Nitip Doa

Kalau sudah masuk akhir bulan Dzulqo'dah seperti sekarang ini, sudah mulai banyak kloter-kloter Jemaah Indonesia yang sudah berangkat menuju tanah suci untuk ibadah haji. Dan biasanya, para Jemaah sering sekali membawa titipan dari keluarga atau kerabatnya di tanah air, yaitu titipan doa. 

Orang Indonesia, atau lebih tepatnya beberapa kalangan di pinggiran kota atau daerah sering sekali titip-titipan doa dengan saudaranya yang mau berangkat haji. Nitip doa maksudnya itu meminta didoakan oleh saudarnya yang berhaji ke Tanah Haram sana, karena bagaimanapun keutamaan berdoa di Tanah Haram sangat besar dan termasuk dalam tempat-tempat istijabah.

"Bang, ane nitip doa ya nanti. Kalo depan ka'bah, jangan lupa doain ane biar makin,……"

"Nanti di raudhoh, ane nitip doa ye! Doain ane ama bini ane biar bisa nyusul kaya ente pegih haji!"

Begitu kiranya redaksi kalimat yang sering kita dengar. Bahkan saking banyaknya permintaan titipan doa, ada Jemaah yang membuat list titip doa di buku diary mereka yang nantinya mereka bawa ke tanah suci. Niatnya biar tidak kelupaan untuk mendoakan saudaranya, karena bagaimanapun titipan doa juga amanah.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal keberangkatan haji, praktek titip-titipan doa ini juga sering dilakukan di luar itu. Bahkan hampir setiap hari, orang Indonesia banyak yang melakukannya. Tidak jarang kita temuka orang yang bertemu dengan kawan atau siapapun yang yang mengatakan:

"Mas/Mba, Doain aku ya! Aku sebentar lagi mau,……."

Apalagi kalau bertemu dengan ustadz atau kiyai, pasti minta lebih banyak lagi titipan doa.

"Yai, mohon doanya, biar saya bisa ,……",

"Pak ustadz, jangan lupa kalo sholat malem doakan kami juga biar,……."

Itu semua sejatinya adalah praktek titip doa, karena kita menitipkan doa kita agar didoakan juga oleh orang lain, terlebih jika ia orang sholeh dalam selipan doa-doa mereka. Berharap dengan banyaknya orang yang berdoa untuk kita, keinginan dan cita-cita semakin dekat, karena banyak yang meminta. Dan praktek ini sangat baik sekali.

Doa kok Dititip?

Sayangnya belakangan ini, atau entah sejak kapan, ada beberapa kalangan yang malah mencibir prkatek yang sudah sejak lama dilakukan oleh kebanyak orang Indonesia, bahkan ini diprkatekan oleh semua muslim sejagad raya sejak zaman kenabian.

Mereka beralasan bahwa prkatek titip doa itu tidak sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Allah melalui ayat Quran-Nya:

"dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku" (QS Al-Baqarah 186)

Mereka menganggap dengan ayat ini, bahwa seseorang tidak perlu lagi meminta orang untuk mendoakan atau titip-titipan doa, karena Allah swt itu dekat dengan hambaNya, dan karena dekat ya tidak perlu lagi meminta orang lain, langsung saja kepada yang dekat.

Memang sejatinya begitu, tapi bukan berarti praktek titip doa itu disalahkan dan tidak dibenarkan. Meminta orang untuk mendoakan bukan berarti tidak meyakini bahwa Allah itu dekat, bukan begitu mikirnya. Akan tetapi memang syariah ini membolehkan prkatek titip doa.

Syariah ini memberikan kita keistimewaan, bahwa ada beberapa tempat dan beberapa waktu yang sering disebut dengan Mahallu Istijabat Al-Du'a (tempat-tempat/keadaan yang dimana doa akan dikabulkan), seperti waktu sepertiga malam, ba'da Ashar menjelang maghrib di hari Jumat. Kalau tempat ada Raudhoh-nya masjid Nabawi, Hijir Ismail dan sebagainya.

Apakah jika orang mengejar waktu dan tempat-tempat tersebut untuk berdoa dikatakan bahwa ia tidak meyakini kalau Allah itu dekat sehingga ia harus mencari-cari waktu dan tempat khusus? Kan tidak begitu juga logikanya. Memang syariah menyediakan itu untuk kita bisa manfaatkan.

Dalam syariah, prkatek ini disebut dengan istilah Al-Tawassul bil-Ahya (bertawassul dengan orang yang hidup). Yaitu meminta didoakan oleh orang, terlebih jika itu orang sholeh untuk hajat yang sedang diinginkan kepada Allah. Memintanya kepada Allah, tapi melalui lisan doanya orang sholeh tersebut. Orang Indonesia saja yang menamakannya titip doa.  

Praktek ini sudah dilakukan sejak zaman sahabat, ketika Nabi saw masih hidup. Tidak ada satupun ulama yang berpendapat bahwa Al-Tawassul bil-Ahya itu dilarang, ulama sejagad raya ini telah bersepakat kebolehannya.

Dan bagi yang dititipi doa, ini sebuah amal buat dia sebagai tambahan kebaikan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jika kita meminta ampun untuk saudara muslim kita, kita mendapat satu kebaikan dari jumlah muslim yang didoakan. Bayangkan kalau yang kita doakan itu muslim sejagad, berapa kebaikan yang kita peroleh?

Nabi Mengajarkan Titip doa

Sadar atau tidak sadar ternyata Nabi saw sejak dulu telah mengajarkan kita praktek titip doa ini. Banyak dari kalangan sahabat yang meminta didoakan oleh Nabi saw, dan sama sekali Nabi tidak mengatakan kepada mereka: "berdoa sendiri saja, Allah swt itu dekat!" tidak pernah ada riwayat seperti itu, akan tetapi Nabi meng-iya-kan dan mendoakan mereka semua. Apa itu bukan praktek titip doa namanya? Itu sama saja Nabi dititipkan doa oleh para sahabat.

Dalam riwayat Imam Tirmidzi (5/569) melalui sahabat Utsman bin Hunaif, Nabi saw pernah didatangi oleh seorang yang buta. Beliau meminta kepada Nabi saw untuk didoakan agar butanya itu diangkat oleh Allah swt dan dia bisa melihat kembali lagi. Apakah Nabi menolak? Sama sekali tidak. kalau memang tidak boleh, pastilah Nabi menolak.

Ada lagi dari riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, diceritakan bahwa Nabi saw sedang khutbah Jumat kemudian ada seorang yang masuk masjid dan langsung berdiri meminta kepada Nabi saw mendoakan keadaan kampungnya yang sedang paceklik:

يَا رَسُول اللَّهِ هَلَكَتِ الأَمْوَال وَانْقَطَعَتِ السُّبُل فَادْعُ اللَّهُ يُغِيثُنَا . فَرَفَعَ رَسُول اللَّهِ يَدَيْهِ ، ثُمَّ قَال : اللَّهُمَّ أَغِثْنَا . اللَّهُمَّ أَغِثْنَا . اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

"wahai Nabi harta kami hancur, jalan-jalan (rezeki) telah terputus. Berdoalah kepada Allah untuk menolong kami", kemudian Rasul saw mengangkat tangannya dan berdoa: "ya Allah tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami"

Seketika langit mulai mendung dan menurunkan hujan lebat sejak jumat itu sampai juma berikutnya, terus menerus tidak berhenti.

Atau juga riwayat Muslim (hadits no. 2542) yang masyhur sekali di telinga kita, yaitu cerita tentang khoirut-tabi'in (sebaik-baiknya tabi'in) Uwais Al-Qorni Al-Yamani, dimana ketika itu Nabi memerintahkan Umar bin Khoththob untuk meminta kepada Uwais agar didoakan dan dimintakan ampun kepada Allah swt.

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، …..لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ»

Umar berkata: "Aku mendengar Rasul saw bersabda: akan datang nanti Uwais bin 'Amir bersama rombongan dari Yaman…. Dia punya ibu yang ia sangat berbekati sekali kepada ibunya, kalau dia bersumpah kepada Allah, pastilah Allah mengabulkannya, kalau kamu bisa memintakan ampun kepada Allah melalui dia, maka lakukanlah"

Maka ketika musim haji datang, Umar ra menunggu-nunggu kedatangan rombongan dari Yaman guna mencari Uwais Al-Qorni agar bisa didoakan oleh beliau. Akhirnya bertemua juga dengan Uwais dan meminta dimohonkan ampun kepada Allah untuknya atas rekomendasi dari Rasul saw.   

Manusia sekelas Umar ra, yang sudah dijanjikan surga oleh Allah swt saja masih disuruh untuk menitipkan doanya kepada Uwais Al-Qorni. Apakah tidak bisa Umar berdoa sendiri? Apa doa seorang Amirul-Mukminin tidak dikabul oleh Allah swt, kurang mustajab gitu?

Lalu siapa kita tiba-tiba malah melarang untuk memintakan doa kepada orang lain yang jauh lebih sholeh dari kita. Jadi mulai sekarang sering-sering titip doa ke orang-orang sholeh. Dengan kedekatakannya insyaAllah hajat kita terkabul.

Wallahu A'lam
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger