Posts

Showing posts with the label HIKAM

Nabi s.a.w Tidak Anti Kepada Non-Muslim

Kaidah bertetangga itu sama di semua Negara, semua bangsa, juga di semua budaya; bahwa orang yang baik dengan tetangga, murah senyum, tidak jarang berkunjung, suka menyapa, ramah, dan rajin berbagi pastinya akan mendapat kebaikan pula dari sekelilingnya. Dan begitu juga sebaliknya, siapa yang jahat terhadap tetangga, buruk sikap, kasar perangai, pelit senyum, dan ogah menyapa, begitu juga yang akan ia dapatkan dari sekelilingnya. Orang yang baik terhadap tetangga, pastinya akan banyak disukai oleh tengga lainnya. Dan bentuk kebaikan yang diperoleh pun bisa bermacam-macam, seperti dikirimi makanan oleh tetangga, ketika ada keperluan, tidak sedikit tetangga yang rela menolong, ketika susah pun banyak tangan tetangga yang menjulur sambil menawarkan bantuan. Anaknya pun –kalau memang punya anak- itu mnejadi anak juga bagi tetangganya; menjaga dan menasehati dari keburukan. Begitu yang biasanya didapatkan oleh orang baik, dan itu semua kita saksikan di tengah masyarakat ki...

Memberi dan Menjawab Salam Non-Muslim, Bolehkah?

Masalah memberikan salam kepada non-muslim, belakangan menjadi masalah yang banyak dipermasalah, mungkin maklum, karena memang belakangan ada sekelompok orang yang mengatas namakan Islam, akan tetapi begitu bencinya kepada non-muslim, padahal syariat tidak mengajarkan kebencian. Nah dalam masalah ini, ada 2 masalah yang tidak mungkin bisa dilepaskan; yakni memberi salam kepada non-muslim, atau memulai salam kepada mereka. dan masalah menjawab salam dari mereka jika mereka mengucapkan salam. 1.    Memulai memberikan salam. Al-Hanafiyah dan al-Malikiyah, tidak melarang mendahului memberi salam kepada non-muslim, hanya saja dimakruhkan. Dan redaksi salamnya: [ السلام على من اتبع الهدى ] "al-salamu 'ala man ittaba'a al-huda" (keselamatan bagi yg mengikuti petunjuk). Al-syafiiyah dan Al-Hanabilah mengharamkan mendahului salam kepada non-muslim. Haram hukumnya mendahului memberi salam. Yang dibolehkan hanya dengan salam-salam sapaan biasa,...

Persatuan Islam Hanya Impian, Jika ...

Dulu Nabi s.a.w. punya ART (Asisten Rumah Tangga) seorang anak laki-laki Yahudi, bukan Islam. Suatu saat anak Yahudi ini sakit dan tidak masuk kerja, akhirnya Nabi s.a.w mengunjunginya di rumah anak Yahudi itu. Sampai di rumahnya, ada ayah anak itu yang juga sama-sama enganut Yahudi sedang menunggu sang anak. Setelah meminta izin kepada sang ayah, Rasul s.a.w. mendekati anak tersebut lalu mengajaknya untuk bersyahadat; masuk Islam. Diajak masuk Islam, anak itu bingung karena ada sang ayah di dekatnya. Sesekali melirik ayahnya, sesekali melirik Nabi s.a.w., sampai akhirnya sang ayah berbicara: "Anakku! Taati Abu Qasim (Muhammad)!". Mendapat izin dari ayahnya, anak itu bersyahadat. Kemudian Nabi s.a.w. keluar dari rumah sambil mengucapkan: "Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan anak itu dari neraka dengan wasilahku".  Poin dari cerita ini, mari kita berfikir sejenak. Agama adalah identitas setiap diri yang siapapun dia pasti akan membela agamanya...

Resep Selamat Akhirat; Bekerja Sesuai Ilmu!

Di akhirat nanti, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi s.a.w. bahwa manusia nanti tidak akan diberangkatkan ke surga, juga tidak ke neraka sebelum ditanya 4 hal. Salah satu pertanyaan dari 4 pertanyaan itu adalah terkait dengan ilmu yang kita miliki, kita manfaatkan untuk apa? Maka seorang muslim, sejatinya harus memanfaatkan ilmu yang sudah ia dapat untuk kemaslahatan umat. Apapun bidangnya. Karena sama sekali tidak ada ilmu yang tidak baik, semuanya baik dan berguna. Dan semuanya bisa menuntun kita ke surga. Tidak ada dominasi satu ilmu bahwa hanya ilmu itu yang mengarahkan ke surga, ilmu lain tidak bisa. Tidak ada seperti itu. Semua ilmu bisa mengarahkan pemiliknya ke surga, tapi tidak jarang itu disalahgunakan yang akhirnya menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa. Ilmu agama pun, tidak selamanya bisa mengarahkan ke surga. Toh banyak ahli ilmu agama, akan tetapi tidak digunakan dengan jalur yang baik dan benar. Menghina, mencaci, merasa be...

Stop Riya' dan Menuduh Riya'!!!

Dalam keterang-terangan atau diam kedua-duanya sama saja, karena berpotensi sekali ada gangguan setan. Karena setan tidak kenal siapa diam dan siapa yang terang-terangan. Yang beribadah lalu mengumumkan, berpotensi disisipkan riya melalui lakan medianya. Itu buruk. Tapi yang diam, lalu dalam diamnya merasa lebih baik dari yang mengumumkan, apakah bisa dikatakan baik? Padahal sombong dan merasa lebih baik itulah lubuk hatinya setan. Jadi diam atau terang-terangan, keduanya bisa disusupi setan. Yang terang-terangan tidak selalu buruk, dan diam pun tidak mesti suci. Riya atau tidak bukan pada diam atau terang-terangan, setan selalu punya usaha. Yang terpenting adalah hati selalu dijaga. Riya itu buruk, tapi menuduh orang lain riya, amat sangat jauh lebih buruk. Wallahul-musta'an

Setan, Tidak Hanya Sekali Datang

Image
Yang terpenting bagi setan setiap harinya ialah membuat orang muslim tidak melaksanakan ibadahnya kepada Allah swt. Initinya bagaimana si muslim itu tidak jadi beribadah, baik yang sunnah apalagi yang wajib. Kalaupun ibadah terlaksana, ia selalu berusaha agar ibadah itu menjadi batal dan sia-sia. Tidak tanggung-tanggung, setan dan bala tentaranya tidak hanya mengganggu manusia dari satu arah saja; dalam surat al-A'raf: 17, setan mendatangi manusia dan menggodanya untuk menggugurkan ibadahnya dari 4 penjuru arah; depan, belakang, kiri dan kanan. Mereka terus saja menganggu tanpa henti, dan melewati semua fasenya. Dari mulai "ingin" ibadah, manusia sudah digoda untuk tidak melaksanakannya. Ketika "melaksanakannya" pun masih bisa diganggu. Bahkan ketika "sudah" melaksanakan ibadahnya itu, manusia tidak bebas dari gangguan setan. Shalat contohnya, sejak "ingin" shalat, kita sudah digoda untuk menunda-nunda. Awalnya sih...

Orang Besar Hidup antara Pujian dan Cacian

Image
Hampir tidak ada seorang pun yang tidak ada perbedaan persepsi dari orang-orang sekelilingnya, semua punya persepsi sendiri yang masing-masing berbeda dengan yang lainnya. Siapapun itu, pasti orang akan terpecah pada beberapa pandangan dalam menilai pribadinya. Yang satu katakan bahwa fulan itu baik, tapi tidak bagi yang lain, justru fulan itu orang jahat. Bahkan Allah swt, manusia pun berbeda pandangan tentang-Nya; dimana Allah swt berada? Di arsy- kah atau dimana? Berbeda apakah Allah swt punya tangan dan kaki atau tidak? dan banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan dalam forum ini. Musthafa Luthfi al-Manfaluthi (w. 1924 M), seorang sastrawan besar asal Mesir yang pernah kuliah di al-Azhar, punya makalah yang bagus sekali ketika membicarakan tentang seseorang yang dinilai dengan penilaian yang berbeda dari orang-orang sekelilingnya. Dalam kitabnya al-Majmu'ah al-Kamilah (hal. 253) , Musthafa mengatakan: "Kalau kalian melihat ada penyair, orang ...

Kenapa Para Sahabat Melakukan Dosa?

Image
Satu yang harus diketahui bahwa Allah swt menjadikan para sahabar ridhwanullah 'alaihim tidak dalam keadaan yang makshum (terjaga dari kesalahan). Justru Allah swt menjadikan mereka semua manusia yang bisa bersalah sebagai teladan bagi umat setelahnya, serta memperlihatkan kepada kita contoh terbaik dari lingkungan generasi terbaik. Kesalahan yang ada dan dilakukan oleh para sahabat ridhwanullah 'alaihim adalah bentuk kesempurnaan kebaikan yang Allah swt anugerahkan kepada mereka, dan bukan sebuah aib bagi mereka. Bagaimana? Seandainya Allah swt menjadikan para sahabat terjaga dari kesalahan, tidak ada dari mereka yang berbuat pelanggaran syariah, lalu dari mana kita belajar bagaimana caranya ber-muamalah dan berinteraksi dengan pelanggar syariah? Dengan pelaku maksiat? Kita adalah umat yang bisa salah bahkan sering melakukan kesalahan dan pelanggaran syariah. Lalu Bagaimana kita menyikapi ketika terjadi pelanggaran syariah lingkungan kita kalau...

Yang Sedikit Ilmunya, Banyak Ngambeknya

Image
Dalam kitabnya, I'laam al-Muwaqqi'in (3/13) , Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H) menceritakan kisah gurunya, yaitu Imam Ibnu Taimiyah (728 H) ketika beliau dan para pengikutnya melihat segerombolan pasukan Mongol yang mabuk-mabuknya minum khamr. Melihat kejadian itu, para pengikut sang Imam geram dan marah sekali. Dan sebagai bentuk amru bil-ma'ruf wa nahyu 'anil-munkar, salah satu pengikutnya bergegas untuk memberikan peringatan kepada pasukan Mongol itu. Tapi anehnya ia malah ditahan oleh Imam Ibnu Taimiyah sendiri, dan beliau melarang salah satu pengikutnya itu untuk mencegah pasukan Mongol meminum khamr. Melihat apa yang dilakukan oleh Imam Ibnu Taimiyah, para pengikutnya heran dan kebingungan, kenapa sang Imam membiarkan mereka meminum khamr tanpa mencegahnya? Kenapa juga sang Imam mencegah salah satu pengikutnya yang ingin mencegah kemunkaran tersebut? Kemudian Imam Ibnu Taimiyah berkata: إنَّمَا حَرَّمَ اللَّهُ الْخَمْرَ لِأَنَّه...