Gugel, Mesin Pencari Bukan Guru!

Banyak kumungkinan negatif yang dihasilkan jika belajar ilmu syariah hanya lewat laman-laman gugel. Karena sebagaimana kita tahu, gugel itu mesin pencari yang sama sekali tidak bisa membedakan mana yang benar atau tidak benar. Mana yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.

Artinya kemungkinan negatif yang paling nyata adalah tersembunyinya ilmu. Karena memang gugel hanya menampilkan apa yang sudah diupload atau diunggah ke laman dunia maya, yang tidak terunggah ke maya, takkan bisa terakses oleh mesin pencari tersebut.

Jadi, bisa saja babi itu menjadi halal, kalau semua orang mengupload artikel serta catatan yang menegaskan bahwa babi halal. Walaupun yang benar adalah babi haram dimakan, tapi karena tidak di-internet-kan, alhasil babi tetaplah menjadi halal. Itu contoh kecilnya saja.

Pada akhirnya, orang yang hanya belajar lewat laman gugel hanya tahu pendapat yang memang ada di dunia maya, padahal dalam masalah twrsebut, pendapat ulama tidak pada satu suara, ada pandangan lain. Yang hasilnya membuat orang menjadi -terkesan- jumud ketika melihat adanya perbedaan, dan membuatnya menjadi sangat militan dalam mendominasi -yang katanya- kebenaran mutlak, padahal sejatinya itu adalah masalah yang siperselisihkan, ada pendapat berbeda dari kolompok ulama lain yang kebetulan tidak mahir ber-internet dan tidap mempublish pendapatnya.

Berarti memang gugel sama sekali tidak memenuhi hasrat seseorang pelajar yang memang mengaku ingin terus mencari kebenaran, karena tidak bisa dikatakan kebenaran kalau ada ilmu yang ditutupi. Ini yang paling nyata, adanya ilmu yang disembunyikan.

Kemungkinan negatif lain, tentu sumber yang anonim. Itu juga tidak bisa dipandang sebagai hal yang biasa, karena sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibn Sirin, ilmu itu bagaikan agama, maka penting sekali kita tahu dari siapa agama itu kita ambil dan pelajari. Bukan barang asing kalau banyak artikel syariah berseliweran di dunia maya ini, akan tetapi, penulisnya tidak ddikenal, atau juga memakai nama aneh sehingga identitas asli tertutupi.

Bagaimana bisa mengambil ilmu dari orang yang tidak jelas identitasnya? Dalam ilmu hadits, jika salah seorang perawinya majhul atau unknown alias tidak diketahui, hadits itu turun levelnya menjadi dhaif. Padahal memuntut ilmu haruslah dari seseorang yang memang benar-benar mumpuni dalam bidangnya.

Di dunia maya, seseorang bisa saja mengupload artikel syariah sesukanya, dan gugel tidak bisa membedakan mana artikel karya ahli agama atau bukan. Siapapun dia, apapun background pendidikannya, semua bisa menulis di dunia maya. Gugel tidak akan bertanya kepada pengunggah "apa latar belakang pendidikan anda?". Tidak akan!

Artinya sagatn besar kemungkinan kita memperoleh ilmu dalam dunia maya yang penuilsnya tidak bisa mempertanggung jawabkan secara ilmiah apa yang ia ssajikan atau kita dihadapkan dengan orang yang hanya punya ilmu copy paste.

Maka, sekarang ini bahkan sejak belasan abad lalu, para pendahulu kita telah merumuskan bahwa dalam menuntut ilmu itu mutlak ada guru yang nyata bukan maya, Agar kita punya sandaran dalam beribadah. Mengarahkan pada yang baik dan menjadi solusi dalam kebuntuan mencari ilmu.

Peran penting lain dalam hal adanya guru bagi kita penuntut ilmu adalah adanya sosok yang kita hormati, itu yang membuat kita semakin tawadhu dan rendah hati serta tidak merendahkan penuntut ilmu lain, serta tidak merasa sebagai orang yang paling cerdas lagi dalam kebenaran.

Status murid membantu kita tetap rendah hati, karena status tersebut selalu membuat kita merasa tidak lebih pintar dari yang lain, terlebih dari guru kita. Namanya saja murid, masih mencari ilmu.

Orang yang menuntut ilmu tanpa guru, hanya lewat buku dan laman internet, dia tidak punya sosok yang harus ia hormati, toh ilmu yang didapat itu memang hasil kerja sendiri. Karena kerja sendiri, berarti ini murni muncul dari kecerdasan diri, tanpa bantuan kanan kiri. Tinggi hati pun akhirnya jadi sikap diri, setiap ada yang menyelisih bawaannya hanya ingin mendebati bukan menghormati. Mudah-mudahan Allah s.w.t. menjauhkan kita dari semua sifat buruk ini.

Wallahul-musta'an
Share this article :
 

+ komentar + 1 komentar

27 Maret 2015 11.04

Terimakasih ya gaan atas pengetahuanya,,,.,..,
Salam kenal gan dan jangan lupa followbacknya,,,,.,.,..,. OK !!!

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger