Tidak Bersedih Dengan Wafatnya Ulama Berarti Munafiq?

من لم يحزن بموت العالم فهو منافق

"Siapa yang tidak bersedih dengan kematian seorang ulama maka ia termasuk munafiq"

Kalau yang ditanya apakah ini hadits? Apa derajatnya?

Jelas ini bukan hadits, -Wallahu A'lam- karena sepanjang pencarian, tidak ada kitab-kitab hadits yang meriwayatkan redaksi seperti ini.

Lalu siapa yang pertama kali mempopulerkan hadits ini?

Sepengetahuan penulis, qoul ini dipopulerkan oleh Imam Nawawi Al-Jawi (Tanara, Banten) dalam kitabnya "Maroqil-'ubudiyah" [مراقي العبودية]. Kitab ini adalah syarah (penjelasan) dari kitab "Bidayah Al-Hidayah" [بداية الهداية], karangan Imam Al-Ghozali.

Kitab bidayah hidayah itu kecil, dan tipis, berisi tentang adab-adab seorang muslim dari mulai bangun tidur sampai meninggal dunia, yang ditinjau dari segi tasawwuf. Termasuk di dalamnya bab keutamaan ilmu dan ulama.

Tentu kita mnegenal kitab fenomenal karangan Imam Ghozali; Ihya' Ulum Al-Diin [إحياء علوم الدين]. Bisa dibilang kitab bidayah Hidayah itu kitab resensinya, kitab yang isinya sama seperti kitab ihya' tapi dengan penjelasan yang lebih singkat dan padat. Karena setiap akhir pembahasan bab, Imam Ghozali selalu mengatakan:

وهذا قد بيناه تفصيلا في كتابنا الإحياء, فمن أراد قليراجع
"Dan pembahasan ini telah kami bahasa secara rinci dalam kitab kami, Ihya'. Siapa yang ingin menambah keterangan, hendaklah ia merujuknya".

Ketika membahas keutamaan ilmu dan ulama, Imam Nawawi mengeluarkan "hadits" itu, sayangnya beliau tidak menuliskan sanad ataupun nama perawinya. Jadi cukup sulit bagi para penuntut ilmu untuk mencari rujukan hadits ini (kalau memang benar hadits) dalam kitab-kitab hadits yang masyhur.

Lalu bagaimana mensikapinya?

Prinsip seorang muslim, kalau itu dari Nabi maka harus san'an wa thoatan (dengar dan mentaati). Akan tetapi kalau itu bukan dari Nabi, maka boleh diambil dan boleh juga menolak kalau memang tidak ada kebaikannya. Akan tetapi kalau ada kebaikan dalam pernyataan tersebut kenapa tidak diambil manfaatnya?

Walaupun itu bukan hadits, tapi kalau dilihat lebih jauh lagi, pernyataan itu ada benarnya juga. Maksudnya memang sangat layak kita bersedih jika ada seorang ulama yang meninggal dunia.

Ulama itu para ahli waris Nabi, dan Nabi tidak mewarisi apa-apa kecuali ilmu. Berarti memang ulama itu jalan kita untuk menuju apa yang diajarkan oleh Nabi karena para ulama itu semua yang terwarisi ilmu Nabi saw.

Makin banyak ulama yang meninggal, makim banyak pula nantinya ilmu yang tidak tersampaikan kepada ummat. Akhirnya banyak yang tidak paham agama, tidak punya penuntun yang menuntunnya dalam masalah agama karena ahli warisnya terhenti.

Masa iya kita tidak bersedih dengan terputusnya ilmu? Dan kematian ulama itu adalah salah satu cara Allah mengangkat ilmuNya dari bumi. Sebagaimana hadits Nabi saw:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari bumi akan tetapi Allah mengambil ilmuNya dengan mewafatkan para ulamanya. Sehingga ketika Allah swt tidak menyisakan orang-orang 'alim di situ, para manusia menjadikan orang-orang bodoh (bukan ahli ilmu) sebagai tempat bertanya, maka ia berfatwa tanpa ilmu lalu sesatlah dan menyesatkan" (HR Bukhori)  

Jadi memang harus kita bersedih kalau ada ulama yang wafat. Itu ancaman buat keilmuan islam, buat umat yang bakal kehilangan penuntun. Ulama itu bagaikan penerang bagi umatnya, dan umat itu mendapat penerangan dari ilmu para sang ulama. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada ulama? Bagaimana bisa umat beribdah tanpa ilmu?

"Kan ulama banyak! Ngga cuma dia doang" mungkin ada yang bilang begitu.

Tapi tidak seperti itu berfikirnya. Coba bayangkan ada jalan yang panjangnya kira-kira berkilo-kilo meter. Setiap sekian ratus meter didirikan pos sebagai tempat lampu penerang supaya orang dan rumah yang ada sekitar bisa mendapat cahaya.

Kalau di salah satu pos ada lampu yang mati, bagaimana keadaan orang sekitar pos itu? Pasti kesusahan. Dan dia harus berjjalan jauh guna mendapat cahaya yang masih menyala di pos lain. Ini jelas menyulitkan.

Begitu juga kiranya sang ulama. Ulama memang banyak tapi kesemuanya sudah punya pos dan bidang yang didalami masing-masing. Kalau ulama satu meninggal memang ada uda ulama lain yang masih ada, tapi belum tentu ulama yang tersisa itu menekuni sesuai apa yang ditekuni oleh ulama yang wafat itu. Kalau beliau sudah wafat maka satu pos keilmuan hilang. Dan bagaimana juga nasib para murid serta warganya yang selama ini berguru dan mendapat tuntunan beliau.

Bahkan sayyidina Umar pernah berkata dalam sebuah atsar yang dikutip oleh Imam Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya':

موت ألف عابد قائم الليل صائم النهار أهون من موت عالم بصير بحلال الله وحرامه
"kematian seribu org ahli ibdah yang rajin sholat malam dan puasa disiangnya itu tdk sebanding dengan kematian seorang ulama yang mengerti halal haramnya aturan Allah swt (syariah)"[1]

Karena memang manfaatnya sangat jauh berbeda, dan ulama punya kredit poin yang jauh lebih baik dari pada seorang ahli ibadah. Orang ahli ibadah manfaatnya buat dia sendiri, karena ibadahnya hanya bisa menyelamatkan dirinya dan pahalanya pun hanya khusus sendiri.

Berbeda dengan seorang ulama, yang manfaatnya dirasa oleh banyak orang. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akhirnya bisa beribadah dgn baik karena tuntunan si ulama tersebut. Ini juga yang telah dijelaskan oleh Nabi saw dalam haditsnya:  

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
"Keutamaan orang berilmu dibanding orang yang beribadah itu seperti keutamaan bulan malam purnama diatas bintang-bintang. Dan ulama ialah ahli para waris Nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewarisi dinar dan dirham akan tetapi mewarisi ilmu" (HR Ibnu Majah, Tirmidzi dan Abu Daud)

Orang alim seperi bulan, orang yang ahli ibadah hanya seperti bintang yang sinarnya tidak cukup menerangi semesta bumi. Berbeda dengan seorang alim yang Nabi saw gambarkan layaknya bulan purnama yang menyinari seluruh isi bumi. Jadi ya memang sangat layak kita bersedih untuk kemwatian seorang ulama.

Tapi dari itu semua, sangat tidak layak kalau tiba-tiba kita mengatakan seseorang itu munafiq hanya karena tidak terlihat sedih. Karena sejatinya, kesedihan bukan terpancar dari linangan air mata saja. Kesedihan banyak bentuknya dan tidak melulu dengan tangisan. Pelabelan munafiq bukanlah perkara yang sepele, terlebih lagi bahwa jika itu dilabelkan kepada saudara muslimnya sendiri.

Wallahu A'lam


[1] Ihya' Ulum Al-Din 1/9
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger