslim walaupun itu awal pensyariatannya terjadi pada salah satu sahabat, atau terjadi pada Nabi sendiri. Dan pengkhususan hukum syariah tidak bisa berlaku kecuali dengan adanya dalil bahwa itu memang khusus untuk Nabi saw.

Dan sama sekali tidak ditemukan dalil yang mengkhususkan bahwa kalau kuburan Nabi boleh dan kuburan selain Nabi Muhammad saw tidak boleh. Ini tidak ada dasarnya dan dalil?

Alasan pengkhususan kuburan Nabi juga menjadi tidak benar, Toh di masjid Nabawi itu bukan hanya ada kuburan Nabi saw, tapi juga ada kuburan sayyidina Abu Bakr, sayyidina Umar bin Khohthtob. Tapi tidak ada satu ulama pun di dunia ini yang menyalahkan seorang muslim sholat di masjid nabawi.  

4.    Ijma' Ummah

Para ulama yang tegabung dalam dewan fatwa Mesir [دار الإفتاء المصرية] Daar Al-Ifta Al-Mishriyah menggunakan kata "Ijma'", yang berarti bahwa ini adalah kesepakatan seluruh umat Islam sejagad tanpa ada yang menyelisih.

Bahwa sejak dulu sampai saat ini, semua orang muslim bersepakat bahwa sholat di masjid Nabawi itu sah, walaupun di dalamnya ada kuburan Nabi, Abu Bakr, Umar dan juga Imam Abu Syuja'.

Dan tidak ada para sahabat dan ulama tidak ada yang menentang keputusan salah satu khalifah untuk memugar Masjid Nabawi dan memasukkan kuburan Nabi serta Imam lainnya ke dalam masjid Nabawi. Terlepas dari mana lebih dulu, kuburan atau masjid, nyatanya sekarang kuburan itu berada dalam masjid.

Sebagaimana dijelaskan diatas, kenapa harus dikhususkan, toh di dalamnya bukan hanya kuburan Nabi saw. [6]

5.    Hadits Pelaknatan Orang Nasrani dan Yahudi

Kemudian perihal hadits yang menyatakan bahwa orang yahudi dan Nasrani dilaknat oleh Allah swt karena menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang sholih mereka masjid tempat beribadah, itu tidak seperti yang dijelaskan oleh para penentang sholat di dalam masjid yang ada kuburannya itu. 

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

"Allah swt melaknat orang-orang yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka masjid (tempat bersujud)" (HR. Bukhori 417 / Muslim 825)

Imam Al-Suyuthi menambahkan redaksi [وصالحيهم] wa Sholihim (orang-orang sholih mereka) berdasarkan riwayat muslim. Pelarangan dalam hadits ini bukanlah dimaksudkan sebagai pelarangan membangun masjid di atas atau sekitaran sebuah kuburan atau makam.

-       Proses Penentuan Hukum

Para ulama tidak menafsirkan apa yang ada dalam hadits tersebut secara tekstual begitu saja. Perlu diketahui bahwa, seorang ulama –dan ini sudah menjadi aturan baku- dalam menentukan sebuah hukum tidak hanya bersandar pada satu sumber saja.

Kalau ada sebuah ayat dan juga hadits, beliau akan mencari dengan segenap kemampuannya semua dalil baik itu itu dari Al-Quran dan Sunnah yang memang berkaitan dengan masalah yang sedang digarap itu. Tidak grasak grusuk langsung memvonis hanya dengan satu hadits, itu bukan tabiat seorang ulama.

Jadi di atas meja ulama itu berkumpul puluhan ayat serta hadits yang berhubungan dengan masalah yang dicari. Kemudian mulailah beliau melakukan sebuah pemindaian (instinbath)¸yang kemudian lahirnya sebuah produk ijtihad yang baik dan sesuai koridor.  

-       Ada Qorinah (Pembanding)

Hadits diatas –setelah pencarian oleh ulama- ternyata punya [قرينة] "Qorinah", yaitu hadits lain yang jadi pembanding sehingga makna bukan seperti tekstual yang ada dalam hadits tersebut.

Yang dimaksud dalam larangan diatas bukanlah mendirikan kuburan di atas atau sekitaran. Akan tetapi yang dilarang dalam hadits tersebut ialah menyembah kuburan tersebut, menjadikannya tempat tujuan bersujud, dan menghadapkan diri ke kuburan itu untuk bersembahyang.

Ini dijelaskan dalam beberapa riwayat, termasuk riwayat Imam Malik dalam kitabnya Muwaththo': 

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Dari Atho' bin Yasar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: "Allahumma (ya Allah) Janganlah kau jadikan kuburanku (bagai) berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan mereka tempat bersujud (masjid)"[7]

Jadi memang [اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّه] kemurkaan Allah itu muncul karena adanya penyembahan kepada selain Allah swt, karena itu Rasul saw berdoa agar kaumnya (umat Islam) tidak menjadikan kuburannya sebagai sesembahan [اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا] yang kemudian mengbuahkan kemurkaan dan kelaknatan sebagaimana kaum-kaum sebelumnya yang dilaknat karena menyembah kuburan itu.

Imam Al-Sanadi dalam hasyiyah-nya mengatakan perihal hadits ini: 

وَمرَاده بذلك أَن يحذر أمته أَن يصنعوا بقبره مَا صنع الْيَهُود وَالنَّصَارَى بقبور أَنْبِيَائهمْ من اتخاذهم تِلْكَ الْقُبُور مَسَاجِد

"yang dimaksud ialah Nabi saw mengecam umatnya memperlakukan kuburan sebagaimana orang yahudi dan nasrani memperlakkan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat sujud"[8]
وَمُجَرَّد اتِّخَاذ مَسْجِد فِي جوَار صَالح تبركا غير مَمْنُوع
"dan hanya mendirikan bangunan di samping kuburannya orang sholih guna meraih keberkahan itu tidak dilarang"[9]

Karena sejatinya redaksi kata [مساجد] itu jama' (plural) dari [مسجد], yaitu ism Makan (kata tempat) dari Fi'il (kata Kerja) [سجد] sajada, yang berarti itu bersujud. Jadi memang yang dimaksud itu bersujud, yaitu menyembah kuburan. Bukan mendirikan masjid di atas atau sekitaran makam tersebut.

Imam Al-Baidhowi sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Zarqoni dalam kitabnya yang menjadi penjelas kitab Muwaththo' Imam Malik, mengatakan: 

لَمَّا كَانَتِ الْيَهُودُ يَسْجُدُونَ لِقُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِمْ وَيَجْعَلُونَهَا قِبْلَةً وَيَتَوَجَّهُونَ فِي الصَّلَاةِ نَحْوَهَا فَاتَّخَذُوهَا أَوْثَانًا لَعَنَهُمُ اللَّهُ، وَمَنَعَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ مِثْلِ ذَلِكَ وَنَهَاهُمْ عَنْهُ، أَمَّا مَنِ اتَّخَذَ مَسْجِدًا بِجِوَارِ صَالِحٍ أَوْ صَلَّى فِي مَقْبَرَتِهِ وَقَصَدَ بِهِ الِاسْتِظْهَارَ بِرُوحِهِ وَوُصُولَ أَثَرٍ مِنْ آثَارِ عِبَادَتِهِ إِلَيْهِ لَا التَّعْظِيمَ لَهُ وَالتَّوَجُّهَ فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ، أَلَا تَرَى أَنَّ مَدْفَنَ إِسْمَاعِيلَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ عِنْدَ الْحَطِيمِ، ثُمَّ إِنَّ ذَلِكَ الْمَسْجِدَ أَفْضَلُ مَكَانٍ يَتَحَرَّى الْمُصَلِّي بِصَلَاتِهِ.

"ketika orang Nasrani dan Yahudi menyembah kuburan nabi-nabi mereka sebagai pengagungan kedudukan mereka, dan menjadikan kuburan mereka sebagai kiblat dalam sholatnya, dan menjadikan kuburan itu sesembahan, Allah melaknat mereka. Dan melarang umat islam untuk berlaku seperti itu (org Yahudi dan Nasrani)

Sedangkan membangun masjid di samping kuburan orang sholih, atau sholat di sekitar pemakamannya, bermaksud menimbulkan ruh spriritualnya dan mencapai (mengikuti) atsar ibadahnya, bukan untuk mengagungkannya dan juga tidak menjadikannya kiblat dalam sholat (menyembahnya) maka itu tidak mengapa"[10]

Dan kesyirikan yang model seperti ini yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana dikuatkan oleh firman Allah swt:

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (Al-Taubah 31)

-       Target Poin Hadits

Dan juga harus diperhatikan, bahwa yang dituju oleh Nabi dengan haditsnya itu ialah praktek orang Yahudi dan Nasrani, bukan prekateknya Muslim. Maka harus dilihat bagaimana mereka memperlakukan kuburan-kuburan Nabu mereka?

Lalu apakah tempat ibadah mereka sama seperti tempat ibadahnya muslim (masjid)? Tentu berbeda. Maka harus kembali dilihat bagaimana pekerjaan mereka, bukan bagaimana pekerjaan muslim.

Karena memang Nabi saw mengisyaratkan untuk itu, yaitu prilaku buruk orang Yahudi dan Nasrani yang menyembah kuburan, dan bersembahyang menghadap kuburan tersebut sebagai pengagungan. Apakah muslim melakukan itu?

Muslim tetap beribadah kepada Allah, berdoanya kepada Allah, sholatnya menghadap kiblat, bukan ke kuburan dan juga orang muslim tidak ada yang bersujud untuk kuburan. Mereka bersujud untuk Allah swt dengan memperhatikan segala rukun dan ketentuannya.     

Dan memang tidak ada sinagog orang Nasrani serta gerejanya orang Yahudi itu tidak seperti masjid-masjidnya orang Islam. Jadi memang berbeda, harus ditinjau benar apa yang memang dilakukan oleh mereka. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka dan orang-ornag sholih mereka sesembahan, dan bukan menjadikannya sinagog atau gereja, sebagaimana dijelaskan diatas.

Yang terjadi kebanyakan di Indonesia bahwa memang kuburan itu tidak berada di tengah-tengah masjid. Tidak ada yang sepeerti itu. Yang ada hanyalah kuburan orang-orang sholih yang berada di sekitaran masjid, entah itu di taman belakang atau taman depan masjid, walaupun memang masih dalam area masjid. Lalu apa yang menjadi masalah?

Jadi memang sholat di masjid yang di sekitarnya ada kuburan itu tidak mengapa, karena yang sepakat dilarang dan diharamkan itu ialah menyembah kuburan atau menjadikannya kiblat sholat sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani melakukan itu.

Wallahu A'lam


[1] Al-Duror Al-Sanniyah fi Al-Ajwibah Al-Najdiyah 4/265
[2] Al-Mabsuth li Al-Sarokhsi 1/206, Al-Mudawwanah 1/182, Al-Majmu' 3/158
[3] Al-Mughni 2/51
[4] Al-Istii'aab li Ibni Abdi Al-Barr 4/1613-1614
[5] Muwaththo' Imam Malik 2/232, no. 790
[6] Fatwa Daar Al-Ifta' Al-Mishriyah no. 4241
[7] Muwaththo' Imam Malik 2/241, no. 594
[8] Hasyiyah Al-Sanadi 'ala Sunan Al-Nasa'I 2/41
[9] Ibid
[10] Syarhu Al-Zarqoni 'ala Muwaththo' 4/367
 

Pakaian 'Syuhroh', Haram kah?

Apa Itu 'Syuhroh'?
 
Syuhroh [شهرة] secara bahasa berarti terkenal dan popular karena tersebar, asal katanya isytaharo [اشتهر]. Secara istilah Syuhroh berarti sesuatu yang Nampak dan amat menonjol berbeda dari biasanya sesuatu yang semisal, tapi menonjolnya dalam hal yang negative[1]. Definisi yang sama dikemukakan dalam kitab "Lisan Al-'Arob", bahwa syuhroh  itu ialah:
ظهور الشيء في شُنْعَة حتى يَشْهَره الناس
Sesuatu yang menonjol dalam hal negative (keburukan) sehingga manusia raman mengetahuinya (karena saking menonjolnya hal tersebut).[2]
 
Mungkin dalam bahasa yang kekinian, kita bisa mengatakn syuhroh ini ialah kegiatan mencari sensasi dan popularitas yang menarik banyak perhatian khlayak ramai sehingga semua orang mengetahui hal tersebut karena memang berbeda dengan yang lain.  
Dalam sebuah hadits yang shohih, Nabi saw melarang umat islam ini untuk berpakaian dengan pakaian syuhroh [شهرة], yaitu pakaian yang tidak biasa dipakai oleh kaum setempat dengan tujuan mencari ketenaran dan popularitas semata. Tapi perbedaannya itu menjurus kepada hal-hal yang tidak baik, sebagaimana definisi syuhroh itu sendiri.

عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من لبس ثوب شهرة في الدنيا، ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة".
Dari Ibnu Umar ra, beliau berkata: Nabi saw bersabda: "barang siapa yang memakai pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah swt pakai-kan untuknya pakaian yang menghinakan-nya di hari kiamat."(HR. Abu Daud dan Imam Ahmad)

Penulis Kitab "'Aunnul-Ma'bud" yang merupakan penjelasan atas hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Sunan Abu Daud, Sheikh Abu Thoyyib Syamsul-Haqq, menukil perkataan Imam Ibnu Al-Atsir yang menjelaskan kata syuhroh dalam hadits tersebut.

Beliau (Ibnu Al-Atsir) mengatakan bahwa syuhroh yang dimaksud dalam hadits tersebut ialah pakaian yang menonjol diantara pakaian orang-orang pada umumnya, Menonjolnya bisa karena warnanya dan sebagainya. Sehingga menarik perhatian dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang sekitar, dan juga menjadikannya jumawa dan angkuh didepan khalayak sekitar dengan pakaian yang aneh tersebut.  

Dan yang dimaksud dengan "pakaian yang menghinakan" [ثوب مذلة] dalam hadits ialah, bahwa nanti dihari kiamat Allah swt akan memakai-kannya pakaian yang membuatnya terhina didepan orang banyak, sebagaimana ia telah berbusung dada dengan pakaian syuhrohnya didepan orang banyak ketika didunia.

Beliau (Abu Thoyyib) menambahkan, hadits ini adalah dalil atas keharaman memakain pakaian syuhroh bagi kaum muslimin. Dan termasuk dalam larangan hadits ini ialah orang yang memakain pakaian compang-camping agar terkesan sebagai seorang fakir dan orang-orang meyakini bahwa ia adalah seorang fakir dari pakaiannya tersebut, padahal aslinya tidak demikian.[3]

Hadits ini memang membahas tentang adab berpakaian, bukan hadits untuk bersolek. Akan tetapi berpakaian itu juga bagian dari berhias dan bersolek, karena berpakaian ialah kegiatan untuk memperelok diri bagian luar yang terlihat dengan pakaian yang bisa menambah ketampanan dan kecantikannya.

Dan lebih jelas lagi bahwa pakaian syuhrorh itu ialah pakaian yang jika dipakai, orang-orang sekitar merasa aneh dengan pakaian tersebut, dan pakaian syuhroh biasanya membuat siapapun yang mengenakannya menjadi jumawa di depan orang banyak, dan memang ini tujuannya memakain pakaian aneh tersebut, yaitu ingin mencari sensasi dan popularitas semata. Ini jelas diharamkan oleh syariah.

Dikecualikan!
 
Tidak termasuk dalam kategori pakaian syuhroh ialah pakaian lintas budaya dan kebiasaan. Budaya dan adat di masing-masing negeri tentu jelas berbeda-beda, termasuk dalam hal berpakaian. Jika seseorang memakain pakaian adat negerinya dalam suatu event atau kesempatan acara tertentu di negeri orang yang berbeda adat pakaiannya, maka yang demikian tidak disebut dengan pakaian Syuhroh. Terlebih lagi bahwa zaman sekarang sudah banyak bercampur budaya yang berbeda-beda dalam suatu negeri atau suatau tempat. 

wallahu a'lam


[1] Al-Mu'jam Al-Wasith, jil. 1 hal. 498
[2] Lisan Al-'Arob, Jil. 4 hal. 431
[3] 'Aunul-ma'buud, jil. 11 hal. 51
 

[Kultwit] Kurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal

Pertanyaan yg sering muncul ktk sudah masuk momen kurban ialah Bolehkah berkurban u/ org yg sdh meninggal? Atau blhkan berkurban u/ anak?

Jd "Bolehkah berkurban atas nama mayit?" Dan juga, "bolehkah berkurban atas nama org lain, anak, saudar dsbg?" Ini yg akan kt bahas

1) qurban itu ibadah nusuk (ritual) yg membutuhkan niat, dan niat dalam ibadah tdk bisa dilakukan kecuali olh org yg sudah mukallaf.

2) Dan org sdh mukallaf itu ia yg sdh baligh&masih idup, jd kalau anak kecil yg blm baligh ya ga prlu kurban, termasuk org yg sdh meninggal.

3) Madzhab syafii melarang kurban u/ org lain yg masih hidup (anak, suadara) kecuali jika ia tau dan mengizinkan.

4) Dan tidak boleh u/ si mayyit kecuali sebelum meninggal, mayit berwasiat u/ qurban. jd sebernya yg kurban ya kita, bukan siapa2.

5) Kalau mau anak kita yg kurban, beli kambing dan hadiahkan kambing itu u/ si anak, biar dia yg kurban sendiri,

6) jgn sampe kita kurban u/ anak tp malahan dia ngga tau kalau kita berkurban atas nama dia. Dia Kudu tau. Atau kurban u/ bayi, ya ngga bs

7) Nah masalah org yg sudah meninggal, dalam kurban itu (saya punya istilah sendiri) ada kongsi biaya, ada kongsi pahala.

8) Kalo kongsi biaya sudah paten, bahwa satu org satu kambing, dan satu sapi atau satu unta itu u/ 7 org. Itu paten syariahnya gitu.

9) Tp ada kongsi pahala. Iya kita yg kurban, atas nama kita pribadi, tp kita boleh menghadiahkan pahala kurban kita u/ si fulan bin fulan

10) baik dia udah meninggal/belum, itu yg boleh. Bukan atas nama org, tp kurbannya tetep kt nama kita tp pahalanya dihadiahkan u/ si fulan

11) Krn dulu jg Nabi begitu, bahwa beliau berkurban dgn 2 kibas (kambing), 1 u) kluarganya dan 1 lg u/ umatnya

12) Jd itu kongsi pahala, bukan biaya. Yg berkurban tetap beliau. Yg trhitung kurban hanya beliau bukan keluarga atau umatnya

13) Tapi beliau berikan pahala kurbanya u/ keluarga dan umatnya. Itu kongsi pahala bukan konsi biaya. Yg kurban siapa? Ya Nabi

14) Begitu jg kita, yg berkurban kita, atas nama kita. Tp kita hadiahkan pahala kurban u/ siapa saja yg kita kehendaki

15) Dan tetap, yg terhitung sebagai pengkurban itu kita bukan mereka yg kita hadiahkan pahalanya. Dan catatan mailakat, ya kita yg berkurban

16) Wallahu a'lam, itu sekilas tentang kurban atas nama org lain atau atas nama mayit. Mudah2an manfaat
 

Jasa Penghulu Nikah Sirri di Jakarta

Beberapa hari yang lalu, penusli kaget karena mendapat email yang tidak biasa, email  yang masuk itu bersumber dari akun islam11xxxxx@gmail [dot] com dengan subject "Jasa Penghulu Nikah Sirri di Jakarta". Dari judulnya saja sudah aneh, semakin aneh karena isinya pun vulgar sekali. Begini bunyi emailnya: 

"Kami menyediakan jasa penghulu nikah siri di Jakarta.
Lengkap dengan para saksi dan wali nikah (jika membutuhkan wali).
Proses mudah (tidak perlu menyediakan foto, fotokopi KTP, dokumentasi, dll). Cukup membuat janji dengan kami, ingin menikah hari apa, tanggal berapa. Insya Allah, kami siap.
Biaya terjangkau, Rp 2 juta (harga sewaktu-waktu bisa berubah).
Dapat "Sertifikat Menikah Siri."
Rahasia terjamin, insya Allah.
Alamat: Jln Dr Saharjo gang xxxxxxxx (alamat lengkap sengaja penulis sembunyikan) Jaksel
Call/sms: 087xxxxxxxxx (Ustad -xx-)."

Jelas sekali inti dari email orang ini, bahwa ia menawarkan jasa penghulu nikah di bawah tangan. Karena penasaran, penulis mencoba menghubungi nomo kontak yang disediakan di situ, dan memang terbukti nyambung. Berpura-pura sebagai orang yang ignin menggunakan jasa ustadz tersebut, penulis mengutarakan kasus palsu yang sedang dialami.

Penulis mengatakan sedang membutuhkan jasa beliau karena ingin menikah dengan seorang teman wanita akan tetapi tidak mendapat restu dari kedua orang tua wanita tersebut (ingat! Ini kasus palsu yang penulis buat guna meminta keterangan dari ustadz kawin sirri ini). Lalu dengan sangat meyakinkan, sang ustadz menjawab:

"Tidak mengapa, mas. Tidak perlu memakai wali kalau memang tidak direstui, menikah dengan bantuan kami bisa. Caranya itu ialah 'intiqol madzhab', pindah madzhab ke Malikiyah dan Hanafiyah, karena mereka membolehkan menikah tanpa wali.

Tapi kami tidak mengurusi surat menyurat ke KUA, kami hanya memberikan sertifikat nikah sirri dari kami. Tapi kalau memang mau, kami bisa mrngurusi itu semua, asal fee-nya nambah menjadi Rp. x.000.000,-"

Posisi Wali Dalam Pernikahan

Keberadaan wali nikah yang menjadi syarat sahnya pernikahan memang masih berada pada willayah perbedaan pendapat antara ulama fiqih lintas madzhab. Setidaknya ada 3 pendapat masyhur di kalangan para ahli fiqih dalam masalah ini:

[1] Wali adalah syarat sah sebuah pernikahan, artinya sebuah pernikahan tidak sah dalam pandangan syariah jika tanpa wali. Ini adalah pendapat jumhur ulama; diantaranya madzhab Syafi'i, Hanbali dan salah satu riwayat masyhur Imam Malik.[1]

[2] Wali bukanlah syarat sah pernikahan. Pernikahan secara syariah, hukumnya sah walau tanpa wali. Ini pendapat Imam Abu Hanifah, namun 2 sahabat beliau; Muhammaddan Abu Yusuf memandang berbeda.[2]

[3] Dibedakan antara perawan dan janda. Kalau perawan, wali adalah syarat sah pernikahan, akan tetapi kalau dia janda maka wali bukanlah syarat sah pernikahan itu. Ini pendapatnya Imam Abu Daud Al-Zohiri.[3]

Sejatinya, dalam turots fiqih ada satu lagi pendapat dalam masalah ini, yaitu pendapat Imam Malik dari riwayat Ibn Al-Qasim yang mengatakan bahwa seorang wanita yang tidak Syarifah (mulia) atau dari kalangan biasa yang tidak terpandang, boleh menikah dengan tanpa wali.

Jadi dalam pandangan Imam Malik yang satu ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Rusyd, wali merupakan syarat pelengkap saja dan bukan syarat sah pernikahan. Adanya itu baik, tapi tidak adanya juga tidak menjadi masalah.

Ikut Pendapat Yang Mana?

Memang tidak ada ketentuan dan keharusan dalam syariah ini untuk kita mengikuti satu pendapat atau satu madzhab tertentu. Apalagi dalam masalah khilafiyah seperti ini, kita dibolehkan mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain sesuai dengan keyakinan kita, apakah itu yang lebih mudah, atau pendapat yang lebih hati-hati dan terkesan sulit. Tentu itu juga dengan bimbingan seorang guru.

Dalam masalah ini memang pendapat Imam Abu Hanifah terkesan pendapat yang ringan bahkan memudahkan untuk tidak kita katakan menggampangkan. Karena memang tidak mengharuskan wali bagi siapa saja yang ingin menikah. Berbeda dengan pendapat Jumhur yang mensyaratkan wali nikah sebagai rukun yang tidak boleh ditinggalkan.

Dan memang inilah yang sering dijadikan tameng oleh beberapa kalangan untuk melangsungkan pernikahan dengan tanpa wali si wanita. Mereka berdalih bahwa ada pendapat madzhab fiqih yang membolehkan itu. Terkesan menggampangkan syariah walaupun tidak salah juga.

Menurut penulis, ini hanya sebuah legalisasi kwani lari secara agama saja, yang sejak dari dahulu kala memang sudah dinilai negative oleh kebanyakan orang Indonesia karena jauh dari adab. Dan ustadz kawin sirri ini, memanfaatkan kegamangan masyarakat akan awamnya dengan syariah, dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya keuntungan dengan menjual label agama.

-       Tatabbu' Al-Rukhos (Memilih Yang Ringan) 
Lalu yang jadi pertanyaan apakah boleh mengambil pendapat yang lebih mudah dan ringan dalam masalah khilafiyah seperti ini, yang disebut dengan Tatabbu' Al-Rukhos [تتبع الرخص]? Atau kah diharuskan mengambil yang lebih sulit sebagai kehati-hatian?

Ulama memang ada yang membolehkan mengambil pendapat yang lebih mudah saja untuk diamalkan dibanding pendapat ulama yang terkesan berat dan sulit. Dengan alasan bahwa memang tidak ada larangan dalam syariah ini untuk beribadah sesuai dengan pendapat ulama yang memudahkan.

Dan sunnah Nabi Muhammad saw baik itu perkataan ataupun perbuatan menunjukkan kebolehan untuk mengambil pendapat yang memudahkan sebagai landasan beribadah. Nabi dalam sebuah riwayat dikatakan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِيهِ إِثْمٌ فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
"Dari 'Aisyah ra, beliau berkata bahwa Nabi tidak diberikan 2 pilihan kecuali ia memilih yang paling mudah kecuali jika itu dosa. Kalau itu dosa ia adalah orang yang paling menjauhinya" (HR Ahmad) 

Imam Al-Qorofi dari kalangan Malikiyah mengatakan secara tegas kebolehan bagi seseorang untuk beribadah dengan landasan pendapat ulama yang memang meringankannya. Tapi kemudian beliau memberikan syarat bahwa keputusannya mengambil pendapat yang ringan tersebut tidak membuatnya mengerjakan suatu amalan yang batil dan juga tidak sampai kepada prkatek Talfiq

Talfiq ialah praktek mengambil beberapa pendapat ulama mujtahid dalam satu urusan amal, lalu mencampurnya sehingga melahirkan pendapat baru.[4]

Seperti dalam masalah wudhu. Seseorang mengambil pendapatnya imam syafi'i yang tidak mewajibkan mengusap seluruh bagian kepala. Akan tetapi ia mengambil pendapat imam Ahmad bin Hanbal yang tidak membatalkan wudhu jika bersentuhan dengan lawan jenis, yang sejatinya wudhunya itu batal menurut madzhab Syafiiyah.

Jadi yang terjadi itu justru ia membuat praktek wudhu versi baru yang belum pernah ada imam Mujtahid mengatakan demikian. Ia justru membuat madzhab baru akhirnya. Intinya memang talfiq itu membuat madzhab sendiri tanpa dasar yang jelas, hanya catut sini catut sana.

Dan apa yang dilakukan oleh ustadz kawin sirri itu (baca: kawin lari) ya seperti itu, hanya mengambil yang menguntungkan saja. Catut sana catut sini, yang penting usahanya laku. Na'udzubillah

-       Memilih Yang Berat

Namun ada juga pendapat ulama yang memang sangat keras dan mengharamkan 
mengikuti pendapat yang mudah dan terkesan menggampangkan. Ulama ini mewajibkan mengambil pendapat yang memang berat dan kuat. Dan ini adalah pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal dan juga beberapa ulama dari kalangan Malikiyah. [5]

Menurut pendapat ini, mengambil pendapat yang ringan dalam beribadah itu lebih condong dan lebih dekat kepada keinginan hawa nafsu yang memang selalu menginginkan keringanan dalam beribadah.

Padahal ketika terjadi perselihan pendapat, yang diperintahkna kepada kita ialah kembali kepada Allah swt dan Rasul saw. Bukan malah mengikuti hawa nafsu. 

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
"Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)". (An-Nisa' 59)

Dorongan hawa nafsu sangat kental menjadi latar belakang alasan kenapa seorang muslim mengambil pendapat yang meringankannya, dan enggan mengambil ketetapan yang berat. Dan syariat dengan sangat jelas melarang ummatnya mengikuti hawa nafsu. 

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
"janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah". (Shaad 26)

Dan akhirnya, dengan terus mengikuti hawa nafsu akan timbul penyepelan terhadap syariah. Dengan ia terus menerus mencari-cari mana pendapat yang sekiranya menguntungkan bagi dia dan kelompoknya. Iman dalam diri sudah tidak menjadi dasar dan dorongan lagi dalam beribadah, akan tetapi nafsu dan kepentingan sepihak.

Imam Al-Ghozali mengatakan:
وَلَيْسَ لِلْعَامِّيِّ أَنْ يَنْتَقِيَ مِنْ الْمَذَاهِبِ فِي كُلِّ مَسْأَلَةٍ أَطْيَبَهَا عِنْدَهُ فَيَتَوَسَّعَ
"Seorang awaam (yang tidak mampu berijtihad) tidak diperkenankan baginya menyeleksi pendapat madzhab yang paling menguntungka buatnya, (khawatir) ia bisa melampaui batas (memudahkan)"[6]

Pendapat ini juga didasari oleh faham kehati-hatian dalam beribadah. Bagaimanapun, ibadah adalah kerat kaitannya dengan perkara halal dan haram yang bisa menjerumuskan seseorang kedalam dosa. Perkara yang berat seperti ini hendaknya tidak digampangkan atau dimudah-mudahkan.

-       Pendapat Imam Syathibi

Dalam kitabnya Al-Muwafaqat, Imam Syathibi menjelaskna bahwa yang harus dilakukan oleh seorang penanya jika mendapatkan pendapat yang berbeda dari para mujtahid ialah mencari pendapat mana yang lebih unggul.

Tidak langsung memilih mana yang lebih mudah untuknya. Tapi menimbang dulu mana yang kuat, dilihat dari dalil dan bagaimana para mujtahid itu berIstidlal. Karena menurut beliau perbedaan pendapat untuk seorang awwam itu bagaikan dalil-dalil yang saling berselisih untuk seorang Mujtahid. Dan pada saat itu seorang mujtahid diharuskan mencari dalil mana yang lebih kuat, begitu juga seorang muslim jika dihadapkan kepada perbedaan pendapat.[7]

Pendapat Imam syathibi di sini sepertinya menjadi pendapat penengah antara 2 pendapat di atas. Akan tetapi pendapat beliau di sini tidak bisa diemplementasikan kepada seluruh orang, itu hanya cocok bagi mereka yang memang bisa melakukan itu, yaitu memverifikasi pendapat mana yangs sekiranya kuat.

Padahal di kalangan sana banyak sekali orang awwan yang sama sekali tidak tahu harus memilih yang mana. Kalau dia diperintah untuk menyeleksi pendapat mana yang sekiranya kuat sudah pasti menyulitkan.

Sepertinya memang pendapat Imam Syathibi ini hanya cocok bagi para penuntut ilmu syar'i, yang mana mereka mengerti dalil dan istidlalnya namun tidak sampai derajat mujtahid.

Memilih Pendapat Mayoritas (Hukum Negara)

Yang paling baik menurut penulis dalam hal ini ialah mengikuti pendapat yang banyak dipegang oleh lingkungan sekitar, yaitu suara mayoritas (Majority Voice). Sebenarnya bukan hanya pada masalah nikah ini saja, akan tetapi dalam segala hal memang baiknya seseorang tidak menampakkan perbedaan sendiri ditengah keseragaman khalayak.

Kalau memang tinggal pada lingkungan Hanbali, ya mengikuti pendapat Madzhab Hanbali jauh lebih baik dari pada yang lain. Begitu juga jika memang tinggal di lingkungan Malikiyah, sungguh sangat tidak beradab jika kita malah menampakkan keengganan kita untuk mengikuti pendapat Malikiyah.

Kita di Indonesia ini yang memang terkenal dengan menjamurnya madzhab Syafi'i, ya tentu jauh lebih baik bahkan memang sangat baik untuk kita mengikuti pendapat-pendapat ulama syafiiyah. Dibanding harus tetap kukuh dengan ulama yang tidak bermadzhab.

Karena bagaimanapun menampakkan perbedaan ditengah keseragaman khalayak ialah sesuatu yang sangat tidak terpuji, dan sudah pasti akan menimbulkan gesekan antara masyarakat.

Dan hukum mayoritas dalam hal perkawinan di Indonesia ini sudah tertuang dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang menjadi pegangan seluruh Hakim Agama di sejagad indonesia ini. Sudah pasti tidak akan berbeda.

Dan posisi wali nikah dalam KHI ialah sama seperti pendapat jumhur yang menempatkan seorang wali nikah sebagai rukun nikah yang keberadaannya tidak boleh tidak ada. Ini tertuang dalam pasal 19 – pasal 24 dalam Kompilasi tersebut.

Kemaslahatan


Satu lagi yang sering dijadikan dasar hukum oleh para ulama ialah Al-Istishlah [الاستصلاح] atau biasa yang disebut dengan kemaslahatan. Negara ini sudah menentukan bahwa menikah tidak sah kecuali dengan wali. Dan aturan ini dibentuk tentu bukan sekedar asal bentuk, akan tetapi dengan perhitungan yang matang setelah meninjau berbagai aspek, baik itu aspek syariah maupun aspek sosial.

Menjadikan wali nikah sebagai rukun, selain mengikuti pendapat jumhur ulama, ini juga mempunyai dampak positif yang besar terhadap keberlangsungan hidup sosial antara warga. Dan justru meninggalkan ini, yakni mengambil keputusan bolehnya menikah tanpa wali akan menghasilkan dampak yang buruk bagi masyarakat.

Coba bayangkan seandainya seluruh warga diberikan kebebasan untuk menikah tanpa wali si gadis, apa yang akan terjadi? Kesemrawutan sana sini pasti yang akan terjadi. Mungkin hampir tiap hari kita akan mendengar seorang ayah kehilangan anak gadisnya karena dibawa kabur oleh sang pacar yang tidak disetujui oleh si ayah gadis.

Kemudian berapa banyak wanita yang hamil dan kemudian si ayah tidak mau tanggung jawab? Karena memang tidak ada persetujuan dengan sang wali dalam akad yang merupakan sebagai perpindahan tanggung jawab dari si wali kepada sang lelaki.

Kekacauan pasti akan terjadi, dan kekacauan ini akan terus berlanjut kalau tidak ada tindakan tegas dari penguasa. Untuk meminimalisir kekacauan itu dan meciptakan maslahat bagi warganya, Negara membuat aturan itu.

Kemudian pastinya akan muncul lagi masalah dengan status perwalian kita terhadap anak kita yang dihasilkan dari pernikahan tanpa surat resmi Negara. Ketentuannya mengatakan bahwa anak nantinya tidak bisa mendapatkan surat keterangan lahir (AKTA Lahir) kalau kedua orang tuanya tidak punya surat resmi menikah dari Negara.

Bukan hanya itu, ujung-ujungnya akan terjadi kakacauan hukum dan status untuk si anak. Kepada siapa Negara akan memberikan perwaliannya sebagai penanggung jawab penuh atas pendidikan, sandang serta pangan anak tersebut.

Dan sudah pasti dia pun tidak mendapat jatah waris jika harta orang tuanya diserahkan kepada pengadilan ketika wafat. Karena pengadilan akan memberika waris kepada anak yang sah, dan keabsahan seorang anak itu tidak bisa dibuktikan kecuali dengan surat-surat resmi Negara yang berawal semuanya dari surat resmi menikah KUA.  

Jadi sejatinya memang tidak ada alasan untuk tidak mengikuti jumhur, karena memang Negara mewajibkan itu.

Wallahu A'lam


[1] Bidayatul-Mujtahid 376, Al-Majmu' 16/146, Al-Mughni 7/337
[2] Bada'i Al-Shona'i 2/247
[3] Al-Muhalla 9/455
[4] Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu 1/85
[5] Al-Madkhol ila Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal 206
[6] Al-Mustashfa 1/374
[7] Al-Muwafaqot 5/84
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger