doa-doa wudhu. ada atau tidak ?

Banyak dari kaum muslimin yang saya perhatikan, ketika ia berwudhu, ia mengambil waktu yang sangat lama sekali. Cukup lama untuk seorang yang berwudhu. Lama karena setiap kali ia mambasuh bagian tubuh wudhu, ia berhenti sejenak dan saya melihat mulutnya bergerak seakan-akan ada yang dibacanya. Entah apa yang dibaca saya tidak tahu.
Belakangan saya tahu bahwa itu adalah doa-doa anggota tubuh wudhu. Yaitu dibaca ketika ia membasuh bagian tubuh wudhu itu. Saya tidak hafal doa-doa tersebut karena saya memang tidak mempelajarinya dan memang tidak ada yang mengajari itu kepada saya sejak saya mulai belajar wudhu diwaktu kecil dulu, dan sampai saat ini.
Dalam suatu majlis saya pernah mendengar salah serang jemaah bertanya kepada ustadz tentang masalah itu, yakni doa-doa wudhu dari mulai muka sampai kaki. Kemudian sang ustadz menjawa dengan singkat : “tidak dibaca tidak apa-apa, sah wudhunya.”
sebenarnya doa ini ada atau tidak dalam syariat ?

Kebanyakan orang yang membaca doa-doa wudhu ini ialah orang-orang yang (biasanya) sholatnya di masjid-masjid atau musholla kampung atau pinggiran kota. Sementara kalau yang dikota malah sebaliknya yaitu terburu-buru dalam wudhu, “seenaknye aje” gitu, tak diperhatikan apakah air itu sampai ke ujung kaki atau tidak. Dan ini lebih buruk, tapi yaa begitulah orang kota, selalu di buru waktu.
Kembali ke masalah doa-doa wudhu tadi. Lalu ini menarik perhatian saya untuk mencari, apa benar ada doa-doa tersebut. Benarkah itu disyariatkan? Adakah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi atau para sahabat membaca itu ketika wudhu?
Salah satu dari doa-doa itu ialah seperti doa ini yang dibaca ketika membasuh tangan (memasukan air ke hidung) :
اللَّهُمَّ أَعْطِنِي كِتَابِي بِيَمِينِي
“ya Allah berikanlah kitabku dengan tangan kanan ku.”
Guna menghemat halaman ini, saya hanya tulis satu doa saja, saya tidak tulis semua doa tersebut.
Dalam kitabnya Al-Adzkar, Imam Nawawi menerangkan bahwa dalam wudhu tidak ada doa yang ma’tsur dari Nabi SAW kecuali apa yang dibaca setelah wudhu, yaitu :
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه
“aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang maha esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya.” (HR Muslim dan Tirmidzi)
Lalu adakah doa-doa wudhu tersebut?. Setelah saya cari di beberapa kitab-kitab fiqih dari 4 mazhab yang muktamad. Ternyata doa-doa ini saya temukan ada di kebanyakan kitab Fiqih Mazhab Imam Hanafi, seperti Al-bahrul-Ra’iq, Raddul-Muhtar, hasyiyatu ‘Abidin dan beberapa kitab lainnya.
Para ulama tersebut memasukan doa-doa tersebut kedalam sunnah-sunnah wudhu. Beliau-beliau mengatakan bahwa doa-doa ini ma’tsur dari Nabi SAW. Tapi tanpa penjelasan sanad riwayat hadits tersebut.
Namun hadits tentang doa-doa wudhu itu juga tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadist kecuali dalam kitab Kanzul-‘ummal. Tetapi dalam kitab itu juga, pengarang meragukan keshohihan hadits ini dari Nabi SAW atau tidak, dengan menuliskan beberapa komentar ulama-ulama hadits tentang hadits ini. Seperti Ibnu Hajar Al-‘Asqolani yang mengatakan bahwa : “hadits ini ghorib. Di sanadnya ada khorijah bin mus’ab yang menurut Ibnu Mu’in ia adalah seorang pembohong dan menurut jumhur matruk.” Juga Ibnu Hibban yang mengatakan bahwa ia adalah seorang mudallis. (lihat Kanzul-‘Ummal jilid 9 hal 465, no 26989)
Dalam kitab-kitab fiqih Syafi’i seperti Al-majmu’, Mughnil-Muhtaj, Nihayatuz-Zein, I’anah Al-Tholibin, Raudhoh dan beberapa kitab lainnya, bahwa hadits doa-doa wudhu itu di nafikkan kebenarannya dari Nabi Muhammad SAW. Para ulama tersebut mengatakan bahwa hadits itu “Laa ‘Ashla lahu” (tidak ada asalnya), dan tidak ada riwayat dari Nabi SAW tentang doa-doa tersebut.
Lebih tegas dalam menanggapi masalah ini, Dr. Yusuf Al-Qordhowi dalam fatwanya mengatakan :
“doa-doa ini dan semacamnya adalah bid’ah yang di-ada-adakan oleh orang-orang setelah abad pertama, dan tidak ada satupun dari doa tersebut yang ma’tsur (diriwayatkan secara sah dari Nabi SAW). Dalam hal ini Rasul SAW bersabda : “jauhkanlah dirimu dari perkara-perkara yang di-ada-adakan dalam masalah ‘ubudiyah. Karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat.  “ (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Hakikat kebaikan dalam ibadah adalah melaksanakan ibadah itu sesuai batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat. Dalam hal ini tidak boleh melampaui sunnah dengan melakukan bid’ah. Karena pokok ad-din itu ada 2, yaitu :
Pertama, Tidak boleh ada zat yang disembah kecuali Allah. Inilah Tauhid.
Kedua, Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali apa yang telah disyariatkan-Nya, dan tidak boleh beribadah kepada Allah dengan mengikuti hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah.”
Namun terlepas dari itu semua, masalah berdoa ketika berwudhu itu juga sudah sangat menyulitkan bagi seorang muslim. Dan itu menjadikannya was-was. Ketika dia berwudhu namun lupa membaca doa itu, akhirnya dia mengulang wudhunya lagi. Dan terus begitu terulang-ulang. Lebih rugi lagi ia juga tertinggal fadhilah sholat berjamaah. Berapa lama waktu yang dihabiskan oleh seseorang untuk berwudhu dengan ditambah doa-doa tersebut ?.
Imam sudah masuk dalam sholat bahkan sudah dalam keadaan duduk tahiyat terakhir dan dia masih betah di tempat wudhu dengan doa-doa tersebut! Lalu apa gunanya ia pergi ke masjid kalau tidak dapat sholat berjamaah?. Bukankah sholat berjamaah itu mempunyai fadhilah yang sangat besar dan itu sudah tidak diragukan lagi, dibanding harus berlama-lama ditempat wudhu sibuk dengan hal-hal semacam itu.
Sebaiknya bagi seorang muslim memperhatikan ibadah mana yang mesti di dahulukan, melihat dengan skala priorotas. Haruskah kita meninggalkan sunnah dengan melakukan hal yang tidak jelas dasarnya?.  
Wallahu A’lam.   
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger