Ijtihadnya Orang Awam

Aslinya seorang awam itu hanya boleh bertaqlid (mengikuti), tidak berijtihad. Seorang awam tidak akan mampu untuk berijtihad, karena memang syarat ijtihad itu sangat tinggi, dan sulit untuk dicapai. Karena memang tidak bisa berijtihad, maka menjadi Muqallid adalah jalan paling baik untuknya.

Kalau seorang mujtahid berijtihad, dan ijtihadnya itu benar, artinya sesuai dengan kebenaran yang ada pada Allah swt, ia dapat dua pahala. Akan tetapi jika seorang mujtahid dan ijtihadnya tidak sesuai dengan kebenaran yang ada pada Allah swt, ia tetap mendapat pahal ijtihad yang hanya satu.

Tapi seorang muqallid, ijtihadnya benar atau salah tetap tidak ada ganjaran, malah itu akan menimbulkan kesemrawutan keilmuan, karena adanya orang yang tidak mengerti ikut berbicara.

Namun Imam Ibnu Qudamah –Rahimahullah- dalam kitabnya Raudhao An-Nadzir, menjelaskan ada satu masalah yang seorang awam boleh berijtihad, bahkan menjadi wajib berijtihad, hanya pada masalah ini saja, tidak yang lain. Yaitu masalah memilih pendapat mujtahid!

Ini adalah satu-satunya masalah dimana seorang awam wajib berijtihad, yaitu jika ada perbedaan pendapat antara para mujtahid. Dalam masalah ini seorang awam diberi kebebasan berijtihad untuk memilih kepada siapa ia harus ikut.

Bahkan derajatnya bukan boleh, akan tetapi menjadi wajib. Karena ia harus beribadah, dan ibadahnya tidak bisa disandarkan kecuali dengan dasar dalil yang ia telah pilih dari salah seoran mujtahid. Justru ketika ia menolah memilih, ia tidak bisa menjalankan ibadahnya.

Karena memang ijtihadnya hanya memilih, maka tidak ada celah baginya untuk menghina salah seorang mujtahid yang memang menurutnya fatwa beliau tidak sejalan dengan keyakinannya. Ia hanya wajib mengikuti satu tapi bukan berarti harus menghina yang berbeda.

Sama seperti mujtahid yang sama sekali tidak pernah menghina atau merendahkan atau juga menghujat mutahid lain yang berbeda hasil ijtihadnya dengan beliau. Dan itu kita saksikan dari kebiasaan ulama salaf dan para Imam 4 madzhab. Tak sekalipun ada hujatan dan makian terhadap masing-masing mujtahid.

Mereka menjatuhkan dalil yang digunakan oleh kelompok yang berbeda, itu Iya! Tapi tak sekalipun mereka menghina orang yang berdalil dibalik dalil tersebut. Semua aman semua tenang semua saling menghormati dan memahami.

Imam Ahmad pun Tidak Marah

Imam Ibnu Qudamah mengeluarkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal yang pernah ditanya oleh Hasan bin Basyar, salah seorang sahabat dan juga murid Imam Ahmad.

Beliau bertanya kepada Imam Ahmad tentang masalah yang berkaitan dengan talak, lalu Imam Ahmad menjawab,"Kalau itu dilakukan, maka berdosa". Husain bertanya lagi,"Bagaimana bila Aku menanyakan hal ini kepada  ulama lain dan jawaannya berbeda jawaban Anda, seperti ulama di Rushafah (Iraq)?". Dengan tegas Imam Ahmad menjawab: "Ya!"

Sama sekali Imam Ahmad tidak marah dan tidak melarang Husain untuk mengikuti fatwa ulama lain yang berbeda dengan fatwanya. Beliau tidak memaksa Husain mengikutinya dan tidak juga menyalahkan ulama lain yang berfatwa beda dengan beliau -rahimahullah rahmah wasi'ah-.

Kalau mujtahid sekelas Imam Ahmad saja tidak marah bahkan tidak memaksa orang mengikuti beliau dan tidak menghina yang berbeda dengan beliau. Lalu apa alasan kita, yang hanya seorang awam lagi Muqallid berani menghina orang yang berbeda dan memaksakan pendapat kepada yang lain?

Wallahu A'lam
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ahmad Zarkasih - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger