Bingung, Ber-Cadar atau Tidak?

Salam..
Ustadz Zarkasih, Saya Putri, saya mengenakan cadar di pertengahan tahun 2012, saat saya masih di Jakarta.. Mengenakannya kerana untuk melindungi diri, dari marabahaya juga polusi Jakarta.. (Ini niat awal saya), tapi kemudian itu menjadi azam untuk terus bercadar.

Hanya saja dalam beberapa kesempatan, saya masih tetap membuka cadar, karena memang kondisinya tidak memungkinkan saya untuk bercadar. Seperti di kantor tempat saya bekerja. Kalau dari rumah saya bercadar, tapi ketika sampai kantor, saya harus melepasnya lagi. Dan begitu seterusnya.

Apa yang saya lakukan ini termasuk dosa, ustadz? Bagaimana keadaan saya ini yang masih belum 'kaaffah' dalam berhijab?"



Untuk urusan cadar, putri bisa cari sendiri soal dalil-dalil siapa yang mewajibkan dan siapa yang tidak mewajibkan di web rumahfiqih.com (tempat saya beraktifitas), insyaAllah membantu. tapi karena memang masalah yang diajukan cuma dalil, saya -dengan tidak bermaksud menggurui- akan menyampaikan beberapa pandangan saya terhadap apa yang ditanyakan.

Saya termasuk orang yang mengikuti pendapat ulama bahwa cadar bukanlah kewajiban, dan ini pendapatnya jumhur (mayoritas ulama) bahkan tidak juga pada derajat sunnah. jadi buat saya, cadar itu bukan kewajiban bukan juga kesunahan. itu boleh-boleh saja bagi mereka yang mau menjaga atau berhati-hati atau dengan alasan yang lain juga.

Yang disepakati oleh ulama sejagad raya iala, wanita harus menutup auratnya, yaitu seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. madzhab Hanafi menambahkan bahwa boloeh juga memperlihatkan kedua tumit kaki. Ya sebatas ini pembatasan aurat wanita dalam pandangan ulama mayoritas sejak zaman Nabi saw sampai hari ini, tidak ada yang menyelisih.

Buat saya, cadar bukan salah satu simbol agama Islam. karena memang itu tadi, Islam tidak mewajibkan cadar, bahkan tidak menyunnahkannya. tapi bagi mereka yang ingin berhatu-hati ya silahkan saja.

Nah, terkait masalah yang ditanyakan, saya rasa dengan pendahuluan diatas sepertinya sudah tergambar jawaban yang akan saya berikan.

Batasan Menutup Aurat

Kalau yang ditanyakan itu 'kaaffah' atau tidak? maka kita lihat dulu definisi 'kaffah' ini. Yang ditanyakan ialah 'kaffah' dalam memakai hijab. Maka kembali ke hukum hijab dan batasan mana yang harus ditutupi?

Karena ia disebut 'kaffah' ialah jika semua syarat dan syariatnya terpenuhi. syariat hijab wajib dilakukan, dan bagian yag harus ditutupi pun sudah tertutupi, lalu mau 'kaffah' yang bagaimana lagi?

Dalam syariah, pakaian wanita itu menjadi syar'i dengan tiga kriteria:
[1] Laa Yashif [لا يصف]
[2] Laa Yasyif [لا يشف]
[3] Laa Yaktasyif [لا يكتشف]

[1] Laa Yashif (Tidak Mensifati)

Tidak mensifai maksudnya tidak mensifati tubuh. denagn bahasa yang lebih dekat yaitu tidak membuat lekukan-lekukan tubuh terlihat. atau dengan bahasa yang lebih akrab yaitu pakaian wanita tidak ketat.

[2] Laa Yasyif (Tidak Transparan)

Ini jelas, bahwa tidak ketat saja tidak cukup, tapi juga harus yang tidak terlihat oleh mata luar. jadi pakaiannya harus dengan bahan yang memang bukan transparan yang bisa terlihat apa yang ada di balik bahan. tapi harus dengan bahan yang bisa menutup mata untuk mengakses apa yang ada di balik bahan. 

[3] Laa Yaktasyif (Tidak terbuka)

Maksudnya tidak terbuka ialah tidak terbuka auratnya. maka yang namanya aurat itu harus ditutupi, dan kadar yang harus ditutupi dari tubuh wanita itu sudah dibahas oleh para ulama dengan kesimpulan bahwa semua tubuh wanita itu aurat dan harus ditutupi kecuali muka dan telapak tangan. ini yang disepakati oleh seluruh madzhab fiqih.

Jadi, jika ada wanita yang memang berpakaian dengan memenuih syarat yang disebutkan di atas, ya selesai urusan! ia telah mempraktekkan apa yang sering disebut denagn pakaian syar'i. ini juga sudah berarti 'kaaffah' dalam berbusana bagi wanita.

Tentukan Pilihan!

Hanya saja yang jadi tantangan kemudian ialah, bagi putri harus menentukan sikap sekarang, apakah tetap mau bercadar atau tidak. dan keduanya tidak ada yang tercela atau bahakan membuahkan dosa. karena dalam syariat dosa itu dihasilkan jika meninggalkan kewajiban atau melakukan sebuah keharaman. dan dua pilihan di atas bukanlah sebuah keharaman, karena memang sesuai denga tuntutan syariah.

Bergaul Eklusif Dengan Syariah

Tinggal di kondisi Indonesia yang memang belum sepenuhnya bisa menerima budaya arab, (buat saya, cadar itu hanya budaya arab saja), kita sebaikanya menyesuaikan diri dengan lingkungan selama itu tidak menabrak dinding syariah.

Karena bagaiamanpun, syariah ini tidak turun untuk menghancurkan kultru dan budaya warga setempat. jika memang itu baik, syariah membuka tangan untuk itu, tapi jika itu melanggar aturan syariah, maka tidak ada kompromi lagi.

Memperhatikan lingkungan setepmat dan sadar dengan dengan apa yang terjadi di luar itu lebih baik dibanding harus tetap keukeuh dengan pilihan kita sendiri yang sejatinya syariah pun tidak menuntut itu.

Toh ini juga masalah khilaf yang sejak dulu masih diperdebatkan oleh ulama, jadi mengambil salah satunya bukan lah sebuah aib apalagi dosa. (dan saya sudah jelaskan mana pendapat yang menjadi pilihan saya)

Malah tanggapan negatif yang dihasilkan dengan makai cadar itu jauh lebih besar dibanding positif yang diterima. ingat juga bahwa kita hidup tidak hanya bergandengan dengan syariah, tapi disekeliling kita banyak yang juga berbaur dan menjadi bagian dari kehidupan sosial kita.

Mengurung diri hanya bergaul dengan syariah bukan pilihan tepat. maksudnya bergaul eklusif dengan syariah ialah, hanya memperhatikan syariah itu sendiri dengan pemahaman sendiri tapi mengindahkan dampak negatif serta opsitif yang timbul dari lingkungan dengan penerapan (yang dianggap) syariah itu.

Ini justru menimbulkan efek negatif untuk syariah itu sendiri, bukan syariahnya ayang negatif, tapi dampak yang dihasilkan akibat penerapan yang kurang baik itu yang menajdi masalah. tapi tetap pilihan ada tangan putri, memilih yang mana kah? jika sudah jatuh pada pilihan tersebut, yakin dan jalankan sambil berdoa minta dikuatkan dan diberi istiqomah oleh Allah swt.

Solusi Terbaik, Jaga Sikap dan Prilaku

Dan memakai cadar, (buat saya) bukan solusi terbaik dalam menjaga kehormatan seorang wanita di lingkungan yang heterogen seperti Indonesia ini.

Jauh dari itu, menjaga kehormatan seorang wanita berangkat dari dalam diri untuk menganggungkan wanita itu sendiri terhadap dirinya. mau diapakan jiwa ini tergantung bagaimana sikap ia terhadap dirinya.

Maka kehormatan itu juga bergantung erat sekali dengan sikap dan tingkah laku yang keluar dari diri kita sendiri. walaupun tidak bercadar, tapi jika ia menjaga lisan denan baik, tidak berbicara yang macam-macam, bersikap ssewajarnya, tetap memberi wibawa pada diri sebagai wanita, berhati-hati dalam bersikap dan berinteraksi kepada orang lain, baik itu wanita atau lelaki, itu menjadi pilihan yang solutif bagi seorang wanita.

wallahu a'lam

Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger